Anda di halaman 1dari 16

31

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil 1. Gambaran umum tentang lokasi penelitian Universitas Islam Makassar disingkat UIM adalah salah satu perguruan tinggi Islam di Kota Makassar. UIM merupakan merger dari dua sekolah tinggi, yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Al Gazali dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Gazali. Pada tahun 2000 atas izin dari Dikti, maka didirikanlah Universitas Islam Makassar dengan enam fakultas, yaitu Pertanian, MIPA, Teknik, Agama, Sospol dan Bahasa, pada tahun 2005 di tambah lagi fakultas yaitu Fakultas Ilmu Kesehatan. 2. Dekskripsi data a. Analisa univariat 1) Disribusi Tabel 4.1 Distribusi responden berhubungan dengan motivasi instrik menjadi perawat mahasiswa semester 2 universitas islam makassar No 1 2 Motivasi Kurang Baik n 36 46 % 43,9 56,1

32

Jumlah Sumber : data primer 2011

82

100

Berdasarkan tabel 4.1 didapatkan hasil bahwa dari 82 responden yang memiliki motivasi yang baik sebanyak berjumlah 37 responden (45.1 %), dan motivasi yang kurang sebanyak 45 responden (54.1 %). 2) Data tentang tingkat prestasi belajar pada mata kuliah konsep dasar keperawatan Tabel 4.2 Distribusi responden berdasarkan dokumentasi nilai prestasi balajar matakuliah konsep dasar keperawatan mahasiswa semester 2 universitas islam makassar No 1 2 Prestasi Memuaskan Kurang memuaskan Jumalah Sumber : data primer 2011 Dari data pada tabel 2 diatas menunjukkan bahwa sebanyak 32 responden (39.0 %) berada pada tingkat prestasi belajar memuaskan , 50 responnden (61.0 %) berada pada tingkat kurang memuaskan. b. Bivariat Data tentang hubungan motivasi menjadi perawat dengan prestasi belajar matakuliah konsep dasar keperawatan n 50 32 82 % 61,0 39.0 100

33

Tabel 4.3 Hubungan motifasi dengan prestasi Prestasi Motivasi Kurang Memuaskan n Kurang Baik Jumlah 4 28 32 % 8,9 75,7 39,0 n 41 9 50 % 91,1 24,3 61,0 Memuaskan Jumlah n 45 37 82 % 100 100 100 0,00 P Value

Sumber : data primer 2011 Berdasarkan tabel 4.3 maka diperoleh data dari responden terdapat responden yang memiliki motivasi kurang dengan prestasi kurang memuaskan yaitu sebanyak 4 responden (8,9 %), dan responden yang memiliki motivasi kurang dengan prestasi belajar memuaskan sebanyak 41 responden (91,1 %). Dan responden yang memiliki motivasi baik dengan prestasi balajar kurang memuaskan sebanyak 28 responden (75,7 %), sedangkan responden yang memiliki motivasi baik dengan prestasi belajar memuaskan sebanyak 9 responden (24,3 %). Berdasarkan hasil uji Chi-square maka diperoleh nilai P = 0,00 dengan menunjukan <0,05. Hal ini menunjukan bahwa ada hubungan antara motivasi menjadi perawat dengan prestasi belajar mata kuliah konsep dasar keperawatan dan proses keperawatan pada mahasiswa semester 2 Universitas Islam Makassar.

34

B. Pembahasan 1. Motivasi menjadi perawat Meruju pada tabel 4.1 di atas menunjukan sebanyak 37 responden (45.1 %) berada pada tingkat motivasi baik, 45 responden (54.1 %) memiliki motivasi kurang, Dari data tersebut, kalau dikonversikan ke score skala Likert maka motivasi responden berada pada kategori kurang, Hal ini dikarenakan seluruh responden termasuk individu-individu yang tidak mempunyai kesadara akan adanya suatu dorongan, kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai ( Dimyati : 1999 ). Alasan lain adanya motivasi menjadi perawat pada responden (mahasiswa) adalah karena semakin meningkatnya tuntutan kebutuhan masyarakat akan pelayanan keperawatan yang profesional, oleh karena itu S1 Keperawatan yang akan menghasilkan lulusan tenaga keperawatan yang profesional pemula diharapkan mampu melakukan praktek keperawatan ilmiah dasar secara mandiri dan berbagai kegiatan ilmiah keperawatan. ( Marifin H. : 1999 ). Menurut Mc. Donald motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian motivasi yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen penting, yaitu : motivasi mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu

35

manusia, motivasi ditandai dengan munculnya rasa/feeling. Afeksi seseorang dan motivasi akan terangsang karena adanya tujuan (Sardiman, 2007 : 73-74). Dalam literatur lain disebutkan bahwa yang dimaksud motif adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu. Menurut Sartain dalam bukunya Psychology Understanding of Human Behavior yang dikutip oleh Ngalim Purwanto (2007:60), motif adalah suatu pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku atau perbuatan ke suatu tujuan atau perangsang. Buku lain menyebutkan setiap individu memiliki kondisi internal, dimana kondisi internal tersebut turut berperan dalam aktivitas sehari-hari. Salah satu dari kondisi internal tersebut adalah motivasi. Motivasi adalah dorongan dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri seseorang yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya. Oleh karena itu, perbuatan seseorang yang diadasarkan atas motivasi tertentu mengandung tema sesuai dengan motivasi yang mendasarinya. Istilah motivasi yang berasal dari kata motif, dapat diartikan sebagai kekuatanyang terdapat dalam individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat. Motif tidak dapat diamati secara langsung. Tapi dapat diinterpretasikan dalam tingkah laku.(Hamzah, 2006 : 1Disamping alasan-alasan diatas kalau dicermati lagi, ada alasan yang mendasar yang memicu tingginya motivasi menjadi perawat pada responden

36

yakni adanya keinginan untuk mengaktualisasikan diri dan adanya pengakuan serta penerimaan yang positif dari profesi-profesi lain terutama profesi dokter (medis). Perawat adalah profesi yang merupakan partner profesi medis dan profesi kesehatan lainnya, dan mempunyai hak otonomi dalam memberikan asuhan keperawatan. Hal ini dibenarkan oleh teori motivasi Maslow (ingin dihargai dan diakui serta adanya kebutuhan untuk aktualisasi). 2. Prastasi belajar mata kuliah konsep dasar keperawatan Dari tabel 4.2 di atas menunjukan bahwa seebanyak 50 responden (61,0 %) berada pada tingkat prestasi belajar memuaskan, 32 responnden (39,0 %) berada pada tingkat kurang memuaskan. Hal tersebut dimungkinkan oleh karena adanya rasa percaya diri dari responden yang merupakan perwujudan dirinya untuk bertindak dan

mencapai tujuan (berhasil) Dari segi perkembangan, rasa percaya diri dapat timbul berkat adanya pengakuan dari lingkungan. Dalam proses belajar diketahui bahwa unjuk prestasi merupakan tahap pembuktian Perwujudan diri yang diakui oleh guru atau dosen dan rekannya. (Dimyati : 1999). Kemudian dari sebagian responden masih ada 32 responnden ( 39,0 % ) berada pada tingkat kurang memuaskan. Hal ini dimungkinkan oleh karena kurangnya dorongan dari dalam diri responden (mahasiswa) sehingga mengakibatkan ketidak seriusan dalam belajar, ditambah lagi dengan fasilitas belajar yang kurang akan mempengaruhi hasil belajar (unjuk

37

prestasi). Disamping itu, kurangnya hasil prestasi belajar dipengaruhi oleh tingkat Intelegensi. Untuk itu tugas guru atau dosen adalah memberikan remedial guna memberikan hasil prestasi belajar yang lebih baik. Menurut Djalal (1986: 4) bahwa prestasi belajar adalah gambaran kemampuan mahasiswa yang diperoleh dari hasil penilaian proses belajar mahasiswa dalam mencapai tujuan pengajaran. Sedangkan menurut Kamus bahasa Indonesia Millenium (2002: 444) prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai atau dikerjakan. Prestasi belajar menurut Hamalik (1994: 45) adalah prestasi belajar yang berupa adanya perubahan sikap dan tingkah laku setelah menerima pelajaran atau setelah mempelajari sesuatu. Ada banyak pengertian tentang prestasi belajar. Berdasarkan pengertian di atas maka yang dimaksudkan dengan prestasi belajar adalah hasil belajar/ nilai pelajaran sekolah yang dicapai oleh siswa berdasarkan

kemampuannya/usahanya dalam belajar. Prestasi belajar merupakan hasil yang telah dicapai dari suatu proses belajar yang telah dilakukan, sehingga untuk mengetahui sesuatu pekerjaan berhasil atau tidak diperlukan suatu pengukuran. Pengukuran adalah proses penentuan luas/kuantitas sesuatu (Nurkancana, 1986: 2). Dalam kegiatan pengukuran hasil belajar, siswa dihadapkan pada tugas, pertanyaan atau persoalan yang harus dipecahkan/dijawab. Hasil pengukuran tersebut masih berupa skor mentah yang belum dapat memberikan informasi kemampuan siswa.

38

Agar dapat memberikan informasi yang diharapkan tentang kemampuan mahasiswa maka diadakan penilaian terhadap keseluruhan proses belajar mengajar sehingga akan memperlihatkan banyak hal yang dicapai selama proses belajar mengajar. Misalnya pencapaian aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotorik. Prestasi belajar menurut Bloom meliputi 3 aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Dalam penelitian ini yang ditinjau adalah aspek kognitif yang meliputi: pengetahuan, pemahaman, dan penerapan. Prestasi belajar ditunjukkan dengan skor atau angka yang menunjukkan nilai-nilai dari sejumlah mata pelajaran yang menggambarkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh mahasiswa, serta untuk dapat memperoleh nilai digunakan tes terhadap mata pelajaran terlebih dahulu. Hasil tes inilah yang menunjukkan keadaan tinggi rendahnya prestasi yang dicapai oleh mahasiswa. Prestasi belajar sebagai hasil dari proses belajar mahasiswa biasanya pada setiap akhir semester atau akhir tahun ajaran yang disajikan dalam buku laporan prestasi belajar mahasiswa atau raport. merupakan perumusan terakhir yang diberikan oleh dosen mengenai kemajuan atau prestasi belajar (Suryabrata, 1984). Prestasi belajar mempunyai arti dan manfaat yang sangat penting bagi anak didik, pendidik, wali murid dan insititusi, karena nilai atau angka yang diberikan merupakan manifestasi dari prestasi belajar mahasiswa dan berguna dalam pengambilan keputusan atau kebijakan

39

terhadap mahasiswa yang bersangkutan maupun insititusi. Prestasi belajar merupakan kemampuan mahasiswa yang dapat diukur, berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dicapai mahasiswa dalam kegiatan belajar mengajar. Benyamin S. Bloom (dalam Nurman, 2006 : 36), prestasi belajar merupakan hasil perubahan tingkah laku yang meliputi tiga ranah kognitif terdiri atas : pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Saifudin Azwar (1996 :44) prestasi belajar merupakan dapat dioperasionalkan dalam bentuk indikator-indikator berupa nilai raport, indeks prestasi studi, angka kelulusan dan predikat keberhasilan. Melihat dari pengertian prestasi atau hasil belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah perubahan tingkah laku yang berwujud perubahan ilmu pengetahuan, keterampilan motorik, sikap dan nilai yang dapat diukur secara aktual sebagai hasil dari proses belajar. Prestasi belajar adalah hasil dari pengukuran serta penilaian usaha belajar (Tirtonegoro, 1984 : 43). Dalam setiap perbuatan manusia untuk mencapai tujuan, selalu diikuti oleh pengukuran dan penilaian, demikian pula halnya dengan proses pembelajaran. Dengan mengetahui prestasi belajar, dapat diketahui kedudukan anak di dalam kelas, apakah anak termasuk kelompok pandai, sedang atau kurang. Prestasi belajar ini dinyatakan dalam bentuk angka, huruf maupun simbol pada periode tertentu, misalnya tiap caturwulan atau semester.

40

Nasution (2001 : 439) menyatakan bahwa prestasi belajar adalah penguasaan seseorang terhadap pengetahuan atau keterampilan tertentu dalam suatu mata pelajaran, yang lazim diperoleh dari nilai tes atau angka yang diberikan guru. Bila angka yang diberikan guru rendah, maka prestasi seseorang dianggap rendah. Bila angka yang diberikan guru tinggi, maka prestasi seorang siswa dianggap tinggi sekaligus dianggap sebagai siswa yang sukses dalam belajar. Ini berarti prestasi belajar menuju kepada optimal dari kegiatan belajar, hal senada diungkapkan oleh Woodworth dan Marquis (dalam Supartha, 2004 : 33) bahwa prestasi belajar adalah kemampuan aktual yang dapat diukur secara langsung dengan menggunakan tes. Bloom (dalam Nurman, 2006 : 37) mengatakan bahwa prestasi belajar merupakan hasil perubahan tingkah laku yang meliputi tiga ranah yaitu: kognitif, afektif dan psikomotor. Menurut Wirawan seperti dikutip Supartha (2004 : 34) mengatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai seseorang dalam usaha belajar yang dilakukan dalam periode tertentu. Prestasi belajar dapat dipakai sebagai ukuran untuk mengetahui materi pelajaran yang telah diajarkan atau dipelajari. Sehubungan dengan itu, Masrun dan Martaniah (dalam Supartha, 2004 : 34) menyatakan bahwa kegunaan prestasi belajar diantaranya adalah

41

a. untuk mengetahui efisiensi hasil belajar yang dalam hal ini diharapkan mendorong mahasiswa untuk belajar lebih giat, b. untuk menyadarkan mahasiswa terhadap tingkat kemampuannya; dengan melihat hasil tes atau hasil ujiannya mahasiswa dapat menyadari kelemahan dan kelebihannya sehingga dapat mengevaluasi dan bagaimana caranya belajar selama ini, c. untuk petunjuk usaha belajar mahasiswa, dan d. untuk dijadikan dasar untuk memberikan penghargaan. Melihat dari pengertian prestasi atau hasil belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah perubahan tingkah laku yang berwujud perubahan ilmu pengetahuan, keterampilan motorik, sikap dan nilai yang dapat diukur secara aktual sebagai hasil dari proses belajar. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, prestasi belajar dalam penelitian ini secara konseptual diartikan sebagai hasil kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk angka yang mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak baik berupa kemampuan kognitif, afektif, maupun psikomotor yang dapat diukur dari tes atau hasil ujian mahasiswa. 3. Hubungan antara motivasi ingin menjadi perawat dengan tingkat prestasi belajar matakuliah konsep dasar keperawatan. Berdasarkan hasil uji Chi-Square dapat dikatakan bahwa pada taraf

kemaknaan P = 0.05, antara variable motivasi menjadi perawat dengan

42

prestasi belajar matakuliah konsep dasar keperawatan terdapat hubungan yang sangat signifikan. Hal tersebut dimungkinkan karena dalam aktivitas / kegiatan belajar sangat diperlukan adanya motivasi. ( Motivasi is an essentia condition of leaning ). Hasil belajar / aktivitas akan menjadi optimal kalau ada motivasi. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa dari 82 responden (100 %), didapat responden yang memiliki motivasi kurang dengan prestasi kurang memuaskan yaitu sebanyak 4 responden (8,9 %), dan responden yang memiliki motivasi kurang dengan prestasi belajar memuaskan sebanyak 41 responden (8,9 %). Memperhatikan dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa responden yang memiliki motifasi yang kurang akan cendrung memiliki prestasi belajar yang kurang memuaskan, dan berdasarkan data terdapat 4 responden (8,9 %) hal tersebut dikarenakan desakan orang tua yang memaksa putra-putrinya untuk masuk S1 keperawatan walaupun pada dasarnya putra putrinya tersebut tidak memiliki kemauan untuk menggeluti profesi Keperawatan. akhmadsudrajat. (wordpress.com/ 2008/02/06/teori-teori-motivasi) Sedangkan responden yang memiliki motivasi kurang dengan prestasi belajar memuaskan sebanyak 41 responden (91,1 %), hal tersebut disebabkan karena bukan hanya sekedar faktor motivasi yang meningkatkan prestasi belajar seseorang, tetapi ada juga faktor lain seperti adanya rasa percaya diri

43

dari responden yang merupakan perwujudan dirinya untuk bertindak dan mencapai tujuan (berhasil). Dari segi perkembangan, rasa percaya diri dapat timbul berkat adanya pengakuan dari lingkungan. Dalam proses belajar diketahui bahwa unjuk prestasi merupakan tahap pembuktian Perwujudan diri yang diakui oleh guru dan rekannya (Dimyati : 1999). Dan responden yang memiliki motivasi baik dengan prestasi balajar kurang memuaskan sebanyak 28 responden (75,7 %), sedangkan responden yang memiliki motivasi baik dengan prestasi belajar memuaskan sebanyak 9 responden (24,3 %). Memperhatikan dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa responden yang memiliki motivasi baik dengan prestasi belajar kurang memuaskan sebanyak 28 responden (75,7 %), hal ini menunjukan bahwa tidak semua motivasi yang didapatkan seseorang itu mempengaruhi peningkatan prestasi belajarnya, tetapi ada juga faktor lain yang mempengaruhinya seperti faktor lingkungan, gangguan kesetan saat tes, kuri kulum yang berlaku sarana dan fasilitas yang kurang memadai, sehingga walaupun seseorang memiliki motivasi baik namun dia memiliki prestasi belajar yang tidak memuaskan. Piaget berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab individu melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungan. Lingkungan tersebut mengalami perubahan. Dengan adanya interaksi dengan

44

lingkungan maka fungsi intelek semakin berkembang. (Dimyati dan Mudjiono, 2002 : 13) Sedangkan responden yang memiliki motivasi baik dengan prestasi belajar memuaskan sebanyak 9 responden (24,3 %), hal ini menunjukan bahwa motivasi itu sangatlah penting dalam menunjang prestasi belajar pada diri seseorang, karena semakin besar motivasi yang didapatkan orang tersebut, maka semakin meyakinkan dirinya bahwa dia mampu menjadi yang lebih baik, hal tersebut dikarenakan semakin tinggi motivasi yang di dapat seseorang, maka semakin menunjang peningkatan prestasi belajar pada seseorang tersebut, karena sesuai dengan fungsi motivasi itu sendiri yaitu mendorong manusia untuk berbuat, memberikan arah perbuatan yang harus dikerjakan, dan menyeleksi perbuatan yang seharusnya diperioritaskan untuk didahulukan. Menurut Mc. Donald motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian motivasi yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen penting, yaitu motivasi mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia, motivasi ditandai dengan munculnya rasa/feeling. Afeksi seseorang dan motivasi akan terangsang karena adanya tujuan (Sardiman, 2007 : 73-74). Dalam literatur lain disebutkan bahwa yang dimaksud motif

45

adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu. Makin besar motivasi yang muncul akan makin berhasil pula pelajaran / aktivitas itu. Disamping hal hal yang telah disebutkan di atas, tidak kalah pentingnya bahwa motivasi itu akan sangat dipengaruhi oleh faktor faktor seperti : Cita-cita atau aspirasi peserta didik, kemauan peserta didik, kondisi fisik dan psikologis peserta didik, kondisi lingkungan peserta didik, unsur unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran, fasilitas dan sarana yang ada, sumber daya dan dana yang tersedia. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Saiful (2002), dimana hasil penelitiannya yang menggunakan analisa statistik menunjukan bahwa

correlation pearson, maupun hasil Chi-Square Test

pada taraf kemaknaan P = 0.05, antara variable motivasi menjadi perawat dengan prestasi belajar MA.105 terdapat hubungan yang Dimana hasil penelitiannya lebih memfokuskan sangat kepada

signifikan.

peningkatan prestasi belajar karena Belajar lebih ditekankan pada proses kegiatannya dan proses belajar lebih ditekankan pada hasil belajar yang dicapai oleh subjek belajar. Hasil belajar dari kegiatan belajar disebut juga dengan prestasi belajar. Hasil atau prestasi belajar subjek belajar atau peserta didik dipakai sebagai ukuran untuk mengetahui sejauh mana peserta didik dapat menguasai bahan

46

pelajaran yang sudah dipelajari. Menurut Woodworth dan Marquis (dalam Sri, 2004 : 43) prestasi belajar adalah suatu kemampuan aktual yang dapat diukur secara langsung dengan tes.