Anda di halaman 1dari 6

A.

Definisi Qasam
Aqsam adalah jamak dari Qasam yang berarti al-hilf dan al-yamin yakni sumpah. Ada tiga unsur dalam sighat qasam: fiil yang ditransitifkan dengan ba, muqsam bih (sesuatu yang digunakan untuk sumpah), dan muqsam alayh (sesuatu yang karena sumpah diucapkan). Ada yang berpendapat bahwa terdapat perbedaan antara qasam dengan half.dalam AlQuran, kata half disebutkan 13 kali. Sedangkan kata qasam disebutkan sebanyak 24 kali. Sedangkan menurut M. Quraish Shihab, dari segi bahasan, kata qasam, yamin dan half sama saja. Adapun pengertian qasam menurut istilah adalah sebagai berikut. Menurut Imam Az-Zarqani, yang dimaksud sumpah adalah

( kalimat untuk men-taukid-kan ( untuk men-tahqiq perintah dan men-

menguatkan suatu pemberitaan). Ibn Al-Qayyim1, dalam bukunya Al-Tibyan, memberikan definisi sumpah dengan kalimat taukid-kannya). Sedangkan menurut Manna Al-Qattan2, sumpah ialah:


Artinya: Untuk menguatkan jiwa agar orang tidak melaksanakan sesuatu, atau melakukan sesuatu, dengan sesuatu yang diagungkan/dimuliakan, baik dalam wujudnya yang hakiki, maupun hanya dalam keyakinan.

B. Redaksi Dan Unsur-Unsur Qasam 1. Fiil Qasam (Yang di-Mutaaddi-kan Dengan Huruf Ba, Ta dan Wawu) Sighat qasam baik yang berbentuk uqsimu ataupun yang berbentuk ahlifu tidak akan berfungsi tanpa di-taadiyah-kan dengan huruf ba. Sebagai contohnya:

1 2

At-Tibyan fi Aqsam al-Quran. Ibn al-Qayyim. Mabahits fi Ulum al-Quran. Manna Khalil Qattan.

a. Yang menggunakan uqsimu dalam Al-Nahl ayat 38:

b. menggunakan ahlifu Qs. Al-Taubah [9:56]:

c. Namun kadang kala dalam suatu ayat, sighat qasam langsung disebutkan dengan huruf wawu pada isim dzahir, kadang kala langsung disebutkan dengan huruf ta pada lafal jalalah. Hal ini terjadi mana kala fiil qasam tidak disebutkan dalam ayat tersebut. Contoh : 1) Dengan huruf wawu, dalam QS al Lail ayat 1 :

2) Dengan huruf taQS Al-Anbiyaa[21:57] :

2. Muqsam Bih Muqsam bih ialah lafaz yang terletak setelah qasam yang dijadikan sebagai sandaran dalam bersumpah yang juga disebut sebagai syarat. Atau dengan kata lain muqsam bih adalah sesuatu yang dengannya seseorang bersumpah atau penguat sumpah. Harus diperkuat dengan sesuatu yang diagungkan. Dalam Al-Quran, Allah bersumpah dengan Dzat-Nya sendiri yang Maha Agung atau dengan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang Maha Besar.

a. Allah bersumpah dengan Dzat-Nya sendiri, yaitu pada tujuh tempat: a) Surat At-Taghabun [64:7]: Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: "Memang, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". b) Surat Saba [34:3]: Dan orang-orang yang kafir berkata: "Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami". Katakanlah: "Pasti datang, demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. c) Yunus [10:53]: Dan mereka menanyakan kepadamu: "Benarkah (azab yang dijanjikan) itu? Katakanlah: "Ya, demi Tuhanku, sesungguhnya azab itu adalah benar dan kamu sekali-kali tidak bisa luput (daripadanya)". d) Maryam [19:68]: Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bangkitkan mereka bersama syaitan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut. e) Al-Hijr [15:92]: Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, f) An-Nisa [4:65]: Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan g) Al-Maarij [70:40]: Maka aku bersumpah dengan Tuhan Yang memiliki timur dan barat, sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa.

b. Allah bersumpah dengan makhluk ciptaannya, dalam Surat At Tiin ayat 1-2: Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, 3. Muqsamalaih Muqsam alaih ialah bentuk jawaban dari syarat yang telah disebutkan sebelumnya (muqsam bih). Atau dengan kata lain, muqsam alaih adalah jawaban yang karena qasam diucapkan. Posisi muqsam 'alaih terkadang bisa menjadi taukid, sebagai jawaban qasam. Karena yang dikehendaki dengan qasam adalah untuk men-taukid-i muqsam alaih (menguatkannya).

Ada empat hal yang harus dipenuhi muqsam alaih, yaitu : a. Muqsam alaih/ berita itu harus terdiri dari hal-hal yang baik, terpuji, atau hal-hal yang penting. b. Muqsam alaih itu sebaiknya disebutkan dalam setiap bentuk sumpah. Jika kalimat muqsam alaih tersebut terlalu panjang, maka muqsam alaih-nya boleh dibuang. Seperti yang terdapat dalam surah al-Qiyamah ayat 1-2: Aku bersumpah demi hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). Muqsam alaih dari qasam tersebut dibuang, karena terlalu panjang. Yang menunjukkan adanya muqsam alaih adalah ayat setelahnya, yaitu ayat 3: Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Sedangkan taqdir dari muqsam alaih-nya bila didatangkan ialah kalimat: Sungguh kamu akan dibangkitkan dan dihisab. c. Jika jawab qasam-nya berupa fiil madhi mutaharrif yang positif (tidak dinegatifkan), maka muqsam alaih-nya harus dimasuki huruf lam dan qod. Contohnya : Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah), dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini, dan demi bapak dan anaknya. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. d. Materi isi muqsam alaih itu bisa bermacam-macam, terdiri dari berbagai bidang pembicaraan yang baik-baik dan penting. Seperti keterangan bahwa Rasulullah saas. adalah benar-benar utusan Allah swt. dalam QS Yasin 1-3: Yaa siin, Demi Al Quran yang penuh hikmah, Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul,3

C. Macam-Macam Qasam
Berdasarkan fiil-nya, qasam ada yang zhahir (jelas, tegas), ada juga yang mudmar (tidak jelas, tersirat):

Ibid.

1. Qasam Zhahir, ialah sumpah yang di dalamnya disebutkan fiil qasam dan muqsam bih. Dan diantaranya ada yang dihilangkan fiil qasam-nya, sebagaimana pada umumnya, karena dicukupkan dengan huruf jarr berupa ba, ta, wawu. 2. Qasam Mudmar, yaitu yang didalamnya tidak dijelaskan fiil qasam dan tidak pula muqsam bih, tetapi ia ditunjukkan oleh lam taukid yang masuk pada jawab qasam. Sebagai contoh:

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu.[QS: Ali Imran 3:186], maksudnya, Demi Allah, kamu sungguh akan diuji

D. Mengapa Allah bersumpah dengan nama makhluk-Nya?


Hal ini dijawab oleh as-Suyuthi4, yakni: 1. Kata yang dibuang pada ungkapan demi buah tin dan demi buah zaitun, yakni kata pemilik. Jadi, ungkapan yang sebenarnya adalah demi pemilik buah tin dan demi pemilik buah zaitun. 2. Orang Arab biasa menggunakan benda dalam bersumpah, maka Al-Qur'an menggunakan ungkapan-ungkapan yang sudah mereka kenal yaitu menggunakan benda untuk bersumpah. 3. Sumpah dilakukan dengan menyebut sesuatu yang diagungkan dan dimuliakan kedudukannya diatas orang yang bersumpah, sedangkan bagi Allah tidak ada sesuatupun yang lebih mulia dibanding-Nya, meski ada beberapa hal yang Allah muliakan. Seperti sumpah atas umur Nabi Muhammad SAW: (Allah berfirman): "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombangambing di dalam kemabukan (kesesatan)".

E. Faedah Penggunaan Aqsam dalam Al-Qur'an 1.Memperkuat informasi yang hendak disampaikan
As-Suyuti telah mengemukakan jawaban atas pertanyaan, "Apakah faedah sumpah dari Allah SWT.? Bila itu ditujukan kepada orang-orang mukmin, tidaklah ada faedahnya
4

Al-Itqan fi Ulum al-Quran. Jalaludin as-Suyuthi.

sebab mereka akan segera membenarkan berita yang berasal dari-Nya sekalipun tanpa diiringi sumpah. Bila ditujukan badi orang-orang kafir, hal itu juga tidak ada faedahnya. "As-Suyuti menjawab bahwa sesungguhnya Al-Qur'an diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab dan sebagian dari kebiasaan bahasa Arab adalah menggunakan sumpah ketika hendak memperkuat suatu hal. 2. Menyempurnakan hujjah (argumentasi) Abu Hasan Al-Qusyairi menjawab bahwa tujuannya adalah untuk kesempurnaan hujjah, hal ini karena segala sesuatu dapat dipastikan keberadaannya dengan dua cara, yaitu persaksian dan sumpah. Kedua cara itu digunakan Allah dalam kitab-Nya sehingga mereka tidak memiliki hujjah untuk membantahnya, Allah berfirman, "Katakanlah: "Ya, demi Tuhanku, Sesungguhnya azab itu adalah benar"". (QS Yunus 10:53).