Anda di halaman 1dari 8

ANALISIS RISIKO A. Kajian Resiko 1.

Identifikasi Resiko Sebelum resiko dapat ditangani, terlebih dahulu risiko-risiko tersebut harus dapat di identifikasi dengan baik. Sangat sulit bahkan tidak mungkin menangani sesuatu yang kita sendiri tidak ketahui. Apabila perusahaan memecat seseorang atau beberapa karyawannya, bisa saja terjadi hal-hal yang dapat merugikan perusahaan akibat pemecatan tersebut. Kemungkinankemungkinan yang merugikan ini jika sudah dapat diidentifikasikan sebelumnya akan lebih memudahkan manajemen untuk menanganinya sekiranya hal-hal tersebut terjadi.

Tidak sedikit manajer yang mengabaikan pentingya identifikasi kemungkinankemungkinan yang merugikan perusahaan. Ketika krisis ekonomi menimpa Indonesia beberapa tahun yang lalu, beberapa perusahaan terpaksa harus gulung tikar, mungkin tidsak siap menhadapi resiko tersebut. Sekiranya resiko tersebut sudah dapat diidentifikasi sebelumnya tentu telah dibuat cara-cara untuk menghadapi peristiwa tersebut sehingga akan lebihj banyak perusahaan yang dapat bertahan.

Memang mudah untuk mengidentifikasi sesuatu yang diketahui, tetapi bagaimana mengidentifikasi sesuatu yang tidak diketahui? Bukankah cukup banyak resiko yang tidak diketahui? Ada yang mengatakan bahwa buaya aligator yang membunuh justru aligator yang tidak kelihatan. Jadi resiko-resiko yang tidak teridentifikasi itulah yang dapat membunuh perusahaan. Bukan Cuma perusahaan, manajemen juga akan ikut dirugikan baik dari segi materi (dalam bentuk insentif dan gaji) dan terutama mennyangkut prestasi dia. Sangat perlu untuk memahami cara-cara yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi resiko sehingga resiko yang tadinya seolah-olah tidak kelihatan akan mudah teridentifikasi.

Ada 3 hal yang perlu diketahui dalam identifikasi resiko, yakni : 1. Mengetahui dimana saja risiko berada. 2. Mengetahui penyebab timbulnya risiko 3. Mengetahui metode yang digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan dan penyebab resiko.

1. Keberadaan Resiko Agar buaya aligator yang tidak kelihatan dan akan membunuh itu dapa teridentifikasi, hal pertama yang perlu diketahui adalah dimana sawja aligator itu berada. Dalam proses identifikasi resiko ini perlu diketahui dimana saja resiko berada. Demikian halnya dalam mengidentifikasi resiko, terutama resiko-resiko yang tidak kelihatan.

Identifikasi resiko dilakukan dalam satu unit kerja. Dapat berupa satu perusahaan atau suatu unit dalam perusahaan yang dipimpin oleh seorang manajer. Dengan kata lain, perusahaan secara kesatuan merupakan unit kerja. Divisi pemasaran atau divisi sumber daya manusia di suatu perusahaan merupakan suatu unit kerja. Setiap unit kerja mempunyai tujuan dan sasaran yang akan dicapai. Untuk mencapai sasaran tersebut, ada beberapa aktivitas yang perlu dilakukan. Dalam setiap aktifitas, ada manusia yang terlibat, ada barang (mesin, alat bahan baku, dan sebagainya), dan ada aturan main (kebijakan) yang menagtur aktifitas tersebut.

Dengan demikian, resiko-resiko yang dihadapi perusahaan bisa berada pada : a. Barang b. Orang c. Kebijakan Jadi yang dimaksud keberadaan resiko disini adalah dimana resiko itu bisa terjadi.

1. Resiko Pada Barang Perusahaan memiliki berbagai macam barang. Dari setiap barang yang dimiliki perusahaan bisa menjadi tempat di mana resiko berada. Untuk mengidentifikasi resiko apa saja yang ada dalam suatu perusahaan, salah satu tempat dimana resiko dapat ditemukan adalah pada barang. Amati semua barang yang dimiliki perusahaan dan akan ditemukan sekian banyak resiko yang berada atau yang bisa terjadi pada barang-barang tersebut.

Sebagai contoh, bangunan yang merupakan salah satu barang yang dimiliki perusahaan. Resiko-resiko apa saja yang berada (bisa terjadi) pada bagunan? Banyak resiko yang terjadi pada bangunan, misalnya bangunan terbakar, runtuh, rusak, dan lain sebagainya.

Yang dimaksud dengan barang disini adalah semua benda yang dapat dilihat, dipegang, dicium, didengar, atau dirasa yang dimiliki perusahaan, kecuali orang. Walaupun orang bisa dilihat dan dipegang, namun disini orang tidak di anggap sebagai barang. Ada 2 kelompok barang yang dimiliki perusahaan, yakni ; a. Barang yang digunakan Dalam pengoperasian perusahaan, diperlukan berbagai macam barang, seperti bangunan, mesin, kendaraan, meja, kursi, dan barang lain yang digunakan perusahaan. Barang-barang yang digunakan perusahaan ini erdiri dari barang tetap, yaitu barang yang tidak dapat dipindah-pindahkan, seperti tanah dan bangunan, dan barang-barang yang dapat dipindahkan, seperti mobil, mesin, kursi, dan meja. b. Barang yang diperjual belikan Perusahaan yang didirikan untuk maksud jual beli barang atau yang dikenal dengan perusahaan dagang, seperti toko, supermarket, dan distributor akan memiliki barang dagangan. Barang dagangan ini adalah barang yang diperjual belikan. Bagi perusahaan manufaktur, dimana ada proses produksi, barang-barang yang diperjual belikan mencakup bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi yang siap untuk dijual.

Mengidentifikasi Keberadaan Resiko pada Barang Amati semua barang yang dimiliki perusahaan. Kelompokkan barangbarang yang akan diamati sesuai dengan kategori pengelompokan barang yang dijelaskan di atas. Pengelompokkan barang tidak harus persis seperti yang dijelaskan di atas, bisa saja lain, namun pada umumnya demikian. Menyangkut identifikasi keberadaan risiko, ada dua hal yang harus dicatat pada Formulir identifikasi Resiko ini, yakni : a. Jenis barang. b. Kejadian.

2. Risiko Pada Orang Pemilihan tingkat unit kerja yang akan dijadikan objek manajemen resiko tergantung pada kesiapan da kemampuan dari masing-masing unit untuk melaksanakannya. Suatu unit klerja, apakah itu suatu perusahaan atau suatu unit dalam organisasi terdiri dari beberapa orang yang bekerja bersama-sama untuk mencapai satu atau beberapa tujuan. Orang-orang ini bisa mengalami suatu kejadian yang merugikan. Dengan kata lain, resiko dapat terjadi pada setiap orang yang berada pada suatu perusahaan atau organisasi.

3. Resiko Pada Kebijakan Pada saat-saat tertentu perusahaan mengeluarkan kebijakan-kebijakan. Apakah itu kebijakan dalam bentuk keputusan yang dibuat manajemen. Setiap kebijakan yang dibuat manajemen mengandung unsur resiko. Resiko yang ditimbulkan berupa tuntutan dari pihak luar. Setiap kebijakan yang dibuat manajemen mengandung unsur resiko. Resiko yang ditimbulkan berupa tuntutan dari pihak-pihak tertentu. Pada setiap kebijakan yang dibuat perusahaan atau keputusan yang dibuat manajemen mengandung unsur resiko. Perusahaan harus dapat mengidentifikasi berbagai kebijakan yang dibuat dan tuntutan apa saja yang dapat terjadi pada setiap kebijakan tersebut, karena dalam setiap tuntutan tersebut ada resiko.

2. Karakteristik Bahaya Penggolongan Karakteristik Bahaya (Hazard) Berdasarkan National Advisory Committee on Microbiology Criteria for Food (1989), karakteristik hazard bisa dikelompokkan Menjadi : Hazard A: merupakan kelompok yang dapat menyebabkan produk yang didesain dan ditujukan untuk kelompok berisiko (bayi, lanjut usia, orang sakit, ataupun orang dengan daya tahan tubuh rendah) menjadi tidak steril. Hazard B: produk mengandung bahan yang sensitif terhadap Hazard mikrobiologi. Hazard C: proses yang dilakukan tidak diikuti dengan langkah pengendalian yang efektif untuk merusak mikroorganisme yang berbahaya. Hazard D: produk terkontaminasi ulang setelah pengolahan dan sebelum pengepakan. Hazard E: terdapat bahaya yang potensial pada penanganan saat distribusi atau penanganan oleh konsumen sehingga menyebabkan produk berbahaya jika dikonsumsi. Hazard F: tidak ada proses pemanasan akhir setelah proses pengepakan atau ketika dimasak di rumah. Tipe-tipe Bahaya (Hazard) Hazard adalah suatu keadaan yang dapat memperbesar kemungkinan terjadinya suatu peril. 1. Physical Hazard, adalah suatu kondisi yang bersumber pada

karakteristik secara fisik dari suatu objek yang dapat memperbesar kemungkinan terjadi suatu peril ataupun memperbesar terjadinya suatu kerugian.
5

2. Moral Hazard adalah suatu kondisi yang bersumber dari orang yang bersangkutan yang berkaitan dengan sikap mental atau pandangan hidup serta kebiasaanya yang dapat memperbesar kemungkinan terjadinya peril ataupun suatu kerugian. 3. Morale Hazard, meskipun pada dasarnya setiap orang tidak menginginkan terjadinya suatu kerugian, akan tetapi karena merasa bahwa ia telah memperoleh jaminan baik atas diri maupun harta miliknya, maka seringkali menimbulkan kecerobohan atau kurang hatihati. 4. Legal Hazard, seringkali berdasarkan peraturan-peraturan ataupun perundang-undangan yang bertujuan melindungi masyarakat justru diabaikan atau pun kurang diperhatikan sehingga dapat memperbesar terjadinya suatu peril. 3. Kajian Pemaparan Kajian paparan merupakan bagaimana kami menjelaskan hasil yang telah kami analisis sebelumya. Dengan contoh kasus diatas mengenai bagaimana sebuah perusahaan bisa menghadapi berbagai macam resiko-resiko baik resiko yang telah di ramalkan, resiko yang tidak di inginkan ataupun resiko yang sulit untuk diidentifikasi. Dalam contoh kasus di atas maka kajian paparan kami yaitu : a. Berapa banyak barang yang akan diproduksi oleh perusaahan tersebut. b. Berapa banyak orang yang bekerja atau berhubungan dengan produksi barang. c. Kebijakan apa saja yang dapat di terapkan dalam sebuah perusahaan yang bersangkutan karena setiap perusahaan mempunyai visi dan misi berbeda walaupun tujuan mereka sama yaitu profit oriented.

4. Karakteristik Risiko Dalam setiap kegiatan maka akan ada beraneka ragam resiko seperti contohnya dalam kasus nasabah di yang tentunya berada pada sebuah bidang perbankan. Dalam kontek ini iramani mengatakan bahwa, apabila dikaitkan dengan preferensi nasabah terhadap resiko, maka resiko di bedakan menjadi 3 yaitu : a. Nasabah yang menyuklai resiko atau pencari resiko (risk seeker), nasabah ini jika dihadapkan dengan 2 pilihan investasi dengan tingkat pengembalian yang sama dengan resiko yang berbeda maka nasabah tersebut lebih suka mengambil investasi dengan resiko yang lebih tinggi dengan harapan pengembalian investasi lebih tinggi, nasabah seperti ini cenderung agresif dan spekulatif dalam megambil keputusan investasi karena mengetahui bahwa hubungan tingkat pengembalian dan resiko adalah positif. b. Nasabah yang netral /moderat terhadap resiko. (ris neoutral/moderat), nasabah ini umunya meminta kenaikan resiko, nasabah ini cukup fleksibel dan bersikap berhati-hati (prudent) dalam mengambil keputusan investas. c. Nasabh yang tidak menyukai resiko dan menghindari resiko (risk averter), nasabah ini jika dihadapkan dengan dua pilihan investasi yang memberikan tingkat pengembalian yang sama dengan resiko yang berbeda, maka nasabah lebih suka mengambil investasi dengan resiko yang rendah, dan biasanya nasbah ini cenderung mempertimbangkan investasinya secara matang dan terencana

Sedangkan pada kasus kami maka karakteristik resiko yaitu :

1. Jika hanya satuan produk barang maka akan mudah di tangani dan dikerjakan dibandingkan dengan ratusan barang yang harus di produksi 2. jika banyak tenaga kerja tidak efektif. 3. Jika kebijakan dilanggar maka akan berakibat fatal.

Daftar Pustaka

Darmawi Herman, 2008, Manajemen Resiko, PT. Bumi Aksara : Padang Fahmi Irham, 2011, Manajemen Resiko (teori, kasus, dan solusi), PT. Alfabeta : Bandung Kountur Ronny, Manajemen Resiko Operasional, PT. PPM : Jakarta