Anda di halaman 1dari 18

Kelompok I : Latar Belakang POD Yang dipelajari dalam pembahasan ini adalah sejarah, pengertian, sifat pendidikan orang

dewasa, kebenaran tentang pendidikan orang dewasa serta fungsi pendidikan orang dewasa. Sifat Pendidikan orang dewasa antara lain: bersifat subjektif dan unik, maka terlepas dari benar atau salahnya, segala pendapat, perasaan, pikiran, gagasan, teori, sistem nilainya perlu dihargai. Tidak menghargai (meremehkan dan menyampingkan) harga diri mereka, hanya akan mematikan gairah belajar orang dewasa. Namun demikian, pembelajaran orang dewasa perlu pula mendapatkan kepercayaan dari pembimbingnya, dan pada akhirnya mereka harus mempunyai kepercayaan pada dirinya sendiri. Tanpa kepercayaan diri tersebut, maka suasana belajar yang kondusif tak akan pernah terwujud. Orang dewasa memiliki sistem nilai yang berbeda, mempunyai pendapat dan pendirian yang berbeda. Dengan terciptanya suasana yang baik, mereka akan dapat mengemukakan isi hati dan isi pikirannya tanpa rasa takut dan cemas, walaupun mereka saling berbeda pendapat. Keterbukaan seorang pembimbing sangat membantu bagi kemajuan orang dewasa dalam mengembangkan potensi pribadinya di dalam kelas, atau di tempat pelatihan. Sifat keterbukaan untuk mengungkapkan diri, dan terbuka untuk mendengarkan gagasan, akan berdampak baik bagi kesehatan psikologis, dan psikis mereka. Bagi orang dewasa, terciptanya suasana belajar yang kondusif merupakan suatu fasilitas yang mendorong mereka mau mencoba perilaku baru, berani tampil beda, dapat berlaku dengan sikap baru dan mau mencoba pengetahuan baru yang mereka peroleh. Pada akhirnya, orang dewasa ingin tahu apa arti dirinya dalam kelompok belajar itu. Bagi orang dewasa ada kecenderungan ingin mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya. Mengapa semua hal ini perlu dipelajara agar sebelum masuk kedalam tahap yang lebih lanjut dari matakuliah Pendidikan orang dewasa ini, kita mengetahui dahulu sejarah, pengertian, sifat dll dari Pendidikan orang dewasa.

Ilmu yang telah diperoleh tersebut data kita aplikasi dalam kegiatan sehari-hari kita apabila suatu saat kita akan membuat Lembaga khusus Pendidikan orang dewasa, kita jadi sudah tahu dasar-dasar dari pendidikan orang dewasa tersebut.

Kelompok II : Pengertian Pendidikan Orang Dewasa Yang dipelajari tidak terlalu jauh perbedaannya dengan Latar belakang Pendidikan POD diatas. Didalam pembahasan ini juga membahas tentang Pengertian POD, yang membedakannya adalah dalam pembahasan ini membhas tentang karakteristik POD, Prinsip-prinsip dalam POD dan perspektif POD. Adapun karakteristik POD adalah: a. Memiliki lebih banyak pengalaman hidup. b. Memiliki motivasi tinggi untuk belajar. Orang dewasa termotivasi untuk belajar karena ingin memperoleh pekerjaan yang lebih baik dan berprestasi secara personal, keputusan dan perwujudan diri. c. Banyak peranan dan tanggung jawab yang dimiliki. Hal ini menimbulkan persaingan terhadap permintaan waktu antar setiap peranan yang ia miliki. d. Pengalaman dan tujuan hidup orang dewasa lebih beragam daripada para pemuda. Hal ini dijadikan suatu kekuatan yang positif yang dapat dimanfaatkan melalui pertukaran pengalaman dikalangan pembelajar orang dewasa. e. Makna belajar bagi orang dewasa. Belajar adalah suatu proses mental yang terjadi dalam benak seseorang yang melibatkan kegiatan berpikir. Bagi pendidikan orang dewasa hal itu didapatkan melalui pengalaman-pengalaman belajar. Prinsip-prinsip POD adalahMenurut Hommonds, terdapat empat prinsip belajar yang dapat digunakan untuk mempercepat proses perubahan perilaku pelajar : a. Prinsip latihan (praktik), ketika kita telah menerima materi dan melakukan aktifitas yang konkrit dan juga yang tidak nyata seperti aktifitas penggunaan indera, susunan syaraf dan lainnya. pemelajar akan terdorong untuk mengaplikasikan ilmu yang ia

terima sebelumnya. Hal ini akan mempercepat perkembangan dan perubahan kualitas pelajar. b. Prinsip hubungan, mempunyai arti bahwa pengalaman yang terdahulu haruslah dihubungkan dengan pengalaman yang baru, sehingga terjadilah proses pembangunan pengetahuan atau konstruktivistik. c. Prinsip akibat. Dalam pendidikan orang dewasa, emosi, perasaan, lingkungan belajar, hingga pendidik yang memberikan materi sangat mempengaruhi keberhasilan atau tidak tercapainya keberhasilan dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu, sangatlah diperlukan pendidik yang peka terhadap kepuasan pelajar yang berkaitan dengan sefala hal yang berkaitan dengan proses belajar pendidikan orang dewasa. Dengan adanya kepuasan diharapkan pemelajar dapat mencapai keberhasilan dan tujuan pembelajaran. Prinsip kesiapan, kesiapan diri pemelajar akan menentukan manfaat yang dapat diperoleh dari proses belajar. Baik fisik maupun mental pemelajar sangat dipengaruhi proses pembelajaran. Dengan adanya kesiapan mental dan fisik diharapkan pelajar dapat mencurahkan seluruh perhatiannya pada materi yang sedang dihadapi. Dengan demikian diharapkan, pemelajar dapat memaksimalkan usaha pencapaian dan dapat mengatasi rintangan belajar agar berprestasi. Hal tersebut penting dipelajari agar kita mengetahui bagaimanakah prinsip serta karakteristik POD sehingga kita tidak akan salah dalam menilai pendidikan orang dewasa. Ilmu ini dapat diterapkan oleh para pengelola yang mendirikan Lembaga Pendidikan Orang Dewasa sehingga yang tadinya lembaga tersebut memiliki kekurangan di beberapa tempat, karena sudah mengetahui hal-hal tersebut kesemuanya dapat diperbaiki secara bertahap.

Kelompok III: Pembelajaran Orang Dewasa Yang dibahas Penelitian tentang pengajaran orang dewasa, efektivitas guru, fungsi guru, Social Dynamics of Classrooms and Schools, Context of Teaching, Pembelajaran orang dewasa dan prinsip-prinsip pembelajaran :

1. Harus Tahu orang dewasa perlu tahu mengapa mereka harus mempelajari sesuatu, berarti alasan mereka perlu belajar sesuatu atau bagaimana hal itu akan menguntungkan mereka. 2. kontrol diri orang dewasa mampu mengkondisikan dirinya sendiri. Akan tetapi yang telah dikondisikan melalui sistem sekolah nasional pelajar tergantung, mereka harus pindah ke pembelajar mandiri di mana mereka bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri dan arah dibutuhkan. 3. Peran Pengalaman - Pengalaman orang dewasa ini harus digunakan dalam pembelajaran baru dan teknik harus mencakup cara untuk memasukkan pengetahuan dewasa sebagai alat yang mereka dapat memanfaatkan dan juga menyediakan keterlibatan mereka untuk mengakui pengalaman mereka. 4. Kesiapan untuk Belajar - Dewasa mencari belajar sebagai cara untuk lebih baik dengan tugas-tugas kehidupan nyata dan masalah. 5. Orientasi Belajar - pembelajaran baru harus secara jelas mendefinisikan bagaimana pembelajaran baru akan berlaku untuk kehidupan mereka dalam beberapa model. 6. Motivasi untuk Belajar - motivator internal penting daripada motivator eksternal yang dewasa dapat menerima untuk belajar lebih. Ini motivator internal bisa datang dalam bentuk kepuasan kerja meningkat, harga diri, dan kualitas hidup. Mengapa hal ini harus karena berkaitan dengan penelitian pembelajaran orang dewasa, hasil penelitian ini bisa kembali dipelajari untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan dari pembelajaran POD yang udah ada sekarang ini, dan karena adanya penelitian ini dapat digunakan untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada pada saat ini. Ilmu ini dapat diterapkan di badan-badan diklat dan lembaga-lembaga Kurusu yang menangani pendidikan orang dewasa.

Kelompok IV : Program Pengembangan Pendidikan Orang Dewasa Yang dielajari dalam pembahasan ini adalah Program pengembangan POD serta Model-model yang digunakan dalam pengembangan POD . Model Knowles 'melibatkan langkah-langkah berikut: 1. Membangun iklim organisasi. Di sini ia membahas cara membangun lingkungan edukatif dalam sebuah organisasi yang dibangun di atas filosofi demokrasi dan pengakuan atas perlunya perubahan dan pertumbuhan. Ini yang disebutnya sebagai creating iklim yang kondusif untuk belajar' dan ia berpendapat bahwa iklim seperti harus dinyatakan dalam kebijakan resmi organisasi. 2. Membangun struktur. Di sini ia membahas cara untuk menciptakan jenis komite rigth atau struktur lainnya untuk mendukung dan mempromosikan pendidikan orang dewasa dalam organisasi. 3. Menilai dengan kebutuhan dan kepentingan. Di sini ia meneliti berbagai jenis kebutuhan dan kepentingan yang individu, organisasi dan masyarakat mungkin memiliki, dan kemudian menguraikan beberapa cara untuk mengidentifikasi mereka. 4. Menerjemahkan kebutuhan menjadi tujuan program. Di sini ia membahas bagaimana kebutuhan yang telah dinilai harus disaring melalui tiga filter - tujuan dari instution, kelayakan, dan kepentingan klien. 5. Merancang program. Di sini ia membahas berbagai prinsip desain program dan tentu saja, dan proses untuk memilih format yang berbeda untuk belajar. 6. Operasi program. Di sini ia membahas praktik melaksanakan dan mengelola program, termasuk perekrutan guru, promosi, rekrutmen off participipants, dan pengelolaan keuangan dan fasilitas. 7. Mengevaluasi program. Di sini ia membahas tujuan dan metode evaluasi, dan penggunaan yang temuan dapat diletakkan. Mengapa hal ini dipelajari karena model-model tersebut sangalah penting untuk pengembangan Diklat-Diklat atau kursus-kursus yang beroreantasi pada Pendidikan orang dewasa, dengan model-model tersebut dimungkinkan diklat-diklat atau kurusus0kursus yang akan dilaksanakan akan lebih baik dari sebelumnya yang belum menerapkan model-

model tersebut. Selain itu model-model pengembangan ini dapat diterapkan oleh badanbadan diklat yang akan melakukan diklat, serta pada lembag-lembaga kursus.

Kelompok V : Inovasi dalam Pembelajaran Orang Dewasa Yang dipelajari disini merupakan inovasi dari penmbelajaran pendidikan orang dewasa yaitu seperti mengadakan pendidikan jarak jauh, online learning, Belajar organisasi, workplace learning serta pendidikan kejuruan dan pelatihan. Seperti yang kita tahu untuk seorang remajapun tidaklah harus belajar secara bertatap muka dengan gurunya tapi dapat digunakan pembelajaran jarak jauh begitu juga dengan pendidikan orang dewasa ini bisa dilakukan dengan pendidikan jarak jauh, seperti yang pernah dilakukan dalam salah satu pelatihan yang dilakukan secara virtual, para pesrta seminar tersebut tidak bertemu langsung dengan narasumbernya namun melalui media virtual, semakin canggihnya teknologi kegiatan pembelajaran bisa mudah dilakukan dimana saja kapan saja dan dengan cara apa saja. Mengapa hal ini perlu dipelajari seperti yang telah saya singgung diparagraf tadi bahwa belajar bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja, yang dapat melakukan pembelajaran jarak jauh, online learning, belajar organisasi, workplace learning bukan hanya remaja yang bisa dibilang tidak gagap oleh teknologi tetapi para orang dewasa juga dapat melakukannya tentunya dengan diberikan arahan terlebih dahulu. Seperti yang telah disebutkan tadi bahwa ilmu tersebut data diaplikasikan di pelatihan, seminar-seminar dan workshop yang diselenggarakan diIndonesia apabila narasumber atau pembicara dalam acara tersebut berada ditempat yang jauh dan tidak memungkinkan pembicara tersebut untuk datang langsung ketempat diselenggarakannya acara.

Kelompok VI : Aspek Pembelajaran Yang dipelajari dalam pembahasan Ini antara lain adalah pembelajaran, pengajaran dan pelatihan. Pembelajaran bukan pelatihan. Pembelajaran tentu saja bukan pelatihan. Sebab pelatihan adalah pengulangan - pengulangan, repetisi, dan praktik (belajar melakukan). Proses pembelajaran (belajar menjadi) untuk mendorong karyawan untuk menjadi manusia pembelajar hanya dapat dilakukan dengan mengikuti pendidikan di sekolah kehidupan. Pelatihan adalah soal manajemen yang dapat dipelajari lewat kursuskursus manajemen konvensional dan kursus-kursus pengembangan kepribadian (bukan pengembangan diri). Perbedaan mendasar antara pendidikan dan pelatihan. PENDIDIKAN Induktif Sementara Dinamis Memahami Gagasan Luas Dalam Berdasarkan Pengetahuan Aktif Pertanyaan Proses Strategi Alternatif Eksplorasi Penemuan Aktif Insiatif Seluruh otak Kehidupan Jangka panjang Perubahan Isi Fleksibel Resiko Sintesis Terbuka PELATIHAN Deduktif Tetap Statis Menghafal Fakta Sempit Dangkal Pengalaman Hafalan Pasif Jawaban Isi Taktik Sasaran Ramalan Dogma Reaktif Bimbingan Otak kiri Pekerjaan Jangka pendek Stabilitas Bentuk Kaku Peraturan Tesis Tertutup

Imajinasi Akal sehat PEMIMPIN MANAJER Jelas pelatihan bertanggung jawab untuk membuat seseorang siap pakai, siap memangku jabatan, siap menjadi manajer, karena mahir memanajemeni benda-benda, menguasai alam, dan segala sumberdayanya termasuk uang, mesin-mesin tercanggih, tetapi bukan orang, bukan human capital, tetapi sekedar intelektual capital, yang tidak mencakup emotional sosial capital, bukan moral spiritual capital, Singkatnya pelatihan berurusan dengan praktik, dengan belajar melakukan (learning how to do). Tidak demikian halnya dengan pendidikan atau proses pembelajaran. Pembelajaran bertanggung jawab untuk belajar menjadi (learning to be). Dengan demikian, pembelajaran bertanggung jawab untuk melahirkan pemimpin sejati, manusia-manusia yang siap menjadi dirinya sendiri, juga siao belajar karena telah melewati proses belajar bagaimana belajar (learning how to live together). Pembelajaran bukanlah Pengajaran. Dalam hal ini saya ingin menambahkan bahwa pembelajaran (belajar menjadi) dan pengajaran (belajar mengetahui), perlu diperkaya dengan pelatihan (belajar melakukan). Dalam pembahasan ini juga dibahas tentang paradigm pendidikan yang terjadi pada saat ini, serta paradigman disiplin dan perilaku. Paradigma adalah bingkai (frame) sebuah kacamata, sementara sikap adalah lensa (glass) kacamata tersebut. Dan, kita melihat dunia di sekitar kita dengan menggunakan keduanya. Paradigma juga dapat diilustrasikan sebagai fondasi dari sebuah bangunan. Berapa besar atau tinggi bangunan itu ditentukan oleh seberapa kuat, lebar, dan dalam fondasinya. Pelatihan yang baik, yakni pelatihan yang berpijak pada pandangan dasar bahwa sikap mental adalah dasar dari semua pelatihan, harus didasarkan pada teori yang tepat dan ini berarti pengajaran yakni learning how to think dan learning how to learn. Dengan kata lain, pelatihan yang baik akhirnya mengakomodasi proses-proses pengajaran (teori, belajar tentang) dan praktek (belajar) yang mencakup learning how to think, learning how to learn, learning how to do, learning how to do, dan learning how to live together.

Mengapa hal ini penting untuk dipelajari karena seperti yang sudah tertulis diatas bahwa pengajaran adalah proses mengetahui yaitu proses awal seseorang untuk belajar, sedangkan proses kedua adalah pembelajaran dan proses yang terakhir adalah elatihan yaitu proses dimana seseorang mempraktekkan segala yang telah mereka pelajari. Hal ini dapat dielajari di tempat-temapat mencari ilum seperti sekolah, tempat kursus, pelatihan-pelatihan, workshop dll.

Kelompok VII : Proses Menjadi Manusia Pembelajar; Pemimpin Sejati, Guru Bangsa. Seperti yang tertuang dalam judul pembahasan ini, pembahasan ini membahasa tentang proses menjadi manusia pembelajar, adapun proses yang dilalui adalah: 1. Penentuan passion, atau dalam pengertian lain adalah menentuan tujuan atau visi yang kita suka. Dengannya kita akan bergerak menjadi seorang visionaris, dan pasti tidak akan terbang tertiup angin yang berhembus. 2. Bekerja, dalam hal ini seorang yang ingin menjadi pembelajar harus memaksimalkan potensi yang ia punya. Walaupun tidak sempurna pada awalnya, tetapi dengan pemaksimalan tersebut akan tercipta hasil yang sempurna. 3. Fokus, inilah hal yang terkadang tidak dimiliki seseorang. Fokus mempunyai arti bahwa seseorang tidak mengalihkan perhatian pada hal lain dan hanya terpaku pada satu hal saja. Proses ini diawali dengan berpikir secara luas kemudian mengambil satu hal dan berfokus didalamnya. Berlatih untuk berkonsentrasi dan menyinggkirkan gangguan yang dapat mengurangi tingkat konsentrasi tersebut. 4. Membangun motivasi, untuk membangun motivasi tidaklah mudah, motivasi berasal dari dalam diri, bagaimanapun kerasnya dorongan dari luar, jika internalnya tidak terpacu maka tidak akan ada motivasi yang muncul. Jika hal tersebut terjadi, mintalah motivasi dari seorang Ibu dan teman terpercaya, hal lain yang dapat dilakukan adalah mencari tor-mentor dan mentor. 5. Ide, untuk menjadi pembelajar yang kompetitif, ia diharapkan dapat menjadi creator dalam ide. Ide atau dalam pengertian lain adalah sebuah gagasan, harus dipacu dan diawali dengan mendengarkan sekitar. Dengan menjadi pendengar yang

baik maka ide akan muncul, tetapi jika tidak langung ditulis atau dikerjakan, ide tersebut hanyalah sebuah gagasan kosong dan tidak bernilai. 6. Mengembangkan diri, pengembangan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pembelajar. Didalamnya, pembelajar harus mampu memperbaiki celah-celah yang dianggap kurang atau minus dalam dirinya, serta menggantinya dengan hasil yang lebih baik. Pengembangan diri ini hanya berfokus pada satu hal yaitu performa terbaik. Jadi, jika seorang yang ingin menjadi pembelajar tidak menunjukkan performa terbaiknnya maka ia sudah gugur di awal. 7. Melayani, mengambil prinsip UNESCO tentang pilar pendidikan : learn to know, learn to do, learn to be, and learn to live together. Dari pilar tersebut dapat disimpulkan, pembelajar yang sesungguhnya adalah orang yang mau berbagi, tidak mementingkan kepentingan pribadi, dan mengedepankan ego. Pembelajar yang baik, belajar tidak karena mencari hal yang bersifat sementara, tetapi berfokus pada peningkatan diri dan sekitarnya. Melayani, mempunyai arti juga bahwa pembelajar harus dapat menempatkan dirinya dari sudut pandang yang berbeda. 8. Tekun dalam menjalani proses yang ada. Merupakan hal inti dalam siklus proses ini, jika seorang hanya menjalani point 1-5 saja, maka sudah pasti tidak akan menjadi pembelajar yang baik. Ketekunan itu didapatkan tidak dari bawaan genetika, tetapi dari suatu proses panjang. Proses tersebut dimulai dari perencanaan jadwal kegiatan kita, target apa yang ingin dicapai, masukan, kritikan, hingga penolakan. Hal-hal tersebut dapat menjadikan seorang individu pembelajar yang mempunyai standar tinggi. Langkah kecil namun dilakukan secara terus-menerus dan tekun, akan terlihat hasilnya diakhir proses. Dengan tidak terlalu lama melihat kebelakang, maka ketekunan ini akan dapat juga dipertahankan. Pendidikan orang dewasa adalah sebuah proses yang peranan sosial utamanya adalah membentuk karakteristik status orang dewasa yang menjalankan aktivitas pembelajaran utuh dan sistematis yang bertujuan memberikan perubahan dalam hal ilmu pengetahuan, tingkah laku, nilai atau kemampuan. Perubahan itu dapat dilihat dari mampu tidaknya orang dewasa berinteraksi maupun mampu menciptakan suatu organisasi. Hal yang dilihat disini adalah bagaimana ia dapat memimpin. Memimpin dalam lingkup individu maupun sistem sosial yang besar.

Dalam pendidikan orang dewasa inilah, harus ditumbuhkembangkan jiwa siap dipimpin dan siap untuk memimpin. Pewujudannya diawali dengan beberapa hal : a. Kejujuran, jujur untuk diri sendiri maupun orang lain b. Berkomitmen, menyatakan siap menjalankan dan menanggung resiko yang ada c. Berpelilaku konsisten, d. Menjadi visionaris, mempunyai cita-cita dan tujuan hidup. Untuk menjadi visionaris, berarti harus mampu dan rela membagikan visi-misi-strategi pribadinya kepada publik. Hal ini perlu dipelajari, bahwa seseorang haruslah diberikan arahan atau bimbingan untuk menjadi seorang pemimpin, dalam proses tersebutlah seseorang menjadi manusia pembelajar yang kelak disiapkan untuk menjadi pemimpin sejati dan guru bangsa baik untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain. Hal tersebut dapat diterapkan kepada diri kita sendiri baik diperoleh dari pengalaman hidup dan dapat pula diperoleh ditempat-tempat pendidikan formal.

Kelompok VIII : Berfikir Kreatif Setiap orang mempunyai jiwa kreatif, namun tidak setiap orang mempunyai waktu atau kesempatan untuk mengasah kreatifitas mereka. Menurut Howard Gardner terdapat tujuh Jenis Kreatifitas yang terdapat pada setiap diri manusia. Verbal/Iinguistis: kemampuan memanipulasi kata secara lisan atau Matematis/Iogis: kemampuan memanipulasi sistem nomor dan konsep Spasaalx kemampuan melihat dan memanipulasi pola dan desain Musikal : kemampuan mengerti dan memanipulasi konsep musik, seperti nada, irama, dan keselarasan Kinestetis-tubuh: kemampuan memanfaatkan tubuh dan gerakan, seperti dalam olahraga atau tari Intrapersonal: kemampuan memahami perasaan diri sendiri, gemar merenung serta berfilsafat.

Interpersonal: kemampuan memahami orang Iain, pikiran, serta perasaan mereka Biasanya setiap individu mempunyai dua kecerdasan yang menonjol pada diri

mereka masing-masing, namun biasanya mereak hanya memusastkan salah satunya saja. Setiap orang dapat memperoleh jiwa kreatifitas mereka dengan CORE

Cari tahu Olah keterbukaan Risiko Energi

Terdapat Empat tahap model Kreatif Tahap Persiapan Tahap Inkubasi Tahap Pencerah Tahap Pelaksanaan

Ciri-ciri orang yang kreatif Mengobservasi situasi dan masalah-masalah yang sebelumnya tidak diperhatikan orang lain Membangkitkan ide-ide dan masalah-masalah yang dicapainya dari banyak sumber Cenderung memiliki banyak alternative terhadap masalah/subjek tertentu Seringkali menentang hal-hal yang bersifat klise dan ia tidak terhalang oleh kebiasaan-kebiasaan (yang kadang menghambat berikir kreatif seseorang) Mendayagunakan serta menimba dari kekuatan-kekuatan emosional di bawah sadar yang dimilikiny Memiliki feksibilitas tinggi dalam pemikirannya, tindakan-tindakannya serta perumusan saran-saran

Perbandingan antara cara berfikir analitikal dan cara berfikir kreatif Analitikal Bersifat: Logis Dapat diramalkan Konvergen Vertical Bersifat: Imajinatif Tidak dapat diramalkan Divergen Lateral Kreatif

Mengapa hal ini perlu diketahui, agar kita mengetahui sejauh mana kita mempunyai jiwa kreatif dan kecerdasan apa yang kita punya sehingga kita dapat dengan mudah memusatkan atau memfokuskan kreatifitas kita. Karena pastilah setiap individu adalah kreatif. Hal ini dapat dipelajari dalam kehidupan sehari-hari kita akan mempunyai jiwa yang kreatif apabila kita mempunyai gaya hidup yang kreatif pula. Selain itu kreatifitas dapat diasah dilingkungan formal seperti sekolah atau tempat-tempat kursus yang sesuai dengan kecerdasan yang kita miliki.

Kelompok IX : Pengembangan Diri Dalam pembahasan ini dipelajari tentang kecerdasan Emosioanal dan juga Physical Quotient. Seorang pribadi yang baik, dia adalah seorang yang dapat menguasai kecerdasan emosiaonalnya. Ada lima komponen dasar dari kecerdasan emosional (EQ), yaitu sebagai berikut. 1. Kesadaran diri, Faktor pertama ini merupakan pilar dasar total maka orang akan mampu mengontrol dan mengendalikan emosinya. Kesadaran diri ini berkaitan dengan kemampuan orang untuk mneyadari gejolak perasaanya, mengamati perubahan emosi, dan mengenali nama-nama emosi yang muncul di dalam dirinya. Jika kita mempunyai kesadaran yang tinggi akan gejolak emosi, kita akan

cepat mampu dengan kesadaran kita mengambil jarak untuk mengamati apa yang terjadi dengan diri kita sendiri. 2. Mengelola Emosi, Komponen kedua dari kecerdasan emosi adalah kemampuan kita untuk bagaimana mengelola emosi di saat-saat penuh ketegangan. Mengelola emosi berkaitan dengan kemampuan untuk bagaimana memahami suasana perasaan dan mengaturnya sehingga tidak mengganggu kinerja kita. Ketika kita dalam keadaan sangat marah, kita mampu mengelola kemarahan kita sehingga dengan relatif singkat kita akan kembali menjadi lebih tenang. 3. Memotivasi Diri, Orang yang mempunyai kecerdasan emosi adalah orang yang mampu memotivasi diri sendiri, membangkitkan semangat, menghidupkan energi positif didalam dirinya ketika berhadapan dengan hambatan-hambatan. Mereka mampu membangkitkan optimisme, ketika keadaan semakin sulit untuk dihadapi. 4. Empati, Orang yang memiliki kecerdasan emosi tinggi adalah orang yang mampu meletakan dirinya ditelapak sepatu orang lain dalam memahami orang tersebut. Artinya kita berusaha memahami orang tersebut. Artinya adalah anada berusaha memahami seseorang dari perspektif, perasaan, dan pemikiran orang tersebut. Kita mampu mengerti perasaan apa yang sedang terjadi saat orang lain mengalami kebahagian dan kededihan. Kita tidak dengan cepat membandingkan dan mengukur orang lain berdasarkan pemikiran kita sendiri. Kita tidak menggambarkan perasaan orang lain berdasarkan pengalaman kita sendiri. 5. Keterampilan Sosial, Kemampuan untuk berhubungan secara baik dengan orang lain merupakan salah satu komponen dari orang yang memiliki kecerdasan emosi tinggi. Hal ini menuntut kita untuk mengembangkan keterampilan social termasuk didalamnya bagaimana mendengarkan dengan empatik, bagaiman cara berkomunikasi dengan hangat.

Selain itu disini juga membahas Physical WQuotient atau disiplin. Displin adalah Kendaraan untuk mencapai visi. Banyak orang yang gagal, menggapai visinya disebabkan oleh kegagalanya mengelola disiplin.

Mengapa hal-hal tersebut haruslah dipelajari, untuk menjadi seorang apribadi atau pemimpin yang baik kita haruslah mengusai kecerdasan emosional kita agar menjadi seorang yang lebih baik, begitu juga dengan disiplin agar apa yang ingin kita capai dapat berhasil kita haruslah disiplin dalam melakukan hal tersebut. Ilmu tersebut daptlah diterapkan dimulai dari diri kita terlebih dahulu, dengan memulainya terhadapt diri kita dahulu barulah kita dapat membaginya ke orang lain, karena apabila kita tidak menerapkan nya terlebih dahulu pada diri kita bagaimana kita bisa mengajarkan pada orang lain sedangkan kita sendiri tidak menerapkannya. Selain itu disiplin dapat diperoleh deijenjang-jenjang formal seperti sekolah dan kursus ditempat tersebut ada terdapat banyak atura, agar kita tidak melanggar peraturan tersebut kita haruslah mematuhinya.

Kelompok X : Hidup Penuh Makna Yang dibahas dalam pembahasan ini adalah bagaimana kcara kita memperoleh hidup yang bermakna. Terdapat tiga pilar Filosof yang penting bagi manusia dalam proses pemenuhan kebermaknaan hidup : 1. Freedom of will (kebebasan berkehendak), maksudnya adalah manusia memiliki kebebasan untuk menentukan sikap ketika berhadapan dengan berbagai situasi. 2. Will to meaning (kehendak hidup bermakna) merupakan motivasi utama manusia. Hasrat ini yang memotivasi setiap orang untuk bekerja, berkarya, dan melakukan kegiatan-kegiatan penting lain. 3. Meaning of life (makna hidup) ini akan menjadikan manusia mampu memenuhi kebermaknaan hidupnya, tanpa makna hidup manusia akan kehilangan arti dalam kehidupannya sehari-hari. Terdapat pula Metode dalam Makna Hidup Menurut Bastaman (1996) menyederhanakan dan memodifikasi metode Logoanalysis sebagai berikut : a. Pemahaman Pribadi

Mengenali secara objektif kekuatan dan kelemahan diri sendiri dan lingkungan, baik yang masih merupakan potensi maupun yang telah teraktualisasi untuk kemudian kekuatan-kekuatan itu dikembangkan dan kelemahan-kelemahan dihambat dan dikurangi. b. Bertindak positif Mencoba menerapkan dan melaksanakan dalam perilaku dan tindakan-tindakan nyata sehari-hari yang dianggap baik dan bermanfaat. Bertindak positif merupakan kelanjutan dari berfikir positif. c. Pengakraban Hubungan Secara sengaja meningkatkan hubungan yang baik dengan pribadi-pribadi tertentu ( misalnya anggota keluarga, teman, rekan kerja, tetangga ), sehingga masing-masing merasa saling menyayangi, saling membutuhkan dan bersedia bantu-membantu. d. Pengalaman Tri-Nilai Berupaya untuk memahami dan memenuhi tiga ragam nilai yang dianggap sebagai sumber makna hidup yaitu nilai-nilai kreatif ( kerja, karya ), nilai-nilai penghayatan ( kebebaran, keindahan, kasih, iman ), dan nilai-nilai bersikap ( menerima dan mengambil sikap yang tepat atas derita yang tidak dapat dihindari lagi ). e. Ibadah dan Doa Ibadah merupakan upaya mendekatkan diri pada sang pencipta yang pada akhirnya memberikan perasan damai, tentaram, dan tabah. Ibadah yang dilakukan secar terusmenerus dan khusuk memberikan perasan seolah-olah dibimbing dan mendapat arahan ketika melakukan suatu perbuatan. Proses-proses Perubahan Dari Penghayatan Hidup Tak Bermakna Menjadi Lebih Bermakna. a. Tahap Derita (peristiwa tragis, penghayatan tampa makna) b. Tahap Penerimaan Diri (pemahaman diri, pengubahan sikap) c. Tahap Penemuan Makna Hidup (penemuan makna dan penemuan tujuan- tujuan hidup)

d. Tahap Realisasi Makna (keikatan diri, kegiatan terarah untuk pemenuhan makna hidup) e. Tahap Kehidupan Bermakna (penghayatan bermaknaan, kebahagiaan) Hal ini perlu dipelajari agar kita mengetahui apakah diri kita sebagai individu yang sekarang ini sudah memiliki hidup yang bermakna untuk diri kita sendiri atau bahkan bermakna untuk orang lain juga. Dengan mempelajari hal tersebut kita mengetahu prosesproses apa saja yang harus dilalui untuk mencapai hidup yang bermakna. Apabila kita sudah mencapia proses hidup yang memang harus ada untuk mencapai hidup lebih bermakna, maka dapat dipastikan hidup kita sudah bermakna. Hal tersebut dapat kita lihat dalam kehidupan sehari hari kita bagaimana apakah sudah melalu proses-proses tersebut atau belum.

Kelompok XI : Usaha Sendiri dan Kepemimpinan

Dalam pembahasan kali ini membahas tentang entrepreneur dan jiwa kepemiminna. Sama seperti jiwa kreatif setiap orang mempunyai jiwa entrepreneur namun ada yang sangat terlihat ada juga yang tidak, mungkin yang tidak terlalu terlihat karena kurang diasah kemampuan tersebut. Roses Pengambilan keputusan Entrepreneurial : Setiap orang mempunyai jiwa kepemimpinan juga, namun kualitas

kepemimpinannyalah yang berbeda- beda. Kualitas yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah : 1. Visi, Cara meraih kesuksesan. Visi lebih dari sekedar seperangkat tujuan. Visi anda merupakan definisi yang anda tentukan tentang apakah arti sukses itu sebagai sebuah tim. 2. Keterampilan Berkomunikasi, Tampilkan optimisme. Jadilah juru cerita. Periksa persepsi pemain anda. Jadilah pendengar yang baik. 3. Keterampilan Bergaul, Selalu tampil dan siap sedia. Pujian dimuka umum, kritik bagi diri sendiri. Gunakan otoritas seperlunya. Ciptakan rasa humor yang sehat.

Jangan suburkan pergunjingan. Menumbuhkan rasa hormat yang sehat bagi kepemimpinan. 4. Karakter, Bersikaplah rendah hati. Pelihara integritas secara mutlak. Bersikap fleksibel dan mudah beradaptasi. Bersikaplah transparan. Bersikaplah percaya diri. 5. Kompetensi, Track Record yang Kuat. Kemampuan Mendelegasi. Nafsu menjadi Sempurna. Komitmen untuk Terus Berkembang. Komitmen untuk Bekerja Keras. 6. Keberanian, Mengambil Risiko dan Menumbuhkan Keberanian. Belajar

Menghadapi Konflik, Perbedaan, dan Kritikan dengan Tenang Hal-hal tersebut haruslah dipelajari oleh seseorang yang menginginkan dirinya sukses dimasa depan, dengan mempelajari hal tersebut kita akan tahu bagaimana menjadi pemimpin yang mempunyai kualitas yang baik. Hal tersebut, bisalah kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari terlebih dahulu, menjadi seorang pemimpin tidaklah harus menjadi pemimpin untuk orang lain, namun pertam-tama kita harus memimpin diri kita terlebih dahulu akan dibawa kemana diri kita dengan kualitas yang ada sekarang ini.