Anda di halaman 1dari 9

http://dentistrymolar.wordpress.

com/2011/03/24/green-dentistry-cegah-limbahpraktik-dokter-gigi/ Green Dentistry, Cegah Limbah Praktik Dokter Gigi Ditulis pada 24 Maret 2011 2 0 Rate This

Kebanyakan dari

kita

sering

mempermasalahkan masalah limbah rumah tangga dan pabrik yang telah banyak merusak lingkungan. Namun kita tidak menyadari bahwa tempat praktik dokter gigi dapat berpotensi sebagai asal limbah yang tak kalah membahayakan bagi lingkungan bahkan dapat menyebabkan penyakit menular. Limbah berbahaya tersebut dapat berupa limbah infeksi dan limbah kimia. Limbah infeksi adalah limbah yang dapat menularkan penyakit seperti darah dan jaringan, yang dapat menularkan penyakit seperti demam berdarah, diare, hepatitis dan flu burung. Sedangkan limbah kimia adalah limbah yang dapat merusak lingkungan seperti limbah tambalan amalgam (berwarna hitam) yang mengandung merkuri sebanyak 40-50 persen, limbah pencucian film X-ray yang mengandung silver, hydroquinone dan chromium, limbah bahan sterilisasi alat yang mengandung

alkohol, glutaraldehydedan ortho-phthaldehyde, dan cairan bleaching dengan konsentrasi tinggi. Selain kedua jenis limbah tersebut, bahan-bahan dan obat yang selalu dipakai dokter gigi dalam praktiknya juga dapat mengganggu lingkungan, seperti jarum suntik, masker, sarung tangan, alat-alat pemanas, obat-obat pulpa dan sinar halogen serta laser. Jika tidak ditampung di tempat khusus, bahan-bahan tersebut dapat ikut aliran pembuangan selokan lalu ke sungai dan ke laut atau bisa juga mengendap di sekitar saluran pembuangan. Sehingga dapat menyebabkan kerusakan lingkungan dan menimbulkan penyakit yang menular seperti demam berdarah, diare, hepatitis dan flu burung. Di Indonesia keadaan ini masih sangat memprihatinkan dan perlu mendapatkan perhatian serius. Oleh karena itu, saat ini Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), tengah gencar menyuarakan Green Dentistry, sebuah pendekatan yang menggabungkan praktik kedokteran gigi dengan pemeliharaan lingkungan. Untuk mendukung kegiatan tersebut praktik dokter gigi perlu menggunakan bahan kedokteran gigi yang non-toksik, untuk mengurangi limbah. Dokter gigi diharapkan mempunyai tanggungjawab dalam memelihara atau melindungi lingkungan tempat praktiknya, mulai dari perlindungan kepada pasien, klinik dan alam sekitar sebagai sumbangan kepada sistem lingkungan hidup sehat, ujar Prof Siti Mardewi S A, anggota PDGI yang aktif menyuarakan Green dentistry, saat ditemui Kompas.Com. Beberapa cara untuk mengurangi toksik adalah dengan mengurangi atau menghentikan penggunaan bahan berbahaya, seperti menyiapkan alat pembuangan yang aman bagi lingkungan dan menggunakan bahan lain yang lebih aman seperti menggunakan tambalan composite resin (berwarna putih), penggunaan digital X-ray, netralisasi alat dengan glycine dan penurunan konsentrasi kurang dari 1 persen pada cairan bleaching. Ini merupakan masalah yang penting karena itu harus melibatkan berbagai pihak mulai dari lembaga pendidikan khususnya kesehatan, lembaga pemerintahan, lembaga tata kota dan lingkungan hidup. Masyarakat sebagai pasien juga harus dapat berperan aktif, dengan

memberikan perhatian dan pengawasan pada peralatan atau bahan-bahan yang digunakan dokter gigi. Bayangkan jika green dentistry tidak dilakukan dari sekarang, global warming pasti segera mengancam manusia dan lingkungan, tambah Siti Mardewi.

Go Green Dentistry !!! http://martariwansyah.blogspot.com/2008/10/maraknya-dampak-dari-globalwarming.html

Maraknya dampak dari global warming, mendorong banyak orang untuk semakin peduli akan lingkungan sekitar. Termasuk kita, selaku tenaga-tenaga

kesehatan gigi dan mulut. Entahkan dokter gigi, perawat maupun tekniker gigi harus senantiasa aware bahwa apapun yang kita lakukan dalam praktek harus mengacu pada kondisi yang aman dan ramah lingkungan. Istilah ini sekarang dikenal dengan Green Dentistry. Yaitu pendekatan yang menggabungkan praktik dokter gigi dengan pemeliharaan lingkungan. Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam praktek dokter gigi banyak menggunakan bahanbahan toksik. Sebut saja limbah merkuri dalam tambalan amalgam, alat-alat tajam (jarum suntik, pisau bedah), darah, masker, sarung tangan, alat-alat pemanas, obat-obat pulpa, sinar halogen, cairan sinar x dan lead fosil serta cairan pembersih atau disenfektan. Semua limbah tersebut jika tidak dikelola dengan baik, dapat mencemari lingkungan sekitar akibatnya berpotensi besar menggangu kesehatan manusia pada umumnya. Menurut Prof. Siti Mardewi SA, dalam acara talk show yang diselenggarakan PDGI dan Oral B di Jakarta baru-baru ini bahwa sebaiknya dokter gigi mulai beralih ke bahanbahan nontoksik guna menciptakan praktek yang ramah lingkungan. Dokter gigi diharapkan mempunyai tanggungjawab dalam memelihara atau melindungi lingkungan tempat praktiknya, mulai dari perlindungan kepada pasien, klinik dan alam sekitar sebagai sumbangan kepada sistem lingkungan hidup sehat. Di Amerika sendiri green dentistry bukanlah hal yang baru. Hampir 75 % praktek dokter gigi disana sudah menerapkan konsep ini. Wajar saja, sejak dini saat menjadi mahasiswa kedokteran gigi pengetahuan tentang limbah-limbah yang membahayakan dalam konsep Green Dental Office sudah banyak mereka dapatkan sehingga ketika mereka lulus bisa langsung menerapkannya. Konsep green dentistry sebenernya cukup sedehana . Seperti yang pernah dilakukan oleh Dokter Namrata Patel di San Francisco Amrik. Dalam mewujudkan konsep ini ia selalu mencoba mengunakan bahan dan peralatan yang aman serta disain ruangan parktek yang ergonomis dan serba hijau sehinga tampak lebih fresh dan nyaman dipandang mata. Hal lain yang diterapkan Patel adalah dengan selalu menjaga kebersihan air dan sistem penyaringan, sterilisasi dengan uap panas, penggunaan peranti hemat energi, mengurangi limbah dan mencegah polusi serta menganti sinar X tradisional dengan sistem digital yang tingkat radiasinya 75-90% lebih rendah. Yang unik lagi, Dokter Patel mencetak semua kartu nama dan pamfletnya dengan tinta yang terbuat dari kedelai. Memang

terlihat sedikit lebih mahal tapi kita semua perlu berinvestasi untuk masa depan yang lebih hijau buat semua orang Ujarnya dan Saya ingin menerapkan pola hidup hijau tak hanya dalam pekerjaan, juga interior kantor tempat saya bekerja tambahnya lagi.. Luar biasa!! Bagi mana dengan kita??

Green Dentistry for Indonesian Dentists Posted: Juni 11, 2010 by gilangrasuna in IndonesianDentists, Mari Merenung! http://gilangrasuna.wordpress.com/2010/06/11/green-dentistry-for-indonesian-dentists/ Global warming sudah menjadi kenyataan sebelum isu tentang keadaan darurat kronis ini sampai ke penduduk bumi. Banyak usaha mengkampanyekan global warming namun banyak pula yang belum menangkap maksud kampanye ini, alhasil bumi tetap memanas dan semua kampanye hampir terkesan percuma. Global warming sendiri bermakna kenaikan suhu bumi secara global karena efek gas rumah kaca, gas rumah kaca ini mampu menyimpan panas matahari di atmosfer kemudian menaikkan suhu atmosfer berikut suhu permukaan bumi. Transfer panas yang terjebak ini berawal ketika energi matahari yang melalui atmosfer bumi diserap oleh permukaan bumi dan menghangatkannya.

Logo poster Indonesian dentists

Gas rumah kaca yang terdapat di atmosfer bumi lalu menyerap panas yang terpantul dari permukaan bumi, seharusnya jika tidak ada gas rumah kaca suhu bumi rata-rata bisa mencapai -18o celsius, hal ini membuktikan bahwa sebenarnya gas rumah kaca tidaklah sejahat yang kita asumsikan selama ini, penambahan masif gas rumah kaca akibat perbuatan penduduk bumilah yang patut dijadikan alasan kuat kenaikan suhu bumi saat ini. Banyak sumber gas rumah kaca yang dihasilkan penduduk bumi, dari bidang agrikultural menyumbang 15% emisi gas rumah kaca dunia berupa metana dan nitrous oxide. Kadar CO2 dunia yang dihasilkan oleh perbuatan manusia 1 % berasal dari alat transportasi. Data yang didapat www.panda.org menyebutkan 750 milyar mobil di dunia mampu menyumbang kira-kira 2,25 trilyun ton CO2 dunia setiap tahunnya. Dari bidang industri ternyata memberikan donasi polutan terbesar yakni lebih dari setengah total CO 2 dunia, industri penghasil energi dan industri konsumen energi yang menjadi produsen gas CO2 terbesar di dunia. Kebakaran hutan yang disengaja maupun tidak memberi asupan sebanyak dari total CO2 dunia. Sejak tahun 2000 lalu menurut sumber yang sama, sebanyak 7,3 milyar hektar hutan di dunia hilang per-tahunnya. Semua gas-gas yang berjumlah besar dan berbahaya namun kita tidak menyadarinya ini memberikan efek yang dramatis bagi kelangsungan ekologi. Sejak awal tahun 1960-an menurut sumber (www.knowledge.allianz.com), gunung-gunung es dunia meleleh hingga mencapai 4000 kilometer kubik, dan jumlah ini berlipat ganda sejak tahun 1990. Sebagai tambahan, kenaikan suhu bumi sebanyak 4o celcius saja mampu melelehkan gletser dunia dan menaikkan ketinggian air laut. Badai yang akhir-akhir ini terjadi merupakan salah satu konsekuensi pula akibat pemanasan global, jumlah badai dunia berlipat dari 8 kali per tahun (awal 1970) menjadi 18 kali per tahun (tahun 2000-2004). Badai Katrina pada tahun 2005 lalu merupakan badai terbesar ke-6 dan menyebabkan kerugian mencapai 60 trilyun dolar Amerika. Dampak pemanasan global lain yang juga cukup menakutkan yaitu perubahan lahan subur menjadi padang pasir tandus. Sebagai contoh, di Nigeria sebesar 250.000 hektar wilayah subur (kira-kira sebesar Luxemburg) berubah menjadi padang pasir setiap tahunnya. Perubahan ini mengancam 2 trilyun manusia di 110 negara yang berbeda, dan PBB memperkirakan 30% lahan subur dunia akan menjadi padang pasir di masa depan.

Gambaran dan cerita membosankan diatas merupakan kenyataan yang dihadapi seluruh penduduk dunia saat ini, namun untuk diperhatikan bahwa di setiap tetes kebosanan yang kita keluarkan selama mengetahui kegawatan di atas, bisa saja ada 1 ekor beruang kutub yang kehilangan rumah tinggal, ada anak-anak kecil di Afrika yang terpanggang panas karena sulit mencari air di daerah yang gersang, bahkan bisa saja kita menginisiasi pembentukan sel kanker dalam tubuh kita sendiri akibat udara dan air yang sudah tidak terkategorikan aman lagi, semua efek diatas memang sudah menjadi tanggung jawab sosial bagi kita selaku penduduk dunia. Bila ditinjau lebih spesifik lagi, yakni kita sebagai dokter gigi yang notabene sebagai salah satu agent kesehatan sebenarnya juga memiliki cara yang unik dalam menyikapi permasalahan dunia ini, dengan konsep green dentistry. Kebanyakan dari kita sering mempermasalahkan masalah limbah rumah tangga dan pabrik yang telah banyak merusak lingkungan. Namun kita tidak menyadari bahwa tempat praktik dokter gigi dapat berpotensi sebagai asal limbah yang tak kalah membahayakan bagi lingkungan bahkan dapat menyebabkan penyakit menular. Limbah berbahaya tersebut dapat berupa limbah infeksi dan limbah kimia. Limbah infeksi adalah limbah yang dapat menularkan penyakit seperti darah dan jaringan, yang dapat menularkan penyakit seperti demam berdarah, diare, hepatitis dan flu burung. Sedangkan limbah kimia adalah limbah yang dapat merusak lingkungan seperti limbah tambalan amalgam (berwarna hitam) yang mengandung merkuri sebanyak 40-50 persen, limbah pencucian film X-ray yang mengandung silver, hydroquinone dan chromium,glutaraldehyde dan ortho-phthaldehyde, dan cairan bleaching dengan konsentrasi tinggi. limbah bahan sterilisasi alat yang mengandung alkohol, Selain kedua jenis limbah tersebut, bahan-bahan dan obat yang selalu dipakai dokter gigi dalam praktiknya juga dapat mengganggu lingkungan, seperti jarum suntik, masker, sarung tangan, alat-alat pemanas, obat-obat pulpa dan sinar halogen serta laser. Jika tidak ditampung di tempat khusus, bahan-bahan tersebut dapat ikut aliran pembuangan selokan lalu ke sungai dan ke laut atau bisa juga mengendap di sekitar saluran pembuangan. Sehingga dapat menyebabkan kerusakan lingkungan dan menimbulkan penyakit yang menular seperti demam berdarah, diare, hepatitis dan flu burung. Di Indonesia keadaan ini masih sangat memprihatinkan dan perlu mendapatkan perhatian serius. Oleh karena

itu, Green Dentistry hadir sebagai sebuah pendekatan yang menggabungkan praktik kedokteran gigi dengan pemeliharaan lingkungan. Untuk mendukung kegiatan tersebut praktik dokter gigi perlu menggunakan bahan kedokteran gigi yang non-toksik, untuk mengurangi limbah. Beberapa cara untuk mengurangi toksik adalah dengan mengurangi atau menghentikan penggunaan bahan berbahaya, seperti menyiapkan alat pembuangan yang aman bagi lingkungan dan menggunakan bahan lain yang lebih aman seperti menggunakan tambalan composite resinglycine (berwarna putih), penggunaan digital Xray, netralisasi alat dengan dan penurunan konsentrasi kurang dari 1 persen pada cairan bleaching. Karena konsep Green Dentistry merupakan konsep yang diadaptasi dari klinik-klinik gigi luar yang telah lebih dulu merealisasikan ide ini, maka diharapkan kita sebagai dokterdokter gigi Indonesia dengan sepenuh hati mendukung dan turut merealisasikan konsep indah ini sebagai bentuk tanggung jawab dan kepekaan sosial sebagai praktisi kesehatan demi kehidupan kita dan generasi berikutnya.