Anda di halaman 1dari 4

A. Keseimbangan asam basa Tubuh menggunakan 3 mekanisme untuk mengendalikan keseimbangan asam-basa darah: 1.

Tubuh menggunakan penyangga pH (buffer) dalam darah sebagai pelindung terhadap perubahan yang terjadi secara tiba-tiba dalam pH darah. Suatu penyangga ph bekerja secara kimiawi untuk meminimalkan perubahan pH suatu larutan. Penyangga pH yang paling penting dalam darah adalah bikarbonat.

A. Sistem Buffer Bikarbonat Bikarbonat (suatu komponen basa) berada dalam kesetimbangan dengan karbondioksida (suatu komponen asam). Jika lebih banyak asam yang masuk ke dalam aliran darah, maka akan dihasilkan lebih banyak bikarbonat dan lebih sedikit karbondioksida. Jika lebih banyak basa yang masuk ke dalam aliran darah, maka akan dihasilkan lebih banyak karbondioksida dan lebih sedikit bikarbonat. Sistem bufer bikarbonat secara kuantitatif merupakan sistem yang penting dalam plasma darah. Ini merupakan kombinasi dari asam karbonat [H2CO3] dan garam bikarbonat [HCO3-] (basa konyugat asam). Namun demikian, asam itu sebenarnya dicerminkan oleh [CO2 ] yang ada, sehingga rasio [HCO3] terhadap [CO2] menentukan pH. Apabila [HCO3] naik maka pH naik, dan apabila [CO2 ] turun berarti bersifat lebih asam. Secara klinis, pH dan [CO2] gampang diukur, dan tingkat [HCO3- ]dapat dihitung. Tingkat [HCO3-] menggambarkan apakah ada kelebihan basa atau kekurangan basa di dalam darah. Oleh karena itu seseorang yang dalam keadaan asidosis memiliki kekurangan basa, dan dapat diberi berbagai bentuk bikarbonat [HCO3-] untuk menaikkan pH kembali normal. Sebaliknya, bila sedang dalam keadaan alkalosis, hendaknya memperoleh asam seperti NH4CL untuk menaikan [H+] yang pengaruhnya akan menaikkan CO2 plasma dan menurunkan pH kembali ke keadaan normal. Dalam keadaan normal,seseorang dapat mengatur jumlah CO2 di dalam darah dengan menaikkan atau menurunkan laju pernafasan (laju ventilasi pulmoner), yang secara otomatis dikontrol oleh pusat pernafasan yang terletak di otak. [HCO3] di kontrol oleh ginjal.

Sistem bufer fosfat Sistem buffer fosfat merupakan salah satu yang paling penting dalam mengontrol pH dari sel-sel tubuh karena konsentrasi fosfat yang utama terletak intraseluler. Akan tetapi hal itu juga membantu mengontrol pH dalam cairan ekstraseluler terutama di dalam tubulus ginjal. Sistem bufer protein Sistem ini juga bekerja terutama didalam sel.S istem ini mencakup protein hemoglobin (Hb) yang terdapat dalam butir darah merah dalam sirkulasi. Oleh karena itu,Hb merupakan komponen penting dalam pengikatan ion-ion H+ untuk menurunkan keasaman dan memberikan H+ untuk menaikan keasaman manakala dibutuhkan (Frandson, 1992). 2. Kelebihan asam akan dibuang oleh ginjal, sebagian besar dalam bentuk amonia. Ginjal memiliki kemampuan untuk mengatur jumlah asam atau basa yang dibuang, yang biasanya berlangsung selama beberapa hari. Ginjal berperanan dalam regulasi asam basa cairan tubuh dengan mengontrol [HCO3-] pH normal urine dalam keadaan kompensisi terhadap asidosis dan alkalosis. Dalam keadaan normal ion-ion H+ di sekresi ke dalam fitrat dari sel-sel epitel dari duktus pengumpul dan tubulus distal dan proksimal. Dan ini merupakan hasil dari CO2 yang diproduksi secara metabolis dan H2O yang membentuk H2CO3, yang kemudian mengalami dososiasi menjadi HCO3- dan H+. Sekitar 85% dari sekresi ion H+ ini dan pemulihan dari HCO3- terjadi di tubulus proksimal dan di mana H+ disekresikan sebagai ganti NA+ dari filtrat. Oleh karena itu Na+ di reabsopsi dan H+ dieliminasi untuk mencegah akumilasi asam. H+ yang disekresi membentuk H2CO3 di daam cairan tubular, kemudian mengalami desosiasi menjadi CO2 dan H2O. CO2 kemudian berdifusi kembali kedalam darah yang akhirnya dapat dihembuskan keluar ketika sampai di paru-paru. Sementara itu, HCO3 terbentuk didalam sel dan Na+ direabsorpsi dari filtrat dan dikembalikan kedalam darah guna mempertahankan rasio HCO3 dan O2 yang tetap seimbang (Frandson, 1992).

Alkalosis dan asidosis Ketika seseorang mengalami alkolisis, konsentrasi ion bikarbonat [HCO3-] meningkat dalam hubungannya dengan [CO2], hal ini berarti bahwa pH dari cairan tubuh telah meningkat. Oleh karena itu ginjal akan menyaring lebih banyak HCO3- daripada ion H+ untuk disekresikan kedalam tubulus, Kelebihan HCO3- akan menggabung dengan ion positif dan diekskresikan ke dalam urine. Hal ini menyebabkan urine menjadi lebih basa dan menurunkan bagian HCO3- dari sistem HCO3 dan CO2. Selanjutnya menurunkan pH cairan tubuh kembali ke tingkat normal. Dalam keadaan asidosis terdapat peningkatan relatif dari [CO2], oleh karena itu terjadi penurunan relatif dan [HCO3]. Akibatnya lebih banyak asam yang ada, yang ditunjukkan oleh ion [H+]. Ginjal melakukan kompensasi dengan mensekresi lebih banyak H+ ke dalam titrat dibandingkan dengan HCO3- yang disaring. Penaikan sekresi H+ terjadi karena kelebihan CO2 didalam kapiler peritubular berdifusi kedalam sel-sel tubular, untuk membentuk H2CO3 yang kemudian berdisosiasi menjadi HCO3- dan H+ yang baru. HCO3yang baru itu berdifusi kembali kedalam darah untuk menaikkan sistem buffer da NA+ juga direabsorpsi untuk menukar H+ yang disekresi. Pengaruh neto adalah suatu penaikkan [HCO3] darah dan penurunan [CO2] darah, hal ini meningkatkan pH dari cairan ekstraseluler kembali ke arah normal (Frandson, 2002). 3. Pembuangan karbondioksida. Karbondioksida adalah hasil tambahan penting dari metabolisme oksigen dan terus menerus yang dihasilkan oleh sel. Darah membawa karbondioksida ke paru-paru dan di paru-paru karbondioksida tersebut dikeluarkan (dihembuskan).pusat pernafasan di otak mengatur jumlah karbondioksida yang dihembuskan dengan mengendalikan kecepatan dan kedalaman pernafasan. Jika pernafasan meningkat, kadar karbon dioksida darah menurun dan darah menjadi lebih basa. Jika pernafasan menurun, kadar karbondioksida darah meningkat dan darah menjadi lebih asam. Dengan mengatur kecepatan dan kedalaman pernafasan, maka pusat pernafasan dan paruparu mampu mengatur pH darah menit demi menit.