Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU HAMA TANAMAN Hubungan Antara Faktor Fisik Tanaman dengan Perkembangan Hama dan Preferensinya

pada Tanaman Inang

Disusun Oleh : Nama NIM : Annisa Qadaryani : 105040200111173

Kelompok : Kamis, 13.20 Asisten : R. Ardian Iman

JURUSAN HAMA PENYAKIT TUMBUHAN PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdasarkan hubungan tropik makanan antara hama dengan tanaman terdapat hubungan langsung, tanaman sebagai sumber nuitrisi bagi hama atau hama memerlukan nutrisi dari tanaman. Fenomena adanya interaksi antara tanaman dengan serangga herbivor telah lama diketahui, diantaranya adalah ditemukannya tanaman yang resisten diantara tanaman-tanaman yang dibudidayakan, sehingga tanaman tersebut memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan tanaman lainnya yang sejenis.. Gejala kerusakan yang ditimbulkan tergantung pada aktivitas hidup serangga. Terutama aktivitas makan yang dicirikan oleh tipe alat mulutnya. Tipe alat mulut serangga sangat bervariasi sehingga gejala kerusakan yang ditimbulkannya sangat beragam dan khas. Ketahanan tanaman inang terhadap hama, dapat bersifat genetik, yaitu sifat tahan yang diatur oleh sifat-sifat genetik yang dapat diwariskan, morfologi, yaitu sifat tahan yang disebabkan oleh sifat morfologi tanaman yang tidak menguntungkan hama, dan ekologi, yaitu ketahanan tanaman yang disebabkan oleh pengaruh faktor lingkungan. Ketahanan morfologi misalnya bentuk fisik dan struktur jaringan tanaman yang mempengaruhi penggunaannya sebagai inang oleh serangga, seperti ketebalan dinding sel, adanya lapisan lilin, adanya bulu (trichom) pada permukaan tanaman dan sebagainya. Untuk mengetahui hubungan factor fisik tanaman, dilakukan percobaan dengan menggunakan daun dan polong kedelai yang memiliki trichom untuk dilihat pengaruhnya terhadap serangan penghisap polong kedelai Riptortus linearis. 1.2 Tujuan 1. Untuk mengetahui pengaruh faktor fisik tanaman terhadap perkembangan hama. 2. Untuk mengetahui preferensi hama pada tanaman inang dengan morfologi yang berbeda dari bagian tanaman inang.

1.2 Manfaat Mahasiswa dapat mengetahui pengaruh faktor fisik tanaman terhadap perkembangan hama dan mengetahui preferensi hama pada tanaman inang dengan morfologi yang berbeda dari bagian tanaman inang.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Preferensi Hama Preferensi dilakukan untuk mengetahui tingkat preferensi suatu hama terhadap varietas yang diuji, sehingga dapat ditentukan apakah suatu varietas menjadi inang utama atau sebagai inang alternatif. Makin tinggi tingkat preferensi suatu hama berarti makin rentan suatu varietas, sehingga dapat ditentukan apakah suatu varietas dapat dijadikan sebagai sumber gen ketahanan atau tidak. Variabel yang diamati dalam uji preferensi adalah : intensitas serangan hama, populasi larva, dan berat larva (Kardian, 1993) atau preferensi nimfa, preferensi stadia dewasa jantan dan bentina, preferensi meletakan telur, dan persentase telur menetas (Sharma et al., 2002). Preferensi ialah disukainya suatu tanaman oleh serangga sebagai tempat bertelur, berlindung, sebagai makanannya atau kombinasi dari ketiganya (Painter, 1951).

2.2 Faktor yang Dapat Mempengaruhi Preferensi Hama Terhadap Inang Preferensi sejenis serangga terhadap jenis makanan dipengaruhi oleh stimuli zat kimia chemotropisme yang terutama menentukan bau dan rasa, mutu gizi dan adaptasi struktur. Tersedianya makanan yang cukup maksudnya adalah yang cocok bagi kehidupan serangga, bila makanan tidak cocok bagi hama dengan sendirinya populasi hama tidak akan dapat berkembang sebagaimana biasanya. Ketidak cocokan makanan dapat timbul karena kurangnya kandungan unsur yang diperlukan, rendahnya kadar air dalam kandungan makanan, permukaan material yang keras dan bentuk materialnya. Sudah merupakan hukum alam walaupun semua faktor lingkungan cukup baik bagi kehidupan serangga, pada akhirnya kehidupan dan perkembangan serangga ditentukan oleh ada tidaknya faktor makanan. Syarat agar makanan dapat memberikan pengaruh yang baik adalah tersedianya makanan dalam jumlah yang cukup dan cocok untuk pertumbuhan serangga. Makanan yang cukup sangat diperlukan pada tingkat hidup yang aktif, terutama sejak penetasan telur berlanjut pada stadium larva dan kadang-kadang pada tingkat setelah menjadi imago (Kartasapoetra, 1991).
1. Rangsangan Fisik (Mekanis)

Preferensi serangga terhadap stimuli mekanis yang berasal dari struktur fisik maupun sifat permukaan tanaman, beralinan pula. Struktur dan sifat fisik permukaan tanaman meliputi antara lain, tebalnya kulit, panjang dan lebatnya bulu-bulu pada permukaan daun, besarnya stomata dan tebalnya lapisan kutikula. Preferensi serangga terhadap stimuli-stimuli mekanis tersebut erat hubungannya dengan struktur daripada alat-alat dan cara mengambil pakan maupun peletakkan telur yang dimilikinya.
2. Kimia

Kimiawi bisa berupa rangsangan bau, rasa yang dimiliki tanaman antara lain zat alkaloid, minyak atheris, lemak dan lain sebagainya. Banyak juga jenis serangga tertarik bau-bauan wangi dari buah atau bunga. Zat yang berbau wangi itu adalah senyawa kimia yang mudah menguap seperti alkohol, eter atau minyak esensial. Zat-zat semacam ini disebut bahan pembujuk atau atractants. Banyak diantara jenis kupu-kupu tertarik oleh minyak-minyak esensial yang dikandung dalam berbagai jenis buah. Karena itu kupu-kupu lebih menyukai tempat-tempattersebut untuk bertelur. Pada umumnya spesies tanaman dinyatakan peka terhadap serangga hama, menunjukkan kadar gula yang tinggi dan mengandung zat berbau seperti buah. Banyak pula jenis-jenis tanaman yang mengandung senyawa kimia dan bekerja sebagai bahan penolak atau repellents bagi serangga. Senyawa kimia tersebut pada umumnya terdiri dari berbagai macam alkaloida ataupun senyawa organik lainnya. Tanaman yang mengandung zat-zat semacam ini biasanya memperlihatkan derajat resistensi yang tinggi (Anonymous, 2013).

2.3 Contoh Sifat Fisik (morfologis) Tanaman yang Menjadi Mekanisme Pertahanan Tanaman Terhadap Serangga Hama No 1 Faktor tanaman Pengaruhnya terhadap serangga makan dan mekanisme

Ketebalan dinding sel, peningkatan Gangguan pada peletakan telur. kekerasan jaringan. Pemulihan terluka. jaringan-jaringan

yang Serangga mati setelah pelukaan awal.

Kekokohan dan sifat-sifat lain dari Gangguan pada makan, mekanisme peletakan telur, dehidrasi telur. batang. Rambut-rambut. Pengaruh pada makan, pencernaan, peletakan telur, daya gerak, menempel, pengaruh racun dan pengacauan oleh alelokimia kelenjar

rambut, halangan sebagai tempat tinggal. 5 Akumulasi lilin pada permukaan. Pengaruh pada makan, pencernaan, peletakan telur, daya gerak, menempel, pengaruh racun dan pengacauan oleh alelokimia kelenjar

rambut, halangan sebagai tempat tinggal. 6 7 Kandungan silica. Adaptasi anatomi dari Pengaruh pada kolonisasi dan peletakan telur. organ Abrasi kutikula, hambatan makan dan berbagai struktur pelindung. pengaruh lain. (Norris dan Kogan, 1980) 2.4 Riptortus linearis a) Klasifikasi Riptortus linearis Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies b) Ekologi Riptortus linearis tersebar luas di Asia Tenggara. Selain kedelai, tanaman inang R.linearis juga berbagai jenis kacang-kacangan, seperti Tephrosia spp, Acacia villosa, dadap, Desmodium spp., Solanaceae, Convolvulaceae, dan Crotalaria spp. Imago datang pertama kali di pertanaman kedelai saat tanaman mulai berbunga dengan meletakkan : Animalia : Arthropoda : Insecta : Hemiptera : Coreoidea : Riptortus : Riptortus linearis (Marwoto, 2006).

nonspesiifik dan

telur satu per satu pada permukaan atas dan bawah daun (Kalshoven, 1981; Tengkano dan Soehardjan, 1985).

c) Morfologi Telur R. linearis berbentuk bulat dengan bagian tengah agak cekung, rata-rata berdiameter 1,20 mm. Telur berwarna coklat tua, berbentuk silindris dengan bagian tengah agak cekung. Telur diletakkan secara berkelompok dalam dua deretan pada permukaan bawah daun dengan 3-5 butir/kelompok. Imago jantan dan betina dapat dibedakan dari bentuk perutnya, yaitu imago jantan ramping dengan panjang 11 13 mm dan betina agak gemuk dengan panjang 1314 mm. Setelah 67 hari, telur menetas dan membentuk nimfa instar I selama 3 hari. Pada stadium nimfa, R. linearis berganti kulit (moulting) lima kali. Setiap berganti kulit terlihat perbedaan bentuk, warna, ukuran, dan umur. Nimfa instar I berwarna kemerah-merahan hingga coklat kekuning-kuningan, panjang badannya 2,6 mm. Nimfa instar II berwarna coklat kekuning-kuningan hingga coklat tua, panjang badannya 3,4 mm. Nimfa instar III berwarna kemerah-merahan hingga coklat, panjang badannya 6,0 mm. Nimfa instar IV berwarna kemerah-merahan hingga hitam agak abu-abu, panjang badannya 9,9 mm. Imago berbadan panjang dan berwarna kuning kecokelatan dengan garis putih kekuningan di sepanjang sisi badannya. Nimfa maupun imago mampu menyebabkan kerusakan pada polong kedelai dengan cara mengisap cairan biji di dalam polong dengan menusukkan stiletnya (Tengkano, W. dan M. Dunuyaali, 1976). d) Siklus hidup Siklus hidup R. linearis meliputi stadium telur, nimfa yang terdiri atas lima instar, dan stadium imago. Imago datang pertama kali di pertanaman kedelai saat tanaman mulai berbunga dengan meletakkan telur satu per satu pada permukaan atas dan bawah daun. Seekor imago betina mampu bertelur hingga 70 butir selama 4 47 hari. (Prayogo, Y., Santoso, dan Widodo, 2005). Telur menetas setelah berumur seminggu. Nimfa berlangsung 19 hari, terdiri atas lima instar. Nimfa muda (instar I-III) mirip semut. Nimfa instar I umurnya 1-3 hari. Nimfa instar II umurnya 2-4 hari. Nimfa instar III umurnya 2-6 hari. Nimfa instar IV

umurnya 5-8 hari. Perkembangan dari telur sampai imago berlangsung 29 hari. (Kalshoven, 1981; Tengkano dan Soehardjan, 1985)

BAB III METODOLOGI 3.1 Alat dan Bahan

- Alat : Cutter Kuas gambar Toples plastik Label Kaca pembesar Kompor listrik Beaker glass Petridish - Bahan Riptortus linearis : sebagai spesimen Daun kedelai Aquades Asam fuksin : untuk bahan praktikum : untuk membilas daun kedelai : untuk mendeteksi adanya tusukan serangga : untuk menghilangkan trichom daun : untuk mengambil Riptortus linearis : untuk tempat perlakuan : untuk memberikan tanda pada toples : untuk mengamati Riptortus linearis : untuk mendidihkan asam fuksin dan aquades : tempat untuk mendidihkan asam fuksin dan aquades : untuk tempat pengamatan Riptortus linearis

3.2 Cara Kerja Ambil 2 tangkai daun kedelai dan masukkan masing-masing daun tersebut kedalam toples plastik yang telah diberi label.

Setelah itu masukkan 2 ekor R. linearis ke dalam toples plastik.

Setelah 24 jam R. linearis dikeluarkan dari toples plastik.

Didihkan asam fuksin dan aquades kemudian masukkan daun kedelai kedalam larutan tersebut. Setelah terjadi perubaan warna, angkat daun tersebut kemudian dibilas dengan air yang mengalir selanjutnya diletakkan dalam petridish.

Amati dan hitung jumlah tusukan R. linearis dengan menggunakan mikroskop. Tusukan ditandai dengan adanya warna merah gelap pada daun.

Bandingkan jumlah tusukan antar kedua perlakuan daun kedelai terebut.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tabel Hasil Pengamatan Perlakuan Daun bertrichoma 1 Daun bertrichoma 2 Daun bertrichoma 3 Rata-rata Tanpa trichoma 1 Tanpa trichoma 2 Tanpa trichoma 3 Rata-rata 4.2. Pembahasan Berdasarkan praktikum dan pengamatan yang telah dilakukan untuk mengetahui intensitas serangan dari R. linearis pada daun kedelai, terdiri dari dua perlakuan yaitu daun bertrichom dan daun tanpa trichom yang terdiri dari 3 daun yang diamati. Dan dilakukan sebanyak 2 kali ulangan. Pada ulangan pertama menunjukkan bahwa pada daun bertrichom terdapat 14 tusukan Riptortus linearis, sedangkan pada daun tanpa trichom terdapat 68 lubang tusukan. Pada ulangan kedua, daun bertrichom terdapat 46 lubang tusukan sedangkan daun tanpa trichom terdapat 72 buah tusukan. Berdasarkan jumlah tusukan, kemudian diambil rata-rata untuk setiap perlakuan sehingga diperoleh rata-rata untuk setiap perlakuan yaitu rata-rata 30 tusukan untuk daun bertrichom dan 70 untuk daun tanpa trichom. Berdasarkan data yang diperoleh, yaitu jumlah tusukan yang muncul pada daun kedelai, maka dapat diketahui bahwa pada daun kedelai yang tidak bertrichom terdapat jumlah tusukan yang lebih banyak Riptortus linearis lebih memilih daun yang tidak bertrichom atau bertrichom sedikit. Pada tanaman kedelai, faktor fisik/ morfologi yang erat hubungannya dengan tingkat ketahanan terhadap seranga hama adalah adanya trichom atau bulu rambut pada permukaan daunnya. Keberadaan trichom atau bulu rambut tersebut diduga mampu membantu menghalangi penghisapan nutrisi makanan oleh Riptortus Ulangan 1 7 1 6 4,67 4 45 19 22,67 Ulangan 2 23 15 8 15,33 34 25 13 24

linearis. Hal ini sesuai dengan literatur, bahwa sifat ketahanan terhadap serangga hama dapat dilacak antara lain melalui seleksi karakteristik morfologi dan anatomi daun. Morfologi tanaman (batang, daun dan polong) antara lain mempunyai struktur bulu yang sangat beragam dan hal tersebut diduga dapat mempengaruhi tingkat ketahanan kedelai terhadap serangan hama. Secara morfologi trikoma merupakan alat pelindung tumbuhan dari gangguan luar. Struktur bulu (trikoma), ukuran panjang dan kerapatan trikoma sangat berperan dalam ketahanan tanaman kedelai (Suharsono, 2001). Adanya trichom pada daun dan permukaan polong juga mampu menghalangi R. linearis untuk menghisap nutrisi tanaman, sehingga hal ini dapat berpengaruh terhadap perkembangan hama tersebut (Minarno, 2012).

BAB V PENUTUP Kesimpulan

Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan dan data yang didapat untuk mengetahui intensitas serangan Riptortus linearis pada daun kedelai dengan perlakuan daun bertrichom dan tanpa trichom, maka dapat disimpulkan bahwa adanya trichom pada daun kedelai mempengaruhi tingkat serangan dari Riptortus linearis. Daun kedelai tidak bertrichom memiliki jumlah tusukan yang lebih banyak daripada daun yang bertrichom. Hal ini berarti Riptortus linearis memiliki tingkat preferensi yang lebih besar pada daun kedelai yang tidak bertrichom dari pada daun yang bertrichom. Keberadaan bulu (trichoma) sangat berperan dalam ketahanan tanaman kedelai yaitu dapat membantu menghalangi penghisapan nutrisi tanaman oleh Riptortus linearis.

DAFTAR PUSTAKA Anonymous. 2013. Faktor yang mempengaruhi preferensi hama. http://digilib. upnjatim. ac.id/ files/disk1/1/ jiptupn- gdl-mochsodiqp-50-2 ketahanan.pdf. Diunduh pada tanggal 4 Mei 2013. Biss, C.I. and A.R.G. Owen. 1958. Negative binomal distributron with a common k. Biometrika. 45: 37-58. Kartasapoetra, A.G., 1991. Hama Hasil Tanaman Dalam Gudang, Rineka Cipta Jakarta. Kartosowondo U, Sunjaya. 1990. Potetial role of wild crucifers in the preservation of Diadegma eucerophaga Hostm. (Hymenoptera : Ichneumonidae). A parasitoid of the diamondback moth Plutella xylostella Linn. (Lepidoptera : Plutellidae). Biotropika. Kalshoven, L.G.E. 1981. The Pest of Crops in Indonesia. Revised by P.A. Van der Laan. PT Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta. 701 p Marwoto. 2006. Status Hama Pengisap Polong Kedelai Riptortus linearis dan Cara Pengendaliannya. Bul. Palawija No. 12 : 69-74 Minarno, E. B. dan Khoiriyah, I. 2011. Ketahanan Galur Kedelai (Glycine Max L.) Terhadap Serangan Ulat Grayak (Spodoptera Litura F.) Berdasarkan Karakteristik Trikoma. Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Painter, R.H. 1951. Insect Resistance in Crop Plants. Mac Millan and Co. New York : 25-33. Prayogo, Y., Santoso, dan Widodo. 2005. Kerentanan stadia nimfa hama pengisap polong kedelai Riptortus linearis (Hemiptera: Alydidae) terhadap jamur entomopatogen Verticillium lecanii. Jurnal Agrikultura. Suharsono. 2001. Kajian Aspek Ketahanan Beberapa Genotip Kedelei terhadap Hama Penghisap Polong Riptotus linearis (Himiptera Alydidae). Disertasi Doktor Program Pasca Sarjana UGM. Tidak diterbitkan. Tengkano, W. dan M. Dunuyaali. 1976. Biologi dan pengaruh tiga macam umur polong kedelai terhadap produksi telur Riptortus linearis F. Laporan Kemajuan Penelitian Seri Hama/Penyakit (4): 1934. Tengkano, W. dan M. Soehardjan. 1985. Jenis hama utama pada berbagai fase pertumbuhan tanaman kedelai, pp 295-318. Dalam: Somaatmadja et al. (Eds). Kedelai. Puslitbangtan, Bogor.