Anda di halaman 1dari 10

PERATURAN WALIKOTA PALEMBANG NOMOR TAHUN 2005 TENTANG KRITERIA JENIS BANGUNAN TERTENTU YANG DISYARATKAN UNTUK DIRANCANG

DAN DIRENCANAKAN DENGAN MEMAKAI TENAGA AHLI DI BIDANG ARSITEKTUR DAN TENAGA AHLI DI BIDANG KONSTRUKSI WALIKOTA PALEMBANG, Menimbang : a. bahwa da1am rangka mamenuhi ketentuan Pasal 17 Peraturan Daerah Kota Palembang Nomor 13 Tahun 2004 tentang Pembinaan dan Retribusi Perizinan Bangunan dan sebagai upaya mewujudkan penampilan bangunan gedung, tata ruang dalam, keseimbangan, keserasian, dan keselarasan bangunan gedung serta memberikan rasa aman kepada penghuni dan pengguna bangunan, maka terhadap jenis bangunan tertentu disyaratkan harus dirancang dan direncanakan oleh tenaga ah1i dibidang arsitektur dan tenaga ahli dibidang konstruksi ; b. bahwa sehubungam degan huruf a, sejalan dengan ketentuan UndangUndang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, dalam perencanaan dan perancangan bangunan tertentu, harus dilakukan dan dipertanggungjawabkan oleh para ahli yang memiliki Surat Izin Bekerja Perencana (SIBP) di Bidang Arsitcktur dan di Bidang Konstruksi; c. bahwa untuk memenuhi maksud tersebut, perlu diatur dan ditetapkan dengan Koputusan Walikota. Palembang. 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II dan Kotapraja di Sumatera Selatan (Lembaran Negara RI Tahun 1959 Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara Rl Nomor 1821); 2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman (Lembaran Negara RI Tahun 1992 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3469); 3. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara RI Tahun 1992 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3839; 4. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung (Lembaran Negara RI Tahun 2002 Nomor 134, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4247; 5. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara RI Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara-RI Nomor 4389) ; 6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara RI Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4432);

Mengingat :

7. Peraturan Menteri DaIam Negeri Nomor 2 Tahun 1987 tantang Pedoman Penyusunan Rencana Kota; 8. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 1967 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun1987 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Kota; 9. Peraturan Daerah Kota Palembang Nomor 8 Tahun 2000 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Palembang Tahun 1999 - 2009 (Lembaran Daerah Kota Palembang Tahun 2000 Nomor 12); 10. Peraturan Daerah Kota Palembang Nomor 22 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah Kota Palembang (Lembaran Daerah Kota Palembang Tahun 2000 Nomor 24); 11. Peraturan Daerah Kota Palembang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Pembentukan, Kedudukan, Tugas Pokok, Fungsi dan Struktur Organisasi Dinas Daerah (Lembaran Daerah Kota Pa1embang.Tahun 2001 Nomor 3) ; 12. Peraturan Daerah Kota Palembang Nomor 13 Tahun 2004 tentang Pembinaan dan Retribusi Perizinan Bangunan (Lembaran Daerah.Kota Palembang Tahun 2004 Nomor 29); 13. Peraturan Walikota Palembang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Persyaratan, Mekanisme dan Prosedur Tetap Pemberian Izin Mendirikan Bangunaii (Berita Daerah Kota Palembang Tahun 2005 Nomor 12. MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN WALIKOTA PALEMBANG TENTANG KRITERIA JENIS BANGUNAN TERTENTU YANG DISYARATKAN DIRANCANG DAN DIRENCANAKAN DENGAN MEMAKAI TENAGA AHLI DI BIDANG ARSITEKTUR DAN TENAGA AHLI D1 BIDANG KONSTRUKSI. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Daerah adalah Kota Palembang Pemerintah Kota adalah Pemerintah kota Palembang. Walikota adalah Walikota Palembang. Wakil Walikota adalah Walcil Walikota Palembang, Sekretaris Daerah adalah Sekretaris Daerah Kota Palembang. Dinas Tata Kota adalah Dinas Tata Kota Kota Palembang. 7. Kepala Dinas Tata Kota adalah Kepa1a Dinas Tata Kota Kota Palembang. _. Bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada diatas dan atau didalam tanah dan atau air, yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian

atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya maupun kegiatan khusus. 9. Ahli Arsitektur adalah perorangan yang dengan menggunakan keahliannya dan berdasarkan suatu pemberian tugas mengerjakan perencanaan, perancangan dan pengawasan pembangunan, memberikan nasehat atau jasa-jasa lain yang berhubungan dengan perancangan dan pengawasan gedung, tata ruang dalam pertamanan, perancangan kota pembagian kota, dan jalan-jalan serta jembatan. 10. Arsitek Utama atau Madya adalah seorang arsitek anggota Arsitek Indonesia Daerah Sumsel, yang berpendidikan tinggi arsitektur (S1) dan atau yang setara telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan. 11. Arsitek Muda atau Mitra adalah seorang arsitek anggota Ikatan Arsitek Indonesia Daerah Sumsel, yang telah memiliki kompetensi sesuai dengan yang ditetapkan Ikatan Arsitek Indonesia. 12. Ahli Struktur atau Konstruksi adalah seorang atau badan yang memiliki keahlian struktur atau konstruksi bidang sipil. 13. 13, Surat Izin Bekerja Perencana yang selanjutnya disingkat SIBP adalah Surat Izin yang harus dimiliki oleh tenaga Ahli Arsitektur dan tenaga Ahli Konstruksi sebelum melaksanakan kegiatannya. 14. Topografi adalah suatu keadaan atau kondisi permukaan tanah atau bumi pada suatu lahan atau kawasan. 15. Preservasi suatu usaha atau kegiatan atau tindakan yang berupa pemeliharaan dan perlindungan terhadap bangunan yang rnempunyai nilai sejarah. 16. Polusi Bahan Beracun Berbahaya yang selanjutnya disingkat Polusi BBB adalah pencemaran atau pengotoran lingkungan yang diakibatkan oleh Bahan Beracun Berbahaya. 17. Izin Mendirikan Bangunan yang selanjutnya disingkat IMB adalah Izin untuk mendirikan bangunan yang ditetapkan 0leh Walikota. 18. Izin Penggunaan Bangunan yang selanjutnya disingkat IPB adalah izin untuk mengunakan bangunan yang ditetapkan oleh Walikota. 19. Garis Sempadan Bangunan yang selanjutnya disingkat GSB adalah garis yang tidak boleh dilampaui oleh denah bangunan ke arah GSJ yang ditetapkan dalam rencana kota. 20. Garis Sempadan Jalan yang selanjutnya disingkat GSI garis rencana jalan yang ditetapkan dalam rencana kota. 21. Kelayakan Penggunaan Bangunan selanjutnya disingkat KPB adalah suatu penilaian kelayakan konstruksi bangunan dan pemenuhan kebutuhan fasilitas pendukungnya dari suatu bangunan yang telah dikeluarkan izin penggunaan bangunannya dalam jangka waktu tertentu. 22. Izin Kelayakan Penggunaan Bangunan selanjutnya disingkat IKPB adalah Izin untuk mendapatkan kelayakan konstruksi bangunan dan pemenuhan kebutuhan fasilitas pendukungnya dari suatu bangunan yang telah dikeluarkan izin penggunaannya dalam jangka waktu tentu. 23. Geoteknik adalah ilmu yang mempelajari karakteristik tanah. 24. Tenaga ahli bidang Geoteknik adalah seorang atau badan yang memiliki keahlian dibidang geoteknik. 25. Instalasi Utilitas adalah perlengkapan pada bangunan dan pekarangan yang digunakan untuk menunjang tercapainya unsur kenyamanan, keslamiatan, komunikasi, dan mobilitas dalam bangunan.

26. Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia yang selanjutnya disingkat HAKI adalah organisasi profesi ahli struktur bidang sipil. 27. Koefisien Dasar Bangunan yang selanjutnya disingkat KDB adalah angka perbandingan jumlah luas lantai dasar bangunan dan luas persil atau kaveling atau blok peruntuk. 28. Koefisien Lantai Bangunan yang selanjutnya disingkat KLB adalah Koefisien perbandingan antara luas keseluruhan lantai bangunan dan luas persil atau kaveling atau blok peruntuk. BAB II . MAKSUD DAN TUJUAN Pasal 2 Ketentuan persyaratan bangunan tertentu yang harus dirancang dan diawasi oleh tenaga ahli di bidang arsitektnr dan tenaga ahli dibidang konstruksi pada jenis bangunan tertentu dimaksudkan sebagai arahan, pedoman dan pembinaan bagi setiap kegiatan pelaksanaan pembangunan gedung tertentu dalam Daerah. Pasal 3 Pemberian arahan, pedoman dan pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, bertujuan untuk mewujudkan penampilan bangunan gedung, tata ruang dalam, keseimbangan, keserasian, dan keselarasan bangunan gedung serta memberikan rasa aman kepada penghuni dan pengguna bangunan. BAB III BANGUNAN Pasal 4 Kriteria Jenis Bangunaan Tertentu dalam Daerah yang harus menggunakan tenaga ahli di bidang Arsitektur dan tenaga ahli di bidang Konstruksi ditetapkan berdasarkan; TABEL : Kriteria {Jenis serta Tenaga Ahli Penanggung Jawab. No. Kriteria Bangunan Klasifikasi Bangunan dan Tenaga Ahli Penanggung jawab Arsitektur (total lantai Konstruksi bangunan/m2, (m) Ketinggian/m, luas media reklame/m2) >400m2 >4 petak Tanpa terkecuali 1500m2 > 300 m2 dan atau > 2lt > 300 m2 dan atau > 21t * * * * * * *

1.

Hunian a. Rumah tinggal / Wisma b. Rumah deret c. Romah susun, Flat, Apartemen d. Komplek Perumahan Hunian Campuran a. Rumah Toko/Ruko b. Rumah Kantor/Rukan

2.

3.

Industri dan Pergudangan a. Pabrik atau sejenisnya b. Gudang dan Pool Kenderaan c. Pengolahan Limbah Perdagangan dan Jasa a. Pasar tradisional b. Pasar swalayan, mall c. Toko d. Tempat hiburan e. Bengkel, percetakan f. Showroom, workshop g. Rumah Walet Perkantoran, Hotel, Cafe, Restaurant a. Kantor b. Hotel c. Wisma, losmen, Penginapan d. Caf, Restaurant Bangunan Umum a. Rumah sakit, klinik kesehatan, Praktek Dokter, Laboratorium b. Terminal c. Dermaga Tambat Perahu d. Gedung serbaguna e. Sekolah, balai latihan, diklat, kursus f. Gedung Olahraga g. Halte, Shelter dan sejenisnya h. Bandar Udara i. Stasiun Kereta Api j. Laboratorium non-medis k. Galangan Kapal l. Hangar Pesawat Terbang m. Reaktor Nuklir dan sejenisnya Bangunan Sosial a. Rumah/Tempat Ibadah b. Panti Sosial c. Pesantren Bangunan bukan Gedung a. Menara Telekomunikasi

Tanpa Terkecuali >500m2 Tanpa terkecuali Tanpa terkecuali Tanpa terkecuali > 300 m2 dan atau > 2lt Tanpa terkecuali >200m2 Tanpa terkecuali Tanpa terkecuali

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Tanpa terkecuali

4.

5.

> 300 m2 > 300 m2 > 300 m2 > 200 m2 Tanpa terkecuali Tanpa terkecuali Tanpa terkecuali Tanpa terkecuali Tanpa terkecuali Tanpa terkecuali Tanpa terkecuali Tanpa terkecuali Tanpa terkecuali Tanpa terkecuali Tanpa terkecuali Tanpa terkecuali Tanpa terkecuali >400 m2 > 200 m2 > 500 m2

6.

7.

8.

/ Ketinggian > 24m dari dasar

Radio b. Menara air c. d. e. f. g. 9.

menara Ketinggian > 24m dari dasar menara Jembatan diatas sungai Jembatan penyeberangan Pada jalan Arteri dan Kolektor Gerbang, Gapura Pada jalan Arteri dan Kolektor Akses pribadi diatas sungai, dipinggir jalan Arteri dan saluran air, drainase Kolektor Bangunan diatas jalan 1500 m2 1500 m2

Tanpa terkecuali Tanpa terkecuali Tanpa terkecuali Tanpa terkecuali Tanpa terkecuali Tanpa terkecuali *

Bangunan massa majemuk atau massa tersebar pada kawasan cukup luas

*) Bentang balok atau jarak antara kolom lebar 6 (enam) m dan atau memiliki tinggi kolom 8 (delapan) m dan atau jumlah lantai 3 (tiga) lantai atau ketinggian bangunan dihitung sampai batas tertinggi atap 12 (dua belas) m. Pasal 5 Untuk melaksanakan perancangan, IKPB dan atau perencana revisi bangunan lama yang diatasnya akan dilakukan penambahan lantai, harus dilakukan peninjauan kembali desain (review design) oleh tenaga ahli di bidang struktur atau konstruksi. BAB IV TENAGA AHLI ARSITEKTUR Pasal 6 (1) Setiap tenaga ahli di bidang Arsitektur yang digunakan sebagai tenaga konsultan pada jenis bangunan _tertentu_sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, harus memiliki SIBP dari Walikota melalui Dinas Tata Kota. (2) SIBP di bidang Arsitektur berlaku untuk jangka waktu selama 2 (dua) tahun dan dapat diperpanjang. Pasal 7 (1) Untuk mendapatkan SIBP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 mengajukan permohonan tertulis kepada Walikota melalui Kepala Dinas Tata Kota. (2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus me1ampirkan persyaratan sebagai berikut: a. Mengisi fomulir permohonan yang disediakan oleh Dinas Tata Kota disertai materai sebesar Rp. 6.000, b. Photo copy Kartu Tanda Penduduk (KTP)Pemohon. c. Pas Photo ukuran 3 X 4 Cm sebanyak 2 (dua) lembar.

d. Asli dan photo copy Kartu Anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Daerah Sumatera Selatan tahun berjaIan yang telah dilegalisir sebanyak 1(satu) lembar. e. SuratKuasa disertai bemiaterai sebesat Rp 6,000,- (bila dikuasakan ) Pasal 8 Kewajiban dan tanggung jawab pemegang SIBP tenaga ahli di bidang Arsitektur adalah sebagai berikut: a. Mewujudkan karya arsitelctur bangunan, lingkungan dan peskotaan secara nyata dan bertanggungjawab. b. Meningkatkan fungsi arsitek sebagai partner Pemerintah Kota dalam pengendalian tertib bangunan. c. Menghindari adanya arsitek yang berperan hanya sebagai penandatangan gambar untuk keperluan IPB dan IKPB. d. Setiap arsitek yang mengajukan rancangan bangunannya untuk mendapatkan IPB dan IKPB, sekaligus bertanggung jawab sebagai Direksi Pengawas Penuh atau minimal sebagai Pengawas berkala serta apabila terdapat penyimpangan dan perubahan di lapangan kepada Walikota melalui Kepa1a Dinas Tata Kota. e. Mewujudkan agar setiap bangunan yang direncanakan dan dirancang tenaga ahli pemegang SIBP di bidang Arsitektur berfungsi serta bertanggung jawab terhadap koordinasi rencana struktur, konstuksi dan instalasi utilitas atas suatu bangunan yang dirancangnya beserta dampaknya. f. Memahami proses IPB dan IKPB yang berlaku dalam Daerah. Pasal 9 Bagi seti ap tenaga ahli di bidang Arsitektur yang berasal dari luar daerah yang melaksanakan pekerjaan perancangan perencanaan dalam Daerah hanya diperkenankan bagi tenaga ahli yang sudah memiliki SIBP dari luar Daerah, dan harus terlebih dahulu mendapat rekomendasi dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Daerah Sumatera Selatan yang telah ditunjuk. BAB V TENAGA AHLI KONSTRUKSI Pasal 10 (1) Setiap tenaga-ahli di bidang Konstruksi yang digunakan sebagai tenaga konsultan pada jenis bangunan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, harus memiliki SIBP dari Walikota melalui Dinas Tata Kota. (2) SIBP di bidang Konstruksi berlaku untuk jangka walctu selama 3 (tiga) tahun dan dapat diperpanjang. Pasal 11 (1) Untuk mendapatkan SIBP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10, harus mengajukan permohonan tertulis kepada Walikota me1a1ui Dinas Tata Kota. (2) Pennohonan sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini, harus melampirkan persyaratan sebagai berikut: a. Mengisi formulir permohonan yang disediakan oleh Dinas Tana Kota disertai materai Rp 6.000,-

b. c. d. e.

Foto copy Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pemohon. Pas Photo terbaru ukuran 3x4 sebanyak 2 (dua) lembar. d, Asli dan foto copy Kartu Anggota Profesi tahun berjalan. Rekomendasi dari organisasi profesi resmi dibidang jasa Ahli Konstruksi dari Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia Sumatera Selatan.

Pasal 12 Kewajiban dan tanggung jawab pemegang SIBP tenaga alili di bidang konstruksi adalah sebagai berikut: a. Mewujudkan hasil perencanaan setiap ahli di bidang Konstruksi secara nyata dan bertanggungjawab. b. Meningkatkan fungsi ahli di bidang Konstruksi sebagai partner Pemerintah Kota dalam pengendalian tertib bangunan. c. Menghindari adanya ahli di bidang Konstruksi yang berperan hanya sebagai penandatangan gambar untuk keperluan IPB dan IKRB. d. Setiap ahli di bidang Konstruksi yang mengajukan rancangan bangunan untuk mendapatkan IPB dan IKPB, sekaligus bertanggungjawab sebagai direksi Pengawas Penuh atau minimal sebagai pengawas berkala pelaksanaan proyek dan melaporkan secara berkala serta juga apabila terdapat penyimpangan dan perrubahan di lapangan kepada Walikota melalui Kepala Dinas Tata Kota. e. Memahami proses IPB dan IKPB yang berlaku dalam Daerah. Pasal 13 Tenaga ahli dlbidang konstruksi juga berfungsi dan bertanggungjawab atas koordinasi terhadap rancangan di bidang geoteknik; arsitektur dan installasi utilitas pada suatu bangunan yang direncanakan. BAB VI SYARAT DAN KELENGKAPAN GAMBAR BANGUN YANG DIAJUKAN UNTUK MENDAPATKAN IPB Pasal 14 Gambar Site Plan yang menunjukkan posisi bangunan (diarsir) terhadap Siteplan atau lahan dan ja1an yang ada, dengan skala 1:200 (skala bisa disesuaikan tergantung besar massa bangunan dan lahan yang ada terhadap ukuran kertas) yang dilengkapi juga dengan: a. Gambar atau notasi garis atap atau blok plan bangunan. b. Keterangan Peil ketinggian bangunan dan lahan terhadap peil ketinggian Jalan c. GSB dan GS] yang ada d. Tata Lansekap, Tata Hijau atau Tata Taman yang sudah ada agak rinci atau detail. e. Posisi atau letak bangunan tetangga dikiri,kanan dan belalakang (eksisting) f. Untuk kawasan kawasan tertentu atau yang diatur dan ditentukan kemudian harus dijelaskan perbandingan luas dasar bangunan terhadap luas lahan atau site secara keseluruhan atau KDB dan KLB. Pasal 15

(1) Gambar denah bangunan untuk tiap lantai yang direncanakan dengan skala 1 : 100 (skala bisa disesuaikan terhadap besar kecil massa bangunan yang direncanalcan terhadap ukuran kertas) berikut keterangan peil ketinggian lantai bangunan terhadap peil ketinggian lahan yang ada. (2) Gambar potongan bangunan sehingga bangunan dapat dimengerti secara Arsitektur, Strulctur dan Konstruksi secara menyeluruh dengan skala 1 : 100 atau l : 200 atau 1 : 400 (disesuaikan terhadap besar kecil massa bangunan yang direncanakan). (3) Gambar tampak bangunan, untuk tiap bagian tampak bangunan yang menghadap ke jalan atau kawasan umum dengan skala 1 :100 atau 1 : 200 atau 1 : 400 (disesuaikan terhadap besar kecil massa bangnnan yang direncanakan). (4) Gambar sistem saluran roil atau parit di dalam dan di sekitar site plan sampai hubungannya ke saluran induk sekitar beserta gambar detail potongannya. (5) Gambar instalasi listrik untuk tiap lantai yang direncanakan dengan skala l : 100 (disesuaikan). (6) Gambar pagar, tampak muka, samping dan belakang serta potongannya. (7) Gambar detail pembesian bagi bertingkat. Pasal 16 (1) Bagi bangunan yang penggunaannya untuk pelayanan umum, bangunan perkantoran, komplek pergudangan, pabrik atau kelampok bangunan dengan jumlah atau luasan massa yang agak kompleks serta bangunan yang memi1iki jumlah 1antai 1ebih dari 4 {empat) lantai haru dilengkapi dangan gambar-gambar yang menjelaskan secara rinci mengenai sistem strulctur dan konstruksi bangunan, penanggulangan atau pencegahan kebakaran, sistem instalasi air kotor atau limbah, sistem mekanikal atau elektrikal serta areal atau ruang parkir untuk kendaraan.beserta keterangan daya tampung parkir kendaraan. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus disertai dengan kop atau format bebas sebagai berikut: a. Nama proyek secara lengkap dan jelas serta tanggal, bu1an.dan tahun perencanaan (tanggal gambar), termasuk keterangan yang menunjukkan apakah proyek tersebut merupakan proyek bangunan baru atau proyek revisi terhadap bangunan tersebut. b. Alamat atau lokasi proyek secara jelas dan lengkap. c. Nama jelas tenaga ahli di bidang arsitektur yang terlibat beserta nomor SIBP dan tanda tangan yang bersangkutan. d. Nama jelas tenaga ahli di bidang arsitektur yang dipayungi oleh arsitek pemegang SIBP yang terlibat dan tanda tangan yang bersangkutan. e. Nama perusahaan, alamat perusahaan serta cap atau stempel perusahaan yang merencana (apabila ada, nama pemakai jasa atau atas nama perusahaan). f. Nama juru gambar atau drafter bangunan yang menggambar dan tanda tangan yang bersangkutan. g. Judul lembar dan jumlah lembar. h. Keterangan lain yang diperlukan, BAB VII PENUTUP

Pasal 17 Dengan ditetapkannya Peraturan ini, maka segala ketentuan yang tidak sejalan dengan Peraturan ini, kecuali telah diatur dengan perundang-undangan yang lebih tinggi, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 18 (1) Dinas Tata Kota sebagai Instansi Teknis Pelaksana Peraturan ini. (2) Hal-hal yang belum diatur dalam keputusan ini, ditetapkan o1eh Walikota sepanjang mengenai pelaksanaamya. Pasal19 Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kota Palembang. Ditetapkan di Pa1embang pada tanggal 22 September 2005 WALIKOTA PALEMBANG TTD H. EDDY SANTANA PUTRA Diundangkan di Palembang Pada tanggal 22 September 2005 SEKRETARIS DAERAH KOTA PALEMBANG TTD HAJJAH MARIAM A.S. BERITA DAERAH KOTA PALEMBANG TAHUN 2005 NOMOR 34.