Anda di halaman 1dari 7

Pernapasan diatur oleh pusat pernapasan yang terdiri dari tiga kelompok neuron yang terletak bilateral di medula

oblongata dan pons pada batang otak, yaitu: (1) kelompok pernapasan dorsal, di bagian dorsal medula, terutama menyebabkan inspirasi; (2)kelompok pernapasan ventral, di ventrolateral medulla, terutama menyebabkan ekspirasi; dan (3)pusat pneumotaksik, disebelah dorsal bagian superior pons, mengatur kecepatan dan kedalaman napas.(Guyton, 2008) Proses pernapasan yaitu O2 dipindahkan dari udara kedalam jaringan (inspirasi), dan CO2 dikeluarkan ke udara (ekspirasi), terdapat tiga stadium, yaitu: stadium pertama, ventilasi, yaitu masuknya campuran gas ke dalam dan ke luar paru; stadium kedua, transportasi, ditinjau dari: (1) difusi gas-gas antara alveolus dan kapiler paru (respirasi eksterna) dan antara darah sistemik dan sel-sel jaringan; (2) distribusi darah dalam sirkulasi pulmonar dan penyesuaiannya dengan distribusi udara dalam alveolus; dan (3) reaksi kimia dan fisik dari O2 dan CO2 dengan darah; (3) Respirasi sel (respirasi interna) merupakan stadium akhir, yaitu saat zat-zat dioksidasi untuk mendapat energi dan CO2 terbentuk sebagai sampah metabolisme sel. (Wilson, 2006) Mekanika Respirasi Ini terjadi karena terdapat selisih tekanan atmosfer dan alveolus akibat kerja mekanik otot. Untuk inspirasi, tekanan paru harus dibawah tekanan atmosfir eksternal (negatif), untuk ekspirasi, sebaliknya positif. Gradien tekanan ini dibentuk saat volume paru meningkat pada inspirasi (gerakan elevasi)dan ekspirasi (depresi)oleh diafragma dan tulang iga. Otot yang bekerja saat inspirasi yaitu m. skaleneus dan m. interkostalis eksternus dan otot tambahan lainnya. Sedang pada respirasi dibantu oleh kontraksi otot abdominal, yang meningkatkan tekanan tekanan intraabdominal, mendorong diafragma relaksasi ke arah rongga dada, dan kontraksi m. interkostalis internus. (Silbernagle, 2000) Transportasi Difusi Difusi gas-gas melintasi membran alveolus yang tipis (tebal <0.5 m). kekuatan pendorong pemindahan ini adalah selisih tekanan parsial antara darah dan fase gas. Tekanan parsial O2 (PO2 ) dalam atmosfer pada permukaan laut 159 mmHg (21% dari 760mmHg). Ketika sampai di trakea PO2 149 mmHg (760-4721%=149) karena dihangatkan dan dilembabkan oleh jalan napas. Tekanan uap air pada suhu tubuh adalah 47 mmHg. Saat mencapai alveoli PO2 103 mmHg karena trcampur dengan udara dalam ruang mati anatomi pada saluran jalan napas. Difusi gas melalui membran alveolikapiler, PO2 dalam darah vena campuran (PVO2 ) di kapiler paru 40mmHg. PO2 kapiler lebih rendah daripada tekanan dalam alveolus (PAO2 =103mmHg) sehingga O2 mudah berdifusi ke dalam aliran darah. Perbedaan tekanan antara darah dan PACO jauh lebih rendah yaitu 6 mmHg menyebabkan CO berdifusi kedalam alveolus, meskipun selisih CO antara darah dan alveolus amat kecil namun memadai, karena dapat berdifusi 20 kali lebih cepat dibandingkan O karena daya larutnya lebih besar. (Wilson, 2006) Hubungan antara ventilasi-perfusi Pemindahan gas secara efektif antara alveolus dan kapiler paru membutuhkan distribusi merata dari udara dalam paru dan perfusi dalam kapiler, sehingga ventilasi dan perfusi unit pulmonar harus sesuai. Keadaan tersebut dapat dicapai saat posisi tegak dan istirahat kecuali pada apeks paru. Sirkulasi pulmonar dengan tekanan dan resistensi rendah mengakibatkan aliran darah dibasis paru lebih besar daripada di bagian apeks paru, disebabkan pengaruh gravitasi. Nilai ratarata rasio antara ventilasi dan perfusi (V/Q) adalah 0.8 didapat dari ventilasi alveolar normal

4L/menit dibagi curah jantung normal 5 L/menit. Keadaan patologis menyebabkan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi, unit ruang mati mempunyai ventilasi normal tanpa perfusi; unit pirau perfusi normal tanpa ventilasi; unit diam tidak terdapat ventilasi dan perfusi. (Wilson, 2006) Transpor O dalam darah O dapat diangkut dari paru ke jaringan melalui 2 jalan: larut dalam plasma (fisik) atau berikatan dengan Hb sebagai oksiHb (kimia). Sebagian besar secara kimia. Satu gram Hb dapat mengikat 1.34 ml O . Konsentrasi Hb pria dewasa 15 g/100ml sehingga 100 ml darah dapat mengangkut 20.1 ml O (151.34) bila O jenuh adalah 100%. Tetapi sedikit darah vena campuran dari sirkulasi bronchial ditambahkan kedarah yang meninggalkan kapiler paru dan sudah teroksigenisasi, sehingga proses pengenceran ini hanya 97% darah yang meninggalkan paru menjadi jenuh, dan hanya 19.5 (0.9720.1) volume persen yang diangkut ke jaringan. Pada tingkat jaringan, O dilepas Hb dan berdifusi dari plasma ke sel tubuh. Meskipun kebutuhan bervariasi, 75% Hb masih berikatan dengan O ketika kembali ke paru dalam bentuk darah vena campuran. (Wilson, 2006) Transpor CO dalam darah Traspor CO dari jaringan ke paru dilakukan dengan tiga cara. Sekitar 10% CO larut dalam plasma karena CO mudah larut. Sekitar 20% berikatan dengan gugus amino pada Hb (karbaminohemoglobin) dalam eritrosit, dan 70% diangkut dalam bentuk bikarbonat plasma (HCO). Keadaan patologisnya, hiperventilasi menyebabkan alkalosis akibat ekskresi CO berlebihan; hipoventilasi menyebabkan asidosis akibat retensi CO oleh paru.

Alveolus terdapat pada ujung akhir bronkiolus berupa kantong kecil yang salah satu sisinya terbuka sehingga menyerupai busa atau mirip sarang tawon. Oleh karena alveolus berselaput tipis dan di situ banyak bermuara kapiler darah maka memungkinkan terjadinya difusi gas pernapasan. Gbr. Alveolus yang diperbesar Mekanisme Pernafasan Pernapasan adalah suatu proses yang terjadi secara otomatis walau dalam keadaan tertidur sekalipun karma sistem pernapasan dipengaruhi oleh susunan saraf

otonom. Menurut tempat terjadinya pertukaran gas maka pernapasan dapat dibedakan atas 2 jenis, yaitu pernapasan luar dan pernapasan dalam. Pernapasan luar adalah pertukaran udara yang terjadi antara udara dalam alveolus dengan darah dalam kapiler, sedangkan pernapasan dalam adalah pernapasan yang terjadi antara darah dalam kapiler dengan sel-sel tubuh. Masuk keluarnya udara dalam paru-paru dipengaruhi oleh perbedaan tekanan udara dalam rongga dada dengan tekanan udara di luar tubuh. Jika tekanan di luar rongga dada lebih besar maka udara akan masuk. Sebaliknya, apabila tekanan dalam rongga dada lebih besar maka udara akan keluar. Sehubungan dengan organ yang terlibat dalam pemasukkan udara (inspirasi) dan pengeluaran udara (ekspirasi) maka mekanisme pernapasan dibedakan atas dua macam, yaitu pernapasan dada dan pernapasan perut. Pernapasan dada dan perut terjadi secara bersamaan. Pernapasan Dada Pernapasan dada adalah pernapasan yang melibatkan otot antartulang rusuk. Mekanismenya dapat dibedakan sebagai berikut. Fase inspirasi. Fase ini berupa berkontraksinya otot antartulang rusuk sehingga rongga dada membesar, akibatnya tekanan dalam rongga dada menjadi lebih kecil daripada tekanan di luar sehingga udara luar yang kaya oksigen masuk. Fase ekspirasi. Fase ini merupakan fase relaksasi atau kembalinya otot antara tulang rusuk ke posisi semula yang dikuti oleh turunnya tulang rusuk sehingga rongga dada menjadi kecil. Sebagai akibatnya, tekanan di dalam rongga dada menjadi lebih besar daripada tekanan luar, sehingga udara dalam rongga dada yang kaya karbon dioksida keluar. Gambar 1 Mekanisme inspirasi dan ekspirasi pada manusia Pernapasan Perut Pernapasan perut merupakan pernapasan yang mekanismenya melibatkan aktifitas otot-otot diafragma yang membatasi rongga perut dan rongga dada. Mekanisme pernapasan perut dapat dibedakan menjadi dua tahap yakni sebagai berikut. Fase Inspirasi. Pada fase ini otot diafragma berkontraksi sehingga diafragma mendatar, akibatnya rongga dada membesar dan tekanan menjadi kecil sehingga udara luar masuk. Fase Ekspirasi. Fase ekspirasi merupakan fase berelaksasinya otot diafragma (kembali ke posisi semula, mengembang) sehingga rongga dada mengecil dan tekanan menjadi lebih besar, akibatnya udara keluar dari paru-paru. Volume Udara Pernafasan Dalam keadaan normal, volume udara paru-paru manusia mencapai 4500 cc. Udara ini dikenal sebagai kapasitas total udara pernapasan manusia. Walaupun demikian, kapasitas vital udara yang digunakan dalam proses bernapas mencapai 3500 cc, yang 1000 cc merupakan sisa udara yang tidak dapat digunakan tetapi senantiasa mengisi bagian paru-paru sebagai residu atau udara sisa.

Kapasitas vital adalah jumlah udara maksimun yang dapat dikeluarkan seseorang setelah mengisi paru-parunya secara maksimum. Dalam keadaaan normal, kegiatan inspirasi dan ekpirasi atau menghirup dan menghembuskan udara dalam bernapas hanya menggunakan sekitar 500 cc volume udara pernapasan (kapasitas tidal = 500 cc). Kapasitas tidal adalah jumlah udara yang keluar masuk pare-paru pada pernapasan normal. Dalam keadaan luar biasa, inspirasi maupun ekspirasi dalam menggunakan sekitar 1500 cc udara pernapasan (expiratory reserve volume = inspiratory reserve volume = 1500 cc). Lihat skema udara pernapasan berikut ini. Skema udara pernapasan Udara cadangan inspirasi1500 Udara pernapasan biasa 500 kapasitas total kapasitas vital Dengan demikian, udara yang digunakan dalam proses pernapasan memiliki volume antara 500 cc hingga sekitar 3500 cc. Dari 500 cc udara inspirasi/ekspirasi biasa, hanya sekitar 350 cc udara yang mencapai alveolus, sedangkan sisanya mengisi saluran pernapasan. Volume udara pernapasan dapat diukur dengan suatu alat yang disebut spirometer. Gambar 1 Gambaran skematik spirometer Besarnya volume udara pernapasan tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain ukuran alat pernapasan, kemampuan dan kebiasaan bernapas, serta kondisi kesehatan. Pertukaran O2 Dan CO2 Dalam Pernafasan Jumlah oksigen yang diambil melalui udara pernapasan tergantung pada kebutuhan dan hal tersebut biasanya dipengaruhi oleh jenis pekerjaan, ukuran tubuh, serta jumlah maupun jenis bahan makanan yang dimakan. Pekerja-pekerja berat termasuk atlit lebih banyak membutuhkan oksigen dibanding pekerja ringan. Demikian juga seseorang yang memiliki ukuran tubuh lebih besar dengan sendirinya membutuhkan oksigen lebih banyak. Selanjutnya, seseorang yang memiliki kebiasaan memakan lebih banyak daging akan membutuhkan lebih banyak oksigen daripada seorang vegetarian. Dalam keadaan biasa, manusia membutuhkan sekitar 300 cc oksigen sehari (24 jam) atau sekitar 0,5 cc tiap menit. Kebutuhan tersebut berbanding lurus dengan volume udara inspirasi dan ekspirasi biasa kecuali dalam keadaan tertentu saat konsentrasi oksigen udara inspirasi berkurang atau karena sebab lain, misalnya konsentrasi hemoglobin darah berkurang. Oksigen yang dibutuhkan berdifusi masuk ke darah dalam kapiler darah yang menyelubungi alveolus. Selanjutnya, sebagian besar oksigen diikat oleh zat warna darah atau pigmen darah (hemoglobin) untuk diangkut ke sel-sel jaringan tubuh. Hemoglobin yang terdapat dalam butir darah merah atau eritrosit ini tersusun oleh senyawa hemin atau hematin yang mengandung unsur besi dan globin yang berupa

protein. Secara sederhana, pengikatan oksigen oleh hemoglobin dapat diperlihat-kan menurut persamaan reaksi bolak-balik berikut ini : Hb4 + O2 4 Hb O2 (oksihemoglobin) berwarna merah jernih Reaksi di atas dipengaruhi oleh kadar O2, kadar CO2, tekanan O2 (P O2), perbedaan kadar O2 dalam jaringan, dan kadar O2 di udara. Proses difusi oksigen ke dalam arteri demikian juga difusi CO2 dari arteri dipengaruhi oleh tekanan O2 dalam udara inspirasi. Tekanan seluruh udara lingkungan sekitar 1 atmosfir atau 760 mm Hg, sedangkan tekanan O2 di lingkungan sekitar 160 mm Hg. Tekanan oksigen di lingkungan lebih tinggi dari pada tekanan oksigen dalam alveolus paru-paru dan arteri yang hanya 104 mm Hg. Oleh karena itu oksigen dapat masuk ke paru-paru secara difusi. Dari paru-paru, O2 akan mengalir lewat vena pulmonalis yang tekanan O2 nya 104 mm; menuju ke jantung. Dari jantung O2 mengalir lewat arteri sistemik yang tekanan O2 nya 104 mm hg menuju ke jaringan tubuh yang tekanan O2 nya 0 - 40 mm hg. Di jaringan, O2 ini akan dipergunakan. Dari jaringan CO2 akan mengalir lewat vena sistemik ke jantung. Tekanan CO2 di jaringan di atas 45 mm hg, lebih tinggi dibandingkan vena sistemik yang hanya 45 mm Hg. Dari jantung, CO2 mengalir lewat arteri pulmonalis yang tekanan O2 nya sama yaitu 45 mm hg. Dari arteri pulmonalis CO2 masuk ke paru-paru lalu dilepaskan ke udara bebas. Berapa minimal darah yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan oksigen pada jaringan? Setiap 100 mm3 darah dengan tekanan oksigen 100 mm Hg dapat mengangkut 19 cc oksigen. Bila tekanan oksigen hanya 40 mm Hg maka hanya ada sekitar 12 cc oksigen yang bertahan dalam darah vena. Dengan demikian kemampuan hemoglobin untuk mengikat oksigen adalah 7 cc per 100 mm3 darah. Pengangkutan sekitar 200 mm3 C02 keluar tubuh umumnya berlangsung menurut reaksi kimia berikut: C02 + H20 (karbonat anhidrase) H2CO3 Tiap liter darah hanya dapat melarutkan 4,3 cc CO2 sehingga mempengaruhi pH darah menjadi 4,5 karena terbentuknya asam karbonat. Pengangkutan CO2 oleh darah dapat dilaksanakan melalui 3 Cara yakni sebagai berikut. 1. Karbon dioksida larut dalam plasma, dan membentuk asam karbonat dengan enzim anhidrase (7% dari seluruh CO2). 2. Karbon dioksida terikat pada hemoglobin dalam bentuk karbomino hemoglobin (23% dari seluruh CO2). 3. Karbon dioksida terikat dalam gugus ion bikarbonat (HCO3) melalui proses berantai pertukaran klorida (70% dari seluruh CO2). Reaksinya adalah sebagai berikut. CO2 + H2O H2CO3 H+ + HCO-3 Gangguan terhadap pengangkutan CO2 dapat mengakibatkan munculnya gejala

asidosis karena turunnya kadar basa dalam darah. Hal tersebut dapat disebabkan karena keadaan Pneumoni. Sebaliknya apabila terjadi akumulasi garam basa dalam darah maka muncul gejala alkalosis. Energi Dalam Pernafasan Energi yang digunakan dalam kegiatan respirasi bersumber dari ATP (Adenosin Tri Fosfat) yang ada pada masing-masing sel. ATP berasal dari bahan-bahan karbohidrat yang diubah menjadi fosfat melalui tiga tahapan. Mula-mula proses glikolisis oleh enzim glukokinase membentuk piruvat pada siklus Glukosa (Tahap I) kemudian tahap II, yakni siklus krebs (TCA = Tri Caboxylic Acid Cycle) kemudian tahap III, yakni tahap transfer elektron. Glikolisis terjadi di sitoplasma, siklus krebs terjadi di mitokondria. Ketiga tahap di atas dapat dilihat pada skema berikut ini. Gangguan Pada Respirasi Gangguan pada sistem pernapasan adalah terganggunya pengangkutan O2 ke selsel atau jaringan tubuh; disebut asfiksi. Asfiksi ada bermacam-macam misalnya terisinya alveolus dengan cairan limfa karena infeksi Diplokokus pneumonia atau Pneumokokus yang menyebabkan penyakit pneumonia. Pada orang yang tenggelam, alveolusnya terisi air sehingga difusi oksigen sangat sedikit bahkan tidak ada sama sekali sehingga mengakibatkan orang tersebut shock dan pernapasannya dapat terhenti. Orang seperti itu dapat ditolong dengan mengeluarkan air dari saluran pernapasannya dan melakukan pernapasan buatan tanpa alat dengan cara dari mulut ke mulut dengan irama tertentu dan menggunakan metode Silvester dan Hilger Neelsen. Asfiksi dapat pula disebabkan karena penyumbatan saluran pernapasan oleh kelenjar limfa, misalnya polip, amandel, dan adenoid. Peradangan dapat terjadi pada rongga hidung bagian atas dan disebut sinusitis, peradangan pada bronkus disebut bronkitis, serta radang pada pleura disebut pleuritis. Paru-paru juga dapat mengalami kerusakan karena terinfeksi Mycobacterium tuber culosis penyebab penyakit TBC. Pengangkutan O2 dapat pula terhambat karena tingginya kadar karbon monoksida dalam alveolus sedangkan daya ikat (afinitas) hemoglobin jauh lebih besar terhadap CO daripada O2 dan CO2. Keracunan asam sianida, debu, batu bara dan racun lain dapat pula menyebabkan terganggunya pengikatan O2 oleh hemoglobin dalam pembuluh darah, karena daya afinitas hemoglobin juga lebih besar terhadap racun dibanding terhadap O2. Gejala alergi terutama asma dapat pula menghinggapi sistem pernapasan begitu juga kanker dapat menyerang paru-paru terutama para perokok berat. Penyakit pernapasan yang sering terjadi adalah emfisema berupa penyakit yang terjadi karena susunan dan fungsi alveolus yang abnormal.

MEKANISME PERTUKARAN GAS Pengangkutan O2 Pertukaran gas antara O2 dengan CO2 terjadi di dalam alveolus dan jaringan tubuh, melalui proses difusi. Oksigen yang sampai di alveolus akan berdifusi menembus selaput alveolus dan berikatan dengan haemoglobin (Hb) dalam darah yang disebut deoksigenasi dan menghasilkan senyawa oksihemoglobin (HbO) seperti reaksi berikut : Sekitar 97% oksigen dalam bentuk senyawa oksihemoglobin, hanya 2 3% yang larut dalam plasma darah akan dibawa oleh darah ke seluruh jaringan tubuh, dan selanjutnya akan terjadi pelepasan oksigen secara difusi dari darah ke jaringan tubuh, seperti reaksi berikut :