Anda di halaman 1dari 13

PENETAPAN SUN PROTECTIVE FACTORS (SPF) PADA SUNBLOCK

I. TUJUAN Dapat menetapkan nilai SPF pada sunblock (Nivea Sun Kids SPF 25)

II. PENDAHULUAN
Fungsi kulit adalah sebagai sawar utama antara tubuh dan lingkungan hidup yang terdiri atas berbagai macam agen, baik fisik maupun kimia yang dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan kulit. Pada umumnya kulit resisten terhadap efek toksik dari sebagian besar agen

lingkungan tersebut, tetapi perlindungan tersebut tidak sempurna dilakukan oleh kulit sendiri. Banyak pengaruh lingkungan hidup secara cepat atau lambat masih dapat merusak jaringan kulit manusia, misalnya tekanan, tarikan, goresan, kelembaban, panas, dingin, zat kimia, jasad renik dan lainnya lagi. Radiasi solar adalah agen fisik utama yang dapat membahayakan kulit kita. Kerusakan kulit tersebut terjadi akibat adanya komponen sinar ultraviolet dari sinar matahari yang mencapai bumi kita. Indonesia adalah negara yang terletak di daerah tropis dengan paparan sinar matahari sepanjang musim. Sebagian penduduknya bekerja di luar ruangan, sehingga mendapat banyak paparan sinar matahari bahkan pada saat matahari sedang terik. Radiasi sinar matahari dapat memengaruhi kesehatan kulit semua individu. Untuk mencegah efek buruk pajanan sinar matahari dapat dilakukan dengan cara meng-hindari pajanan berlebihan sinar surya, yaitu tidak berada di luar rumah pada jam 10:00-16:00, memakai pelindung fisik seperti pakaian tertutup, payung, caping, dan memakai tabir surya topikal apabila memang kegiatan mengharuskan berada di bawah terik matahari (Perwitasari dkk, 1999). Paparan sinar matahari yang melimpah dengan intensitas tinggi dapat mengganggu terhadap kesehatan kulit, seperti: hiperpigmentasi, kanker kulit, dan menyebabkan kulit hitam dan bersisik. Efek tersebut disebabkan oleh adanya radiasi sinar ultraviolet, terutama radiasi sinar UVA dan UV-B. Dalam American Cancer Society (2001) sinar surya yang sampai di permukaan bumi dan mempunyai dampak terhadap kulit, dibedakan menjadi sinar ultraviolet A atau UV-A ( 320400 nm), sinar UV-B ( 290-320 nm) dan sinar UV-C ( 200-290 nm). Menurut Satiadarma (1986) sebenarnya sinar UV hanya merupakan sebagian kecil saja dari spektrum sinar matahari namun sinar ini paling berbahaya bagi kulit karena reaksi-reaksi yang ditimbulkannya berpengaruh buruk terhadap kulit manusia baik berupa perubahan-perubahan akut, seperti eritema, pigmentasi, dan fotosensitivitas, maupun efek jangka panjang berupa penuaan dini dan keganasan kulit. Seseorang dapat terkena paparan sinar UV-C dari lampu-lampu buatan dan akibatnya adalah kemerahan kulit, peradangan mata, dan merangsang pigmentasi. Sinar UV-B sering disebut sebagai sinar sunburn spectrum dan juga paling efektif menyebabkan pigmentasi. Sinar UV-A biasanya hanya

menyebabkan pencoklatan walaupun dapat juga menimbulkan sunburn namun lebih lemah dibanding dengan UV-B. Meskipun demikian efek kumulatif jangka panjang sinar UV-A sama dengan sinar UV-B karena intensitas sinar UV-A yang sampai ke bumi kira-kira 10 kali UV-B. Efek buruk sinar UV dipengaruhi oleh faktor individu, frekuensi, lama pajanan serta intensitas radiasi UV. Keadaan di atas dapat diatasi dengan menggunakan sediaan tabir surya. Sediaan tabir surya adalah sediaan kosmetika yang digunakan dengan maksud menyerap secara efektif cahaya matahari terutama pada daerah emisi gelombang ultraviolet, sehingga dapat mencegah terjadinya gangguan kulit karena cahaya matahari. Bahan aktif yang banyak digunakan sebagai tabir surya adalah senyawa turunan sinamat, octocrylene, senyawa PABA (para amino benzoic acid) dan salisilat. Bahan aktif tersebut banyak digunakan karena dapat menghindarkan seseorang dari hiperpigmentasi dan serangan kanker kulit. Lembaga kanker kulit di Amerika memperkirakan bahwa terdapat setengah juta kasus kanker kulit per tahun dan 90 % diantaranya disebabkan oleh paparan sinar matahari. Dengan banyaknya kebutuhan terhadap sediaan tabir surya, maka perlu dilakukan penelitian sintesis senyawa aktif tabir surya dari bahan alam yang banyak terdapat di Indonesia. Berdasarkan struktur kimia tabir surya, ada dua bagian pada senyawa p-metoksi oktil sinamat yang dimungkinkan berperan penting yaitu bagian rantai alkil dan bagian rantai benzil. Berdasarkan struktur kimia senyawa tersebut, maka terdapat bagian benzena aromatis dan sisi alkil yang bersifat relatif non polar. Efek perlindungan sinar UV dari senyawa diakibatkan bagian cincin benzena, sedangkan bagian sisi alkil digunakan untuk kontribusi sifat non polar senyawa yang berakibat senyawa tak larut dalam air (Tahir dkk, 2000). Salah satu contoh senyawa tabir surya yang saat ini banyak digunakan adalah senyawa p-metoksi oktil sinamat yang merupakan turunan dari ester sinamat. Berdasarkan struktur kimia senyawa tersebut, maka pengembangan senyawasenyawa turunannya dapat dilakukan untuk mencari senyawa lain yang lebih efektif dan jika mungkin disintesis dari bahan-bahan alam yang banyak terdapat di Indonesia. Pengukuran dan pengujian aktivitas senyawa-senyawa tabir surya dapat dilakukan dengan banyak cara yakni pengujian secara in vitro dan in vivo. Pengujian aktivitas serapan sinar UV secara in vitro dapat dilakukan dengan teknik spektroskopi UV yang diukur pada rentang panjang gelombang sinar UV (200-400 nm). Metode yang digunakan adalah seperti yang digunakan oleh Walters dkk (1997). Pengukuran lain yang langsung diujikan pada sel biologis adalah teknik analisis secara in vivo. Teknik ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara dan salah satunya adalah dengan pengamatan eritema akibat terkena paparan sinar UV dan dibandingkan dengan suatu kontrol. Eritema merupakan salah satu tanda terjadinya proses inflamasi akibat pajanan sinar tersebut dan terjadi apabila volume darah dalam pembuluh darah dermis meningkat hingga 38% di atas volume normal. Salah satu bentuk sediaan tabir surya yaitu handbody lotion. Lotion adalah sediaan cair berupa suspensi atau dispersi yang digunakan sebagai obat luar dapat berbentuk suspensi zat padat

dalam serbuk halus dengan bahan pensuspensi yang cocok, emulsi tipe o/w dengan surfaktan yang cocok. Ciri-ciri lotion : 1. Lebih mudah digunakan (penyebaran lotion lebih merata daripada krim) 2. Lebih ekonoms (lotion menyebar dalam lapisan tipis) Kemampuan menahan sinar ultraviolet dinilai dalam faktor proteksi sinar (Sun Protecting Factor/SPF) yaitu perbandingan antara dosis minimal yang diperlukan untuk menimbulkan eritema pada kulit yang diolesi oleh tabir surya dengan yang tidak. Nilai SPF ini berkisar antara 0 sampai 100 (Wasitaatmadja, 1997). Sediaan dikatakan dapat memberikan perlindungan apabila memiliki nilai SPF 2 8 (Shaat, 1990). Kemampuan sunscreen yang dianggap baik berada di atas 15. Tingkat kemampuan sunscreen sebagai berikut: a. Minimal, bila SPF antara 2-4, contoh salisilat, antranilat. b. Sedang, bila SPF antara 4-6, contoh sinamat, bensofenon. c. Ekstra, bila SPF antara 6-8, contoh derivat PABA. d. Maksimal, bila SPF antara 8-15, contoh PABA. e. Ultra, bila SPF lebih dari 15, contoh kombinasi PABA, non-PABA (Wasitaatmadja, 1997) SPF hanya menunjukkan daya perlindungan terhadap UV-B dan bukan terhadap UV-A. Hal ini berbeda dengan UVB yang bekerja pada permukaan kulit dan menyebabkan kulit terbakar, sedangkan UV-A meresap masuk ke dalam kulit dan merusak DNA. Ini membuat kekuatan UV-A tidak bisa diukur dengan mudah karena efeknya tidak segera terlihat.

III. ALAT DAN BAHAN


ALAT - Neraca analitik - Beker glass - Labu takar 50, 25, 100 ml - Pipet volume 5 ml - Pipet tetes - Gelas arloji - Sendok sungu - Pengaduk kaca - Ultrasonic

BAHAN - Lotion Nivea Sun Kids SPF 25 - Etanol 96% 1,00 gram 300 ml

IV. CARA KERJA


Ditimbang seksama 1,00 gram sampel

Dilarutkan dengan etanol 96% ad 100 ml

Diultrasonifikasi selama 5 menit hingga larut

Disaring dengan kertas saring

Diambil 5,0 ml larutan di ad 50 ml dengan etanol 96%

Diambil 5,0 ml larutan hasil pengenceran di atas, di ad 25 ml dengan etanol 96%

Direplikasi 2x

Dibaca absorbansi tiap sampel tiap 5 nm pada rentang panjang gelombang 290nm - 320nm

Dihitung nilai SPF dengan rumus: SPFspectrophotometric = CF X () X I () X Abs ()

dengan CF (Correction Factor) = 10

V. DATA DAN PERHITUNGAN


A. DATA Sampel Merk Kandungan : Nivea Sunblock Kids SPF 25 : Air, homosalat, Etilheksil metoksi sinamat, BHT, Etilheksil salisilat, Alkohol Denat, Distarch fosfat, Cetearyl alkohol, PEG 40, Caster oil, Sodium Steril Sulfat, Benzofenon 3 (Oksibenzon), Bisetilheksil metoksi fenil triazin, Butil metoksi dibenzoil metan, fenil benzimidazol, Asam sulfonat, Dimeticon, Glyserin, TrisodiumEDTA, glycirrhyza glabra,

Glyseril stearat, Etilalkohol, Etilheksil glyserin, hydrogenated coco glyseril, Tokofenil asetat, xhantan gom, fenoksi etanol, NaOH, metil paraben, etil paraben, propil paraben, parfum No Batch Organoleptis Warna Bau Tekstur : Putih : Harum : Krim agak kental : 24913048

Data Penimbangan Sampel I -Berat gelas arloji +sampel : 22,0003 gram 1,1170 gram

Berat sampel : Sampel II -Berat gelas arloji+sampel

: 22,9129 gram 1,1678 gram

Berat sampel : Sampel III -Berat gelas arloji+sampel

: 30,5340 gram 1,1110 gram

Berat sampel :

Data Absorbansi Panjang gelombang 290 nm 295 nm 300 nm 305 nm 310 nm 315 nm 320 nm I 1,677 1,769 1,821 1,845 1,763 1,629 1,377 Percobaan II 1,788 1,888 1,935 1,970 1,890 1,755 1,495 III 1,406 1,460 1,531 1,563 1,505 1,403 1,201

SPFspectrophotometric = CF X

() X I () X Abs ()

dengan CF (Correction Factor) = 10 Panjang gelombang ( nm) 290 EE X I (normalisasi) 0,0150

295 300 305 310 315 320 TOTAL

0,0817 0,2874 0,3278 0,1864 0,0839 0,0180 1

Percobaan I Nilai () X I () X Abs ()

Pada 290 nm = 0,0150 x 1,677 = 0,0252 Pada 295 nm = 0,0817 x 1,769 = 0,1445 Pada 300 nm = 0,2874 x 1,821 = 0,5234 Pada 305 nm = 0,3278 x 1,845 = 0,6048 Pada 310 nm = 0,1864 x 1,763 = 0,3286 Pada 315 nm = 0,0839 x 1,629 = 0,1367 Pada 320 nm = 0,0180 x 1,377 = 0,0248 = 1,7880 SPFspectrophotometric = 10 x 1,7880 = 17,880

Percobaan II Nilai () X I () X Abs ()

Pada 290 nm = 0,0150 x 1,788 = 0,0268 Pada 295 nm = 0,0817 x 1,888 = 0,1542 Pada 300 nm = 0,2874 x 1,935 = 0,5561 Pada 305 nm = 0,3278 x 1,970 = 0,6458 Pada 310 nm = 0,1864 x 1,890 = 0,3523

Pada 315 nm = 0,0839 x 1,755 = 0,1472 Pada 320 nm = 0,0180 x 1,495 = 0,0269 = 1,9093 SPFspectrophotometric = 10 x 1,9093 = 19,093

Percobaan III Nilai () X I () X Abs ()

Pada 290 nm = 0,0150 x 1,4061 = 0,0211 Pada 295 nm = 0,0817 x 1,460 = 0,1193 Pada 300 nm = 0,2874 x 1,531 = 0,4400 Pada 305 nm = 0,3278 x 1,563 = 0,5124 Pada 310 nm = 0,1864 x 1,505 = 0,2805 Pada 315 nm = 0,0839 x 1,403 = 0,1177 Pada 320 nm = 0,0180 x 1,201 = 0,0216 = 1,5126

SPFspectrophotometric = 10 x 1,5126 = 15,126

SPF rata-rata =

Recovery rata-rata =

No 1. 2.

SPF 17,880 19,093

0,5137 1,7267

0,2639 2,9815

3. Jumlah

15,126 52,099

2,2403 4,4807

5,0189 8,2643

Kesalahan absolut (d) = [-rerata] = [17,366325] = 7,6337 Kesalahan relatif (e) = [-rerata] x 100% = [17,366325] x 100% = 43,957 % 17,3663

VI. PEMBAHASAN
Analisis farmasi melibatkan penggunaan sejumlah teknik dan metode untuk memperoleh aspek kualitatif, kuantitatif, dan informasi struktur dari suatu senyawa obat (Gandjar dan Rohman, 2007). Pada umumnya, analisis sediaan farmasi dibagi menjadi dua yaitu analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif merupakan analisis untuk melakukan identifikasi elemen, spesies, dan senyawa lain yang berada dalam sampel. Analisis kualitatif adalah analisis untuk menentukan jumlah (kadar) absolut dari suatu elemen atau spesies yang ada dalam sampel (Gandjar dan Rohman, 2007). Analisis sediaan farmasi meliputi identifikasi sediaan secara menyeluruh antara lain identifikasi kemasan, organoleptis, keseragaman bobot, penetapan kadar, serta uji lainnya yang terkait dengan sediaan farmasi tersebut. Kosmetik adalah bahan atau preparat yang dimaksudkan untuk pemakaian bagian luar badan (epidermis, rambut, kuku, bibir, dan organ genital bagian luar) atau gigi dan membran mukosa pada rongga mulut. Kosmetik ini dapat digunakan untuk membersihkan, memberi keharuman, mengubah penampilan, mengkoreksi bau tubuh, dan melindungi atau menjaga agar bagian tubuh yang diaplikasikan

kosmetik dalam kondisi yang baik. Perbedaan mendasar antara sediaan kosmetik dengan sediaan obat yaitu, sediaan kosmetik tidak mengandung bahan aktif sedangkan sediaan obat mengandung bahan aktif. Selain itu sediaan kosmetik tidak memiliki aksi farmakologi tetapi obat memiliki aksi farmakologi. Pada praktikum kali ini, analisis farmasi dilakukan pada Lotion Nivea Sun Kids SPF 25. Dari komposisi sunblock di atas, yang termasuk uv filter adalah: 1. Etilheksil metoksi sinamat (EMC) 2. Etilheksil salisilat (ES) 3. Homosalat (HS) 4. Benzofenon 3 (BZ 3) 5. Butilmetoksi dibenzoilmeton ( BDM) 6. Phenylbenzimidazolensulphonic acid (PBS) 7. Bis etilheksil oksifenol metoksifenil triazin (EMC) (Salvador & Chisvert, 2007)

Analisis yang dilakukan adalah uji organoleptis, dan penetapan nilai SPF ( Sun Protecting Factor). Sunblock digunakan untuk melindungi kulit dari kerusakan akibat terpapar sinar UV. Sinar UV dapat menyebabkan terjadinya mutasi pada sel sehingga berbahaya jika kulit terpapar radiasi sinar UV yang berlebihan. Suatu sediaan mampu melindungi kulit dari radiasi sinar UV dengan dua cara, yaitu dengan melapisi kulit sehingga tidak terkena radiasi sinar UV, dan dengan menyerap sinar UV kulit tidak terpapar radiasi sinar UV. Mekanisme yang pertama biasa disebut secara fisik dan metode yang kedua adalah mekanisme seara kimia. Di dalam sunblock terdapat nilai SPF (Sun Protecting Factor) yang dapat menunjukkan kemampuan dari suatu sunblock dalam melindungi kulit dari sinar UV. Suatu sunblock dikatakan mampu melindungi kulit dengan baik apabila memiliki nilai SPF lebih dari 15. Maksud dari suatu nilai SPF, misalnya SPF 15 yaitu jika kita telah terpapar sinar matahari selama 10 menit, maka SPF melindungi kulit kita dari kerusakan (akibat terbakar sinar matahari) selama 150 menit. Pada praktikum ini dilakukan analisis kuantitatif berupa penentuan nilai SPF pada sediaan sunblock dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Metode yang digunakan untuk 15 akan

menentukan nilai SPF dalam praktikum kali ini adalah dengan menghitung kemampuan sediaan dalam menyerap sinar UV, karena zat aktif (sunscreen agent) dalam sediaan ini yaitu Ethylhexyl Salicylate dan Butyl Methoxydibenzoylmethane bekerja dengan menyerap sinar UV.

Ethylhexyl Salicylate

Butyl Methoxydibenzoylmethane

Prinsipnya adalah sediaan dilarutkan dalam pelarut yang sesuai, kemudian dibaca absorbansinya pada panjang gelombang sinar UV yaitu 290-320 nm dengan spektrofotometer UV. Lalu dihitung SPF nya dengan rumus yang telah diketahui dari literatur. Senyawa yang memiliki gugus kromofor dan memiliki ausokrom akan mampu menyerap sinar UV. Kelebihan metode ini adalah mudah untuk dilakukan dan cepat karena tidak memerlukan blangko dalam prosesnya. Namun, metode ini juga memiliki kelemahan.

Pertama, metode ini akan menghitung SPF total dari sediaan, jadi tidak selektif pada zat tertentu. Kedua, nilai SPF tidak terbatas hanya menyerap sinar UV saja. Sebagaimana dikatakan di atas ada zat yang melindungi kulit secara fisik. Pada metode ini berarti zat tersebut tidak bisa ditetapkan dengan spektrofotometer karena tidak memiliki gugus kromofor dan ausokrom. Dan yang ketiga, kemungkinan ada senyawa yang mampu menyerap sinar UV tetapi tidak larut dalam pelarut yang digunakan, sehingga zat tersebut tidak ikut tertetapkan. Metode terbaik untuk menghitung nilai SPF adalah secara in vivo dengan menggunakan probandus manusia, karena dapat menggambarkan nilai SPF secara total dari sediaan tanpa adanya batasan kondisi. Pertama-tama dilakukan preparasi sampel. Sampel ditimbang seksama sebanyak 1,00 gram. Kemudian dilarutkan dalam etanol 97% di labu takar 50,0 ml. Tujuan penggunaan etanol adalah karena dapat melarutkan sampel dengan baik. Dilakukan ultrasonikasi selama 5 menit agar sampel lebih larut. Gelombang ultrasonik yang dihasilkan alat dapat memperkecil ukuran parikel yang ada pada sampel sehingga sampel akan terlarut dalam pelarut. Sampel yang telah larut disaring menggunakan kertas saring yang telah dijenuhkan terlebih dahulu dengan etanol. Tujuan penjenuhan ini adalah untuk meminimalisir terjadinya pengurangan kadar karena terserap oleh kertas saring. Filtrat diambil sebanyak 5,0 ml kemudian diencerkan ad 50,0 ml dengan etanol. Hasil pengenceran tersebut diambil 5,0 ml dan diencerkan ad 25,0 ml. Larutan dibaca absorbansinya tiap 5 nm pada rentang 290nm -320nm. Panjang gelombang yang digunakan pada pengukuran dipilih karena merupakan kisaran panjang gelombang UVB sehingga dapat menggambarkan kemampuan sampel dalam menyerap UVB. Replikasi dilakukan sebanyak 2 kali. Data absorbansi yang didapat dianalisis menggunakan persamaan Mansur yaitu: SPFspectrophotometric = CF X () X I () X Abs ()

dengan CF (Correction Factor) = 10, EE (I) yaitu erythemal effect spectrum, I (I) yaitu solar intensity spectrum. Persamaan ini telah dideterminasi sehingga suatu formula sunscreen standar yang mengandung 8% homosalat menghasilkan nilai SPF sebesar 4, dideterminasi dengan spektrofotometri UV (Mansur et.al., 1986). Nilai EE x I adalah konstan, dideterminasi oleh Sayre et al ( 1979) dan dapat dilihat pada tabel (ada di bagian perhitungan). Hasil perhitungan menunjukkan nilai SPF sebesar 17,880; 19,093; dan 15,126 sehingga diperoleh nilai rata rata SPF sebesar 17,3663. Setelah dilakukan perhitungan statistika didapatkan nilai SD = 2,0328 ; CV = 11,7054% , Nilai SE = 1,1736, dan rentang kadar antara Dalam analisis kuantitatif, perlu dilakukan validasi metode. Menurut United States Pharmacopeia (USP) Validasi metode perlu dilakukan untuk menjamin bahwa metode analisis akurat, spesifik, reprodusibel, dan tahan pada kisaran analit yang akan dianalisis. Menurut International Conference on Harmonization (ICH), karakteristik validasi adalah presisi, akurasi, limitation of detection (LOD), limitation of quantitation (LOQ), spesifisitas, linieritas, kisaran (range), ketahanan (robutness), dan kesesuaian sistem (Gandjar dan Rohman, 2007). Namun, dalam praktikum ini yang dilakukan adalah akurasi dan presisi. Akurasi menunjukkan derajat kedekatan hasil analisis dengan kadar analit yang sebenarnya. Akurasi dapat digambarkan dan ditentukan dengan uji perolehan kembali. Terdapat tiga cara yang dapat

digunakan untuk menentukan akurasi metode yaitu membandingkan dengan standar baku, uji perolehan kembali dengan memasukkan analit ke dalam matriks dan penambahan baku pada analit (Utami 2010 cit. Snyder dkk., 1997). Penyimpangan persentase perolehan kembali yang masih diperbolehkan tergantung pada besar konsentrasi analit dalam sampel. Akurasi diukur sebagai banyaknya analit yang diperoleh kembali pada suatu pengukuran dengan melakukan spiking pada suatu sampel. ICH merekmomendasikan pengumpulan data dari 9 kali penetapan kadar dengan 3 konsentrasi yang berbeda, namun dalam praktikum ini hanya digunakan satu konsentrasi dengan 2 kali replikasi dilakukan terhadap 1 sampel. Nilai perolehan kembali yang didapat adalah 71,520 %, 76,72 %, dan 60,504 % dengan rata-rata 46,29%. Menurut Gonzales dan Herrador (2007), persentase perolehan kembali yang diperbolehkan pada studi akurasi dengan rerata kadar 10 ppm adalah 80 -110 % sehingga nilai perolehan kembali yang didapat pada percobaan tidak masuk rentang nilai percobaan yang diperbolehkan. Selain nilai perolehan kembali, perlu dihitung standar deviasi (SD), coefficient of variance (cv), dan standar error (SE). Standar deviasi merupakan akar jumlah kuadrat deviasi masing-masing hasil penetapan terhadap rerata dibagi dengan derajat kebebasannya. Semakin kecil SD, maka metode yang digunakan semakin tepat. SD dalam praktikum ini yaitu 2,0328. Nilai CV dalam praktikum ini cukup besar yaitu . Karena menurut European Pharmacopea nilai CV yang baik yaitu kurang dari 2%,

dapat disimpulkan data kadar yang diperoleh belum presisi. Apabila dilihat dari segi statistika, data percobaan juga tidak presisi karena lebih dari 5%. Presisi adalah metode dapat menghasilkan suatu hasil analisis yang sama atau hampir sama dalam satu seri pengukuran. Nilai SE dalam praktikum ini adalah . Pada dasarnya setiap pengukuran dalam analisis kimia selalu mengandung kesalahan. Pada umumnya, 3 macam kesalahan dalam analisis kimia adalah kesalahan gamblang (gross error), kesalahan acak (random error), dan kesalahan sistemik (systematic error) (Gandjar dan Rohman, 2007). Kesalahan gamblang merupakan kesalahan besar seperti menumpahkan sampel atau pereaksi dan alat yang rusak. Dalam praktikum ini, tidak dilakukan kesalahan gamblang. Kesalahan acak merupakan kesalahan yang nilainya tidak dapat diramalkan serta nilainya berfluktuasi. Kesalahan acak merupakan jenis kesalahan yang selalu terjadi dalam analisis akibat adanya sedikit variasi yang tidak dapat ditentukan atau dikontrol,misalnya pada praktikum ini adalah terjadinya perubahan tegangan listrik pada spektrofotometer uv sehingga nilai absorbansinya menjadi fluktuatif. Kesalahan sistematis merupakan kesalahan yang mempunyai nilai definitif sehingga hasil analisis yang mengandung kesalahan ini dapat mengarah ke arah yang lebih kecil atau lebih besar dari rata-rata. Beberapa faktor yang mempengaruhi kesalahan sistematik adalah kesalahan kesalahan personil dan operasi ; kesalahan alat dan pereaksi, dan kesalahan metode (Gandjar dan Rohman, 2007). Dalam praktikum ini, yang terjadi adalah kesalahan operasi bersifat fisik, misalnya kurang lama dan kuat dalam penggojogan sehingga sampel belum terlarut dengan sempurna sehingga perlu dilarutkan dengan bantuan sonifikasi . Kesalahan operasi lainnya diakibatkan tidak tepatnya pengambilan sejumlah sampel. Kesalahan alat disebabkan karena adanya pipet ukur misal yang belum terkalibrasi. Kesalahan metode dapat disebabkan karena penggojogan yang kurang sempurna sehingga tidak semua sampel sunblock larut dalam pelarutnya. Hal ini yang menyebabkan rerata nilai SPF dalam sampel menjadi lebih kecil dari nilai

yang sebenarnya. Walaupun kesalahan ini tidak mungkin dihindari secara mutlak, tetapi dengan cara tertentu dapat diperkecil sehingga hasil yang diperoleh tidak terlalu menyimpang dari nilai sebenarnya. Untuk memperkecil kesalahan sistematik dapat dilakukan dengan beberapa cara, misalnya kalibrasi instrumen seperti kalibrasi pipet ukur atau pipet volume ,neraca analitik, serta labu takar. Garis di labu takar yang akan digunakan perlu dicek apakah benar menunjukkan volume yang tertera dengan tepat. Propipet yang digunakan masih baik digunakan. Kesalahan hasil analisis dapat diuraikan dengan dua cara yaitu kesalahan absolut dan kesalahan relatif. Kesalahan absolut menyatakan perbedaan antara hasil analisis dengan nilai sebenarnya. Nilai kesalahan absolut dalam praktikum ini adalah , artinya selisih nilai percobaan dan sebenarnya tidak jauh. Kesalahan relatif merupakan perbandingan antara kesalahan absolut dengan nilai sebenarnya. Nilai kesalahan relatif dalam praktikum ini adalah 43,957% artinya kesalahan relatif besar. Ada banyak faktor yang mempengaruhi penentuan nilai SPF sebagai contoh penggunaan solven yang berbeda untuk melarutkan sunblock, kombinasi dan konsentrasi dari sunblock, tipe emulsi dan efek serta interaksi dari komponen pembawa seperti ester, emolient dan emulsifier yang digunakan pada formulasi, interaksi dengan kulit, interaksi pembawa dengan kulit, penambahan zat aktif lain, sistem pH dan sifat rheologi dari berbagai faktor yang dapat menaikkan atau menurunkan absorbsi uv pada sunblock. ( Riegelman, et al., 1960; Agrapidis-paloympis, et al., 1987).

VII. KESIMPULAN
1. Nilai SPF dalam sunblock dapat dianalisis secara kuantitatif menggunakan spektrofotometri uv. 2. Prinsip penatapan nilai SPF ini adalah senyawa-senyawa yang berfungsi sebagai uv filter dapat menyerap sinar uv sehingga bisa dibaca menggunakan spektrofotometri uv. 3. Penetapan nilai SPF pada sunblock menunjukkan rerata SPFnya sebesar .

4. Metode spektrofotometri uv dalam penetapan nilai SPF kurang akurat karena nilai perolehan kembali rata-rata hanya sebesar %.

5. Metode spektrofotometri uv dalam penetapan nilai SPF kurang presisi menurut EP karena CV yang dperoleh sebesar

VIII. DAFTAR PUSTAKA


Agrapidis-Paloympis, L.E., Nash,R.B., Shaanth, N.A., 1987, The effect of solvents on the ultravioletabsorbance of sunscreens v. 38, p. 209-221, J. Soc. Cosmet. Chem., NewYork. Alamsyah, A, 1994, Analisis Kuantitatif Beberapa Senyawa Obat, Universitas Sumatera Utara Press, Medan. Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV, Departemen Kesehatan, Jakarta. Anonim, 2010, ISO Volume 46, PT. ISFI Penerbitan, Jakarta. Gandjar, I.G & Rohman, A., 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Mansur, J.S., Breder, M.N.R., Mansur, M.C.A., Azulay, R.D., 1986, Determinao do fator de proteo solarpor espectrofotometria. , v. 61, p. 121-124, An. Bras. Dermatol., Rio de Janeiro. Riegelmen, S., Penna,R.P., 1960, Effect of vehicle components on the absorption characteristics ofsunscreens compounds. J. Soc. Cosmet. Chem., NewYork. Salvador, A & Chisvert, A., 2007, Analysis of Cosmetic Products , Elsevier B.V, Oxford UK. Skoog. D.A.,1996, Fundamental of Analytical Chemistry, Seventh Edition, Saunders College, Publishing USA. Snyder, L.R., Kirkland, J.J. & Glajch, J.L., 1997, Practical HPLC Method Development, Second Ed., 691-695, John Wiley & Sons, Inc., New York. Utami, F.N., 2010, Validasi Metode Analisis Residu Pestisida Tiametoksam pada Sampel Buah Jeruk Siam (Citrus nobilis), Skripsi, Fakultas Farmasi UGM, Yogyakarta.

Yogyakarta, 20 Mei 2013 Praktikan, Yoce Aprianto Dea Nurma Septia Harjanti Penjawi Siwi Lathifa Nabila FA/08846 FA/08849 FA/08855 FA/08858