Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN KATARAK

OLEH: PUTU YOVI H. ARIESTYA NIM. 1102115017

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2013

LAPORAN PENDAHULUAN PASIEN DENGAN KATARAK

A. Konsep Dasar Penyakit 1. Definisi Katarak merupakan setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan)lensa, denaturasi protein lensa, atau akibat kedua duanya. Biasanya mengenai kedua mata dan berjalan progresif. (Kapita Selekta Kedokteran,2001) Katarak merupakan opasitas lensa kristalina yang normalnya jernih. (Suzanne & Brenda,2002) Katarak adalah perubahan lensa mata yang sebelumnya jernih dan tembus cahaya menjadi keruh. Katarak menyebabkan penderita tidak bisa melihat dengan jelas karena dengan lensa yang keruh cahaya sulit mencapai retina dan akan menghasilkan bayangan yang kabur pada retina. Jumlah dan bentuk kekeruhan pada setiap lensa mata dapat bervariasi. Katarak adalah perubahan lensa mata yang tadinya jernih dan tembus cahaya menjadi keruh, menyebabkan gangguan pada penglihatan. Katarak adalah sejenis kerusakan mata yang menyebabkan lensa mata berselaput dan rabun. Lensa mata menjadi keruh dan cahaya tidak dapat menembusinya. Keadaan ini memperburuk penglihatan seseorang dan akan menjadi buta jika lewat, atau tidak dirawat Katarak adalah terjadinya opasitas secara progresif pada lensa atau kapsul lensa, umumnya akibat dari proses penuaan yang terjadi pada semua orang lebih dari 65 tahun. Katarak sering terjadi secara bilateral, tetapi tiap katarak mengalami kemajuan secara independen. Katarak merupakan keadaan dimana terjadi kekeruhan pada serabut atau bahan lensa di dalam kapsul lensa. Katarak adalah suatu keadaan patologik lensa dimana lensa menjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa atau denaturasi protein lensa.(Sidarta Ilyas, 2005) 2. Epidemiologi Sebagian besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau bertambahnya usia seseorang. Katarak kebanyakan muncul pada usia lanjut. Data statistik menunjukkan bahwa lebih dari 90% orang berusia di atas 65 tahun menderita

katarak. Sekitar 550% orang berusia 75 85 tahun daya penglihatannya berkurang akibat katarak.

3. Klasifikasi Macam-macam katarak : a. Katarak senile Katarak senil adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu usia di atas 50 tahun. Pada katarak senil akan terjadi degenerasi lensa secara perlahan-lahan. Tajam penglihatan akan menurun secara berangsur-angsur hingga tinggal proyeksi sinar saja. Katarak senil

merupakan katarak yang terjadi akibat terjadinya degenerasi serat lensa karena proses penuaan.Katarak senil dapat terbagi dalam berberapa stadium : Katarak insipiens, Dimana mulai timbul katarak akibat proses degenerasi lensa. Kekeruhan lensa berbentuk bercak-bercak kekeruhan yang tidak teratur. Pasien akan mengeluh gangguan penglihatan seperti melihat ganda dengan satu matanya. Pada stadium ini proses degenerasi belum menyerap cairan mata ke dalam lensa sehingga akan terlihat bilik mata depan dengan kedalaman yang normal, iris dalam posisi biasa disertai dengan kekeruhan ringan pada lensa. Tajam penglihatan pasien belum terganggu. Katarak imatur Dimana pada stadium ini lensa yang degeneratif mulai terserap cairan mata ke dalam lensa sehingga lensa menjadi cembung. Terjadi pembengkakan lensa yang disebut sebagai katarak intumesen. Pada katarak imatur maka penglihatannya mulai berangsur-angsur menjadi berkurang, hal ini diakibatkan media penglihatan tertutup oleh kekeruhan lensa yang menebal. Katarak matur Merupakan proses degenarasi lanjut lensa. Terjadi kekeruhan seluruh lensa. Tekanan cairan di dalam lensa sudah keadaan seimbang dengan cairan dalam mata sehingga ukuran lensa akan

menjadi normal kembali. Tajam penglihatan sangat menurun dan dapat hanya tinggal proyeksi saja. Katarak hipermatur Dimana pada stadium ini terjadi proses degenerasi lanjut lensa dan korteks lensa dapat mencair sehingga nukleus lensa tenggelam di dalam korteks lensa ( katarak morgagni). Pada stadium ini terjadi juga degenerasi kapsul lensa sehingga bahan lensa ataupun korteks lensa yang cair keluar dan masuk ke dalam bilik mata depan. Pada stadium hipermatur akan terlihat lensa yang lebih kecil dari pada normal, yang akan mengakibatkan iris trimulans, dan bilik mata depan terbuka. b. Katarak congenital Katarak kongenital merupakan kekeruhan lensa yang didapatkan sejak lahir, dan terjadi akibat gangguan perkembangan embrio intrauterin. Katarak kongenital yang terjagi sejak perkembangan serat lensa terlihat segera setelah bayi lahir sampai usia 1 tahun. Katarak ini terjadi karena gangguan metabolisme serat-serat lensa pada saat pembentukan serat lensa akibat gangguan metabolisme jaringan lensa pada saat bayi masih di dalam kandungan. Pada bayi dengan katarak kongenital akan terlihat bercak putih di depan pupil yang disebut sebagai leukokoria (pupil berwarna putih). Setiap bayi dengan lekokoria sebaiknya difikirkan diagnosis bandingan seperti retinoblastoma, endoftalmitis, fibroplasi retroletal, hiperplastik viterus primer, dan miopia tinggi disamping katarak sendiri. Beberapa macam jenis katarak kongenital : Katarak lamelar atau zonular Bila pada permulaan perkembangan serat lensa normal dan kemudian terjadi gangguan perkembangan serat lensa. Biasanya perkembangan serat lensa selanjutnya normal kembali sehingga nyata terlihat adanya gangguan perkembangan serta lensa pada satu lamel daripada perkembangan lensa tersebut. Katarak lamelar bersifat herediter yang diturunkan secara dominan dan biasanya bilateral. Tindakan pengobatan atau pembedahan dilakukan bila fundus okuli tidak tampak pada pemeriksaan funduskopi.

Katarak polaris posterior Katarak polaris posterior ini terjadi akibat arteri hialoid yang menetap (persisten) pada saat tidak dibutuhakan lagi oleh lensa untuk metabolismenya. Ibu dan bayi akan melihat adanya leukokoria pada mata tersebut. Pada pemeriksaan akan terlihat kekeruhan di dataran belakang lensa. Bila dilakukan pemeriksaan funduskopi akan terlihat serat sisa arteri hialoid yang

menghubungkan lensa bagian belakang dengan papil saraf optik. Adanya arteri hialoid yang menetap ini dapt dilihat dengan pemeriksaan ultrasonografi. Bila fundus okuli masih terlihat, maka perlu tindakan bedah pada katarak polar posterior ini karena tidak akan terjadi ambilopia eksanopsia. Bila fudus okuli tidak tampak, maka dialakukan tindakan bedah iridektomi optik atau bila mungkin dilakukan lesenktomi. Ekstrasi linear ataupun disisio lentis merupakan kontra indikasi karena akan terjadi tarikan arteri hialoid dengan papil yang dapat mengakibatkan ablasi retina. Katarak polaris anterior Katarak polaris arterior atau piramidalis arterior akibat gangguan perkembangan lensa pada saat mulai terbentuknya plakoda lensa. Pada saat ibu dengan kehamilan kurang dari 3 bulan mendapat infeksi virus, maka amnionya akan mengandung virus. Plakoda lensa akan mendapat infeksi virus hingga rubela masuk ke dalam vesikel akan menjadi lensa. Gambaran klinis akan terjadi ialah adanya keluhan ibu karena anaknya mempunyai leukokoria. Pada pemeriksaan subjektif akan terlihat kekeruhan pada kornea dan terdapatnaya fibrosis di dalam bilik mata depan yang menghubungkan kekeruhan kornea dengan lensa yang keruh. Kekeruhan yang terlihat pada lensa terletak di polus anterior lensa dalam bentuk piramid dengan puncak di dalam bilik mata depan. Kekeruhan lensa pada katarak polar anterior ini tidak progresif. Pengobatan dilakukan bila kekeruhan mengakibatkan tidak terlihatnya fundus bayi tersebut. Tindakan bedah yang dilakukan adalah disisio lentis atau suatu ekstraksi linear.

Katarak sentral Katarak sentral merupakan katarak halus yang terlihat pada bagian nukleus embrional. Katarak ini terdapat 80% orang normal dan tidak menggangu tajam penglihatan. Pengobatan tidak dilakukan pada katarak sentral karena tidak menggangu tajam penglihatan dan fundus okuli dapat dilihat dengan mudah.

c.

Katarak traumatic Katarak traumatik adalah katarak yang terjadi akibat trauma lensa mata, serta robekan pada kapsul sebagai akibat dari benda tajam. Apabila terjadi lubang yang besar pada kapsul lensa, maka humor akuosus akan masuk ke dalam lensa dan menyebabkan penyerapan lensa, serta menyebabkan uveitis.

d.

Katarak juvenil adalah katarak yang terlihat setelah usia 1 tahun dapat terjadi karena: Lanjutan katarak kongenital yang makin nyata. Penyulit penyakit lain, katarak komplikata, yang dapat terjadi akibat : Penyakit lokal pada satu mata,seperti akibat uveitis anterior, glaukoma, ablasi retiana, miopia tinggi, ftsis bulbi, yang mengenai satu mata. Penyakit sistemik, seperti diabetes, hipoparatiroid, dan miotonia distrofi,yang mengenai kedua mata akibat trauma tumpul ataupun tajam Biasanya katarak juvenil ini merupakan katarak yang didapat dan banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor.

e.

Katarak komplikata Katarak komplikata terjadi akibat gangguan keseimbangan susunan sel lensa faktor fisik atau kimiawi sehingga terjadi gangguan kejernihan lensa. Katarak komplikata dapat terjadi akibat iridosiklitis, miopia tinggi, abalasi retina dan glaukoma. Katarak komplikata dapat terjadi akibat kelainan

sistemik yang akan mengenai kedua mata atau kelainan lokal yang akan mengenai satu mata. f. Katarak diabetika Katarak diabetika adalah katarak yang disebabkan oleh penyakit diabetes. 4. Penyebab/faktor predisposisi Proses penuaan Paparan jangka sinar ultra violet jangka panjang,. Penggunaan obat obatan tertentu, khususnya steroid Penyakit tertentu, seperti diabetes Trauma pada mata, Infeksi firus di masa pertumbuhan janin, Kelainan sistemik atau metabolic, Terapi kortikosteroid sistemik Factor keturunan Cacat bawaan sejak lahir

5. Patofisiologi Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih, transparan, berbentuk kancing baju, mempunyai kekuatan refraksi yang besar. Lensa mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nukleuas, di perifer ada korteks, dan yang mengelilingi keduanya adalah kapsul anterior dan posterior. Dengan bertambah usia, nucleus mengalami perubahan warna menjadi coklat kekuningan. Di sekitar opasitas terdapat densitas seperti duri di anterior dan posterior nucleus. Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna namapak seperti kristal salju pada jendela. Perubahan fisik dan Kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi, perubahan pada serabut halus multiple (zunula) yang memanjang daari badan silier ke sekitar daerah di luar lensa Misalnya dapat menyebabkan penglihatan mengalami distorsi. Perubahan Kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi. Sehingga mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal terjadi disertai influks air ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa

yang tegang dan mengganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya usia darn tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita katarak. Katarak biasanya terjadi bilateral, namun mempunyai kecepatan yang berbeda. Dapat disebabkan oleh kejadian trauma maupun sistematis, seperti DM, namun sebenarnya merupakan konsekuensi dari proses penuaan yang normal. Kebanyakan katarak berkembang secara kronik dan matang ketika orang memasuki decade ke tujuh. Katarak dapat bersifat congenital dan harus diidentifikasi awal, karena bila tidak didiagnosa dapat menyebabkan ambliopia dan kehilangan penglihatan permanen. Faktor yang paling sering yang berperan dalam terjadinya katarak meliputi radiasi sinar ultraviolet B, obat-obatan, alcohol, merokok, DM, dan asupan vitamin antioksidan yang kurang dalam jangka waktu lama. 6. Gejala klinis Gatal gatal pada mata Air mata mudah keluar Pada malam hari penglihatan terganggu Pandangan kabur yang tidak dapat dikoreksi dengan kaca mata atau ukuran kaca mata yang sering berubah. Pupil yang normalnya berwarna hitam, menjadi berwarna kekuningan, abu abu, atau putih Sulit saat membaca atau mengemudi di malam hari. Dapat melihat dobel pada satu mata Penurunan tajam penglihatan secara progresif dan penglihatan seperti berasap Setelah katarak bertambah matang, maka retina menjadi semakin sulit dilihat, akhirnya reflek fundus tiidak ada, dan pupil berwarna putih.

7. Pemeriksaan Fisik a. Inspeksi Kekeruhan pada daerah pupil Hilangnya reflek fundus saat pemerikasaan menggunakan oftalmoskop

8. Pemeriksaan Diagnosrik Kartu mata Snellen atau mesin Telebinokular (tes ketajaman penglihatan dan sentral penglihatan) : mungkin terganggu dengan kerusakan kornea, lensa, akueus, atau vitreus humor, kesalahan refraksi atau penyakit system saraf atau penglihatan ke retina atau jalan optik. A-scan ultrasound dan hitung sel endotel sangat berguna sebagai alat diagnostic, khususnya bila dipertimbangkan akan dilakukan pembedahan. Dengan hitung sel endotel 2000 sel/mm3, pasien ini merupakan kansidat yang baik untuk dilakukan fokoemulsifikasi dan amplantasi IOL. Lapang penglihatan : penurunan mungkin disebabkan oleh CSV, massa tumor pada hipofisis/ otak, karotis atau patologis arteri serebral atau glaukoma. Pengukuran tonografi : mengkaji intraorkuler (TIO) (NORMAL 12-25 mm Hg). Pengukuran gonioskopi : membantu membedakan sudut terbuka atau sudut tertutup glaukoma. Test provokatif : digunakan dalam menentukan adanya/tipe glaukoma bila TIO normal atau hanya meningkat ringan. Pemeriksaan oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, mencatat atropi lepeng optik, papiledema, pendarahan retina,dan mikroaneurisme. Dilatasi dan pemeriksaan belahan-lampu memastikan diagnosa katarak. Darah lengkap, laju sedimentasi (LED) : menunjukan anemia sistemik/ infeksi. EKG, kolestrol serum, dan pemeriksaan lipid : dilakukan untuk memastikan arterosklerosis, PAK. Test toleransi glaukosa/ FBS : menentukan adanya/kontrol diabetes.

9. Diagnosis/kriteria diagnosis Diagnosis katarak didapat dari gejala gejala (anamnesis) dan pemeriksaan fisik.

10. Therapy/tindakan penanganan Pembedahan dilakukan bila tajam penglihatan sudah menurun sedemikian rupa sehingga mengganggu pekerjaan sehari hari atau bila telah menimbulkan penyulit, seperti glaucoma dan uveitis. Macam macam pembedahan yang dapat dilakukan antara lain :

Ekstraksi katarak intrakapsuler : Merupakan pengangkatan seluruh lensa sebagai satu kesatuan. Setelah zonula dipisahkan, lensa di angkat dengan cryoprobe yang diletakkan secara langsung pada kapsula lentis.

Ekstraksi Katarak Ekstrakapsuler : Merupakan tehnik yang lebih disukai dan mencapai sampai 98% pembedahan katarak. Mikroskop digunakan untuk melihat mata selama pembedahan.

Fakoemulsifikasi Merupakan penemuan terbaru pada ekstraksi ekstrakapsuler cara ini memungkinkan pengambilan lensa melalui insisi yang lebih kecil dengan menggunakan alat ultrason frekuensi tinggi untuk memecah nucleus dan korteks lensa menjadi partikel kecil yang lebih pendek dan penurunan insidensi astigmatisme pasca operasi.

Pengangkatan lensa Karena lensa kristalina bertanggung jawab terhadap sepertiga kekuatan focus mata, maka bila lensa di angkat, pasien memerlukan koreksi optikal. Koreksi ini dapat dilakukan dengan salah satu metode dari 3 metode yaitu: a. Kaca mata apakia : mampu memberikan pandangan sentral yang baik, namun pembesaran 25% sampai 30% menyebabkan penurunan dan distorsi pandangan perifer spasial, membuat benda -benda nampak jauh lebih dekat dari yang sebenarnya. b. Lensa kontak : jauh lebih nyaman dari kaca mata apakia, tidak terjadi pembesaran yang bermakna (5% sampai 10%), tidak terdapat aberasi sferis, tidak ada penurunan lapang pandangan dan tak ada kesalahan orientasi spasial. c. Implan lensa Intraokuler : memberikan alternative bagi lensa apakia yang tebal dan berat, untuk mengobati penglihatan pasca operasi.

11. Komplikasi Endoftalmitis Edema kornea Distorsi atau terbukanya luka operasi Bilik mata depan dangkal

Glaucoma Uveitis Dislokasi lensa intraokuler Perdarahan segmen anterior atau posterior Ablasio retina Sisa massa lensa Robek kapsul posterior Prolaps vitreous

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian : Data subyektif : Pre operasi : Pasien mengeluh penglihatan kabur Pasien mengeluh silau pada siang hari Pasien mengeluh gatal gatal pada mata dan air mata mudah keluar Pasien mengeluh melihat dobel pada satu mata

Post operasi : Pasien mengeluh nyeri pada bagian mata yang dioperasi

Data obyektif : Pre operasi : Adanya pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak dengan oftalmoskop. Tidak ada reflex fundus

Post operasi : Pasien nampak meringis Skala nyeri pasien: 7

2. Diagnosa Keperawatan Pre Op: a. Gangguan persepsi sensori- perseptual penglihatan berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori b. Resiko cedera berhubungan dengan kerusakan fungsi sensori penglihatankehilangan vitreus, pandangan kabur

Post Op: a. Nyeri akut berhubungan dengan trauma insisi b. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur tindakan invasif insisi jaringan tubuh

3. Perencanaan Pre Operasi Diagnosa Gangguan sensoripenglihaan berhubungan dengan Tujuan Kriteria Hasil Setelah diberikan perawatan Mandiri: Tentukan Intervensi Mandiri ketajaman Untuk mengetahui keadaan pasien mengidentifikasi serta lebih Rasional

persepsi Meningkatkan

perseptual ketajaman penglihatan ....x 24 jam, diharapkan pasien pasien: Mampu dengan baik melihat

penglihatan, catat apakah satu atau kedua mata yang terlibat

gangguan penerimaan sensori/ status organ indera

lanjut kebutuhan pasien keamanan

Orientasikan klien terhadap Meningkatkan lingkungan. Pendekatan dari sisi yang Komunikasi tak dioperasi, bicara dengan menyentuh. disampaikan mudah jelas

mobilitas dalam lingkungan yang dapat lebih dengan

diterima

Perhatikan tentang suram Cahaya kuat menyebabkan atau penglihatan kabur dan iritasi mata, dimana dapat terjadi bila menggunakan tetes mata rasa tak nyaman setelah penggunaan dilator tetes mata

Ingatkan menggunakan katarak yang

klien Membantu kacamata tujuannnya pasien

penglihatan

memperbesar kurang lebih 25%, penglihatan perifer hilang Resiko berhubungan kerusakan cedera Menghindari Setelah diberikan ....x24 tidak asuhan jam, terjadi Berikan bersandar, dan buta titik posisi Posisi menentukan tingkat tinggi, keyamnan pasien

mungkin ada. klien kepala dengan terjadianya cedera pada keperawatan fungsi klien diharapkan

atau miring ke sisi yang tak sakit sesuai keinginan. Batasi aktifitas seperti Aktivitas mampu berlebihan meningkatkan

sensori penglihataankehilangan vitreus,

cedera pada klien.

pandangan kabur

menggerakkan kepala tibatiba, menggaruk mata,

tekanan intra okuler mata

membongkok Observasi hifema dengan Kondisi mata post operasi senter sesuai indikasi mempengaruhi visus pasien

Post Operasi Diagnosa Nyeri berhubungan trauma insisi Tujuan akut Nyeri pasien berkurang dengan Kriteria Hasil Setelah diberikan tindakan Mandiri: keperawatan selama ...x24 Berikan pasien kesempatan jam, diharapkan pasien: Skala nyeri pasien < 7 Pasien tidak tampak meringis Kolaborasi: Kolaborasi analgesic Resiko tinggi infeksi Infeksi tidak terjadi berhubungan prosedur dengan tindakan lingkungan asuhan Ciptakan ruangan yang bersih dan keperawatan selama ...x24 bebas dar kontaminasi jam diharapkan tidak terjadi Setelah diberikan infeksi pada daerah insisi post operasi katarak dunia luar Jaga area kesterilan luka operasi Mencegah pathogen. kontaminasi pemberian Ajarkan relaksasi pasien tindakan untuk istirahat Intervensi Mandiri: Istirahat dapat Rasional

mengurangi rasa nyeri pasien Menurunkan tegangan

otot pasien, yang dapat menurunkan nyeri. Membantu pereda nyeri. Mencegah mengurangi kuman dan transmisi sebagai intensitas

invsif insisi jaringan tubuh