Anda di halaman 1dari 10

A. Tanda-tanda Kiamat Wahai Rasulullah, kapan terjadi kiamat? Rasulullah Saw.

menjawab, Yang ditanya tidaklah lebih tahu dari yang bertanya. Akan tetapi aku akan sampaikan ciri-cirinya. Jika seorang perempuan melahirkan majikannya. Itulah tanda kiamat. Dan jika orang tanpa alas kaki dan telanjang menjadi pemimpin, itulah di antara tandanya yang merupakan lima hal yang tidak mengetahuinya selain Allah. Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (H.R. Bukhari) Tidak satu pun selain Allah yang mengetahui kapan persisnya terjadi hari kiamat. Siapa pun yang mengklaim mengetahui waktu terjadinya kiamat, pastilah bohongnya, meskipun dia mengemukakan hitungan-hitungan yang tampak ilmiah. Hal ini ditegaskan dalam Firman Allah Swt. Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: Bilakah terjadinya? Katakanlah: Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Rabb-ku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba. (Q.S. Al-Araf [7]: 187) Meski kiamat tidak dapat diketahui pasti kedatangannya, namun sejauh yang dijelaskan dalam Al-Quran dan sunnah, kita wajib mengimani tanda-tandanya. Rasulullah Saw. dalam banyak hadits telah menyebutkan beberapa tanda kiamat shugra (kecil) yang sebagian besarnya berkisar pada kerusakan manusia di akhir zaman, munculnya fitnah-fitnah (bencana-bencana) di tengah mereka, dan jauhnya mereka dari petunjuk Allah serta jalan para Rasul.

Tentang kiamat shugra, terdapat banyak hadits shahih yang menjelaskan hal itu. Salah satu diantaranya adalah hadits yang memuat dialog antara Jibril dan Rasulullah Saw. seperti tersebut di atas. Makna perempuan melahirkan majikannya dalam hadits tersebut di atas adalah durhakanya anak kepada ibunya. Sedangkan makna jika orang tanpa alas kaki dan telanjang menjadi pemimpin, sebagaimana dijelaskan ahli tafsir AlQurthubi, adalah terjadinya perubahan situasi yang membuat orang-orang dari desa (yang semula papa) memimpin negara dengan cara tiran, lalu harta mereka menjadi melimpah-ruah, serta obsesi mereka tidak lebih dari membangun gedung-gedung dan berbangga-bangga dengannya. Hadits lain, dari Anas Bin Malik (semoga Allah merihdoinya), menyampaikan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, Kapan terjadi kiamat? Rasulullah Saw. menjawab, Jika amanah disia-siakan maka tunggulah kehancuran. Ia bertanya, Bagaimana menyia-nyiakan amanah itu? Beliau menjawab, Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah saat kehancuran. (H.R. Bukhari) Itulah hadits-hadits yang menerangkan bahwa terjadinya kiamat ditandai dengan kehancuran moral dan perilaku manusia. Di samping hadits-hadits yang disebut di atas, masih banyak lagi hadits-hadits shahih lainnya yang menyebutkan tanda-tanda lain kiamat yang muncul sebelum terjadinya kiamat. Mengenai tanda-tanda kiamat kubra, sepuluh di antaranya telah disebutkan dalam beberapa hadits-hadits shahih seperti hadits Hudzaifah Bin Usaid Al-Ghifari yang mengatakan: Nabi Saw. datang kepada kami, sementara kami tengah berbincang-bincang. Beliau bertanya, Apa yang sedang kalian perbincangkan? Mereka menjawab, Kami sedang membicarakan masalah hari kiamat. Rasulullah Saw. berkata, Sesungguhnya kiamat tidak akan terjadi hingga kalian sebelumnya- melihat sepuluh tanda. Lalu beliau menyebut asap, dajjal, binatang, terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa Bin Maryam, Yajuj, Majuj dan terjadi tiga kegelapan: kegelapan di timur, kegelapan di barat, dan kegelapan di jazirah Arab. Dan akhir

dari semua itu adalah keluarnya api dari Yaman yang menggiring manusia ke tempat perhimpunannya. (H.R. Muslim) Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah para imam yang menyesatkan. (HR. Ahmad).1 Para imam yang menyesatkan yang menyeru manusia kepada pintupintu neraka, sebagaimana yang diisyaratkan dalam hadis Hudzaifah: Aku berkata, Apakah setelah kebaikan itu akan ada lagi keburukan? Beliau menjawab, Iya, yaitu akan ada para penyeru kepada pintu-pintu Jahannam, siapa yang mengikutinya akan dilemparkan ke dalamnya. Aku berkata, Wahai Rasulullah, sifatkan mereka kepada kami? Beliau menjawab, Mereka dari kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita (umat Islam pen.). (HR. Bukhari dan Muslim).2 Terlebih di zaman ini, para imam yang menyesatkan amat banyak, terutama kaum Liberal dan antek-anteknya, yang berusaha merusak aqidah Islam dan melontarkan syubhat-syubhat yang dahsyat dengan berbagai macam cara, semoga Allah menghancurkan mereka dan memberikan sanksi yang setimpal dengan kejahatan mereka.

B. Pemimpin yang Sesat Menyesatkan . 1865- Dari Anas bin Malik RA, dia berkata, "Ketahuilah, saya akan memberitahukan kepada kalian suatu hadits yang pernah saya dengar dari Rasulullah SAW di mana tidak akan ada seorangpun yang menceritakan kembali kepada kalian
1 2

Al musnad no 27525 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam shahih Jami no 1551. Bukhari no 7084 dan Muslim 3/1475 no 1847.

sepeninggal saya kelak, Beliau telah bersabda, 'Di antara tanda-tanda kiamat adalah hilangnya ilmu {keislaman}, maraknya kebodohan, merajalelanya perzinaan, banyaknya orang yang meminum minuman keras, berkurangnya populasi kaum pria dan bertambahnya kaum wanita, hingga akhirnya seorang pria akan menjadi penanggung jawab bagi lima puluh orang wanita. {Muslim 8/58}

3. Hilangnya Ilmu dan Maraknya Kebodohan Diantara tanda-tanda Kiamat adalah hilangnya ilmu dan menyebarnya kebodohan. Dijelaskan dalam ash-Shahiihain dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

.
Di antara tanda-tanda Kiamat adalah hilangnya ilmu dan tersebarnya kebodohan.3 Al-Bukhari meriwayatkan dari Syaqiq, beliau berkata, Aku pernah bersama Abdullah dan Abu Musa, keduanya berkata, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

.
Sesungguhnya menjelang datangnya hari Kiamat akan ada beberapa hari di mana kebodohan turun dan ilmu dihilangkan.4 Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

.
Zaman saling berdekatan, ilmu dihilangkan, berbagai fitnah bermunculan, kebakhilan dilemparkan (ke dalam hati), dan pembunuhan semakin banyak.5
Shahiih al-Bukhari, kitab al-Ilmu bab Raful Ilmi wa Zhuhuurul Jahli (I/178, al -Fath), dan Shahiih Muslim, kitab al-Ilmi bab Raful Ilmi wa Qabdhahu wa Zhuhuurul Jahli wal Fitan fi Aakhiriz Zamaan (XVI/222, Syarh an-Nawawi). 4 Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan bab Zhuhuuril Fitan (XIII/13, al-Fath).
3

Ibnu Baththal berkata, Semua yang terkandung dalam hadits ini termasuk tanda-tanda Kiamat yang telah kita saksikan secara jelas, ilmu telah berkurang, kebodohan nampak, kebakhilan dilemparkan ke dalam hati, fitnah tersebar dan banyak pembunuhan. 6 Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengomentari ungkapan itu dengan perkataannya, Yang jelas, sesungguhnya yang beliau saksikan adalah banyak disertai adanya (tanda Kiamat) yang akan datang menyusulnya. Sementara yang dimaksud dalam hadits adalah kokohnya keadaan itu hingga tidak tersisa lagi keadaan yang sebaliknya kecuali sangat jarang, dan itulah isyarat dari ungkapan dicabut ilmu, maka tidak ada yang tersisa kecuali benar-benar kebodohan yang murni. Akan tetapi hal itu tidak menutup kemungkinan adanya para ulama, karena mereka saat itu adalah orang yang tidak dikenal di tengah-tengah mereka. 7

4. Tercabutnya Ilmu dan Wafatnya Ulama Dicabutnya ilmu terjadi dengan diwafatkannya para ulama. Dijelaskan dalam hadits dari Abdullah bin Amr bin al-Ash Radhiyallahu anhuma, beliau berkata, Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

.
Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain.8

Shahiih Muslim, kitab al-Ilmi bab Raful Ilmi (XVI/222-223, Syarh an-Nawawi) Fat-hul Baari (XIII/16). 7 Ibid. 8 Shahiih al-Bukhari, kitab al-Ilmi, bab Kaifa Yuqbadhul Ilmi (I/194, al-Fath), dan Shahiih Muslim, kitab al-Ilmi, bab Raful Ilmi wa Qabdhahu wa Zhuhuurul Jahli wal Fitan (XVI/223-224, Syarh an-Nawawi).
6

An-Nawawi rahimahullah berkata, Hadits ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan mencabut ilmu dalam hadits-hadits terdahulu yang mutlak bukan menghapusnya dari hati para penghafalnya, akan tetapi maknanya adalah pembawanya meninggal, dan manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemutus hukum yang memberikan hukuman dengan kebodohan mereka, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.9 Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu al-Qur-an dan as-Sunnah, ia adalah ilmu yang diwariskan dari para Nabi Allaihissallam, karena sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, dan dengan kepergian (wafat)nya mereka, maka hilanglah ilmu, matilah Sunnah-Sunnah Nabi, muncullah berbagai macam bidah dan meratalah kebodohan. Adapun ilmu dunia, maka ia terus bertambah, ia bukanlah makna yang dimaksud dalam berbagai hadits. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

.
Lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain. Kesesatan hanya terjadi ketika bodoh terhadap ilmu agama. Para ulama yang sebenarnya adalah mereka yang mengamalkan ilmu mereka, memberikan arahan kepada umat, dan menunjuki mereka jalan kebenaran dan petunjuk, karena sesungguhnya ilmu tanpa amal adalah sesuatu yang tidak bermanfaat, bahkan akan menjadi musibah bagi pemiliknya. Dijelaskan pula dalam riwayat al-Bukhari:

.
Dan berkurangnya pengamalan.10

Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (XVI/223-224). Shahiih al-Bukhar, kitab al-Adab, bab Husnul Khuluq was Sakhaa wa Ma Yukrahu minal Bukhli (X/456, al-Fath).
10

Imam adz-Dzahabi rahimahullah ulama besar ahli tarikh (sejarah) Islam berkata setelah memaparkan sebagian pendapat ulama, Dan mereka tidak diberikan ilmu kecuali hanya sedikit saja. Adapun sekarang, maka tidak tersisa dari ilmu yang sedikit itu kecuali sedikit saja pada sedikit manusia, sungguh sedikit dari mereka yang mengamalkan ilmu yang sedikit tersebut, maka cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita.11 Jika hal ini terjadi pada masa Imam adz-Dzahabi, maka bagaimana pula dengan zaman kita sekarang ini? Karena setiap kali zaman itu jauh dari masa kenabian, maka ilmu pun akan semakin sedikit dan banyak kebodohan. Sesungguhnya para Sahabat Radhiyallahu anhum adalah orang yang paling tahu dari umat ini, kemudian para Tabiin, lalu orang yang mengikuti mereka, dan merekalah sebaik-baik generasi, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

.
Sebaik-baiknya manusia adalah pada masaku, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya.12 Ilmu senantiasa terus berkurang, sementara kebodohan semakin banyak, sehingga banyak orang yang tidak mengenal kewajiban-kewajiban dalam Islam. Diriwayatkan dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

k : : : : :
Tadzkiratul Huffaazh (III/1031). Shahiih Muslim, kitab Fadhaa-ilush Shahaabah Tsummal Ladziina Yaluu-nahum (XVI/86, Syarh an-Nawawi).
12 11

: ! .
Islam akan hilang sebagaimana hilangnya hiasan pada pakaian sehingga tidak diketahui lagi apa itu puasa, tidak juga shalat, tidak juga haji, tidak juga shadaqah. Kitabullah akan diangkat pada malam hari hingga tidak tersisa di bumi satu ayat pun, yang tersisa hanyalah beberapa kelompok manusia: Kakek-kakek dan nenek-nenek, mereka berkata, Kami men-dapati nenek moyang kami (mengucapkan) kalimat ini, mereka mengucapkan, Laa ilaaha illallaah, maka kami pun mengucapkannya. Lalu Shilah berkata kepadanya, (Kalimat) Laa Ilaaha Illallaah tidak berguna bagi mereka, sedangkan mereka tidak mengetahui apa itu shalat, tidak juga puasa, tidak juga haji, dan tidak juga shadaqah. Lalu Hudzaifah berpaling darinya, kemudian beliau mengulang-ulangnya selama tiga kali. Setiap kali ditanyakan hal itu, Hudzaifah berpaling darinya, lalu pada ketiga kalinya Hudzaifah menghadap dan berkata, Wahai Shilah, kalimat itu menyelamatkan mereka dari Neraka (sebanyak tiga kali). Abdullah bin Masud Radhiyallahu anhu berkata:

.
Sungguh, al-Qur-an akan dicabut dari pundak-pundak kalian, dia akan diangkat pada malam hari, sehingga ia pergi dari kerongkongan orang-orang. Maka tidak ada yang tersisa darinya di bumi sedikit pun. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, Di akhir zaman (al-Qur-an) dihilangkan dari mushhaf dan dada-dada (ingatan manusia), maka tidak ada yang tersisa satu kata pun di dada-dada manusia, demikian pula tidak ada yang tersisa satu huruf pun dalam mushhaf. 13

13

Majmuu al-Fataawaa (III/198-199).

Lebih dahsyat lagi dari hal ini adalah Nama Allah tidak disebut lagi di atas bumi. Sebagaimana dijelaskan di dalam hadits Anas Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

: .
Tidak akan datang hari Kiamat hingga di bumi tidak lagi disebut: Allah, Allah. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, Ada dua pendapat tentang makna hadits ini: Pendapat pertama : Bahwa seseorang tidak mengingkari kemunkaran dan tidak melarang orang yang melakukan kemunkaran. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengibaratkannya dengan ungkapan tidak lagi disebut: Allah, Allah sebagaimana dijelaskan sebelumnya dalam hadits Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma :

. Maka yang tersisa di dalamnya (bumi) hanyalah orang-orang bodoh yang tidak mengetahui kebenaran dan tidak mengingkari kemunkaran. Pendapat kedua : Sehingga tidak lagi disebut dan dikenal Nama Allah di muka bumi. Hal itu terjadi ketika zaman telah rusak, rasa kemanusiaan telah hancur, dan banyaknya kekufuran, kefasikan juga kemaksiatan. 14

14

An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/186) tahqiq Dr. Thaha Zaini.

DAFTAR PUSTAKA Al musnad no 27525 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam shahih Jami no 1551. An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/186) tahqiq Dr. Thaha Zaini. Bukhari no 7084 dan Muslim 3/1475 no 1847. HR. Ath-Thabrani, dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi kitab-kitab ashShahiih, selain Syaddad bin Maqal, ia adalah tsiqat (Majmauz Zawaa -id VII/329-330). Ibnu Hajar berkata, Sanadnya shahih, akan tetapi hadits ini mauquf. (Fat-hul Baari XIII/16). Majmuu al-Fataawaa (III/198-199). Musnad Ahmad (XI/181-182, Syarh Ahmad Syakir Shahiih al-Bukhari, kitab al-Ilmu bab Raful Ilmi wa Zhuhuurul Jahli (I/178, alFath), dan Shahiih Muslim, kitab al-Ilmi bab Raful Ilmi wa Qabdhahu wa Zhuhuurul Jahli wal Fitan fi Aakhiriz Zamaan (XVI/222, Syarh an-Nawawi). Shahiih al-Bukhari, kitab al-Adab, bab Husnul Khuluq was Sakhaa wa Ma Yukrahu minal Bukhli (X/456, al-Fath). Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan bab Zhuhuuril Fitan (XIII/13, al-Fath). Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab Dzahaabul Iimaan Akhiraz Zamaan (II/ Shahiih Muslim, kitab al-Ilmi bab Raful Ilmi (XVI/222-223, Syarh an-Nawawi). Fat-hul Baari (XIII/16). Shahiih Muslim, kitab Fadhaa-ilush Shahaabah Tsummal Ladziina Yaluu-nahum (XVI/86, Syarh an-Nawawi). Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (XVI/223-224). Tadzkiratul Huffaazh (III/1031).

10