Anda di halaman 1dari 24

RENCANA PENELITIAN STRATEGI PENGEMBANGAN TANAMAN KELAPA DI DESA PUNGGUR KECIL KECAMATAN SUNGAI KAKAP KABUPATEN KUBU RAYA

OLEH

CECE LILI WARLIA NIM. 11.10. 32. 1722

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PANCA BHAKTI 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan satu diantara negara agraris yang kehidupan

perekenomiannya tidak bisa lepas dari sektor pertanian. Perkembangan ekonomi Indonesia yang akhir-akhir ini cenderung mengalami pergeseran sektoral dari sektor pertanian ke sektor non pertanian tidak berarti mengabaikan sektor pertanian. Sektor pertanian tetap memegang peranan penting, karena berperan sebagai penyedia bahan pangan bagi seluruh masyarakat, di sisi lain menopang pertumbuhan industri dalam hal penyediaan bahan baku industri dan mendorong pemerataan pertumbuhan dan dinamika pedesaan. Luas wilayah tanaman kelapa di Indonesia merupakan luas areal kelapa terbesar di dunia. Berdasarkan Coconut Statistical Yearbook 2009 Asean Pasific Coconut Community (APCC), total luas perkebunan kelapa Indonesia pada tahun 2009 mencapai 3,85 juta ha atau mencapai 31,6% dari total luas areal kelapa di dunia sekitar 12,17 juta ha dan sebagian besarnya (98%) merupakan perkebunan rakyat. Persebaran kelapa tersebut hampir merata di seluruh Indonesia, dengan sebaran terbanyak berada di Sumatera yang mencapai 32,4%, Jawa 21,8%, Sulawesi 20%, Maluku dan Papua 9,2%, Nusa Tenggara 7,5%, Kalimantan 7,3%, dan Bali sebesar 1,8% . Tanaman kelapa disebut juga tanaman serbaguna, karena dari akar sampai ke daun kelapa bermanfaat, demikian juga dengan buahnya. Buah adalah bagian utama dari tanaman kelapa yang berperan sebagai bahan baku industri. Buah kelapa terdiri dari beberapa komponen yaitu sabut kelapa, tempurung kelapa, daging buah kelapa dan air kelapa. Daging buah adalah komponen utama yang dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi tinggi. Sedangkan air, tempurung, dan sabut sebagai hasil samping (by product) dari buah kelapa juga dapat diolah menjadi berbagai produk yang nilai ekonominya tidak kalah dengan daging. Demikian juga dengan Kalimantan Barat, perkebunanan kelapa merupakan komoditas perkebunan nomor 3 setelah Kelapa Sawit dan Karet. Perkebunan Kelapa dalam, banyak tersebar di wiliyah pesisir Kalimatan Barat dan merupakan perkebunan yang dikelola oleh rakyat. Satu diantara wilayah penghasil kelapa

(kopra) untuk Kalimantan Barat adalah Kabupaten Kubu Raya dengan luas areal perkebunan mencapai 5.467.Ha dengan jumlah petani 5.868.KK Luas areal dan jumlah produksi komoditi perkebunan di Kalimantan Barat khususnya komoditi kelapa mempunyai potensi yang sangat besar apabila dapat dikembangkan sehingga bisa membantu petani di Kalimantan Barat untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini : Tabel 1. Luas Areal, dan Jumlah Produksi Komoditi Perkebunan di Kalimantan Barat. Tahun 2012.
LUAS AREAL MENURUT KOMPOSISI TANAMAN (Ha) KOMODITI Tanaman Tanaman Tanaman Muda Menghasilkan Tua/Rusak Karet 191.236 300.895 96.098 Kelapa Dalam 13.065 69.088 18.317 Kelapa Hybrida 0 4.971 2.800 Kelapa Sawit 457.316 420.710 2.741 Kakao 6.340 4.496 1.389 Lada 1.883 4.544 1.920 Kopi 1.459 7.121 3.970 Cengkeh 142 607 163 Kemiri 1.036 443 145 Pinang 1.203 1.037 406 Tebu 288 228 6 Sagu 829 650 0 Kapuk 107 229 50 Jarak 11 11 69 Enau/Aren 270 490 210 Pala 7 14 0 Grand Total 675.192 815.534 128.284 Sumber : Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Barat. JUMLAH LUAS AREAL (Ha) 588.229 100.470 7.771 880.767 12.225 8.347 12.550 912 1.624 2.646 522 1.479 386 91 970 21 1.619.010 JUMLAH PRODUKSI (Ton/Tahun) 249.539 73.964 4.206 967.626 2.565 4.123 4.153 202 234 1.017 445 181 10 5 57 3 1.308.330 JUMLAH PETANI (KK) 314.163 67.869 12.021 93.002 12.869 19.727 22.722 1.096 2.479 7.156 1.308 2.483 1.494 132 2.586 64 561.170

Tanaman kelapa dalam di Kalimantan Barat umumnya menyebar di semua daerah kabupaten yang ada, sehingga tanaman kelapa cukup potensial untuk dikembangkan, sedangkan Kabupaten Kubu Raya memiliki produksi kelapa yang besar untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini :

Tabel 2. Luas Areal, dan Jumlah produksi Tanaman Kelapa Dalam di Kalimantan Barat Tahun 2012. LUAS AREAL MENURUT JUMLAH JUMLAH JUMLAH KOMPOSISI TANAMAN (Ha) LUAS KOMODITI PRODUKSI PETANI Tanaman Tanaman Tanaman AREAL (Ton/Tahun) (KK) (Ha) Muda Menghasilkan Tua/Rusak Pontianak 0 404 184 588 369 506 Landak 0 0 0 0 0 0 Sambas 0 69 54 123 44 459 Bengkayang 0 96 61 157 57 708 Singkawang 0 17 23 40 14 46 Sanggau 0 149 59 208 94 1.447 Sekadau 0 0 0 0 0 0 Sintang 0 639 216 855 235 1.710 Melawi 0 0 0 0 0 0 Kapuas Hulu 0 0 0 0 0 0 Ketapang 0 71 36 107 34 806 Kayong Utara 0 141 85 226 144 471 Kubu Raya 0 3.385 2.082 5.467 3.215 5.868 Grand Total 0 4.971 2.800 7.771 4.206 12.021 Sumber : Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Barat. Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya memiliki produksi kelapa yang tinggi disamping Kecamatan Batu Ampar dan Kecamatan Teluk Pakedai, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3 dan 4 berikut ini : Tabel 3. Luas Areal, dan Jumlah Produksi Tanaman Kelapa Dalam di Kabupaten Kubu Raya Tahun. 2012.
LUAS AREAL MENURUT KOMPOSISI TANAMAN (Ha) Tanaman Tanaman Tanaman Muda Menghasilkan Tua/Rusak 142 129 60 357 4.878 936 1.824 16.113 882 462 6.664 418 788 1.246 42 74 631 717 66 70 4 3.713 29.731 3.059 JUMLAH LUAS AREAL (Ha) 331 6.171 18.819 7.544 2.076 1.422 140 36.503 JUMLAH PRODUKSI (Ton/Tahun) 356 5.236 18.702 9.154 1.100 429 11 34.988 JUMLAH PETANI (KK) 421 2.687 5.816 3.210 1.248 850 155 14.387

KECAMATAN Rasau Jaya Sui. Ambawang Teluk Pakedai Sungai Kakap Batu Ampar Kuala Mandor B Kubu Sui. Raya Terentang Grand Total

Sumber : Disbunhutamben Kabupaten Kubu Raya.

Tabel 4. Luas Areal, dan Jumlah Produksi Tanaman Kelapa Dalam di Kecamatan Sungai Kakap Tahun 2012. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Desa Sungai Kakap Sungai Itik Jeruju Besar Sungai Kupah Sungai Rengas Pal IX Sungai Belidak Kalimas Punggur Kecil Punggur Besar Tanjung Saleh Sepok Laut Jumlah LUAS TANAMAN KELAPA DALAM 528 1.088 2.890 1.423 597 1.104 500 1.870 2.542 2.158 3.096 66 18.682 PRODUKSI KOPRA (TON) 0 78 444 228,5 110 165 79 308 469 394 459 9 2.743,5

Sumber : Petugas Statistik Dinas Perkebunan Kecamatan Sui. Kakap.

Berdasarkan tabel 4 diatas, dapat dilihat bahwa Desa Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap mampu memberikan kontribusi yang cukup besar dalam pendapatan asli daerah Kabupaten Kubu Raya. Kelapa sebagai bentuk hasil perkebunan jika diolah dengan perlakuan diversifikasi produk dan memanfaatkan hasil sampingan seperti air kelapa, sabut dan tempurung kelapanya jika dikelola secara terpadu mampu memberikan pendapatan yang lebih tinggi bila dibandingkan jika kelapa itu hanya dijual dalam bentuk buah saja.

B. Masalah Penelitian Keberadaan tanaman kelapa di Desa Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya, sebagai sumber pendapatan masyarakat tani belum dapat memberikan pendapatan yang layak untuk menunjang kebutuhan hidup. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor yang dapat mempengaruhi produksi dan pendapatan petani kelapa. Dari hasil pengamatan awal di lapangan ditemukan beberapa permasalahan sebagai berikut :

1. Umur tanaman sudah mencapai diatas 30 tahun 2. Kelapa dijual dalam bentuk bahan baku dan bahan setengah jadi ( Kelapa bulat dan kopra ) 3. Harga jual yang tidak stabil dalam waktu yang singkat Dari fakta lapangan yang demikian, maka perlu adanya penelitian mengenai strategi pengembangan tanaman kelapa dan produk olahan kelapa yang berbasis agribisnis dan agroindustri terpadu sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani khususnya di Desa Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya. Memperhatikan berbagai permasalahan tersebut di atas, maka perumusan masalah yang akan diangkat dalam rencana penelitian ini adalah: 1. Bagaimana bentuk strategi usahatani kelapa kedepan dalam meningkatkan produktivitas dan pendapatan usaha ? 2. Apa faktor kunci dalam menerapkam strategi pengembangan perkebunan kelapa dalam yang akan datang ? 3. Bagaimana rekomendasi kebijakan dan strategi pengembangan yang dapat diterapkan oleh instansi dan lembaga terkait di masa mendatang ?

C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan informasi kepada para petani kelapa agar bisa meningkatkan pendapatannya melalui strategi pengembangan dan pengelolaan tanaman kelapa dan hasil olahan kelapa yang ada di Desa Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya melalui : 1. Mengidentifikasi faktor kunci strategis pengembangan pengelolaan kebun kelapa rakyat di masa yang akan datang; 2. Merumuskan rekomendasi kebijakan dan strategi pengembangan kelapa dalam di Kecamatan Sungai Kakap.

D. Manfaat Penelitian Manfaat dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi lembaga terkait, petugas lapangan dan kelompok tani dalam memberikan solusi terhadap upaya peningkatan produksi dan pendapatan petani kelapa. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan pertanian, dan pihak-pihak yang berkepentingan berupa 1. Bahan masukan dalam penentuan kebijakan pembangunan perkebunan kelapa dalam di masa mendatang di Kecamatan Sungai Kakap 2. Acuan bagi pengusaha dan masyarakat dalam upaya meningkatkan efisiensi, efektifitas, produktifitas lahan dan pendapatan 3. Sumber informasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan di bidang perkebunan

BAB II KERANGKA PEMIKIRAN

A. Tinjauan Pustaka 1. Tanaman Kelapa (cocos nucifera) Pohon kelapa termasuk jenis Palmae yang berumah satu (monokotil). Batang tanaman tumbuh lurus ke atas dan tidak bercabang. Ada kalanya pohon kelapa dapat bercabang, namun hal ini merupakan keadaan yang abnormal, misalnya akibat serangan hama tanaman (Warisno, 2003). Tanaman kelapa tumbuh di daerah tropis, dapat dijumpai baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Pohon ini dapat tumbuh dan berubah dengan baik di daerah dataran rendah dengan ketinggian 0-450 m dari permukaan laut. Pada ketinggian 450-1000 m dari permukaan laut, walaupun pohon ini dapat tumbuh, waktu berbuahnya lebih lambat, produksinya lebih sedikit dan kadar minyaknya rendah (Amin, 2009). Selanjut nya masih menurut Amin (2009), tanaman kelapa merupakan jenis tanaman palem yang paling dikenal, banyak tersebar di daerah tropis. Kelapa dapat tumbuh di pinggir laut hingga dataran tinggi. Kelapa dapat dibedakan menjadi kelapa varietas dalam dan hibrida. Ada juga yang membedakannya menjadi 3 varietas, yaitu dalam, genjah dan hibrida

2. Produk Olahan Kelapa Kelapa merupakan komoditas strategis yang memiliki peran sosial, budaya, dan ekonomi dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Tanaman kelapa jika diolah dengan baik dapat meningkatkan taraf kehidupan petani. Berbagai produk olahan dapat dimanfaatkan sebagai produk olahan kelapa, diantaranya adalah sebagai berikut : a) Kopra Kopra adalah putih lembaga (endosperm buah kelapa yang sudah dikeringkan dengan sinar matahari ataupun panas buatan. Melalui proses pengeringan ini,diharapkan kadar air putih lembaga (endosperm) dapat diturunkan 50% sekitar 5% - 6%.

Proses pengolahan kopra rakyat cukup sederhana. Pengolahan kopra rakyat dilakukan oleh pabrik pengolahan kopra, dengan bahan baku berasal dari kelapa rakyat. Produktivitas kopra terbatas, dan hasil akhir yang diperoleh pada umumnya belum memenuhi kualitas standar. Adapun urutan pekerjaan yang biasa dilakukan pada pengolahan kopra rakyat adalah : 1. Pengupasan suhu kelapa dilakukan jika kelapa yang digunakan sebagai bahan baku masih berupa kelapa utuh. 2. Pembelahan buah. Buah kelapa yang masih bertempurung di belah menjadi dua bagian dengan menggunakan golok pemukul atau kapak. Air buah kelapa di tampung atau dibiarkan mengalir ke suatu bak penampungan. 3. Pengeringan pendahuluan. Belahan yang masih ada tempurung harus segera di keringkan. Keterlambatan pengeringan dapat menyebabkan terjadinya pertumbuhan mikro organisme (jamur) yang dapat

menurunkan kualitas kopra. Pengeringan yang terbaik dilakukan dengan menggunakan sinar matahari secara langsung, jika cuaca mendung dikeringkan dengan panas buatan. 4. Pelepasan daging buah. Dilakukan dengan menggunakan pisau yang tebal. 5. Pengeringan lanjutan dilakukan dengan sinar matahari atau api sampai kopra benar-benar kering. Pengeringan dengan sinar matahari 5 9 hari dan pengeringan panas buatan 4 5 hari. 6. Dalam pembuatan kopra FMS (Fair Merchantable Sundried) dikenal dua macam rumah pengeringan yaitu lade oven dan plet oven. Lade oven dilakukan dengan cara kopra masih basah disusun dalam kotak yang telah tersedia, kemudian dimasukkan kedalam ruangan yang tertutup; ke dalam ruangan ini dialirkan panas dengan suhu 40 derajat Celcius sampai 80 derajat Celcius. Sedangkan plat oven menggunakan plat besi sebagai media pengaliran panas. Rumah pengeringan terdiri dari dapur dibuat dari batu bara, sebagai tempat pembakaran kayu atau bahan bakar lainnya. Dapur ukuran 10m lebar 3m dan tinggi 1m.

b) Arang Tempurung Arang tempurung dihasilkan dari pembakaran tempurung buah kelapa yang sudah tua, dengan cara dan perlakuan tertentu. Dalam proses pembakaran jumlah udara yang dimasukkan hanya sekedar cukup untuk melaksanakan proses karbonisasi. Dengan demikian udara yang digunakan terbatas jumlahnya. Rendemen arang sekitar 30% dari berat basah tempurung yang digunakan. Arang tempurung termasuk bahan bakar yang memiliki kalori tinggi, banyak digunakan oleh para pandai besi dan digunakan untuk peleburan emas dan perak. Kandungan karbonnya cukup tinggi arang tempurung dapat digunakan sebagai pengisi masker gas beracun. c) Bungkil Kelapa Bungkil kelapa diperoleh dari ampas kopra. Bungkil kelapa mengandung 11% air, minyak 20%, protein 45%, karbohidrat 12 dan 5% abu. Bungkil kelapa banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak karena memiliki kandungan protein yang cukup tinggi. Negara pengimpor bungkil kelapa terbesar adalah Belgia yang mendatangkan bungkil kelapa dari Ceylon rata-rata 24.000 ton per tahun. d) Minyak Kelapa Bungkil kelapa diperoleh dari ampas kopra. Bungkil kelapa mengandung 11% air, minyak Minyak Kelapa adalah minyak nabati yang berasal dari daging buah kelapa tua baik dalam bentuk segar maupun daging kering (kopra). Proses untuk membuat minyak dari daging buah kelapa segar dikenal dengan proses basah (wet process), karena proses ini ditambahkan air untuk mengekstraksi. Minyak kelapa merupakan senyawa netral, larut dalam pelarut minyak yang umumnya tidak larut dalam air. Minyak Kelapa adalah ester dari gliserol dengan berbagai asam monokarboksilat berantai lurus yang dikenal asam lemak yang terbagi dalam asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh (Gazuini, 1993). Menurut Buckle dkk, sifat tidak larut dalam air disebabkan oleh adanya asam lemak berantai karbon panjang dan tidak adanya polar. Sedangkan Maman dan Sherington (1994), menyatakan minyak dan lemak tidak larut dalam air karena adanya substansi tertentu yang di mungkinkan terbentuknya campuran yang stabil antara lemak dan air.

10

Komponen utama penyusun minyak kelapa adalah asam lemak. Berdasarkan kandungan asam lemak, minyak kelapa di golongkan kedalam minyak asam larut karena kandungan asam larut lebih besar dibandingkan dengan asam lemak ketaren. Menurut Winarno (2002), hidrolisis sangat mudah terjadi dalam lemak yang mengandung asam lemak rendah yaitu asam lemak dengan asam karbon kurang dari < C 14 seperti minyak kelapa. Minyak kelapa termasuk dalam golongan asam lemak rantai karbon sedang. Hidrolisis dapat menurunkan mutu/kualitas minyak. Pembuatan minyak kelapa dapat dilakukan dengan bermacam-macam cara namun secara garis besar dapat dibedakan cara tradisional dan cara modern (pabrik). Beberapa cara pembuatan minyak kelapa secara tradisional antara lain: 1. Minyak Entu Pembuatan minyak entu di lakukan dengan cara sebagai berikut: buah kelapa yang sudah tua dikupas serabutnya, dibelah menjadi dua bagian, dan diambil daging buahnya. Daging buah tersebut kemudian di kukus sehingga masak kira-kira setengah jam, hasil pengukusan diperam suatu wadah yang tertutup rapat selama dua hari dua malam, di jemur selama satu atau dua hari, diperas dengan menggunakan tangan atau alat pemeras lain hingga keluar minyaknya. Sisa parutan kelapa yang sudah diperas disebut entu. 2. Minyak klentik Pembuatan minyak klentik dilakukan dengan cara diambil daging buahnya: daging buah tersebut diparut dan diremas-remas dengan air untuk diambil santannya. Santan yang diperoleh di rebus sehingga seluruh kandungan airnya menguap, dan minyaknya berangsur-angsur timbul mengembang ke atas santan. Minyak di pisahkan dan dapat digunakan atau disimpan dalam botol yang bersih. Endapan yang terdapat di bawah minyak disebut blando atau ketis, berasa manis dan dapat digunakan sebagai lauk pauk. 3. Minyak Bledigan Ampas kelapa (kelapa parut yang sudah diambil santannya) masih dapat dimanfaatkan untuk membuat minyak. Pembuatan minyak bledigan dilakukan dengan cara di injak-injak, dan dibiarkan selama beberapa bulan (3-4bulan). Bahan ini biasa gabar dan mempunyai kandungan minyak sekitar

11

5%. Setelah pemerahan, gabar diperas dengan alat pemeras dari kayu didapatkan bledigan. 4. Minyak Batokan Pembuatan minyak batokan dengan cara buah kelapa yang sudah tua di kupas kulitnya dan diambil daging buahnya : daging buah tersebut direndam dalam air selama dua hari dua malam, kemudian di parut dan diambil santannya, santan yang diperoleh direbus atau digoreng hingga keluar minyaknya, sisa santan yang berwarna kelabu selanjutnya dipres dengan menggunakan alat pemeras yang terbuat dari kayu hingga diperoleh minyak. Sisa pengepresan dinamakan ketak enak dimakan dan dapat digunakan sebagai lauk pauk. Pembuatan minyak kelapa di pabrik dapat dilakukan beberapa cara yaitu : 1. Kopra dicuci bersih, kemudian digiling sampai hancur. Kopra yang sudah hancur tersebut dibasahi dengan uap panas, dipanaskan dan akhirnya dipres dengan menggunakan alat hidrolisis dengan tekanan yang sangat tinggi. Dengan cara ini, dapat diperoleh rendaman minyak kelapa yang tinggi yakni sekitar 60%. 2. Kopra dicuci bersih digiling sampai hancur, dan dimasukkan kedalam mesin ekstraksi. Didalam mesin ini minyak diekstraksi dengan menggunakan bensin. Kemudian, minyak yang diperoleh didestilasi untuk memisahkan bensinnya, Dengan cara ini diperoleh rendaman minyak kelapa yang lebih tinggi sekitar 66%-70%. e) Minyak Kelapa Virgin (VCO) Salah satu produk yang dikembangkan dari kelapa adalah dengan munculnya VCO yang cukup menarik perhatian sejumlah kalangan mulai dari konsumen pangan, ahli pangan, pemerintah bahkan kaum jurnalis. Produk yang dapat dihasilkan dari daging kelapa segar adalah Virgin Coconut Oil (VCO) atau minyak kelapa murni. VCO merupakan salah satu minyak yang memiliki banyak manfaat dalam bidang industri maupun kesehatan. Dalam dunia industri, VCO digunakan sebagai bahan dasar kosmetik sedangkan di dunia kesehatan sebagai obat-obatan. Itulah sebabnya permintaan VCO meningkat baik didalam maupun di luar negeri.

12

Minyak Kelapa Virgin (VCO) mengandung aroma khas kelapa, asam lemak bebas yang rendah (kurang dari 0,07 % sebagai asam larut), tanpa pemurnian mengandung jumlah vitamin E yang maksium dan bebas dari kontaminasi aflatoksin. VCO merupakan minyak stabil, minyak ini tidak rusak dengan adanya panas serta tahan terhadap cahaya dan udara, mempunyai titik asap 1980 Celcius dan mengandung vitamin E (Tokoferol) yang berperan menjaga kestabilan minyak dan melindungi dari ketegikan. Sifat VCO dapat disimpan dengan mudah pada suhu kamar selama bertahun-tahun. Adapun standar mutu VCO yang ditetapkan oleh APCC adalah sebagai berikut: 1. Warna (bening) 2. Asam lemak bebas (<0,5%) 3. Bilangan peroksida (< 3 meg/kg) 4. Kadar air ( 0,015%) 5. Total mikroba ( < 10 cfu) Minyak kelapa yang diolah dari daging kelapa segar sudah dapat disebut VCO, hanya saja kualitas hasil pengolahan tradisional kebanyakan dibawah standar mutu yang diinginkan pasar. 1. Komposisi Kimia VCO VCO di bentuk rantai karbon, hydrogen dan oksigen mengandung gugus karboksilat yang disebut asam lemak. Komponen asam lemak akan membentuk gliserida saat bergabung dengan gliserol. Menurut Winarno (2002) gliserida yang umumnya terdapat pada lemak minyak yaitu trigliserida. Trigliserida akan terbentuk bila tiga asam lemak beresterifikasi dengan satu molekul gliserol 2. Manfaat Minyak Kelapa Virgin (VCO) VCO memiliki banyak manfaat dalam dunia industri dan kesehatan. Dalam dunia perindustrian, VCO dapat digunakan sebagai bahan dasar kosmetik. VCO dapat digunakan untuk kulit agar tetap halus, lembut serta untuk rambut agar berkilau. Susunan molekuler VCO memberikan tekstur lembut dan halus pada kulit dan rambut sehingga sekarang industri sabun, sampo, dan produk perawatan tubuh banyak menggunakan VCO.

13

Dalam dunia kesehatan, VCO diyakini dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Suhirman dalam suara pembaharuan (2004)

mengemukakan bahwa VCO dapat digunakan untuk melangsingkan tubuh. Minyak yang beraroma gurih ini diyakini dapat meningkatkan metabolisme tubuh, antivirus/antibakteri serta dapat menanggulangi beraneka macam penyakit, VCO mampu mengatasi penyakit degeneratif seperti diabetes melitus, jantung, kolesterol, osteoporosis, kanker, HIV/AIDS 3. Pengolahan Minyak Kelapa Virgin (VCO) Teknologi pengolahan minyak kelapa yang dikembangkan baik meleui proses tradisional, pengolahan basah, pengolahan kering dan enzimatis. Teknologi pengolahan VCO yang berkembang di Indonesia adalah pemanasan bertahap, pemancingan minyak dan fermentasi. f) Gula Kelapa Gula kelapa yang dikenal juga dengan nama gula jawa atau gula merah adalah salah satu bahan pemanis untuk pangan yang berasal dari pengolahan nira kelapa. Di Indonesia, gula kelapa kebanyakan diperdagangkan dalam bentuk bongkahan padat dengan bangun geometri yang bervariasi tergantung tempat mencetak yang digunakan pada saat pembuatannya. Bahan pembuat gula kelapa adalah nira kelapa. Nira adalah nama umum yang digunakan untuk menamai cairan manis yang diambil (disadap) dari beberapa macam jenis tumbuhan. Tumbuhan yang dapat diambil niranya antara lain adalah kelapa dan aren. Nira kelapa disadap dari mayang (bunga kelapa yang belum mekar) dengan cara memangkas bagian ujungnya sehingga dari luka tersebut keluar cairan bening manis yang disebut nira tersebut. Untuk menjadikan nira menjadi gula kelapa yang berbentuk padatan, dilakukan penguapan terhadap nira sampai kandungan airnya tinggal sedikit sehingga terjadi bentuk padat. Untuk menguapkan airnya, mula-mula nira dipanaskan dalam wadah pemasak di atas api yang besar sehingga mendidih kemudian dipanaskan terus menerus sampai sebagian besar kandungan airnya teruapkan sehingga berubah menjadi adonan yang sangat pekat. Setelah itu pekatan tersebut dibiarkan beberapa waktu agar mendingin lalu dituang ke cetakan dan dibiarkan mendingin lebih lanjut membentuk gula kelapa padat.

14

Gula tersebut masih memiliki kandungan air yang cukup besar sehingga perlu dikeringkan. 2. Analisa SWOT Analisis SWOT adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (Strengths), kelemahan (Weaknesses), peluang

(Opportunities), dan ancaman (Threats) dalam suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis. Keempat faktor itulah yang membentuk akronim SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, dan threats). Proses ini melibatkan penentuan tujuan yang spesifik dari spekulasi bisnis atau proyek dan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mendukung dan yang tidak dalam mencapai tujuan tersebut. Analisis SWOT dapat diterapkan dengan cara menganalisis dan memilah berbagai hal yang mempengaruhi keempat faktornya, kemudian menerapkannya dalam gambar matrik SWOT, dimana aplikasinya adalah bagaimana kekuatan (strengths) mampu mengambil keuntungan (advantage) dari peluang

(opportunities) yang ada, bagaimana cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mencegah keuntungan (advantage) dari peluang (opportunities) yang ada, selanjutnya bagaimana kekuatan (strengths) mampu menghadapi ancaman (threats) yang ada, dan terakhir adalah bagaimana cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mampu membuat ancaman (threats) menjadi nyata atau menciptakan sebuah ancaman baru. (http://id.wikipedia.org/wiki/Analisis_SWOT) Teknik ini dibuat oleh Albert Humphrey, yang memimpin proyek riset pada Universitas Stanford pada dasawarsa 1960-an dan 1970-an dengan menggunakan data dari perusahaan-perusahaan Fortune 500. a) Kekuatan (Strengths) Sumber Daya Manusia ( petani ) sebagai pelaku usaha masih punya semangat untuk berkebun kelapa. Mempunyai lahan untuk berkebun kelapa. Menguasai teknik budidaya tanaman kelapa.

b) Kelemahan (Weaknesses) Kurang memiliki modal dalam bentuk financial Kurang menguasai pasar dan informasi pasar.

15

Belum menjalankan diversifikasi produk

c) Peluang (Opportunities) Permintaan terhadap produk-produk berbahan baku kelapa, baik di pasar lokal, regional maupun nasional masih cukup tinggi. Akses tranfortasi cukup lancar dan memadai.

d) Ancaman (Threats) Persaingan dengan produk vegetable oil lainnya, terutama minyak kelapa sawit. Banyak pohon kelapa sudah berusia tua (tidak produktif), tetapi replantasi berjalan tersendat/lamban, bahkan banyak perkebunan kelapa yang beralih fungsi. Ganngguan Organisme Pengganggu Tumbuhan seperti pernah terjadi eksplotif hama pleisispa sp, pada tahun 2001- 2003.

B. Kerangka Konsep Peningkatan produktivitas pertanian harus dapat menaikan tingkat produksi pertanian sepenuhnya dan sektor pertanian pada umumnya. Peningkatan produksi sepenuhnya dari petani sebagai pelaksana dilapangan sehingga untuk dapat melaksanakan intensifikasi usaha taninya para petani merupakan penunjang pembangunan yang harus dibina oleh pemerintah. Untuk itu para petani dituntut untuk lebih memahami penangan pasca panen dan proses pemasaran. Walaupun produksi yang dihasilkan cukup tinggi, akan tetapi apabila penanganan dalam tataniaganya tidak efisien dan efektif, maka akan berpengaruh terhadap besar kecilnya pendapatan. Bentuk upaya untuk mengatasi pendapatan tersebut, perlu adanya sebuah lembaga pemasaran bersama yang difasilitasi pihak pemerintah atau bergabung ke koperasi, sehingga produk olahan kelapa yang dipasarkan petani dihargai dengan nilai jual yang tinggi, pada gilirannya tingkat kesejahteraan petani dapat tercapai. Pemenuhan sarana produksi pertanian secara optimal sesuai dengan anjuran teknis akan dapat meningkatkan produksi dan pendapatan bagi petani kelapa. Dari kondisi ini akan memberikan dampak positif kepada petani kelapa di Desa Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya.

16

Oleh sebab itu, untuk strategi meningkatkan pengembangan kelapa di Desa Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya peneliti akan menggunakan analisa strenght, weakness, opportunity and threat (SWOT), dimana dengan menggunakan analisis SWOT ini akan didapat strategi yang tepat untuk pengembangan tanaman kelapa bagi petani kelapa di Desa Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya. Dengan menggunakan analisis SWOT ini akan diperoleh data yang membandingkan faktor eksternal peluang (opportunities) dan ancaman (threats) dengan faktor internal kekuatan (strenght) dan kelemahan (weaknesses) dalam pengembangan tanaman kelapa sehingga akan dapat meningkatkan jumlah produksi dan pendapatan petani kelapa khususnya di Desa Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka perlu dilakukan suatu penelitian guna menemukan strategi yang tepat untuk petani kelapa di Desa Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya dengan menggunakan teknik analisis SWOT sehingga diharapkan dengan menggunakan analisis SWOT ini akan didapat strategi yang tepat sehingga dapat meningkatkan produksi dan pendapatan petani kelapa.

17

BAB III METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini dipilih secara sengaja (Purposive), dengan pertimbangan bahwa daerah ini merupakan penghasil kelapa atau daerah usahatani kelapa yang potensial dengan jumlah penduduk yang cukup banyak. Objek penelitian di kawasan ini adalah petani yang mempunyai usaha tani kelapa di Desa Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya. Rencana penelitian ini akan dilaksanakan mulai bulan April sampai Mei 2013 dari pengumpulan data sampai selesai.

B. Bahan dan Alat Bahan dan alat yang dipergunakan dalam mengadakan penelitian adalah alat-alat tulis, kalkulator dan daftar pertanyaan (Quesioner).

C. Cara Pengumpulan Data Kegiatan pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan 2 (dua) cara yaitu : a) Data Primer Data primer diperoleh dari wawancara langsung dengan petani sebagai responden dengan memakai quesioner serta melakukan pengamatan langsung pada daerah penelitian melalui pendekatan dengan metode Focus Group Discusion (FGD) yaitu suatu diskusi yang dilakukan secara sistematis dan terarah mengenai suatu isu atau masalah tertentu dan Participatory Rural Appraisal (PRA) yaitu pendekatan yang digunakan oleh organisasi nonpemerintah (LSM) dan lembaga-lembaga lain yang terlibat dalam pembangunan internasional. Pendekatan ini bertujuan untuk menggabungkan pengetahuan dan pendapat masyarakat pedesaan dalam perencanaan dan pengelolaan proyek dan program pembangunan. b) Data Sekunder Data sekunder diperoleh dari instansi-instansi terkait seperti : Kantor Kepala Desa Punggur Kecil, Cabang Dinas Pertanian Kecamatan Sungai Kakap, Dinas

18

Pertanian Tanaman Pangan Kalimantan Barat, Dinas Perkebunan Kabupaten maupun Provinsi serta melalui pencatatan data pustaka yang lain.

D. Metode Pengambilan Sampel Menurut Sugiyono (2009), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah petani yang mempunyai usahatani kelapa di Desa Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap, sebanyak 370 orang petani kelapa. Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi ( Sugiyono ). Menurut Soeparmoko (2002) apabila sama sekali tidak ada pengetahuan tentang besarnya variance dari populasi, maka cara terbaik adalah cukup dengan mengambil prosentase tertentu, 5%, 10% atau 50% dari seluruh jumlah populasi. Beberapa hal yang dapat dipakai sebagai petunjuk untuk menentukan besarnya persentase ini yaitu : 1. Bila populasi N besar, persentase yang kecil saja sudah dapat memenuhi syarat. 2. Besarnya sampel hendaknya jangan kurang dari 30. 3. Sampel seyogyanya sebesar mungkin selama dana dan waktu masih dapat menjangkau. Dari beberapa pendapat diatas, maka jumlah sampel (n) yang diambil adalah sebesar 10 % dari jumlah seluruh petani sebanyak 370 orang, sehingga n = N x 10 % = 370 x 10 % = 37, dengan demikian jumlah sampel yang diambil sebanyak 37 orang petani.

E. Pengolahan dan Analisis Data Untuk perumusan analisa strategi pengembangan tanaman kelapa yang labih tepat digunakan analisis strenght, weakness, opportunity and threat (SWOT). Analisis dilakukan untuk membandingkan faktor eksternal peluang (opportunities) dan ancaman (threats) dengan faktor internal kekuatan (strenght) dan kelemahan (weaknesses) (Rangkuti, 2002). Unsur-unsur SWOT diberi bobot (nilai) kemudian dihubungkan untuk memperoleh beberapa alternatif strategi dengan rangking

19

tertinggi merupakan alternatif strategi kebijakan dalam peningkatan pendapatan kelompok tani kelapa. Proses dalam merumuskan strategi mencakup tiga tahap, yaitu: 1. Evaluasi faktor internal dan eksternal. Langkah menganalisis faktor strategis internal dan eksternal adalah sebagai berikut : a. Menginventarisir faktor internal yang mempengaruhi pencapaian

goals/sasaran, visi, dan misi yang telah ditetapkan secara rinci (detail) dengan teknik brainstorming. Kemudian mendiskusikan setiap faktor internal apakah termasuk kekuatan atau kelemahan dibandingkan dengan kelompok lain, dengan cara poling pendapat. Kekuatan adalah faktor internal yang positif. Kelemahan adalah faktor internal yang negatif. faktor eksternal yang mempengaruhi pencapaian

b. Menginventarisir

goals/sasaran, visi dan misi yang telah ditetapkan secara rinci (detail) dengan teknik brainstorming. Kemudian mendiskusikan setiap faktor eksternal apakah termasuk peluang atau ancaman dibanding kelompok lain, dengan cara poling pendapat. Peluang adalah faktor eksternal yang positif. Ancaman adalah faktor eksternal yang negatif.

2. Pembuatan matriks internal dan eksternal. Tujuannya adalah melihat berapa posisi tiap faktor yang telah termasuk kedalam kekuatan, kelemahan, peluang ataupun ancaman setelah dilakukan pembobotan, peratingan, dan penilaian. 3. Perumusan strategi umum dalam bentuk matriks SWOT. Tujuannya merumuskan strategi umum (grand strategy), adalah

mengembangkan peningkatan kelompok dengan memanfaatkan hasil Analisis SWOT kedalam suatu format dengan memilih 5-10 faktor utama tiap kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman.

20

Tabel : 2 Model matriks analisis SWOT EFAS EFAS Kekuatan (S) Kelemahan (W)

Peluang (O)

Strategi S-O

Strategi W-O

Ancaman (T)

Strategi S-T

Strategi W-T

Sumber : Rangkuti 2002

Setelah mengetahui kondisi internal dan eksternal sistem saat ini. Kondisi sistem dapat dikelompokan dalam empat kuadran, yaitu seperti dapat dilihat dalam Gambar 1.

Gambar : 1 Sistem dalam berbagai kondisi. Peluang

Kuadran 3 Kelemahan Kuadran 4

Kuadran 1

Kekuatan Kuadran 2

1. Kuadran 1

Ancaman

Merupakan kondisi yang sangat menguntungkan, yaitu sistem memiliki kekuatan dan peluang yang baik.

21

2. Kuadran 2 sistem memiliki kekuatan namun menghadapi berbagai ancaman. Strategi yang tepat adalah strategi diversifikasi, yaitu menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang jangka panjang. 3. Kuadran 3 Sistem memiliki peluang yang baik, namun terkendala kelemahan internal. Strategi yang tepat adalah meminimalkan masalah-masalah internal, sehingga dapat merebut peluang eksternal dengan lebih baik. 4. Kuadran 4 Kondisi yang sangat tidak menguntungkan. Strategi yang tepat adalah strategi defensif, yaitu dengan meminimalkan kerugian-kerugian yang akan timbul.

22

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Sarmidi. 2009. Cocopreneurship. Aneka Peluang Bisnis dari Kelapa. Lily Publisher. Yogyakarta. Asian and Pacific Coconut Community. 2009. Market Analysis of Coir Products, The Cocommunity, Vol. XXXIX, No. 5, May 2009, APCC, Jakarta Coconut Market Information Center.Pengolahan Kelapa-Minyak Kelapa Virgin(VCO), 2010. Online access (http://coconutmic.com/id/daftar-kepustakaan/prosesingkelapa). Coconut Market Information Center.Pengolahan Kelapa2010. Online access (http://coconutmic. com/id/daftar-kepustakaan/prosesing-kelapa). Departemen Tehnik PertanianFakultas Tehnik Pertanian. IPB.Materi IV-f Pengolahan Kelapa Online access (http://web.ipb.ac.id/~tepfteta/elearning/ media/Teknik%20Pasca%20Panen/tep440_files/Pengolahankelapa.htm). Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kalimantan Barat, 2006, Petunjuk Teknis Budidaya Tanaman Kelapa hibrida, Pontianak. Dinas Urusan Pangan Kota Pontianak, 2006, Informasi Agribisnis Propinsi Kalimantan Barat, Pontianak. Disbun Kalbar, 2012, Statistik. Online access (http://disbun-kalbar.go.id/Disbun /index.php/statistik). Gaman, Sherrington. (1994). Ilmu Pangan, Pengantar Ilmu Pangan, Nutrisi dan Mikrobiologi. Universitas Gadjah Mada press. Yogyakarta. Hariyadi, 2008, Budidaya Tanaman Kelapa. Online access (http://www.slideshare.net/ indrinaisyan/budidaya-tanaman-kelapa-1). Hernanto, 1991. Ilmu Usaha Tani. Penebar Swadaya Jakarta Kartono, 1994. Pengantar Metode Riset Sosial. CV. Mandar Maju, Bandung. Mikrotik Batam Kelapa (Cocos nucifera L) 17 April 2013. Online access

(http://moru1.blogspot.com /2013/04/kelapa-cocos-nucifera-l.html). Rangkuti, Freddy. 2002. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Soekartawi, 2002. Prinsip Dasar-Dasar manajemen Hasil-hasil Pertanian, teori dan Aliaksinya, Edisi Revisi. Rajawali Press, Jakarta.

23

Soeparmoko. 2002. Ekonomi Publik untuk Keuangan dan Pemerintahan Daerah. Yogyakarta : Andi Offset Sugiyono, 2009. Pengertian Teknik sampling, Alfabeta, Bandung. Suparmoko M, 1991. Metode Penelitian Praktis. Fakultas Ekonomi UGM, Yogjakarta. Supranto J, 2000. Metode Ramalan Kuantitatif. PT Rineka Cipta, Jakarta. Warisno, 2003, Budi Daya Kelapa Genjah, Kanisius, Yogyakarta Wikipedia. Participatory rural appraisal 7 Mei 2013. Online Access

(http://en.wikipedia.org/wiki/ Participatory_rural_appraisal). Wikipedia. Kelapa 6 April 2013. Online Access (http://id.wikipedia.org/wiki/Kelapa). Wikipedia. Analisis SWOT 13 Mei 2013. Online Access (http://id.wikipedia.org/wiki /Analisis _SWOT). Winarno, 1984. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia. Jakarta Wordpres Tehnik Pertanian Open University.Gula Kelapa28 April2012. Online Access (http://teknoperta.wordpress.com/2012/04/28/gula-kelapa/). Woodroof, J.G. 1979. Coconut Production Processing Product. AVI Publ. Company. INC., Westport, Connecticut. Yusuf, Iwan Awaluddin. Memahami Focus Group Discussion (FGD) 28 Maret 2011. Online Access (http://bincangmedia.wordpress.com). Zainal Mahnud dan Yulius Ferry-Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan.Prospek Pengolahan Hasil samping Buah KelapaDesember 2005. Online Access (http://perkebunan.litbang.deptan.go.id/upload.files/File /publikasi/perspektif/perspektif_Vol_4_No_2_3_Zainal.pdf).

24