Anda di halaman 1dari 9

"BATUAN BEKU ASAM-MENENGAH PADA ZONA SUBDUKSI DI DAERAH KEPALA BURUNG PAPUA"

Gerson Yosef Tappang 270110110048 Geologi B

FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2013

PENDAHULUAN
Proses magmatisme ini sendiri selalu berkaitan dengan setting tektonik. Lokasi-lokasi pembentukan magma inilah yang menjadi model-model setting tektonik.

Gambar 1. Lokasi terbentuknya magma dalam konteks tatanan tektonik global (Schimncke, 2004 dalam Setijadji, 2011)

Magma terbentuk karena adanya perubahan tiga parameter utama, yaitu temperatur, tekanan, dan komposisi kimia. Berdasarkan konteks tektonik global, lokasi terbentuknya magma dapat dibedakan menjadi (Wilson, 1989) :

a. Batas lempeng konstruktif, merupakan batas lempeng divergen yang meliputi rekahan tengah samudera dan back-arc spreading. b. Batas lempeng destruktif, merupakan batas lempeng konvergen yang meliputi busur kepulauan (island arc) dan tepi benua aktif (active continental margin). c. Tatanan antar lempeng samudera, meliputi busur samudera. d. Tatanan antar lempeng benua, meliputi continental flood basalt, zona rekahan benua.

ZONA SUBDUKSI
Zona subduksi adalah zona pertemuan antara dua buah lempeng dimana kedua lempeng ini mengalami tumbukan, baik antara lempeng benua dengan lempeng samudra, maupun lempeng samudra dengan lempeng samudra yang menyebabkan salah satu dari lempeng tersebut menunjam di bawah lempeng yang lain. Akibatnya terjadilah proses magmatisme. Proses magmatisme yang terjadi pada zona subduksi ini pun menghasilkan magma yang sumbernya dibagi atas 3 (tiga) kemungkinan, yaitu:

a. Berasal dari pelelehan sebagian mantel atas ( Paling dominan terjadi). b. Berasal dari pelelehan sebagian kerak samudra yang menunjam ke bawah. c. Berasal dari pelelehan sebagian kerak benua bagian bawah (anateksis).

Magma yang dihasilkan dari 3 kemungkinan di atas, ini komposisinya sangat bervariasi. Secara umum, magma yang berasal dari pelelehan kerak samudra yang menunjam dan dari pelelehan mantel atas akan bersifat basa, namun apabila magma naik menuju permukaan, akan terjadi proses diferensiasi sehingga magma yang dihasilkan berubah sifat menjadi intermediet hingga asam. Sedang untuk magma yang berasal dari pelelehan kerak benua bagian bawah (anateksis), pada awalnya memang sudah bersifat asam sesuai dengan komposisi umum kerak benua, kemungkinan besar jika naik menuju permukaan magma tidak akan mengalami diferensiasi, sehingga magma yang dihasilkan tetap bersifat asam. Secara lebih jelasnya, Zona subduksi dapat dikenali dengan adanya busur kepulauan dan busur tepi benua aktif, yang keduanya mempunyai karakteristik seperti adanya kepulauan yang berbentuk busur dan membentang hingga ribuan kilometer, adanya palung samudera yang dalam, adanya volkanisme aktif dan gempa bumi, serta asosiasi volkanik yang khas, yang disebut orogenic andesit. Di permukaan, zona subduksi dapat dibagi menjadi tiga wilayah, yaitu busur depan (forearc), busur gunungapi (volcanic arc), dan busur belakang (backarc) (Tatsumi&Eggins, 1993). Proses magmatisme di zona subduksi berbeda dengan magmatisme di tatanan tektonik lain karena adanya peran fluida pada kerak yang menunjam dan adanya pelelehan sebagian baik dari

baji mantel, kerak samudera, ataupun kerak benua bagian bawah. Secara umum, mekanisme magmatismenya adalah adanya finger tip effect, dimana kerak samudera yang menunjam menjadi lebih panas oleh mantel dan gesekan yang mengakibatkan mineral melepas H2O dan adanya pelelehan sebagian mantel.

Maka dari itu zona subduksi ini dibagi menjadi dua tatanan tektonik yaitu :

A. Setting Tektonik dan Magmatisme Busur Kepulauan

Busur Kepulauan ini sendiri terbentuk akibat adanya proses magmatisme yang disebabkan oleh tumbukan antara lempeng samudra dengan lempeng samudra yang diikuti oleh penunjaman salah satu lempeng samudra tersebut. Pada daerah ini, magma berasal dari pelelehan sebagian mantel dan pelelehan sebagian kerak samudra itu sendiri. Hal ini menyebabkan magma induk kemungkinan besar akan bersifat basaltic yang kemudian apabila naik menuju permukaan akan mengalami proses diferensiasi dan menghasilkan magma yang cenderung bersifat toleiitik. Magma jenis toleiitik akan menghasilkan batuan yang berkomposisi intermediet, didominasi oleh batuan jenis andesit, andesit basaltik, dan dasit. Magma toleiitik ini disebut juga sebagai magma sub-alkali.

Gambar 2. Busur Kepulauan

Selain itu biasanya pada busur kepulauan akan terbentuk Gunungapi. Ciri dari Gunungapi yang terbentuk pada lokasi ini adalah gunungapi dengan tipe strato dan letusan yang eksplosif.

B. Setting Tektonik dan Magmatisme Busur Aktif Tepi Benua

Jenis kedua dari zona subduksi adalah Active Continental Margin atau disebut juga Busur aktif tepi benua. Daerah ini terbentuk akibat adanya tumbukan antara lempeng benua dengan lempeng samudra yang diikuti oleh penunjaman kerak samudra di bawah kerak benua.

Gambar 3: Busur Aktif Tepi Benua

Ada dua kemungkinan yang terjadi pada tipe subduksi ini :

1. terjadinya pelelehan sebagian kerak samudra atau mantel atas. Hasil dari proses pelelehan sebagian ini adalah magma yang bersifat basaltik dan ketika naik ke permukaan akan mengalami diferensiasi. Sifat magma yang dihasilkan nantinya akan bersifat asam ataupun intermediet (kalkalkali). 2. terjadinya pelelehan sebagian kerak benua bagian bawah (anateksis). Pada kondisi ini, magma induk yang pertama dihasilkan langsung bersifat asam dan ketika naik ke permukaan, tidak mengalami diferensiasi dan menghasilkan magma yang sifatnya asam.

BUSUR MAGMATIK DI KEPALA BURUNG


Sebagai daerah pertemuan tiga lempeng aktif, Indonesia juga memiliki daerah busur kepulauan yang menyebar sepanjangan wilayah timur selatan Indonesia. Pergerakan lempeng lempeng secara aktif pada masa neogen menyusun Indonesia menjadi beberapa jalur aktif busur magmatik. Salah satu busur magmatik di Indonesia adalah busur tengah Irian Jaya (Neogen). Daerah busur tengah Irian Jaya memanjang dari kepala burung hingga Papua Nugini. Hal ini berkaitan dengan pergerakan sabuk New Guinea, sebuah zona sabuk metamorfik dan pembentukan ophiolit. Busur diikuti juga dengan subduksi di selatan dan diikuti penumbukan. Kegiatan vulkanisme yang mengikuti adalah bersifat andesitik. Busur tengah Irian Jaya terbentuk di lempeng aktif Pasifik. Deformasi yang terus terjadi mengakibatkan pembentukan deposit pada daerah benua pasif yang terbentuk sebelumnya dengan dasar berupa batugamping jalur New Guinea.

BATUAN BEKU DI ZONA SUBDUKSI DI KEPALA BURUNG aPapua: batuan beku pada daerah ini berupa plutonik granitic rock pada daerah kepala
burung. Batuan beku pada daerah ini berumur Late Permian Early Triassic (Hamilton, 1979) diantaranya adalah granit, diorit, granodiorit, syenodiorit, dan monzonit. Selain itu juga terdapat batuan basaltik hasil dari proses magmatisme kerak samudera pasifik berupa basalt dan gabbro di utara papua. Penjelasan lebih lanjut tentang batuan beku di daerah Papua adalah sebagai berikut : Granit : Granit adalah batuan beku plutonik, yang terjadi dari hasil pembekuan magma berkomposisi asam pada kedalaman tertentu dari permukaan bumi. Umumnya bersifat masif dan keras, bertekstrur porfiritik, terdiri atas mineral kuarsa, ortoklas, plagioklas, biotit, dan hornblende. Berwarna abu-abu berbintik hijau dan hitam, kehijau-hijauan dan kemerah-merahan. merupakan batuan beku dalam yang mempunyai kristal-kristal kasar. Diorit : Merupakan batuan hasil terobosan batuan beku (instruksi) yang Terbentuk dari hasil peleburan lantai samudra yang bersifat mafic pada suatu subduction zone. biasanya diproduksi pada busur lingkaran volkanis, dan membentuk suatu gunung didalam cordilleran ( subduction sepanjang tepi suatu benua, seperti pada deretan Pegunungan). Terdapat emplaces yang besar berupa batholiths ( banyak beribu-ribu mil-kwadrat) dan mengantarkan magma sampai pada permukaan untuk menghasilkan gunung api gabungan dengan lahar andesite.

Granodiorit : Granodiorit adalah batuan beku dalam, mineralnya berbutir kasar hingga sedang, berwarna terang, menyerupai granit. Granodiorit dapat digunakan untuk pengeras jalan, pondasi, dan lain-lain. Granodiorit banyak terdapat di alam dalam bentuk batolit, stock, sill dan retas.

KESIMPULAN
Magma asli adalah magma berkomposisi basa (Dailly Winkler, 1933, Vide W.T. Huang 1962). Namun melalui proses kontak magma dengan batuan samping yang diintrusi, proses kontak lempeng samudera dan benua pada zona subduksi, serta peleburan jenis batuan dengan komposisi asam di dekat dapur magma dapat menghasilkan magma dengan komposisi asam atau intermediet. Indonesia merupakan wilayah pertemuan lempeng-lempeng mayor dan minor dunia, sehingga memiliki aktivitas vulkanisme dan tektonisme yang sangat aktif, yang menyebabkan daerah Indonesia banyak terdapat zona subduksi. Berdasarkan letaknya yang merupakan zona subduksi, Indonesia dapat diprediksi memiliki magma dengan komposisi asam dan intermediet, hasil dari peleburan lempeng benua dengan lempeng samudera di zona subduksi. Namun prediksi tersebut dapat didukung dengan pengamatan tipe gunung dan tipe batuan yang banyak ditemukan di Indonesia. Tipe gunung yang banyak ditemukan di Indonesia adalah tipe gunung api strato (kerucut) yang terbentuk dari magma yang berkomposisi magma intermediet dengan sumber dapur magma yang tidak terlalu jauh dari permukaan bumi. Demikian pula dengan batuan yang berkorelasi dengan aktivitas vulkanisme suatu daerah, batuan yang banyak ditemui di Indonesia, khususnya wilayah Pulau Jawa adalah batuan dengan karakteristik yang dimiliki batu Andesit Porfir (Thorpe and Brown, 1985). Batu Andesit Porfir merupakan batuan dengan komposisi magma intermediet. Dengan demikian berdasarkan pada pengamatan letak geografis Indonesia, dominasi batuan dan gunung berapi di Indonesia, dapat disimpulkan bahwa kandungan magma yang terdapat di daerah Indonesia dan yang juga mempengaruhi bentukan muka bumi Indonesia adalah magma dengan komposisi Intermediet.

REFERENSI
Tim Asisten Praktikum Mineralogi. 2012. Buku Panduan Praktikum Mineralogi. Semarang: Teknik Geologi Undip. Huang, W. T. 1962. Petrology. New York: Mc.Graw-Hill Book Companies. Carlile, J.C, A.H.G Mitchell, 1993, Magmatic arcs and associated gold and copper mineralization in Indonesia, Australia, ELSEVIER. Setijadji, Lucas Donny, Dr., 2011, Materi Kuliah Petrologi batuan beku dan batuan metamorf BATUAN GRANITIK(Granitic Rocks atau Granitoids), Yogyakarta, Unpublished Setijadji, Lucas Donny, Dr., 2011, Materi Kuliah Petrologi batuan beku dan batuan metamorf MAGMATISME DALAM KONTEKS TATANAN TEKTONIK GLOBAL,Yogyakarta, Unpublished http://google.com/Pembaruan-Model-Tektonik-Lempeng-Indonesia/PDF http://www.scribd.com/doc/30063609/Batuan-Beku-Indonesia http://explorasi08.blogspot.com/2011/03/hubungan-busur-magmatik-dan-asosiasi.html http://zonegeologi.blogspot.com/2010/11/gunung-di-indonesia-rata-rata-berbentuk.html http://geoful.wordpress.com