Anda di halaman 1dari 4

Bioavailibilitas Bioavailibilitas atau availibilitastemik (=F) Menunjukan fraksi dari dosis obat yang mencapai peredaran darah sistematik

dalam bentuk aktif. Jika obat dalam bentuk aktif diberikan secara IV maka F=1, tetapi bila diberikan atau disuntikkan dalam bentuk derivate yang perlu dikonsentrasi dalam tubuh, maka F=fraksi yang dikonversi menjadi bentuk aktif. Jika diberikan per oral, F biasanya kurang dari 1 dan besarnya tergantung pada jumlah obat yang dapat menembus dinding saluran cerna (jumlah obat yang diabsorbsi) dan jumlah obat yang mengalami eliminasi presistemik atau eliminasi first pass atau metabolisme lintas pertama. Karena kedua faktor inilah, bioavailibilitas obat yang diberikan per oral dapat berkurang hingga 100%. Besarnya bioavailibilitas suatu obat oral digambarkan oleh AUC (area under the curve atau luas area di bawah kurva kadar obat dalam plasma terhadap waktu) obat oral tesebut dibandingkan dengan AUC-nya pada pemberian IV. Ini disebut bioavailibilitas oral dan merupakan bioavailibilitas absolute dari obat oral tersebut. Bioavailibilitas absolute obat oral = F

Bioavailibilitas suatu sedian obat (preparat dagang) disebut bioavailibilitas produk yang bersangkutan. Ini ditentukan selain oleh bahan baku obatnya, juga ditentukan oleh formulasi obat tersebut. Besrnya dibandingkan dengan bioavailibilitas produk penemu sehingga merupakan bioavailibilitas relative dari produk tersebut. Bioavailibilitas relative produk oral X

Dua faktor yang mempengaruhi bioavailibilitas obat oral : 1. Tingkat absorbsi

Setelah pemberian oral, suatu obat dapat diabsorbsi secara tidak lengkap. Misalnya, hanya 70% dari suatu dosis digoksin yang dapat diabsorbsi, ini terutama disebabkan oleh kurangnya absorbs melalui usus dan sebagian digoksin mengalami metabolisme oleh bakteri di usus. Obat lain yang terlalu hidrofilik atau lipofilik juga mempunyai bioavailibilitas yang rendah karena absorbs yang tidak lengkap. Jika terlalu hidrofilik, obat sukar menembus sel membrane yang bersifat lipid, jika terlalu lipofilik, kurang melarut ketika memembus lapisan air di sekitar sel.

2. Eliminasi first pass. Setelah absorbsi melalui dinding usus halus, darah portal akan membawa obat ke hati sebelum masuk ke dalam sirkulasi sistematik. Suatu obat dapat dimetabolisasi di dinding usus atau bahkan di darah portal. Tetapi umumnya, hati adalah alat yang bertanggung jawab atas metabolisme obat sebleum obat mencapai sirkulasi sistematik. Hati dapat mengeluarkan obat ke dalam empedu. Semua ini dapat mengurangi bioavailibailitas dan semua proses tersebut dikenal dengan proses eliminasi first pass. Pengaruh FPE oleh hati terhadap bioavailibilitas obat dinyatakan sebagai rasio ekstraksi (ER) :

ER =

Q = aliran darah ke hati. 90 L/jam pada seseorang dengan BB 70 kg.

F dapat diramalkan dari tingkat absorbsi (f) dan rasio ekstrasi (ER) :

F = f x (1 ER)

Ikatan protein

Dalam darah, obat akan diikat oleh protein plasma dengan berbagai ikatan lemah (ikatan hidrofobik, van der Waals, hydrogen dan ionik) Beberapa macam protein plasma : 1. Albumin : mengikat obat-obat asam dan obat-obat netral serta bilirubin dan asam-asam lemak. 2. -glikoprotein (1-acid glycoprotein) : mengikat obat-obat basa 3. CBG (corticosteroid-binding globulin) : khusus mengikat kortikosteroid 4. SSBG (sex steroid-binding globulin) : khusus mengikat hormone kelamin. Ikatan dengan protein plasma ini kuat untuk obat yang lipofilik dan lemah untuk yang hidrofilik. Ikatan protein plasma sering disebut sebagai suatu faktor yang memainkan peran farmakokinetik, farmakodinamik dan interaksi obat. Namun, tidak ada contohcontoh obat yang relevan secara klinik yang secara jelas dapat diterangkan sebagai akibat perubahan-perubahan dalam ikatan protein plasma. Faktor-faktor yang mempengaruhi ikatan protein : 1. Konsentrasi albumin Level albumin yang rendah pada bebagai penyakit, menyebabkan konsentrasi total obat yang rendah. 2. Konsentrasi 1-asam glikoprotein Suatu protein pengikat obat yang penting dengan sisi ikatan untuk obatobatan seperti kuinidin, lidokain dan propanolol. Glikoprotein ini meningkatkan kelainan-kelainan inflamasi akut dan menyebabkan perubahan besar dalam konsentrasi total obat dalam plasma, walaupun eliminasi obat tidak berubah. 3. Ikatan protein dengan kapasitas terbatas Pengikatan obat-obat pada protein plasma mempunyai kapasitas yang terbatas. Konsentrasi terapeutik dari salisilat, disopiramid, dan prednisolon menunjukkan ikatan protein yang bergantung pada konsentrasi. Konsentrasi obat yang tidak terikat (unbound drug) ditentukan oleh kecepatan dosis dan bersihan yang tidak berubah untuk obat-obat dengan rasio ekstrasi rendah ini, peningkatan dalam kecepatan dosis akan menyebabkan perubahan dalam konsentrasi unbound drug yang secara farmakodinamik sangat penting. Konsentrasi total obat akan meningkat tidak secepat peningkatan

kecepatan dosis karena ikatan protein mendekati kejenuhan pada konsentrasi tinggi.

Eliminasi Eliminasi adalah gabungan dari proses metabolisme dan ekskresi utuh obat farmakokinetik. Pada metabolisme, proses terutama terjadi di hati. Tempat metabolisme lainnya (ekstrahepatik) adalah dinding usus, ginjal, paru, darah, otak, kulit dan juga lumen di kolon (oleh flora usus). Sementara pada ekskresi, organ terpentingnya adalah ginjal. Ekskresi obat melalui ginjal dapat terjadi dalam bentuk utuh maupun bentuk metabolitnya. Ekskresi dalam bentuk utuh maupun bentuk aktif merupakan proses eliminasi melalui ginjal. Ekskresi melibatkan tiga prosses : filtrasi glomerulus, sekresi aktif di tubulus proksimal dan reabsorbsi disepanjang tubulus. Ekskresi melalui ginjal akan berkurang jika terdapat gangguan fungsi ginjal.