Anda di halaman 1dari 5

4/4/13

Share 0

Komunikasi Dakwah

More

Next Blog

Create Blog

Sign In

Komunikasi Dakwah
Senin, 30 April 2012 Pengikut
Join this site
w ith Google Friend Connect

Psikologi Dakwah
Menyerukan kepada kebenaran dan mencegah kemungkaran adalah tugas hidup setiap muslim. Dengan bahasa lain setiap muslim berkewajiban untuk berdakwah. Perintah ini ditulis dalam Al-Quran surat Ali Imron ayat 110. Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Dalam kenyataannya, 1. Setiap muslim dengan sengaja tidak melakukan dakwah, dan 2. Tidak setiap muslim yang sengaja berdakwah telah melakukan perannya dengan efektif. Tulisan ini tidak hendak menjawab permasalahan pertama, tetapi lebih pada usaha menjawab permasalahan kedua, yaitu bagaimana agar muslim yang berdakwah dapat melakukan perannya dengan efektif. Agar kegiatan dakwah dapat berlangsung secara lancar dan berhasil baik, diperlukan pengetahuan tentang psikologi dakwah. Karena kegiatan dakwah pada dasarnya adalah kegiatan penyampaian informasi dari seseorang kepada orang lainnya, maka perlu dikaji faktor apa saja yang merupakan penghambat dan pelancar kegiatan penransferan informasi. Kajian tentang diri manusia banyak disebut Allah SWT dalam Al Quran, Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri. (QS 41:53). Ayat ini hendak mengungkapkan bahwa di alam semesta maupun dalam diri manusia terdapat sesuatu yang menunjukkan adanya tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Yang dimaksud dengan sesuatu itu adalah rahasia-rahasia tentang keadaan alam dan keadaan manusia. Apabila rahasia-rahasia tersebut disingkap manusia, maka jadilah manusia sebagai makhluk yang berpengetahuan, yang berilmu. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa dalam diri manusia ada kompleksitas yang bisa dijadikan lahan kajian. Dalam berbagai ayat, banyak disebutkan istilah-istilah yang berbicara tentang keadaan diri manusia, seperti nafs, ruh, fitrah, fujur, qalbu, fuad dan sebagainya. Istilah nafs termasuk kata yang paling sering disebut oleh Al Quran, yaitu sebanyak lebih dari 300 kali. Jiwa atau nafs bukanlah hal yang berdiri sendiri. Ia merupakan satu kesatuan dengan badan. Antara jiwa dan badan muncul suatu kesinambungan yang mencerminkan adanya totalitas dan unitas. Psikologi Islam akan mengkaji jiwa dengan memperhatikan badan. Keadaan tubuh manusia bisa jadi merupakan cerminan jiwanya. Akan tetapi dalam merumuskan siapa manusia itu, psikologi Islam melihat manusia tidak semata-mata dari perilaku yang diperlihatkan badannya. Bukan pula berdasarkan spekulasi tentang apa dan siapa manusia. Psikologi Islam bermaksud menjelaskan manusia dengan memulainya dengan merumuskan apa kata Tuhan tentang manusia. Psikologi Islam menyadari adanya kompleksitas dalam diri manusia dimana hanya Sang Penciptalah yang mampu memahami dan mengurai kompleksitas itu. Oleh karena itu, psikologi Islam sangat memperhatikan apa yang Tuhan katakan tentang manusia. Artinya dalam menerangkan siapa manusia, kita tidak semata-mata mendasarkan diri pada perilaku nyata manusia, akan tetapi bisa kita pahami dari dalildalil tentang perilaku manusia yang ditarik dari ungkapan Tuhan. Setelah menerangkan gejala-gejala yang terjadi pada manusia, maka tugas psikologi Islam adalah memprediksi perilaku manusia, mengontrol dan mengarahkan perilaku itu. Berbeda dengan tugas psikologi Barat yang hanya menerangkan (explanation), memprediksi (prediction) dan mengontrol (controlling) perilaku manusia. Maka, tugas psikologi Islami adalah lebih dari itu yaitu menerangkan, memprediksi, mengontrol dan terutama mengarahkan manusia untuk mencapai ridha-Nya. Dengan demikian kehadiran psikologi Islami dipenuhi dengan suatu misi besar, yaitu menyelamatkan manusia dan mengantarkan manusia untuk memenuhi kecenderungan alaminya untuk kembali padaNya dan mendapatkan ridha-Nya.
1/5

There are no members yet. Be the first!

Already a member? Sign in

Arsip Blog 2012 (1) April (1) Psikologi Dakwah

Mengenai Saya udin godin Lihat profil lengkapku

ruang-dakwah.blogspot.com

4/4/13

Komunikasi Dakwah

1.

2.

3.

4.

5.

Manusia, sebagai objek dakwah (madu) tentunya mempunyai latarbelakang yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Setiap orang mempunyai kebutuhannya masing-masing, dan seorang dai harus memahami apa saja yang ada dibalik objek yang akan dia dakwahi. Kebutuhan-kebutuhan itu diantaranya: Kebutuhan fisiologis. Kebutuhan ini adalah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi setiap manusia untuk hidup. Makan, minum dan istirahat adalah contohnya. Orang tidak akan memikirkan kebutuhan lainnya sebelum kebutuhan dasar ini terpenuhi. Orang tidak akan tertarik mengerjakan sesuatu yang lain bila masalah makan dan minum belum terpecahkan. Kebutuhan rasa aman (safety). Setelah orang memenuhi kebutuhan akan minum, makan dan istirahat, selanjutnya berkembang keinginan untuk memperoleh rasa aman. Orang ingin bebas dari rasa takut dan kecemasan. Manifestasi kebutuhan ini antara lain perlunya tempat tinggal yang permanen, sehinggan mereka bebas dari ketakutan akan digusur oleh petugas penggusuran. Bila kebutuhan ini dapat dipenuhi, maka kebutuhan tingkat yang lebih tinggi akan timbul. Kebutuhan akan rasa kasih sayang. Perasaan memiliki dan dimiliki oleh orang lain atau kelompok masyarakat adalah sesuatu yang dibutuhkan oleh setiap manusia. Kebutuhan akan terpenuhi bila ada saling perhatian, saling mengunjungi sesama anggota masyarakat. Keintiman didalam pergaulan hidup sesama anggota masyarakat adalah sesuatu yang sangat menyuburkan terpenuhinya kebutuhan ini. Kebutuhan akan harga diri. Bila kebutuhan ditingkat ketiga telah terpenuhi maka akan muncul kebutuhan akan harga diri. Agar dirinya dihargai sebagai manusia, sebagai warga negara, maka seseorang akan berbuat sesuatu yang berguna. Pada tahap ini orang juga ingin buah pikirnya dihargai. Kebutuhan akan aktualisasi diri Kebutuhan pada tahap ini merupakan tahap yang paling tinggi, menurut teori Maslow. Pada tingkat ini manusia ingin berbuat sesuatu semata-mata karena dorongan dari dalam. Dan tidak lagi menuntut atau mengharapkan penghargaan dari orang lain atas apa yang diperbuatnya. Sesuatu yang ingin dikejar dalam kebutuhan tingkat ini adalah keindahan (beauty), kesempurnaan (perfection), keadilan (justice) dan kebermaknaan. Itulah beberapa hal yang ingin dicapai, disamping hal-hal lain yang tidak dituliskan dalam karangan ini.

Seorang dai harus mempunyai bekal yang cukup sehingga dakwah yang ia sampaikan dapat berhasil dan mendapat pencapaian yang lebih optimal, diantara rumus pengubahan sikap (dai) yang perlu ia perhatikan kemudian dikuasai adalah sebagai berikut: 1. Sikap mental yang positif Berhasil atau tidaknya suatu kegiatan dakwah sangat ditentukan oleh sikap mental juru dakwahnya. Sikap penuh keyakinan bahwa dakwah yang akan dia sampaikan akan diterima dengan baik oleh pendengar, sikap yakin bahwa apa yang akan dia sampaikan adalah perintah Allah, serta sikap optimis dan pantang menyerah akan segala kesulitan adalah ciri-ciri kepribadian seorang juru dakwah (dan tentu saja seharusnya sikap ini dikuasai oleh setiap muslim) 2. Penyampaian pesan dakwah Teori pengubahan yang dibahas McGuirie dan beberapa ahli lainnya. Menurut McGuirie, proses perubahan sikap seseorang dari tidak tahu/tidak menerima suatu pesan ke menerima suatu pesan berlangsung melalui 3 proses dasar yang disebutnya tiga tahap perubahan sikap. ATTENTION ACCEPTANCE COMPREHENSION

Attention adalah perhatian terhadap pesan. Orang tidak akan berubah sikap apabila tidak memperhatikan pesan yang disampaikan. Orang tidak akan berubah sikap apabila tidak memperhatikan pesan yang disampaikan. Oleh karena itu, agar penyampaian dakwah dapat diterima harus ada usaha untuuk menarik orang untuk memperhatikan dakwah yang disampaikan. Comprehension adalah pemahaman terhadap pesan dakwah. Seseorang yang telah memperhatikan pesan dakwah diharapkan akan mempunyai pemahaman terhadap pesan yang disampaikan. Terjadi atau tidaknya suatu pemahaman terhadap pesan dakwah sangat ditentukan oleh bermacam-macam hal, diantaranya teknik penyampaian pesan dakwah dan bahasa yang digunakan dalam dakwah. Tanpa adanya perhatian (attention) terhadap pesan dakwah tidaklah mungkin orang akan memahami isi dakwah. Acceptance adalah penerimaan isi dakwah. Dalam hal ini ditolak atau diterimanya isi dakwah sebagai sikap hidup sangat ditentukan oleh pemahaman
ruang-dakwah.blogspot.com 2/5

4/4/13

Komunikasi Dakwah

terhadap pesan dakwah dan juga sejauh mana pesan dakwah sesuai dengan kebutuhan dan nilai hidup pendengar. Dengan adanya penerimaan pesan dakwah ini diharapkan orang akan menjalankan perintah-perintah Islam yang disampaikan. Sejauh mana proses perubahan sikap tersebut dapat terbentuk sangat tergantung pada ketiga aspek komunikasi yaitu komunikator, komunikasi/pesan dan audience/komunikan. Komunikator Komunikator dalam hal ini adalah juru dakwah, yang dapat menarik perhatian pendengar dan mengubah sikap pendengar ke arah yang dikehendaki ajaran Islam, adalah komunikator yang mempunyai ciri sebagai berikut: Jujur dan dapat dipercaya (thrustworthy). Memiliki keahlian di bidang yang disampaikan (expertise). Sifat jujur dan dapat dipercaya ini sangat menentukan apakah pendengar akan mematuhi atau tidak terhadap apa yang disampaikan. Adanya kesesuaian antara apa yang dikatakan dan apa yang diperbuat adalah indikator trustworthy. Orang tidak akan percaya dengan komunikator bilamana terdapat perbedaan antara apa yang disampaikan dengan apa yang diperbuat. Perilaku dakwah tidak semata-mata penyampaian dakwah dalam wujud perkataan, tetapi yang jauh lebih penting adalah penyampaian pesan dakwah dalam wujud perbuatan (dakwah bil hal). Al Quran telah memperingatkan akan pentingnya kesesuaian antara kata dan perbuatan. Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apaapa yang tiada kamu kerjakan (QS. Ash Shaf: 2-3). Keberhasilan Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan dakwah Islam ialah karena faktor kejujuran yang dimiliki beliau. Sehingga beliau terkenal dengan sebutan AlAmin (si jujur dan dapat dipercaya). Bercermin dari sifat Nabi tersebut, maka demi keberhasilan dakwah sangat diperlukan sifat jujur, tulus ikhlas tanpa pamrih, kecuali kecintaan kepada Allah SWT. Ciri lain yang tak kalah penting adalah keahlian (expertise). Yang dimaksud expertise disini adalah pengetahuan yang luas tentang apa yang didakwahkan. Semakin paham kita akan masalah keagamaan, maka orang-orang akan semakin percaya dengan apa yang kita sampaikan. Namun demikian tidaklah berarti, harus memahami agama secara tuntas baru kemudian berdakwah. Didalam salah satu hadits dikatakan bahwa kita harus melakukan dakwah walaupun hanya mengetahui satu ayat. Seringkali faktor-faktor lain diluar bidang pemahaman agama ikut mempengaruhi thrustworthy dan expertise seorang juru dakwah. Misalnya juru dakwah yang memiliki gelar kesarjanaan akan lebih dipercaya daripada juru dakwah yang bukan sarjana. Tentu saja hal ini tidak berarti seorang dai harus sarjana. Banyak sekali dai yang bukan sarjana sangat menarik dan efektif dalam menyampaikan dakwahnya. Namun demikian kalau gelar kesarjanaan dimiliki akan lebih baik. Saat ini sangat didambakan ulamaintelektual dan intelektual-ulama. Ciri perpaduan antara keulamaan dan keintelektualan ini akan sangat perlu untuk menghadapi perubahan sosial akibat modernisasi dan industrialisasi. Kalau para ulama tidak mempunyai kadar intelektualitas untuk mencari pepecahan masalah yang timbul didalam kehidupan dunia modern, maka efektifitas dakwah menjadi berkurang. Dampak lainnya, hal ini menyebabkan kemungkinan orang meninggalkan agama akan sangat besar. Selain faktor trustworthy dan expertise, ada lagi hal-hal yang secara teoritik ikut mempengaruhi komunikator. Hal-hal tersebut diantaranya: popularitas, rupa yang menarik dan penampilan yang menarik. Komunikasi Komunikasi yang perlu dikembangkan adalah komunikasi yang memperhatikan kebutuhan manusia, media informatika yang digunakan, tatap muka, penggunaan bahasa yang mudah dimengerti dan peragaan. Dakwah dan kebutuhan dasar Penyampaian pesan dakwah dengan disertai pemberian barang yang menguntungkan bagi si penerima pesan dakwah, adalah suatu cara yang efektif. Dakwah seperti ini banyak dilakukan oleh kelompok agama diluar Islam, seperti memberikan beras, pakaian, ketrampilan diberbagai bidang kehidupan. Tentu saja keberhasilan kegiatan dakwah seperti ini, sangat bergantung pada sasaran dakwahnya sendiri. Dakwah dikalangan orang miskin akan sangat efektif dengan cara-cara demikian. Bagi kelompok orang miskin pikiran dan perbuatan mereka lebih banyak ditujukan pada usaha untuk mencari kebutuhan pokok demi mempertahankan hidup. Islam menyediakan sarana untuk berdakwah dengan cara demikian. Rukun Islam membayar zakat fitrah dan amal jariyah kepada orang-orang miskin adalah salah satu jalur yang dapat ditempuh, tentunya dengan disisipi dengan kegiatan dakwah. Penggunaan media informatika Banyak jalur-jalur dakwah lainnya yang dapat dimanfaatkan, misal dengan lagu-lagu
3/5

1. 2.

1.

2.
ruang-dakwah.blogspot.com

4/4/13

Komunikasi Dakwah

ruhani, baik untuk anak-anak maupun dewasa. Pemanfaatan rekaman kaset berisi drama, wayang dan lain-lain yang disisipi pesan agama akan pula membantu dalam kegiatan dakwah. Buku bacaan anak-anak yang bernafaskan Islam, video kaset cerita anak-anak bernafaskan Islam adalah sarana yang efektif untuk berdakwah. Saat ini kita bersyukur karena buku-buku cerita atau majalah untuk anak-anak berkembang cukup pesat. Sedangkan video kaset yang disukai anak-anak saat ini pada umumnya berisikan hal-hal yang menjauhkan si anak dari ajaran Islam. 3. Kunjungan tatap muka Ditinjau dari segi psikologi, kunjungan terhadap orang lain adalah salah satu cara untuk menghargai orang lain. Makin sering seseorang mengunjungi kita, maka makin besar rasa berhutang budi kita terhadap si pengunjung. Hutang budi ini harus ditebus dengan berbuat sesuatu terhadap orang yang mengunjungi kita. Salah satu caranya adalah mematuhi ajakan orang yang mengunjungi kita. Teknik melakukan kunjungan semacam ini banyak dilakukan oleh para pastor dan pendeta, mereka melakukan kunjungan secara berulang kali. Sehingga bagi yang imannya lemah, bisa jadi akan menerima ajakan mereka. Dalam pepatah jawa, wiwiting tresno jalaran soko kulino. Yang pendapat ini sudah mendapat dukungan empirik dari penelitian yang dilakukan oleh Robert Zajonc. Dia menemukan bahwa semakin sering kita berjumpa dengan suatu objek makin kita cinta pada objek tersebut. Nabi Muhammad SAW selalu menggunakan waktu luangnya untuk mengunjungi umatnya. Sehabis shalat Jumat, sepulangnya dari masjid, beliau tidak segera pulang ke rumah. Beliau singgah berkunjung ke rumah umatnya. Silaturahmi dalam umat Islam sangat ditekankan, karena hal itu termasuk media untuk berdakwah. Kunjungan itu untuk ukhuwah islamiyah, dan pengaruhnya terhadap dakwah sangatlah besar. 4. Bahasa yang dipakai Dakwah sebaiknya dilakukan dengan bahasa yang biasa dipakai oleh pendengar. Penggunaan bahasa yang tidak dimengerti (misal istilah asing) jika tidak dilakukan penerjemahan akan menghambat proses dakwah. Bahasa dan irama penyampaian yang tidak membosankan sangat diperlukan bagi kesuksesan dakwah. Dakwah yang diselingi hal-hal lucu disamping akan membuat orang tertawa, akan membuat orang betah mendengarkannya. Penyampaian isi dakwah harus dinamis, tidak satu irama (monotone) agar orang tidak mengantuk. 5. Peragaan Dari teori pembentukan sikap diketahui bahwa menyuruh orang memerankan suatu peran akan menyebabkan orang akan terpengaruh oleh peran tersebut. Semakin menghayati peran tersebut, maka peran tersebut akan berpengaruh bagi jiwanya. Pembinaan mental keagamaan anak, dapat dilakukan dengan cara menyuruh anak bermain sandiwara dengan memerankan tokoh agama yang amat kuat imannya. Misalnya tokoh sahabat Nabi SAW yang bernama Bilal bin Rabah atau yang lainnya. Pendengar Keadaan penerima pesan dalam hal ini adalah pendengar haruslah diketahui jauhjauh hari sebelum suatu kegiatan dakwah dilakukan. Tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan agama yang dimiliki pendengar dan tingkat ketaatan beragama, adat istiadat yang berlaku, pantangan-pantangan yang tidak boleh dilakukan disuatu daerah tertentu adalah beberapa hal yang harus dipelajari sebelum kegiatan dakwah dilakukan. Para misionaris agama non-Islam sangat menekankan pentingnya informasi tentang medan dakwah yang akan mereka garap. Jauh-jauh hari mereka sudah mencari data tentang jumlah masjid dan langgar (mushola), jumlah kyai, jumlah majelis pengajian, jumlah sekolah agama serta keadaan ketaatan beragama penduduk disuatu kawasan yang diincar sebagai sasaran dakwah. Selain mengkaji potensi Islam dan umat Islam, mereka juga mengkaji apa saja yang dapat dijadikan potensi bagi agama mereka. Mengetahui potensi sasaran dakwah sangat diperlukan mengingat kegiatan dakwah akan lebih mudah dilakukan apabila ada bantuan dari pihak-pihak yang telah ada di medan dakwah. Kegiatan dakwah akan lebih sukses jika dilakukan bersama-sama dengan memanfaatkan semua potensi yang ada. Setiap orang yang mengaku muslim, walaupun hanya sebatas KTP, merupakan potensi yang harus kita pahami dan kita bina dalam kegiatan dakwah. Selain itu perlu juga dikaji apa saja yang merupakan kebutuhan yang sangat mendesak dari orang-orang yang akan dijadikan sasaran dakwah. Dengan mengetahui kebutuhan-kebutuhan ini mereka dapat merencanakan suatu kegiatan dakwah yang didampingi dengan pemberian kebutuhan tersebut. Kegiatan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang memberikan bermacam-macam kebutuhan masyarakat banyak yang berasal dari kegiatan para misionaris. Tujuan pertama LSM tersebut adalah untuk mencari informasi tentang hal-hal yang dibutuhkan sebelum mereka melakukan kegiatan dakwah. Suatu contoh keberhasilan dakwah dengan memperhatikan kebutuhan si penerima pesan dakwah adalah proyek daerah-daerah kumuh. Orang-orang gelandangan yang tidak memiliki rumah dan tidak memiliki kejelasan status penduduk berhasil ditata dan akhirnya berhasil diajak masuk ke agama si misionaris. Pendekatan model
ruang-dakwah.blogspot.com 4/5

4/4/13

Komunikasi Dakwah

pengemabangan masyarakat ini nampaknya perlu digairahkan dikalangan juru dakwah Islam. Oleh: Dinmas Oktapriyanto Diambil dari sumber buku Psikologi Islami (solusi Islam atas problem-problem psikologi), penerbit PUSTAKA PELAJAR tahun 1994, dan buku Membangun Paradigma Psikologi Islam, penerbit SIPRESS tahun 1994, kedua buku garapan Dr. Djamaludin Ancok dan Fuat Nashori Suroso.
Diposkan oleh udin godin di 12.21 Tidak ada komentar:

Rekomendasikan ini di Google

Beranda
Langganan: Entri (Atom)

Template Awesome Inc.. Gambar template oleh molotovcoketail. Diberdayakan oleh Blogger.

ruang-dakwah.blogspot.com

5/5