Anda di halaman 1dari 17

Asuhan Keperawatan Aplikasi NANDA

Silahkan berkunjung keblog saya, semoga bermanfaat bagi kita semua dan dapat memajukan dunia keperawatan.

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN CIDERA KEPALA (NANDA,, NOC, NIC)


Diposkan oleh Rizki Kurniadi
A. Pengertian Cidera kepala adalah pukulan atau benturan mendadak pada kepala dengan atau tanpa kehilangan kesadaran (Tucker, 1998). Cidera kepala (terbuka dan tertutup) terdiri dari fraktur tengkorak, commusio (gegar) serebri, contusio (memar) serebri, laserasi dan perdarahan serebral yaitu diantaranya subdural, epidural, intraserebral, dan batang otak (Doenges, 2000:270). Cidera kepala diklasifikasikan berdasarkan: 1. Keadaan kulit kepala dan tulang tengkorak a. Cidera kepala terbuka b. Cidera kepala tertutup 2. Cidera pada jaringan otak (secara anatomis) a. Commusio serebri (gegar otak) b. Edema serebri c. Contusio serebri (memar otak) d. Laserasi

1). Hematoma epidural 2). Hematoma subdural 3). Perdarahan sub arakhnoid
(Ergan, 1998:642) 3. Adanya penetrasi durameter (secara mekanisme) a. Cidera tumpul

1). Kecepatan tinggi (tabrakan otomobil) 2). Kecepatan rendah (terjatuh, dipukul)
b. Cidera tembus c. Luka tembus peluru dan cidera tembus lainnya 4. Tingkat keparahan cidera (berdasarkan GCS)

a. Cidera Kepala Ringan (CKR) GCS 13-15 b. Cidera Kepala Sedang (CKS) GCS 9-12 c. Cidera Kepala Berat (CKB) GCS 3-8

GCS (Glasgow Coma Scale) Membuka mata (E) Spontan Dipanggil/diperintah Tekanan pada jari/rangsang nyeri Tidak berespon 4 3 2 2

Respon Verbal (V) Orientasi baik: dapat bercakap-cakap Bingung, dapat bercakap tapi disorientasi Kata yang diucapkan tidak tepat, kacau Tidak dapat dimengerti, mengerang Tidak bersuara dengan rangsang nyeri 5 4 3 2 1

Respon Motorik Mematuhi perintah Menunjuk lokasi nyeri Reaksi fleksi Fleksi abnormal thdp nyeri (postur dekortikasi) Ekstensi abnormal Tidak ada respon, flacid 5. Berdasarkan morfologi a. Fraktur tengkorak 6 5 4 3 2 1

1). Kranium: linear/ stelatum, depresi/ non depresi, terbuka/ tertutup. 2). Basis: dengan/ tanpa kebocoran cairan cerebrospinal, dengan/ tanpa kelumpuhan nervus VIII
b. Lesi intra cranial

1). Foxal: epidural, subdural, intraserebral 2). Difus: konkusi ringan/ klasik, cidera aksonal difus.

B. Etiologi Cidera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas ( Mansjoer, 2000:3). Penyebab cidera kepala antara lain: kecelakaan lalu lintas, perkelahian, terjatuh, dan cidera olah raga. Cidera kepala terbuka sering disebabkan oleh peluru atau pisau (Corkrin, 2001:175). C. Patofisiologi Cidera kepala dapat terjadi karena benturan benda keras, cidera kulit kepala, tulang kepala, jaringan otak, baik terpisah maupun seluruhnya. Cidera bervariasi dari luka kulit yang sederhana sampai gegar otak, luka terbuka dari tengkotak, disertai kerusakan otak, cidera pada otak, bisa berasal dari trauma langsung maupun tidak langsung pada kepala. Trauma tak langsung disebabkan karena tingginya tahanan atau kekuatan yang merobek terkena pada kepala akibat menarik leher. Trauma langsung bila kepala langsung terbuka, semua itu akibat terjadinya akselerasi, deselerasi, dan pembentukan rongga, dilepaskannya gas merusak jaringan syaraf. Trauma langsung juga menyebabkan rotasi tengkorak dan isinya. Kerusakan itu bisa terjadi seketika atau menyusul rusaknya otak oleh kompresi, goresan, atau tekanan. Cidera yang terjadi waktu benturan mungkin karena memar pada permukaan otak, laserasi substansia alba, cidera robekan, atau hemmorarghi. Sebagai akibat, cidera skunder dapat terjadi sebagai kemampuan auto regulasi serebral dikurangi atau tidak ada pada area cidera, konsekuensinya meliputi hiperemia (peningkatan volume darah, peningkatan permeabilitas kapiler, serta vasodilatasi arterial, tekanan intra cranial) (Huddak & Gallo, 1990:226). Pengaruh umum cidera kepala juga bisa menyebabkan kram, adanya penumpukan cairan yang berlebihan pada jaringan otak, edema otak akan menyebabkan peningkatan tekanan intra cranial yang dapat menyebabkan herniasi dan penekanan pada batang otak (Price and Wilson, 1995:1010).

D. Manifestasi Klinik

Berdasarkan anatomis 1. Gegar otak (comutio selebri) a. Disfungsi neurologis sementara dapat pulih dengan atau tanpa kehilangan kesadaran b. Pingsan kurang dari 10 menit atau mungkin hanya beberapa detik/menit c. Sakit kepala, tidak mampu konsentrasi, vertigo, mungkin muntah d. Kadang amnesia retrogard 2. Edema serebri a. Pingsan lebih dari 10 menit b. Tidak ada kerusakan jaringan otak c. Nyeri kepala, vertigo, muntah 3. Memar otak (kontusio selebri) a. Pecahnya pembuluh darah kapiler, tanda dan gejalanya bervariasi tergantung lokasi dan derajad b. Ptechie dan rusaknya jaringan saraf disertai perdarahan c. Peningkatan tekanan intracranial (PTIK) d. Penekanan batang otak e. Penurunan kesadaran f. Edema jaringan otak g. Defisit neurologis h. Herniasi 4. Laserasi a. Hematoma Epidural talk dan die tanda klasik: penurunan kesadaran ringan saat benturan, merupakan periode lucid (pikiran jernih), beberapa menit s.d beberapa jam, menyebabkan penurunan kesadaran dan defisit neurologis (tanda hernia):

1). kacau mental koma 2). gerakan bertujuan tubuh dekortikasi atau deseverbrasi 3). pupil isokhor anisokhor
b. Hematoma subdural

1). Akumulasi darah di bawah lapisan duramater diatas arachnoid, biasanya karena aselerasi,
deselerasi, pada lansia, alkoholik.

2). Perdarahan besar menimbulkan gejala-gejala seperti perdarahan epidura 3). Defisit neurologis dapat timbul berminggu-minggu sampai dengan berbulan-bulan

4). Gejala biasanya 24-48 jam post trauma (akut) 5). perluasan massa lesi 6). peningkatan TIK 7). sakit kepala, lethargi, kacau mental, kejang 8). disfasia
c. Perdarahan sub arachnoid

1). Nyeri kepala hebat 2). Kaku kuduk


Berdasarkan nilai GCS (Glasgow Coma Scale) 1. Cidera kepala Ringan (CKR) a. GCS 13-15 b. Kehilangan kesadaran/amnesia <30 menit c. Tidak ada fraktur tengkorak d. Tidak ada kontusio celebral, hematoma 2. Cidera Kepala Sedang (CKS) a. GCS 9-12 b. Kehilangan kesadaran dan atau amnesia >30 menit tetapi kurang dari 24 jam c. Dapat mengalami fraktur tengkorak 3. Cidera Kepala Berat (CKB) a. GCS 3-8 b. Kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia > 24 jam c. Juga meliputi kontusio celebral, laserasi, atau hematoma intracranial (Hudak dan Gallo, 1996:226) E. Komplikasi Kemunduran pada kondisi pasien mungkin karena perluasan hematoma intrakranial, edema serebral progresif, dan herniasi otak Edema serebral dan herniasi Edema serebral adalah penyebab paling umum peningkatan TIK pada pasien yang mendapat cedera kepala, puncak pembengkakan yang terjadi kira kira 72 jam setelah cedera. TIK meningkat karena ketidakmampuan tengkorak untuk membesar meskipun peningkatan volume oleh pembengkakan otak diakibatkan trauma. Sebagai akibat dari edema dan peningkatan TIK, tekanan disebarkan pada jaringan otak dan struktur internal otak yang kaku. Bergantung pada tempat pembengkakan, perubahan

posisi kebawah atau lateral otak (herniasi) melalui atau terhadap struktur kaku yang terjadi menimbulkan iskemia, infark, dan kerusakan otak irreversible, kematian. Defisit neurologik dan psikologik Pasien cedera kepala dapat mengalami paralysis saraf fokal seperti anosmia (tidak dapat mencium bau bauan) atau abnormalitas gerakan mata, dan defisit neurologik seperti afasia, defek memori, dan kejang post traumatic atau epilepsy. Pasien mengalami sisa penurunan psikologis organic (melawan, emosi labil) tidak punya malu, emosi agresif dan konsekuensi gangguan. Komplikasi lain secara traumatik: 1. Infeksi sitemik (pneumonia, ISK, sepsis) 2. Infeksi bedah neurologi (infeksi luka, osteomielitis, meningitis, ventikulitis, abses otak) 3. Osifikasi heterotropik (nyeri tulang pada sendi sendi) Komplikasi lain: 1. Peningkatan TIK 2. Hemorarghi 3. Kegagalan nafas 4. Diseksi ekstrakranial

F. Penatalaksanaan 1. Penatalaksanaan Keperawatan a. Menjamin kelancaran jalan nafas dan control vertebra cervicalis b. Menjaga saluran nafas tetap bersih, bebas dari secret c. Mempertahankan sirkulasi stabil d. Melakukan observasi tingkat kesadaran dan tanda tanda vital e. Menjaga intake cairan elektrolit dan nutrisi jangan sampai terjadi hiperhidrasi f. Menjaga kebersihan kulit untuk mencegah terjadinya decubitus g. Mengelola pemberian obat sesuai program 2. Penatalaksanaan Medis a. Oksigenasi dan IVFD b. Terapi untuk mengurangi edema serebri (anti edema) Dexamethasone 10 mg untuk dosis awal, selanjutnya:

1). 5 mg/6 jam untuk hari I dan II 2). 5 mg/8 jam untuk hari III 3). 5 mg/12 jam untuk hari IV

4). 5 mg/24 jam untuk hari V


c. Terapi neurotropik: citicoline, piroxicam d. Terapi anti perdarahan bila perlu e. Terapi antibiotik untuk profilaksis f. Terapi antipeuretik bila demam g. Terapi anti konvulsi bila klien kejang h. Terapi diazepam 5-10 mg atau CPZ bila klien gelisah i. Intake cairan tidak boleh > 800 cc/24 jam selama 3-4 hari

G. Pemeriksaan Diagnostik 1. X Ray tengkorak 2. CT Scan 3. Angiografi 4. Pemeriksaan neurologist

H. Asuhan Keperawatan CKS 1. Pengkajian Data fokus yang perlu dikaji: a. Riwayat kesehatan meliputi: keluhan utama, kapan cidera terjadi, penyebab cidera, riwayat tak sadar, amnesia, riwayat kesehatan yang lalu, dan riwayat kesehatan keluarga. b. Pemeriksaan fisik

1). Keadaan umum 2). Pemeriksaan persistem a). Sistem persepsi dan sensori (pemeriksaan panca indera: penglihatan, pendengaran,
penciuman, pengecap, dan perasa)

b). Sistem persarafan (tingkat kesadaran/ nilai GCS, reflek bicara, pupil, orientasi waktu dan
tempat)

c). Sistem pernafasan (nilai frekuensi nafas, kualitas, suara, dan kepatenan jalan nafas) d). Sistem kardiovaskuler (nilai TD, nadi dan irama, kualitas, dan frekuensi) e). Sistem gastrointestinal (nilai kemampuan menelan, nafsu makan/ minum, peristaltik, eliminasi) f). Sistem integumen ( nilai warna, turgor, tekstur dari kulit, luka/ lesi) g). Sistem reproduksi h). Sistem perkemihan (nilai frekuensi b.a.k, volume b.a.k)

c. Pola fungsi kesehatan

1). Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan (termasuk adakah kebiasaan merokok, minum
alcohol, dan penggunaan obat obatan)

2). Pola aktivitas dan latihan (adakah keluhan lemas, pusing, kelelahan, dan kelemahan otot) 3). Pola nutrisi dan metabolisme (adakah keluhan mual, muntah) 4). Pola eliminasi 5). Pola tidur dan istirahat 6). Pola kognitif dan perceptual 7). Persepsi diri dan konsep diri 8). Pola toleransi dan koping stress 9). Pola seksual dan reproduktif 10). 11).
Pola hubungan dan peran Pola nilai dan keyakinan

2. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan cidera kepala adalah sebagai berikut: 1) Perfusi jaringan tidak efektif (spesifik serebral) berhubungan dengan aliran arteri dan atau vena terputus. 2) Nyeri akut berhubungan dengan agen injury fisik. 3) Hipertermi berhubungan dengan trauma (cidera jaringan otak, kerusakan batang otak) 4) Pola nafas tak efektif berhubungan dengan hipoventilasi 5) Kerusakan persepsi sensori berhubungan dengan penurunan kemampuan kognitif, afektif, dan motorik) 6) Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kemampuan kognitif, motorik, dan afektif. 7) Defisit perawatan diri: makan/ mandi, toileting berhubungan dengan kelemahan fisik dan nyeri. 8) Kurang pengetahuan berhubungan dengan penurunan kemampuan kognitif, motorik, dan afektif. 9) Resiko aspirasi berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran. 10) Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan status hipermetabolik. 11) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma/ laserasi kulit kepala 12) Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah.

13) PK: peningkatan TIK dengan proses desak ruang akibat penumpukan cairan/ darah di dalam otak.

3. Rencana Perawatan
No 1 Diagnosa Keperawatan Perfusi jaringan tak efektif (spesifik sere1. bral) b.d aliran arteri 2. dan atau vena terputus, dengan batasan karak-teristik: Perubahan respon motorik Perubahan status 1. mental Perubahan respon pupil Amnesia retrograde (gang-guan memori) Tujuan dan kriteria Intervensi hasil NOC: Monitor Tekanan Intra Kranial Status sirkulasi 1. Catat perubahan respon klien terhadap Perfusi jaringan serebral stimu-lus / rangsangan 2. Monitor TIK klien dan respon neurologis Setelah dilakukan terhadap aktivitas 3. Monitor intake dan output tindakan keperawatan 4. Pasang restrain, jika perlu selama .x 24 jam, klien 5. Monitor suhu dan angka leukosit mampu men-capai : 6. Kaji adanya kaku kuduk Status sirkulasi dengan 7. Kelola pemberian antibiotik indikator: O 8. Berikan posisi dengan kepala elevasi 30-40 Tekanan darah sis-tolik dan diastolik dalam dengan leher dalam posisi netral rentang yang diharapkan 9. Minimalkan stimulus dari lingkungan 10. Beri jarak antar tindakan keperawatan untuk Tidak ada ortostatik meminimalkan peningkatan TIK hipotensi 11. Kelola obat obat untuk mempertahankan Tidak ada tanda tan-da TIK dalam batas spesifik PTIK 2. Perfusi jaringan serebral, dengan indicator : 1. Klien mampu berkomunikasi dengan je-las dan sesuai ke-mampuan 2. 3. Klien menunjukkan 4. perhatian, konsen-trasi, dan orientasi 5. Klien mampu mem6. proses informasi 7. Klien mampu mem-buat keputusan de-ngan benar Tingkat kesadaran klien 1. membaik 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 2 Nyeri akut b.d dengan agen injuri fisik, 1. dengan batasan 2. karakteristik: 3. Laporan nyeri keNOC: Nyeri terkontrol Tingkat Nyeri Tingkat kenyamanan Monitoring Neurologis (2620) Monitor ukuran, kesimetrisan, reaksi dan bentuk pupil Monitor tingkat kesadaran klien Monitor tanda-tanda vital Monitor keluhan nyeri kepala, mual, dan muntah Monitor respon klien terhadap pengobatan Hindari aktivitas jika TIK meningkat Observasi kondisi fisik klien Terapi Oksigen (3320) Bersihkan jalan nafas dari secret Pertahankan jalan nafas tetap efektif Berikan oksigen sesuai instruksi Monitor aliran oksigen, kanul oksigen, dan humidifier Beri penjelasan kepada klien tentang pentingnya pemberian oksigen Observasi tanda-tanda hipoventilasi Monitor respon klien terhadap pemberian oksigen Anjurkan klien untuk tetap memakai oksigen selama aktivitas dan tidur Manajemen nyeri (1400) Kaji keluhan nyeri, lokasi, karakteristik, onset/durasi, frekuensi, kualitas, dan beratnya nyeri. Observasi respon ketidaknyamanan secara

1.

2.

pala secara verbal atau non verbal Respon autonom (perubahan vital sign, dilatasi pupil) Tingkah laku eks-1. presif (gelisah, menangis, merintih) Fakta dari observasi Gangguan tidur (mata sayu, menyeringai, dll) -

verbal dan non verbal. 3. Pastikan klien menerima perawatan Setelah dilakukan asuhan keperawatan analgetik dg tepat. 4. Gunakan strategi komunikasi yang efektif selama . x 24 jam, klien untuk mengetahui respon penerimaan klien dapat : Mengontrol nyeri, de- terhadap nyeri. 5. Evaluasi keefektifan penggunaan kontrol ngan indikator: Mengenal faktor-faktor nyeri 6. Monitoring perubahan nyeri baik aktual penyebab maupun potensial. Mengenal onset nyeri 7. Sediakan lingkungan yang nyaman. Tindakan pertolong-an 8. Kurangi faktor-faktor yang dapat menambah non farmakologi Menggunakan anal-getik ungkapan nyeri. 9. Ajarkan penggunaan tehnik relaksasi Melaporkan gejalagejala nyeri kepada tim sebelum atau sesudah nyeri berlangsung. 10. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk kesehatan. memilih tindakan selain obat untuk Nyeri terkontrol meringankan nyeri. 11. Tingkatkan istirahat yang adekuat untuk 2. Menunjukkan tingkat meringankan nyeri. nyeri, dengan indikator: Melaporkan nyeri Frekuensi nyeri Lamanya episode nyeri 1. Ekspresi nyeri; wa-jah Perubahan respirasi rate 2. Perubahan tekanan 3. darah Kehilangan nafsu makan 4. 5. 3. Tingkat kenyamanan, dengan indicator : 6. Klien melaporkan kebutuhan tidur dan istirahat tercukupi Manajemen pengobatan (2380) Tentukan obat yang dibutuhkan klien dan cara mengelola sesuai dengan anjuran/ dosis. Monitor efek teraupetik dari pengobatan. Monitor tanda, gejala dan efek samping obat. Monitor interaksi obat. Ajarkan pada klien / keluarga cara mengatasi efek samping pengobatan. Jelaskan manfaat pengobatan yg dapat mempengaruhi gaya hidup klien.

Pengelolaan analgetik (2210) 1. Periksa perintah medis tentang obat, dosis & frekuensi obat analgetik. 2. Periksa riwayat alergi klien. 3. Pilih obat berdasarkan tipe dan beratnya nyeri. 4. Pilih cara pemberian IV atau IM untuk pengobatan, jika mungkin. 5. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgetik. 6. Kelola jadwal pemberian analgetik yang sesuai. 7. Evaluasi efektifitas dosis analgetik, observasi tanda dan gejala efek samping, misal depresi pernafasan, mual dan muntah, mulut kering, & konstipasi. 8. Kolaborasi dgn dokter untuk obat, dosis & cara pemberian yg diindikasikan. 9. Tentukan lokasi nyeri, karakteristik, kualitas, dan keparahan sebelum pengobatan. 10. Berikan obat dengan prinsip 5 benar

11. Dokumentasikan respon dari analgetik dan efek yang tidak diinginkan NIC: Membantu perawatan diri klien Defisit self careNOC: b.d Mandi dan toiletting de-ngan kelelahan, Perawatan diri : nyeri (mandi, Makan Toiletting, berpakaian) Aktifitas: 1. Tempatkan alat-alat mandi di tempat yang Setelah diberi motivasi mudah dikenali dan mudah dijangkau klien perawatan selama .x24 2. Libatkan klien dan dampingi jam, ps mengerti cara 3. Berikan bantuan selama klien masih mampu memenuhi ADL secara mengerjakan sendiri bertahap sesuai kemampuan, dengan kriteria : NIC: ADL Berpakaian Mengerti secara sederhana cara mandi, Aktifitas: makan, toileting, dan 1. Informasikan pada klien dalam memilih berpakaian serta mau pakaian selama perawatan mencoba se-cara aman 2. Sediakan pakaian di tempat yang mudah tanpa cemas dijangkau Klien mau berpartisipasi 3. Bantu berpakaian yang sesuai dengan senang hati 4. Jaga privcy klien tanpa keluhan dalam 5. Berikan pakaian pribadi yg digemari dan memenuhi ADL sesuai NIC: ADL Makan 1. Anjurkan duduk dan berdoa bersama teman 2. Dampingi saat makan 3. Bantu jika klien belum mampu dan beri contoh 4. Beri rasa nyaman saat makan Setelah dilakukan 1. Pantau tanda dan gejala peningkatan TIK tindakan keperawatan Kaji respon membuka mata, respon motorik, selama ....x 24 jam dapat dan verbal, (GCS) mencegah atau Kaji perubahan tanda-tanda vital meminimalkan komplikasi Kaji respon pupil dari peningkatan TIK, Catat gejala dan tanda-tanda: muntah, sakit dengan kriteria : kepala, lethargi, gelisah, nafas keras, Kesadaran stabil (orien- gerakan tak bertujuan, perubahan mental O 2. Tinggikan kepala 30-40 jika tidak ada asi baik) Pupil isokor, diameter kontra indikasi 3. Hindarkan situasi atau manuver sebagai 1mm berikut: Reflek baik Masase karotis Tidak mual Fleksi dan rotasi leher berlebihan Tidak muntah Stimulasi anal dengan jari, menahan nafas, dan mengejan Perubahan posisi yang cepat 4. Ajarkan klien untuk ekspirasi selama perubahan posisi 5. Konsul dengan dokter untuk pemberian pelunak faeces, jika perlu 6. Pertahankan lingkungan yang tenang 7. Hindarkan pelaksanaan urutan aktivitas yang dapat meningkatkan TIK (misal: batuk, penghisapan, pengubahan posisi, meman-

PK: peningkatan tekan-an intrakranial b.d pro-ses desak ruang akibat penumpukan cairan / darah di dalam otak (Carpenito, 1999) Batasan karakteristik : Penurunan kesadaran (gelisah, disori- entasi) Perubahan motorik dan persepsi sensasi Perubahan tanda vital (TD meningkat, nadi kuat dan lambat) Pupil melebar, re-flek pupil menurun Muntah Klien mengeluh mual Klien mengeluh pandangan kabur dan diplopia

dikan) 8. Batasi waktu penghisapan pada tiap waktu hingga 10 detik 9. Hiperoksigenasi dan hiperventilasi klien sebelum dan sesudah penghisapan 10. Konsultasi dengan dokter tentang pemberian lidokain profilaktik sebelum penghisapan 11. Pertahankan ventilasi optimal melalui posisi yang sesuai dan penghisapan yang teratur 12. Jika diindikasikan, lakukan protokol atau kolaborasi dengan dokter untuk terapi obat yang mungkin termasuk sebagai berikut: 13. Sedasi, barbiturat (menurunkan laju metabolisme serebral) 14. Antikonvulsan (mencegah kejang) 15. Diuretik osmotik (menurunkan edema serebral) 16. Diuretik non osmotik (mengurangi edema serebral) 17. Steroid (menurunkan permeabilitas kapiler, membatasi edema serebral) 18. Pantau status hidrasi, evaluasi cairan masuk dan keluar)

DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Volume II. Edisi 8. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Carpenito, L.J. 1999. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan dan Masalah Kolaborasi. Edisi 8. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Doenges, M.E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hudak dan Gallo. 1996. Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik. Volume II. Edisi 6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Marion Johnson, dkk. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. Mosby. Mc. Closkey dan Buleccheck. 2000. Nursing Interventions Classification (NIC) Second Edition. Mosby. NANDA. 2005. Nursing Diagnosis: Definition and Classification. Philadelphia: North American Nursing Diagnosis Association.

Hari Rabu, Februari 29, 2012 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Tidak ada komentar: Poskan Komentar Link ke posting ini Buat sebuah Link Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom)

My Profile

Rizki Kurniadi Lihat profil lengkapku

Rank & Link

Arsip Blog

12 (1425) o Desember (79) o November (51) o Oktober (50) o September (6) o Juni (23) o Mei (91) o April (39) o Maret (673) o Februari (380) 29 Feb (35)

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN DEMAM BERDARAH DE... ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN ASMA BRONKHEALE AP... ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ANEMIA APLIKASI NAN... ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN VERTIGO APLI... ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TUMOR INTRA KRANIA... ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN STROKE APLIKASI NA... ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN SI... ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN NYERI PUNGGUNG B... ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN KOMA APLIKASI NAN... ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN CEDERA MEDULA SPI... ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GUILLAIN BAR... ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN EPILEPSI APLIKASI ... ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN CIDERA KEPALA (N... Catatan Perkembangan Diagnosa Keperawatan : Gangg... PENGKAJIAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA PRE PLANNING PENYULUHAN KESEHATAN TENTANG GASTRITI... PRE PLANNING PENYULUHAN DAN DEMONSTRASI CUCI TANG... PRE PLANING PENYULUHAN ASI EKSKLUSIF DESA RAWA A... PRE PLANNING PROGRAM PENGOBATAN MASSAL MAHASISWA... PRE PLANNING PENGUKURAN TEKANAN DARAH (TENSI) GRA... PRE PLANNING PERCONTOHAN SARINGAN AIR BERSIH MAH... PRE PLANNING PROGRAM GOTONG ROYONG MASSAL MAHASI... PRE PLANNING PENYULUHAN GIZI SEIMBANG PADA BALITA PRE PLANING PENYULUHAN KESEHATAN TENTANG HIPERTENS... PRE PLANNING PENYULUHAN KESEHATAN TENTANG IMUNISA... PRE PLANING PENYULUHAN REMATIK DESA RAWA ASRI

PRE PLANNING PENYULUHAN DAN DEMONSTRASI MENYIKAT ... PRE PLANNING PENYULUHAN TENTANG DAMPAK PENGGUNAAN... PENGKAJIAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL) DESA RAWA ... MUSYAWARAH MASYARAKAT DESA (MMD) DESA RAWA ASRI ANALISA DATA PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL) DESA RAW... PROPOSAL PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL) DESA RAWA AS... PROPOSAL PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL) DESA RAWA AS... PROPOSAL PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL) DESA RAWA AS... PROPOSAL PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL) DESA RAWA AS... 28 Feb (1) 27 Feb (93) 26 Feb (21) 25 Feb (30) 24 Feb (15) 21 Feb (16) 20 Feb (45) 17 Feb (15) 16 Feb (11) 15 Feb (51) 12 Feb (26) 11 Feb (21) Januari (33)

11 (62)

Entri Populer

ASUHAN KEPERAWATAN ANEMIA DENGAN NANDA, NOC, NIC ASUHAN KEPERAWATAN DIARE CAIR AKUT DENGAN NANDA, NOC, NIC LAPORAN PENDAHULUAN DIABETES MELITUS ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN CIDERA KEPALA (NANDA,, NOC, NIC) ASUHAN KEPERAWATAN STROKE DENGAN NANDA, NOC, NIC ASUHAN KEPERAWATAN POST OP SECTIO CAESARIA TERHADAP NY. S DI POLI KEBIDANAN RSU BANYUMAS JAWA TENGAH APLIKASI NANDA, NOC, NIC ASUHAN KEPERAWATAN CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD) DENGAN NANDA, NOC, NIC ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN FEBRIS MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN DIARE

ASUHAN KEPERAWATAN KEJANG DEMAM PADA An. R DI MELATI 2 INSKA RSUP DR. SARDJITO

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Template Awesome Inc.. Diberdayakan oleh Blogger.