Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan upaya memahami berbagai fenomena alam secara sistematis. Pada hakikatnya, pembelajaran IPA memiliki empat dimensi yaitu sikap, proses, produk, dan aplikasi. Sikap berkaitan dengan rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam, makhluk hidup, serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar, IPA bersifat open ended. Proses berkaitan dengan prosedur pemecahan masalah dengan menggunakan metode ilmiah yang meliputi merumuskan hipotesis, merancang dan melaksanakan penyelidikan, mengumpulkan dan menganalisis data, serta menarik kesimpulan. Produk IPA meliputi konsep, prinsip, hukum, dan teori. Aplikasi berkaitan dengan penerapan metode ilmiah dan produk IPA dalam kehidupan sehari-hari. Keempat dimensi di atas merupakan ciri IPA yang utuh yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.Oleh karena itu seyogyanya pembelajaran IPA mencakup empat aspek di atas. Pembelajaran IPA bukan hanya untuk menguasai sejumlah

pengetahuan sebagai produk IPA, tetapi juga harus menyediakan ruang yang cukup untuk tumbuh berkembangnya sikap ilmiah, berlatih melakukan proses pemecahan masalah, dan penerapan IPA dalam kehidupan nyata.

Kecenderungan pembelajaran IPA pada masa kini adalah peserta didik hanya mempelajari IPA sebagai produk, menghafalkan konsep, prinsip, hukum, dan teori. Keadaan ini diperparah oleh pembelajaran yang beriorientasi pada tes/ujian. Akibatnya IPA sebagai sikap, proses, dan aplikasi tidak tersentuh dalam pembelajaran. Tantangan abad 21 ditandai oleh pesatnya perkembangan teknologi yang diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan di masyarakat. Fakta menunjukkan bahwa berbagai tindakan manusia memberikan dampak yang besar pada berbagai aspek kehidupan. Oleh karena itu, diperlukan cara

pembelajaran yang dapat menyiapkan peserta didik untuk melek IPA dan teknologi, mampu berpikir logis, kritis, kreatif, dapat berargumentasi secara benar, dan yang tidak kalah penting adalah kemampuan berpikir secara komprehensif dalam memecahkan berbagai persoalan dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, siswa dituntut menguasai IPA secara terpadu. Secara yuridis formal, pembelajaran IPA terpadu merupakan salah satu model implementasi kurikulum yang diharapkan dapat diaplikasikan di SMP/MTs. Dalam Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional

(Permendiknas) Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Mata Pelajaran IPA di tingkat SMP/MTs diharapkan ada penekanan pembelajaran salingtemas (sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat) secara terpadu yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana. Selain itu, perlu juga adanya muatan imtaq di dalam pembelajaran IPA untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan siswa. Selanjutnya, dalam Permendiknas No 24 Tahun 2006 pada pasal 1 ayat 2 dinyatakan bahwa satuan pendidikan dasar dan menengah dapat

mengembangkan kurikulum dengan standar yang lebih tinggi dari Standar Isi sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Standar Kompentesi Lulusan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Dengan demikian, dimungkinkan merancang pembelajaran dengan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi dasar (KD) yang baru untuk memperkaya SK/KD yang ada. Dalam Permen Diknas No 41 Tahun 2007 butir II B dinyatakan bahwa RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Kemudian, dalam Butir II C nomor 5 dinyatakan pengembangan RPP memperhatikan prinsip keterkaitan dan keterpaduan, artinya penyusunan RPP harus memperhatikan keterkaitan dan

keterpaduan antara SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran,

indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar. RPP disusun dengan mengakomodasikan pembelajaran tematik, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya. Mengacu pada Permen tersebut di atas, maka dimungkinkan bagi satuan pendidikan untuk menyusun kurikulum

operasionalnya dengan menambah KD dan atau SKL. Dengan demikian, penerapan pembelajaran IPA terpadu di SMP/MTs memiliki dasar hukum yang kuat.

BAB II PEMBELAJARAN IPA TERPADU MODEL INTEGRATED

A. Konsep Pembelajaran IPA Terpadu Lingkup IPA di tingkat SMP/MTs meliputi bidang kajian energi dan perubahannya, bumi antariksa, makhluk hidup dan proses kehidupan, serta materi dan sifatnya. Menurut Permendiknas No. 22 tahun 2006, lingkup IPA tersebut dibelajarkan dalam satu mata pelajaran IPA. Konsekuensi logisnya adalah bahwa dalam pembelajaran IPA, bidang kajian tersebut dikemas menjadi satua kesatuan yang utuh. Pelaksanaan pembelajaran IPA seyogyanya juga memberi penekanan pada pembelajaran salingtemas (sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat). Karena itulah mata pelajaran IPA harus disajikan melalui pembelajaran IPA terpadu. IPA terpadu adalah sebuah pendekatan integratif yang mensintesis perspektif (sudut pandang/tinjauan) semua bidang kajian untuk memecahkan permasalahan. Dengan pembelajaran terpadu, siswa diharapkan mempunyai pengetahuan IPA yang utuh (holistik) untuk menghadapi permasalahan kehidupan sehari-hari secara kontekstual. Agar siswa kompeten dalam pemecahan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, pembelajaran IPA terpadu dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja, dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup (life skills). Pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah adalah karakteristik lain dari pembelajaran IPA terpadu. Keterampilan proses yang harus dilatihkan melalui pembelajaran IPA terpadu, antara lain: mengidentifikasi masalah, melakukan pengamatan (observasi), menyusun hipotesis, merancang dan melakukan penyelidikan, dan merumuskan simpulan. Keterampilan inkuiri lain yang mewarnai

pembelajaran IPA terpadu adalah: mengukur, menggunakan peralatan, menggolongkan atau melakukan klasifikasi, mengolah dan menganalisis data, menerapkan ide pada situasi baru, serta mengkomunikasikan informasi dalam

berbagai cara, misalnya dengan gambar, lisan, tulisan, dan sebagainya. Latihan keterampilan proses dapat mengembangkan sikap dan nilai, antara lain: rasa ingin tahu, jujur, sabar, terbuka, skeptis, kritis, tekun, ulet, cermat, disiplin, peduli terhadap lingkungan, memperhatikan keselamatan kerja, dan bekerja sama dengan orang lain. B. Model-model Pembelajaran IPA Terpadu yang Potensial Diterapkan Dari sejumlah model keterpaduan pembelajaran menurut Fogarty (1991), terdapat tiga model yang potensial untuk diterapkan dalam pembelajaran IPA terpadu, yaitu connected, webbed, dan integrated. Tiga model tersebut dipilih karena konsep-konsep dalam KD IPA memiliki karakteristik yang berbeda-beda, sehingga memerlukan model yang sesuai agar memberikan hasil yang optimal. Tabel 1 Karakteristik Pembelajaran Terpadu Model Integrated, Webbed, dan Connected Model Keterpaduan (integrated) Membelajarkan beberapa KD yang konsep-konsepnya beririsan/ tumpang tindih Karakteristik Kelebihan Pemahaman terhadap konsep lebih utuh (holistik) Lebih efisien Sangat kontekstual Keterbatasan KD-KD yang konsepnya beririsan berada dalam semester atau kelas yang berbeda Menuntut wawasan dan penguasaan materi yang luas Sarana-prasarana, misalnya buku belum mendukung

Jaring laba-laba (Webbed) Membelajarkan beberapa KD yang berkaitan melalui sebuah tema

tema

Pemahaman terhadap konsep utuh Kontekstual Dapat dipilih tema-tema menarik yang dekat dengan kehidupan

KD-KD yang berkaitan berada dalam semester atau kelas yang berbeda Tidak mudah menemukan tema pengait yang tepat.

Keterhubungan (connected)

Membelajarkan sebuah KD, konsep-konsep pada KD tersebut dipertautkan dengan konsep pada KD yang lain

Melihat permasalahan tidak hanya dari satu bidang kajian Pembelajaran dapat mengikuti KD-KD dalam SI, tetapi harus dikaitkan dengan KD yang relevan

Kaitan antara bidang kajian sudah tampak tetapi masih didominasi oleh bidang kajian tertentu

BAB III PELAKSANAAN PEMBELAJARAN IPA TERPADU MODEL INTEGRATED

Pembelajaran IPA terpadu melibatkan tiga kegiatan utama yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Di samping itu, pembelajaran IPA terpadu memberikan beberapa implikasi terhadap guru, siswa maupun bahan ajar yang digunakan.

A. Perencanaan Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran IPA terpadu akan lebih optimal jika guru dalam merencanakan pembelajaran tersebut

mempertimbangkan kondisi dan potensi peserta didik serta kemampuan sumberdaya pendukung lainnya. Kondisi dan potensi peserta didik tersebut meliputi: minat, bakat, kebutuhan, dan kemampuan peserta didik. Sedangkan, yang dimaksud dengan kemampuan sumberdaya pendukung meliputi: kemampuan guru, ketersediaan sarana dan prasarana pembelajaran, serta kepedulian stakeholders sekolah. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, ada tiga model keterpaduan yang potensial diterapkan dalam pembelajaran IPA di SMP/MTs, yaitu: model keterpaduan secara connected, webbed, dan integrated. Model keterpaduan manapun yang diterapkan oleh guru, semuanya berdasarkan pada keterkaitan antar bidang kajian IPA. Dalam Lampiran Permendiknas No. 22 Tahun 2006, SK dan KD sudah dituangkan secara terpisah dalam masing-masing bidang kajian. Oleh karena itu, untuk pelaksanaan pembelajaran IPA terpadu perlu dilakukan pemetaan terlebih dulu. Namun, dengan model-model keterpaduan di atas, harus diupayakan tidak satupun SK atau KD yang pencapaiannya parsial tanpa mengaitkan atau memadukannya dengan SK atau KD lain yang relevan. Pemetaan dan penyusunan RPP(Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) sebagaimana ditunjukkan Gambar 1.

Langkah-langkah Penyusunan Perencanaan Pembelajaran IPA Terpadu: 1. Mengkaji dan memetakan semua SK dan KD dari bidang kajian yang akan dipadukan. Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh, sehingga dapat dipilih model keterpaduan connected, webbed, ataukah integrated yang akan diterapkan dalam pelaksanaan pembelajaran IPA terpadu tersebut, sekaligus untuk meyakinkan bahwa tidak ada satupun KD yang dicapai tanpa mengaitkannya dengan KD lain.
Memetakan SK dan KD bidang kajian IPA yang akan dipadukan

Menentukan jenis keterpaduan konsepkonsep antar KD dalam bidang kajian IPA Connected Webbed Integrated Menentukan topik/konsep yang beririsan atau tema yang mewakili

Merumuskan indikator pembelajaran IPA terpadu

Menentukan materi pokok dan materi yang dikaitkan

Menentukan tema pemersatu

Menyusun silabus pembelajaran IPA terpadu

Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran IPA terpadu

Gambar 1 Alur Penyusunan Perencanaan Pembelajaran IPA Terpadu Secara lebih rinci, alur penyusunan rencana pembelajaran IPA terpadu yang ditunjukkan pada Gambar 1 di atas dapat dijelaskan sebagai berikut. 2. Menentukan model keterpaduan. Bila konsep pada suatu KD menjadi materi utama, sedang konsep pada KD lain akan dikaitkan atau menjadi terapannya, maka model keterpaduan yang dihasilkan adalah connected. Bila beberapa konsep dari beberapa KD dipersatukan melalui sebuah tema, maka model keterpaduan yang dihasilkan adalah webbed. Bila beberapa konsep dari beberapa KD yang beririsan diangkat menjadi topik, atau dipilih suatu tema tertentu yang mewakili (bukan mengaitkan) konsep-

konsep yang beririsan tersebut, maka model keterpaduan yang dihasilkan adalah integrated. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan kaitan, menentukan tema, atau memilih topik pada pembelajaran IPA terpadu adalah: a. Relevan dengan KD-KD yang dipadukan. b. Memperhatikan isu-isu yang aktual dan menarik. c. Kontekstual, yaitu dekat dengan pengalaman pribadi peserta didik dan sesuai dengan keadaan lingkungan setempat. 3. Membuat matriks atau bagan keterhubungan konsep-konsep dalam kompetensi dasar sesuai keterpaduan yang dipilih. Dengan matriks atau bagan ini, hasil pemetaan KD atau SK dan model keterpaduan yang dipilih menjadi semakin jelas. 4. Merumuskan indikator pencapaian hasil belajar sesuai KD-KD yang dipadukan. Untuk model keterpaduan integrated, dimungkinkan

merumuskan KD sesuai karakteristik keterpaduannya. 5. Menyusun silabus pembelajaran IPA terpadu berdasarkan sejumlah indikator yang telah dihasilkan. Setelah silabus tersusun, selanjutnya dikembangkan pembelajaran rencana IPA pelaksanaan pembelajaran terletak (RPP). pada Pada

Terpadu,

keterpaduan

kegiatan

pembelajaran. Hal ini disebabkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar telah ditentukan dalam Standar Isi.

B. Pelaksanaan Model Pembelajaran IPA Terpadu Sesuai uraian sebelumnya, terdapat tiga model keterpaduan yang berpotensi untuk dikembangkan dalam pembelajaran IPA terpadu, yakni connected, webbed, dan integrated. Apapun model yang dipilih, pembelajaran harus dijabarkan dari silabus menjadi RPP dan dikemas menjadi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup/tindak lanjut.

1. Kegiatan Pendahuluan/Awal Kegiatan pendahuluan untuk menciptakan suasana awal yang kondusif, sehingga pembelajaran akan berjalan efektif dan peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Efisiensi waktu dalam kegiatan awal ini perlu diperhatikan, karena waktu yang tersedia relatif singkat, yaitu antara 5-10 menit. Langkah-langkah dalam kegiatan pendahuluan antara lain:

menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran, melakukan kegiatan motivasi, mengajukan pertanyaanpertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari, menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai, dan menyampaikan cakupan materi, serta penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus. Dalam kegiatan pendahuluan ini guru

dapat pula melakukan penilaian awal (tes awal) secara lisan maupun tertulis.

2. Kegiatan Inti Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan inti dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Menurut Permen Diknas 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses Pembelajaran, kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Dalam kegiatan eksplorasi, guru melibatkan peserta didik untuk: (i) mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari; (ii) menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain; (iii) memfasilitasi

terjadinya interaksi antar peserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya; (iv) melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan (v) memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium atau lapangan. Dalam kegiatan elaborasi, guru: (i) membiasakan peserta didik mencari literatur yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna, termasuk mencari informasi dari internet; (ii) memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas dan diskusi untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis; (iii) memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut; (iv) berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar; (iv) membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik secara lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok; serta (v) melalui kegiatankegiatan lain yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik. Dalam kegiatan konfirmasi, guru: (i) memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik; (ii) melakukan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi sehingga peserta didik memahami hasilhasil yang benar; serta (iii) melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar bermakna dalam mencapai kompetensi dasar. 3. Kegiatan Penutup/Akhir dan Tindak Lanjut Sebagaimana waktu untuk kegiatan pendahuluan, waktu yang tersedia untuk kegiatan penutup atau kegiatan akhir ini juga cukup singkat, karena itu guru perlu mengatur dan memanfaatkannya secara efisien. Kegiatan penutup antara lain: mengajak peserta didik untuk

menyimpulkan materi yang telah diajarkan, melaksanakan tindak lanjut pembelajaran dengan pemberian tugas atau latihan yang harus dikerjakan di rumah, menjelaskan kembali bahan yang dianggap sulit oleh peserta

didik, membaca materi pelajaran tertentu, mendiskusikan terapannya dalam kehidupan sehari-hari, mengemukakan topik yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya, memberikan evaluasi secara lisan atau tertulis, dan memberikan penghargaan kepada peserta didik yang kinerjanya bagus. Pembelajaran IPA terpadu secara connected, webbed, atau integrated dapat dilaksanakan melalui model-model pembelajaran inovatif, misalnya pembelajaran berdasarkan masalah, pembelajaran kooperatif, pengajaran langsung, dan lain-lain. Tentu saja langkah-langkah atau sintaksnya dimodifikasi sesuai model keterpaduan yang dipilih.

C. Penilaian Penilaian dalam pembelajaran IPA terpadu dilakukan dengan memperhatikan hal-hal berikut: 1. Hakikat IPA. Penilaian tidak hanya ditekankan pada dimensi produk (kognitif), tetapi juga harus menilai dimensi sikap, proses, dan aplikasi secara proporsional. Penilaian tidak hanya menyangkut apa yang diketahui oleh peserta didik, tetapi juga harus menilai apa yang dapat dilakukan oleh peserta didik, melalui berbagai bentuk penilaian kinerja. 2. Model keterpaduan yang dipilih. Kriteria ketuntasan atau ketercapaian KD pada model connected, webbed, atau integrated ditentukan mengacu pada konsep-konsep KD yang dipadukan. Dengan demikian, konten atau cakupan penilaian dapat berupa perpaduan berbagai bidang kajian atau hanya mengaitkan bidang kajian tertentu dengan bidang kajian yang lain. 3. Sistem penilaian. Sesuai Permendiknas Nomor 20 Tahun 2007, penilaian dilakukan menyatu dengan proses pembelajaran melalui ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, ulangan kenaikan kelas, ujian sekolah, dan ujian nasional. Penilaian harus memperhatikan prinsipprinsip: sahih, objektif, adil, terpadu, terbuka, menyeluruh dan berkesinambungan, sistematis, beracuan kriteria, serta akuntabel. Penilaian

dilakukan dengan berbagai bentuk, teknik, dan menggunakan berbagai instrumen penilaian sebagaimana ditunjukkan Tabel 2 di bawah ini. Tabel 2 Klasifikasi Teknik dan Bentuk Instrumen Penilaian No 1 Teknik Penilaian Ujian tertulis Bentuk Instrumen Soal pilihan: pilihan ganda, benarsalah, menjodohkan, dll. Soal isian: isian singkat dan uraian Lembar observasi (lembar pengamatan) Soal tulis keterampilan Soal simulasi Soal/soal petik kerja Pekerjaan rumah Proyek Daftar pertanyaan Lembar penilaian portofolio Buku cacatan jurnal Kuesioner/lembar penilaian diri Lembar penilaian antarteman

2 3 4 5 6 7 8 9

Observasi (pengamatan) Ujian praktik (tes kinerja) Penugasan individual atau kelompok Ujian lisan Penilaian portofolio Jurnal Penilaian diri Penilaian antarteman

Daftar Pustaka

Fogarty, R. (1991). How to integrate the curricula. Palatine: IRI/Skylight Publishing, Inc. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia (2007). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Repubrik Indonesia Nomor 20 Tahun 2007 Tentang Standar Penilaian Pendidikan untuk Satuan Pendidikan dasar dan Menengah. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia (2007). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses Pendidikan untuk Satuan Pendidikan dasar dan Menengah. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia (2006). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan dasar dan Menengah. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia. (2006). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Repubrik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Repubrik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan dasar dan Menengah. Pusat Kurikulum, Balitbang, Depdiknas. (2006). Panduan Pengembangan Pembelajaran IPA Terpadu, SMP/MTs.