Anda di halaman 1dari 15

SISTEM KOLOID

Disusun oleh:

Astrien Melinda Rahma Marthini Putri

Kelas XI IPA 2

DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA SMA NEGERI 1 KEPAHIANG

TP 2008 2009

SISTEM KOLOID
1. Pengertian Koloid
Koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaannya antara larutan dan suspensi. Koloid merupakan sistem heterogen, dimana suatu zat "didispersikan" ke dalam suatu media yang homogen. Ukuran zat yang didispersikan berkisar dari satu nanometer (nm) hingga satu mikrometer (m). Jika kita campurkan susu (misalnya, susu instan) dengan air, ternyata susu "larut" tetapi "larutan" itu tidak bening melainkan keruh. Jika didiamkan, campuran itu tidak memisah dan juga tidak dapat dipisahkan dengan penyaringan (hasil penyaringan tetap keruh). Secara makroskopis campuran ini tampak homogen. Akan tetapi, jika diamati dengan mikroskop ultra ternyata masih dapat dibedakan partikel-partikel lemak susu yang tersebar di dalam air. Campuran seperti inilah yang disebut koloid. Jadi, koloid tergolong campuran heterogen dan merupakan sistem dua fase. Zat yang didipersikan disebut fase terdispersi, sedangkan medium yang digunakan untuk mendispersikan zat disebut medium dispersi. Fase terdispersi bersifat diskontinu (terputus-putus), sedangkan medium dispersi bersifat kontinu. Pada campuran susu dengan air, fase terdispersi adalah lemak, sedangkan medium dispersinya adalah air.

2. Pengelompokan Koloid
Sistem Koloid terdiri atas dua fase yaitu fase terdispersi dan fase pendispersi. Pengelompokan koloid didasarkan pada jenis fase terdispersi dan pendispersi tersebut. Dalam sistem koloid terdapat tiga fase zat, yaitu padat,

cair, dan gas. Dari ketiga fase ini terbagi kedalam delapan sistem koloid. Adapun kedelapan sistem koloid tersebut adalah: 1. Sistem Koloid Fase Padat-Cair (Sol) Dengan fase terdispersi berupa zat padat dan medium pendispersi berupa zat cair. Contoh sol/gel yaitu agar-agar, pektin(selai), gelatin(jelly), cairan kanji, air sungai, tinta, cat, gel kalsium asetat dalam alkohol, sol emas, sol Fe(OH)3, sol Al(OH)3, dan sol belerang. 2. Sistem Koloid Fase Padat-Padat (Sol Padat) Dengan fase terdispersi berupa zat padat dan medium pendispersi berupa zat padat. Contoh sol padat yaitu kaca berwarna dan logam campuran (aloi) seperti stainless steel (campuran antara besi, nikel, dan kromium). 3. Sistem Koloid Fase Padat-Gas (Aerosol Padat) Dengan fase terdispersi berupa zat padat dan medium pendispersi berupa zat gas. Contoh aerosol padat yaitu asap. 4. Sistem Koloid Fase Cair-Gas (Aerosol) Dengan fase terdispersi berupa zat cair dan medium pendispersi berupa zat gas. Contoh aerosol yaitu kabut, awan, parfum, hairspray, cat semprot dan lain-lain. 5. Sistem Koloid Fase Cair-Cair (Emulsi) Dengan fase terdispersi berupa zat cair dan medium pendispersi berupa zat cair. Contoh emulsi yaitu campuran antara minyak yang bersifat nonpolar dengan air yang bersifat polar, susu, air santan, dan krim. Dalam emulsi terdapat emulgator yaitu zat penghubung yang menyebabkan pembentukkan emulsi, contoh zat emulgator adalah sabun, detergen, lesitin dan kasein (dalam susu). 6. Sistem Koloid Fase Cair-Padat (Emulsi Padat)

Dengan fase terdispersi berupa zat cair dan medium pendispersi berupa zat padat. Contoh emulsi padat yaitu keju, mentega, dan mutiara.

7. Sistem Koloid Fase Gas-Cair (Busa) Dengan fase terdispersi berupa zat gas dan medium pendispersi berupa zat cair. Contoh busa yaitu buih. 8. Sistem Koloid Fase Gas-Padat (Busa Padat) Dengan fase terdispersi berupa zat gas dan medium pendispersi berupa zat padat. Contoh busa padat yaitu karet busa dan batu apung.

3. Penggunaan Koloid

Dari berbagai macam pengelompokan yang telah disebutkan, kecendrungan industri menggunakan beberapa koloid tersebut misalnya industri kosmetik, industri makanan, industri farmasi, dll. Koloid digunakan karena merupakn cara untuk menyajikan suatu campuran dari zat zat yang tidak saling melarutkan secara Homogen dan stabil (pada tingkat makroskopis). a. Sistem koloid fase gas cair (Koloid Buih) Koloid Buih terbentuk dari fase terdispersi berupa gas debgan medium pendispersi zat cair. Contohnya sabun, detergen, dan protein. Koloid buih dalm kehidupan sehari hari biasanya digunakan pada: proses pencucian untuk mempercepat proses penghilangan kotoran. Zat pemadam kebekaran untuk memperluas jangkauan dan mengurangi penguapan air. Proses pemekatan biji logam, agar zat zat pengotor dapat terapung dalam busa tersebut. b. Sistem koloid fase gas padat (Busa padat) Busa padat terbentuk dari fase terdispersi gas dengan medium pendispersi padat. Misalnya karet busa dan batu apung yang digunakan untuk keperluan rumah tangga. c. Sistem koloid fase cair gas (Aerosol cair) Aerosol cair terbentuk dari fase terdispersi cair dalam medium pendispersi gas. Misalnya kabut, awan, dan produk aerosol dengan sistem semprot. Sistem ini digunakan pada barang kosmetika, racun nyamuk semprot, cat semprot, dan pewangi semprot. d. Sistem koloid fase cair cair (Emulsi) Emulsi terbentuk dari fase terdispersi cair dalam medium pendispersi cair. Contohnya susu, krim, santan, dan lotion. e. Sistem koloid fase cair padat (emulsi padat)

Emulsi padat terbentuk dari fase terdispersi cair dalam medium pendispersi padat. Emulsi ini banyak digunakan dalam industri makanan. Contohnya keju dan mentega.

f. Sistem koloid fase padat gas ( Aerosol padat) Aerosol padat terbentuk dari fase terdispersi padat dalam medium pendispersi gas. Contohnya debu dan asap. g. Sistem koloid fase padat cair ( Sol) Sol terbentuk dari fase terdispersi padat dalam medium pendispersi cairan. Penggunaannya pada industri makanan, pengecatan, dll. Contohnya adalah agar agar, cat tembok, cat kayu, cat besi, sol emas, dan sol belerang. h. Sistem koloid fase padat padat ( Sol padat) Sol padat terbentuk dari fase terdispersi padat dalam medium pendispersi padatan. Contohnya padat campuran logam dan kaca berwarna.

4. Sifat-sifat Koloid
Sifat sifat khas koloid meliputi : a. Efek Tyndall Efek Tyndall adalah efek penghamburan cahaya oleh partikel koloid. b. Gerak Brown Gerak Brown adalah gerak acak, gerak tidak beraturan dari partikel koloid.

Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya menyerap ion H+

Koloid As2S3 bermuatan negatif karena permukaannya menyerap ion S 2c. Adsorbsi Beberapa partikel koloid mempunyai sifat adsorbsi (penyerapan) terhadap partikel atau ion atau senyawa yang lain. Penyerapan pada permukaan ini disebut adsorbsi (harus dibedakan dari absorbsi yang artinya penyerapan sampai ke bawah permukaan). Contoh : (i) Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya menyerap ion H +. (ii) Koloid As2S3 bermuatan negatit karena permukaannya menyerap ion S 2. d. Koagulasi Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid dan membentuk endapan. Dengan terjadinya koagulasi, berarti zat terdispersi tidak lagi membentuk koloid. Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan, pendinginan dan

pengadukan atau secara kimia seperti penambahan elektrolit, pencampuran koloid yang berbeda muatan. e. Koloid Liofil dan Koloid Liofob Koloid ini terjadi pada sol yaitu fase terdispersinya padatan dan medium pendispersinya cairan. Koloid Liofil: sistem koloid yang affinitas fase terdispersinya besar terhadap medium pendispersinya. Contoh: sol kanji, agar-agar, lem, cat Koloid Liofob: sistem koloid yang affinitas fase terdispersinya kecil terhadap medium pendispersinya. Contoh: sol belerang, sol emas. f. Elektroforesis Elektroforesis adalah peristiwa pemisahan koloid yang bermuatan. Partikel-partikel koloid yang bermuatan dengan bentuan arus listrik akan mengalir ke masing-masing elektroda yang bermuatannya berlawanan. Partikel yang bermuatan positif bergerak menuju ke elektroda positif. g. Koloid Pelindung Koloid pelindung adalah koloid yang dapat melindungi koloid dari proses koagulasi atau penggumpalan. Ada beberapa koloid pelindung yang digunakan pada emulsi, misalnya casein dalam susu. Jenis koloid ini disebut emuglatol.

h. Dialisis Dialisis adalah proses penyaringan koloid dengan menggunakan kertas perkamen atau membran yang diletakan di dalam air yang mengalir i. Kesetabilan koloid Kesetabilan kolid ditentukan oleh muatan listrik yang dikandung partikel koloid. Muatan listrik dapat dilucuti, misalnya dengan penambahan zat yang bersifat elektrolit, akibatnya akan terjadi penggumpalan koloid atau pengendapan koloid

5. Penerapan Koloid didalam Kehidupan sehari hari


Sistem koloid banyak digunakan pada kehidupan sehari-hari, terutama dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan sifat karakteristik koloid yang penting, yaitu dapat digunakan untuk mencampur zat-zat yang tidak dapat saling melarutkan secara homogen dan bersifat stabil untuk produksi dalam skala besar. Berikut ini adalah tabel aplikasi koloid: Jenis Industri Industri makanan tubuh Industri cat Industri kebutuhan rumah tangga Industri pertanian Industri farmasi Cat Sabun, deterjen Peptisida dan insektisida Minyak ikan, pensilin untuk suntikan Contoh aplikasi Keju, mentega, susu, saus salad

Industri kosmetika dan perawatan Krim, pasta gigi, sabun

Berikut ini adalah penjelasan mengenai aplikasi koloid: 1. Pemutihan Gula Gula tebu yang masih berwarna dapat diputihkan. Dengan melarutkan gula ke dalam air, kemudian larutan dialirkan melalui sistem koloid tanah diatomae atau karbon. Partikel koloid akan mengadsorpsi zat warna tersebut. Partikel-partikel koloid tersebut mengadsorpsi zat warna dari gula tebu sehingga gula dapat berwarna putih. 2. Penggumpalan Darah Darah mengandung sejumlah koloid protein yang bermuatan negatif. Jika terjadi luka, maka luka tersebut dapat diobati dengan pensil stiptik atau tawas yang mengandung ion-ion Al3+ dan Fe3+. Ion-ion tersebut membantu agar partikel koloid di protein bersifat netral sehingga proses penggumpalan darah dapat lebih mudah dilakukan. 3. Penjernihan Air Air keran (PDAM) yang ada saat ini mengandung partikel-partikel koloid tanah liat,lumpur, dan berbagai partikel lainnya yang bermuatan negatif. Oleh karena itu, untuk menjadikannya layak untuk diminum, harus dilakukan beberapa langkah agar partikel koloid tersebut dapat dipisahkan. Hal itu dilakukan dengan cara menambahkan tawas (Al2SO4)3.Ion Al3+ yang terdapat pada tawas tersebut akan terhidroslisis membentuk partikel koloid Al(OH)3 yang bermuatan positif melalui reaksi:

Al3+ + 3H2O

Al(OH)3 +

3H+

Setelah itu, Al(OH)3 menghilangkan muatan-muatan negatif dari partikel koloid tanah liat/lumpur dan terjadi koagulasi pada lumpur. Lumpur tersebut kemudian mengendap bersama tawas yang juga mengendap karena pengaruh gravitasi.

5. Pembuatan Koloid
A. Cara Kondensasi Cara kondensasi termasuk cara kimia.
kondensasi

Prinsip : Partikel Molekular Partikel Koloid Reaksi kimia untuk menghasilkan koloid meliputi : 1. Reaksi Redoks 2 H2S(g) + SO2(aq) 3 S(s) + 2 H2O(l) 2. Reaksi Hidrolisis FeCl3(aq) + 3 H2O(l) Fe(OH)3(s) + 3 HCl(aq) 3. 4. Reaksi Substitusi 2 H3AsO3(aq) + 3 H2S(g) As2S3(s) + 6 H2O(l) Reaksi Penggaraman Beberapa sol garam yang sukar larut seperti AgCl, AgBr, PbI2, BaSO4 dapat membentuk partikel koloid dengan pereaksi yang encer. AgNO3(aq) (encer) + NaCl(aq) (encer) AgCl(s) + NaNO3(aq) (encer)

B. Cara Dispersi Prinsip : Partikel Besar - Partikel Koloid Cara dispersi dapat dilakukan dengan cara mekanik atau cara kimia:

1. Cara Mekanik Cara ini dilakukan dari gumpalan partikel yang besar kemudian dihaluskan dengan cara penggerusan atau penggilingan 2.Cara Busur Bredig Cara ini digunakan untak membuat sol-sol logam. 3.Cara Peptisasi Cara peptisasi adalah pembuatan koloid dari butir-butir kasar atau dari suatu endapan dengan bantuan suatu zat pemeptisasi (pemecah). Contoh: - Agar-agar dipeptisasi oleh air ; karet oleh bensin. - Endapan NiS dipeptisasi oleh H2S ; endapan Al(OH)3 oleh AlCl3

Kondensasi Merupakan cara kimia. Prinsip umum: Terjadinya kondensasi partikel molekular membentuk partikel koloid Kondensasi partikel koloid

Reaksi kimia untuk menghasilkan koloid meliputi:

Reaksi Redoks 2H2S(g) + SO2(aq) 3S(s) + 2H2O(l) Reaksi Hidrolisis FeCl3(aq) + 3 H2O(l) Fe(OH)3(s) + 3 HCl(aq) Reaksi Substitusi/Agregasi Ionik 2H3AsO3(aq) + 3H2S(g) As2S3(s) + 6 H2O(l) Reaksi Penggaraman Dispersi Dapat dilakukan dengan cara mekanik maupun dengan cara kimia. Prinsip umum : Partikel Besar Partikel Koloid Yang termasuk cara dispersi: Cara Mekanik Cara ini dilakukan dari gumpalan partikel yang besar kemudian dihaluskan dengan cara penggerusan atau penggilingan. Cara Busur Bredig Digunakan untuk membuat sol-sol logam dengan loncatan bunga listrik. Instrument Busur Bredig dapat dilihat pada Gambar di bawah ini. Cara Peptisasi

Cara peptisasi adalah pembutan koloid dari butir-butir kasar atau dari suatu endapan dengan bantuan pemeptisasi (pemecah). Contoh : 1. Agar-agar dipeptisasi oleh air ; Karet oleh bensin. 2. Endapan NiS dipeptisasi oleh H2S, Endapan Al(OH)3 olehAlCl3.