Anda di halaman 1dari 4

Tinjauan Pustaka Diabetes Melitus type 1

DM adalah suatu kelompok penyakit metabolic dengan karakter hipoglikemia karena ada kelainan pada sekresi dan kerja insulin. Secara epidemiologic, DM seringkali tidak terdeteksi dan dikatakan onsetnya adalah 7 tahun sebelum diagnosa dapat dtegakkan. Factor resiko DM adalah bertambahnya usia, lebih banyak dan lebih lama obesitas, distribusi lemak tubuh, kurang aktivitas jasmani dan hiperinsulinemia. Diagnosis Untuk diagnosis pemeriksaan yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa dengan cara enzimatik dengan beban darah plasma vena. Pemeriksaan penunjang dilakukan pada mereka yang : usia 45 tahun BB lebih BBR >10% BB idaman/IMT >23 kg/m2 Hipertensi (> atau = 140/90 mmHg) Riwayat DM pada keturunan Riwayat abortus berulang, melahirkan bayi cacat/BB lahir bayi >4000gr Kolesterol HDL < atau = 35 mg/dl atau trigliserida > atau = 250 mg/dl Pada kelompok resiko tinggi yang hasil pemeriksaan penyaring negative, pemeriksaan penyaring ulang dilakukan tiap tahun. Pada mereka yang usia > 45 tahun tanpa factor resiko, pemeriksaan penyaring tiap 3 tahun. Kadar Glukosa Darah Sewaktu dan Puasa Bukan DM Kadar glukosa Plasma vena <110 darah sewaktu Darah kapiler <90 Kadar gulosa Plasma vena <110 darah puasa Darah Kapiler <90

BelumPasti DM 110-199 90-199 110-125 90-109

DM > atau = 200 > atau = 200 > atau = 126 > atau = 110

Langkah-langkah untuk menegakkan diagnosa DM Diagnosa klinik DM perlu dipikirkan adanya poliuria, polidipsi, polifagia dan penurunan berat badan yang tidak diketahui sebabnya.

Bila ada keluhan khas ditambah GDS > atau = 200 diagnosa DM dapat ditegakkan. Demikian pula dengan bila didapatkan : - Kadar glukosa puasa > atau = 126 mg/dl - Kadar glukosa sewaktu > atau = 200 mg/dl - Hasil TTGO didapat kadar glukosa darah pasca pembebanan > atau = 200 mg/dl Bila ada TTGO dan GD 2 jam pasca pembedahan : > atau = 200 berarti DM. 140-199 berarti TGT <140 berati normal. Klasifikasi Etiologis Diabetes Melitus I. Diabetes Melitus tipe 1 Destruksi sel beta umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolute, melalui proses imunologik dan idiopatik. II. Diabetes Melitus tipe 2 Bervariasi mulai yang predominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relative sampai yang predominan gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin. III. Diabetes Melitus tipe lain A. defek genetic fungsi sel beta : - kromosom 12 HNF 1 - kromosom 7, glukokinase - kromosom 20 HNF 4 - kromosom 13, insulin promoter factor 1 - kromosom 17 HNF 1 - kromosom 2 neuro D - DNA mitokondria defek genetic kerja insulin : resistensi insulin tipe A, leprecahunism, sindrom Rabson Medenhall, diabetes lipoatrofik C. Penyakit eksokrin pancreas : pankreatitis, trauma pancreas, neoplasma, fibrosis kistik pankreatopati, fibrokalkulus. D. Endokrinopati : akromegali, sindrom cushing, feokromatositoma, hipertiroidisme, aldosteronoma. E. Obat/zat kimia : Asam nicotinat, hormone tiroid dan glukokortikoid.

F. Infeksi : rubella congenital dan CMV G. Imunologi : sindrom anti reseptor insulin H. Sindrom genetic lainnya IV Diabetes Kehamilan.

Cara Diagnosa Dini Komplikasi Kronik Diabetes Melitus 1. Pada Retinopati Ada beberapa cara memeriksa retina : - Cara langsung dengan memanfaatkan oftalmoskop standard - Oftalmoscop Indirek dengan Slit lamp - Fotografi retina - Kelainan yang ada pada retina sangat bervariasi. Beberapa penyakit perlu rujukan dokter mata. - Rujukan harus sesegera mungkin : retinopati proliferatif, pendarahan viterus dan retinopati lanjut. - Rujukan sedini mungkin : makulopati. Menurunnya tajam penglihatan lebih dari 2 baris - Rujukan rutin : katarak, retinopati diabetic non proliferatif 2. Nefropati Kelainan yang terjadi pada ginjal penyandang DM dimulai dengan adanya mikroalbuminuria dan berkembang menjadi proteinuria secara klinis berlanjut dengan penurunan fungsi laju filtrasi glomerulus dan berakhir dengan gagal ginjal yang memerlukan pengobatan substitusi. Pemeriksaan untuk mencari mikroalbuminuria sebaiknya dilakukan pada saat diagnosa DM ditegakkan dan setelah itu diulang dalam tiap tahun. Penilaian terhadap mikroalbuminuria harus dilakukan secara cermat dan harus diulang beberapa kali untuk memberikan keyakinan yang besar. Penyandang DM dengan laju filtrasi glomerulus atau bersihan kreatinin <30 ml/menit sebaiknya dirujuk ke dokter penyakit ginjal. 3. Penyakit Pembuluh darah perifer Mengenali dan mengelola berbagai factor terkait terjadinya kaki diabetesdan ulkus diabetes penting untuk diperhatikan. Strategi Pengelolaan Berbagai Komplikasi Kronik DM 1.pengendalian kadar glukosa 2.tekanan darah

3.pengendalian lipid 4.pola hidup sehat 5.pengaturan makan Cara Khusus Pencegahan dan Pengelolaan Komplikasi Kronik DM 1.pada retinopati pengobatan koagulasi dengan sinar laser terbukti dapat bermanfaat mencegah perburukan retina lebih lanjut yang kemudian mungkin akan mengancam mata. Fotokoagulasi dapat dikerjakan secara panretina. Tindakan lain yang mungkin dilakukan adalah vitrectomi 2.Nefropati Hemodialisa dan dialysis peritoneal. 3.Penyakit pembuluh darah koroner Tindakan melebarkan pembuluh darah koroner dengan peniupan balon dan pemasangan gorong-gorong banyak dikerjakan saat ini. Tindakan operasi pintas jantung dapat juga memperbaiki fungsi jantung. DM DALAM PEMBEDAHAN Pengendaliam metabolisme dalam pembedahan : - yang memerlukan insulin - semua pasien yang menggunakan insulin sebelum pembedahan perlu meneruskan insulin selama tindakan - pasien DM tipe 2 dengan diet dan OHO dan glukosa darah puasa >180mg/dl, HbABC >10% - yang kadang-kadang perlu insulin. Pasien DM tipe 2 dengan diet dan OHO, glukosa darah puasa < atau =180 mg/dl, Hb AIC < atau = 10% lama pembedahan < 2jam ruang tubuh tidak diperbolehkan dibuka, boleh makan sesudah operasi.

Metformin harus dihentikan 2-3 hari sebelum pembedahan untuk mencegah asidosis laktat dan dapat digantikan dengan sulfonylurea sementara.