Anda di halaman 1dari 9

GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MELATARBELAKANGI KEJADIAN KEPUTIHAN DI SMP NEGERI 1TAMBAKBOYO TUBAN

Mariyatul Q, SST STIKES NU Tuban

ABSTRAK
Keputihan merupakan momok yang sangat menakutkan bagi wanita. Ketika mengalaminya, para wanita menjadi tidak percaya diri, Masalah keputihan merupakan masalah yang sejak lama menjadi persoalan bagi kaum wanita. Tidak banyak wanita yang tahu tentang keputihan dan terkadang menganggap mudah persoalan keputihan. Padahal keputihan tidak bisa dianggap mudah, karena akibat dari keputihan ini bisa sangat fatal bila terlambat ditangani. Beberapa faktor yang menyebabkan keputihan yaitu personal hygiene genetalia, perawatan saat menstruasi, dan pemilihan jenis bahan pakaian dalam, oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang melatarbelakangi kejadian keputihan pada Siswi Di SMP Negeri 1 Tambakboyo Tuban. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan desain penelitian cross sectional, dengan populasi 139 sehingga didapatkan besar sampel 103. Tehnik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan pengumpulan data menggunakan kuesioner. Sedangkan uji statistiknya menggunakan rumus proporsi. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan Sebagian besar remaja putri Di SMP Negeri 1 Tambakboyo Tuban mengalami keputihan normal 72 (69,91%), sebagian besar tidak melakukan personal hygiene genetalia dengan benar 59 (57,28%), sebagian besar tidak melakukan perawatan saat menstruasi dengan benar 60 (58,25%), setengahnya jenis bahan pakaian dalamnya terbuat dari bahan campuran (katun/Nylon) 41 (39,85%), sebagian besar yang mengalami keputihan normal tidak melakukan personal hygiene genetalia dengan benar 37 (51,38%), sebagian besar yang mengalami keputihan normal tidak melakukan perawatan saat menstruasi dengan benar 40 (55,55%), dan hampir setengahnya yang mengalami keputihan normal menggunakan jenis bahan pakaian dalam yang terbuat dari bahan campuran 34 (47,22%) Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa personal hygiene genetalia, perawatan saat menstruasi, dan pemilihan jenis bahan pakaian dalam dapat mempengaruhi keputihan, sehingga diharapkan masyarakat khususnya remaja putri agar lebih mengerti personal hygiene genetalia, perawatan saat menstruasi dengan benar dan juga cara memilih bahan pakaian dalam, sehingga diharapkan masyarakat lebih mengerti guna menanggulangi terjadinya keputihan

Kata kunci : Keputihan, personal hygiene genetalia, perawatan saat menstruasi dan jenis pemilihan pakaian

PENDAHULUAN Leukorea (keputihan) merupakan cairan putih yang keluar dari liang senggama secara berlebihan. Leukorea (Keputihan) dapat di bedakan dalam beberapa jenis di antaranya leukorea normal (fisiologis) dan leukorea abnormal. Leukorea normal dapat terjadi pada masa menjelang dan sesudah menstruasi, pada sekitar fase sekresi antara hari ke 1016 menstruasi (Manuaba, 2009). Gejala keputihan di antaranya yaitu keluarnya cairan berwarna putih kekuningan atau putih kelabu dari saluran vagina. Cairan ini dapat encer atau kental, dan kadang-kadang berbusa. Pada penderita tertentu, terdapat rasa gatal yang menyertainya (Wikipedia, 2009). Ada dua hal yang menjadi faktor pendorong keputihan yaitu faktor infeksi dan non infeksi. Faktor infeksi yaitu bakteri, jamur, parasit, virus, sedangkan non infeksi adalah masuknya benda asing ke vagina baik sengaja maupun tidak, cebok tidak bersih, daerah sekitar kemaluan lembab dan kondisi tubuh, perawatan saat menstruasi kurang benar (Susi, 2009). Keputihan merupakan momok yang sangat menakutkan bagi wanita. Ketika mengalaminya, para wanita menjadi resah, risih, merasa bersalah, tidak percaya diri dan perasaan gundah lainnya. Masalah keputihan merupakan masalah yang sejak lama menjadi persoalan bagi kaum wanita. Tidak banyak wanita yang tahu tentang keputihan dan terkadang menganggap mudah persoalan keputihan. Padahal keputihan tidak bisa dianggap mudah, karena akibat dari keputihan ini bisa sangat fatal bila terlambat ditangani. Tidak hanya bisa mengakibatkan

kemandulan dan hamil di luar kandungan, keputihan juga bisa merupakan gejala awal dari kanker leher rahim, yang bisa berujung pada kematian (RS Mitra, 2009). Hampir semua wanita pernah mengalami keputihan, bahkan ada yang sampai merasa sangat terganggu. Namun, rasa malu untuk diperiksa pada bagian bawah tubuh yang satu ini, sering kali mengalahkan untuk sembuh. Belum lagi masyarakat kita yang tidak terbiasa memeriksa alat kelamin sendiri, sehingga kalau ada gangguan tertentu tidak segera bisa diketahui. Rasa malu untuk periksa ke dokter juga menyebabkan banyak wanitamencoba untuk mengobati keputihannya sendiri, baik dengan obat yang dibeli di toko obat, maupun dengan ramuan tradisional. Apabila pengobatan yang dilakukan tidak sesuai dengan jenis penyebab keputihan tersebut, tentu saja pengobatan akan sia-sia. Bahkan, bisa jadi justru menyebabkan kerugian yang lain. Mestinya, rasa malu tersebut dibuang jauh-jauh. Apalagi, jika mengingat betapa seriusnya akibat yang dapat ditimbulkan oleh keputihan yang berkepanjangan tanpa penanganan yang tuntas (Wahyurini, 2005). Keputihan ada dua macam, yaitu keputihan normal dan keputihan yang di sebabkan oleh penyakit. Keputihan normal ciri-cirinya ialah : warnanya bening, tidak berbau, tanpa disertai keluhan (misalnya gatal, nyeri, rasa terbakar). Keluar pada saat menjelang dan sesudah menstruasi atau pada saat stress dan kelelahan. Sedangkan keputihan yang tidak normal keputihan dengan ciri-ciri : jumlahnya banyak, timbul terus menerus, warnanya berubah(misalnya kuning, hijau, abu-abu menyerupai susu/ yoghurt) di sertai adanya keluhan

(seperti gatal, panas, nyeri) serta berbau. (Wijayanti, 2009) Berdasarkan data dari Rumah Sakit RSUD Dr. Koesma pada tahun 2008 di dapatkan 13 remaja mengalami keputihan dengan prosentase 32 % dari 41 semua penderita keputihan. Dan Pada tahun 2009 di dapatkan 3 remaja putri mengalami keputihan dengan prosentase 21 % dari 14 penderita keputihan. Berdasarkan survey awal yang dilakukan pada bulan januari 2010 di SMP Negeri 1 Tambakboyo Tuban dengan mengambil 20 responden di dapatkan (100%) siswi mengalami keputihan,13 (65%) siswi mengalami keputihan fisiologis yang terjadi sebelum dan ssesudah menstruasi, 7 (35%) siswi mengalami keputihan yang berbau dan gatal. Pada siswi yang mengalami keputihan fisiologis saat menstruasi sebanyak 8 (61,5 %), dan sesudah menstruasi sebanyak 5 (38,5%). Penyebab keputihan berlebihan terkait dengan cara kita merawat organ reproduksi. Misalnya, personal hygiene kurang tepat, menggunakan celana yang tidak menyerap keringat, jarang mengganti celana dalam, sering tidak mengganti pembalut saat menstruasi. Secara alamiah bagian tubuh yang berongga dan berhubungan dengan dunia luar akan mengeluarkan semacam getah atau lendir. Demikian pula halnya dengan saluran kemih wanita (vagina). Dalam keadaan normal, getah atau lendir vagina adalah cairan bening tidak berbau, jumlahnya tidak terlalu banyak dan tanpa rasa gatal atau nyeri. Keputihan apabila tidak segera di obati dapat berakibat lebih parah dan bukan tidak mungkin menjadi penyebab kemandulan. sehingga alasan peneliti memilih faktor-faktor yang melatarbelakangi kejadian keputihan di atas karena faktor-faktor tersebut yeng paling rentan terjadinya keputihan (wahyurini, 2005). Para remaja harus waspada terhadap gejala keputihan. Penelitian menunjukkan, keputihan yang lama walau dengan gejala biasa-biasa saja, lama kelamaan dapat merusak selaput dara. Sebagian besar cairan itu mengandung kuman-kuman penyakit, dan kuman penyakit dapat merusak selaput dara sampai hampir habis, sehingga pada saat hubungan badan yang pertama tidak mengeluarkan darah (Wahyurini, 2005). Untuk mengatasi masalah keputihan dapat dicegah dengan cara selalu jaga kebersihan diri, terutama kebersihan alat kelamin Biasakan membasuh vagina dengan cara yang benar, yaitu dengan gerakan dari depan kebelakang, cuci dengan air bersih setiap buang air dan mandi. Selalu gunakan panty liner dan gantilah pada waktunya. Jangan terlalu lama agar bakteri tidak terkumpul, hindari terlalu sering memakai talk disekitar vagina, tissue harum, atau tissue toilet ini akan membuat vagina kerap teriritasi, hindari suasana vagina lembab misalnya dengan menggunakan celana dengan bahan yang menyerap keringat, hindari pemakaian celana terlalu ketat, penggunaan cairan pembersih vagina sebaiknya tidak berlebihan karena dapat mematikan flora normal vagina. Jika perlu, lakukan konsultasi medis dahulu sebelum menngunakan cairan pembersih vagina, hindari pemakaian barang-barang yang memudahkan penularan seperti meminjam perlengkapan mandi, pola

hidup yang sehat yaitu diet seimbang, olahraga yang rutin, istirahat cukup, hindari rokok dan alkohol serta hindari stres berkepanjangan (Hendrawan, 2008). Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis ingin mengetahui bagaimana gambaran faktor-faktor yang melatarbelakangi kejadian keputihan Di SMP Negeri 1 Tambakboyo Tuban. METODE PENELITIAN Metode penelitian adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran ilmu pengetahuan atau pemecahan suatu masalah. pada dasarnya menggunakan metode ilmiah (Notoatmodjo, 2005 : 19). Pada bab ini disajikan desain penelitian, populasi, sampel, kriteria sampel dan sampling (sampling desain), identifikasi variabel, definisi operasional, lokasi dan waktu penelitian, pengumpulan data dan analisis data, teknik pengolahan data, alat ukur yang digunakan, etika penelitian, dan keterbatasan. Desain penelitian merupakan hasil akhir dari suatu tahap keputusan yang dibuat oleh peneliti berhubungan dengan bagaimana suatu penelitian bisa diterapkan (Nursalam, 2003 : 80). Penelitian menggunakan desain penelitian deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang bertujuan untuk mendiskripsikan suatu keadaan secara obyektif. Pendekatan pada penelitian ini menggunakan pendekatan survey yaitu suatu cara penelitian deskriptif yang dilakukan terhadap sekumpulan obyek yang biasanya cukup banyak dalam jangka waktu tertentu. Survey bertujuan untuk membuat penilaian terhadap suatu kondisi dan penyelenggaraan suatu program di masa sekarang, kemudian hasilnya digunakan untuk menyusun perencanaan perbaikan program tersebut (Notoatmodjo, 2005 : 140). Populasi adalah setiap subyek misalnya manusia, pasien atau yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan. (Nursalam, 2008 : 89) Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswi SMP Negeri 1 Tambakboyo Tuban sejumlah 139 siswi Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2005). Sampel dari penelitian ini adalah sebagian siswi SMP Negeri 1 Tambakboyo Tuban, Tahun ajaran 2009/2010 yang memenuhi kriteria inklusi, sebagai berikut: 1. Siswi yang bersedia menjadi responden. 2. Siswi yang hadir saat dilakukan pengumpulan data. 3. Siswi yang sudah mengalami menstruasi 4. Siswi yang mengalami keputihan Besar sampel adalah banyaknya anggota yang akan dijadikan sampel (Nursalam dan Pariani, 2002). Pada penelitian ini besar sampel yang akan diambil adalah dengan menggunakan rumus: n =

N 1 + N (d ) 2

n =

139 1 + 139(0,05) 2

139 1 + 139 ( 0,0025 ) 139 1 + 0,3475

= 103,153 = 103 Responden Keterangan: N : Besar populasi n : Besar sampel d : Tingkat signifikan (0,05) (Nursalam, 2008) Dalam penelitian ini sampel yang diambil adalah sebagian siswi SMP Negeri 1 Tambakboyo Tuban sejumlah 103 siswi Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili populasi (Nursalam, 2008 : 93). Penelitian ini menggunakan tehnik nonprobability sampling dengan metode purposive sampling. Cara pengambilan sampel ini memilih sampel di antara populasi sesui dengan yang dikehendaki peneliti (tujuan/ masalah dalam penelitian), sehingga sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya (Nursalam, 2008). Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang dimiliki/ didapatkan oleh sesuatu penelitian tentang sesuatu konsep pengertian tertentu (Notoatmodjo, 2005). Variabel dalam penelitian ini adalah Gambaran Faktor-faktor yang melatarbelakangi kejadian keputihan di SMP Negeri 1 Tambakboyo Tuban. Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut. Dapat diamati artinya memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu obyek atau fenomena yang kemudian dapat diulang lagi oleh orang lain (Nursalam, 2008 : 106). Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan dan agar pekerjaannya lebih mudah dan lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis, sehingga lebih mudah diolah (Arikunto, 2002).Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini pada variabel personal hygiene, perawatan saat menstruasi, dan pemilihan jenis bahan pakaian dalam instrumennya berupa checklist. Pada variabel keputihan instrumennya berupa kuesioner. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Tambakboyo Tuban. Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Juli 2010. Setelah mendapat ijin dari Prodi D III Kebidanan STIKES NU Tuban untuk melakukan penelitian, kemudian peneliti mengajukan surat permohonan penelitian pada kepala sekolah. Setelah mendapatkan ijin dari kepala sekolah, peneliti melakukan pendekatan kepada sebagian siswi SMP Negeri 1 Tambakboyo

Tuban untuk mendapatkan persetujuan sebagai responden. Data dikumpulkan melalui cheklist dan kuesioner oleh peneliti. Pengolahan data atau disebut juga pra-analisis mempunyai tahapan-tahapan sebagai berikut : Editing adalah memeriksa data yang telah terkumpul baik berupa daftar pertanyaan, kartu atau buku register kemudian memeriksa data, menjumlah dan melakukan koreksi (Budiarto, 2002 : 29). Coding adalah cara untuk mempermudah pengolahan, sebaiknya semua variabel diberi kode terutama data klasifikasi (Budiarto, 2002 : 30). Tabulasi data ini adalah tindakan pencacahan terhadap setiap data dalam bentuk frekuensi sehingga memudahkan analisi (Istijanto,2005). Dalam penelitian ini, proses tabulasi dilakukan secara manual, yaitu dengan membuat tabel frekuensi. HASIL DAN ANALISA DATA Analisa merupakan tindakan mengolah data menjadi informasi yang bermanfaat untuk menjawab masalah penelitian (Istijanto, 2005). Setelah data terkumpul kemudian data tersebut dikelompokkan atau diklasifikasikan sesuai dengan tujuan penelitian, kemudian angka-angka hasil perhitungan atau pengukuran dapat diproses dengan cara dijumlahkan dan dikalikan 100% kemudian hasilnya disajikan dalam bentuk prosentase . Dalam pengolahan ini data menggunakan metode deskriptif dengan rumus proporsi sebagai berikut: P=

nk x 100% N

Keterangan : P : Proporsi nk : Banyaknya subyek dalam kelompok N : Banyaknya subyek seluruhnya (Arikunto, 2006). Kemudian dikelompokkan sesuai dengan ketegori: 100% = seluruhnya 76% - 99% = hampir seluruhnya 51% - 75 % = sebagian besar 41% - 50% = hampir setengahnya 26% - 40% = setengahnya 1% - 25% = sebagian kecil 0% = tidak satupun (Arikunto, 1997). Dalam melakukan penelitian, peneliti mengajukan permohonan izin kepada Kepala sekolah untuk mengambil sampel di SMP Negeri 1 Tambakboyo Tuban, setelah mendapatkan persetujuan kemudian kuesioner diberikan kepada responden yang diteliti dengan menekankan pada masalah etika yang meliputi: Lembar persetujuan akan diedarkan sebelum penelitian dilaksanakan kepada seluruh responden yang akan diteliti, dengan maksud supaya responden mengetahui tujuan penelitian. Jika subyek bersedia diteliti harus menandatangai lembar persetujuan

tersebut, tetapi, jika tidak bersedia maka peneliti harus tetap menghormati hak responden. Kerahasiaan identitas responden dengan tidak mencantumkan nama responden pada lembar pengumpulan data yang diisi pada lembar tersebut dan hanya di berikan kode tertentu. Kerahasiaan informasi dari responden dijamin oleh peneliti hanya kelompok data tertentu saja yang akan dirahasiakan atau dilaporkan pada hasil penelitian. Keterbatasan adalah kelemahan atau hambatan dalam meneliti (Nursalam,2003). Instrumen pengumpulan data dirancang sendiri oleh peneliti tanpa diuji coba terlebih dahulu, sehingga validitas dan realiabilitas masih perlu diuji coba. Alat ukur pengumpulan data menggunakan pertanyaan, kemungkinan responden menjawab pertanyaan tidak jujur atau responden tidak mengerti yang dimaksud dan manimbulkan persepsi yang berbeda. PEMBAHASAN Pada bab ini akan disajikan dan diuraikan mengenai hasil penelitian mengenai Gambaran Faktor-Faktor Yang Melatarbelakangi Kejadian Keputihan di SMP NEGERI 1 Tambakboyo Tuban). Berdasarkan pengumpulan data yang dilakukan pada bulan Juni 2010 pada 103 responden didapatkan hasil yang diuraikan pada tabel hasil pengolahan data. Hasil penelitian ini disajikan dalam data khusus. Yaitu meliputi kutihan normal, maupun keputihan tidak normal dan faktor-faktor yang melatarbelakangi kejadian keputihan. Data-data tersebut disajikan dalam bentuk tabel frekuensi dan prosentase kemudian diuraikan agar dapat memberikan informasi yang jelas. Untuk mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya keputihan ditinjau dari personal hygiene, perawatan saat menstruasi dan pemilihan jenis bahan pakaian dalam dengan dilakukan penyajian menggunakan tabel distribusi frekuensi. Tabel 1 Distribusi Remaja Putri Berdasarkan Umur Di SMP Negeri 1 Tambakboyo Tuban, Periode April-Juli 2010 No Umur F % 1. 2. 3. 13-13,2 14-14,2 15-15,2 Jumlah 8 53 42 103 7,76 51,45 40,77 100

No 1. 2.

Keputihan Normal Tidak Normal Jumlah

f 72 31 103

% 69,91 30,17 100

Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa dari 103 remaja putri sebagian besar yang mengalami keputihan normal yaitu sebanyak 72 Siswi (69,91%), dan setengahnya Remaja putri yang mengalami keputihan tidak nornal yaitu sebanyak 31 siswi (30,17%). Personal Hygiene Genetalia Pada Remaja Putri Di SMP Negeri 1 Tambakboyo Tuban 2010 Tabel 3. Distribusi Remaja Putri Berdasarkan Faktor Personal Hygiene Genetalia Pada Remaja Putri di SMP NEGERI 1 Tambakboyo Tuban, Periode April-Juli 2010 Personal Hygiene Genetalia Benar Tidak Benar Jumlah f 44 59 103 % 42,71 57,28 100

No 1. 2.

Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa dari 103 remaja putri sebagian besar tidak melakukan personal hygiene genetalia dengan benar yaitu sebanyak 59 siswi (57,28%), dan hampir setengahnya Remaja Putri melakukan personal hygiene genetalia dengan benar yaitu sebanyak 44 siswi (42,71%). Perawatan Saat Menstruasi Pada Remaja Putri Di SMP Negeri 1 Tambakboyo Tuban 2010 Tabel 4 Distribusi Remaja Putri Berdasarkan Faktor Perawatan Saat Menstruasi Pada Remaja Putri di SMP NEGERI 1 Tambakboyo Tuban, Periode April-Juli 2010 No Perawatan Saat f % Menstruasi 1. Benar 43 41,74 2. Tidak Benar 60 58,25 Jumlah 103 100 Berdasarkan tabel 4 menunjukkan bahwa dari 103 Remaja Putri sebagian besar tidak melakukan perawatan saat menstruasi dengan benar yaitu sebanyak 60 Siswi (58,25%), dan hampir setengahnya Remaja Putri yang melakukan perawatan saat menstruasi dengan benar yaitu sebanyak 43 Siswi (41,74%). Pemilihan Jenis Bahan Pakaian Dalam Pada Remaja Putri Di SMP Negeri 1 Tambakboyo Tuban 201 Tabel 5 Distribusi Remaja Putri Berdasarkan Faktor Pemilihan Jenis Bahan Pakaian Dalam Pada Remaja Putri di SMP

Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa dari 103 Remaja Putri sebagian besar berusia 14-14,2 sebanyak 53 siswi (51,45%), dan sebagian kecil siswi berusia 1313,2 sebanyak 8 (7,76%). Data Khusus Kejadian Keputihan Normal dan Tidak Normal Tabel 2. Distribusi Remaja Putri Berdasarkan Kejadian Keputihan Normal dan Tidak Normal di SMP NEGERI 1 Tambakboyo Tuban, periode April-Juli 2010

NEGERI 1 Tambakboyo Tuban, Periode April-Juli 2010 No Pemilihan Jenis Bahan Pakaian Dalam Katun Nylon Campuran (Katun / Nylon) Jumlah f %

1. 2. 3.

24 38 41 103

23,3 36,89 39,8 100

Berdasarkan tabel 7 menunjukkan bahwa sebagian besar Remaja Putri yang mengalami keputihan normal tidak melakukan perawatan saat menstruasi dengan benar yaitu sebesar 40 Siswi (55,55%), dan sebagian besar Remaja Putri yang mengalami keputihan tidak normal tidak melakukan perawatan saat menstruasi dengan benar sebesar 20 siswi (64,51%). Kejadian Keputihan Ditinjau Dari Segi Pemilihan Jenis Bahan Pakaian Dalam Di SMP NEGERI 1 Tambakboyo Tuban Tabel 8. Kejadian Keputihan Remaja putri Di Tinjau Dari Pemilihan Jenis Bahan Pakaian Dalam Di SMP NEGERI 1 Tambakboyo Tuban, Periode April-Juli 2010 Pemilihan Jenis Bahan Pakaian dalam Campur Katun Nylon an n % N % n % 1 19,4 33,3 3 47,2 24 4 4 3 4 2 22,5 45,1 1 32,2 7 14 8 6 0 5 2 36,8 4 23.3 38 39,8 4 9 1

Berdasarkan tabel 5 menunjukkan bahwa dari 103 Remaja Putri setengahnya yang memiliki celana dalam yang berbahan campuran yaitu sebanyak 41 siswi (39,85), dan sebagian kecil Remaja Putri yang memiliki celana dalam yang berbahan katun yaitu sebanyak 24 siswi (23,3%). Kejadian Keputihan Ditinjau Dari Segi Personal Hygiene Di SMP NEGERI 1 Tambakboyo Tuban Tabel 6. Kejadian Keputihan Remaja Putri Di Tinjau Dari Segi Personal Hygiene Di SMP NEGERI 1 Tambakboyo Tuban, Periode April-Juli 2010
Personal Hygiene Genetalia Total Keputihan n Normal Tidak Normal Jumlah 35 9 44 Benar % 48,61 29 42,71 Tidak Benar n 37 22 59 % 51,38 70,96 57,28 n 72 31 103 % 100 100 100

Keputih an

Total n 72 31 10 3 % 10 0 10 0 10 0

Normal Tidak Normal Jumlah

Berdasarkan tabel 6 menunjukkan bahwa sebagian besar Remaja Putri yang mengalami keputihan normal tidak melakukan personal hygiene genetalia dengan benar sebanyak 37 siswi (51,38%), dan sebagian besar Remaja Putri yang mengalami keputihan tidak normal tidak melakukan personal hygiene genetalia dengan benar sebanyak 22 siswi (70,96%). Tabel 7.Kejadian Keputihan Remaja Putri Di Tinjau Dari Perawatan Saat Menstruasi Di SMP NEGERI 1 Tambakboyo Tuban, Periode April-Juli 2010 Perawatan Saat Menstruasi Total Tidak Keputihan Benar Benar n % n % n % Normal 32 44,44 40 55,55 72 100 Tidak 11 35,48 20 64,51 31 100 Normal Jumlah 43 41,74 60 58,25 103 100

Berdasarkan tabel 8 menunjukkan bahwa hampir setengahnya remaja putri yang mengalami keputihan normal yang menggunakan celana dalam berbahan campuran (Katun/Nylon) sebesar 34 siswi (47,22%), dan hampir setengahnya remaja putri yang mengalami keputihan tidak normal menggunakan celana dalam berbahan nylon sebesar 14 siswi (45,16%). Sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditetapkan, maka dalam bab ini akan dibahas tentang hasil penelitian yaitu: Mengidentifikasi kejadian keputihan serta faktor-faktor yang melatarbelakangi kejadian keputihan ditinjau dari segi personal hygiene, perawatan saat menstruasi, dan pemilihan jenis bahan pakaian dalam di SMP Negeri 1 Tambakboyo Tuban pada bulan juni 2010. Pembahasan ini akan menguraikan hasil dari faktor personal hygiene, perawatan saat menstruasi, dan jenis pemilihan pemakaian dalam serta menguraikan kejadian keputihan ditinjau dari segi personal hygiene, perawatan saat menstruasi dan pemilihan jenis bahan pakaian dalam. Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa dari 103 remaja putri sebagian besar yang mengalami keputihan normal yaitu sebanyak 72 Siswi (69,91%), dan setengahnya Remaja putri yang mengalami keputihan tidak nornal yaitu sebanyak 31 siswi (30,17%). Keputihan (Leukorea) adalah cairan putih yang keluar dari liang senggama secara berlebihan (Manuaba, 2009). Adapun keputihan merupakan cairan yang keluar dari vagina selain darah, sumber cairan ini dapat berasal dari sekresi vulva, sekresi serviks, atau

sekresi tuba fallopi, yang dipengaruhi fungsi ovarium (Mansjoer, 1999). Flour albus merupakan sekresi vagina abnormal pada wanita. Keputihan ini disebabakan oleh infeksi biasanya disertai dengan rasa gatal didalam vagina dan disekitar bibir vagina bagian luar, yang sering menimbulkan keputihan ini antara lain bakteri, virus, jamur, atau juga parasit. Infeksi ini juga bisa menjalar dan menimbulkan peradangan kesaluran kencing, sehingga menimbulkan rasa pedih saat si penderita buang air kecil (wijayanti, 2009). Adapun keputihan disebabkan oleh non infeksi yaitu, masuknya benda asing ke vagina baik sengaja maupun tidak sengaja yang dapat melukai epitel vagina, daerah sekitar vagina yang lembab, kondisi tubuh stres, seperti kondisi tubuh yang selalu tegang, cemas, menahan buang air kecil, duduk dan jongkok sembarangan ditanah, personal hygiene yang buruk, celana dalam yang kurang menyerap keringat, dan kurangnya menjaga personal hygiene pada saat menstruasi (Djuanda, 2005). Menurut Wijayanti (2009) keputihan keputihan dibedakan menjadi 2 macam yaitu, keputihan normal dan tidak normal: Keputihan normal ciri-cirinya adalah warnanya kuning, kadang-kadang putih kental, tidak berbau, tanpa disertai keluhan (misalnya gatal, nyeri, rasa terbakar) keluar pada saat menjelang dan sesudah menstruasi atau pada saat stres dan kekelahan. Sedangkan keputihan tidak normal ialah keputihan dengan ciri-ciri: jumlahnya banyak, timbul terus menerus, warnanya berubah (misalnya kuning, hijau, abu-abu, menyerupai susu/ yoghurt) disertai adanya keluhan (sepert gatal, panas, nyeri) serta berbau apek atau amis. Keputihan bukanlah suatu penyakit melainkan gejala dan merupakan gejala yang paling sering dijumpai dalam ginekologi, Keputihan yang berlangsung terus menerus dalam waktu yang cukup lama dan menimbulkan keluhan perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk diketahui penyebabnya. Karena keputihan bisa mengakibatkan kemandulan dan kanker. Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa dari 103 remaja putri sebagian besar tidak melakukan personal hygiene genetalia dengan benar yaitu sebanyak 59 siswi (57,28%), dan hampir setengahnya remaja putri melakukan personal hygiene genetalia dengan benar yaitu sebanyak 44 siswi (42,71%). Perawatan diri pada alat kelamin yang dimaksud adalah pada alat kelamin perempuan yaitu perawatan organ eksternal kemudian bagian yang terkait disekitarnya seperti uretra, vagina, perinium dan anus (Alimul, 2006) Secara umum, menjaga kesehatan berawal dari menjaga kebersihan. Hal ini juga berlaku bagi kesehatan organ-organ seksual, apalagi buat , yang tinggal di daerah tropis. Udara yang panas cenderung lembab sering bikin kita merasa gerah dan keringetan. Keringat ini membuat tubuh kita lembab, terutama di bagian tubuh yang tertutup dan lipatan-lipatan, yang akan menyebabkan bakteri mudah berkembang biak, menimbulkan bau yang tidak sedap dan juga

menimbulkan penyakit. Seperti yang diajarakan oleh nenek moyang kita, mandi dua kali sehari itu baik untuk kesehatan. Untuk menjaga kebersihan vagina, yang perlu kita lakukan adalah secara teratur membasuh bagian di antara vulva (bibir vagina) secara hati-hati menggunakan air bersih dan sabun yang lembut. Cara membasuh yang benar adalah dari arah depan (vagina) ke belakang (anus), jangan terbalik, karena akan menyebabkan bakteri yang ada di sekitar anus terbawa masuk ke vagina. Gunakan air bersih, lebih baik lagi air hangat, tetapi jangan terlalu panas karena bisa menyebabkan kulit yang sensitif di daerah vagina melepuh dan lecet (Siswono, 2001). Perawatan genetalia sangatlah penting, banyak remaja yang tidak memeperhatikan bagaimana merawat genetalia dengan benar. Mereka cenderung memeperhatikan perawatan pada wajah dan mengabaikan cara merawat genetalia dengan baik dan benar, padahal membersihkan daerah vital membutuhkan cara khusus agar bakteri yang ada di bagian belakang khususnya di daerah anus tidak berpindah ke depan. Karena hal tersebut dapat menyebabkan kelembapan. Berdasarkan tabel 4 menunjukkan bahwa dari 103 Remaja Putri sebagian besar tidak melakukan perawatan saat menstruasi dengan benar yaitu sebanyak 60 Siswi (58,25%), dan hampir setengahnya Remaja Putri yang melakukan perawatan saat menstruasi dengan benar yaitu sebanyak 43 Siswi (41,74%). Untuk menampung darah yang keluar itu wanita menggunakan pembalut wanita. Di pasaran bisa ditemui berbagai macam pembalut dengan berbagai kelebihan yang ditawarkan. Maka pilih pembalut yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kantung. Tetapi, yang penting adalah bahwa pembalut itu harus berbahan yang lembut, menyerap dengan baik, tidak mengandung bahan yang bikin alergi (seperti parfum atau gel) dan merekat dengan baik pada celana dalam. Pembalut itu perlu diganti sekitar empat sampai lima kali dalam sehari untuk menghindari pertumbuhan bakteri yang berkembang biak pada pembalut tersebut, dan menghindari masuknya bakteri tersebut kedalam vagina (Siswono,2001). Perawatan diri saat menstruasi genetalia sangatlah penting, banyak remaja yang tidak memeperhatikan bagaimana merawat genetalia dengan benar. Karena kurang menjaga personal hygiene saat menstruasi, karena pada saat menstruasi, pembuluh darah dalam rahim sangat mudah terinfeksi, oleh karena itu kebersihan alat kelamin harus lebih dijaga karena kuman lebih mudah sekali masuk dan dapat menimbulkan penyakit pada alat reproduksi. Pilihlah pembalut yang daya serapnya tinggi, sehingga tetap merasa nyaman saat menggunakannya. Sebaiknya pilih pembalut yang tidak mengandung gel. Berdasarkan tabel 5 menunjukkan bahwa dari 103 Remaja Putri setengahnya yang memiliki celana dalam yang berbahan campuran yaitu sebanyak 41 siswi (39,85), dan sebagian kecil remaja putri yang memiliki celana dalam yang berbahan katun yaitu sebanyak 24 siswi (23,3%).

Pakaian dalam (celana dalam) yang baik bukan berarti harus yang mahal dan bermerek. Menggunakan celana dalam yang sesuai adalah yang bahannya terbuat dari bahan alami (katun), sehinga dapat menyerap keringat, membiarkan kulit bernapas sehingga membuat wanita merasa nyaman. Bahan sintetis seperti nilon akan membuat kegerahan dan mebuat vagina menjadi lembab. Hal ini sangat disukai oleh bakteri dan jamur untuk berkembang biak. Ukuran celana dalam juga perlu jadi pertimbangan jangan memilih celana dalam yang terlalu ketat karena selain gerah juga menyebabkan peredaran darah tidak lancar. Pilih yang ukurannya sesuai, tidak terlalu ketat, tetapi juga tidak kedodoran (Siswono, 2001). Dari pernyataan diatas bahwa masih banyak remaja putri yang menggunakan celana dalam yang terbuat dari bahan nylon padahal bahan tersebut yang terbuat dari bahan sistesis yang bisa membuat suasana disekitar organ intim panas dan lembab. Apalagi buat kita yang tinggal didaerah tropis, udara yang panas cenderung lembab sering membuat keringetan, sehingga celana dalam yang cocok yaitu celana dalam yang terbuat dari bahan katun yang bisa menyerap keringat. Berdasarkan tabel 6 menunjukkan bahwa sebagian besar Remaja Putri yang mengalami keputihan normal tidak melakukan personal hygiene genetalia dengan benar sebanyak 37 siswi (51,38%), dan sebagian besar Remaja Putri yang mengalami keputihan tidak normal tidak melakukan personal hygiene genetalia dengan benar sebanyak 22 siswi (70,96%). Menjaga kesehatan berawal dari menjaga kebersihan. Hal ini juga berlaku bagi kesehatan organorgan seksual, apalagi buat yang tinggal di daerah tropis. Udara yang panas cenderung lembab sering bikin kita merasa gerah dan keringetan. Keringat ini membuat tubuh kita lembab, terutama di bagian tubuh yang tertutup dan lipatan-lipatan, yang akan menyebabkan bakteri mudah berkembang biak, menimbulkan bau yang tidak sedap dan juga menimbulkan penyakit. Seperti yang diajarakan oleh nenek moyang kita, mandi dua kali sehari itu baik untuk kesehatan. Untuk menjaga kebersihan vagina, yang perlu kita lakukan adalah secara teratur membasuh bagian di antara vulva (bibir vagina) secara hati-hati menggunakan air bersih dan sabun yang lembut. setiap habis buang air kecil, buang air besar, dan ketika mandi. Jika alergi dengan sabun yang lembut sekalipun, cukup basuh dengan air hangat. Yang penting adalah membersihkan bekas keringat dan bakteri yang ada disekitar vulva di luar vagina. Bagian dalam vagina biasanya akan mampu menjaga kebersihannya sendiri. Cara membasuh yang benar adalah dari arah depan (vagina) ke belakang (anus), jangan terbalik, karena akan menyebabkan bakteri yang ada di sekitar anus terbawa masuk ke vagina, dan gunakan air bersih (Siswono, 2001) Dari pernyataan diatas banyak remaja putri yang melakukan personal hygiene tidak benar dan banyak pula yang mengeluhkan keputihan, sangat tidak nyaman, gatal, berbau, bahkan terkadang perih, ternyata itu terkait dengan kebiasaan sehari-hari. Salah

satu keputihan adalah masalah kebersihan disekitar organ intim. Umumnya wanita sangat peduli dengan kebersihan, terutama yang berhubungan dengan penampilan. Setiap hari tidak lupa mandi dan selalu telaten menyingkirkan sisa-sisa make up dari wajah. Tetapi adapun beberapa banyak wanita yang tidak mengeringkan bagian organ intimnya seusai buang air kecil. Usai dibasuh langsung mengenakan celana dalam, kemudian celana ikut basah akibatnya vaginanya lembab. Organ intim wanita seperti vagina sangat sensitif dengan kondisi lingkungan. Karena letaknya tersembunyi dan tertutup, vagina memerlukan suasana kering. Kondisi yang lembab akan mengundang perkembangbiaknya jamur dan bakteri pathogen. Ini salah satu penyebab keputihan. Dan hindari pemakaian deodoran, sabun antiseptik yang keras, atau cairan pewangi (parfum) untuk menghilangkan bau di daerah kewanitaan karena bisa berbahaya untuk kesehatan sebagaimana vagina yang sehat juga hidup berbagai bakteri dan organisma termasuk yang merugikan dan bisa menyebabkan vaginitis. Biasanya bakteri ini tidak bikin masalah karena masing-masing jumlahnya tidak banyak. Terlalu sering membasuh vagina dengan cairan kimia (douching) dan penggunaan deodorat dan farfume akan merusak kesimbangan yang ada sehingga akan memungkinkan terjadinya infeksi. Perhatikan juga lingkungan karena keputihan bisa muncul lewat air yang tidak bersih, jadi sebaiknya bersihkan bak mandi, ember, gayung dan bibir kloset dengan dengan antiseptik. Berdasarkan tabel 7 menunjukkan bahwa sebagian besar remaja putri yang mengalami keputihan normal tidak melakukan perawatan saat menstruasi dengan benar yaitu sebesar 40 siswi (55,55%), dan sebagian besar remaja putri yang mengalami keputihan tidak normal tidak melakukan perawatan saat menstruasi dengan benar sebesar 20 siswi (64,51%). Untuk menampung darah yang keluar itu cewek menggunakan pembalut wanita. Di pasaran bisa kita temui berbagai macam pembalut dengan berbagai kelebihan yang ditawarkan. Pilih yang mana yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kantung. Tetapi, yang penting adalah bahwa pembalut itu harus berbahan yang lembut, menyerap dengan baik, tidak mengandung bahan yang bikin alergi (misalnya parfum atau gel) dan merekat dengan baik pada celana dalam. Pembalut itu perlu diganti sekitar empat sampai lima kali sehari atau pada saat hari pertama sampai ketiga atau pada saat banyak-banyaknya darah keluar yang berkembang biak pada pembalut tersebut, dan menghindari masuknya bakteri tersebut kedalam vagina (Siswono, 2001). Menurut Djuanda (2005) kurang menjaga personal hygiene saat menstruasi, karena pada saat menstruasi, pembuluh darah dalam rahim sangat mudah terinfeksi, oleh karena itu kebersihan alat kelamin harus lebih di jaga karena kuman lebih mudah sekali masuk dan dapat menimbulkan penyakit pada alat reproduksi. Pilihlah pembalut yang daya serapnya tinggi, sehingga tetap merasa nyaman saat menggunakannya. Sebaiknya pilih pembalut yang tidak mengandung gel, sebab gel dalam pembalut

kebanyakan dapat menyebabkan keputihan/iritasi dan timbulnya rasa gatal. Dari pernyataan di atas bahwa masih banyak remaja putri yang tidak memperhatikan cara perawata saat menstruasi sehingga dapat menimbulkan iritasi dan keputihan karena pemakaian pembalut yang kurang tepat yaitu kurangnya mengganti pembalut atau pada saat sudah ada banyak gumpalan darah pada pembalut tidak segera diganti karena gumpalan darah yang terdapat dalam permukaan pembalut tersebut merupakan tempat yang sangat baik untuk perkembangan bakteri dan jamur. Berdasarkan tabel 8 menunjukkan bahwa hampir setengahnya remaja putri yang mengalami keputihan normal yang menggunakan celana dalam berbahan campuran (Katun/Nylon) sebesar 34 siswi (47,22%), dan hampir setengahnya remaja putri yang mengalami keputihan tidak normal menggunakan celana dalam berbahan nylon sebesar 14 siswi (45,16%). Selain harus sering ganti celana dalam secara teratur, kita juga perlu memilih pakaian dalam yang baik. Pakaian dalam (celana dalam) yang baik bukan berarti harus yang mahal dan bermerek. Yang penting adalah bahan yang digunakan sebaiknya yang terbuat dari bahan alami (katun), sehinga dapat menyerap keringat, membiarkan kulit bernapas sehingga membuat kita merasa nyaman. Bahan sintetis seperti nilon akan membuat kita kegerahan dan membuat vagina menjadi lembab. Hal ini sangat disukai oleh bakteri dan jamur untuk berkembang biak. Ukuran celana dalam juga perlu jadi pertimbangan. Jangan pilih celana dalam yang terlalu ketat karena selain gerah juga menyebabkan peredaran darah tidak lancar. Pilih aja yang ukurannya sesuai, tidak terlalu ketat, tetapi juga tidak kedodoran. (Siswono, 2001). Dari pernyataan diatas masih banyak remaja putri yang mengalami keputihan tidak normal yang menggunakan celana dalam yang berbahan nylon yang terbuat dari bahan sintetik dimana bahan tersebut dapat mambuat kita kegerahan dan membuat vagina menjadi lembab, sehingga kita harus menghindari suasana vagina yang lembab berkepanjangan karena pemakaian celana dalam yang basah, jarang diganti dan tidak menyerap keringat, sehingga gunakan celana dalam yang terbuat dari katun yang bisa menyerap keringat, untuk menghindari suasana yang lembab setelah cebok segera dikeringkan karena suasana yang lembab sangat baik untuk perkembangbiakan bakteri dan jamur.

KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Sebagian besar remaja putri di SMP Negeri 1 Tambakboyo Tuban mengalami keputihan normal. 2. Sebagian besar remaja putri di SMP Negeri 1 Tambakboyo Tuban tidak melakukan personal hygiene dengan benar. 3. Sebagian besar remaja putri di SMP Negeri 1 Tambakboyo Tuban tidak melakukan perawatan saat menstruasi dengan benar. 4. Setengahnya remaja putri di SMP Negeri 1 Tambakboyo Tuban jenis bahan pakaian dalamnya terbuat dari bahan campuran (Katun/Nylon). 5. Sebagian basar remaja putri di SMP Negeri 1 Tambakboyo Tuban yang mengalami keputihan normal tidak melakukan personal hygiene dengan benar. 6. Sebagian besar remaja putri di SMP Negeri 1 Tambakboyo Tuban yang mengalami keputihan normal tidak melakukan perawatan saat menstruasi dengan benar. 7. Hampir setengahnya remaja putri di SMP Negeri 1 Tambakboyo Tuban yang mengalami keputihan normal jenis bahan pakaian dalamnya terbuat dari bahan campuran (Katun/Nylon). DAFTAR PUSTAKA Alimul, Aziz.A (2006). Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Salemba Medika. Bandung Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta. Jakarta Aziz, Sriana (2009). Hidup Sehat Menyeluruh Dan Alami Penyembuhan Penyakit Reproduksi Perempuan. Indocamp. Jakarta. Care, Decha. (2009). Cara mengatasi keputihan. Senin 10 Maret 2010. Clayton (2005). Kejadian Keputihan. http://www.google.com Dwiana, 2008. Wanita Tanggap Hadapi Keputihan. Http://frisoftsehat.blogspot.com Istijanto, (2005). Riset Sumber Daya Manusia: Cara Praktis Mendesi Dimensi- Dimensi Kerja Karyawan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Kemayoran, RS Mitra (2008). Awas Keputihan. 5 Januari 2010 http://www.bidanku.comfindex.com Mansjoer,Arif (1999). Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1.Media Aeusculapius. Jakarta Manuaba, Ida Bagus Gde. (2009). Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. EGC. Jakarta Maretha, (2006). Detik News. 6 Desember 2008. http://www.detiknews.com Nadesul, Handrawan (2008). Fakta Tentang Keputihan. Senin 10 Maret 2010 http: // www.wikipedia.com Notoatmodjo, S. (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi penelitian ilmu keperawatan.Selamba Medika.Jakarta Prawirohardjo, Sarwono (2005). Ilmu Kandungan. YBP-SP. Jakarta Sastrawinata, Sulaiman (1981). Ginekologi. Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Bandung Shadine, Wijayanti (2009). Penyakit Wanita. Keen Books.Bandung Siswono. (2001), Merawat organ Reproduksi wanita Sabtu, 22 September 2001. http://www.google.com Susi (2009). Faktor Penyebab Keputihan. http://www.google.com Wijayanti, Daru (2009). Fakta Penting Kesehatan Reproduksi Wanita. Book Marks. Jakarta. Wikipedia Bahasa Indonesia (2009). Keputihan. senin, 5 januari 2010. http://www.wikipedia.com