Anda di halaman 1dari 8

REGULASI SIKLUS SEL

Sarmoko, Larasati Cancer Chemoprevention Research Center

Siklus sel merupakan proses vital dalam kehidupan setiap organisme. Secara normal, siklus sel menghasilkan pembelahan sel. Pembelahan sel terdiri dari 2 proses utama, yaitu replikasi DNA dan pembelahan kromosom yang telah digandakan ke 2 sel anak. Secara umum, pembelahan sel terbagi menjadi 2 tahap, yaitu mitosis (M) (pembelahan 1 sel menjadi 2 sel) dan interfase (proses di antara 2 mitosis). Interfase terdiri dari fase gap 1 (G1), sintesis DNA (S), gap 2 (G2). Setiap tahap dalam siklus sel dikontrol secara ketat oleh regulator siklus sel, yaitu: a. Cyclin. Jenis cyclin utama dalam siklus sel adalah cyclin D, E, A, dan B. Cyclin diekspresikan secara periodik sehingga konsentrasi cyclin berubah-ubah pada setiap fase siklus sel. Berbeda dengan cyclin yang lain, cyclin D tidak diekspresikan secara periodik akan tetapi selalu disintesis selama ada stimulasi growth factor. b. Cyclin-dependent kinases (Cdk). Cdk utama dalam siklus sel adalah Cdk 4, 6, 2, dan 1. Cdks merupakan treonin atau serin protein kinase yang harus berikatan dengan cyclin untuk aktivasinya. Konsentrasi Cdks relatif konstan selama siklus sel berlangsung. Cdks dalam keadaan bebas (tak berikatan) adalah inaktif karena catalytic site, tempat ATP dan substrat berikatan diblok oleh ujung C-terminal dari CKIs. Cyclin akan menghilangkan pengebloka tersebut. Ketika diaktifkan, Cdk akan memacu proses downstream dengan cara memfosforilasi protein spesifik. c. Cyclindependent kinase inhibitor (CKI), merupakan protein yang dapat menghambat aktivitas Cdk dengan cara mengikat Cdk atau kompleks cyclinCdk. Cyclindependent kinase inhibitor terdiri dari dua kelompok protein yaitu INK4 (p15, p16, p18, dan p19) dan CIP/KIP (p21, p27, p57). Keluarga INK4 membentuk kompleks yang stabil dengan Cdk sehingga mencegah Cdk mengikat cyclin D. INK4 bertugas mencegah progresi fase G1. Keluarga CIP/KIP meregulasi fase G1 dan S dengan menghambat kompleks G1 cyclinCdk dan cyclin B-Cdk1. Protein p21 juga menghambat sintesis DNA dengan menonaktifkan proliferating cell nuclear antigen (PCNA). Ekspresi p21 diregulasi oleh p53 karena p53 merupakan faktor transkripsi untuk ekspresi p21 (Vermeulen et al., 2003). Rb pathway Siklus sel dimulai dari masuknya sel dari fase G0 (quiescent) ke fase G1 karena adanya stimulus oleh growth factor (Gambar 1). Pada awal fase G1, Cdk 4 dan atau 6 diaktifkan oleh cyclin D (cycD). Kompleks Cdk4/6 dengan cycD akan menginisiasi fosforilasi dari keluarga protein retinoblastoma (pRb) selama awal G1. Efek dari fosforilasi ini, fungsi histon deasetilasi (HDAC) yang seharusnya menjaga kekompakan struktur kromatin menjadi terganggu. Akibatnya struktur DNA menjadi longgar dan faktor transkripsi yang semula diikat pRb menjadi lepas dan transkripsi dari E2F responsive genes yang dibutuhkan dalam progresi siklus sel ke fase S menjadi aktif.

Gen tersebut antara lain cycE, cycA, Cdc25, DNA polimerase, timidilat kinase, timidilat sintetase, DHFR, dll (Satyanarayana and Kaldis, 2009; Vermeulen et al., 2003).

Gambar 1. Siklus sel (Sherr, 1996)

Pada transisi fase G1 ke fase S, Cdk2 aktif dengan mengikat cycE. Kompleks tersebut melanjutkan proses fosforilasi pRb (status hiperfosforilasi) supaya proses transkripsi yang dipacu E2F tetap aktif dan Restriction point (R) yang ada di batas fase G1/S dapat terlampaui. Pada saat inilah cycA ditranskripsi (Satyanarayana and Kaldis, 2009). Selama G1/S, kompleks Cdk2-cycE juga memfosforilasi inhibitor p27 sehingga p27 terdegradasi (Vermeulen et al., 2003). Ketika siklus sel akan memasuki fase S, cycE akan didegradasi dan Cdk2 yang dibebaskan akan mengikat cycA (Cooper and Hausman, 2004) (Gambar 2). Kompleks Cdk2-cycA dibutuhkan sel untuk mereplikasi DNA selama fase S. Kompleks Cdk2-cycA akan memfosforilasi protein yang dibutuhkan dalam replikasi DNA supaya aktif, contohnya adalah protein CDC6 (Cell Division Cycle 6). Kompleks tersebut juga menjaga supaya tidak terjadi multiplicity replikasi DNA. Pada akhir fase S, cycA akan melepas Cdk2 dan mengikat Cdk1 (Cdc2) yang meregulasi transisi sel dari S ke G2 (Dhulipala et al., 2006). Kompleks cycA-Cdk1 akan memfasilitasi kondensasi kromatin yang dibutuhkan untuk penggandaan sel (Lapenna and Giordano, 2009). Pada fase G2, sel juga memiliki kesempatan melakukan mekanisme repair apabila terjadi kesalahan sintesis DNA (Baumforth and Crocker, 2003).

Cancer Chemoprevention Research Center | Siklus Sel

Gambar 2. Ilustrasi umum siklus sel. Siklus sel terdiri dari 4 tahap, yaitu G1, S, G2, dan M. Progresi siklus sel dikontrol oleh cyclin (D, E, A, dan B), cyclindependent kinases (4, 6, 2, dan 1), dan cyclindependent kinase inhibitor (contohnya Cip dan Kip) (Lapenna and Giordano, 2009).

Memasuki fase mitosis, cycA akan didegradasi dan terjadi peningkatan ekspresi cycB yang akan mengikat Cdk1. Kompleks Cdk1-cycB secara aktif memacu mitosis. Kompleks cycB-Cdk1 berperan penting dalam control rearrangement mikrotubul selama mitosis (Dhulipala et al., 2006; Lapenna and Giordano, 2009). Cdk1 dapat dinonaktifkan oleh Wee1 dan Myt1 dengan cara Wee1 dan Myt1 akan memfosforilasi Cdk1 pada tirosin-15 dan atau threonin-14. Defosforilasi pada situs tersebut dapat dilakukan oleh Cdc25 sehingga Cdk 1 menjadi aktif kembali dan siklus sel tetap berlangsung (Vermeulen et al., 2003). Pada akhir fase mitosis, cycB akan didegradasi oleh anaphase promoting complex (APC) melalui proses proteolitik. APC juga berfungsi untuk memacu kromatid untuk berpisah bergerak ke masing-masing kutub untuk menyelesaikan mitosis (anafase) (Lapenna and Giordano, 2009).

Cancer Chemoprevention Research Center | Siklus Sel

Checkpoint pada siklus sel Untuk menjamin bahwa DNA berduplikasi dengan akurat dan separasi dari kromosom terjadi dengan benar, maka siklus sel melakukan mekanisme checkpoint. Checkpoint bertugas mendeteksi kerusakan DNA. Apabila terdapat kerusakan DNA, checkpoint akan memacu cell cycle arrest sementara untuk perbaikan DNA atau cell cycle arrest permanen sehingga sel memasuki fase senescent. Bila mekanisme cell cycle arrest tidak cukup menjamin DNA yang rusak diduplikasi, maka sel akan dieliminasi dengan cara apoptosis (Siu et al., 1999). Faktor checkpoint pertama pada sel mamalia dikenal dengan restriction point (R) dan muncul menjelang akhir G1 (Cooper and Hausman, 2004). Pada checkpoint ini, DNA sel induk diperiksa apakah terdapat kerusakan atau tidak. Bila terdapat DNA yang rusak, siklus sel dihentikan hingga mekanisme repair DNA rusak telah selesai. Setelah melampaui R, sel menjadi commited (komitment) untuk menyelesaikan keseluruhan satu siklus (no return point) dan selanjutnya sel harus mampu melakukan replikasi DNA. Bila tidak melampaui R, sel dapat kembali ke fase G0. Hilangnya kontrol dari R akan menghasilkan survival DNA yang rusak. p53 pathway Pada checkpoint G1/S, kerusakan DNA dapat memacu cell cycle arrest dan proses ini adalah p53-dependent. Secara umum, level p53 sel rendah karena diregulasi negatif oleh mdm2 yang mentarget degradasi p53, namun kerusakan DNA dapat menginduksi aktivitas p53 dengan cepat. p53 dikontol oleh mdm2 dan p19ARF. Level protein p53 secara normal adalah pada konsentrasi rendah di dalam sel. Namun, sekali distimulasi, level protein secara cepat akan meningkat sepanjang waktu paruhnya, sedangkan level mRNA relatif tidak berubah. Lalu, apa yang bisa disimpulkan dari fenomena ini? Bahwa regulasi p53 terjadi pada level protein (bukan DNA atau RNA) adalah hal yang sangat kritikal pada aktivasinya. Regulator negatif p53 yaitu mdm2 yang merupakan suatu p53-responsive gene (gen yang terekspresi melalui faktor transkripsi p53). Sehingga dapat dibayangkan di sini ada loop umpan balik negatif di sini. p53 teraktifkan dan kemudian meningkatkan level mdm2. Mdm2 kemudian menginaktifkan p53 dengan cara mengikat kompleks atau mendegradasi p53. Jika sel ingin menaikkan level protein p53 maka sel perlu menghambat mdm2. Bagaimana sel menghambat mdm2? Itu tergantung pada rangsangan misal adalah agen perusak DNA (radiasi, UV, obat kemoterapi). DNA damage agent akan menginduksi aktivasi kinase (seperti ATM dan DNA-PK) yang dapat memfosforilasi critical residu serin dalam domain Mdm2-binding domain dari p53.

Cancer Chemoprevention Research Center | Siklus Sel

Gambar 3. Skematik dari domain p53 termasuk situs modifikasi post translasi (fosforilasi dan asetilasi) yang terlibat dalam stabilisasi, aktivasi, atau penekanan (Giaccia, and Kastan, 1998) Fosforilasi p53 pada serin-15 dan serin-37 oleh ATM atau protein kinase lain setelah terjadi kerusakan DNA dapat mencegah ikatan MDM2 dengan p53. Jadi, ketika p53 terfosforilasi sini (Gambar 3), dia tidak bisa lagi mengikat mdm2. Kemudian, inilah yang mampu menghilangkan penghambatan p53 dimediasi mdm2. Mengapa DNA damage agent mengaktifkan p53? Karena jika DNA Anda rusak, Anda tidak ingin untuk memperbanyak, bukan? Jika Anda melakukannya, Anda bisa menghasilkan selsel dengan mutasi yang merusak, yang kemudian dapat mengakibatkan kanker. Jadi, p53 mengenali ketika sel telah mengalami kerusakan DNA dan menghentikan siklus sel (cell cycle arrest) sehingga sel dapat memperbaiki kerusakan (repair), atau dalam banyak kasus, hanya memberitahu sel untuk bunuh diri (apoptosis), yaitu dengan cara menstimulasi transkripsi gen seperti p21 dan Bax sehingga siklus sel berhenti atau terjadi apoptosis (Siu et al., 1999).

Cancer Chemoprevention Research Center | Siklus Sel

Gambar 4. Onkogen dan DNA damage agent mengaktifkan p53 melalui mekanisme yang berbeda. p19ARF bertindak sebagai perantara dalam aktivasi p53 oleh onkogen mitogenik seperti E1A, Ras, c-myc. Sebaliknya, aktivasi p53 karena DNA damage agent melibatkan de novo fosforilasi serin 15 pada domain p53 (dan residu lainnya) oleh kinase seperti protein kinase DNA-dependent (DNA-PK) atau produk dari gen ataksia-telangiectasia (ATM). Activation of p53 by oncogenes does not involve phosphorylation on serine-15, and both serine-15 phosphorylation (not shown) and p53 activation following DNA damage are unimpaired in the absence of ARF. Oleh karena itu, dua jalur sinyal upstream ke p53 secara fundamental berbeda (de Stanchina et al, 1998). Mekanisme lain untuk menghambat mdm2 adalah dengan onkogen, suatu protein mutan konstitutif aktif yang terus-menerus memberitahu sel untuk tumbuh (E1A, Ras, c-Myc). Mengapa onkogen mengaktifkan p53? Sekali lagi, Anda tidak ingin sel untuk tumbuh tak terkendali, bukan? Jadi, p53 mengenali ketika hal ini terjadi dan menghentikan siklus sel. Namun, onkogen tidak mengarah pada pengaktifan ATM atau DNA-PK, pada kenyataannya, onkogen bahkan tidak mengarah pada fosforilasi p53 pada domain MDM2-binding. Jadi, bagaimana onkogen menghambat mdm2? Dengan cara menginduksi ekspresi protein supresor tumor disebut p19ARF (Gambar 5).

Cancer Chemoprevention Research Center | Siklus Sel

Gambar 5. Regulasi p53 dilakukan oleh mdm2 dan p19ARF p19AR (alternate reading frame dari lokus INK4a/ARF (CDKN2A))

Oleh karena itulah, mudah di pahami bahwa p53 adalah gen yang paling sering termutasi pada kanker. Dan dari sini, Anda bisa mengetahui pentingnya gen ini. Pada sel normal, p53 penting pada kontrol checkpoint utama. Dia besa mengenali ketika ada kesalahan terjadi, sebagai contoh kerusakan DNA atau sel terstimulasi oleh onkogen, dan segera mengentikan siklus sel untuk mencegah sel menjadi kanker. Jadi, jika sel kehilangan p53, sel akan kehilangan fungsi fungsi checkpoint pentingnya. Tidak hanya mutasi p53 termutasi saja yang ditemukan pada sel kanker, tetapi juga overekspresi mdm2 (yang menghambat p53), juga hilangnya p19ARF. Masih ingat pada jalur Rb, bahwa p16 6INK4a juga sering pada kanker. Ya, terny yata p16INK4a dan p19ARF (alternate reading frame dari lokus INK4a/ARF) adalah berada b pada lokus yang sama, dan pada ka anker lokus ini mengalami delesi, sehing gga p16INK4a dan p19ARF hilang. Checkpoint selanjutnya terdapat pada fase S yang berfungsi mendeteksi kerusakan DNA yang direplikasi. Checkpoint pada G2 mencegah inisiasi mitosis sebelum sebelum replikasi DNA selesai. Checkpoint utama a dalam fase S/G2/M adalah Chk1. Ketika terdapat kerusakan DNA, protein kinase ATR akan memfosforilasi Chk1, kemudian Chk1 memfosforilasi forilasi Cdc25C pada serin-216. serin Fosforilasi tersebut menyebabkan kompleks cycB-Cdk1 Cdk1 yang bertanggung jawab pada progresi fase G2/M G tidak akif. Selain itu, Chk1 juga memfosforilasi Cdc25A yang bertugas mengaktifkan kompleks

Cancer Chemoprevention Research Center | Siklus Sel

cycE-Cdk2 dan cycA-Cdk2 yang berperan pada progresi fase S. Dengan difosforilasinya Cdc25A oleh Chk1, kompleks cyc-Cdk menjadi tidak aktif dan terjadi S arrest (Xiao et al., 2003; Beckerman et al., 2009). Checkpoint yang terakhir, disebut spindle checkpoint, bertugas menjaga integritas genom menjelang akhir mitosis. Jika terjadi kegagalan pada penempatan pasangan kromosom pada spindle, akan terjadi mitosis arrest. Pada sel kanker, checkpoint tidak berfungsi dengan baik dan siklus sel berlangsung tanpa kendali (Cooper and Hausman, 2004).

Referensi Baumforth and Crocker, 2003, Molecular and Immunological Aspects of Cell Proliferation, in Molecular Biology in Cellular Pathology, Wiley (http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/0470867949.ch6/summary) Cooper GM and Hausman RE, 2004, The Cell: A Molecular Approach, Fifth Edition, ASM Press and Sinauer Associates, Inc. de Stanchina E, McCurrach ME, Zindy F, Shieh SY, Ferbeyre G, Samuelson AV, Prives C, Roussel MF, Sherr CJ, Lowe SW., E1A signaling to p53 involves the p19(ARF) tumor suppressor., Genes Dev. 1998 Aug 1;12(15):2434-42. Dhulipala, V.C., Welshons, W.V., and Reddy, C.S., 2006, Cell Cycle Proteins in Normal and Chemically Induced Abnormal Secondary Palate Development: a Review, Human Exp. Toxicol. 25: 675-682. Giaccia, A.J. and Kastan, M.B, 1998, The complexity of p53 modulation: emerging patterns from divergent signals, Genes and Development 12: 2973-2983. Lapenna, S., and Giordano, A., 2009, Cell Cycle Kinases as Therapeutic Targets for Cancer, Nat. Rev. Drug Discov. 8(7): 547-566. Reed SI, 2011, Chapter 6: Cell Cycle, in DeVita, Hellman, and Rosenberg's Cancer: Principles & Practice of Oncology, 9e, LWW Satyanarayana, A., and Kaldis, P., 2009, Mammalian Cell-cycle Regulation: Several Cdks, Numerous Cyclins, and Diverse Compensatory Mechanisms, Oncogene, 28: 2925-2939. Schwartz GK, 2005, Development of Cell Cycle Active Drugs for the Treatment of Gastrointestinal Cancers: A New Approach to Cancer Therapy, Journal of Clinical Oncology, July 10, 2005 vol. 23 no. 20 4499-4508 Sherr CJ., Cancer cell cycles., Science. 1996 Dec 6;274(5293):1672-7 Siu, W.Y., Yam, C.H., and Poon, R.Y.C., 1999, G1 versus G2 Cell Cycle After Adriamycin-induced Damage in Mouse Swiss3T3 Cells, Left. 461: 299-305. Vermeulen, K., Berneman, Z.N., and Van Bockstaele, D.R., 2003, Cell Cycle and Apoptosis, Cell Prolif. 36(3): 165-175. Xiao, Z., Chen, Z., Gunasekera, A.H., Sowin, T.J., Rosenberg, S.H., Fesik, S., and Zhang, H., 2003, Chk1 Mediates S and G2 Arrest Through Cdc25A Degradation in Response to DNA-Damaging Agents, J. Biol. Chem. 278(24): 21767-21773.

Cancer Chemoprevention Research Center | Siklus Sel