Anda di halaman 1dari 66

PRODUKSI BERSIH

1

1.1 Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Seiring perkembangan zaman industri yang ada di Indonesia telah banyak melakukan suatu inovasi-inovasi baru dalam proses produksinya. Salah satunya yaitu industri pembuatan tahu di PT. Tahu Cibuluh milik pak Ismail. Secara umum tahu terbuat dari bahan baku kedelai, dimana Negara Indonesia merupakan salah satu penghasil kedelai, namun kedelai yang dihasilkan tidak dapat mencukupi kebutuhan industri tahu yang ada sebagai bahan baku, selain itu kedelai yang dihasilkan di Indonesia kualitasnya kurang bagus untuk dijadikan sebagai bahan baku untuk pembuatan tahu. Oleh sebab itu kebanyakan industri pembuatan tahu menggunakan kedelai impor termasuk industi PT. Tahu Cibuluh yang menggunakan bahan baku kedelai impor dari Amerika.

Berdasarkan studi yang telah dilakukan, diketahui bahwa saat ini industri kecil dan menengah pembuatan tahu di Indonesia masih belum menunjukkan prestasi yang mengagumkan, baik dari segi produktivitas maupun dari segi pendapatan. Kemungkinan faktor utama penyebabnya adalah adanya ketidakefisienan dalam setiap tahapan proses produksi. Selain itu tenaga manusia sebagai penggerak cukup besar dan melelahkan. Kegiatan kunjungan langsung ke tempat industri kecil dan menengah pembuatan tahu yang telah dilaksanakan mendorong kami selaku mahasiswa yang berorientasi penyuluh lingkungan untuk memberikan perspektif mendasar tentang konsep pendekatan Produksi Bersih untuk industri pembuatan tahu mengingat prospek pengembangan tahu dari kedelai sebagai bahan pangan maupun bahan baku industri diakui sangat menjanjikan dan tahu juga merupakan makanan yang sangat digemari oleh penduduk Indonesia sehingga prospek pemasaran sangat menjanjikan dan dapat mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Karena itu, pengembangan berbagai jenis tahu dari kedelai membutuhkan kedelai yang memiliki kualitas yang terjaga

PRODUKSI BERSIH

2

dengan baik dan harus dapat memenuhi akan kebutuhan bahan baku terutama dalam pembuatan tahu.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari kunjungan langsung ke pabrik pembuatan tahu di PT.

Tahu Cibuluh yang berlokasi di Dasa Cibuluh, RT 3/RW 3

ini antara lain :

Melihat dan mengamati secara langsung kegiatan produksi industri kecil (skala menengah) di industri PT. Tahu Cibuluh

Mempelajari setiap aspek yang diamati baik itu pola pikir pekerja, sistem produksi, dan kondisi lingkungan sekitar industri PT. Tahu Cibuluh

Memunculkan kreatifitas akan adanya inovasi-inovasi baru terutama yang berkaitan dengan konsep Cleaner Production untuk Pengembangan Industri Kecil Menengah

1.3 Manfaat

Manfaat yang diharapkan dari kegiatan ini antara lain :

Sebagai modal dasar pembelajaran dan gambaran kerja secara nyata sebagai penyuluh industri kecil menengah ke depan.

Dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah diperoleh untuk diterapkan di lapangan.

Dapat memberikan rekomendasi-rekomendasi terhadap industri kecil menengah (PT. Tahu Cibuluh) berupa sentuhan teknologi/inovasi baru untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi sesuai konsep Produksi Bersih.

Industri yang terkait (PT. Tahu Cibuluh) dapat menerapkan konsep Produksi Bersih dalam setiap aspek produksinya.

PRODUKSI BERSIH

3

2.1 Produksi Bersih

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Produksi Bersih merupakan tindakan efisiensi pemakaian bahan baku, air dan energi, dan pencegahan pencemaran, dengan sasaran peningkatan produktivitas dan minimisasi timbulan limbah. Istilah Pencegahan Pencemaran seringkali digunakan untuk maksud yang sama dengan istilah Produksi Bersih. Demikian pula halnya dengan Eco-efficiency yang menekankan pendekatan bisnis yang memberikan peningkatan efisiensi secara ekonomi dan lingkungan. Pola pendekatan produksi bersih bersifat preventif atau pencegahan timbulnya pencemar, dengan melihat bagaimana suatu proses produksi dijalankan dan bagaimana daur hidup suatu produk. Pengelolaan pencemaran dimulai dengan melihat sumber timbulan limbah mulai dari bahan baku, proses produksi, produk dan transportasi sampai ke konsumen dan produk menjadi limbah. Pendekatan pengelolaan lingkungan dengan penerapan konsep produksi bersih melalui peningkatan efisiensi merupakan pola pendekatan yang dapat diterapkan untuk meningkatkan daya saing. Produksi bersih (clean production) salah satu pendekatan merancang ulang industri yang bertujuan mencapai cara cara pengurangan produk samping yang berbahaya, mengurangi polusi secara keseluruhan, menciptakan produk-produk dan limbahnya yang aman dalam kerangka siklus ekologi. Produksi bersih merupakan salah satu pengolaan lingkungan yang dilaksanakan secara sukarela (voluntary) karena penerapannya tidak wajib. Namun, strategi produksi bersih mempunyai arti yang sangat luas karena di dalamnya termasuk upaya pencegahan dan perusakan lingkungan melalui pilihan jenis proses yang akrap lingkungan, analisis daur hidup produk, dan teknologi bersih.

Menurut UNEP, Produksi Bersih adalah strategi pencegahan dampak lingkungan terpadu yang diterapkan secara terus menerus pada proses, produk,

PRODUKSI BERSIH

4

jasa untuk meningkatkan efisiensi secara keseluruhan dan mengurangi risiko terhadap manusia maupun lingkungan (UNEP, 1994). Produksi Bersih, menurut Kementerian Lingkungan Hidup, didefinisikan sebagai strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif, terpadu dan diterapkan secara terus-menerus pada setiap kegiatan mulai dari hulu ke hilir yang terkait dengan proses produksi, produk dan jasa untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya alam, mencegah terjadinya pencemaran lingkungan dan mengurangi terbentuknya limbah pada sumbernya sehingga dapat meminimisasi risiko terhadap kesehatan dan keselamatan manusia serta kerusakan lingkungan

(KLH,2003).

Dari pengertian mengenai Produksi Bersih maka terdapat kata kunci yang dipakai untuk pengelolaan lingkungan yaitu : pencegahan pencemaran, proses, produk, jasa, peningkatan efisiensi, minimisasi risiko. Dengan demikian maka perlu perubahan sikap, manajemen yang bertanggung-jawab pada lingkungan dan evaluasi teknologi yang dipilih. Pada proses industri, produksi bersih berarti meningkatkan efisiensi pemakaian bahan baku, energi, mencegah atau mengganti penggunaan bahan- bahan berbahaya dan beracun, mengurangi jumlah dan tingkat racun semua emisi dan limbah sebelum meninggalkan proses. Pada produk, produksi bersih bertujuan untuk mengurangi dampak lingkungan selama daur hidup produk, mulai dari pengambilan bahan baku sampai kepembuangan akhir setelah produk tersebut tidak digunakan. Produksi bersih pada sektor jasa adalah memadukan pertimbangan lingkungan ke dalam perancangan dan layanan jasa. Penerapan Produksi Bersih sangat luas mulai dari kegiatan pengambilan bahan termasuk pertambangan, proses produksi, pertanian, perikanan, pariwisata, perhubungan, konservasi energi, rumah sakit, rumah makan, perhotelan, sampai pada sistem informasi.

PRODUKSI BERSIH

5

2.2 Pola Pendekatan Produksi Bersih

Pola pendekatan produksi bersih dalam pencegahan dan pengolahan limbah yaitu dengan strategi 1E4R (Elimination, Reduce, Reuse, Recycle, Recovery/Reclaim) (UNEP, 1999). Adapun prinsip-prinsip pokok dalam strategi produksi bersih dalam Kebijakan Nasional Produksi Bersih (KLH, 2003) dituangkan dalam 5R (Rethink,Reuse,Reduction, Recovery and Recycle) yang akan kami jelaskan pada Bab Hasil dan Pembahasan. Strategi untuk menghilangkan limbah atau mengurangi limbah sebelum

terjadi (preventive strategy), lebih baik dari pada strategi pengolahan limbah atau pembuangan limbah yang telah ditimbulkan (treatment strategy). Kombinasi kedua strategy tersebut sesuai dengan skala prioritas pelaksanaan produksi bersih adalah sebagai berikut:

a) Elimination (pencegahan) adalah upaya untuk mencegah timbulan limbah langsung dari sumbernya, mulai dari bahan baku, proses produksi sampai produk.

b) Re-think (berpikir ulang), adalah suatu konsep pemikiaran yang harus dimiliki pada saat awal kegiatan akan beroperasi, dengan implikasi :

Perubahan dalam pola produksi dan konsumsi berlaku baik pada proses maupun produk yang dihasilkan, sehingga harus dipahami betul analisis daur hidup produk

Upaya produksi bersih tidak dapat berhasil dilaksanakan tanpa adanya perubahan dalam pola pikir, sikap dan tingkah laku dari semua pihak terkait pemerintah, masyarakat maupun kalangan usaha

a) Reduce (pengurangan) adalah upaya untuk menurunkan atau mengurangi timbulan limbah pada sumbernya.

b) Reuse (pakai ulang/penggunaan kembali) adalah upaya yang memungkinkan suatu limbah dapat digunakan kembali tanpa perlakuan fisika, kimia atau biologi.

PRODUKSI BERSIH

6

c) Recycle (daur ulang) adalah upaya mendaur ulang limbah untuk memanfaatkan limbah dengan memprosesnya kembali ke proses semula melalui perlakuakn fisika,kimia dan biologi.

d) Recovery/ Reclaim (pungut ulang, ambil ulang) adalah upaya mengambil bahan-bahan yang masih mempunyai nilai ekonomi tinggi dari suatu limbah, kemudian dikembalikan ke dalam proses produksi dengan atau tanpa perlakuan fisika,kimia dan biologi.

Meskipun prinsip produksi bersih dengan strategi 1E4R atau 5R, namun perlu ditekankan bahwa strategi utama perlu difokuskan pada Pencegahan dan Pengurangan (1E1R) atau 2R pertama. Bila strategi 1E1R atau 2R pertama masih menimbulkan pencemar atau limbah, baru kemudian melakukan strategi 3R berikutnya (reuse, recycle,dan recovery) sebagai suatu strategi tingkatan pengelolaan limbah.

2.3 Kendala dalam Penerapan Produksi Bersih Pengembangan pelaksanaan dan penerapan produksi bersih intinya adalah

merubah pola pikir tradisional ‘end of pipe’.

a) Kendala Ekonomi:

Timbul bila kalangan usaha tidak merasa akan mendapatkan keuntungan dalam penerapan produksi bersih. Sekecil apapun penerapan konsep produksi bersih, bila tidak menguntungkan bagi perusahaan maka akan sulit bagi manajemen untuk membuat keputusan tentang penerapan konsep produksi bersih. Contoh hambatan:

Biaya tambahan peralatan

Besarnya modal/investasi dibandingkan kontrol pencemaran secara konvensional sekaligus penerapan produksi bersih.

b) Kendala teknologi :

Kurangnya penyebaran informasi tentang konsep produksi bersih

PRODUKSI BERSIH

7

Penerapan sistem baru ada kemungkinan tidak sesuai dengan yang diharapkan atau malah menyebabkan gangguan

Tidak memungkinkan tambahan peralatan, terbatasnya ruang kerja/produksi

c) Kendala Sumber Daya Manusia :

Kurangnya dukungan dari pihak manajemen puncak

Keengganan untuk berubah baik secara individu maupun organisasi

Lemahnya komunikasi intern tentang proses produksi yang baik

Pelaksanaan manajemen organisasi perusahaan yang kurang fleksibel

Birokrasi yang sulit, terutama dalam pengumpulan data primer

Kurangnya dokumentasi dan penyebaran informasi

Perlunya pelatihan tentang produksi bersih

Tingkatan terakhir dalam pengelolaan lingkungan adalah pengolahan dan pembuangan limbah apabila upaya produksi bersih sudah tidak dapat dilakukan :

a. Treatment (pengolahan) dilakukan apabila seluruh tingkatan produksi bersih telah dikerjakan, sehingga limbah yang masih ditimbulkan perlu untuk dilakukan pengolahan agar buangan memenuhi baku mutu lingkungan.

b. Disposal (pembuangan) limbah bagi limbah yang telah diolah. Beberapa

limbah yang termasuk dalam ketegori berbahaya dan beracun perlu dilakukan penanganan khusus. Tingkatan pengelolaan limbah dapat dilakukan berdasarkan konsep produksi bersih dan pengolahan limbah sampai dengan pembuangan (Weston dan Stuckey, 1994). Penekanan dilakukan pada pencegahan atau minimisasi timbulan

limbah, dan pengolahan maupun penimbunan merupakan upaya terakhir yang dilakukan bila upaya dengan pendekatan produksi bersih tidak mungkin untuk diterapkan.

PRODUKSI BERSIH

8

2.4 Industri Tahu

Tahu merupakan salah satu makanan ringan yang menjadi kegemaran

masyarakat Indonesia. Tahu dikenal sebagai lauk nasi baik dalam wujud tahu

goreng, kripik tahu, atau pun dibuat sayur. Berbagai daerah di pulau Jawa

memiliki industri tahu yang khas atas daerah mereka masing masing. Daerah -

daerah yang dikenal menghasikan tahu diantaranya adalah Kediri (tahu kuning),

tahu semedang dari Jawa Barat, dan Malang (Jawa Timur) juga patut di

perhitungkan mengingat setiap desa didaerah tersebut memiliki industri tahu.

Menurut Deperindak (kini Kementrian Perdagangan yang telah memisah

dari Kementrian Perindustrian). Industri tahu termasuk dalam kolompok aneka

industri dengan komoditi industi makanan. Selain itu menurut Pengolaan Badan

Pusat Statistik (BPS) yang mengacu pada International Standard Industrial

Classification (ISIC) industri tahu ini termasuk dalam industri rumah tangga

(jumlah tenaga kerja 1 4 orang), industri kecil (tenaga kerja 5 19 orang), atau

industri sedang (tenaga kerjanya berkisar antara 20 99 orang).

Berdasarkan bahan mentahnya industri tahu termasuk industri agraris,

kemudian berdasarkan lokasi unit usahanya tergolong industri yang dapat didirika

disembarang tempat (dimana saja). Dilihat dari hasil produksinya industri tahu

tergolong industri ringan. Menurut penggolongan industri berdasarkan yang

mengusahakannya, industri tahu tergolong industri rakyat, sedangkan menurut

penggolongan industri berdasarkan pasarnya, industri tahu termasuk industri lokal

(non basic industry).

2.5 Alat dan Bahan Produksi Tahu

a.

Alat

Wajan penggorengan

Wadah hasil penggorengan

Mesin penggilingan

Jerigen

Ember

Pisau

Wadah pengukusan

Wadah penggumpalan

Wadah pengepresan

Kain untuk saringan

PRODUKSI BERSIH

9

b.

Bahan

Bahan penolong

Bahan baku

2.6 Tahapan Proses Produksi

: Kacang kedelai

: Air, garam dan bibit penggumpal

1. Kedelai yang telah terpilih kemudian direndam selama beberapa jam

dalam air.

2. Kedelai hasil perendaman dicuci kembali untuk memisahkan kulit

arinya.

3. Kedelai digiling sampai halus,lalu dikukus selama beberapa menit.

4. Hasil pengukusan diperoleh bubur kedelai yang kemudian disaring

degan menggunakan kain (biasanya kain mori kasar).

5. Kemudian filtratnya yang dikenal sebagai bubur tahu (susu kedelai)

dilakukan penggumpalan dengan senyawa asam asetat atau bibit

penggupal.

6. Bubur tahu tersebut dilakukan pengepresan hingga diperoleh tahu yang

jadi.

7. Tahu tersebut kemudian dipotong dengan ukuran tertentu sesuai dengan

keinginanan.

PRODUKSI BERSIH

10

BAB III

METODELOGI PENELITIAN

3.1 Teknik Wawancara

Dalam penyusunan makalah Produksi Bersih ini kami melakukan penilitian produksi tahu di industri Tahu Cibuluh milik bapak Ismail dengan melakukan wawancara langsung kepada pemilik industri bapak Ismail dan beberapa pengrajin tahu serta pekerja yang ada di industri tahu ini. Pertanyaan yang diajukan berupa daftar cek list dan beberapa pertanyaan lain seputar informasi mengenai proses produksi tahu dan penerapan produksi bersih di industri ini.

3.2 Teknik Observasi Langsung

Dalam penyusunan makalah ini, selain menggunakan teknik wawancara langsung kepada pemilik dan pekerja di industri, kami juga melakukan teknik observasi langsung yaitu pengamatan pada proses produksi dan pabrik. Dimana pada metode ini kami melakukan pencarian Hot Spot industri dengan melihat lihat keadaan sekitar dan mengambil beberapa gambar pada lokasi yang kami anggap hot spot pada saat pengamatan.

3.3 Tempat / Waktu Pengambilan Data

Setiap pengambilan data pasti memiliki tempat dan waktu, oleh karena itu kami juga memilih waktu-waktu untuk mengambil data yang diperlukan dari pihak industri. Agar waktu dan tempat yang digunakan efektif maka kami memilih tempat dan waktu sebagai berikut:

PRODUKSI BERSIH

11

No

Waktu

Keterangan

1.

Sabtu 17 Maret 2012

Awal Peninjauan

2.

Rabu 28 Maret 2012

Mengambil Data Awal Industri

3.

Jumat 30 Maret 2012

Mengambil data kekelurahan setempat

4.

Rabu 14 April 2012

Melihat kondisi industri secara umum

5.

Sabtu, 7 April 2012

Melihat seluruh proses kegiatan industri

6.

Rabu 11 April 2012

Melihat Tempat/Lokasi pembuangan limbah

3.4 Bahan dan Alat Pengambilan Data

Dalam proses pengambilan data pasti akan membutuhkan alat serta bahan yang digunakan untuk mempermudah proses pengambilan data yang diinginkan, begitu juga kami sangat membutuhkan bahan dan alat bantu untuk mengambil data yang diperlukan dari pihak industri untuk penyusunan makalah produksi bersih ini. Adapun bahan dan alat yang dibutuhkan dalam proses pengambilan data adalah sebagai berikut :

1. Buku tulis

2. Pulpen

3. Kalkulator

4. Handphone

5. Komputer/ Laptop

6. Kamera

7. Kendaraan

8. Surat pengantar

3.5 Cara Kerja Pengambilan Data

Dalam setiap proses pengambilan data pasti akan membutuhkan cara-cara yang digunakan oleh setiap individu atau kelompok untuk mempermudah mendapatkan data-data yang diinginkan dan dibutuhkan, setiap individu/kelompok mempunyai caranya sendiri dalam pengambilan data. Begitu juga dengan kelompok kami, kami mempunyai cara-cara tersendiri dan cara kerja

PRODUKSI BERSIH

12

yang kami gunakan dalam proses pengambilan data dari pihak industri ada beberapa cara yaitu sebagai berikut:

1. Melakukan wawancara langsung dengan pemilik industri.

2. Melakukan wawancara langsung dengan para karyawan di pabrik Tahu Cibuluh

3. Melihat secara langsung kegiatan dan keadaan disekitar pabrik

4. Melakukan wawancara langsung dengan pihak pemerintah setempat/ kelurahan setempat

PRODUKSI BERSIH

13

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

PREMA

Pendekatan PREMA adalah :

Sederhana

Biaya rendah atau tidak ada biaya sama sekali

Dapat diterapkan pada berbagai jenis & skala perusahaan, khususnya untuk UKM (e.g. menghindari ide kapitalis, penerapan solusi teknis yang mahal)

• Berfokus pada opsi “win-win-win”

Menghilangkan kesan bahwa tindakan untuk Lingkungan selalu menimbulkan biaya tambahan

Langkah PREMA

win-win- win” • Menghilangkan kesan bahwa tindakan untuk Lingkungan selalu menimbulkan biaya tambahan Langkah PREMA

PRODUKSI BERSIH

14

4.1.1 Penemuan Fakta

PRODUKSI BERSIH 14 4.1.1 Penemuan Fakta Merupakan suatu metode yang digunakan untuk mendapatkan fakta kualitatif

Merupakan suatu metode yang digunakan untuk mendapatkan fakta kualitatif berdasarkan Daftar Periksa

Mengidentifikasi Hotspot Berdasarkan daftar periksa

Hotspot Bahan Baku dan Proses Produksi

A. Penyimpanan Bahan Baku Kedelai dan Proses Perendaman

a) Keselamatan Kerja

Lantai licin disekitar ember ember penyimpanan kedelai yang direndam

akibat air yang tumpah dari proses tersebut akan menyebabkan kecelakaan

kerja jika para pekerja tidak berhati hati pada saat melakukan proses di

lokasi tersebut atau lalu lalang di tempat tersebut. Pada industri ini

penyimpanan bahan baku langsung disimpan pada ember perendaman

sehingga terkadang airnya tumpah dan membuat genangan air dlantai yang

berlubang. Hal ini sangat berbahaya untuk keselamatan kerja. Air tergenang pada lantai Ceceran kedelai di
berlubang. Hal ini sangat berbahaya untuk keselamatan kerja.
Air tergenang
pada lantai
Ceceran
kedelai di
lantai
Gambar 1. Proses Perendaman

Solusi :

Lakukan pembersihan selokan minimal setiap selesai produksi

Hati-hati memindahkan kedele dari satu wadah ke wadah lainnya

Usahakan air pencucian tidak sampai meluap

PRODUKSI BERSIH

15

b) Kerugian Finansial

Pada tahap ini banyak terjadi ceceran kedelai sehingga akan mengurangi keuntungan karena bahan kedelai yang seharusnya masuk dalam bahan baku dan proses selanjutnya yang nantinya akan menjadi produk harus terbuang karena tercecer dilantai dan tergenang di air yang kotor.

Isi kedelai terlalu penuh sehingga akan menyebabkan terjadinya tumpahan

terlalu penuh sehingga akan menyebabkan terjadinya tumpahan Ceceran Kedelai Gambar 2. Penyimpanan Kedelai Solusi : 
terlalu penuh sehingga akan menyebabkan terjadinya tumpahan Ceceran Kedelai Gambar 2. Penyimpanan Kedelai Solusi : 
terlalu penuh sehingga akan menyebabkan terjadinya tumpahan Ceceran Kedelai Gambar 2. Penyimpanan Kedelai Solusi : 

Ceceran Kedelai

Gambar 2. Penyimpanan Kedelai

Solusi :

Tidak mengisi ember penampung terlalu penuh

Hati-hati memindahkan kedele dari satu wadah ke wadah lainnya

c. Kerugian Waktu pekerja

Susunan ember penyimpanan yang tidak rapi dan tidak beraturan menyebabkan para pekerja susah untuk lalu lalang dan melakukan kegiatan produksi di daerah tersebut karena tempat penyimpanan tersebut merupakan jalur keluar masuk dari proses produksi. Tata letak yang seperti itu akan menghambat proses pekerjaan sehingga akan merugikan waktu kerja para pekerja.

PRODUKSI BERSIH

16

Lantai

tergenang

air

PRODUKSI BERSIH 16 Lantai tergenang air Susunan ember tidak beraturan dan menghalangi jalan Gambar 3. Proses
PRODUKSI BERSIH 16 Lantai tergenang air Susunan ember tidak beraturan dan menghalangi jalan Gambar 3. Proses

Susunan ember tidak beraturan dan menghalangi jalan

Gambar 3. Proses Perendaman

Solusi :

Melakukan pembersihan selokan minimal setelah selesai produksi

Melakukan penataan ember yang sudah digunakan dengan rapi

Mengatur tata letak pabrik baik agar tidak menggagu proses produksi

B. Proses Penggilingan

a) Kerugian financial

Masalah ceceran kedelai pada proses perendaman hampir sama karena tempat prosesnya sama serta penampung bubur tahu yang telah digiling ditampung lagi dengan ember yang sama sehingga ceceran sama dengan proses perendaman. Sehingga karena hal ini terus terjadi pada saat proses perendaman dan penggilingan maka kerugian finansial pun tidak bisa dihindarkan karena akan terjadi ceceran terus menerus.

pun tidak bisa dihindarkan karena akan terjadi ceceran terus menerus. Ceceran kedelai Gambar 4. Proses Penggilingan

Ceceran kedelai

pun tidak bisa dihindarkan karena akan terjadi ceceran terus menerus. Ceceran kedelai Gambar 4. Proses Penggilingan

Gambar 4. Proses Penggilingan

PRODUKSI BERSIH

17

PRODUKSI BERSIH 17 Solusi : Gambar 5. Penampung Penggiling Ceceran kedelai  Tidak mengisi kedelai terlalu

Solusi :

Gambar 5. Penampung Penggiling

Ceceran kedelai

Tidak mengisi kedelai terlalu penuh

 

Hati-hati

memindahkan

kedelai

dari

satu

wadah

ke

wadah

lainnya

Tidak mengisi kedelai terlalu penuh kedalam penampung pada

mesin

b)

Efisiensi waktu

Industri tahu cibuluh ini menggunakan mesin penggiling yang sudah tua sehingga proses penggilingan relatif lama yang menyebabkan proses produksi harus menunggu sampai bubur tahu ukuran satu ember selesai digiling sehingga efesiensi waktu kurang dan pekerjaan menjadi lambat, hal itu juga akan mempengaruhi finansial diakhir proses.

PRODUKSI BERSIH

18

PRODUKSI BERSIH 18 Mesin tua Gambar 6. Mesin Penggiling Ceceran kedelai yang banyak Ceceran bubur tahu
Mesin tua Gambar 6. Mesin Penggiling
Mesin tua
Gambar 6. Mesin Penggiling

Ceceran kedelai yang banyak

Ceceran

bubur tahu

Solusi :

Melakukan perawatan mesin secara berkala/melakukan penggantian mesin yang memiliki efesiensi yang lebih baik

Adanya pekerja yang selalu menjaga dan mengontrol ember penampung bubur tahu

Tidak mengisi kedele terlalu penuh kedalam penampung pada mesin.

c) Menggangu Kesehatan

Penggunan mesin penggiling yang sudah tua pada proses penggilingan kedelai untuk membuat bubur tahu menyebabkan kerja yang lambat, selain itu banyak dihasilkan polusi karena efisiensi mesin sudah kurang baik dan banyak bagian bagian yang sudah tidak bekerja dengan baik. Selain itu mesin penggiling yang sudah tua mengeluarkan suara yang bising sehingga menyebabkan kebisingan di ruang produksi. Dua hal ini yang akan menyebabkan terganggunya kesehatan para pekerja yaitu kebisingan dan polusi yang dihasilkan oleh mesin penggiling yang sudah tua.

C. Proses Perebusan

a)

Keselamatan kerja

Para pekerja masih tidak memperdulikan keselamatan kerja mereka pada bubur tahu yang direbus dengan uap ketel sangat panas sehingga dapat

PRODUKSI BERSIH

19

menyebabkan tangan melepuh. Dapat dilihat pada gambar bahwa salah satu pekerja mengambil bubur tahu panas tidak menggunakan sarung tangan. Padahal jika nanti terjadi kecelakaan akan menghambat proses produksi dan berpengaruh pada hasil produksi.

Lantai kotor
Lantai
kotor

Tidak menggunakan sarung tangan

Pipa uap kotor bekas perebusan

menggunakan sarung tangan Pipa uap kotor bekas perebusan Solusi : Gambar 7. Perebusan  Membuat jadwal

Solusi :

Gambar 7. Perebusan

Membuat jadwal kebersihan industri

Menggunakan APD yang sesuai seperti sarung tangan karet dengan tidak mengganggu kenyamanan kerja

b) Mengganggu Kesehatan

Minuman para pekerja diletakkan disebelah perebusan dimana perebusan menghasilkan uap yang nanti uapnya masuk kedalam minuman selain itu debu di ruang produksi dapat terbawa dengan uap dan masuk ke dalam gelas minuman pekerja

Solusi :

Tidak menyimpan makanan ditengah- tengah ruang produksi

Pekerja harus bekerja dengan rapi dan hati- hati

 Pekerja harus bekerja dengan rapi dan hati- hati Minuman terbuka Ceceran bubu tahu Gambar 8.
 Pekerja harus bekerja dengan rapi dan hati- hati Minuman terbuka Ceceran bubu tahu Gambar 8.

Minuman terbuka

Ceceran bubu tahu
Ceceran
bubu tahu

Gambar 8. Sumur Perebusan

PRODUKSI BERSIH

20

D. Proses Penyaringan

PRODUKSI BERSIH 20 D. Proses Penyaringan Gambar 9. Proses Penyaringan Tali pengikat sangat tipis rawan putus

Gambar 9. Proses Penyaringan

Tali pengikat sangat tipis rawan putus jika beban terlalu berat Tidak menggunakan APD
Tali pengikat
sangat tipis
rawan putus
jika beban
terlalu berat
Tidak
menggunakan
APD
putus jika beban terlalu berat Tidak menggunakan APD Kain penyaring sudah berlubang Pada proses penyaringan

Kain penyaring

sudah berlubang

Pada proses penyaringan bubur tahu yang panas setelah direbus para pekerja tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) padahal hal tersebut dapat menyebabkan kecelakaan kerja karena bisa saja pada proses penyaringan terkena bubur tahu.

Kain bagian bawah dari kawat penyaring sudah berlubang sehingga penyaringan tidak terlalu maksimal dalam menyaring bubur tahu sehingga terkadang ada ampas yang ikut terbawa, hal itu akan menyebabkan kualitas tahu menurun.

Tali pengikat kain saringan sangat tipis sehingga rawan untuk putus jika beban dari bubur tahu terlalu berat karena biasanya bubur tahu yang disaring sekaligus merupakan bubur tahu dari satu kali proses perebusan.

Solusi :

Mengganti tali pengikat dan kain penyaring dengan tali dan kain yang lebih ideal

Menggunakan APD yang sesuai sperti sarung tangan karet dengan tidak mengganggu kenyamanan kerja

PRODUKSI BERSIH

21

E. Proses Penggumpalan

Pekerja tidak menggunakan pakaian

21 E. Proses Penggumpalan Pekerja tidak menggunakan pakaian Tidak rapi Ceceran bubur tahu didinding bak Gambar
21 E. Proses Penggumpalan Pekerja tidak menggunakan pakaian Tidak rapi Ceceran bubur tahu didinding bak Gambar

Tidak rapi

Penggumpalan Pekerja tidak menggunakan pakaian Tidak rapi Ceceran bubur tahu didinding bak Gambar 10. Proses

Ceceran bubur tahu didinding bak

Gambar 10. Proses Penggumpalan

Solusi :

Pemilik industri memberikan instruksi agar para pekerja menggunakan pakaian ketika bekerja

Membuat jadwal kebersihan industri

Pekerja harus bekerja dengan rapi dan hati-hati

a) Pengurangan Kualitas produk

Pada proses penggumpalan para pekerja kebanyakan tidak menggunakan pakaian, hal ini mungkin dikarenakan proses yang menguras keringat karena temperature yang panas oleh adanya uap perebusan. Tetapi hal ini bias berdampak tidak baik untuk produk karena dengan tidak menggunakan pakaian bisa saja keringat jatuh kedalam bak dan hal tersebut akan mengurangi nilai kebersihan produk dan akan menurunkan kualitas produk.

PRODUKSI BERSIH

22

PRODUKSI BERSIH 22 Tidak menggunakan pakaian Cipratan air cuka atau biang cuka Ceceran didinding tahu Solusi

Tidak menggunakan pakaian

PRODUKSI BERSIH 22 Tidak menggunakan pakaian Cipratan air cuka atau biang cuka Ceceran didinding tahu Solusi

Cipratan air cuka atau biang cuka

Ceceran didinding tahu

Solusi :

Gambar 11. Proses Penggumpalan

Membuat jadwal kebersihan industri

Pekerja harus bekerja dengan rapi dan hati-hati

Pemilik industri memberikan instruksi agar para pekerja menggunakan pakaian ketika bekerja

b) Keselamatan Kerja

Tidak menggunakan pakaian pada proses penggumpalan juga dapat menyebabkan kecelakaan kerja seperti iritasi akibat terkena air cuka atau biang cuka pada saat proses penambahan air cuka atau biang cuka kedalam bak karena pasti ada ceceran atau terciprat pada saat penambahan. Iritasi ini bisa terjadi disebabkan oleh sifat dari cuka atau asam asetat yang bersifat iritasi atau korosif walaupun dalam keadaan encer. Sehingga jika para pekerja tidak menggunakan pakaian saat bekerja pada proses ini, tidak menutup kemungkinan akan terciprat biang cuka atau air cuka kebagian badan yang tidak tertutup pakaian. Jika sudah terkena dengan air cuka, bagian kulit badan akan gatal gatal akibat iritasi dan nantinya akan mengganggu proses kerja dan berujung pada hasil produksi.

c) Ceceran Produk

Hasil gumpalan dari proses penggumpalan terkadang banyak yang menempel pada dinding bak sehingga banyak yang tidak masuk kedalam produk. hal ini akan mengurangi hasil produk.

PRODUKSI BERSIH

23

PRODUKSI BERSIH 23 Gambar 12. Penggumpalan Solusi :  Pekerja harus bekerja dengan rapi dan hati-hati

Gambar 12.

Penggumpalan

PRODUKSI BERSIH 23 Gambar 12. Penggumpalan Solusi :  Pekerja harus bekerja dengan rapi dan hati-hati

Solusi :

Pekerja harus bekerja dengan rapi dan hati-hati

Ceceran pada dinding bak

F. Proses Pengepresan

dan hati-hati Ceceran pada dinding bak F. Proses Pengepresan Tidak menggunakan pakaian dan APD Keadaan sangat
dan hati-hati Ceceran pada dinding bak F. Proses Pengepresan Tidak menggunakan pakaian dan APD Keadaan sangat

Tidak menggunakan pakaian dan APD

bak F. Proses Pengepresan Tidak menggunakan pakaian dan APD Keadaan sangat kotor Gambar 13. Proses Pengepresan

Keadaan sangat

kotor

Gambar 13. Proses Pengepresan

dan APD Keadaan sangat kotor Gambar 13. Proses Pengepresan Tidak rapi Genangan air kotor dan berbau

Tidak rapi

sangat kotor Gambar 13. Proses Pengepresan Tidak rapi Genangan air kotor dan berbau Gambar 14. Alat

Genangan air kotor dan berbau

Proses Pengepresan Tidak rapi Genangan air kotor dan berbau Gambar 14. Alat pencetak Tahu Gambar 15.

Gambar 14. Alat pencetak Tahu

Genangan air kotor dan berbau Gambar 14. Alat pencetak Tahu Gambar 15. Pencetakan Tahu Tidak menggunakan

Gambar 15. Pencetakan Tahu

Tidak menggunakan APD

Tahu Gambar 15. Pencetakan Tahu Tidak menggunakan APD Kaki kayu yang terendam lama – lama akan

Kaki kayu yang terendam lama lama akan rapuh dan rawan untuk patah

PRODUKSI BERSIH

24

Pada proses pengepresan dan pencetakan ini biasanya dihasilkan ceceran pada saat memindahkan sari tahu dari bak penggumpalan kedalam pencetakan sehingga mengurangi hasil produksi.

Selain itu daerah tempat pengepresan dan pencetakan ini sangatlah kotor dan bau hal ini disebabkan karena air pengepresan yang keluar dari cetakan tidak langsung disalurkan pada pipa pembuang tetapi air yang keluar langsung jatuh kelantai yang berlubang dan tergenang sehingga timbul bau yang tidak sedap akibat pembusukan air tahu yang didiamkan lama.

Solusi :

Membuat jadwal kebersihan industri

Menggunakan APD yang sesuai seperti sarung tangan karet dengan tidak mengganggu kenyamanan kerja

Pemilik industri memberikan instruksi agar para pekerja menggunakan pakaian ketika bekerja

Adanya pemeriksaan peralatan produksi yang digunakan secara berkala

Memaksimalkan fungsi selokan yang sudah dibuat

G. Proses Penirisan

Genangan air

selokan yang sudah dibuat G. Proses Penirisan Genangan air Kotor & tidak rapi Kotor dan berdebu
Kotor & tidak rapi Kotor dan berdebu
Kotor &
tidak rapi
Kotor dan
berdebu

Gambar 16. Rak Penirisan

Gambar 17. Lantai rak penirisan

PRODUKSI BERSIH

25

Pada proses penirisan ini, tahu yang sudah dicetak ditaruh pada rak rak yang sudah tersedia, dimana rak penyimpanan tahu ini sangat kotor dan berdebu, hal ini dapat menyebabkan tahu terkena debu dan akhirnya kotor.

Selain itu pada tempat rak tahu ini sangat banyak air tergenang di bawahnya dimana air ini berasal sebagian dari tirisan tahu dan sumber air dalam pabrik yang meluap. Dikawatirkan ketika ada pekerja yang lewat untuk mengambil tahu dari rak akan terpeleset atau tercelup pada lubang lantai dan jatuh.

Lokasi rak ini sangatlah tidak rapi terbukti dimana mana banyak karung bekas ampas dan air kotor yang tergenang sehingga merusak estetika.

Solusi :

Membuat jadwal kebersihan industri

Pekerja harus bekerja dengan rapi dan hati-hati

Memaksimalkan fungsi selokan yang sudah dibuat

H. Proses Pemotongan

Memaksimalkan fungsi selokan yang sudah dibuat H. Proses Pemotongan Gambar 18. Proses Pemotongan Tidak menggunakan APD

Gambar 18. Proses Pemotongan

Tidak

menggunakan

APD

PRODUKSI BERSIH

26

PRODUKSI BERSIH 26 Gambar 19. Siwilan 3 cepon Ceceran potongan tahu yang tidak sesuai ukuran Proses

Gambar 19. Siwilan 3 cepon

Ceceran potongan tahu yang tidak sesuai ukuran

Proses pemotongan tahu sangat banyak dihasilkan siwilan tiga cepon atau potongan tahu yang tidak sesuai ukuran yang akan dipasarkan. Hal ini dapat disebabkan oleh wadah cetakan tahu melebihi ukuran tahu yang akan dipotong sehingga biasanya bagian pinggir tahu akan berlebih dan menjadi siwilan 3cepon.

Selain itu pekerja masih saja tidak menggunakan pakaian padahal tidak menutup kemungkinan ada keringat yang jatuh keatas potongan tahu dan akan merusak tahu.

Solusi :

Pemilik industri memberikan instruksi agar para pekerja menggunakan pakaian ketika bekerja

Menyesuaikan ukuran cetakan tahu agar sesuai dengan yang diinginkan

I. Proses Penggorengan

secara terus menerus sehingga kualitas tahu yang dihasilkan tidak terlal sehat Pada proses penggorengan ini para pekerja kebanyakan tidak menggunakan APD, padahal proses penggorengan ini memiliki potensi bahaya yang besar karena berhubungan dengan minyak panas dan jika sampai terciprat pada bagian kulit yang tidak terlindungi akan menyebabkan kulit melepuh dan nantinya akan mengganggu proses dan produk.

Selain itu penggorengan ini dilakukan dengan menggunakan minyak goreng sisa dan ditambah secara terus menerus sehingga kualitas tahu yang dihasilkan tidak sehat.

PRODUKSI BERSIH

27

Tidak menggunakan APD (Pakaian)

PRODUKSI BERSIH 27 Tidak menggunakan APD (Pakaian) Gambar. 20 Proses Penggorengan Gambar 21. Pengambilan tahu Tidak

Gambar. 20 Proses Penggorengan

menggunakan APD (Pakaian) Gambar. 20 Proses Penggorengan Gambar 21. Pengambilan tahu Tidak menggunakan APD Minyak
menggunakan APD (Pakaian) Gambar. 20 Proses Penggorengan Gambar 21. Pengambilan tahu Tidak menggunakan APD Minyak
menggunakan APD (Pakaian) Gambar. 20 Proses Penggorengan Gambar 21. Pengambilan tahu Tidak menggunakan APD Minyak
menggunakan APD (Pakaian) Gambar. 20 Proses Penggorengan Gambar 21. Pengambilan tahu Tidak menggunakan APD Minyak

Gambar 21.

Pengambilan tahu

Tidak

menggunakan

APD

Minyak goreng hitam
Minyak
goreng
hitam

Gambar. 22 Alat Penggorengan

Solusi :

Pemilik industri memberikan instruksi agar para pekerja menggunakan pakaian ketika bekerja

Menggunakan APD yang sesuai seperti sarung tangan karet dengan tidak mengganggu kenyamanan kerja

Adanya pemantauan terhadap kondisi minyak goreng yang digunakan

PRODUKSI BERSIH

28

J. Proses pembungkusan

PRODUKSI BERSIH 28 J. Proses pembungkusan Gambar 23. Pembungkusan Solusi : Proses pembungkusan dilakukan di tempat

Gambar 23. Pembungkusan

Solusi :

Proses pembungkusan dilakukan di tempat yang terbuka sehingga tidak menutup kemungkinan ada debu yang menempel pada tahu karena atiupan angin.

Selain itu pembungkusan dilakukan langsung dengan tangan tanpa menggunakan ADP.

Tempat maupun alas tempat pembungkusan dilakukan ditempat yang lebih bersih

Menggunakan sarung tangan seperti plastik ketika melakukan pengemasan tahu.

K.

Kondisi Umum Ruang Produksi, Bahan Bakar dan Limbah

Minuman tidak

bertutup

Produksi, Bahan Bakar dan Limbah Minuman tidak bertutup Tata letak yang tidak rapi Gambar 24. Ruang

Tata letak yang tidak rapi

Limbah Minuman tidak bertutup Tata letak yang tidak rapi Gambar 24. Ruang Produksi Banyak debu dilangit

Gambar 24. Ruang Produksi

Tata letak yang tidak rapi Gambar 24. Ruang Produksi Banyak debu dilangit – langit dan jaring
Tata letak yang tidak rapi Gambar 24. Ruang Produksi Banyak debu dilangit – langit dan jaring

Banyak debu dilangit langit dan jaring laba - laba

Gambar 25, Langit-langit pabrik

PRODUKSI BERSIH

29

Gudang bahan bakar tertata rapi

PRODUKSI BERSIH 29 Gudang bahan bakar tertata rapi Gambar 26.Bahan bakar Banyak bahan bakar yang tercecer

Gambar 26.Bahan bakar

29 Gudang bahan bakar tertata rapi Gambar 26.Bahan bakar Banyak bahan bakar yang tercecer diketel uap

Banyak bahan

bakar yang

tercecer

diketel uap

bakar Banyak bahan bakar yang tercecer diketel uap Gambar. 27 Ketel Uap Biogas yang tidak terawatt
bakar Banyak bahan bakar yang tercecer diketel uap Gambar. 27 Ketel Uap Biogas yang tidak terawatt

Gambar. 27 Ketel Uap

Biogas yang tidak terawatt dan kotor
Biogas yang
tidak
terawatt
dan kotor

Ceceran ampas tahu dibak penampung

terawatt dan kotor Ceceran ampas tahu dibak penampung Gambar 28. Penampung Ampas didalam pabrik G a
terawatt dan kotor Ceceran ampas tahu dibak penampung Gambar 28. Penampung Ampas didalam pabrik G a

Gambar 28. Penampung Ampas didalam pabrik

Gambar 29. Bio Gas

pabrik G a m b a r 2 9 . B i o G a s
pabrik G a m b a r 2 9 . B i o G a s

Tumpukan

jerigen kosong

yang tertumpuk

berlebihan akan

dapat

menyebabkan

kecelakaan kerja

Gambar 30. Tumpukan Jerigen

PRODUKSI BERSIH

30

Solusi yang ditawarkan :

Tidak menyimpan makanan atau makan di ruang produksi

Mengadakan jadwal pembersihan tempat kerja minimal sebulan sekali secara rutin dan bersama-sama

Berhati-hati dalam melaksanakan setiap proses produksi yang dilakukan

Melakukan penataan ruang produksi dengan rapi

Mengusahakan penyimpanan atau penumpukan barang tidak melebihi kapasitas.

4.1.2Analisis Biaya dan Lingkungan

tidak melebihi kapasitas. 4.1.2Analisis Biaya dan Lingkungan Merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengetahui

Merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengetahui secara kuantitatif nilai uang yang hilang akibat inefisiensi

Pembuatan diagram alir berdasarkan proses dengan memperhatikan input, produk antara dan Non Product Output (NPO)

PRODUKSI BERSIH 31 A. Diagram Alir Pembuatan Tahu di Industri Tahu Cibuluh
PRODUKSI BERSIH
31
A. Diagram Alir Pembuatan Tahu di Industri Tahu Cibuluh

PRODUKSI BERSIH

32

PRODUKSI BERSIH 32

PRODUKSI BERSIH

33

PRODUKSI BERSIH 33

PRODUKSI BERSIH

34

A.

Data Dasar Industri Tahu Cibuluh

PRODUKSI BERSIH 34 A. Data Dasar Industri Tahu Cibuluh

PRODUKSI BERSIH

35

PRODUKSI BERSIH 35

PRODUKSI BERSIH

36

PRODUKSI BERSIH 36

PRODUKSI BERSIH

37

B. Perhitungan Produk dan Non Product Output (NPO) PT. Tahu Cibuluh Tahun 2012

PRODUKSI BERSIH 37 B. Perhitungan Produk dan Non Product Output (NPO) PT. Tahu Cibuluh Tahun 2012

PRODUKSI BERSIH

38

PRODUKSI BERSIH 38

PRODUKSI BERSIH

39

PRODUKSI BERSIH 39

PRODUKSI BERSIH

40

PRODUKSI BERSIH 40

PRODUKSI BERSIH

41

PRODUKSI BERSIH 41

PRODUKSI BERSIH

42

PRODUKSI BERSIH 42

PRODUKSI BERSIH

43

5.1.3 Analisis Penyebab

PRODUKSI BERSIH 43 5.1.3 Analisis Penyebab Akar permasalahan : a. Ceceran Karena pekerja lelah dan kurang

Akar permasalahan :

a. Ceceran

Karena

pekerja

lelah dan

kurang

istirahat

Para

pekerja

ingin cepat

selesai

Agar

menghe

mat

tempat

Karena

ember

terlalu penuh

Saat pencucian dan perendaman ada yang tercecer

penuh Saat pencucian dan perendaman ada yang tercecer Isi ember jangan terlalu penuh dan waktu kerja
penuh Saat pencucian dan perendaman ada yang tercecer Isi ember jangan terlalu penuh dan waktu kerja
penuh Saat pencucian dan perendaman ada yang tercecer Isi ember jangan terlalu penuh dan waktu kerja
penuh Saat pencucian dan perendaman ada yang tercecer Isi ember jangan terlalu penuh dan waktu kerja
penuh Saat pencucian dan perendaman ada yang tercecer Isi ember jangan terlalu penuh dan waktu kerja

Isi ember jangan terlalu penuh dan waktu kerja dikurangi

Ceceran kedelai
Ceceran kedelai
Bubur Tahu Ceceran
Bubur Tahu
Ceceran

Tidak

menggunakan

APD

kedelai Bubur Tahu Ceceran Tidak menggunakan APD Saat pengangkutan dan pengukusan ada yang tercecer

Saat

pengangkutan

dan

pengukusan

ada yang

tercecer

kapasitas ember

terlalu penuh

ada yang tercecer kapasitas ember terlalu penuh Cara mengangkut dan mengaduk terburu-buru dan tidak
ada yang tercecer kapasitas ember terlalu penuh Cara mengangkut dan mengaduk terburu-buru dan tidak
ada yang tercecer kapasitas ember terlalu penuh Cara mengangkut dan mengaduk terburu-buru dan tidak

Cara mengangkut

dan mengaduk

terburu-buru dan

tidak hati-hati,

Ceceran Kedelai
Ceceran
Kedelai

Para pekerja takut terkena tumpahan bubur tahu yang panas

Ceceran Kedelai Para pekerja takut terkena tumpahan bubur tahu yang panas Kurangi kapasitas ember dan gunakanlah
Ceceran Kedelai Para pekerja takut terkena tumpahan bubur tahu yang panas Kurangi kapasitas ember dan gunakanlah

Kurangi kapasitas ember dan gunakanlah APD

PRODUKSI BERSIH

44

Sewilan tiga cepon Ukuran cetakan tidak sesuai dengan tahu yang dipotong Tidak memikirkan keuntungan yang
Sewilan tiga cepon
Ukuran cetakan tidak
sesuai dengan tahu
yang dipotong
Tidak
memikirkan
keuntungan
yang
didapatkan jika
tidak ada
ciwilan 3 cepon
Tidak
kreatifitas
untuk
memodifikasi
cetakan

Sudah sejak

pertama

melakukan

pemotongan

cetakan Sudah sejak pertama melakukan pemotongan Ketidaktauan dan Tidak adanya keasadaran pemilik
cetakan Sudah sejak pertama melakukan pemotongan Ketidaktauan dan Tidak adanya keasadaran pemilik

Ketidaktauan

dan Tidak

adanya

keasadaran

pemilik

Malas

memodifikasi

cetakan

adanya keasadaran pemilik Malas memodifikasi cetakan Disosiallisasikan keuntungan dari siwilan 3 cepon dan

Disosiallisasikan keuntungan dari siwilan 3 cepon dan cetakan diusahakan memiliki ukuran yang sesuai dengan tahu yang dipotong

b.Kayu Bakar

Para pekerja diberi waktu untuk istirahat

Penggunaan

yang berlebihan

hingga tumpah

 

Kurang waktu

 

Pekerja lelah

istirahat ingin cepat

istirahat

istirahat ingin cepat

ingin cepat

istirahat

Agar

pembakaran

cepat

ingin cepat istirahat Agar pembakaran cepat Pekerja ingin cepat selesai Tidak adanya piket

Pekerja ingin

cepat selesai

Agar pembakaran cepat Pekerja ingin cepat selesai Tidak adanya piket kebersihan Keadaan gudang yang

Tidak adanya

piket kebersihan

ingin cepat selesai Tidak adanya piket kebersihan Keadaan gudang yang tidak tertata rapi Tidak

Keadaan gudang

yang tidak

tertata rapi

Keadaan gudang yang tidak tertata rapi Tidak adanya system organisasi yang dibuat pemilik

Tidak adanya

system

organisasi yang

dibuat pemilik

adanya system organisasi yang dibuat pemilik Kayu bakar Tidak adanya system yang mengharuskan melakukan
adanya system organisasi yang dibuat pemilik Kayu bakar Tidak adanya system yang mengharuskan melakukan
Kayu bakar
Kayu bakar

Tidak adanya system yang mengharuskan melakukan pembersihan

Membuat system organisasi dan jadwal kebersihan

Kayu bakar Tidak adanya system yang mengharuskan melakukan pembersihan Membuat system organisasi dan jadwal kebersihan
Kayu bakar Tidak adanya system yang mengharuskan melakukan pembersihan Membuat system organisasi dan jadwal kebersihan

PRODUKSI BERSIH

45

c. Air Penggunaan Air yang Boros pada proses produksi Pekerja merasa air selalu ada Air
c.
Air
Penggunaan Air yang
Boros pada proses
produksi
Pekerja merasa
air selalu ada
Air
Sumber air langsung
dari mata air dan
sumur milik sendiri
tidak dari PAM
Pekerja diberi pengarahan untuk
hemat menggunakan air
Melakukan penghematan dalam
penggunaan air
Air gratis hanya
membayar listrik saja
Tidak menggunakan air untuk
kegiatan yang kurang penting
Pekerja belum
memahami
penghematan
penggunaan air bisa
menghemat listrik

PRODUKSI BERSIH

46

4.1.4. Pengembangan Langkah Perbaikan

PRODUKSI BERSIH 46 4.1.4. Pengembangan Langkah Perbaikan Mencari solusi bagi akar permasalahan dengan mempertimbangkan

Mencari solusi bagi akar permasalahan dengan mempertimbangkan sisi:

1. Keuangan (investasi)

2. Perbaikan Lingkungan

3. Kemudahan dan waktu perbaikan

Tujuan

Langkah Yang diambil

Investasi yang diperlukan

 

Manfaat

Prioritas

Penanggung

Jadwal Waktu

Ekonomi

Lingkungan

K3

Organisasi

 

jawab

Mengetahui

Membuat pembukuan dan

Buku

5

@

Rp. 2000

=

Rp.

-

-

-

Mudah

mengetahui

Tinggi

Pak Ngadini

1 minggu

kebutuhan

bahan

melakukan

pencatatan

10.000

produktivitas

kerja

selaku

baku

dan

bahn baku, energy, dan air

Bolpoint 4 @ Rp. 1.500 = Rp.

setiap

harinya

dan

pengerajin 1

produktivitas

yang dgunakan

6.000

memudahkan

pembuatan tahu

Sub total =Rp. 16.000

 

memonitoring

PRODUKSI BERSIH

47

Mengurangi ceceran

Proses

Perendaman

-

Mengurangi cecran dari

Semakin

dikit

-

Kenyamanan

kerja

Tinggi

Pak

Omoq

3

hari

yang terbentuk

mengurangi

kapasitas

0,25% menjadi 0.10 %

ceceran

maka

karena

lingkungan

selaku

 

kedelai

pada

ember

agar

biaya

NPO

yang

dapat

limbah

akan

bersih tanpa ceceran

pengerajin 2

tidak

meluap

dan

dikurangi

dari

semakin

menyebabkan

ceceran

RP.2.359.600

menjadi

berkurang

dan

kedelai

Rp.943.840

sehingga

timbulan

bau

keuntungan yang didapat

akan

semakin

sebanyak

Rp.1.415.760

sedikit

/tahun

 

Proses

penggilingan

1 lembar seng ukuran (1 x1

Dapat

mengurangi

Semakin

dikit

-

Kenyamanan

kerja

Tinggi

Pak

omoq

3

hari

Memodifikasi

 

mesin

m) = Rp. 10.000

ceceran

dari

0,5%

ceceran

maka

karena

lingkungan

selaku

 

penggiling

 

Selang 1 m = Rp. 8.000

menjadi

0,25%

dengan

limbah

akan

bersih tanpa ceceran

pengerajin 2

 

Kawat behel 1 gulung = Rp.

biaya

NPO

yang

dapat

semakin

10.000

dikurangi dalam setahun

berkurang

dan

Sub total = Rp. 28.000

yaitu

:

Rp.5.606.990,19

timbulan

bau

 

menjadi Rp.2.807.034,14

akan

semakin

sehingga

diperoleh

sedikit

keuntungan

Rp.2.799.362/tahun

PRODUKSI BERSIH

48

 

Proses Pemotongan tahu memodifikasi nampan

-

Meniadakan

siwilan

3

Semakin

dikit

-

Menambah

 

Tinggi

Pak

Pian

1

mnggu

cepon sehingga menjadi

ceceran

maka

produktivitas

kerja

selaku

 

dengan

ukuran

sesuai

potongan

tahu

sesuai

limbah

akan

dan hasil produk

pengerajin 3

potongan tahu

ukuran dari 1 % menjadi

semakin

 

tidak ada siwilan 3 cepon

berkurang

dan

dengan biaya NPO yang

timbulan

bau

dapat berkurang yaitu :

akan

semakin

Rp. 9.983.111/tahun

 

sedikit

Mengurangi

Merapikan gudang bahan

-

Mengurangi penggunaan

Mengurangi

-

Kenyamanan

kerja

Tinggi

Pak Komeng

3

hari

pemborosan

bakar serta mengganti

 

bahan

bakar

awalnya

pemakaian

kayu

karena

kayu

bakar

selaku

 

penggunaan

kayu

karung penyimpan yang

cecerannya

banyak

bakar dan serbuk

dan

serbuk

kayu

pengerajin 4

bakar

rusak dan hati hati dalam

disekitar

tempat

kayu

berarti

tertata rapi

penambahan bakar

 

pembakaran

dan

ruang

mengurangi

 

kedalam tungku

produksi

menjadi

lebih

pencemaran

pembakaran agar tidak

berkurang. sehingga ada

udara

karena

tumpah

biaya

NPO

yang

asap

berkurang

dan

meningkatkan

keunungan.

PRODUKSI BERSIH

49

Mengurangi

Mengganti keran yang rusak dan mematikan saat air tidak digunakan

Keran

2

@

Rp.

5000

=

Rp.

Mengurangi biaya penggunaan pompa listik menjadi lebih murah.

Mengurangi timbulan air limbah akibat air terbuang

Mengura

Kenyamaanan kerja

tinggi

Pak Komeng

5 hari

pemborosan

10.000

 

ngi

dengan

suasana

selaku

penggunaan Air

Lem

keran

1

gulung

=

Rp.

kecelakaan

kerja

yang

bersih

dan

pengerajin 5

 

5.000

   

dengan

meningkatkan

Sub total Rp. 15.000

   

menghinda

produktivitas

 

ri genangan

produksi

air dilantai

 

PRODUKSI BERSIH

50

4.1.5. Penerapan

PRODUKSI BERSIH 50 4.1.5. Penerapan Langkah Penerapan Produksi Bersih di Industri PT. Tahu Cibuluh Dari fakta-fakta

Langkah Penerapan Produksi Bersih di Industri PT. Tahu Cibuluh

Dari fakta-fakta yang telah disebutkan di atas terlihat banyak sekali kondisi-kondisi yang seharusnya tidak terjadi dan harus dirubah. Oleh karena itu, dalam merubah kondisi yang ada maka diperlukan menetapkan prinsip-prinsip penerapan produksi bersih agar tercipta efesiensi kerja sehingga produksi semakin meningkat, lingkungan kerja menjadi nyaman dan pekerja menjadi sehat serta sejahtera.

Adapun

prinsip

produksi

bersih

yang

harus

penerapan prinsip 5R sebagai berikut :

diterapkan

antara

lain

a. RE -THINK Rething merupakan suatu konsep pemikiran yang harus dimiliki pada saat awal kegiatan seperti ketika akan beroprasi. Adapun implikasi dari re-think yang dapat dilakukan di Industri PT. Tahu Cibuluh ini antara lain :

Adanya perubahan dalam pola pikir pemilik industri untuk meningkatkan produksi agar tidak hanya berorientasi pada untung sekali produksi saja tetapi berkesinambungan.

Upaya mengurangi nilai NPO dalam penerapan produksi bersih dapat merubah pemikiran produksi yang berorientasi pada keuntungan yang didapatkan dari segi ekonomi, lingkungan, dan oraganisasi.

PRODUKSI BERSIH

51

b.

Reuse (Memakai kembali);

Penggunaan kembali karung karung bahan bakar untuk ampas tahu.

Hindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai, buang). Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah.

c.

Reduce (Mengurangi);

Sebisa mungkin lakukan minimalisasi barang atau material yang dipergunakan contohnya pemborosan air dan bahan bakar.

Mengurangi penggunaan minyak goreng berkali kali pakai.

Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan.

d.

Recycle (Mendaur ulang);

Pemanfaatan limbah cair dari produksi tahu secara efektif untuk pengolahan biogas yang dapat meningkatkan keuntungan dan mengurangi pencemaran kelingkungan.

e.

Replace ( Mengganti); Mengganti barang barang yang sudah perlu diganti dan dapat mencemari lingkungan serta penurunan produktivitas kerja seperti mesin penggilingan, saringan tahu.

Di dalam mendukung program PREMA diperlukan, ada yang namanya manajemen Good House Keeping.

Good House Keeping yaitu Sejumlah langkah praktis berdasarkan akal sehat yang segera dapat diambil oleh perusahaan dan atas inisiatif perusahaan sendiri untuk meningkatkan operasi perusahaan, dan menyempurnakan prosedur organisasional dan keselamatan tempat kerja, dan Good Huse keeping juga merupakan sarana manajemen untuk pengelolaan biaya, pengelolaan lingkungan hidup dan perubahan organisasional.

PRODUKSI BERSIH

52

Adapun kelebihan yang bisa kita dapatkan dalam menerapkan Good Housekeeping ini antara lain, Good Housekeeping ini sangat sesuai untuk IKM karena penerapan manajemen Good Housekeeping ini mudah dan gampang serta bisa diterapkan secara langsung di dalam proses industri, biaya yang diperlukan untuk menerapkan Good housekeeping ini juga tidak mahal.

Good Housekeeping ini dapat diimplementasikan pada berbagai jenis perusahaan serta dapat diimplementasikan pada berbagai skala perusahaan. Ketika kita menerapkan Good Housekeeping, kita juga dapat berfokus pada tiga keuntungan yaitu “win-win-win”.

Win-win-win adalah keuntungan yang dapat dilihat dari dibidang lingkungan, organisasi serta yang paling penting yaitu keuntungan dibidang ekonomi.

Adapun langkah-langkah sederhana yang bisa kita lakukan dalam menerapkan manajemen Good House-keeping ini antara lain, rasionalisasi pemakaian masukan bahan baku, air, dan enerji, sehingga mengurangi kerugian masukan bahan berharga dan karenanya mengurangi biaya operasional, kemudian mengurangi volume dan/atau toksisitas limbah, limbah air, dan emisi yang berkaitan dengan produksi, kemudian menggunakan kembali dan/atau mendaur ulang masukan primer dan bahan kemasan secara maksimal. Memperbaiki kondisi kerja dan keselamatan kerja dalam perusahaan , mengadakan perbaikan operasional, kemudian adanya tata cara perhitungan biaya serta adanya pembuatan penjadwalan terhadap produksi.

Didalam menerapkan produksi bersih kita perlu melakukan beberapa perubahan dari berbagai aspek antara lain:

Perubahan material input

Bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan bahan berbahaya dan beracun yang masuk atau digunakan dalam proses produksi, sehingga dapat juga menghindari terbentuknya limbah B3 dalam proses produksi

PRODUKSI BERSIH

53

Perubahan material input termasuk pemurnian bahan dan substitusi bahan

Perubahan teknologis

Mencakup modifikasi proses dan peralatan yangdilakukan untuk mengurangi limbah dan emisi, perubahan teknologi dapat dimulai dari yang sederhana dalam waktu yang singkat dan biaya yang murah sampai yang memerlukan infestasi tinggi dll.

Perubahan produk

Meliputi substitusi produk, konservasi produk, dan perubahan komposisi produk

Onsite reuse

Merupakan upaya penggunaan kembali bahan-bahan yang terkandung dalam limbah, baik untuk digunakan kembali pada proses awal atau sebagai material input dalam proses yang lalu.

Teknologi bersih untuk mengurangi limbah dengan cara :

Perubahan bahan baku dengan nilai produksi tinggi dan menghasilkan limbah lebih rendah

Memperbaiki teknologi produksi yang lebih efisien (proses, alat, tata letak, otomatisasi peralatan, kondisi proses)

Perubahan produk yang sedikit menghasilkan limbah

Daur ulang limbah

Berikut beberapa kiat praktis dalam menerapkan Proses Produksi bersih di suatu Industri Kecil dan Menengah seperti:

Kurangi pemakaian kemasan

Pilih bahan yg dapat dipakai kembali (botol gallon aqua)

PRODUKSI BERSIH

54

Rawat dan reparasi perawatan

Pakai kembali tas, kemasan,dll, yang telah digunakan

Pinjam/sewa alat yang jarang digunakan

Jual/sumbangkan barang yang habis pakai, tetapi masih bermanfaat

Pilih barang yang kemasannya dapat dipakai kembali

Pilih produk dengan kemasan daur ulang

Jadikan sampah sebagai kompos

Sosialisasikan konsep pakai (use), pakai kembali (reuse) dan daur ulang (recycle)

Kreatif menggunakan kembali barang bekas

Jika penerapan langkah perbaikan dan metode- metode produksi bersih diatas dilakukan maka akan dapat diperoleh keuntungan yang besar jika dihitung dalam 1 tahun. Seperti langkah perbaikan yang diatas dengan pengurangan ceceran pasda saat proses perendaman, penggilingan dan peniadaan siwilan 3 cepon saja dalam satu tahun diperoleh keuntungan sebesar Rp. 14.198.392,86 dari biaya NPO yang seharusnya terbuang percuma. Apalagi untuk menerapkan produksi bersih pada penggunaan air dan bahan bakar pada proses produksi maka akan lebih meningkatkan keuntungan dalam setahunnya.

Keuntungan dalam menerapkan produksi bersih seperti yang sudah dijelaskan pada prema diatas selain keuntungan nilai ekonomi sebesar Rp. 14.198.392,86

Yang diperoleh ,maka akan diperoleh pula manfaat lingkungan dan organisasi didalam proses produksi seperti untuk kelingkungan kita dapa mengurangi terbentuknya limbah , contoh 1. ceceran kita mengurangi limbah padat yang dapat menyebabkan timbulan bau dan merusak estetika kebersihan. Contoh 2. Jika

PRODUKSI BERSIH

55

kita mengurangi pemborosan penggunaan air ketika proses produksi maka kita sudah mengurangi pembentukan limbah cair yang dibuang kelingkungan.

Untuk system organisasinya kita bisa mendapatkan keuntungan lebih kearah manajemen dalam roses produksi yang nantinya akan meningkatkan produktivitas kerja dan hasil produksi.

PRODUKSI BERSIH

56

A. Diagram Alir Setelah penerapan Produksi Bersih pada Tabel Perbaikan
A. Diagram Alir Setelah penerapan Produksi Bersih pada Tabel Perbaikan

PRODUKSI BERSIH

57

PRODUKSI BERSIH 57

PRODUKSI BERSIH

58

PRODUKSI BERSIH 58

PRODUKSI BERSIH

59

B. Perhitungan Produk dan Non Product Output (NPO) PT. Tahu Cibuluh Tahun 2012 Setelah Penerapan Produksi Bersih

59 B. Perhitungan Produk dan Non Product Output (NPO) PT. Tahu Cibuluh Tahun 2012 Setelah Penerapan

PRODUKSI BERSIH

60

PRODUKSI BERSIH 60

PRODUKSI BERSIH

61

PRODUKSI BERSIH 61

PRODUKSI BERSIH

62

PRODUKSI BERSIH 62

PRODUKSI BERSIH

63

PRODUKSI BERSIH 63

PRODUKSI BERSIH

64

PRODUKSI BERSIH 64

PRODUKSI BERSIH

65

5.1 Kesimpulan

BAB V

PENUTUP

Pada observasi yang telah kami lakukan pada industri PT. Tahu Cibuluh ini terdapat banyak sekali kekurangan-kekurangan seperti kondisi-kondisi yang seharusnya tidak terjadi malah banyak terjadi kemudian hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan malah sering dilakukan. Oleh karena itu, dalam merubah kondisi yang ada maka diperlukan untuk menerapkan prinsip-prinsip, serta manajemen- manajemen dalam produksi bersih agar tercipta efesiensi kerja sehingga produksi semakin meningkat, lingkungan kerja menjadi nyaman, pekerja menjadi sehat serta timbul kesejahteraan baik bagi pekerja maupun bagi semua yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam kegiatan Industri tersebut .

6.2 Saran

Adapun beberapa saran yang ingin kami coba berikan untuk PT. Tahu Cibuluh ini antara lain :

Diharapkan terutama kepada pemilik PT. Tahu Cibuluh agar segera mengaplikasikan prinsip-prinsip serta manajemen-manejemen dalam penerapan Produksi Bersih yang telah dibahas dalam makalah ini dan mengarahkan para pekerjanya.

Untuk para pekerja diharapkan bisa memiliki kesadaran akan pentingnya kesehatan dalam bekerja.

PRODUKSI BERSIH

66

DAFTAR PUSTAKA

http://industri16heriyanto.blog.mercubuana.ac.id/2011/02/15/produksi-bersih-

cleaner-production/