Anda di halaman 1dari 6

STRATEGI KOPING DAN INTENSITAS NYERI PASIEN POST OPERASI DI RUANG RINDU B2A RSUP H.

ADAM MALIK MEDAN


Nurhafizah* Erniyati** *Mahasiswa Fakultas Keperawatan USU **Dosen Departemen Keperawatan Maternitas dan Anak
Fakultas Keperawatan, Universitas Sumatera Utara Phone/Fax: 087868745803 Email: fiz_cuta@yahoo.com

Abstrak
Nyeri merupakan keluhan yang paling sering diungkapkan pasien dengan tindakan pembedahan atau operasi. Jika nyeri tidak dikontrol dapat menyebabkan proses rehabilitasi pasien tertunda dan hospitalisasi menjadi lama. Ketika pasien merasakan nyeri, perawat bertanggungjawab untuk melakukan manajemen nyeri yang tepat. Manajemen nyeri yang tepat mencakup penanganan secara farmakologis dan nonfarmakologis. Salah satu pendekatan nonfarmakologis adalah dengan mengoptimalkan penggunaan koping yang dimiliki pasien. Penelitian deskriptif korelasi ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan strategi koping dengan intensitas nyeri pada pasien post operasi. Populasi penelitian adalah semua pasien post operasi abdomen yang sedang menjalani rawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan pada periode 31 Maret sampai 02 Juni 2012. Purposive Sampling digunakan dan didapat 54 pasien pasca bedah abdomen. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dipandu kuisioner strategi koping dan skala intensitas nyeri Bourbanis. Uji Chi-Square membuktikan adanya hubungan yang signifikan antara strategi koping dengan intensitas nyeri pasien post operasi dengan nilai signifikansi (p) = 0,018 (<0,05). Saran untuk praktik keperawatan adalah perlu adanya intervensi keperawatan khusus untuk mengoptimalkan penggunaan strategi koping pasien sehingga intensitas nyeri yang dirasakan pasien dapat berkurang.

Kata kunci : Strategi koping, intensitas nyeri, pasien post operasi PENDAHULUAN Nyeri adalah suatu fenomena yang sering dijumpai oleh petugas kesehatan terutama perawat (Harahap, 2011). International Association for the Study of Pain, IASP (2011) mendefinisikan nyeri sebagai suatu pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial atau yang dirasakan dalam kejadian-kejadian dimana terjadi kerusakan. Menurut Mustawan (2008) nyeri merupakan keluhan yang paling sering diungkapkan pasien dengan tindakan pembedahan atau operasi. Nyeri pasca operasi dikelompokkan sebagai nyeri akut yang memiliki awitan yang cepat atau mendadak dan berlangsung dalam waktu yang singkat. Dijelaskan dalam Smeltzer & Bare (2002) bahwa nyeri pasca operasi muncul disebabkan oleh rangsangan mekanik luka yang menyebabkan tubuh menghasilkan mediator-mediator kimia nyeri. Intesitas bervariasi mulai dari nyeri ringan sampai nyeri berat namun menurun sejalan dengan proses penyembuhan (Potter & Perry, 2006). Jika nyeri akut tidak dikontrol dapat menyebabkan proses rehabilitasi pasien tertunda dan hospitalisasi menjadi lama. Hal ini karena pasien memfokuskan semua perhatiannya pada nyeri yang dirasakan (Smeltzer & Bare, 2002). Ketika pasien merasakan nyeri, pasien tidak dapat menikmati kehidupan dengan nyaman. Pada kondisi 43

ini, perawat sebagai tenaga profesional yang paling banyak berinteraksi dengan pasien bertanggungjawab melakukan manajemen nyeri yang tepat. Oleh karena nyeri melibatkan pengalaman emosional, maka manajemen nyeri yang tepat harus mencakup penanganan secara keseluruhan dengan menggunakan pendekatan farmakologis dan nonfarmakologis. Salah satu pendekatan nonfarmakologis adalah dengan mengoptimalkan penggunaan koping yang dimiliki pasien (Mustawan, 2008; Kemp, 2010). Menurut Rasmun (2004) koping adalah respon individu terhadap situasi yang mengancam dirinya baik fisik maupun psikologik. Setiap individu, dalam menghadapi masalah yang sama, termasuk masalah nyeri, akan berbedabeda dalam menggunakan kopingnya (Safaria & Saputra, 2009). Dengan kata lain, strategi yang digunakan tidak sama. Menurut Kemp (2009) berhasil atau tidaknya strategi koping yang digunakan pasien dapat mempengaruhi intensitas nyeri yang dirasakannya. Sebagaimana telah disebutkan di paragraf sebelumnya bahwa koping merupakan salah satu pendekatan nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk mengatasi nyeri. Bahkan menurut Mustawan (2008) koping dapat dijadikan salah satu pedoman untuk mengontrol nyeri. Akan tetapi permasalahannya adalah bahwa strategi koping yang digunakan setiap individu tidak sama. Oleh karena itu perawat perlu mengenali pola strategi koping yag digunakan pasien yang mengalami nyeri post operasi. Menurut Lazarus & Folkman (1984) ada dua pendekatan strategi koping yang dapat digunakan, yaitu strategi koping berfokus pada emosi dan strategi koping berfokus pada masalah. Penelusuran pustaka yang dilakukan peneliti, sejauh ini belum ada penelitian di Fakultas Keperawatan USU yang menunjukkan strategi koping yang digunakan pasien dengan intensitas nyeri yang dialaminya pasca pembedahan dan menghubungkan dari keduanya. Di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan dalam 2 tahun terakhir ada 3547 kasus bedah. Oleh karena itu,

dilakukan penelitian, ditujukan untuk mengidentifikasi hubungan strategi koping dengan intensitas nyeri pada pasien post operasi di Ruang Rindu B2 Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan. METODE Desain penelitian yang digunakan deskritif korelasi. Populasinya adalah semua pasien post operasi abdomen yang sedang menjalani rawat inap di Ruang Rindu B2A RSUP H.Adam Malik Medan pada tanggal 31 Maret sampai 02 Juni 2012. Pengambilan teknik Purposive sampling dihasilkan dari 86 pasien post operasi abdomen sebanyak 54 pasien yang sesuai dengan kriteria dan menjadi responden. Pengumpulan data dengan teknik wawancara dipandu kuisioner strategi koping dan skala intensitas nyeri Bourbanis dan selanjutnya dianalisa menggunakan uji Chi-Square. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Karakteristik demografi, strategi koping, intensitas nyeri, hubungan strategi koping dan intensitas nyeri, serta faktorfaktor yang mempengaruhi strategi koping dan intensitas nyeri pasien pasca bedah abdomen digambarkan sebagai berikut. 1. Karakteristik Demografi Lebih dari setengah pasien pasca bedah abdomen berada pada rentang usia 41-60 tahun yaitu 55,6%. Sisanya berada pada rentang usia 18-40 tahun. Lebih dari setengah pasien pasca bedah abdomen berjenis kelamin laki-laki yaitu 53,7%. Sisanya berjenis kelamin perempuan. Mayoritas pasien pasa bedah abdomen beragama Islam yaitu 85,2%. Pasien pasca bedah abdomen didominasi oleh suku Batak yaitu 33,3%. Suku Melayu/Minang 24,1%. Suku Jawa 16,7%. Sisanya adalah Suku Aceh, Nias, dan Banjar. Pendidikan terakhir pasien pasca bedah abdomen bervariasi mulai SD sampai Perguruan Tinggi. Sedangkan pekerjaan pasien pasca bedah abdomen dikelompokkan sebagai 44

wiraswasta, petani/nelayan, pegawai (karyawan/PNS), tidak bekerja dan ibu rumah tangga. Adapun penyakit yang diderita pasien pasca bedah abdomen didominasi oleh Ca Colon/ Ca Rectum/ Polip Kolorektal/ Obstruksi Usus Halus yaitu 31,5%. Appendicitis 22,2%. Hernia 18,5%. Dan sisanya obstruksi usus halus, perforasi-peritonitis, dan trauma tembus abdomen. 2. Strategi Koping Pasien

Fokus Emosi Fokus Masalah

3 9

13 18

9 2

0,018*

*p<0,05 Hasil uji Chi-Square menunjukkan p<5. Dengan demikian Ho ditolak. Dari hasil penelitian ini dapat dibuktikan adanya hubungan yang signifikan antara strategi koping dengan intensitas nyeri pada pasien post operasi abdomen di Ruang Rindu B2A RSUP H. Adam Malik Medan. 5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Strategi Koping dan Intensitas Nyeri Pasien. Uji Chi-Square juga dilakukan untuk mengetahui hubungan karakteristik demografi pasien sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi strategi koping dengan intensitas nyeri pasien pasca bedah abdomen.
Tabel 4. Hubungan Karakteristik Demografi Dengan Strategi Koping dan Intesitas Nyeri Pasien Pasca Bedah Abdomen Faktor-faktor p value
yang mempengaruhi strategi koping dan intensitas nyeri pasien Strategi Koping Intensitas Nyeri

Tabel 1. Distribusi Frekuensi dan Proporsi Strategi Koping Pasien Pasca Bedah Abdomen Strategi Koping F % 1 Fokus Emosi 25 46,3 2 Fokus Masalah 29 53,7 Jumlah 54 100

Lebih dari setengah responden menggunakan strategi koping berfokus pada masalah yaitu 53,7%. 3. Intensitas Nyeri Pasien

Tabel 2. Distribusi Frekuensi dan Proporsi Intensitas Nyeri Pasien Pasca Bedah Abdomen Skala Intensitas Nyeri f % 13 Nyeri Ringan 12 22,2 46 Nyeri Sedang 31 57,4 79 Nyeri Berat 11 20,4 Jumlah 54 100

Umur Jenis Kelamin Suku Pengalaman sebelumnya

nyeri

0,113 0,000 0,151 0,008

0,288 0,167 0,163 0,046

Lebih dari setengah pasien pasca bedah abdomen merasakan intensitas nyeri sedang. Hampir seperempat pasien merasakan intensitas nyeri ringan dan sisanya intensitas nyeri berat. Tidak ada pasien pasca bedah abdomen yang merasa tidak nyeri atau nyeri sangat berat. 4. Hubungan Strategi Koping dengan Intensitas Nyeri Pasien Untuk mengetahui ada atau tidak hubungan strategi koping dengan intensitas nyeri pasien digunakan uji ChiSquare. Hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 3. Hubungan Strategi Koping Dengan Intesitas Nyeri Pasien Pasca Bedah Abdomen
Strategi Koping
Intensitas Nyeri Ringan Sedang Berat

Pembahasan 1. Karakteristik Demografi Berdasarkan usia responden, sebagian besar responden berada pada masa dewasa madya. Hal ini menunjukkan bahwa pada masa dewasa madya, angka kejadian penderita penyakit abdomen banyak terjadi. Hal ini sesuai dengan teori yang dijelaskan Potter & Perry (2006) bahwa pada dewasa madya terjadi penurunan fisiologis sehingga mereka cenderung berhubungan dengan penyakit dan operasi. 2. Strategi Koping Pasien Hasil penelitian menunjukkan lebih dari setengah responden (53,7%) menggunakan strategi koping berfokus pada masalah. Hasil penelitian ini sesuai 45

dengan Lazarus & Folkman (1984) dalam Safaria & Saputra (2009) yang menyatakan bahwa seseorang yang sakit dan memilih menjalani pengobatan, secara tidak langsung telah menggunakan strategi koping berfokus pada masalah. Chong (1999) dalan Aritonang (2010) menjelaskan bahwa pasien nyeri dengan usia yang lebih muda memiliki koping yang lebih berfokus pada emosi dibandingkan dengan pasien dengan usia yang lebih tua. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian ini. Hanya saja responden penelitian ini sebagian besar berusia dewasa madya sehingga sebagian besar pasien menggunakan strategi koping berfokus pada masalah. Hasil penelitian ini menemukan adanya pengaruh jenis kelamin terhadap strategi koping yang digunakan, dimana mayoritas laki-laki menggunakan strategi koping berfokus pada masalah (75,9%) sedangkan mayoritas perempuan menggunakan strategi koping berfokus pada emosi (72,0%). Tidak dijumpai penelitian sebelumnya yang membahas tentang adanya pengaruh jenis kelamin terhadap strategi koping yang digunakan. 3. Intensitas Nyeri Pasien Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pasien pasca bedah abdomen merasakan intensitas nyeri sedang (57,4%), diikuti dengan intensitas nyeri ringan (22,2%), dan sisanya pasien dengan intensitas nyeri berat (20,4%). Hasil penelitian ini sesuai dengan Meinhart dan McCaffery, 1983; NIH, 1986 dalam Potter & Perry, 2006 yang menyatakan bahwa nyeri akibat pembedahan dan trauma diklasifikasikan sebagai nyeri akut yang intensitasnya bervariasi mulai dari yang ringan sampai dengan berat. Hasil penelitian ini tidak ada pasien pasca bedah abdomen yang menunjukkan intensitas tidak nyeri. Hasil ini sesuai dengan Smeltzer & Bare (2002) yang menyatakan bahwa setelah menjalani tindakan operasi, pasien merasakan rangsangan nyeri pasca operasi karena disebabkan oleh rangsangan mekanik luka yang menyebabkan tubuh menghasilkan

mediator-mediator kimia nyeri. Selain itu, penelitian ini juga menghasilkan bahwa tidak ada pasien pasca bedah abdomen yang menunjukkan intensitas nyeri sangat berat pada 48 jam pertama. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Pasaribu (2011) bahwa intensitas nyeri terbanyak yang ditunjukkan pasien post operasi pada hari ke-2 rawatan pasca bedah adalah intensitas nyeri sangat berat. Perbedaan hasil penelitian ini dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Pasaribu (2011) dapat disebabkan oleh perbedaan pada objek penelitian. Penelitian ini dilakukan terhadap pasien pasca bedah abdomen, sedangkan penelitian Pasaribu dilakukan terhadap pasien pasca bedah ORIF. Berdasarkan jenis kelamin, tidak terdapat perbedaan yang berarti antara intensitas nyeri yang dirasakan responden laki-laki dan responden perempuan. Hal ini sesuai dengan pendapat Gill (1990 dalam Potter & Perry, 2006) yang mengungkapkan bahwa laki-laki dan perempuan tidak memiliki perbedaan secara signifikan dalam merespon nyeri. Berdasarkan suku, mayoritas responden adalah suku Batak (33,3%). Dari 11 responden yang merasakan intensitas nyeri berat, 8 diantaranya adalah responden dengan suku Batak. Hasil penelitian ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan Jihan (2009) bahwa suku Batak merupakan suku yang apresiatif dalam mengungkapkan nyeri yang dirasakannya. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengalaman nyeri dengan intensitas nyeri yang dirasakan pasien pasca bedah adomen. Dari 21 pasien pasca bedah abdomen yang mempunyai pengalaman nyeri dimasa lalu hanya 1 pasien yang menunjukkan intensitas nyeri berat. Sedangkan dari 33 pasien pasca bedah abdomen yang tidak mempunyai pengalaman nyeri dimasa lalu, 10 responden menunjukkan intensitas nyeri berat. Hasil ini sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Potter & Perry (2006) bahwa jika individu pernah mengalami 46

nyeri maka dimasa akan datang individu akan mampu untuk mentoleransi nyeri dengan lebih baik. 4. Hubungan Strategi Koping dengan Intensitas Nyeri Pasien Analisa data yang digunakan adalah Chi-Square Test. Hasilnya, terdapat hubungan yang signifikan antara strategi koping dengan intensitas nyeri pasien pasca bedah abdomen dengan nilai signifikansi (p) = 0,018 (<0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien pasca bedah abdomen yang merasakan sensasi nyeri dengan intensitas berat menggunakan strategi koping berfokus pada emosi. Sedangkan mayoritas pasien yang merasakan sensasi nyeri dengan intensitas ringan menggunakan strategi koping berfokus pada masalah. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara strategi koping dengan intensitas nyeri pasien post operasi abdomen diruang Rindu B2A Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Mustawan (2008) yang juga menghasilkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara penggunaan mekanisme koping dengan intensitas nyeri. Hanya saja penelitian Mustawan dilakukan terhadap pasien post operasi fraktur femur dengan analisa data menggunakan uji korelasi rank Spearman. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien pasca bedah abdomen menggunakan strategi koping berfokus pada masalah. Hasil penelitian diperoleh bahwa lebih dari setengah pasien pasca bedah abdomen merasakan intensitas nyeri sedang, dan selebihnya pasien merasakan intensitas nyeri ringan dan intensitas nyeri berat. Sehingga didapat bahwa tidak ada pasien pasca bedah abdomen yang menunjukkan intensitas tidak nyeri dan intensitas nyeri sangat berat. Hasil penelitian diperoleh bahwa mayoritas pasien pasca bedah abdomen yang merasakan sensasi nyeri

dengan intensitas berat menggunakan strategi koping berfokus pada emosi. Sedangkan mayoritas pasien yang merasakan sensasi nyeri dengan intensitas ringan menggunakan strategi koping berfokus pada masalah. Hasil uji ChiSquare menunjukkan nilai signifikansi (p)=0,018 yang menegaskan bahwa Ho ditolak. Hal ini menjelaskan bahwa terdapat hubungan strategi koping dengan intensitas nyeri pasien post operasi di ruang Rindu B2A RSUP H. Adam Malik Medan. Saran Saran untuk praktik keperawatan bahwa perlu adanya intervensi keperawatan khusus untuk mengoptimalkan penggunaan strategi koping pasien dalam mengatasi nyeri pasca operasi. Disarankan peneliti selanjutnya melakukan penelitian yang membandingkan pendekatan nonfarmakologis khususnya penggunaan strategi koping pasien untuk mengatasi intensitas nyeri yang dirasakan pasien. Penelitian sejenis juga perlu dilakukan terhadap pasien jenis pembedahan yang berbeda atau pasien dengan jenis penyakit lain yang juga memunculkan sensasi nyeri. Dengan adanya penelitian tersebut, secara otomatis dapat menambah referensi tentang pengelolaan manajemen nyeri yang tepat. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Aritonang, H. H. (2011). Hubungan Keyakinan Diri (Self Efficacy) dengan Perilaku Nyeri Pada Pasien Dengan Nyeri Kronis di RSUP H. Adam Malik Medan. Skripsi. Medan: Fakultas Keperawatan USU Dahlan, M. S. (2000). Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan (Edisi 3). Jakarta: Salemba Medika. Harahap. I. A. (2011). Perilaku Nyeri, Fenomena Harian Yang Dihadapi Perawat, What We Can Do?. Dalam Evidance Based Da;am Praktik Pelayanan Keperawatan. 47

Prosiding. Medan: Fakultas Keperawatan USU. Hastono, S. P. (2007). Analisis Data Kesehatan. Depok: Universitas Indonesia. Jihan. (2009). Terapi Perilaku Kognitif (Cognitive Behaviour Therapy) Relaksasi dan Distraksi Pada Pasien Kanker dengan Nyeri Kronis di RSUP H. Adam Malik Medan. Skripsi. Medan: Fakultas Keperawatan USU. Kemp. Charles. (2010). Klien Sakit Terminal: Seri Asuhan Keperawatan (Edisi 2). Jakarta: EGC. Mustawan, Zulaik. (2008). Hubungan Penggunaan Mekanisme Koping Dengan Intensitas Nyeri Pada Pasien Post Operasi Fraktur Femur di Unit Orthopedi RSU Islam Kustati Surakarta. Skripsi. Surakarta: Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pasaribu, I. S. (2011). Intensitas Nyeri dan Perilaku Nyeri pada Pasien Pasca Bedah ORIF di RSUP H. Adam Malik Medan. Skripsi. Medan: Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Potter, P. A., & Perry, A. G. (2006). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan Praktik (Edisi 4 Volume 2). Jakarta: EGC. Rasmun. (2004). Stres, Koping dan Adaptasi: Teori dan Pohon Masalah Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: Sagung Seto. Safaria, T., & Saputra, N. E. (2009). Manajemen Emosi: Sebuah Panduan Cerdas Bagaimana Mengelola Emosi Positif dalam Hidup Anda. Jakarta: Bumi Aksara. Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth (Edisi 8 Volume 1). Jakarta: EGC.

48