Anda di halaman 1dari 1

Menjaga Lisan

Di antara nikmat agung yang diberikan oleh Allah kepada kita adalah nikmat lisan. Namun jika lisan ini tidak dimanfaatkan dalam ketaatan kepada Allah maka dia akan menjadi bumerang bagi pemilikinya. Sesungguhnya lidah atau lisan manusia lebih tajam daripada pedang. Dengan lisannya, manusia bisa menggerakkan manusia lain untuk melakukan sesuatu, jauh lebih banyak daripada yang bisa ia perbuat dengan sebilah pedang. Lidahlah, bukan sebilah pedang, yang mampu menyebarkan fitnah, sehingga menimbulkan kerusakan yang luas, besar dan parah. "Dan (ingatlah) angkara fitnah itu lebih besar (dosanya) daripada pembunuhan (semasa perang dalam bulan yang dihormati)."firman Allah dalam QS Al-Baqarah : 217. Karena itu, hendaknya manusia menjaga setiap gerak lidah atau lisannya, hanya untuk hal-hal yang mengundang ridla Allah. Bila sendiri, lisan hendaknya digunakan untuk berdzikir, sebab dengan berdzikirlah hati akan senantiasa tenang. Bila bersama orang lain, lisan hendaknya digunakan untuk berkata-kata baik, agar lisan senantiasa membawa manfaat bagi diri dan bagi sesama manusia. Untuk memelihara lisan ini hendaknya direnungkan pula pesan Nabi SAW, bahwa siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah dia berkata dengan perkataan yang baik atau diam. (H.R. Bukhari) Adapun Allah sendiri dalam QS Al-Mukminun : 1-3, telah menjamin setiap manusia yang memelihara lisannya sebagai mereka yang beruntung. "Sesungguhnya berjayalah orang yang beriman yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya dan mereka yang menjauhkan diri dari perbuatan serta perkataan sia-sia. Kemudian dalam QS Qaf : 18, yaitu : "Tidak ada sebarang perkataan yang diucapkannya (atau perbuatan yang dilakukan oleh manusia), melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang senantiasa mengawasinya (mendengar, melihat dan mencatat perbuatan insan)." Oleh karenanya, marilah kita semua baik ketika sendiri maupun di saat berinteraksi dengan sesama manusia senantiasa mengingat pula kedua firman Allah tersebut.