Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN

DAS adalah suatu daerah tertentu yang bentuk dan sifat alamnya sedemikian rupa sehingga merupakan kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya yang melalui daerah tersebut dalam fungsinya untuk menampung air yang berasal dari curah hujan dan sumber air lainnya dan kemudian mengalirkannya melalui sungai utamanya. Sungai Citarum adalah sungai terpanjang dan terbesar di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Sungai Citarum dengan panjang 269 km bersumber dari mata air Gunung Wayang (di sebelah selatan kota Bandung), mengalir ke utara melalui bagian tengah wilayah propinsi Jawa Barat dan bermuara di Laut Jawa. Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum seluas 12.000 km meliputi 12 wilayah yaitu: Kab.Bandung, Kab.Bandung Barat,

administrasi

kabupaten/kota

Kab.Bekasi, Kab.Cianjur, Kab.Indramayu, Kab.Karawang, Kab. Purwakarta, Kab .Subang, Kab. Sumedang, Kota Bandung, Kota Bekasi dan Kota Cimahi.

BAB II MAKSUD DAN TUJUAN

Adapun maksud dan tujuan pembuatan laporan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum yaitu: 1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. 2. Mengetahui Peran Das Citarum Dalam Pembangunan Dan Perekonomian Masyarakat. 3. Mengetahui Permasalahan yang terdapat pada DAS Citarum.

4. Mengetahui Bagaimana Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum dan kebijakan serta rencana pengelolaan DAS Citarum.

BAB III PEMBAHASAN

1.1 Pengertian Pengelolaan DAS Pengelolaan DAS adalah upaya dalam mengelola hubungan timbal balik antar sumberdaya alam terutama vegetasi, tanah dan air dengan sumberdaya manusia di DAS dan segala aktivitasnya untuk mendapatkan manfaat ekonomi dan jasa lingkungan bagi kepentingan pembangunan dan kelestarian ekosistem DAS. Pengelolaan DAS pada prinsipnya adalah pengaturan tata guna lahan atau optimalisasi penggunaan lahan untuk berbagai kepentingan secara rasional serta praktek lainnya yang ramah lingkungan sehingga dapat dinilai dengan indikator kunci (ultimate indicator) kuantitas, kualitas dan kontinuitas aliran sungai pada titik pengeluaran (outlet) DAS. Jadi salah satu karakteristik suatu DAS adalah adanya keterkaitan biofisik antara daerah hulu dengan daerah hilir melalui daur hidrologi.

1.2 Peran

Das

Citarum

Dalam

Pembangunan

Dan

Perekonomian

Masyarakat A. Kondisi DAS Citarum Sungai Citarum merupakan sungai utama dan salah satu sungai terbesar di Pulau Jawa dengan panjang 300 km, dan luas DAS 6.080 km2. Sungai Citarum berhulu di Gunung Wayang yang terletak di Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung pada ketinggian 2182 m di atas permukaan laut dan bermuara di Laut Jawa. Sungai Citarum melintasi 7 Kabupaten dan 2 Kota yaitu Kabupaten Bandung, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bogor, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Karawang, dan Kabupaten Bekasi serta

kota Bandung dan Kota Camahi. Anak-anak sungai Citarum berjumlah 36 anak sungai dengan panjang 873 Km). B. Penggunaan Lahan pada DAS Citarum Berdasarkan Penggunaan lahan di DAS Citarum terdiri dari pertanian seluas170.832 Ha (27,5%), perkebunan 59.657 Ha(9,6%), pemukiman 76.777 Ha (12,3%), Hutan88.271 Ha (14,2%), Perikanan/kolam/tambak35.892 Ha (5,8%), serta lain- lain berupa tanah kosong, padang rumput dan rawa 190.418 Ha (30,6%). C. Peruntukan Sungai Citarum Berdasarkan Surat Keputusan Gurbenur Propinsi Jawa Barat No. 39 Tahun 2001, Peruntukan Sungai Citarum dan anak- anak sungainya digolongkan dalam : Tabel-1. Luas Wilayah Yang Termasuk Dalam DPS Citarum
Luas Kab / No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kab / Kota Kab. Sumedang Kab. Bandung Kota. Cimahi Kota. Bandung Kab. Cianjur Kab. Bogor Kab. Bekasi Kab. Purwakarta Kab. Karawang JUMLAH PERSENTASE (%) Kota 18.922 305.047 4.270 16.729 350.249 333.120 148.437 97.190 1.807.100 3.081.064 100 Luas Kecamatan (Ha) Pada DPS Diluar DPS Citarum 10.796 254.718 4.270 0 16.729 0 128.839 44.326 18.450 74.200 53.450 605.778 81,94 CItarum 8.126 50.329

Total

18.922 305.047 4.270 16.729 143.739 55.663 34.300 81.072 78.748 739.290

14.900 11.337 15.850 7.672 25.298 133.512 18,06

Sumber : 250.000

Bappeda Kab. masing-masing dan peta sungai di Jawa Barat 1 :

Golongan B: yaitu peruntukan sebagai sumber air baku minum. Golongan C: yaitu peruntukan sebagai sumber air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan. Golongan D: yaitu peruntukan sebagai sumber pertanian, air untuk

usaha perkotaan, industri dan pembangkit listrik tenaga air.

D. Pemanfaatan Sungai Citarum a. Pertanian Usaha pertanian di DAS Citarum meliputi tanaman Pangan (pada dan palawija), holtikultura dana aneka tanaman (sayuran, buah-buahan, tanaman rempah, obat, dsb), perkebunan. Sektor pertanian merupakan pengguna air terbesar (89%) dari seluruh air yang dikeluarkan dari Waduk Jatiluhur disamping suplesi sumber air setempat. Potensi lahan sawah khususnya yang mendapat air dari waduk Jatiluhur seluas 253.000 Ha dan untuk tanaman palawija 30.000

Ha yang mengairi Pantai Utara Jawa Barat mulai dari karawang, Bekasi sampai dengan Pemanukan. (Tabel-2). Bendung Wangusagara yang berada di daerah Citarum Hulu digunakan untuk mengairi sawah di Majalaya, sedangkan

Cicalengka dan Rancaekek mendapat air dari anak-anak Sungai Citarum. b. Sumber air baku air minum Sungai Citarum digunakan sebagai air baku untuk air minum oleh

PDAM daerah bandung yaitu Sungai Cisangkuy, Purwakarta yaitu waduk Jatiluhur, Karawang dan Bekasi yaitu saluran Tarum Barat, Rengasdengklok yaitu saluran Tarum Utara, suplesi untuk air minum Jakarta dari saluran Tarum Barat dan suplesi pertamina Balongan Indramayu dari saluran Tarum Timur. (Tabel-3 dan-4).
Tabel-2. Pemanfaatan Air Sungai/Anak Sungai Citarum Untuk

Irigasi/Pertanian

No 1 2 3 4 5 6 7

Lokasi Kab. Sumedang Kota Bandung Kab. Bandung Kab. Cianjung Kab. Bogor Kab. Bekasi Kab. Purwakarta V V V V V Teknis V V

SISTEM IRIGASI Sederhana Pedesaan V V

Areal fungsi (Ha) 1.776 2.939 3.906 38.071 19.638 18.668 12.583 28.935 7.794 1.135 235.504 370.949

Debit (L/dt) 2.763 2.753 511 73.096 37.737 10.284 19.542 30.800 1.121 1.636 423.202 603.445

V V

V -

8 Kab. Karawang Jumlah

Tabel-3. Pemanfaatan Air oleh PDAM

Debit Penyadapan(L/dt) No 1 2 3 4 5 6 Lokasi Kab. Bandung Kab. Purwakarta Kab. Kerawang Kab. Cianjur Kab. Bogor DKI Jakarta JUMLAH Sungai 948,0 10,0 234,0 107,2 20,0 15.600 16.919,2 Mata Air 87 90 10 187 Waduk 13 280 293 Air tanah 49,5 49,5 Jumlah 1.048,0 380,0 244,0 156,7 20,0 15.600 17.448,7

Tabel-4. Pelayanan Air Baku Domestik, Sumber Air Dari DPS Citarum

NO 1 2 3

Kabupaten Kab. Bekasi Kab. Karawang

Jumlah Penduduk 1,28 1,61 0,62 4,35 1,79 3,44 16,44 2,48 0,87

Pelayanan Air Bersih (%) Saat ini Mendatang 23,00 100 23,10 52,10 2,40 11,58 13,50 230.58 90,00 14,90 100 80 20 40 90 560 100 30

Lokasi Penganmbilan Tarum Barat Tarum Barat Waduk S. Cipamingkis S. Cisokan S. Cisangkuy S. Cisangkuy S. Cikeruh

Kab.Purwakarta Kab. Bogor

4 5 6 7

Kab. Cianjur Kab. Bandung Jumlah Bandung Sumedang Kota Kab.

c. Sumber air baku untuk industri

Di DAS Citarum terdapat 524 industri, dari 542 induatri tersebut 396 (73%) industri tekstil yang menggunakan air terbanyak dalam proses industrinya. (Tabel-5) Industri lain adalah Kimia 26 (4,9%), Kertas 7 (1,3%), Kulit 7 (1,3%), Cat (1,1%), Logam/Elektro-plating 12 (2,3%), Farmasi 13 (2,4%), Makanan dan Minuman 21 (3,9%), Pupuk/Pertisida 1 (0,1%), minyak goreng 1 (0,1%), Karpet 3 (0,6%), Keramik 4 (0,7%), Karet 2 (0,3%) dan Kawasan Industri 33 (6,2%).
Tabel-5. Industri Pemakai Air Pada DPS Citarum

Kb Air / Hari NO 1 2 3 Lokasi Kab. Sumedang Kab. Bandung Kt. Bandung JI 9 232 147 3 (M ) 24.430,5 4.941,5 Sb 24.430,5 -

Sumber air Permukaan 4.941,5

Wdk -

4 5 6 7

Kab. Krawang & Purwakarta Kab. Cianjur Kab. Bogor Kab. Bekasi Jumlah

193 52 2 KI 635

9.318.854 30.552 23 17.280 9.396.051

30.522 23 54.975,5

952.400 17.280 974.621,5

8.366.454 8.366.454

d. Sumber air untuk perikanan Sungai Citarum bersama-sama anak- anak sungainya digunakan juga sebagai sumber air untuk keperluan perikanan. Cara yang digunakan dalam membudidayakan ikan tersebut yaitu Tambak, Kolam, Sawah, Keramba, Kolam Air Deras dan Jaring Apung. Kebutuhan air untuk budidaya perikanan diperikanan seperti tertera pada tabel-6 Jumlah pemanfaatan air untuk perikanan pada tambak, sawah dan kolam air deras adalah 103.192,77 l/dt. Sedangkan Jumlah total jaring terapung yang memanfaatkan air di waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur tercatat 39.899 unit. e. Pembangkit listrik Tenaga Air Tiga waduk di sepanjang Sungai Citarum yaitu Waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur yang mempunyai kapasitas berturut- turut 0,982 m3, 2,165 juta m3, 3 juta m3 dipergunakan untuk Pembangki Listrik Tenaga Air.

f. Badan penerima limbah cair Limbah penduduk dan perkotaan

Sungai Citarum melalui daerah padat penduduk dan perkotaan seperti ke Majakaya, Kota banyaknya Bandung, Kabupaten Purwakarta dan Karawang. Masih

penduduk

yang tidak mempunyai septic tank sehingga mereka

membuang limbahnya secara angsung atau tidak langsung ke Sungai Citarum dan anak-anak sungainya. Disamping limbah Rumah Sakit yang banyak di Kota Bandung.

Limbah Industri

Limbah industri pencemaran Sungai Citarum Hulu berada di daerah Malaya, Rancaekek, Cimahi, Banjaran, Cisirung dan Batu Jajar. Sedangkan Daerah

Purwakarta terkonsentrasi di Daerah Jatiluhur. Daerah Karawang terkonsentrasi di daerah Pnagkalan Sepanjang Tarum barat mencemari Citarum Bagian hilir. Limbah Pertanian

Limbah pertanian ini terutama di bagian hulu dimana terdapat sawah terasering yang sisa air pertaniannya masuk ke sungai, salah Majalaya. Sedangkan air sawah di pantai utara sehingga habis terpakai. Limbah Peternakan satu contoh di sawah daerah teknis

merupakan

Pada umumnya peternakan di daerah pengaliran Sungai Citarum merupakan peternakan rakyat yang dilepas sehingga limbahnya sulit diprediksi apakah masuk ke sungai atau ke tanah. Namun demikian pada bagian hulu Sungai Citarum yaitu Kecamatan Kertasari, kecamatan Pangalengan dan Kecamatan Lembang banyak terdapat sapi perah. Limbah pencemar berasal dari pencucian kandang yang dilakukan pada saat memerah sapi. Limbah Perikanan

Limbah perikanan terutama berasal dari sisa pakan ikan yang terdapat di Waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur. Perikanan jala terapung terkonsentrasi di Waduk Saguling di daerah Bongas, Waduk Citaru di Cikalong Wekan, Waduk Jatiluhur di Cilalawi. Sumber pencemaran berasal dari pakan ikan yang diberikan diperkirakan 20% dari pakan ikan yang diberikan mengendap ke bawah dan secara proses kimia dan biologi akan terjadi pembusukan. Pencemaran dari Lumpur

Terdapatnya daerah/hutan gundul di hulu sungai dan anak-anak Sungai Citarum dapat mengakibatkan pendangkalan di sungai/di waduk. Penambangan galian

pasir, dalam proses pencucian pasir air yang digunakan air sungai dan kembali ke sungai dengan kandungan zat padat terlarut yang melebihi baku atau limbah cair. 1.3 Permasalahan yang terdapat pada DAS Citarum Akan tetapi, DAS Citarum ini tidak lepas dari masalah. Fakta yang mengejutkan mengenai Daerah aliran Sungai Citarum atau DAS Citarum adalah DAS Citarum ini dinilai sebagai DAS terburuk di dunia. Tingkat kerusakan DAS Bengawan Solo juga tergolong rusak parah dan memiliki kandungan polutan tertinggi setelah DAS Citarum. Menurut Sekretaris Perhutani Unit III JabarBanten, John Novalri, di Bandung, Kamis (25/3/2010) bahwa berdasarkan

informasi melalui hasil penelitian sejumlah lembaga lingkungan hidup dunia, DAS Citarum dan Bengawan Solo itu rusak parah karena tingginya kandungan polutan. Sebagian dari warga yang tinggal di lahan seluas 6.614 km2 itu, menggantungkan hidupnya dari sungai tersebut. Bahkan tak tidak sedikit yang menjadi korban pencemaran limbah industri dan bencana banjir. Warga yang tinggal di DAS Citarum itu tak jarang pula menjadi korban dari munculnya berbagai persoalan Sungai Citarum. Seperti banjir yang terus terjadi setiap

memasuki musim hujan. Menurut Ketua Umum Perhimpunan Kelompok Kerja DAS Citarum, Deni Riswandani, S.Sos., warga yang tinggal di DAS Citarum sering dilanda kekeringan dan pencemaran lingkungan, sebagai dampak dari pembuangan limbah cair industri tekstil dan sampah ke aliran sungai. Lebih dari 15 juta penduduk yang tinggal di DAS Citarum, berdasarkan hasil pendataan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2009 sekitar 50 persennya penduduk urban. Apabila melihat jumlah penduduk yang cukup tinggi di DAS Citarum, semestinya para pengusaha industri jangan membuang limbah ke sungai yang menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat itu. Perda atau aturan yang dibuat pemerintah pun harus betul-betul ditegakkan, jangan sampai menjadi pajangan saja. Sampai dengan tahun 2007 kualitas air sungai Citarum menunjukan mutu D atau kondisi sangat buruk. Pencemaran air sungai disebabkan oleh banyaknya air

limbah yang masuk kedalam sungai yang berasal dari berbagai sumber pencemaran yaitu limbah industri, domestik, rumah sakit, pertanian, peternakan dan sebagainya. 40% limbah sungai Citarum merupakan limbah organik dan rumah tangga. Sisanya merupakan limbah kimia atau industri, pertanian dan peternakan. Saat ini di daerah sekitar hulu sungai terdapat sekitar 500 industri/pabrik berdiri. Hanya sekitar 20% saja yang mengelola limbah mereka baik sedangkan sisanya membuang langsung limbah mereka dengan tidak merasa bersalah ke anak sungai atau ke sungai Citarum langsung. Sampah yang dibuang ke sungai Citarum juga sudah tidak terkendali. Sampah dari rumah tangga maupun dari yang lainnya. Di sepanjang aliran sungai terdapat tumpukan-tumpukan sampah yang menghambat arus air. Bahkan di beberapa titik (seperti Citepus yang bermuara di Citarum) sampah terhampar di atas air sungai yang berwarna hitam dan berbau menyengat. Membuang sampah ke sungai masih menjadi kebiasaan masyarakat kita sehingga sungai menjadi seperti toko serba ada atau bahkan Selain menjadi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah.

masalah pencemaran air lewat sampah dan pembuangan limbah dari

industri maupun rumah tangga, masih ada masalah pelik yang dihadapi oleh Citarum yaitu sedimentasi dari lumpur yang dibawa air dari hulu yang berakibat pada pendangkalan sungai dan penyempitan badan sungai akibat dari pemanfaatan tanah sisi-sisi sungai oleh masyarakat sekitar sungai dengan cara illegal. Jika di isentifikasi bermuara pada beberapa permasalahan mendasar, yaitu: 1. Penggundulan hutan yang mengakibatkan debit dasar sungai di musim kemarau menjadi menurun. 2. Meningkatnya erosi dan sedimentasi disungai, sebagai akibat perubahan fungsi dan tata guna lahan. 3. Meningkatnya limbah yang masuk dari industri, sehingga kualitas air menurun dan pemanfaatan air menjadi terganggu. 4. Pemantauan dan evaluasi tidak memberikan gambaran final pencapaian sasaran program pengelolaan, karena pemantauan dan evaluasi yang dilakukan masih terbatas dan masing- masing intasnsi.

5. Rendahnya kesadaran dan peran masyarakat dalam memlihara sumber daya alam, menyebabkan konservasi air dan tanah tidak berhasil dilakukan dengan baik. 6. Keterbatasan dana untuk pelaksanaan kegiatan pendayagunaan suber daya air dan pemeliharaan kelestarian dan.

1.4 Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum dan kebijakan serta rencana pengelolaan DAS Citarum

1. Pengeloaan DAS Citarum Dalam upaya pelestarian sumber daya alam, program pembangunan kehutanan di bidang rehabilitasi lahan dan perhutanan sosial yang telah dilaksanakan sampai saat ini adalah (1) program Pengembangan dan Pengelolaan Hutan dan Lahan ; (2) Program Pengembangan dan Peningkatan Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup; (3) Program Peningkatan Efektifitas Pengelolaan, Konservasi dan Rehabilitasi Sumber Daya Alam, dan (4) Program Peningkatan Peranan Masyarakat Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Lingkungan Hidup. 2. Pendekatan Pengelolaan Das Citarum Pra Dan Era Otonomi Daerah Dalam Pra Otonomi Daerah masing- masing instansi yang mempunyai kepentingan terhadap pemanfaatan Citarum dan yang mempunyai kewenangan terhadap pengelolaan DAS Citarum melakukan kegiatannya sendiri-sendiri. Kurangnya informasi, komunikasi dan koordinasi antara instansi terkait dalam perencanaan maupun pelaksanaan Program DAS Citarum mengakibatkan biaya besar dengan hasil yang kurang optimal. Kurang efektifnya peraturan- peraturan yang berkaitan dengan pengendalian pencemaran air sebagai contoh Perda No. 20 tahun 1995 mengenai izin pembuangan limbah cair3) tercatat dari kurang lebih 500 industri di

DAS Citarum hanya 20 % nya saja yang sudah mempunyai izin pembuangan

limbah cair, sedangkan di seluruh Jawa Barat hanya kurang lebih 2 % yang mempunyai izin pembuangan limbah cair. Industri dapat membuang limbah cairnya dengan tidak merasa terikat akan sangsi hukum yang berlaku. Dengan adanya otonomi daerah, kewenangan hak dan kewajiban sudah terbagi-bagi. Untuk suatu propinsi kewenangan lintas batas sungai menjadi tanggung jawab dalam pengelolaannya, tetapi perlu diingat bahwa sungai utama merupakan sungai yang menampung kegiatan anak-anak sungainya yang berada di kabupaten maupun kota di dalam DAS tersebut. Dalam hal ini pemerintah propinsi tidak dapat berdiri sendiri di dalam menentukan kebijaksanaan tetapi koordinasi dengan pemerintah Kabupaten dan Kota harus dilaksanakan. Peraraturan No 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pencemaran Air4) propinsi dalam : 1). Penetapan Baku Mutu Air Limbah 2). Penetapan Baku Mutu Air. Untuk sungai-sungai lintas batas kabupaten/ kota. Ini berarti kabupaten/kota dalam menentukan kebijakan Baku Mutu Air dan Baku mutu Air Limbah harus mengacu kepada Ketetapan Propinsi untuk anak-anak sungai yang sungai utamanya lintas batas kabupaten/kota. Untuk izin pembuangan limbah cair ke air atau sumber air menjadi kewenangan Bupati/Walikota. Ini bukan berarti kabupaten dan kota dapat memberikan izin tanpa mengacu peraturan-peraturan yang ada di Propinsi yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan kualitas air sungai utamanya. Pemerintah Propinzi akan mengatur/membatasi jumlah beban pencemaran yang boleh dibuang Pemerintah Kabupaten/Kota tertentu. Untuk itu izin pembungan limbah cair harus diatur sedemikian rupa sehingga beban pencemarannya tidak melewati beban pencemaran yang sudah ditentukan oleh Pemerintah Propinsi. Dalam hal ini akan diberlakukan insentif dan disinsentif untuk kabupaten/kota yang berada di hulunya. dan Pemerintah Pengendalian

telah pula kewenangan untuk pemerintah, pemeritah

kabupaten/kota. Pemerintah propinsi mempunyai kewenangan

Pelaksanaan PP NO. 82 tahun 2001) sudah mulai walaupun masih terbatas kegiatannya. Salah satu contoh adalah terintegrasinya perencanaan pemantauan sungai lintas batas propinsi yaitu Sunagi Ciliwung. Untuk sungai Citarum baru akan dibicarakan rencana pemantauan terpadu dengan DKI mengingat sebagian air sungai Citarum melalui Tarum Barat yang dimanfaatkan oleh Jakarta sebagai sumber baku air minum. 3. Pengelolaan Sumber Daya Lingkungan Perairan Pengaturan terhadap pembangunan di pinggir sungai dari sumber air, Perda No. 12 tahun 1997 merupakan salah satu pengelolaan sumber daya lingkungan perairan yang sudah ditetapkan di Jawa Barat5). Perda No. 12 tahun 1997 bermaksud melaksanakan kegiatan perlindungan, pengembangan,

penggunaan dan pengendalian sumber daya air melalui penataan lingkungan sepanjang sungai, dari sekitar sumber air secara tertib, teratur, bersih, indah dan serasi. a) Penataan Sempadan Sungai dan Sumber Air Bebas dari :

a. bangunan permanen dan semi permanen. b. pemukiman liar. c. pembuangan sampah dan limbah padat. Pemanfaatan daerah sempadan untuk jalur hijau. Prasana pelayanan tidak mengganggu pemeliharaan alur sungai dan sumber air. Bangunan di pinggir sungai dan sumber air menghadap ke sungai. pelaksanaan sedang dilaksanakan penyusunan rencana kegiatan

penertiban daerah garis sempadan Sungai Cipamo- pkolan dan Sungai Cikapundung.

4. Kebijakan Dan Rencana Pengelolaan DAS Citarum a. Perencanaan pengelolaan DAS yang integratif b. Penguatan kelembagaan pengelolaan DAS

c. Implementasi pengelolaan DAS d. Peningkatan pengendalian, monitoring, dan evaluasi pengelolaan DAS e. Peningkatan pemberdayaan masyarakat f. Pengembangan sistim informasi manajemen (SIM) pengelolaan DAS g. Pengembangan sistem insentif/disinsentif

BAB IV PENUTUP

Demikian makalah yang kami sampaikan kami sadari masih banyak kekurangan di dalam makalah ini. Untuk lebih sempurnanya makalah ini diharapkan