Anda di halaman 1dari 128

ANALISIS RISIKO RADIOLOGI DI LINGKUNGAN INSTALASI NUKLIR AKIBAT

TERDISPERSINYA RADIONUKLIDA PADA KONDISI ABNORMAL YANG


DIPOSTULASIKAN DI INSTALASI NUKLIR BATAN SERPONG TAHUN 2009



SKRIPSI









NAMA : Eko HERURIANTO
NIM : 105101003225



PEMINATAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI JAKARTA
1430 H/2009 M
i

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI JAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
Skripsi, 30 November 2009

EKO HERURIANTO, NIM: 105101003225

Analisis Risiko Radiologi di Lingkungan Instalasi Nuklir Akibat Terdispersinya
Radionuklida Pada Kondisi Abnormal yang Dipostulasikan di Instalasi Nuklir
Batan Serpong Tahun 2009



ABSTRAK


Tekonologi nuklir dalam pemanfaatannya memiliki nilai positif yang besar
untuk kepentingan dan kelangsungan hidup manusia. Pengembangan dari hasil
teknologi ini dapat digunakan dalam berbagai bidang, misalnya bidang penelitian,
pertanian, kedokteran, industri, dan energi. Negara-negara yang telah memanfaatkan
teknologi ini kesejahteraannya meningkat dan menjadi lebih baik. Teknologi ini,
disamping memiliki nilai positif yang besar juga memiliki efek negatif. Hal utama
yang dikhawatirkan adalah efek radiasinya, karena efek tersebut dapat merusak
jaringan tubuh manusia bahkan dapat menyebabkan kematian.
Reaktor G.A Siwabessy miliki BATAN di kawasan Puspiptek, Serpong
merupakan salah satu reaktor yang ada di Indonesia. Reaktor ini merupakan suatu
reaktor nuklir fluks neutron cukup tinggi, sehingga sangat sesuai sebagai sarana
iradiasi untuk produksi radioisotop, pengembangan elemen bakar dan komponen
reaktor, penelitian dalam bidang sains materi, dan berbagai litbang lain dalam bidang
industri nuklir. Pemanfaatan reaktor G.A Siwabessy akan menimbulkan risiko
radiologi pada manusia dan lingkungan disekitar instalasi nuklir. Kemungkinan
adanya risiko tersebut dapat terjadi pada operasi normal ataupun abnormal
(kecelakaan).
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif yang bertujuan
untuk mengetahui risiko radiologi yang berupa konsentrasi dan dosis radiasi akibat
dari kecelakaan nuklir yang dipostulasikan di reaktor G.A Siwabessy BATAN.
Postulasi kecelakaan nuklir dalam hal ini dibedakan menjadi tiga. Sedangkan
penilaian konsentrasi dan dosis radioaktif dinilai pada tiga jalur paparan, yaitu jalur
paparan tanah (groundshine), udara (cloudshine), dan pernafasan (inhalation).
Wilayah penilaian dibagi menjadi 16 sektor dan 5 radius.
Hasil dari penelitian menunjukkan, bahwa dalam ketiga postulasi (simulasi)
terdapat enam radionuklida penting dan signifikan yaitu Cs-134, Cs-137, Ru-106, I-
131, I-132, dan Te-132. Wilayah yang memiliki dampak terluas adalah akibat
kecelakaan pada simulasi ke-3. Nilai konsentrasi pada jalur paparan tanah, udara,
dan pernafasan terbesar adalah pada skenario kecelakaan jenis simulasi ke-2.
ii

Dosis radioaktif yang diterima oleh masyarakat melalui jalur paparan tanah
(semua simulasi), untuk usia > 2 tahun, rata-rata penerimaan dosis tidak melebihi
0,005 Sv. Sedangkan dosis radioaktif melalui jalur paparan udara, untuk usia > 2
tahun, rata-rata penerimaan dosis tidak melebihi 0,005 Sv. Terakhir, dosis radioaktif
yang diterima melalui jalur paparan pernafasan, untuk usia 12 17 tahun dan > 17
tahun, rata-rata penerimaan dosis tidak melebihi 0,005 Sv.
Maka dari itu dosis radioaktif yang diterima melalui jalur paparan tanah,
udara, dan pernafasan tidak melebihi nilai batas dosis yang diijinkan oleh BAPETEN,
yaitu sebesar 0,005 Sv. Maka dosis yang diterima oleh masyarakat masih berada pada
batas yang aman. Berdasarkan temuan tersebut hendaknya Pemerintah agar lebih
intensif dalam mempromosikan keamanan penggunaan teknologi nuklir untuk
kehidupan masyarakat.
Selama proses penelitian ini asumsi yang digunakan masih menggunakan
asumsi kasar, maka dari itu disarankan bagi penelitian selanjutnya agar menggunakan
asumsi yang mendekati keadaan nyata dan melakukan perhitungan pada paparan
makanan (ingestion).






















iii

JAKARTA ISLAMIC STATE UNIVERSITY
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCE
PUBLIC HEALTH STUDY PROGRAM
Thesis, 30 November 2009
EKO HERURIANTO, NIM: 105101003225
Radiological Environmental Risk Analysis in Nuclear Installation Due
Dispersion of Radionuclide on Abnormal Conditions postulated in Batan
Serpong Nuclear Installations Year 2009

ABSTRACT

In it utilization, nuclear technology has a large positive value for the benefit
and continuity of human life. The development of nuclear technology could be used
in various fields, such as areas of research, agriculture, medicine, industry and
energy. Countries that have used this technology increase their welfare and become
better. This technology, in addition to having a large positive value also has negative
effect The main thing that is feared is the effect of it radiation, because these effects
can damage body tissue and can even cause death.
GA Siwabessy reactor owned by BATAN, in the Puspiptek area at Serpong is
one of the reactors that exist in Indonesia. This reactor is a quite high neutron flux
nuclear reactor, making it very suitable as a means of irradiation for the production of
radioisotopes, the development of fuel elements and reactor components, research in
the field of material science, and various other R & D in the field of nuclear industry.
Utilization of GA Siwabessy reactor would generate a risk of radiology in human and
the environment around nuclear installations. The possibility of that risk can occur in
normal operation or abnormal (accident).
This research is a descriptive quantitative research that aims to determine the
radiological risk in the form of concentration and dose of radiation resulting from
nuclear accidents which is postulated in the reactor GA Siwabessy owned by
BATAN. Postulations of nuclear accident in this case can be divided into three. While
the assessment of concentration and dose of radioactive to be assessed on three
exposure channels, which are soil exposure point (groundshine), air (cloudshine), and
respiratory (inhalation). Assessment area is divided into 16 sectors and 5 radius.
Results of the study showed that in all three postulations (simulation), there
are six important and significant radionuclide which is Cs-134, Cs-137, Ru-106, I-
131, I-132, and Te-132. Areas that have the largest impact is due to an accident on the
third simulation. The largest concentration value on the exposure path to ground, air,
and breathing is in the second accident scenario simulation.
Radioactive dose received by the society through the exposure of the soil (all
the simulation), for age > 2 years, average receipts of the dose do not exceed 0.005
iv

Sv. While the dose of radioactive exposure path through air, for age > 2 years,
average receipts of the dose do not exceed 0.005 Sv. Finally, the radioactive dose
received by the respiratory route of exposure, for ages 12-17 years and > 17 years,
average receipts of the dose do not exceed 0.005 Sv.
Thus the radioactive dose received through soil, air, and breathing exposure
does not exceed the dose limits permitted by BAPETEN, is 0.005 Sv. Then the dose
received by society still at a safe limit. Based on these findings the Government
should be more intensive in promoting the safe use of nuclear technology to society.
During this study the assumptions used are still using rough assumptions, and
therefore recommended for further research to use the assumption that close to real
circumstances and perform calculations on food exposure (ingestion).
























v

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Data Pribadi
Nama : Eko Herurianto
TTL : Bogor , 27 September 1985
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Status : Belum Menikah
Alamat : Warnasari Timur Rt 02/012 Cibeber I
Leuwiliang Bogor
E-mail : ekoherurianto@yahoo.com
Nama Orang Tua : Ayah : Tugiyo
Ibu : Sajiem
Anak ke- : 1 dari 4 bersaudara
Pendidikan
1992-1998 : SDN I Leuwiliang, Bogor
1998-2001 : SLTP Negeri I Leuwiliang, Bogor
2001-2004 : SMA Negeri I Leuwiliang, Bogor
2004-2005 : Swiss German University , Dept. Biomedical
Engineering Tangerang
2005-2009 : Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Program
Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Pengalaman Organisasi
2003-2004 : Ketua Kelompok Ilmiah Remaja SMA Negeri 1
Leuwiliang
2002-2003 : Sekretaris ROHIS SMA Negeri 1 Leuwiliang
2004 : Anggota The INSTY Centre Bogor
2005-2006 : Ketua Kaderisasi KOMDA Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan UIN Syahid Jakarta
2006-2007 : Ketua Medika KOMDA Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2006-2007 : Ketua DPMF (Dewan Perwakilan Mahasiswa
Fakultas) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2007-2008 : Ketua LITBANGKES BEM Program Studi Kesehatan
Masyarakat UIN Syahid Jakarta

vi
DAFTAR ISI


ABSTRAK ..................................................................................................................... i
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ....................................................................................... v
DAFTAR ISI .................................................................................................................. vi
DAFTAR TABEL .......................................................................................................... xi
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................................... xiv
DAFTAR GRAFIK ........................................................................................................ xvi
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................ 4
1.3 Pertanyaan Penelitian ........................................................................................... 5
1.4 Tujuan Penelitian ................................................................................................. 6
1.4.1 Tujuan umum ............................................................................................... 6
1.4.2 Tujuan Khusus ............................................................................................ 7
1.5 Manfaat Penelitian ................................................................................................ 8
1.5.1 Bagi Instansi BATAN ................................................................................. 8
1.5.2 Bagi Peneliti ................................................................................................. 8
1.5.3 Bagi Program Studi Kesehatan Masyarakat ................................................ 9
1.6 Ruang Lingkup Penelitian .................................................................................... 9


vii
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Instalasi Nuklir ..................................................................................................... 10
2.1.1 Reaktor nuklir .............................................................................................. 10
2.1.2 Sistem Reaktor Nuklir ................................................................................. 11
2.1.3 Jenis Reaktor Nuklir .................................................................................... 13
2.2 Kecelakaan Nuklir ................................................................................................ 14
2.2.1 Radionuklida yang Terdispersi Akibat Kecelakaan Nuklir ........................ 17
2.3 Risiko Radiologi ................................................................................................... 17
2.3.1 Dispersi ....................................................................................................... 18
2.3.2 Jalur Paparan ................................................................................................ 19
2.3.3 Radiasi Eksterna dari Udara ........................................................................ 21
2.3.4 Radiasi Interna Melalui Pernafasan (Inhalation) ......................................... 23
2.3.5 Radiasi Eksterna dari Material yang Terdeposisi di Tanah (Groundshine) . 23
2.3.6 Radiasi Interna Melalui jalur Ingesti ........................................................... 24
2.4 Efek Radiasi Pada Manusia .................................................................................. 25
2.4.1 Dosis Efektif ................................................................................................ 28
2.4.2 Dosis Kolektif .............................................................................................. 29
2.5 Batasan Keselamatan Radiasi .............................................................................. 29
2.5.1 NBD Untuk Pekerja Radiasi ....................................................................... 30
2.5.2 NBD Untuk Masyarakat Umum .................................................................. 31
2.6 COSYMA ............................................................................................................. 31


viii
BAB III. KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
3.1 Kerangka Konsep ................................................................................................. 33
3.2 Defini Operasional ............................................................................................... 34
3.3 Hipotesis Penelitian .............................................................................................. 36

BAB IV. METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Desain Penelitian .................................................................................................. 37
4.2 Waktu dan Tempat ............................................................................................... 37
4.3 Sumber Data ......................................................................................................... 37
4.4 Langkah Penelitian ............................................................................................... 38
4.4.1 Pra Simulasi ................................................................................................ 38
4.4.2 Proses Simulasi ........................................................................................... 39
4.4.3 Perhitungan Dosis Radioaktif ..................................................................... 40
4.4.3.1 Dosis Paparan Tanah (Groundshine) .............................................. 40
4.4.3.2 Dosis Paparan Udara (Cloudshine) ................................................. 41
4.4.3.3 Dosis Paparan Pernafasan (Inhalation ) ........................................... 42
4.4.4 Analisis Rencana Kegawat Daruratan Nuklir ............................................. 42
4.5 Pengolahan dan Analisa Data ............................................................................... 42
4.5.1 Pengolahan Data .......................................................................................... 42
4.5.2 Analisa Data ................................................................................................ 43



ix
BAB V. HASIL
5.1 Gambaran Umum Reaktor G.A Siwabessy ........................................................... 44
5.1.1 Sejarah Singkat.............................................................................................. 44
5.1.2 Tugas dan Fungsi .......................................................................................... 45
5.1.3 Pembagian Cakupan Wilayah di Sekitar Reaktor G.A Siwabessy ............... 45
5.2 Radionuklida yang Terdispesi ke Lingkungan Akibat Postulasi Kecelakaan
Nuklir ..................................................................................................................... 47
5.3 Perkiraan Cakupan Wilayah yang Terkena Dampak dari Postulasi Kecelakaan
Nuklir ..................................................................................................................... 47
5.4 Konsentrasi Radionuklida Pada Setiap Jalur Paparan ............................................ 52
5.4.1 Konsentrasi Radionuklida Pada Jalur Paparan Tanah ................................... 52
5.4.2 Konsentrasi Radionuklida pada udara ........................................................... 54
5.4.3 Konsentrasi Radionuklida pada Pernafasan .................................................. 56
5.5 Dosis yang Diterima Melalui Setiap Jalur Paparan................................................ 57
5.5.1 Dosis Paparan Eksterna Dari Jalur Paparan Groundshine ............................ 57
5.5.1.1 Dosis yang Diterima Untuk Usia > 2 Tahun ..................................... 58
5.5.2 Dosis Paparan Eksterna Dari Jalur Paparan Cloudshine ............................... 62
5.5.2.1 Dosis yang Diterima Untuk Usia > 2 Tahun ..................................... 63
5.5.3 Dosis Paparan Interna Dari Jalur Paparan Inhalation ................................... 67
5.5.3.1 Dosis yang Diterima Untuk Usia 12 17 Tahun .............................. 67
5.5.3.2 Dosis yang Diterima Untuk Usia > 17 Tahun ................................... 72
5.6 Rekomendasi Rencana Tanggap Darurat Kecelakaan Nuklir ................................ 76

x
BAB VI. PEMBAHASAN
6.1 Keterbatasan Penelitian .......................................................................................... 80
6.2 Pembagian Cakupan Wilayah di Sekitar Instalasi Nuklir ...................................... 80
6.3 Radionuklida yang Terdispesi Keluar Reaktor ...................................................... 81
6.4 Efek Biologis dari Radiasi .................................................................................... 83
6.5 Perkiraan Cakupan Wilayah yang Terkena Dampak ............................................. 85
6.6 Konsentrasi Radionuklida Pada Tanah (Groundshine) .......................................... 86
6.7 Konsentrasi Radionuklida Pada Udara (Cloudshine) ............................................. 87
6.8 Konsentrasi Radionuklida Pada Pernafasan (Inhalation) ...................................... 89
6.9 Dosis Paparan Eksterna dari Tanah (Groundshine) pada Manusia ........................ 90
6.10 Dosis Paparan Eksterna dari Udara (Cloudshine) pada Manusia......................... 93
6.11 Dosis Paparan Interna dari Pernafasan (Inhalation) Pada Manusia ..................... 96
6.12 Rencana Tindakan Kegawat Daruratan Nuklir .................................................... 99

BAB VII. SIMPULAN DAN SARAN
7.1 Simpulan ................................................................................................................ 103
7.2 Saran ...................................................................................................................... 105

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xi
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Radionuklida dan Masing-masing Jalur Paparan ............................................ 17
Tabel 2.2. Peluruhan Radionuklida ................................................................................. 17
Tabel 2.3. Klasifikasi Efek Radiasi ................................................................................. 27
Tabel 2.4. Gejala yang Timbul Setelah Paparan Akut Seluruh Tubuh ........................... 28
Tabel 2.5. Nilai Faktor Bobot Berbagai Organ Tubuh.................................................... 29
Tabel 3.1 Definisi Oprasional ......................................................................................... 34
Tabel 5.1. Jalur paparan dan radionuklida penting yang terkandung pada setiap
jalur paparan dalam tiga jenis skenario kecelakaan ............................................ 47
Tabel 5.2. Nilai konsentrasi radionuklida melalui jalur paparan tanah untuk
skenario kecelakaan simulasi ke-1 ...................................................................... 53
Tabel 5.3. Nilai konsentrasi radionuklida melalui jalur paparan tanah untuk
skenario kecelakaan simulasi ke-2 ...................................................................... 53
Tabel 5.4. Nilai konsentrasi radionuklida melalui jalur paparan tanah untuk
skenario kecelakaan simulasi ke-3 ...................................................................... 54
Tabel 5.5. Nilai konsentrasi radionuklida melalui jalur paparan udara untuk
skenario kecelakaan simulasi ke-1 ...................................................................... 54
Tabel 5.6. Nilai konsentrasi radionuklida melalui jalur paparan udara untuk
skenario kecelakaan simulasi ke-2 ...................................................................... 55
Tabel 5.7. Nilai konsentrasi radionuklida melalui jalur paparan udara untuk
simulasi ke-3 ....................................................................................................... 55
xii
Tabel 5.8. Nilai konsentrasi radionuklida melalui jalur paparan pernafasan untuk
skenario kecelakaan simulasi ke-1 ...................................................................... 56
Tabel 5.9. Nilai konsentrasi radionuklida melalui jalur paparan udara untuk
skenario kecelakaan simulasi ke-2 ...................................................................... 57
Tabel 5.10. Nilai konsentrasi radionuklida melalui jalur paparan pernafasan untuk
skenario kecelakaan simulasi ke-3 ...................................................................... 57
Tabel 5.11. Penerimaan dosis (Sv) radionuklida untuk usia > 2 tahun dalam
skenario kecelakaan simulasi ke-1 ...................................................................... 58
Tabel 5.12. Penerimaan dosis (Sv) radionuklida untuk usia > 2 tahun dalam
skenario kecelakaan simulasi ke-2 ...................................................................... 60
Tabel 5.13. Penerimaan dosis (Sv) radionuklida untuk usia > 2 tahun dalam
simulasi ke-3 ....................................................................................................... 61
Tabel 5.14. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Cloudshine untuk
usia > 2 Tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-1 ...................................... 63
Tabel 5.15. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Cloudshine untuk
usia > 2 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-2 ....................................... 64
Tabel 5.16. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Cloudshine untuk
usia > 2 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-3 ....................................... 66
Tabel 5.17. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Inhalation untuk
usia 12 17 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-1 ............................... 68
Tabel 5.18. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Inhalation untuk
usia 12 17 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-2 ............................... 69
xiii
Tabel 5.19. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Inhalation untuk
usia 12 17 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-3 ............................... 71
Tabel 5.20. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Inhalation untuk
usia > 17 tahun dari skenario kecelakaan simulasi Ke-1 .................................... 72
Tabel 5.21. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Inhalation untuk
usia > 17 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-2 .................................... 74
Tabel 5.22. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Inhalation untuk
usia > 17 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-3 .................................... 75








xiv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Pembelahan inti dalam reaktor nuklir ........................................................ 11
Gambar 2.2. Komponen utama reaktor ........................................................................... 12
Gambar 2.3. Delapan level kecelakaan nuklir menurut IAEA........................................ 15
Gambar 2.4. Garis Besar Jalur Paparan .......................................................................... 21
Gambar 3.1. Kerangka Konsep Penelitian Analisis Resiko Radiologi pada Reaktor
G.A Siwabessy, BATAN, Serpong ..................................................................... 34
Gambar 4.1. Pembagian wilayah dalam radius 5 km dan 16 sektor dari pusat
reaktor nuklir G.A. Siwabessy BATAN Serpong ............................................... 39
Gambar 5.1. Pembagian daerah sekitar lokasi instalasi reaktor nuklir G.A
Siwabessy yang terbagi menjadi 5 ruas radial dan 16 sektor ............................. 46
Gambar. 5.2. Cakupan wilayah yang terkena dampak akibat skenario kecelakaan
nuklir untuk jenis simulasi ke-1 di reaktor G.A siwabessy BATAN
Serpong ............................................................................................................... 48
Gambar. 5.3. Cakupan wilayah yang terkena dampak akibat skenario kecelakaan
nuklir simulasi ke-2 di reaktor G.A siwabessy BATAN Serpong ...................... 49
Gambar. 5.4. Cakupan wilayah yang terkena dampak akibat skenario kecelakaan
nuklir untuk jenis simulasi ke-3 di reaktor G.A siwabessy BATAN
Serpong .............................................................................................................. 51
Gambar 5.5. sektor-sektor yang menjadi prioritas untuk dilakukan rencana
tanggap darurat akibat skenario kecelakaan nuklir simulasi ke-1 reaktor
G.A Siwabessy .................................................................................................... 77
xv
Gambar 5.6. sektor-sektor yang menjadi prioritas untuk dilakukan rencana
tanggap darurat akibat skenario kecelakaan nuklir di reaktor G.A
Siwabessy untuk simulasi ke-2 .......................................................................... 78
Gambar 5.7. Sektor-sektor yang menjadi prioritas untuk dilakukan rencana
tanggap darurat akibat skenario kecelakaan nuklir di reaktor G.A
Siwabessy untuk simulasi ke-3 .......................................................................... 79









xvi
DAFTAR GRAFIK
Grafik 5.1. Perkiraan jumlah penduduk yang terkena dampak akibat skenario
kecelakaan simulasi ke-1 .................................................................................... 17
Grafik 5.2. Perkiraan jumlah penduduk terkena dampak akibat scenario
kecelakaan simulasi ke-2 .................................................................................... 50
Grafik 5.3. Perkiraan jumlah penduduk yang terkena dampak akibat skenario
kecelakaan simulasi ke-3..................................................................................... 52
Grafik 5.4. Penerimaan dosis (Sv) radionuklida untuk usia > 2 tahun dalam
skenario kecelakaan simulasi ke-1 ...................................................................... 59
Grafik 5.5. Penerimaan dosis (Sv) radionuklida untuk usia > 2 tahun dalam
skenario kecelakaan simulasi ke-2 ..................................................................... 60
Grafik 5.6. Penerimaan dosis (Sv) radionuklida untuk usia > 2 tahun dalam
simulasi ke-3 ....................................................................................................... 62
Grafik 5.7. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Cloudshine untuk
usia > 2 Tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-1 ...................................... 63
Grafik 5.8. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Cloudshine untuk
usia > 2 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-2 ....................................... 65
Grafik 5.9. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Cloudshine untuk
usia > 2 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-3 ....................................... 66
Grafik 5.10. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Inhalation untuk
usia 12 17 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-1 ............................... 68
Grafik 5.11. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Inhalation untuk
usia 12 17 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-2 ............................... 70
xvii
Grafik 5.12. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Inhalation untuk
usia 12 17 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-3 ............................... 71
Grafik 5.13. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Inhalation untuk
usia > 17 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-1 ..................................... 73
Grafik 5.14. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Inhalation untuk
usia > 17 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-2 .................................... 74
Grafik 5.15. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Inhalation untuk
usia > 17 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-3 .................................... 76















BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Penggunaan teknologi nuklir di berbagai bidang kehidupan masyarakat telah
maju secara cepat dibidang penelitian, pertanian, kedokteran, industri, dan energi
(Hidayati, 2008). Negara-negara yang telah memanfaatkan teknologi nuklir
kesejahteraan rakyatnya meningkat dan menjadi lebih baik, sehingga teknologi nuklir
seperti menjadi tumpuan harapan bagi sejumlah negara yang menginginkan
pendapatan per kapitanya mengalami kenaikan (Wisnu, 2007). Namun, disamping
manfaatnya yang besar tenaga nuklir mempunyai potensi bahaya radiasi terhadap
pekerja, anggota masyarakat, dan lingkungan hidup apabila dalam pemanfaatannya
tidak diperhatikan dan diawasi dengan sebaik (UU RI No. 10 Tahun 1997).
Salah satu potensi bahaya akibat pengoperasian reaktor nuklir adalah
terlepasnya radioaktif ke lingkungan. Lepasan radioaktif dapat terjadi pada kondisi
operasi normal ataupun abnormal. Lepasan radioaktif akan tersebar di udara dan
terdeposisi ke permukaan tanah. Dengan adanya pengaruh cuaca dan keadaan
meteorologi setempat zat radioaktif itu tersebar dan masuk kedalam tubuh manusia.
Dalam dosis tertentu paparan ini akan mempengaruhi kesehatan masyarakat dan
lingkungan di sekitar tapak lokasi reaktor nuklir (Pande, 2008).
Lepasan bahan-bahan radioaktif ke atmosfir dapat mengakibatkan paparan ke
manusia melalui sejumlah jalur (pathway). Pertama, irradiasi eksternal oleh foton dan

2

elektron yang dikeluarkan sebagai hasil proses peluruhan radioaktif. Kedua, irradiasi
internal menyusul terhirupnya radionuklida tersebut. Radionuklida yang terdispersi
dalam kepulan asap di udara (plume) akan melalui proses deposisi ke permukaan tanah
dan peluruhan radioaktif. Radionuklida dapat kembali terhirup oleh manusia karena
terjadinya gangguan yang disebabkan oleh angin dan manusia. Di samping itu,
deposisi radionuklida ke dalam tumbuhan dan tanah akan menyebabkan perpindahan
radionuklida ke bahan pangan manusia (Pande, 2008).
Manusia yang terpapar radioaktif menimbulkan efek kesehatan yang disebut
dengan efek stokastik dan non-stokasitik. Efek stokastik adalah efek radiasi dimana
peluang terjadinya efek tersebut merupakan fungsi dosis radiasi yang diterima oleh
seseorang, tanpa suatu nilai ambang. Semua efek akibat proses modifikasi atau
transformasi sel ini terjadi secara acak dan biasanya akan muncul setelah masa laten
yang lama, misalnya kanker dan leukemia. Semakin besar dosis yang diterima semakin
besar peluang terjadinya efek ini.
Sedangkan efek non-stokastik adalah efek radiasi dimana tingkat keparahan
bergantung pada dosis radiasi yang diterima dengan suatu nilai ambang. Efek ini
terjadi karena adanya kematian sel sebagai akibat dari paparan radiasi baik sebagian
atau seluruh tubuh. Terjadinya efek deterministik bila dosis yang diterima di atas dosis
ambang (threshold dose) dan umumnya terjadi beberapa saat setelah terpapar. Contoh
akibat efek ini adalah, kemerahan pada kulit (eritema), katarak, pneumonitis, dan
sterilitas. (Taspirin, 2009)
Pada peristiwa PLTN Chernobyl, 27 April 1986, sekitar 90 ton radionuklida

3

terdispersi ke lingkungan bahkan hingga mencapai kepulauan Inggris. Dari peristiwa
itu, IAEA dan WHO mencatat terdapat sekitar 6,6 juta orang yang terpapar radioisotop,
diperkirakan 9.000 diantaranya terpapar berat. Hingga 2002 terdeteksi 4.000 kasus
anak penderita kanker tiroid. (Chairul, 2008)
Reaktor G.A. Siwabessy merupakan salah satu instalasi nuklir yang memiliki
daya 30 MW dan dimiliki oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) yang berada
di Kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUSPIPTEK) Serpong.
Tugas pokok Reaktor G.A. Siwabessy adalah melaksanakan penelitian dan
pengembangan teknologi reaktor, pengoperasian reaktor, melakukan pelayanan
iradiasi, serta bertanggung jawab terhadap keselamatan yang ditetapkan oleh Kepala
BATAN.
Reaktor ini merupakan suatu reaktor nuklir fluks neutron cukup tinggi,
sehingga sangat sesuai sebagai sarana iradiasi untuk produksi radioisotop,
pengembangan elemen bakar dan komponen reaktor, penelitian dalam bidang sains
materi, dan berbagai litbang lain dalam bidang industri nuklir. (Udiyani, dkk, 2004)
Reaktor G.A. Siwabessy sebagai salah satu instalasi nuklir merupakan fasilitas
yang memungkinkan akan menimbulkan risiko radiologi pada manusia dan
lingkungan, khususnya disekitar instalasi nuklir. Kemungkinan adanya risiko radiologi
tersebut dapat terjadi pada operasi normal ataupun abnormal (kecelakaan). Risiko
radiologi adalah bentuk ekspresi dari kemungkinan terjadinya situasi paparan potensial
atau yang terencana yang memberikan suatu konsekuensi yang spesifik, dinyatakan
dalam bentuk dosis radiasi atau kerugian kesehatan dan biasanya dalam aspek dampak

4

sosial-ekonomi (Rini, 2008).
Pada penelitian sebelumnya, mengenai analisa risiko radiologi pada Reaktor
G.A. Siwabessy, menyatakan bahwa pada kasus kecelakaan di reaktor tersebut, radiasi
yang terdispersi ke lingkungan dan dosis individu ataupun dosis kolektif pada
masyarakat umum masih berada dibawah nilai batas dosis yang diizinkan, yaitu 5
mSv/tahun. (Pudjijanto dan Hastowo, 2002, dan Pande, 2006)
Namun, dalam penelitian sebelumnya itu, peneliti menilai bahwa kajian
masalah ini masih belum menyangkut pada tinjauan aspek kesehatan masyarakat yang
dianalisa secara holistik. Menurut peneliti hal ini penting dilakukan karena dapat
digunakan sebagai bahan dasar bagi peneliti untuk mengedukasi masyarakat.
Bertolak dari kenyataan itu, maka perlu dilakukan analisis risiko radiologi di
lingkungan instalasi nuklir akibat terdispersinya radionuklida pada kondisi abnormal
yang dipostulasikan, dalam hal ini akan di lakukan pada Reaktor Nuklir Serba Guna
G.A. Siwabessy (RSG-GAS) BATAN Serpong.

1.2 Rumusan Masalah
Adanya radionuklida di alam, akibat dispersi dari reaktor, pada lingkungan
akan mempengaruhi konsentrasi radionuklida dan penerimaan dosis radiasi pada
masyarakat. Proses itu melalui beberapa jalur paparan (pathway), baik internal ataupun
eksternal. Jalur paparan internal adalah melalui pernafasan (ingestion) sedangkan
paparan eksternal adalah melalui paparan permukaan tanah (groundshine) dan udara
(cloudshine).

5

Atas dasar itu Peneliti ingin menganalisis risiko radiologi terhadap kecelakaan
nuklir yang di postulasikan, kasus dalam hal ini yaitu pada Reaktor Serba Guna G.A.
Siwabessy. Sehingga dengan melakukan analisis terhadap hasil simulasi itu Peneliti
dapat melakukan perhitungan besarnya konsentrasi dan dosis radionuklida yang
terdispersi ke lingkungan yang mengakibatkan paparan pada manusia. Selain itu,
Peneliti pun dapat menyusun rencana tindakan kegawat daruratan nuklir pada
masyarakat.

1.3 Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana gambaran umum reaktor G.A Siwabessy BATAN Serpong?
2. Bagaimana pembagian cakupan wilayah di sekitar Reaktor G.A Siwabessy
tahun 2009?
3. Radionuklida penting apa saja yang terdispesi ke lingkungan akibat skenario
kecelakaan nuklir di Reaktor G.A Siwabessy pada simulasi ke-1, ke-2, dan ke-3
tahun 2009?
4. Bagaimana perkiraan cakupan wilayah yang terkena dampak akibat skenario
kecelakaan nuklir di Reaktor G.A Siwabessy pada simulasi ke-1, ke-2, dan ke-3
tahun 2009?
5. Berapakah nilai konsentrasi radionuklida pada setiap jalur paparan akibat
skenario kecelakaan nuklir di Reaktor G.A Siwabessy pada simulasi ke-1, ke-2,
dan ke-3 tahun 2009?
a) Berapakah konsentrasi pada jalur paparan tanah?

6

b) Berapakah konsentrasi pada jalur paparan udara?
c) Berapakah konsentrasi pada jalur paparan pernafasan?
6. Berapakah nilai dosis yang diterima melalui setiap jalur paparan yang
berdasarkan kategori usia akibat skenario kecelakaan nuklir di reaktor G.A
Siwabessy pada simulasi ke-1, ke-2, dan ke-3 tahun 2009?
a) Berapakah dosis paparan eksterna dari jalur paparan tanah yang diterima
untuk usia > 2 tahun?
b) Berapakah dosis paparan eksterna dari jalur paparan udara yang diterima
untuk usia > 2 tahun?
c) Berapakah dosis paparan interna dari jalur paparan pernafasan yang
diterima untuk usia 12 17 tahun yang diterima untuk usia > 17 tahun?
7. Bagaimana analisis rencana tanggap darurat kecelakaan nuklir akibat skenario
kecelakaan nuklir di Reaktor G.A Siwabessy pada simulasi ke-1, ke-2, dan ke-3
tahun 2009?

1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan Umum
Diketahuinya risiko radiologi di lingkungan instalasi nuklir akibat
terdispersinya radionuklida pada kondisi abnormal yang dipostulasikan di instalasi
nuklir BATAN Serpong tahun 2009.



7

1.4.2 Tujuan Khusus
1. Diketahuinya gambaran umum reaktor G.A Siwabessy BATAN Serpong.
2. Diketahuinya pembagian cakupan wilayah di sekitar Reaktor G.A Siwabessy
tahun 2009.
3. Diketahuinya radionuklida penting yang terdispesi ke lingkungan akibat
skenario kecelakaan nuklir di Reaktor G.A Siwabessy pada simulasi ke-1, ke-2,
dan ke-3 tahun 2009.
4. Diketahuinya perkiraan cakupan wilayah yang terkena dampak akibat skenario
kecelakaan nuklir di Reaktor G.A Siwabessy pada simulasi ke-1, ke-2, dan ke-3
tahun 2009.
5. Diketahuinya nilai konsentrasi radionuklida pada setiap jalur paparan akibat
skenario kecelakaan nuklir di Reaktor G.A Siwabessy pada simulasi ke-1, ke-2,
dan ke-3 tahun 2009.
a) Nilai konsentrasi pada jalur paparan tanah.
b) Nilai konsentrasi pada jalur paparan udara.
c) Nilai konsentrasi pada jalur paparan pernafasan.
6. Diketahuinya nilai dosis yang diterima melalui setiap jalur paparan yang
berdasarkan kategori usia akibat skenario kecelakaan nuklir di reaktor G.A
Siwabessy pada simulasi ke-1, ke-2, dan ke-3 tahun 2009.
a) Nilai dosis paparan eksterna dari jalur paparan tanah yang diterima untuk
usia > 2 tahun.
b) Nilai dosis paparan eksterna dari jalur paparan udara yang diterima untuk

8

usia > 2 tahun.
c) Nilai dosis paparan interna dari jalur paparan pernafasan yang diterima
untuk usia 12 17 tahun dan usia > 17 tahun.
7. Diketahuinya analisis rencana tanggap darurat kecelakaan nuklir akibat
skenario kecelakaan nuklir di Reaktor G.A Siwabessy pada simulasi ke-1, ke-2,
dan ke-3 tahun 2009.

1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Bagi Instansi BATAN
Melalui penelitian ini, BATAN khususnya Pusat Teknologi Reaktor dan
Keselamatan Nuklir, dapat mengetahui risiko radiologi yang ditimbulkan oleh
pengoperasian Reaktor G.A Siwabessy BATAN terhadap masyarakat disekitar
instalasi dari sudut pandang Kesehatan Masyarakat.

1.5.2 Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat menjadi salah satu literatur bagi para peneliti lain yang
ingin meneliti lebih jauh mengenai risiko radiologi yang ditimbulkan oleh
pengoperasian instalasi nuklir ataupun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)
dalam skala dan cakupan wilayah yang lebih luas. Selain itu, peneliti lain dapat
mengkaji variabel penting lainnya yang tidak ada dalam penelitian ini sehingga akan
menambah pustaka yang lengkap mengenai risiko radiologi.


9

1.5.3 Bagi Program Studi Kesehatan Masyarakat
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pustaka Program Studi Kesehatan
Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam bidang ketenaganukliran
khususnya dalam penilaian dosis radiologi pada masyarakat dan analisis tanggap
darurat ketenaganukliran.

1.6 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian mengenai analisis risiko radiologi di
lingkungan instalasi nuklir akibat terdispersinya radionuklida pada kondisi abnormal
yang dipostulasikan di instalasi nuklir BATAN Serpong tahun 2009. Penelitian ini
dilakukan karena radionuklida dari reaktor nuklir yang terdispersi ke lingkungan
diperkirakan akan mengakibatkan peningkatan konsentrasi dan dosis radioaktif pada
masyarakat.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Instalasi Nuklir
Instalasi nuklir adalah suatu instalasi yang memproduksi, mengolah,
memanfaatkan, memproses atau menangani bahan radioaktif/bahan fisil, misalnya,
raktor nuklir (PLTN), instalasi pengolahan dan transmutasi bahan bakar nuklir, pabrik
pemisahan isotop, pabrik pengolahan ulang, dan instalasi penyimpanan bahan bakar
bekas. (Kuntjoro, 2008)
Sedangkan pengertian lain, instalasi nuklir adalah reaktor nuklir, fasilitas yang
digunakan untuk pemurnian, konversi, pengayaan bahan nuklir, fabrikasi bahan bakar
nuklir dan/atau pengolahan ulang bahan bakar nuklir bekas, dan/atau fasilitas yang
digunakan untuk menyimpan bahan bakar nuklir dan bahan bakar nuklir bekas. (UU
RI No.10 Tahun 1997)
Indonesia memiliki empat instalasi nuklir, tiga diantaranya merupakan reaktor
nuklir, yaitu Triga Mark II di Bandung, Pusat Penelitian Tenaga Atom Pasar Jumat,
Jakarta, Reaktor Atom Kartini di Yogyakarta, dan terakhir Reaktor Atom G.A
Siwabessy di Serpong. (Markus, 2008)

2.1.1 Reaktor Nuklir
Reaktor nuklir adalah alat atau instalasi yang dijalankan dengan bahan bakar
nuklir yang dapat menghasilkan reaksi inti berantai yang terkendali dan digunakan
11
untuk pembangkitan daya, atau penelitian, dan/atau produksi radioisotop. (UU RI
No.10 Tahun 1997)
Mekanisme pembelahan inti dalam reaktor nuklir dapat digambarkan sebagai
berikut:

Gambar 2.1. Pembelahan inti dalam reaktor nuklir (Sumber: Sudi, 2009)
Ketika partikel neutron berhasil masuk ke dalam inti atom bahan bakar
Uranium, maka inti Uranium menjadi lebih tidak stabil dan akibatnya mengalami
pembelahan. Hasil dari pembelahan ini adalah dua buah atom materi yang lain, 2
sampai 3 buah neutron baru dan energi. Total massa seluruh materi yang terbentuk
sesudah terjadinya pembelahan inti atom Uranium lebih kecil daripada sebelum
terjadi pembelahan. Selisih massa inilah yang berubah menjadi energi. Neutron baru
yang terbentuk setelah pembelahan inti dapat menumbuk inti atom Uranium lain dan
seterusnya menghasilkan atom materi lain, 2-3 buah neutron baru dan energi.
Demikian seterusnya sehingga terbentuklah sebuah reaksi berantai. (Sudi, 2009)

2.1.2 Sistem Reaktor Nuklir
Sistem reaktor nuklir secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu komponen fisi
dan komponen non-fisi. Komponen fisi adalah bahan bakar nuklir yang dapat
melakukan reaksi fisi berantai dalam teras reaktor nuklir. Sedangkan komponen non-
fisi adalah komponen yang tidak dapat melakukan reaksi fisi namun keberadaannya
12
dalam teras reaktor nuklir sangat diperlukan untuk menunjang berlangsungnya reaksi
nuklir berantai. (Kuntjoro dan Hidayati 2008)
Komponen-komponen non-fisi dalam reaktor nuklir diantaranya, yaitu
pendingin, moderator dan reflektor, kelongsong bahan bakar nuklir, batang kendali,
dan tangki reaktor. (Kuntjoro dan Hidayati 2008) Digambarkan pada gambar dibawah
ini:








Gambar 2.2. Komponen utama reaktor
Pendingin dipakai untuk mengalirkan atau memindahkan panas hasil fisi dari
dalam teras menuju ke luar teras reaktor. Bahan pendingin dipakai juga untuk
mendinginkan komponen-komponen reaktor lainnya, sehingga reaktor tetap dapat
beroprasi dengan aman. Beberapa jenis pendingin yang dapat digunakan, yaitu air
ringan (H
2
O), air berat (D
2
O), gas helium, CO
2
, dan sebagainya.
Bahan moderator dipakai untuk memperlambat gerakan neutron cepat agar
berubah menjadi neutron lambat, sehingga dapat dipakai untuk melangsungkan reaksi
fisi berikutnya. Untuk jenis reaktor yang menggunakan pendingin air, bahan
Tangki reaktor
Batang kendali
Pendingin
Uap ke turbin
Kelongsong bahan
bakar nuklir Moderator
Pendingin
Air umpan
Sistem penukar
panas
13
pendingin ini berperan juga sebagai bahan moderator. Sedangkan bahan reflektor
dipakai untuk memantulkan kembali neutron yang akan keluar, sehingga jumlah
neutron yang hilang dapat diperkecil. Pada umumnya bahan yang baik untuk
moderator baik juga digunakan sebagai bahan reflektor neutron.
Kelongsong bahan bakar nuklir berfungsi untuk mengungkung unsur-unsur
hasil hasil fisi sehingga unsur-unsur tersebut tidak akan terlarut dalam air pendingin
dan keluar dari teras reaktor. Unsur-unsur hasil fisi ini bersifat radioaktif, sehingga
mampu memancarkan radiasi yang berbahaya bagi manusia maupun lingkungan.
Batang kendali merupakan penyerap netron jika terjadi pertumbuhan netron
yang berlebihan. Dengan cara ini, maka reaksi nuklir dapat diatur dan tidak
dilepaskan panas yang berlebihan. Tangki reaktor merupakan tempat atau wadah dari
semua komponen tersebut di atas, yang terbuat dari baja tahan karat. Pada bagian
bawah tangki terpasang teras reaktor tempat berlangsungnya reaksi fisi. Selain itu,
untuk meningkatkan keamanan oprasi reaktor nuklir, tangki reaktor disangga oleh
bangunan beton dengan ketebalan 1 2 meter.

2.1.3 Jenis Reaktor Nuklir
Jenis-jenis reaktor nuklir, ditinjau dari tujuan penggunaannya, dibagi menjadi
tiga, yaitu reaktor daya, reaktor pembiak, dan reaktor penelitian. Reaktor daya
merupakan reaktor yang dirancang untuk memproduksi energi listrik melalui
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Reaktor pembiak merupakan reaktor
yang dirancang untuk memproduksi energi listrik dan memproduksi bahan bakar
nuklir baru berupan Pu-239 dan U-233. Sedangkan reaktor penelitian dirancang untuk
14
memproduksi radioisotop dan melakukan berbagai penelitian dengan metode iradiasi.
Panas yang timbul dari reaksi fisi ini tidak digunakan. (Kuntjoro dan Hidayati 2008)

2.2 Kecelakaan Nuklir
Kecelakaan nuklir adalah setiap kejadian atau rangkaian kejadian yang
menimbulkan kerugian yang berupa kematian, cacat, cedera atau sakit, kerusakan
harta benda, pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh
radiasi atau gabungan radiasi dengan sifat racun, sifat mudah meledak atau sifat
bahaya lainnya sebagai akibat kekritisan bahan bakar nuklir dalam instalasi nuklir
atau selama pengngkutan, termasuk kerugian sebagai akibat tindakan preventif dan
kerugian sebagai akibat atau tindakan untuk pemulihan lingkungan hidup. (Artati,
2005)
Dalam keadaan normal ataupun kecelakaan akan mengakibatkan lepasnya
radionuklida dari suatu instalasi nuklir. Radionuklida adalah semua atom unsur, yang
dibedakan menurut nomor atom, nomor massa, dan tingkat energi dalam keadaan
yang tidak stabil. Lepasan radionuklida dapat terjadi melalui atmosfer maupun
melalui media air, tergantung pada jenis kecelakaan yang terjadi atau mekanisme
pelepasan ke lingkungan. Jika lepasannya melalui media udara (atmosfer) maka
mekanisme perpindahan atau transfer radionuklida ke lingkungan dan manusia
didahului dengan masuknya radionuklida ke dalam atmosfer, kemudian terdispersi di
udara dan selanjutnya terjadi perpindahan ke lingkungan (tanah, air, tanaman) dan ke
manusia. (Yarianto, 2007)
15
Kecelakaan nuklir menurut International Atomic Energy Agency (IAEA)
dibedakan menjadi 8 level. Level-level tersebut dikatagorikan berdasarkan tingkatan
pengaruh baik di dalam ataupun di luar instalasi nuklir. 8 level tersebut digambarkan
pada gambar 2.3. (Chairul, 2007)


Gambar 2.3. Delapan Level Kecelakaan Nuklir Menurut IAEA
Penjelasan setiap level kecelakaan nuklir dijelaskan sebagai berikut:
Level 7, kecelakaan nuklir yang mengakibatkan efek yang sangat besar terhadap
kesehatan dan lingkungan di dalam dan sekitar instalasi nuklir. Contoh:
kecelakaan Chernobyl yang terjadi di Ukraina pada tahun 1986.
16
Level 6, kecelakaan nuklir diindikasikan dengan keluarnya radioaktif yang
cukup signifikan, untuk instalasi nuklir ataupun kegiatan industri yang berbasis
raioaktif. Contoh: kecelakaan di Mayak, bekas Negara Uni Soviet pada tahun
1957.
Level 5, kecelakaan nuklir yang mengeluarkan zat radioaktif yang terbatas,
sehingga memerlukan pengukuran lebih lanjut. Contoh: kecelakaan/kebakaran
pada reaktor nuklir di Windscale, Inggris tahun 1957.
Level 4, kecelakaan nuklir yang mengakibatkan efek yang kecil terhadap
lingkungan sekitar, paparan dalam instalasi dan pada pekerja masih sesuai
dengan batas yang diizinkan. Contoh: Kecelakaan pada PLTN Saint-Laurent
(Perancis) tahun 1980, dan PLTN Tokaimura (Jepang ) tahun 1999.
Level 3, kecelakaan nuklir yang mengakibatkan efek yang sangat kecil dimana
masih dibawah level atau batas yang diizinkan, namun tidak ada perangkat
keselamatan yang memadai. Contoh: Kecelakaan pada THORP plant
Sellafield di Inggris tahun 2005.
Level 2, kecelakaan pada level ini tidak mengakibatkan efek apapun keluar
area, namun tetap ada kontaminasi di dalam area. Level ini juga
mengindikasikan kecelakaan yang disebabkan oleh kegagalan untuk memenuhi
syarat-syarat keselamatan yang seharusnya ada. Contoh: kecelakaan pada PLTN
Forsmark Swedia pada Juli 2006.
Level 1, kecelakaan yang merupakan anomaly dari pengoperasian sistem.
Sedangkan pada level 0, kecelakaan yang terjadi tidak memerlukan tingkat
keselamatan yang signifikan dan relevan. Disebut juga sebagai out of scale.
17
2.2.1 Radionuklida yang Terdispersi Akibat Kecelakaan Nuklir
Radionuklida yang terdispersi akibat kecelakaan nuklir, dalam hal ini pada
kejadian kecelakaan di PLTN Chernobyl 1986, yang berkontribusi utama pada
manusia yaitu
137
Cs,
131
I, dan
90
Sr yang masuk melalui jalur paparan tertentu.
Ditampilkan pada tabel 2.1, dan waktu peluruhannya pada tabel 2.2. (Rini, 2008).
Tabel 2.1. Radionuklida dan Masing-masing Jalur Paparan
Jalur paparan Radionuklida
Inhalasi
106
Ru,
131
I,
132
Te,
134
Cs,
137
Cs
Makanan
131
I,
134
Cs,
137
Cs
External awan gamma
132
I,
132
Te,
134
Cs,
136
Cs
Internal deposited gamma Pengukuran langsung dosis gamma untuk
30 hari pertama
External deposited gamma
106
Ru,
134
Cs,
137
Cs setelah 30 hari pertama

Tabel 2.2. Peluruhan Radionuklida
Radionuklida Konstanta peluruhan (hari) Waktu paro
137
Cs 6.3x10
-5
30 y
131
I 0.086 8.04 d
90
Sr 6.54x10
-5
29 y

2.3 Risiko Radiologi
Risiko radiologi adalah bentuk ekspresi dari kemungkinan terjadinya situasi
paparan potensial atau yang terencana yang memberikan suatu konsekuensi yang
spesifik, biasanya dinyatakan dalam bentuk dosis radiasi atau kerugian kesehatan dan
berhubungan dengan dampak sosial ekonomi. Risiko radiologi dapat terjadi baik di
dalam atau di luar instalasi nuklir. Risiko radiologi yang terjadi di luar instalasi nuklir
disebabkan, salah satunya, yaitu akibat terjadinya kecelakaan pada instalasi nuklir
yang mengakibatkan suku sumber yang berada di dalam instalasi terlepas keluar
18
instalasi dan mengalami dispersi (Rini, 2008 dan allan murray dan yanuar wibowo
2006 objective of assessing radiological risks national training course on radiological
risk assessment BATAN )

2.3.1 Dispersi
Lepasan radionuklida melalui atmosfer akan terdispersi ke lingkungan dan
selanjutnya dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan sifat fisis radionuklida. Beberapa
model dispersi telah dikembangkan, antara lain:
a. Lagrangian Puff, yang menghitung difusi bahan dalam gumpalan awan
sepanjang tiga sumbu arah angin bertiup, berlawanan arah angin, dan vertikal.
Lepasan kontinyu digambarkan sebagai suatu urutan puff, dan setiap urutan
dapat ditelusuri secara individu mengikuti perubahan kondisi meteorologi
selama waktu perjalanan.
b. Eulerian grid, model ini membagi area yang ditinjau dalam matrik bujursangkar
yang terdiri dari sel grid. Persamaan difusi kemudian diintegrasikan untuk
simulasi dispersi atmosfer. Model ini dapat digunakan untuk tiga dimensi arah
angin.
c. Gaussian Plume Model. Model ini banyak dipakai sebab relatif sederhana
dengan parameter yang mudah diukur seperti kecepatan angin dan tutupan
awan. Untuk lepasan dalam jangka panjang, model ini cocok digunakan
Model dispersi atmosferis disajikan untuk menghitung konsentrasi yang dapat
diaplikasikan untuk lepasan normal atau lepasan pada kecelakaan. Model-model yang
ada memenuhi tujuan berikut:
19
a. Menurunkan konsentrasi jangka pendek (Short term) yang biasanya
berlangsung selama beberapa jam dan nilai deposisi dalam rangka untuk menilai
dosis dan kemungkinan kejadian dari konsentrasi tinggi dan tingkat kontaminasi
di lingkungan
b. Menurunkan konsentrasi terintegrasi (jangka waktu yang lebih panjang biasanya
sampai satu bulan) dan nilai deposisi dalam rangka untuk menghitung nilai
dosis
c. Menurunkan konsentrasi yang dinormalisasi terintegrasi (kira-kira 1 tahun) dan
nilai deposisi untuk operasi rutin.

2.3.2 Jalur Paparan
Jalur paparan (exposure pathway) didefinisikan sebagai jalur atau simpul
dimana material radioaktif dapat mencapai atau meradiasi manusia. Lepasan bahan
radioaktif ke atmosfer akibat kecelakaan instalasi nuklir akan menyebabkan paparan
pada manusia melalui beberapa jalur. Radionuklida dalam bentuk airborne dapat
memberikan paparan melalui jalur iradiasi foton gamma dan elektron yang
diemisikan sebagai hasil peluruhan radioaktif. Iradiasi internal akan masuk melalui
inhalasi dan ingesti.
Radionuklida di plume berangsur-angsur akan mengalami penipisan melalui
proses deposisi (baik kering maupun basah) dan peluruhan radioaktif. Radionuklida
yang terdeposisi baik secara basah maupun kering ini selanjutnya akan mengalami
mekanisme perpindahan (transfer) ke lingkungan dan akan berlanjut pada paparan
terhadap manusia. Radionuklida yang terdeposisi ini masih memungkinkan masuk ke
20
dalam tubuh manusia melalui inhalasi setelah terlebih dahulu mengalami proses
resuspensi yang disebabkan oleh angin ataupun kegiatan manusia mengolah tanah.
Peluruhan radioaktif dari radionuklida terdeposisi akan menyebabkan paparan
eksternal berupa foton gamma dan elektron. Deposisi radionuklida pada tanaman dan
tanah akan menyebabkan transfer radionuiklida ke dalam tubuh manusia dan
menimbulkan paparan secara internal melalui makanan yang dikonsumsi.
Secara garis besar jalur paparan dapat dibedakan menjadi jalur paparan
eksternal dan jalur paparan internal. Paparan yang internal disebabkan oleh hirupan
radioaktivitas melalui pernafasan, kulit, tanpa sengaja lewat saluran pencernaran. Hal
yang paling penting untuk diperhatikan dalam mencegah radiasi internal yaitu untuk
mengupayakan terjadinya kontaminasi dan masuknya zat radioaktif ke dalam tubuh
sekecil mungkin. Cara pemasukan zat radioaktif ke dalam tubuh yaitu melalui
pernafasan dengan menghirup gas atau debu radioaktif, melalui saluran pencernaan
yaitu masuknya melalui mulut, dan melalui kulit atau luka yang terkontaminasi.
Sedangkan paparan eksternal disebabkan oleh radiasi | dan dari permukaan
yang terkontaminasi baik pada tubuh pekerja maupun daerah kerja, dan terjadi bila
sumber radiasi berada di luar tubuh manusia. Faktor-faktor yang diterapkan untuk
melindungi tubuh manusia dari radiasi eksternal adalah faktor waktu penyinaran,
jarak antara sumber radiasi dengan manusia, dan penahan radiasi yang digunakan
untuk menahan radiasi pengion. Adapun alur dari jalur paparan secara umum dapat
dilihat pada Gambar 2.4.
21

2.3.3 Radiasi Eksterna dari Udara
Radiasi eksterna dari udara (cloudshine) akan terjadi bila ada awan radioaktif
(udara yang menganduk zat radioaktif) yang melintas di atas manusia. Cloudshine
dalam hal ini didefinisikan sebagai udara di atmosfir yang mengandung zat
radioaktoif. Namun setelah kecelakaan nuklir berlalu dan tidak ada lagi material
radioaktif di atmosfer, maka manusia tidak akan terkena lagi paparan. Jadi jalur
paparan ini perlu diperhatikan pada awal terjadi kecelakaan, sebagai efek jangka
pendek. Dosis radiasi eksterna yang akan diterima oleh manusia juga tergantung pada
konsentrasi radionuklida dalam awan, dan faktor perlindungan (shielding). Orang
berada di kawasan perdesaan tentu akan lain dalam menerima paparan awan radiasi
dibandingkan yang berada di perkotaan. Pola hidup di perkotaan cenderung lebih
AWAN RADIOAKTIF DALAM ATMOSFER
Tanaman
Manusia
Hewan Tanah
deposisi deposisi
inhalasi
cloudshine
ingesti
Ingesti Transfer
tanaman-hewan
Groundshine ingesti
Transfer Tanah-
Tanaman
Umur, jenis
kelamin, ras
Pola, Konsumsi,
prosesing, faktor
konversi
Resuspended
Resuspensi
Inhalasi
Gambar 2.4. Garis Besar Jalur Paparan (Sumber: Yarianto, 2007)
22
banyak berada di dalam rumah, sehingga akan lebih terlindung dari paparan awan
(gamma). Demikian juga jenis pekerjaan, seperti petani yang cenderung bekerja di
alam terbuka tentu akan menjadi kelompok kritis dibandingkan oreng yang bekerja
dalam ruang tertutup. Penggunaan lahan, seperti perkebunan tanaman keras akan
memberikan perlindungan terhadap apparan awan . Jenis rumah juga akan
memberikan faktor konversi yang berbeda, misalnya rumah permanen dari tembok
akan memberikan perlindungan yang lebih baik dari pada rumah dari bambu yang
mungkin banyak terdapat lubang.
Dosis radioaktif pada manusia yang melalui jalur paparan cloudshine dapat
dihitung berdasarkan rumus matematis dari Krajewski (1994) dalam J. Crawford dkk
(2001):
( ) ( ) ( ) ( )( )c t t r d r S t t r A t t r D
0 1 1 0 1 0
, , , , =
Keterangan:
Parameter Keterangan Satuan
D(r,t
0
,t
1
) Dosis dari radionuklida Sv
A(r,t
0
,t
1
) Konsentrasi airborne rata-rata dalam interval waktu
[t
0
,t
1
]
Bq m
-3

S(r)* Faktor lokasi -
d(r) Faktor konversi dosis
Sv
Bqs m /
3

c 3600 * 24 detik hari
-1

[t
0
,t
1
] interval waktu paparan hari
*S(r) ((Fraksi waktu di luar ruangan) x (Faktor perisai di luar ruangan)) +
((Fraksi waktu di dalam ruangan) x (Faktor perisai di dalam ruangan))




23
2.3.4 Radiasi Interna Melalui Pernafasan (Inhalation)
Radiasi interna melalui pernafasan (inhalation) merupakan paparan radioaktif
yang masuk melalui pernafasan manusia dimana udara yang dihirup mengandung
unsur radioaktif. Dosis yang diterima manusia melalui jalur paparan pernafasan dapat
dihitung berdasarkan rumus matematis dari Krajewski (1994) dalam J. Crawford dkk
(2001):
( ) ( ) ( ) ) )( , ( ) , ( , , , ,
0 1 1 0 1 0
t t a r d a r I r F t t r A t t r D =
Keterangan:
Parameter Keterangan Satuan
D(r,t
0
,t
1
) Dosis dari radionuklida r Sv
A(r,t
0
,t
1
) Konsentrasi airborne rata-rata dalam interval waktu
[t
0
,t
1
]
Bq m
-3

F(r)* Faktor filter
I(r,a) Kecepatan inhalasi m
3
jam
-1

d(r,a) Faktor konversi dosis Sv Bq
-1

[t
0
,t
1
] interval waktu paparan hari
* F(r) ((Fraksi waktu di luar ruangan) x (Faktor perisai di luar ruangan)) +
((Fraksi waktu di dalam ruangan) x (Faktor perisai di dalam ruangan))


2.3.5 Radiasi Eksterna dari Material yang Terdeposisi di Tanah (Groundshine)
Radiasi eksterna dari material yang terdeposisi di tanah (groundshine)
merupakan paparan radioaktif yang berasal dari material radioaktif yang terdeposisi
di tanah, material radioaktif yang terkandung dalam tanah ini akan memberikan
paparan kepada manusia sebagai groundshine. Dosis radiasi ini dihitung berdasarkan
jumlah material radioaktif yang terdeposisi (konsentrasi) dikalikan dengan suatu
faktor konversi dosis yang sudah tersedia pustakanya. Radionuklida seperti Ru-103,
Ru-106, I-131, Te-132, Cs-137 dan Ba-140 adalah radionuklida yang signifikan dari
suatu kecelakaan fasilitas nuklir (PLTN, reaktor fisi) yang akan terdeposisi di tanah.
24
Dosis radioaktif yang diterima manusia melalui jalur paparan groundshine dapat
dihitung berdasarkan rumus matematis dari Mller and Prhl (1993) dalam J.
Crawford dkk (2001):
( ) ( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
| |
}
+ +
+ =
1
0
2 1
) , ( ) , (
1 0
, 1 , , ,
t
t
t s r r t s r r
dt e s r e s r c r d r S r G t t r D

o o
Keterangan:
Parameter Keterangan Satuan
D(r,t
0
,t
1
)
Dosis radionuklida r dalam interval waktu t
0

sampai dengan t
1

Sv
G(r) Konsentrasi total pada permukaan Bq m
-2

S(r)* Faktor lokasi
d(r) Faktor konversi dosis
2
/ m Bqs
Sv

o(r,s) Faktor komponen bergerak
(r) Laju peluruhan radionuklida hari
-1

1
(r,s) Kecepatan migrasi pergerakan komponen pada tanah hari
-1

2
(r,s) Kecepatan migrasi komponen tetap pada tanah hari
-1

[t
0
,t
1
] interval waktu, dihitung setelah satu hari hari
-1

C 3600 * 24 detik hari
-1

*S(r) ((Fraksi waktu di luar ruangan) x (Faktor perisai di luar ruangan)) +
((Fraksi waktu di dalam ruangan) x (Faktor perisai di dalam ruangan))


2.3.6 Radiasi Interna Melalui jalur Ingesti
Radiasi interna melalui jalur ingesti adalah jalur paparan melalui rantai
makanan dan hal ini merupakan jalur yang paling komplek, karena melibatkan
banyak simpul. Radionuklida yang terdeposisi ke tanaman dapat langsung
mengkontaminasi permukaan tanaman. Jika tanaman ini langsung dikonsumsi oleh
manusia (misalnya daun atau batang muda dari tanaman bayam, kangkung, dll), maka
radionuklida ini dapat langsung masuk ke dalam tubuh manusia sebagai paparan
25
internal. Tentu saja dalam mengkonsumsi bahan pangan sejenis ini biasanya
dibersihkan dahulu, sehingga sebagian besar radionuklida akan terbuang.
Material radioaktif yang terdeposisi dalam permukaan tanaman (misalnya daun
atau batang) dapat mengalami translokasi dan masuk ke dalam tubuh tanaman. Jika
material radioaktif ini bergerak mencapai dan tinggal dalam bagian tanaman yang
dimakan oleh manusia (misalnya dalam buah atau daun) maka akan menjadi jalur
paparan interna melalui ingesti.
Material radioaktif yang terdeposisi ke permukaan tanah, selanjutnya dapat
masuk ke dalam tanah dan dapat terserap oleh tanaman melalui root uptake. Tanaman
ini menjadi terkontaminasi dan selanjutnya jika dikonsumsi oleh manusia, maka akan
memberikan paparan interna.
Tanaman yang terkontaminasi inipun mungkin juga akan dimakan oleh hewan
(ternak) dan selanjutnya manusia akan memakan daging hewan ternak atau produk
hewan ternak (telur, susu).

2.4 Efek Radiasi Pada Manusia
Efek radiasi pada manusia mengakibatkan adanya perubahan sel dan kerusakan
sel. Perubahan sel terjadi akibat penerimaan radiasi pengion oleh sel tersebut,
perubahan yang terjadi tidak selalu membahayakan. Sedangkan kerusakan sel
menggambarkan tingkat perumbahan yang menyebabkan tidak berfungsinya sel,
kerusakan sel tidak selalu menyebabkan kelainan bagi seseorang yang menerima
paparan. (Hidayati, 2008)
26
Efek radiasi pada manusia dapat diklasifikasikan pada dua kategori yaitu efek
non-stokastik dan efek stokastik. Efek non-stokastik dicirikan oleh hubungan sebab
akibat deterministik antara dosis dan efek. Efek tersebut terjadi jika dosis yang
diterima melampaui nilai ambang batas tertentu, dan jarang muncul dibawah nilai
tersebut. Nilai dari ambang untuk suatu efek bervariasi pada individu dan kondisi
pemaparan. Sebagai contoh, efek non-stokastik tidak ganas dimana untuk nilai
ambang yang sedemikian untuk luka kulit, katarak, penurunan sel sumsum tulang
yang menyebabkan defisiensi hematologi dan kerusakan sel gonad yang akhirnya
dapat meyebabkan kemandulan.
Untuk dosis diatas nilai ambang, tingkat keparahan dari kerusakan akan
berhubungan dengan dosis, makin tinggi dosis makin berat efek yang
ditimbulkannya. Efek non-stokastik biasanya tidak tertunda.
Terjadinya efek stokastik akan diikuti dengan hubungan peluang antara efek
terhadap dosis. Jika populasi dipapari dengan radiasi, efek stokastik akan muncul
pada hanya beberapa orang, secara acak, sehingga disebut stokastik. Efek somatik,
biasanya penyakit ganas dan efeknya menurun dan dianggap stokastik pada
jangkauan dosis yang dipakai dalam proteksi radiasi. Studi statistik menunjukkan
bahwa frekuensi alamiah dari penyakit yang sedemikian bervariasi, kadang dapat
dipertimbangkan, dengan lingkungan, hubungan keturunan dan faktor lain.
Selain jenis klasifikasi ini, dapat pula diklasifikasikan khususnya pada hal yang
menyatakan efeknya saja pada individu yang terpapar atau pada efek yang terjadi
pada turunannya. Yang pertama disebut efek somatik, dan yang kedua disebut efek
herediter/menurun. Lebih lanjut lagi efek somatik dapat dibedakan atas, efek segera
27
(early effect) dan efek tertunda (late effect) mengacu kepada lamanya waktu sebelum
munculnya efek tersebut. Efek segera adalah efek yang muncul relatif cepat terhadap
waktu setelah pemaparan, sedangkan efek tertunda adalah efek yang muncul setelah
waktu lama setelah pemaparan, termasuk diantaranya adalah kanker dan katarak.
Klasifikasi tersebut adalah efek radiasi dan dapat di gambarkan pada tabel 2.3.
Tabel 2.3. Klasifikasi Efek Radiasi
Efek
Somatik
Efek segera
Erythema
Epilasi
Penurunan jumlah lekosit
Sterilitas
Efek Non
Stokastik
Efek tertunda
Katarak Efek pada fetus
Kanker
Efek Stokastik
E f e k H e r e d i t e r

Kanker dan efek herediter diklasifikasikan kedalam kategori efek stokastik.
Dengan memperhatikan efek stokastik, dipertimbangkan bahwa tidak ada nilai
ambang batas dari segi proteksi radiasi. Dianggap bahwa bahkan jumlah radiasi yang
kecil saja dapat menyebabkan efek jenis ini. Hubungan antara jumlah radiasi yang
diterima dan laju terjadinya efek merupakan hubungan yang sebanding. Data pada
efek radiasi yang didapat melalui data dengan menggunakan dosis tinggi dan laju
dosis tinggi digunakan untuk memprediksi derajat efek pada dosis rendah
Efek non stokastik terdiri dari efek kemerahan pada kulit, kerontokan rambut,
sterilitas dan efek pada fetus. Dengan mengacu pada efek non-stokastik, ada batas
bawah dari nilai ambang dimana efek tidak akan menurun. Nilai ambang dari efek
non stokastik akan diberikan dalam tabel 2.4, dengan mengambil contoh dari kasus
untuk seluruh tubuh yang terpapari.
28
Tabel 2.4. Gejala yang Timbul Setelah Paparan Akut Seluruh Tubuh
0.1 Gy
0.5 Gy
1.0 Gy
1.5 Gy
2.5 - 5 Gy
7 - 10
Perubahan dideteksi pada pemeriksaan kromosom
Penurunan jumlah lekosit
Pusing dan muntah (terjadi pada kira-kira 10 % individu)
Batas dosis kematian
LD50/60*( Death of the bone-marrow syndrome)
LD100/60 ( Death of the bone marrow syndrome )
- Dosis radiasi yang meyebabkan kematian 50 % individu dalam waktu 60 hari.

2.4.1 Dosis Efektif
Dosis efektif adalah dosis ekivalen yang mempertimbangkan tingkat kepekaan
organ atau jaringan tubuh terhadap efek stokastik akibat radiasi. Dosis ekivalen
didefinisakan sebagai dosis serap yang mempertimbangkan kemampuan radiasi untuk
menimbulkan kerusakan pada satu organ atau jaringan. Sedangkan dosis serap
didefinisakan sebagai energi radiasi rata-rata () yang diserap bahan per satuan massa
(dm) bahan tersebut. Dirumuskan sebagai berikut: (Dra, elisabeth S, Pemodelan dosis
2008 Radiological risk assesment pusdiklat batan)

d =energi yang diserap oleh bahan yang mempunyai massa dm.

Pada penyinaran seluruh tubuh di mana setiap organ /jaringan menerima dosis
ekivalen yang sama ternyata memberikan efek biologi pada setiap organ/jaringan
yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh perbedaan sensitivitas organ/jaringan tersebut
terhadap radiasi. Dalam hal ini efek radiasi yang diperhitungkan adalah efek
stokastik. Oleh karena itu diperlukan besaran lain yang disebut dosis efektif, E
T
.
Tingkat kepekaan organ atau jaringan tubuh terhadap efek stokastik akibat radiasi
disebut faktor bobot organ atau faktor bobot jaringan tubuh, W
T
. Tabel 2.5
memberikan nilai faktor bobot berbagai organ tubuh.
D = d/dm
29
Tabel 2.5. Nilai Faktor Bobot Berbagai Organ Tubuh
No Organ Atau Jaringan Tubuh W
T
*
1 Organ atau Jaringan Tubuh 0,20
2 Gonad 0,12
3 Colon 0,12
4 Lambung 0,12
5 Paru-paru 0,12
6 Ginjal 0,05
7 Payudara 0,05
8 Liver 0,05
9 Oesophagus 0,05
10 Kelenjar Gondok (tiroid) 0,05
11 Kulit 0,01
12 Permukaan Tulang 0,01
13 Organ atau jaringan tubuh sisanya 0,05
* Berdasarkan ICRP No 60 (1990)
2.4.2 Dosis Kolektif
Dosis kolektif adalah dosis ekivalen atau dosis efektif yang digunakan apabila
penyinaran terjadi pada sekelompok besar populasi (penduduk). Penyinaran ini
biasanya muncul apabila terjadi kecelakaan nuklir atau kecelakaan radiasi. Dosis
kolektif dipergunakan untuk memperkirakan berapa jumlah manusia dalam populasi
tersebut yang menderita akibat radiasi dengan memperhitungkan faktor risiko.
(Elisabeth, 2008)

2.5 Batasan Keselamatan Radiasi
Batas keselamatan radiasi harus mengacu pada asas proteksi radiasi yang
meliputi justifikasi, limitasi, dan optimisasi. (PP No. 27 Tahun 2002) Justifikasi
adalah pemanfaatan radioaktif atau sumber radiasi yang menghasilkan keuntungan
yang lebih besar kepada seseorang atau masyarakat yang terkena radiasi
dibandingkan dengan kerugian yang ditimbulkannya, dengan memperhatikan faktor
30
sosial, ekonomi, dan faktor lain yang sesuai. Limitasi adalah batas penerimaan dosis
radiasi pada seseorang yang tidak boleh melampaui nilai batas dosis yang telah
ditetapkan oleh Badan Pengawas. Sedangkan optimisasi adalah upaya untuk
memperkecil atau meminimalisir besarnya dosis radiasi yang diterima oleh seseorang
atau masyarakat terhadap pemanfaatan sumber radiasi, dengan memperhatikan faktor
sosial dan ekonomi. (Wisnu, 2007)
Nilai batas dosis (NBD) adalah penerimaan dosis yang tidak boleh dilampaui
oleh seseorang pekerja radiasi selama jangka waktu setahun, tidak bergantung pada
laju dosis, baik pada penyinaran eksterna maupun interna, tetapi tidak termasuk
penerimaan dosis dari penyinaran alam. (Wisnu, 2007)

2.5.1 NBD Untuk Pekerja Radiasi
NBD untuk penyinaran seluruh tubuh ditetapkan 50 mSv (5000 mrem) per
tahun
NBD untuk wanita dalam usia subur tidak lebih dari 13 mSv (1300 mrem)
dalam jangka waktu 13 minggu dan tidak melebihi NBD untuk pekerja
radiasi.
NBD untuk wanita hamil tidak boleh melebihi 10 mSv (1000 mrem) selama
kehamilan
NBD untuk penyinaran lokal dalam setahun dosis rata-rata pada setiap organ
atau bagian jaringan yang terkena harus tidak melebihi 500 mSv (50000
mrem) dalam setahun. Batas dosis untuk lensa mata adalah 150 mSv (15000
mrem) dalam setahun, batas dosis untuk kulit adalah 500 mSv (50000 mrem),
31
dan batas dosis untuk tangan, lengan, kaki, dan tungkai adalah 500 mSv
(50000 mrem) dalam setahun.
NBD untuk magang dan siswa yang berumur minimal 18 tahun sama dengan
NBD untuk pekerja radiasi.

2.5.2 NBD Untuk Masyarakat Umum
NBD untuk penyinaran seluruh tubuh ditetapkan 5 mSv (500 mrem) dalam
setahun
NBD untuk yang bersifat lokal dalam setahun dosis rata-rata dalam tiap organ
atau jaringan yang terkena tidak melebihi 50 mSv (5000 mrem). Batas dosis
untuk lensa mata adalah 15 mSv (1500 mrem) dalam setahun, untuk kulit 50
mSv (5000 mrem) dalam setahun, dan batas dosis untuk tangan, lengan, kaki,
dan tungkai adalah 50 mSv (5000 mrem) dalam setahun.

2.6 COSYMA
COSYMA (Code System from MARIA) adalah sebuah software yang
digunakan untuk menilai dampak dari kecelakaan radiologi. COSYMA merupakan
sebuah proyek dari The European Commissions (EC) MARIA (Methods for
Assessing Radiological Impac of Accidents) yang dimulai pada tahun 1983 untuk
membuat kajian akibat kecelakaan nuklir yang dapat dipakai diseluruh Eropa. Salah
satu tujuan proyek ini adalah untuk mengembangkan program komputer, yang
dinamai COSYMA. COSYMA dirancang agar mudah digunakan dengan PC
(Personal Computer) biasa. Versi pertama PC COSYMA diluncurkan tahun 1993
32
dan versi ke dua pada tahun 1995 dengan tambahan perhitungan ekonomi untuk
kesiapsiagaan nuklir. PC COSYMA merupakan program berbasis sistem operasi
DOS.
Secara garis besar, PC Cosyma dibagi dalam 3 bagian, yaitu Input Interface,
Calculation Program, dan Result Interface. Input Interface menggunakan menu
berturutan untuk memasukkan data. Dalam Input Interface akan menentukan atau
memilih proses perhitungan yang akan digunakan. Calculation program digunakan
untuk mengeksekusi input yang sudah dimasukkan. Sedangkan, Result Interface
digunakan untuk melihat hasil eksekusi.
Untuk menjalankan PC COSYMA dan mendapatkan hasil yang diinginkan
terlebih dahulu harus menyediakan data untuk proses data input. Data-data tersebut,
yaitu data meteorologi yang dibutuhkan, data populasi yang diinginkan, data
pertanian dan peternakan pada populasi diinginkan, dan terakhir data mengenai suku
sumber pada instalasi nuklir yang akan diteliti. PC COSYMA dalam melakukan
proses perhitungan pertama akan menghitung konsentrasi udara dan deposisi untuk
setiap radionuklida yang dimasukkan ke dalam suku sumber, dengan menghitung
dispersi atmosfir terlebih dahulu. Selanjutnya, PC COSYMA akan menentukan
tindakan pasca kecelakaan yang harus dilakukan, mencakup luasan daerah dan waktu
dengan mempertimbangkan jumlah populasi manusia, produksi pertanian, dan
produksi peternakan. Kemudian, dilakukan penghitungan dosis individu, dosis
kolektif, dan risiko kesehatan untuk jangka pendek dan jangka panjang. Terakhir,
seluruh proses perhitungan tersebut akan ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik
yang kemudian akan diolah dan diintepretasikan. (J Brown, dkk., 1995)
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL


3.1 Kerangka Konsep
Penelitian ini merupakan penelitian mengenai analisis risiko radiologi mengenai
konsentrasi pada jalur paparan dan dosis radiasi pada manusia akibat terdispersinya
radioaktif dari instalasi nuklir yang mengalami kecelakaan yang dipostulasikan di
Reaktor G.A Siwabessy tahun 2009. Kemudian, dilakukan analisis rencana tindakan
kegawat daruratan nuklir di sekitar Reaktor.
Untuk mencapai tujuan tersebut maka dilakukanlah simulasi berupa kecelakaan
nuklir pada Reaktor G.A. Siwabessy, dengan tiga asumsi kejadian kecelakaan nuklir.
Pertama, kecelakaan yang terjadi akibat melelehnya satu bahan bakar nuklir dengan
sistem filter berfungsi normal. Kedua, kecelakaan yang terjadi akibat melelehnya satu
bahan bakar nuklir dengan sistem filter yang tidak berfungsi dengan normal. Ketiga,
kecelakaan yang terjadi akibat melelehnya lima bahan bakar nuklir dengan sistem filter
berfungsi dengan normal.
Untuk mendukung proses simulasi tersebut maka diperlukan data meteorologi
selama satu tahun, data kependudukan, dan data suku sumber pada reaktor nuklir G.A
Siwabessy. Secara ringkas kegiatan penelitian ini dapat digambarkan dalam kerangka
konsep, pada gambar 3.1.


34








Gambar 3.1. Kerangka Konsep Penelitian Analisis Resiko Radiologi pada Reaktor G.A
Siwabessy, BATAN, Serpong

3.2 Definisi Operasional
Definisi oprasional dalam penelitian ini dijelaskan melalui tabel 3.1.
Tabel 3.1 Definisi Oprasional
Variabel Definisi oprasional
Skala
pengukuran
Alat ukur Hasil ukur
Dosis
radioaktif pada
masyarakat
Besarnya dosis
radioaktif yang
diterima oleh
masyarakat untuk
setiap jalur paparan
Groundshine,
Cloudshine, dan
Inhalation yang
dikategotikan
berdsarkan usia
Rasio Perhitungan
dengan
rumus
matematis
Dosis
radioaktif
dalam Sv
Asumsi kejadian
kecelakaan nuklir
Meteorologi
Data kependudukan
Suku sumber
Konsentrasi pada jalur
paparan:
o Tanah
(Groundshine)
o Udara (Cloudshine)
o Pernafasan
(Inhalation)
1. Dosis radioaktif pada
masyarakat berdasarkan usia
pada jalur paparan:
o Tanah (Groundshine)
o Udara (Cloudshine)
o Pernafasan (Inhalation)
2. Analisis rencana tindakan
kegawat daruratan nuklir
Teknologi Keselamatan
Reaktor G.A Siwabessy
35

Konsentrasi
pada tanah
(Groundshine)
Konsentrasi radioaktif
pada jalur paparan
tanah (groundshine)

Rasio Perangkat
lunak
Konsentrasi
radioaktif
dalam Bqs m
-2

Konsentrasi
pada udara
(Couldshine)
Konsentrasi radioaktif
pada jalur paparan
udara (cloudshine)
Rasio Perangkat
lunak
Konsentrasi
radioaktif
dalam Bqs m
-2

Konsentrasi
pada
pernafasan
(Inhalation)
Konsentrasi radioaktif
pada jalur paparan
pernafasan/inhalasi
(Inhalation)
Rasio Perangkat
lunak
Konsentrasi
radioaktif
dalam Bqs m
-2

Dosis pada
tanah
(Groundshine)
Dosis radioaktif yang
diterima oleh
masyarakat
berdasarkan katergori
usia pada jalur paparan
tanah (groundshine)

Rasio Persamaan
Matematis
dari Mller
and Prhl
(1993)
Dosis
radioaktif
dalam Sv
Dosis pada
udara
(Couldshine)
Dosis radioaktif yang
diterima oleh
masyarakat
berdasarkan katergori
usia pada jalur paparan
udara (cloudshine)
Rasio Persamaan
Matematis
dari
Krajewski
(1994)
Dosis
radioaktif
dalam Sv
Dosis pada
pernafasan
(Inhalation)
Dosis radioaktif yang
diterima oleh
masyarakat
berdasarkan katergori
usia pada jalur paparan
pernafasan/inhalasi
(Inhalation)
Rasio Persamaan
Matematis
dari
Krajewski
(1994)
Dosis
radioaktif
dalam Sv
36

Asumsi
kejadian
kecelakaan
nuklir
Kejadian kecelakaan
nuklir yang
disimulasikan dengan
menggunakan
perangkat lunak
- - -

3.2.1 Hipotesis Penelitian
Hipotesis umum dalam penelitian ini, yaitu:
1. Dosis pada jalur paparan tanah untuk usia > 7 tahun lebih kecil dari nilai batas
dosis yang ditentukan untuk masyarakat umum, yaitu 5 mSv.
2. Dosis pada jalur paparan udara untuk usia > 2 tahun lebih kecil dari nilai batas
dosis yang ditentukan untuk masyarakat umum, yaitu 5 mSv.
3. Dosis pada jalur paparan pernafasan untuk usia 12 17 tahun lebih kecil dari
nilai batas dosis yang ditentukan untuk masyarakat umum, yaitu 5 mSv.
4. Dosis pada jalur paparan pernafasan untuk usia > 17 tahun lebih kecil dari nilai
batas dosis yang ditentukan untuk masyarakat umum, yaitu 5 mSv.


37

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN


4.1 Desain Penelitian
Desain penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif deskriptif yang
bertujuan untuk mengetahui risiko radiologi yang berupa konsentrasi pada setiap jalur
paparan dan dosis radiasi pada manusia akibat terdispersinya radioaktif dari
kecelakaan instalasi nuklir yang dipostulasikan di Reaktor G.A Siwabessy tahun 2009.
Kemudian melakukan analisis rencana tindakan kegawatdaruratan nuklir akibat
kecelakaan yang dipostulasikan.

4.2 Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei s.d September 2009 yang bertempat
di Pusat Teknologi Reaktor dan Keselamatan Nuklir, BATAN, Serpong, Tangerang.

4.3 Sumber Data
Data yang dikumpulkan berupa data-data primer dan sekunder. Data primer yang
didapat adalah berupa data konsentrasi radioaktif dari hasil perhitungan PC COSYMA.
Sedangkan data sekunder lainnya adalah data meteorologi satu tahun, data
kependudukan, dan data suku sumber dari reaktor nuklir G.A Siwabessy. Ketersediaan
data meteorologi dan suku sumber telah disediakan di PTRKN (Pusat Teknologi
38

Reaktor dan Keselamatan Nuklir) BATAN. Sedangkan untuk data kependudukan
diperoleh dari BPS (Badan Pusat Statistik) Kabupaten Tangerang tahun 2007.

4.4 Langkah Penelitian
4.4.1 Pra Simulasi
Pra simulasi diawali dengan pengumpulan data-data yang dibutuhkan untuk
input data pada proses simulasi. Data-data tersebut adalah data meteorologi, suku
sumber, dan kependudukan. Setelah pengumpulan data-data tersebut, dibuatkan peta
wilayah untuk radiaus 5 km dari pusat reakor nuklir G.A Siwabessy. Wilayah tersebut
dibagi dalam 5 radius, kemudian wilayah itu dibagi dalam 16 sektor yang berdasarkan
arah mata angin, dengan perbedaan sudut 22,5
o
. Pembagian wilayahnya digambarkan
pada gambar 4.1.

39











Gambar 4.1. Pembagian wilayah dalam radius 5 km dan 16 sektor dari pusat reaktor
nuklir G.A. Siwabessy BATAN Serpong

4.4.2 Proses Simulasi
Proses Simulasi diawali dengan input data ke dalam PC COSYMA yang berupa
data meteorologi, suku sumber, dan kependudukan. Terdapat tiga simulasi yang akan
dilakukan dalam penelitian ini, yaitu:
1) Kecelakaan nuklir akibat terjadinya kegagalan di dalam reaktor berupa
melelehnya satu bahan bakar dengan sistem filter berfungsi normal.
2) Kecelakaan nuklir akibat terjadinya kegagalan di dalam reaktor berupa
melelehnya satu bahan bakar dengan sistem filter tidak berfungsi.
3) Kecelakaan nuklir akibat terjadinya kegagalan di dalam reaktor berupa
melelehnya lima bahan bakar dengan sistem filter berfungsi normal.
40

Setelah itu, data-data tersebut akan diproses berdasarkan output yang
dikehendaki. Output yang dikehendaki yaitu konsentrasi radionuklida pada setiap jenis
simulasi untuk jalur paparan tanah, udara, dan pernafasan. Karena keterbatasan
pengetahuan peneliti, maka proses pengolahan data di PC COSYMA dibantu oleh
pihak PTRKN BATAN.
4.4.3 Perhitungan Dosis Radioaktif
Hasil output dari PC COSYMA, yang berupa nilai konsentrasi radionuklida,
akan digunakan untuk memperkirakan dosis paparan radionuklida pada masyarakat.
Perhitungan dosis ini dibedakan berdasarkan jalur paparan dan dikategorikan
berdasarkan usia. Perhitungan dosis radionuklida dihitung secara matematis, dengan
persamaan sebagai berikut:
4.4.3.1 Dosis Paparan Tanah (Groundshine)
Perhitungan dosis radioaktif yang diterima manusia melalui jalur paparan
groundshine dari Mller and Prhl (1993) dalam J. Crawford dkk (2001):

( ) ( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
| |
}
+ +
+ =
1
0
2 1
) , ( ) , (
1 0
, 1 , , ,
t
t
t s r r t s r r
dt e s r e s r c r d r S r G t t r D

o o
41

Keterangan:
Parameter Keterangan Satuan
D(r,t
0
,t
1
)
Dosis radionuklida r dalam interval waktu t
0

sampai dengan t
1

Sv
G(r) Konsentrasi total pada permukaan Bq m
-2

S(r)* Faktor lokasi
d(r) Faktor konversi dosis
2
/ m Bqs
Sv

o(r,s) Faktor komponen bergerak
(r) Laju peluruhan radionuklida hari
-1

1
(r,s) Kecepatan migrasi pergerakan komponen pada tanah hari
-1

2
(r,s) Kecepatan migrasi komponen tetap pada tanah hari
-1

[t
0
,t
1
] interval waktu, dihitung setelah satu hari hari
-1

C 3600 * 24 detik hari
-1

*S(r) ((Fraksi waktu di luar ruangan) x (Faktor perisai di luar ruangan)) +
((Fraksi waktu di dalam ruangan) x (Faktor perisai di dalam ruangan))

4.4.3.2 Dosis Paparan Udara (Cloudshine)
Perhitungan dosis radioaktif yang diterima manusia melalui jalur paparan
cloudshine dari Krajewski (1994) dalam J. Crawford dkk (2001):


Keterangan:
Parameter Keterangan Satuan
D(r,t
0
,t
1
) Dosis dari radionuklida Sv
A(r,t
0
,t
1
) Konsentrasi airborne rata-rata dalam interval waktu
[t
0
,t
1
]
Bq m
-3

S(r)* Faktor lokasi -
d(r) Faktor konversi dosis
Sv
Bqs m /
3

c 3600 * 24 detik hari
-1

[t
0
,t
1
] interval waktu paparan hari
*S(r) ((Fraksi waktu di luar ruangan) x (Faktor perisai di luar ruangan)) +
((Fraksi waktu di dalam ruangan) x (Faktor perisai di dalam ruangan))

( ) ( ) ( ) ( )( )c t t r d r S t t r A t t r D
0 1 1 0 1 0
, , , , =
42

4.4.3.3 Dosis Paparan Pernafasan (Inhalation)
Perhitungan dosis radioaktif yang diterima manusia melalui jalur paparan
inhalation dari Krajewski (1994) dalam J. Crawford dkk (2001):

Keterangan:
Parameter Keterangan Satuan
D(r,t
0
,t
1
) Dosis dari radionuklida r Sv
A(r,t
0
,t
1
) Konsentrasi airborne rata-rata dalam interval waktu
[t
0
,t
1
]
Bq m
-3

F(r)* Faktor filter
I(r,a) Kecepatan inhalasi m
3
jam
-1

d(r,a) Faktor konversi dosis Sv Bq
-1

[t
0
,t
1
] interval waktu paparan hari
* F(r) ((Fraksi waktu di luar ruangan) x (Faktor perisai di luar ruangan)) +
((Fraksi waktu di dalam ruangan) x (Faktor perisai di dalam ruangan))

4.4.4 Analisis Rencana Kegawat Daruratan Nuklir
Analisis rencana kegawat daruratan nuklir akan dilakukan berdasarkan data
penyebaran konsentrasi radionuklida dalam radius 5 km dari reaktor nuklir G.A
Siwabessy yang terbagi menjadi 16 sektor.

4.5 Pengolahan dan Analisa Data
4.5.1 Pengolahan Data
Data yang diperoleh dari penelitian ini merupakan kumpulan angka-angka.
Data-data yang terkumpul kemudian diolah dengan tahapan sebagai berikut:
( ) ( ) ( ) ) )( , ( ) , ( , , , ,
0 1 1 0 1 0
t t a r d a r I r F t t r A t t r D =
43

1. Editting, memeriksa kelengkapan untuk seluruh data konsentrasi radionuklida
pada groundshine, cloudshine, dan inhalation yang merupakan hasil output
dari PC COSYMA.
2. Processing, setelah memeriksa kelengkapan data input, data-data tersebut
kemudian diproses untuk dilakukan perhitungan dosis radioaktif untuk setiap
radionuklida berdasarkan persamaan/rumus matematis yang digunakan.
Perhitungan tersebut dilakukan berdasarkan asumsi-asumsi yang valid pada
sumber kepustakaan yang ada.
3. Cleaning, data yang diperoleh dari hasil proses pengolahan data, kemudian
akan dipilih berdasarkan tujuan yang diinginkan oleh peneliti.
4. Manajemen data, data-data yang diperoleh dari hasil cleaning, akan disusun
kembali baik dalam betuk grafik ataupun tabel yang lebih sederhana agara
sesuai dengan keinginan peneliti.
5. Analisis data, seluruh data-data akan diolah serta disusun sebagai hasil yang
akan dilaporkan.

4.5.2 Analisa Data
Analisa data akan dilakukan pada data konsentrasi radionuklida dan dosis
radioaktif. Data tersebut dianalisa secara statistik dengan menggunakan t-test (one tail
test) satu sampel satu sisi untuk sisi bawah. Tujuannya adalah untuk mengetahui
apakah dosis radionuklida pada jalur paparan tanah, udara, dan pernafasan melebihi
nilai batas dosis untuk masyarakat umum yang diizinkan oleh BAPETEN.
44
BAB V
HASIL


5.1 Gambaran Umum Reaktor G.A Siwabessy
5.1.1 Sejarah Singkat
Kegiatan pengembangan dan pengaplikasian teknologi nuklir di Indonesia
diawali dari pembentukan Panitia Negara untuk Penyelidikan Radioaktivitet tahun
1954. Panitia Negara tersebut mempunyai tugas melakukan penyelidikan terhadap
kemungkinan adanya jatuhan radioaktif dari uji coba senjata nuklir di lautan Pasifik.
Dengan memperhatikan perkembangan pendayagunaan dan pemanfaatan tenaga
atom bagi kesejahteraan masyarakat, maka melalui Peraturan Pemerintah No. 65
tahun 1958, pada tanggal 5 Desember 1958 dibentuklah Dewan Tenaga Atom dan
Lembaga Tenaga Atom (LTA), yang kemudian disempurnakan menjadi Badan
Tenaga Atom Nasional (BATAN).
Pada perkembangan berikutnya, untuk lebih meningkatkan penguasaan di
bidang iptek nuklir, pada tahun 1965 diresmikan pengoperasian reaktor atom pertama
(Triga Mark II) di Bandung. Kemudian berturut-turut, dibangun beberapa fasilitas
litbangyasa yang tersebar di berbagai pusat penelitian, antara lain Pusat Penelitian
Tenaga Atom Pasar Jumat, Jakarta (1966), Pusat Penelitian Tenaga Atom GAMA,
Yogyakarta (1967), dan Reaktor Serba Guna G.A Siwabessy dengan daya 30 MW
(1987) disertai fasilitas penunjangnya, seperti fabrikasi dan penelitian bahan bakar,
uji keselamatan reaktor, dan pengelolaan limbah radioaktifdanfasilitas nuklir lainnya.
45
Reaktor serba guna G.A. Siwabessy dibangun di Kawasan Pusat Penelitian Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi (PUSPIPTEK) Serpong. Reaktor ini didisain dan
dibangun oleh Interatom Gmbh dari Republik Federasi Jerman sejak tahun 1983.
Bangunan sipil dan prasarana fisik dikerjakan oleh kontraktor dalam negeri
Pembangunan reaktor serba guna berlangsung sekitar empat tahun, yaitu sejak tahap
ekskavasi gedung pada bulan Mei 1983 sampai dengan reaktor kritis pada bulan Juli
1987, kemudian diresmikan oleh presiden RI pada tanggal 20 Agustus 1987.
Akhirnya pada bulan Maret 1992 dicapai operasi reaktor pada daya penuh 30 MW.

5.1.2 Tugas dan Fungsi
Tugas pokok Pusat Reaktor G.A Siwabessy sesuai dengan KEPPRES No. 198
tahun 1998 adalah melaksanakan penelitian dan pengembangan teknologi reaktor,
pengoperasian reaktor G.A Siwabessy, melakukan pelayanan iradiasi serta
bertanggung jawab terhadap keselamatan yang ditetapkan oleh Kepala Badan Tenaga
Nuklir Nasional.
Reaktor G.A Siwabessy berfungsi sebagai sarana iradiasi untuk produksi radio
isotop, pengembangan elemen bakar dan komponen reaktor, penelitian dalam bidang
sains materi dan berbagai litbang lain dalam bidang industri nuklir.

5.1.3 Pembagian Cakupan Wilayah di Sekitar Reaktor G.A Siwabessy
Pembagian cakupan wilayah dilakukan untuk memudahkan peneliti dalam
menganalisis dampak radiologi di sekitar instalasi nuklir G.A Siwabessy. Dari hasil
pengamatan terdapat 18 wilayah (desa/kelurahan), yaitu : Buaran, Ciater, Rawabuntu,
46
Serpong, Dangdang, Suradita, Kranggan, Muncul, Setu, Babakan, Kademangan,
Cibogo, Cisauk, Sampora, Pengasinan, Gunung Sindur, Pabuaran, dan Sukamulya.
Seluruh wilayah itu tersebar dalam empat kecamatan dan dua kabupaten (Kab.
Tangerang dan Kab. Bogor).
Demografi kependudukan, untuk tahun 2001 wilayah itu dihuni oleh sekitar
162.873 jiwa penduduk. Tahun 2005 dihuni oleh sekitar 177.833 jiwa. Kini, tahun
2009, diperkirakan dihuni oleh 192.261 jiwa. Rata-rata pertumbuhan pertahun
penduduk di wilayah itu sebesar 2,25 persen. (Lampiran 5)
Dalam penelitian ini, wilayah-wilayah itu dibagi kedalam lima radius, yaitu 0,5
km, 1,5 km, 2,5 km, 3,5 km, dan 4,5 km, selanjutnya dibagi kembali menjadi 16
sektor yang sama berdasarkan arah mata angin dengan masing-masing sektor sebesar
22.5. (Gambar 5.1)









Gambar 5.1. Pembagian daerah sekitar lokasi instalasi reaktor nuklir G.A Siwabessy
yang terbagi menjadi 5 ruas radial dan 16 sektor
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
47
5.2 Radionuklida yang Terdispesi ke Lingkungan Akibat Postulasi Kecelakaan
Nuklir
Dalam tiga simulasi yang dilakukan terdapat beberapa jenis radionuklida yang
terdispersi akibat postulasi kecelakaan nuklir di reaktor G.A Siwabessy, beberapa
diantaranya Cs-134, Cs-137, Ru-106, I-131, I-132, dan Te-132. Semua radionuklida
tersebut tersebar melalui 3 jalur paparan, tanah (goundshine), udara (cloudshine), dan
pernafasan (inhalation). (Tabel 5.1)

Tabel 5.1. Jalur paparan dan radionuklida penting yang terkandung pada
setiap jalur paparan dalam tiga jenis skenario kecelakaan

No Jalur paparan Radionuklida
1 Tanah (goundshine) Cs-134, Cs-137, dan Ru-106
2 Udara (cloudshine) Cs-134, I-132, dan Te-132
3 Pernafasan (inhalation) Cs-134, Cs-137, I-131, Ru-106, dan Te-132

5.3 Perkiraan Cakupan Wilayah yang Terkena Dampak dari Postulasi
Kecelakaan Nuklir
Cakupan wilayah yang terkena dampak akibat simulasi kecelakaan nuklir
berdasarkan skenario (postulasi) dibedakan berdasarkan setiap jenis simulasi, maka
dalam hal ini terdapat tiga jenis cakupan wilayah. Pembagian ini dilakukan peneliti
berdasarkan penyebaran konsentrasi radionuklida yang tersebar ke lingkungan
(lampiran 9).
Pada skenario kecelakaan simulasi ke-1 wilayah-wilyah utama yang terkena
dampak adalah wilayah yang berada pada sektor 8, 9, dan 10. Adapun wilayah yang
48
berada pada seluruh sektor 1 dan sektor 2 radius 1 hal itu tidak dijadikan wilayah
utama karena wilayah tersebut hanya tersebar konsentrasi Ru-106. (Gambar 5.2)









Gambar. 5.2. Cakupan wilayah yang terkena dampak akibat skenario kecelakaan
nuklir untuk jenis simulasi ke-1 di reaktor G.A siwabessy BATAN Serpong

Desa/kelurahan yang berada pada sektor 8, 9, dan 10 diantaranya Gunung
sindur, Sukamulya, dan Pabuaran. Diperkirakan jumlah penduduk yang terkena
dampak sedikitnya terdapat 17.688 jiwa dari 30.949 jiwa, atau 57,15 % dari seluruh
penduduk. (Grafik 5.1)





9
1
2
3
4
5
6
7
8 10
11
12
13
14
15
16
49
9
1
2
3
4
5
6
7
8 10
11
12
13
14
15
16

Grafik 5.1. Perkiraan jumlah penduduk yang terkena dampak akibat skenario
kecelakaan simulasi ke-1

Pada skenario kecelakaan simulasi ke-2 wilayah-wilyah utama yang terkena
dampak adalah wilayah yang berada pada sektor 1, 8, 9, 10, 16 (radius 1), dan 2
(radius 1). Sehingga sedikitnya terdapat 6 desa/kelurahan di wilyah tersebut. (Gambar
5.3)









Gambar. 5.3. Cakupan wilayah yang terkena dampak akibat skenario kecelakaan
nuklir simulasi ke-2 di reaktor G.A siwabessy BATAN Serpong

Gunung sindur Sukamulya Pabuaran
Jumlah Penduduk 9,315 13,338 8,296
Terkena dampak 8,384 2,668 6,637
0
2,000
4,000
6,000
8,000
10,000
12,000
14,000
16,000
J
u
m
l
a
h

P
e
n
d
u
d
u
k
(
j
i
w
a
)
50
Enam desa/kelurahan yang berada di sektor-sektor tersebut diataranya Gunung
sindur, Sukamulya, Pabuaran, Muncul, Kranggan, dan Serpong. Diperkirakan jumlah
penduduk yang terkena dampak sedikitnya 36.325 jiwa dari 57.545 jiwa, atau 63,12%
dari seluruh penduduk. (Grafik 5.2)

Grafik 5.2. Perkiraan jumlah penduduk terkena dampak akibat scenario
kecelakaan simulasi ke-2

Pada skenario kecelakaan simulasi ke-3 wilayah-wilyah utama yang terkena
dampak adalah wilayah yang berada pada sektor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11 (radius
1-3), 12 (radius 1 & 2), 13 (radius 1 ), 14 (radius 1 & 2), 15 (radius 1 & 2), dan 16
(radius 1-3). Sehingga sedikitnya terdapat 16 desa/kelurahan di wilayah tersebut.
(Gambar 5.4)






Gunun
g
sindur
Sukam
ulya
Pabuar
an
Muncu
l
Kadem
angan
Serpon
g
Jumlah penduduk 9,315 13,338 8,296 5,528 5,411 15,657
Penduduk terkena dampak 8,384 2,668 6,637 1,658 4,453 12,526
0
2,000
4,000
6,000
8,000
10,000
12,000
14,000
16,000
18,000
P
e
n
d
u
d
u
k
(
j
i
w
a
)
51
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16












Gambar. 5.4. Cakupan wilayah yang terkena dampak akibat skenario kecelakaan
nuklir untuk jenis simulasi ke-3 di reaktor G.A siwabessy BATAN Serpong

16 desa/kelurahan yang berada pada sektor-sektor tersebut diantaranya Gunung
sindur, Sukamulya, Pabuaran, Muncul, Kranggan, Serpong, Kademangan, Buaran,
Ciater, Rawabuntu, Sampora, Setu, Babakan, Cibogo, Pangasinan, dan Suradita.
Diperkirakan jumlah penduduk yang terkena dampak sedikitnya 145.271 jiwa dari
174.934 jiwa, atau 83,04 % dari seluruh penduduk. (Grafik 5.3)
52
Grafik 5.3. Perkiraan jumlah penduduk yang terkena dampak akibat
skenario kecelakaan simulasi ke-3

5.4 Konsentrasi Radionuklida Pada Setiap Jalur Paparan
5.4.1 Konsentrasi Radionuklida Pada Jalur Paparan Tanah
Berdasarkan nilai konsentrasi (Bq/m
2
) dari jalur paparan groundshine
(Lampiran 8), terdapat tiga jenis radionuklida penting yang terdeposisi melalui jalur
paparan ini, diantaranya Cs-134, Cs-137, dan Ru-106.
Pada skenario kecelakaan simulasi ke-1 nilai konsentrasi untuk radionuklida Cs-
134, Cs-137, dan Ru-106 disajikan pada tabel 5.2. Diantara ketiga radionuklida
tersebut Ru-106 merupakan radionuklida yang memiliki nilai konsentrasi maksimum
dan rata-rata terbesar, sedangkan nilai konsentrasi maksimum dan rata-rata terkecil
adalah Cs-134.

0
2,000
4,000
6,000
8,000
10,000
12,000
14,000
16,000
18,000
20,000
P
e
n
d
u
d
u
k
Jumlah penduduk Penduduk terkena dampak
53
Tabel 5.2. Nilai konsentrasi radionuklida melalui jalur paparan tanah untuk skenario
kecelakaan simulasi ke-1

No Radionuklia
Konsentrasi (Bq/m
2
)
Maksimum Minimum Rata-rata
1 Cs-134 0,0111 0 1,98 x 10
-04

2 Cs-137 0,04226 0 7,53 x 10
-04

3 Ru-106 0,08695 0 1,58 x 10
-03


Pada skenario kecelakaan simulasi ke-2 nilai konsentrasi untuk radionuklida Cs-
134, Cs-137, dan Ru-106 disajikan pada tabel 5.3. Diantara ketiga radionuklida
tersebut Ru-106 merupakan radionuklida yang memiliki nilai konsentrasi maksimum
dan rata-rata terbesar, sedangkan nilai konsentrasi maksimum dan rata-rata terkecil
adalah Cs-134.
Tabel 5.3. Nilai konsentrasi radionuklida melalui jalur paparan tanah
untuk skenario kecelakaan simulasi ke-2

No Radionuklia
Konsentrasi (Bq/m
2
)
Maksimum Minimum Rata-rata
1 Cs-134 1,98 0 3,60 x 10
-02

2 Cs-137 7,535 0 1,37 x 10
-01

3 Ru-106 12,69 0 2,30 x 10
-01


Pada skenario kecelakaan simulasi ke-3 nilai konsentrasi untuk radionuklida Cs-
134, Cs-137, dan Ru-106 disajikan pada tabel 5.4. Diantara ketiga radionuklida
tersebut Ru-106 merupakan radionuklida yang memiliki nilai konsentrasi maksimum
dan rata-rata terbesar, sedangkan nilai konsentrasi maksimum dan rata-rata terkecil
adalah Cs-134.



54
Tabel 5.4. Nilai konsentrasi radionuklida melalui jalur paparan tanah
untuk skenario kecelakaan simulasi ke-3

No Radionuklia
Konsentrasi (Bq/m
2
)
Maksimum Minimum Rata-rata
1 Cs-134 0,0555 0 1,04 x 10
-03

2 Cs-137 0,211 0 3,94 x 10
-03

3 Ru-106 0,3545 0 6,62 x 10
-03


Dalam setiap jenis simulasi radionuklida Ru-106 memiliki nilai konsentrasi
terbesar diatara radionuklida lainnya. Nilai konsentrasi Ru-106 terbesar berada pada
skenario kecelakaan simulasi ke-2 adalah 2,30 x 10
-01
Bq/m
2
.

5.4.2 Konsentrasi Radionuklida pada udara
Berdasarkan nilai konsentrasi (Bq/m
2
) dari jalur paparan udara (Lampiran 8),
terdapat tiga jenis radionuklida penting yang terdispersi melalui jalur paparan ini,
diantaranya Cs-134, I-132, dan Te-132.
Pada skenario kecelakaan simulasi ke-1 nilai konsentrasi untuk radionuklida Cs-
134, I-132, dan Te-132 disajikan pada tabel 5.5. Diantara ketiga radionuklida tersebut
Te-132 merupakan radionuklida yang memiliki nilai konsentrasi maksimum dan rata-
rata terbesar, sedangkan nilai konsentrasi maksimum dan rata-rata terkecil adalah Cs-
134.
Tabel 5.5. Nilai konsentrasi radionuklida melalui jalur paparan udara
untuk skenario kecelakaan simulasi ke-1

No Radionuklia
Konsentrasi (Bq/m
2
)
Maksimum Minimum Rata-rata
1 Cs-134 11,1 0 1,98 x 10
-01

2 I-132 1,27 x 10
03
0 2,13 x 10
01

3 Te-132 1,64 x 10
05
0 2,92 x 10
03

55
Pada skenario kecelakaan simulasi ke-2 nilai konsentrasi untuk radionuklida Cs-
134, I-132, dan Te-132 disajikan pada tabel 5.6. Diantara ketiga radionuklida tersebut
Te-132 merupakan radionuklida yang memiliki nilai konsentrasi maksimum dan rata-
rata terbesar, sedangkan nilai konsentrasi maksimum dan rata-rata terkecil adalah Cs-
134.
Tabel 5.6. Nilai konsentrasi radionuklida melalui jalur paparan udara untuk skenario
kecelakaan simulasi ke-2

No Radionuklia
Konsentrasi (Bq/m
2
)
Maksimum Minimum Rata-rata
1 Cs-134 1980 0 36,0
2 I-132 1,16 x 10
07
0 2,08 x 10
05

3 Te-132 2,60 x 10
07
0 4,70 x 10
05


Pada skenario kecelakaan simulasi ke-3 nilai konsentrasi untuk radionuklida
Cs-134, I-132, dan Te-132 disajikan pada tabel 5.7. Diantara ketiga radionuklida
tersebut Te-132 merupakan radionuklida yang memiliki nilai konsentrasi maksimum
dan rata-rata terbesar, sedangkan nilai konsentrasi maksimum dan rata-rata terkecil
adalah Cs-134.
Tabel 5.7. Nilai konsentrasi radionuklida melalui jalur paparan udara
untuk simulasi ke-3

No Radionuklia
Konsentrasi (Bq/m
2
)
Maksimum Minimum Rata-rata
1 Cs-134 55,5 0 1,04
2 I-132 3,81 x 10
03
0 7,37 x 10
01

3 Te-132 4,92 x 10
05
0 9,16 x 10
03




56
5.4.3 Konsentrasi Radionuklida pada Pernafasan
Berdasarkan dari nilai konsentrasi (Bqs/m
3
) jalur paparan pernafasan (Lampiran
8), terdapat lima jenis radionuklida penting yang terdispersi melalui jalur paparan ini,
diantaranya Cs-134, Cs-137, I-131, Ru-106, dan Te-132.
Pada skenario kecelakaan simulasi ke-1 nilai konsentrasi untuk radionuklida Cs-
134, Cs-137, I-131, Ru-106, dan Te-132 disajikan pada tabel 5.8. Diantara kelima
radionuklida tersebut I-131 merupakan radionuklida yang memiliki nilai konsentrasi
maksimum dan rata-rata terbesar, sedangkan untuk nilai konsentrasi maksimum dan
rata-rata terkecil yaitu Cs-134.
Tabel 5.8. Nilai konsentrasi radionuklida melalui jalur paparan pernafasan untuk
skenario kecelakaan simulasi ke-1

No Radionuklia
Konsentrasi (Bq/m
2
)
Maksimum Minimum Rata-rata
1 Cs-134 11,1 0 1,98 x 10
-01

2 Cs-137 4,23 x 10
01
0 7,53 x 10
01

3 I-131 7,83 x 10
05
0 1,35 x 10
04

4 Ru-106 7,11 x 10
01
0 1,27
5 Te-132 1,64 x 10
05
0 2,92 x 10
03


Pada skenario kecelakaan simulasi ke-2 nilai konsentrasi untuk radionuklida Cs-
134, Cs-137, I-131, Ru-106, dan Te-132 disajikan pada tabel 5.9. Diantara kelima
radionuklida tersebut Te-132 merupakan radionuklida yang memiliki nilai
konsentrasi maksimum dan rata-rata terbesar, sedangkan nilai konsentrasi maksimum
dan rata-rata terkecil yaitu Cs-134.



57
Tabel 5.9. Nilai konsentrasi radionuklida melalui jalur paparan udara
untuk skenario kecelakaan simulasi ke-2

No Radionuklia
Konsentrasi (Bq/m
2
)
Maksimum Minimum Rata-rata
1 Cs-134 1980 0 36,0
2 Cs-137 7,54 x 10
03
0 1,37 x 10
02

3 I-131 1,64 x 10
07
0 2,88 x 10
05

4 Ru-106 1,27 x 10
04
0 2,30 x 10
02

5 Te-132 2,60 x 10
07
0 4,70 x 10
05


Pada skenario kecelakaan simulasi ke-3 nilai konsentrasi untuk radionuklida Cs-
134, Cs-137, I-131, Ru-106, dan Te-132 disajikan pada tabel 5.10. Diantara ketiga
radionuklida tersebut I-131 merupakan radionuklida yang memiliki nilai konsentrasi
maksimum dan rata-rata terbesar, sedangkan nilai konsentrasi maksimum dan rata-
rata terkecil adalah Cs-134.

Tabel 5.10. Nilai konsentrasi radionuklida melalui jalur paparan pernafasan
untuk skenario kecelakaan simulasi ke-3

No Radionuklia
Konsentrasi (Bq/m
2
)
Maksimum Minimum Rata-rata
1 Cs-134 55,5 0 1,04
2 Cs-137 2,11 x 10
02
0 3,94
3 I-131 3,92 x 10
06
0 7,04 x 10
04

4 Ru-106 3,55 x 10
02
0 6,62
5 Te-132 4,92 x 10
05
0 9,16 x 10
03


5.5 Dosis yang Diterima Melalui Setiap Jalur Paparan
5.5.1 Dosis Paparan Eksterna Dari Jalur Paparan Groundshine
Dosis paparan eksterna dari jalur paparan tanah (groundshine) yang diterima
oleh masyarakat dihitung secara matematis dengan menggunakan persamaan 1.1.

58

( ) ( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
| |
}
+ +
+ =
1
0
2 1
) , ( ) , (
1 0
, 1 , , ,
t
t
t s r r t s r r
dt e s r e s r c r d r S r G t t r D

o o

(Persamaan 1.1)

5.5.1.1 Dosis yang Diterima Untuk Usia > 2 Tahun
Pada skenario kecelakaan simulasi ke-1 dosis yang diterima oleh masyarakat
untuk usia > 2 tahun, hasil dari perhitungan dengan menggunakan persamaan di atas,
ditampilkan pada tabel 5.11. Untuk asumsi-asumsi yang digunakan dalam
perhitungan itu dapat dilihat pada lampiran 7.
Tabel 5.11. Penerimaan dosis (Sv) radionuklida untuk usia > 2 tahun dalam
skenario kecelakaan simulasi ke-1

Radionuklida Sektor
Radius (km)
0.5 1.5 2.5 3.5 4.5
Cs-134
Sektor 8 2.94E-14 1.99E-16 9.95E-18 1.72E-18 1.80E-19
Sektor 9 9.10E-12 1.98E-12 9.16E-13 5.44E-13 3.75E-13
Sektor 10 2.94E-14 1.99E-16 9.95E-18 1.72E-18 1.80E-19
Cs-137
Sektor 8 4.75E-18 3.21E-20 1.61E-21 2.78E-22 2.90E-23
Sektor 9 1.47E-15 3.20E-16 1.48E-16 8.79E-17 6.06E-17
Sektor 10 4.75E-18 3.21E-20 1.61E-21 2.78E-22 2.90E-23
Ru-106
Sektor 8 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
Sektor 9 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
Sektor 10 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00











59
Jika dalam bentuk grafik maka tabel di atas ditampilkan sebagai berikut:


Grafik 5.4. Penerimaan dosis (Sv) radionuklida untuk usia > 2 tahun dalam
skenario kecelakaan simulasi ke-1

Berdasarkan grafik diatas maka penerimaan dosis radionuklida pada skenario
kecelakaan simulasi ini yang terbesar yaitu Cs-134 yang terdapat pada sektror 9.
Sedangkan Cs-137 dan Ru-106 konsentrasinya mendekati 0 Sv dan bernilai 0 Sv.
Hasil dari uji-t satu sampel satu sisi untuk sisi bawah pada dosis ini
menunjukkan bahwa p-value bernilai 0,000. Nilai p-value=0,000 untuk uji ini lebih
kecil dari = 0,05, sehingga menolak H
0
: 0,005. Jadi dapat disimpulkan bahwa
rata-rata penerimaan dosis yang diterima oleh masyarakat untuk usia > 2 tahun yang
melalui jalur paparan tanah pada skenario kecelakaan simulasi ke-1 tidak melebihi
0,005 Sv.
Pada skenario kecelakaan simulasi ke-2 dosis yang diterima oleh masyarakat
untuk usia > 2 tahun, hasil dari perhitungan dengan menggunakan persamaan di atas,
0.00E+00
1.00E-12
2.00E-12
3.00E-12
4.00E-12
5.00E-12
6.00E-12
7.00E-12
8.00E-12
9.00E-12
1.00E-11
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
Cs-134 Cs-137 Ru-106
K
o
n
s
e
n
t
r
a
s
i
Radius 0.5
Radius 1.5
Radius 2.5
Radius 3.5
Radius 4.5
60
ditampilkan pada tabel 5.12. Untuk asumsi-asumsi yang digunakan dalam
perhitungan itu dapat dilihat pada lampiran 7.

Tabel 5.12. Penerimaan dosis (Sv) radionuklida untuk usia > 2 tahun dalam
skenario kecelakaan simulasi ke-2

Radionuklida Sektor
Radius (km)
0.5 1.5 2.5 3.5 4.5
Cs-134
Sektor 8 5.26E-12 3.55E-14 1.64E-15 2.78E-16 2.27E-17
Sektor 9 1.63E-09 3.54E-10 1.65E-10 9.93E-11 7.06E-11
Sektor 10 5.26E-12 3.55E-14 1.64E-15 2.78E-16 2.27E-17
Cs-137
Sektor 8 8.47E-16 5.72E-18 2.65E-19 4.49E-20 3.66E-21
Sektor 9 2.62E-13 5.71E-14 2.66E-14 1.60E-14 1.14E-14
Sektor 10 8.47E-16 5.72E-18 2.65E-19 4.49E-20 3.66E-21
Ru-106
Sektor 8 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
Sektor 9 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
Sektor 10 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00


Jika dalam bentuk grafik maka tabel di atas ditampilkan sebagai berikut:



Grafik 5.5. Penerimaan dosis (Sv) radionuklida untuk usia > 2 tahun dalam
skenario kecelakaan simulasi ke-2

0.00E+00
2.00E-10
4.00E-10
6.00E-10
8.00E-10
1.00E-09
1.20E-09
1.40E-09
1.60E-09
1.80E-09
Sektor
8
Sektor
9
Sektor
10
Sektor
8
Sektor
9
Sektor
10
Sektor
8
Sektor
9
Sektor
10
Cs-134 Cs-137 Ru-106
K
o
n
s
e
n
t
r
a
s
i
Radius 0.5
Radius 1.5
Radius 2.5
Radius 3.5
Radius 4.5
61
Berdasarkan grafik diatas maka penerimaan dosis radionuklida pada skenario
kecelakaan simulasi ini yang terbesar yaitu Cs-134 yang terdapat pada sektror 9.
Sedangkan Cs-137 dan Ru-106 konsentrasinya mendekati 0 Sv dan bernilai 0 Sv.
Hasil dari uji-t satu sampel satu sisi untuk sisi bawah pada dosis ini
menunjukkan bahwa p-value bernilai 0,000. Nilai p-value=0,000 untuk uji ini lebih
kecil dari = 0,05, sehingga menolak H
0
: 0,005. Jadi dapat disimpulkan bahwa
rata-rata penerimaan dosis yang diterima oleh masyarakat untuk usia > 2 tahun yang
melalui jalur paparan tanah pada simulasi ke-2 tidak melebihi 0,005 Sv.
Terkahir, pada skenario kecelakaan simulasi ke-3 dosis yang diterima oleh
masyarakat untuk usia > 2 tahun, hasil dari perhitungan dengan menggunakan
persamaan di atas, ditampilkan pada tabel 5.13. Untuk asumsi-asumsi yang
digunakan dalam perhitungan itu dapat dilihat pada lampiran 7.

Tabel 5.13. Penerimaan dosis (Sv) radionuklida untuk usia > 2 tahun
dalam simulasi ke-3

Radionuklida Sektor
Radius (km)
0.5 1.5 2.5 3.5 4.5
Cs-134
Sektor 8 1.499E-13 1.251E-14 4.441E-14 3.552E-13 3.601E-13
Sektor 9 4.55E-11 9.94E-12 4.73E-12 3.82E-12 2.79E-12
Sektor 10 1.47E-13 1.34E-15 8.07E-15 7.98E-15 2.89E-16
Cs-137
Sektor 8 2.42E-17 2.02E-18 7.16E-18 5.73E-17 5.81E-17
Sektor 9 7.34E-15 1.60E-15 7.63E-16 6.17E-16 4.51E-16
Sektor 10 2.37E-17 2.15E-19 1.30E-18 1.29E-18 4.66E-20
Ru-106
Sektor 8 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
Sektor 9 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
Sektor 10 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00







62
Jika dalam bentuk grafik maka tabel di atas ditampilkan sebagai berikut:


Grafik 5.6. Penerimaan dosis (Sv) radionuklida untuk usia > 2 tahun
dalam simulasi ke-3

Berdasarkan grafik diatas maka penerimaan dosis radionuklida pada skenario
kecelakaan simulasi ini yang terbesar yaitu Cs-134 yang terdapat pada sektror 8.
Sedangkan Cs-137 dan Ru-106 konsentrasinya mendekati 0 dan bernilai 0 Sv.
Hasil dari uji-t satu sampel satu sisi untuk sisi bawah pada dosis ini
menunjukkan bahwa p-value bernilai 0,000. Nilai p-value=0,000 untuk uji ini lebih
kecil dari = 0,05, sehingga menolak H
0
: 0,005. Jadi dapat disimpulkan bahwa
rata-rata penerimaan dosis yang diterima oleh masyarakat untuk usia > 2 tahun yang
melalui jalur paparan tanah pada simulasi ke-3 tidak melebihi 0,005 Sv.

5.5.2 Dosis Paparan Eksterna Dari Jalur Paparan Cloudshine
Dosis paparan eksterna dari jalur paparan udara (cloudshine) yang diterima oleh
masyarakat dihitung secara matematis dengan menggunakan persamaan 1.2.

( ) ( ) ( ) ( )( )c t t r d r S t t r A t t r D
0 1 1 0 1 0
, , , , = (Persamaan 1.2)
0.00E+00
5.00E-11
1.00E-10
1.50E-10
2.00E-10
2.50E-10
3.00E-10
3.50E-10
4.00E-10
Sektor
8
Sektor
9
Sektor
10
Sektor
8
Sektor
9
Sektor
10
Sektor
8
Sektor
9
Sektor
10
Cs-134 Cs-137 Ru-106
K
o
n
s
e
n
t
r
a
s
i
Radius 0.5
Radius 1.5
Radius 2.5
Radius 3.5
Radius 4.5
63
5.5.2.1 Dosis yang Diterima Untuk Usia > 2 Tahun
Pada skenario kecelakaan simulasi ke-1 dosis yang diterima oleh masyarakat
untuk usia > 2 tahun, hasil dari perhitungan dengan menggunakan persamaan di atas,
ditampilkan pada tabel 5.14. Untuk asumsi-asumsi yang digunakan dalam
perhitungan itu dapat dilihat pada lampiran 7.
Tabel 5.14. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Cloudshine
untuk usia > 2 Tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-1

Radionuklida Sektor
Radius (km)
0.5 1.5 2.5 3.5 4.5
Cs-134
Sektor 8 1.34E-15 9.07E-18 4.54E-19 7.85E-20 8.20E-21
Sektor 9 4.15E-13 9.04E-14 4.18E-14 2.48E-14 1.71E-14
Sektor 10 1.34E-15 9.07E-18 4.54E-19 7.85E-20 8.20E-21
I-132
Sektor 8 2.29E-13 1.43E-15 5.15E-17 5.86E-18 1.16E-18
Sektor 9 7.07E-11 1.43E-11 4.71E-12 2.81E-12 1.92E-12
Sektor 10 2.29E-13 1.43E-15 5.15E-17 5.86E-18 1.16E-18
Te-132
Sektor 8 2.62E-12 1.76E-14 8.79E-16 1.51E-16 1.57E-17
Sektor 9 8.11E-10 1.76E-10 8.11E-11 4.77E-11 3.29E-11
Sektor 10 2.62E-12 1.76E-14 8.79E-16 1.51E-16 1.57E-17

Jika dalam bentuk grafik maka tabel di atas ditampilkan sebagai berikut:


Grafik 5.7. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Cloudshine
untuk usia > 2 Tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-1
0.00E+00
1.00E-10
2.00E-10
3.00E-10
4.00E-10
5.00E-10
6.00E-10
7.00E-10
8.00E-10
9.00E-10
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
Cs-134 I-132 Te-132
K
o
n
s
e
n
t
r
a
s
i
Radius 0.5
Radius 1.5
Radius 2.5
Radius 3.5
Radius 4.5
64
Berdasarkan grafik diatas maka penerimaan dosis radionuklida pada skenario
kecelakaan simulasi ini yang terbesar yaitu Te-132 yang terdapat pada sektror 9.
Sedangkan I-132 konsentrasinya < 1,00E-10 Sv dan Cs-134 sangat kecil dan
mendekati 0 Sv.
Hasil dari uji-t satu sampel satu sisi untuk sisi bawah pada dosis ini
menunjukkan bahwa p-value bernilai 0,000. Nilai p-value=0,000 untuk uji ini lebih
kecil dari = 0,05, sehingga menolak H
0
: 0,005. Jadi dapat disimpulkan bahwa
rata-rata penerimaan dosis yang diterima oleh masyarakat untuk usia > 2 tahun yang
melalui jalur paparan udara pada simulasi ke-1 tidak melebihi 0,005 Sv.
Pada skenario kecelakaan simulasi ke-2 dosis yang diterima oleh masyarakat
untuk usia > 2 tahun, hasil dari perhitungan dengan menggunakan persamaan di atas,
ditampilkan pada tabel 5.15. Untuk asumsi-asumsi yang digunakan dalam
perhitungan itu dapat dilihat pada lampiran 7.

Tabel 5.15. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Cloudshine
untuk usia > 2 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-2

Radionuklida Sektor
Radius (km)
0.5 1.5 2.5 3.5 4.5
Cs-134
Sektor 8 2.40E-13 1.62E-15 7.48E-17 1.27E-17 1.03E-18
Sektor 9 7.42E-11 1.61E-11 7.54E-12 4.53E-12 3.22E-12
Sektor 10 2.40E-13 1.62E-15 7.48E-17 1.27E-17 1.03E-18
I-132
Sektor 8 2.09E-09 1.32E-11 5.62E-13 9.25E-14 6.96E-15
Sektor 9 6.44E-07 1.31E-07 5.92E-08 3.56E-08 2.52E-08
Sektor 10 2.09E-09 1.32E-11 5.62E-13 9.25E-14 6.96E-15
Te-132
Sektor 8 4.14E-10 2.79E-12 1.28E-13 2.16E-14 1.76E-15
Sektor 9 1.28E-07 2.78E-08 1.29E-08 7.72E-09 5.48E-09
Sektor 10 4.14E-10 2.79E-12 1.28E-13 2.16E-14 1.76E-15





65
Jika dalam bentuk grafik maka tabel di atas ditampilkan sebagai berikut:


Grafik 5.8. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Cloudshine untuk usia
> 2 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-2

Berdasarkan grafik diatas maka penerimaan dosis radionuklida pada skenario
kecelakaan simulasi ini yang terbesar yaitu I-132 yang terdapat pada sektror 9.
Sedangkan Te-132 konsentrasinya < 2,00E-07 Sv dan Cs-134 sangat kecil dan
mendekati 0 Sv.
Hasil dari uji-t satu sampel satu sisi untuk sisi bawah pada dosis ini
menunjukkan bahwa p-value bernilai 0,000. Nilai p-value=0,000 untuk uji ini lebih
kecil dari = 0,05, sehingga menolak H
0
: 0,005. Jadi dapat disimpulkan bahwa
rata-rata penerimaan dosis yang diterima oleh masyarakat untuk usia > 2 tahun yang
melalui jalur paparan udara pada simulasi ke-2 tidak melebihi 0,005 Sv.
Pada skenario kecelakaan simulasi ke-3 dosis yang diterima oleh masyarakat
untuk usia > 2 tahun, hasil dari perhitungan dengan menggunakan persamaan di atas,
ditampilkan pada tabel 5.16. Untuk asumsi-asumsi yang digunakan dalam
perhitungan itu dapat dilihat pada lampiran 7.
0.00E+00
1.00E-07
2.00E-07
3.00E-07
4.00E-07
5.00E-07
6.00E-07
7.00E-07
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
Cs-134 I-132 Te-132
K
o
n
s
e
t
r
a
s
i
Radius 0.5
Radius 1.5
Radius 2.5
Radius 3.5
Radius 4.5
66
Tabel 5.16. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Cloudshine
untuk usia > 2 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-3

Radionuklida Sektor
Radius (km)
0.5 1.5 2.5 3.5 4.5
Cs-134
Sektor 8 6.84E-15 5.71E-16 2.03E-15 1.62E-14 1.64E-14
Sektor 9 2.08E-12 4.53E-13 2.16E-13 1.74E-13 1.27E-13
Sektor 10 6.71E-15 6.09E-17 3.68E-16 3.64E-16 1.32E-17
I-132
Sektor 8 2.11E-12 5.65E-12 9.96E-14 2.43E-14 3.32E-15
Sektor 9 2.12E-10 5.49E-11 2.00E-13 1.18E-13 8.12E-14
Sektor 10 7.35E-13 8.35E-15 1.08E-16 6.74E-17 2.56E-18
Te-132
Sektor 8 8.00E-12 6.65E-13 2.35E-12 1.87E-11 1.89E-11
Sektor 9 2.43E-09 5.28E-10 2.51E-10 2.01E-10 1.47E-10
Sektor 10 7.85E-12 7.09E-14 4.27E-13 4.20E-13 1.51E-14

Jika dalam bentuk grafik maka tabel di atas ditampilkan sebagai berikut:


Grafik 5.9. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Cloudshine
untuk usia > 2 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-3

Berdasarkan grafik diatas maka penerimaan dosis radionuklida pada skenario
kecelakaan simulasi ini yang terbesar yaitu T-132 yang terdapat pada sektror 9.
Sedangkan I-132 konsentrasinya < 5,00E-10 Sv dan Cs-134 sangat kecil dan
mendekati 0 Sv.

0.00E+00
5.00E-10
1.00E-09
1.50E-09
2.00E-09
2.50E-09
3.00E-09
Sektor
8
Sektor
9
Sektor
10
Sektor
8
Sektor
9
Sektor
10
Sektor
8
Sektor
9
Sektor
10
Cs-134 I-132 Te-132
Radius 0.5
Radius 1.5
Radius 2.5
Radius 3.5
Radius 4.5
67
Hasil dari uji-t satu sampel satu sisi untuk sisi bawah pada dosis ini
menunjukkan bahwa p-value bernilai 0,000. Nilai p-value=0,000 untuk uji ini lebih
kecil dari = 0,05, sehingga menolak H
0
: 0,005. Jadi dapat disimpulkan bahwa
rata-rata penerimaan dosis yang diterima oleh masyarakat untuk usia > 2 tahun yang
melalui jalur paparan udara pada simulasi ke-3 tidak melebihi 0,005 Sv.

5.5.3 Dosis Paparan Interna Dari Jalur Paparan Inhalation
Dosis paparan eksterna dari jalur paparan pernafasan (inhalation) yang diterima
oleh masyarakat dihitung secara matematis dengan menggunakan persamaan 1.3.





5.5.3.1 Dosis yang Diterima Untuk Usia 12 17 Tahun
Pada skenario kecelakaan simulasi ke-1 dosis yang diterima oleh masyarakat
untuk usia 12 17 tahun, hasil dari perhitungan dengan menggunakan persamaan di
atas, ditampilkan pada tabel 5.17. Untuk asumsi-asumsi yang digunakan dalam
perhitungan itu dapat dilihat pada lampiran 7.








( ) ( ) ( ) ) )( , ( ) , ( , , , ,
0 1 1 0 1 0
t t a r d a r I r F t t r A t t r D = (Persamaan 1.3)
68
Tabel 5.17. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Inhalation untuk usia
12 17 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-1

Radionuklida Sektor
Radius (km)
0.5 1.5 2.5 3.5 4.5
Cs-134
Sektor 8 2.31E-14 1.56E-16 7.82E-18 1.35E-18 1.41E-19
Sektor 9 7.15E-12 1.56E-12 7.20E-13 4.27E-13 2.95E-13
Sektor 10 2.31E-14 1.56E-16 7.82E-18 1.35E-18 1.41E-19
Cs-137
Sektor 8 6.15E-14 4.16E-16 2.08E-17 3.60E-18 3.76E-19
Sektor 9 1.90E-11 4.14E-12 1.92E-12 1.14E-12 7.85E-13
Sektor 10 6.15E-14 4.16E-16 2.08E-17 3.60E-18 3.76E-19
I-131
Sektor 8 2.86E-09 1.79E-11 8.56E-13 1.43E-13 1.46E-14
Sektor 9 8.81E-07 1.77E-07 7.83E-08 4.49E-08 3.03E-08
Sektor 10 2.86E-09 1.79E-11 8.56E-13 1.43E-13 1.46E-14
Ru-106
Sektor 8 7.29E-13 4.93E-15 2.47E-16 4.27E-17 4.46E-18
Sektor 9 2.26E-10 4.91E-11 2.27E-11 1.35E-11 9.30E-12
Sektor 10 7.29E-13 4.93E-15 2.47E-16 4.27E-17 4.46E-18
Te-132
Sektor 8 1.20E-10 8.07E-13 4.02E-14 6.93E-15 7.20E-16
Sektor 9 3.71E-08 8.04E-09 3.71E-09 2.18E-09 1.51E-09
Sektor 10 1.20E-10 8.07E-13 4.02E-14 6.93E-15 7.20E-16

Jika dalam bentuk grafik maka tabel di atas ditampilkan sebagai berikut:


Grafik 5.10. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Inhalation untuk usia
12 17 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-1

Berdasarkan grafik diatas maka penerimaan dosis radionuklida pada skenario
kecelakaan simulasi ini yang terbesar yaitu I-131 yang terdapat pada sektror 9.
Sedangkan Cs-134, Cs-137, Ru-106, dan Te-132 konsentrasinya < 1,00E-07 Sv.
0.00E+00
1.00E-07
2.00E-07
3.00E-07
4.00E-07
5.00E-07
6.00E-07
7.00E-07
8.00E-07
9.00E-07
1.00E-06
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
Cs-134 Cs-137 I-131 Ru-106 Te-132
Radius 0.5
Radius 1.5
Radius 2.5
Radius 3.5
Radius 4.5
69
Hasil dari uji-t satu sampel satu sisi untuk sisi bawah pada dosis ini
menunjukkan bahwa p-value bernilai 0,000. Nilai p-value=0,000 untuk uji ini lebih
kecil dari = 0,05, sehingga menolak H
0
: 0,005. Jadi dapat disimpulkan bahwa
rata-rata penerimaan dosis yang diterima oleh masyarakat untuk usia 12 17 tahun
yang melalui jalur paparan inhalasi pada skenario kecelakaan simulasi ke-1 tidak
melebihi 0,005 Sv.
Pada skenario kecelakaan simulasi ke-2 dosis yang diterima oleh masyarakat
untuk usia 12 17 tahun, hasil dari perhitungan dengan menggunakan persamaan di
atas, ditampilkan pada tabel 5.18. Untuk asumsi-asumsi yang digunakan dalam
perhitungan itu dapat dilihat pada lampiran 7.
Tabel 5.18. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Inhalation
untuk usia 12 17 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-2

Radionuklida Sektor
Radius (km)
0.5 1.5 2.5 3.5 4.5
Cs-134
Sektor 8 4.13E-12 2.79E-14 1.29E-15 2.19E-16 1.78E-17
Sektor 9 1.28E-09 2.78E-10 1.30E-10 7.80E-11 5.55E-11
Sektor 10 4.13E-12 2.79E-14 1.29E-15 2.19E-16 1.78E-17
Cs-137
Sektor 8 1.10E-11 7.41E-14 3.42E-15 5.81E-16 4.73E-17
Sektor 9 3.39E-09 7.39E-10 3.45E-10 2.07E-10 1.47E-10
Sektor 10 1.10E-11 7.41E-14 3.42E-15 5.81E-16 4.73E-17
I-131
Sektor 8 6.00E-08 3.74E-10 1.66E-11 2.71E-12 2.16E-13
Sektor 9 1.85E-05 3.71E-06 1.66E-06 9.63E-07 6.71E-07
Sektor 10 6.00E-08 3.74E-10 1.66E-11 2.71E-12 2.16E-13
Ru106
Sektor 8 1.26E-11 8.51E-14 3.93E-15 6.66E-16 5.44E-17
Sektor 9 3.90E-09 8.48E-10 3.96E-10 2.38E-10 1.69E-10
Sektor 10 1.26E-11 8.51E-14 3.93E-15 6.66E-16 5.44E-17
Te-132
Sektor 8 2.23E-08 1.50E-10 6.91E-12 1.17E-12 9.46E-14
Sektor 9 6.91E-06 1.50E-06 6.97E-07 4.16E-07 2.95E-07
Sektor 10 2.23E-08 1.50E-10 6.91E-12 1.17E-12 9.46E-14




70
Jika dalam bentuk grafik maka tabel di atas ditampilkan sebagai berikut:


Grafik 5.11. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Inhalation
untuk usia 12 17 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-2

Berdasarkan grafik diatas maka penerimaan dosis radionuklida pada skenario
kecelakaan simulasi ini yang terbesar yaitu I-131 yang terdapat pada sektror 9.
Sedangkan Te-132 konsentrasinya < 8,00E-06 Sv. Radionuklida lain sangat kecil
nilainya sehingga grafiknya mendekati nilai 0 Sv.
Hasil dari uji-t satu sampel satu sisi untuk sisi bawah pada dosis ini
menunjukkan bahwa p-value bernilai 0,000. Nilai p-value=0,000 untuk uji ini lebih
kecil dari = 0,05, sehingga menolak H
0
: 0,005. Jadi dapat disimpulkan bahwa
rata-rata penerimaan dosis yang diterima oleh masyarakat untuk usia 12 17 tahun
yang melalui jalur paparan inhalasi pada simulasi ke-2 tidak melebihi 0,005 Sv.
Pada skenario kecelakaan simulasi ke-3 dosis yang diterima oleh masyarakat
untuk usia 12 17 tahun, hasil dari perhitungan dengan menggunakan persamaan di
atas, ditampilkan pada tabel 5.19. Untuk asumsi-asumsi yang digunakan dalam
perhitungan itu dapat dilihat pada lampiran 7.
0.00E+00
2.00E-06
4.00E-06
6.00E-06
8.00E-06
1.00E-05
1.20E-05
1.40E-05
1.60E-05
1.80E-05
2.00E-05
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
Cs-134 Cs-137 I-131 Ru106 Te-132
Radius 0.5
Radius 1.5
Radius 2.5
Radius 3.5
Radius 4.5
71
Tabel 5.19. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Inhalation
untuk usia 12 17 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-3

Radionuklida Sektor
Radius (km)
0.5 1.5 2.5 3.5 4.5
Cs-134
Sektor 8 1.18E-13 9.83E-15 3.49E-14 2.79E-13 2.83E-13
Sektor 9 3.58E-11 7.81E-12 3.72E-12 3.00E-12 2.20E-12
Sektor 10 1.16E-13 1.05E-15 6.34E-15 6.27E-15 2.27E-16
Cs-137
Sektor 8 3.13E-13 2.61E-14 9.27E-14 7.42E-13 7.52E-13
Sektor 9 9.50E-11 2.07E-11 9.88E-12 7.98E-12 5.83E-12
Sektor 10 3.07E-13 2.79E-15 1.69E-14 1.67E-14 6.03E-16
I-131
Sektor 8 1.46E-08 1.08E-09 3.44E-09 2.72E-08 2.73E-08
Sektor 9 4.41E-06 8.88E-07 4.04E-07 3.10E-07 2.24E-07
Sektor 10 1.43E-08 1.16E-10 6.28E-10 6.20E-10 2.26E-11
Ru106
Sektor 8 3.59E-13 2.99E-14 1.06E-13 8.50E-13 8.61E-13
Sektor 9 1.09E-10 2.38E-11 1.13E-11 9.14E-12 6.68E-12
Sektor 10 3.52E-13 3.19E-15 1.93E-14 1.91E-14 6.90E-16
Te-132
Sektor 8 4.31E-10 3.58E-11 1.27E-10 1.01E-09 1.02E-09
Sektor 9 1.31E-07 2.84E-08 1.35E-08 1.08E-08 7.91E-09
Sektor 10 4.23E-10 3.82E-12 2.30E-11 2.26E-11 8.15E-13

Jika dalam bentuk grafik maka tabel di atas ditampilkan sebagai berikut:


Grafik 5.12. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Inhalation
untuk usia 12 17 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-3

Berdasarkan grafik diatas maka penerimaan dosis radionuklida pada skenario
kecelakaan simulasi ini yang terbesar yaitu I-131 yang terdapat pada sektror 9.
Sedangkan Cs-134, Cs-137, Ru-106, dan Te-132 konsentrasinya < 2,00E-07 Sv.
0.00E+00
5.00E-07
1.00E-06
1.50E-06
2.00E-06
2.50E-06
3.00E-06
3.50E-06
4.00E-06
4.50E-06
5.00E-06
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
Cs-134 Cs-137 I-131 Ru106 Te-132
Radius 0.5
Radius 1.5
Radius 2.5
Radius 3.5
Radius 4.5
72
Hasil dari uji-t satu sampel satu sisi untuk sisi bawah pada dosis ini
menunjukkan bahwa p-value bernilai 0,000. Nilai p-value=0,000 untuk uji ini lebih
kecil dari = 0,05, sehingga menolak H
0
: 0,005. Jadi dapat disimpulkan bahwa
rata-rata penerimaan dosis yang diterima oleh masyarakat untuk usia 12 17 tahun
yang melalui jalur paparan inhalasi pada skenario kecelakaan simulasi ke-3 tidak
melebihi 0,005 Sv.

5.5.3.2 Dosis yang Diterima Untuk Usia > 17 Tahun
Pada skenario kecelakaan simulasi ke-1 dosis yang diterima oleh masyarakat
untuk usia > 17 tahun, hasil dari perhitungan dengan menggunakan persamaan di
atas, ditampilkan pada tabel 5.20. Untuk asumsi-asumsi yang digunakan dalam
perhitungan itu dapat dilihat pada lampiran 7.
Tabel 5.20. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Inhalation
untuk usia > 17 tahun dari skenario kecelakaan simulasi Ke-1

Radionuklida Sektor
Radius (km)
0.5 1.5 2.5 3.5 4.5
Cs-134
Sektor 8 2.68E-14 1.81E-16 9.05E-18 1.57E-18 1.63E-19
Sektor 9 8.27E-12 1.80E-12 8.33E-13 4.95E-13 3.41E-13
Sektor 10 2.68E-14 1.81E-16 9.05E-18 1.57E-18 1.63E-19
Cs-137
Sektor 8 7.10E-14 4.80E-16 2.40E-17 4.16E-18 4.34E-19
Sektor 9 2.20E-11 4.79E-12 2.21E-12 1.31E-12 9.06E-13
Sektor 10 7.10E-14 4.80E-16 2.40E-17 4.16E-18 4.34E-19
I-131
Sektor 8 2.13E-09 1.33E-11 6.36E-13 1.06E-13 1.09E-14
Sektor 9 6.55E-07 1.31E-07 5.82E-08 3.34E-08 2.25E-08
Sektor 10 2.13E-09 1.33E-11 6.36E-13 1.06E-13 1.09E-14
Ru-106
Sektor 8 9.59E-13 6.48E-15 3.25E-16 5.61E-17 5.86E-18
Sektor 9 2.97E-10 6.46E-11 2.99E-11 1.77E-11 1.22E-11
Sektor 10 9.59E-13 6.48E-15 3.25E-16 5.61E-17 5.86E-18
Te-132
Sektor 8 1.20E-10 8.07E-13 4.02E-14 6.93E-15 7.20E-16
Sektor 9 3.71E-08 8.04E-09 3.71E-09 2.18E-09 1.51E-09
Sektor 10 1.20E-10 8.07E-13 4.02E-14 6.93E-15 7.20E-16

73
Jika dalam bentuk grafik maka tabel di atas ditampilkan sebagai berikut:


Grafik 5.13. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Inhalation
untuk usia > 17 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-1

Berdasarkan grafik diatas maka penerimaan dosis radionuklida pada skenario
kecelakaan simulasi ini yang terbesar yaitu I-131 yang terdapat pada sektror 9.
Sedangkan Cs-134, Cs-137, Ru-106, dan Te-132 konsentrasinya < 4,00E-08 Sv.
Hasil dari uji-t satu sampel satu sisi untuk sisi bawah pada dosis ini
menunjukkan bahwa p-value bernilai 0,000. Nilai p-value=0,000 untuk uji ini lebih
kecil dari = 0,05, sehingga menolak H
0
: 0,005. Jadi dapat disimpulkan bahwa
rata-rata penerimaan dosis yang diterima oleh masyarakat untuk usia > 17 tahun yang
melalui jalur paparan inhalasi pada simulasi ke-1 tidak melebihi 0,005 Sv.
Pada skenario kecelakaan simulasi ke-2 dosis yang diterima oleh masyarakat
untuk usia > 17 tahun, hasil dari perhitungan dengan menggunakan persamaan di
atas, ditampilkan pada tabel 5.21. Untuk asumsi-asumsi yang digunakan dalam
perhitungan itu dapat dilihat pada lampiran 7.
0.00E+00
1.00E-07
2.00E-07
3.00E-07
4.00E-07
5.00E-07
6.00E-07
7.00E-07
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
Cs-134 Cs-137 I-131 Ru-106 Te-132
Radius 0.5
Radius 1.5
Radius 2.5
Radius 3.5
Radius 4.5
74
Tabel 5.21. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Inhalation
untuk usia > 17 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-2

Radionuklida Sektor
Radius (km)
0.5 1.5 2.5 3.5 4.5
Cs-134
Sektor 8 4.78E-12 3.23E-14 1.49E-15 2.53E-16 2.06E-17
Sektor 9 1.48E-09 3.22E-10 1.50E-10 9.03E-11 6.42E-11
Sektor 10 4.78E-12 3.23E-14 1.49E-15 2.53E-16 2.06E-17
Cs-137
Sektor 8 1.27E-11 8.55E-14 3.95E-15 6.70E-16 5.47E-17
Sektor 9 3.92E-09 8.53E-10 3.98E-10 2.39E-10 1.70E-10
Sektor 10 1.27E-11 8.55E-14 3.95E-15 6.70E-16 5.47E-17
I-131
Sektor 8 4.45E-08 2.78E-10 1.23E-11 2.01E-12 1.61E-13
Sektor 9 1.37E-05 2.75E-06 1.23E-06 7.16E-07 4.98E-07
Sektor 10 4.45E-08 2.78E-10 1.23E-11 2.01E-12 1.61E-13
Ru106
Sektor 8 1.11E-11 7.52E-14 3.47E-15 5.89E-16 4.80E-17
Sektor 9 3.44E-09 7.49E-10 3.50E-10 2.10E-10 1.50E-10
Sektor 10 1.11E-11 7.52E-14 3.47E-15 5.89E-16 4.80E-17
Te-132
Sektor 8 1.90E-08 1.28E-10 5.87E-12 9.90E-13 8.04E-14
Sektor 9 5.87E-06 1.27E-06 5.92E-07 3.53E-07 2.51E-07
Sektor 10 1.90E-08 1.28E-10 5.87E-12 9.90E-13 8.04E-14

Jika dalam bentuk grafik maka tabel di atas ditampilkan sebagai berikut:


Grafik 5.14. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Inhalation
untuk usia > 17 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-2

Berdasarkan grafik diatas maka penerimaan dosis radionuklida pada skenario
kecelakaan simulasi ini yang terbesar yaitu I-131 yang terdapat pada sektror 9. Te-
132 konsentrasinya < 6,00E-06 Sv. Sedangkan Cs-134, Cs-137, Ru-106 sangat kecil,
< 4,00E-09 Sv.
0.00E+00
2.00E-06
4.00E-06
6.00E-06
8.00E-06
1.00E-05
1.20E-05
1.40E-05
1.60E-05
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
Cs-134 Cs-137 I-131 Ru106 Te-132
Radius 0.5
Radius 1.5
Radius 2.5
Radius 3.5
Radius 4.5
75
Hasil dari uji-t satu sampel satu sisi untuk sisi bawah pada dosis ini
menunjukkan bahwa p-value bernilai 0,000. Nilai p-value=0,000 untuk uji ini lebih
kecil dari = 0,05, sehingga menolak H
0
: 0,005. Jadi dapat disimpulkan bahwa
rata-rata penerimaan dosis yang diterima oleh masyarakat untuk usia > 17 tahun yang
melalui jalur paparan inhalasi pada skenario kecelakaan simulasi ke-2 tidak melebihi
0,005 Sv.
Pada skenario kecelakaan simulasi ke-3 dosis yang diterima oleh masyarakat
untuk usia > 17 tahun, hasil dari perhitungan dengan menggunakan persamaan di
atas, ditampilkan pada tabel 5.22. Untuk asumsi-asumsi yang digunakan dalam
perhitungan itu dapat dilihat pada lampiran 7.

Tabel 5.22. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Inhalation
untuk usia > 17 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-3

Radionuklida Sektor
Radius (km)
0.5 1.5 2.5 3.5 4.5
Cs-134
Sektor 8 1.36E-13 1.14E-14 4.04E-14 3.23E-13 3.27E-13
Sektor 9 4.14E-11 9.04E-12 4.30E-12 3.47E-12 2.54E-12
Sektor 10 1.34E-13 1.21E-15 7.34E-15 7.26E-15 2.63E-16
Cs-137
Sektor 8 3.61E-13 3.02E-14 1.07E-13 8.57E-13 8.68E-13
Sektor 9 1.10E-10 2.40E-11 1.14E-11 9.22E-12 6.73E-12
Sektor 10 3.55E-13 3.22E-15 1.95E-14 1.92E-14 6.96E-16
I-131
Sektor 8 1.08E-08 8.01E-10 2.55E-09 2.02E-08 2.03E-08
Sektor 9 3.28E-06 6.60E-07 3.00E-07 2.31E-07 1.66E-07
Sektor 10 1.07E-08 8.63E-11 4.67E-10 4.61E-10 1.68E-11
Ru106
Sektor 8 3.17E-13 2.64E-14 9.39E-14 7.51E-13 7.61E-13
Sektor 9 9.62E-11 2.10E-11 1.00E-11 8.07E-12 5.90E-12
Sektor 10 3.11E-13 2.82E-15 1.71E-14 1.69E-14 6.10E-16
Te-132
Sektor 8 3.66E-10 3.04E-11 1.07E-10 8.56E-10 8.64E-10
Sektor 9 1.11E-07 2.41E-08 1.15E-08 9.20E-09 6.72E-09
Sektor 10 3.60E-10 3.25E-12 1.95E-11 1.92E-11 6.93E-13



76
Jika dalam bentuk grafik maka tabel di atas ditampilkan sebagai berikut:


Grafik 5.15. Dosis paparan radionuklida (Sv) dari jalur paparan Inhalation
untuk usia > 17 tahun dari skenario kecelakaan simulasi ke-3

Berdasarkan grafik diatas maka penerimaan dosis radionuklida pada skenario
kecelakaan simulasi ini yang terbesar yaitu I-131 yang terdapat pada sektror 9. Te-
132 konsentrasinya < 1,50E-07 Sv. Sedangkan Cs-134, Cs-137, Ru-106 sangat kecil,
< 1,50E-10 Sv.
Hasil dari uji-t satu sampel satu sisi untuk sisi bawah pada dosis ini
menunjukkan bahwa p-value bernilai 0,000. Nilai p-value=0,000 untuk uji ini lebih
kecil dari = 0,05, sehingga menolak H
0
: 0,005. Jadi dapat disimpulkan bahwa
rata-rata penerimaan dosis yang diterima oleh masyarakat untuk usia > 17 tahun yang
melalui jalur paparan inhalasi pada simulasi ke-3 tidak melebihi 0,005 Sv.

5.6 Rekomendasi Rencana Tanggap Darurat Kecelakaan Nuklir
Rencana tanggap darurat kecelakaan nuklir dalam penelitian ini dibedakan
berdasarkan jenis simulasi. Rencana ini didasarkan atas dosis akumulasi radionuklida
0.00E+00
5.00E-07
1.00E-06
1.50E-06
2.00E-06
2.50E-06
3.00E-06
3.50E-06
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
S
e
k
t
o
r

8
S
e
k
t
o
r

9
S
e
k
t
o
r

1
0
Cs-134 Cs-137 I-131 Ru106 Te-132
Radius 0.5
Radius 1.5
Radius 2.5
Radius 3.5
Radius 4.5
77
yang terdispersi ke lingkungan. Sedangkan wilayah yang dijadikan fokus utama oleh
Peneliti adalah wilayah-wilayah yang memiliki rata-rata dosis akumulasi radioaktif
yang terbesar. Pada wilayah-wilayah itulah fokus utama rencana evakuasi dilakukan
jika suatu saat kecelakaan nuklir ini benar-benar terjadi.
Pada skenario kecelakaan simulasi ke-1 rencana tanggap darurat kecelakaan
nuklir yang direkomendasikan oleh peneliti adalah wilayah-wilayah yang berada pada
sektor 8, 9, dan 10 (Gambar 5.5). Penyebaran rata-rata dosis akumulasi yang terbesar
berada pada sektor 9 sebesar 2,79x10
-08
Sv, sedangkan pada sektor 8 dan 9 masing-
masing memiliki rata-rata dosis sebesar 6,61x10
-11
Sv (Lampiran 9).












Gambar 5.5. Sektor-sektor yang menjadi prioritas untuk dilakukan rencana tanggap
darurat akibat skenario kecelakaan nuklir simulasi ke-1 reaktor G.A Siwabessy

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
78
Pada skenario kecelakaan simulasi ke-2 rencana tanggap darurat kecelakaan
nuklir yang direkomendasikan oleh peneliti adalah wilayah-wilayah yang berada pada
sektor 1, 8, 9, dan 10 (Gambar 5.6). Penyebaran rata-rata dosis akumulasi untuk
sumulasi ke-2 yang terbesar berada pada sektor 9 sebesar 7,95x10
-07
Sv, disusul
sektor 1 sebesar 1,24x10
-08
Sv, kemudian sektor 8 dan 9 dengan dosis yang sama
sebesar 1,87x10
-09
Sv (Lampiran 9).











Gambar 5.6. sektor-sektor yang menjadi prioritas untuk dilakukan rencana tanggap
darurat akibat skenario kecelakaan nuklir di reaktor G.A Siwabessy untuk simulasi ke-2

Pada skenario kecelakaan simulasi ke-3 rencana tanggap darurat kecelakaan
nuklir yang direkomendasikan oleh peneliti adalah wilayah-wilayah yang berada pada
sektor 8, 9, dan 10 (Gambar 5.7). Penyebaran rata-rata dosis akumulasi untuk
skenario kecelakaan sumulasi ke-3 yang terbesar berada pada sektor 9 sebesar
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
79
1.40x10
-07
Sv, disusul sektor 8 sebesar 1.66x10
-09
Sv, kemudian 10 dengan dosis yang
sama sebesar 3.54x10
-10
Sv (Lampiran 9).











Gambar 5.7. Sektor-sektor yang menjadi prioritas untuk dilakukan rencana tanggap
darurat akibat skenario kecelakaan nuklir di reaktor G.A Siwabessy untuk simulasi
ke-3







1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
BAB VI
PEMBAHASAN


6.1 Keterbatasan Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, terdapat beberapa keterbatasan yang dimiliki
oleh peneliti, diantaranya adalah:
1. Karena minimnya referensi-referensi yang ada khususnya untuk kajian analisis
kecelakaan nuklir di Indonesia. Maka asumsi-asumsi yang digunakan dalam
penentuan dosis paparan pada manusia menggunakan data yang bersumber dari
Crawford dkk (2001).
2. Perhitungan dosis untuk jalur paparan melalui makanan (ingestion) tidak
dilakukan oleh peneliti karena terbatasnya sumber data dan pengetahuan peneliti
mengenai bagian-bagian yang saling terkait dalam menghitung dosis melalui
makanan.

6.2 Pembagian Cakupan Wilayah di Sekitar Instalasi Nuklir
Pembagian cakupan wilayah di daerah sekitar instalasi nuklir dilakukan dengan
membagi wilayah kedalam 5 radius dan 16 sektor. Perbedaan setiap radius adalah 0,5
dan 1 km, sedangkan perbedaan setiap sektor adalah 22,5
o
(Pembagian jumlah sektor
berdasarkan atas arah mata angin). Berdasarkan hal itu maka terdapat 18
desa/kelurahan yang tersebar, diataranya Buaran, Ciater, Rawabuntu, Serpong,
81
Dangdang, Suradita, Kranggan, Muncul, Setu, Babakan, Kademangan, Cibogo,
Cisauk, Sampora, Pengasinan, Gunung Sindur, Pabuaran, dan Sukamulya.
Dasar pembagian wilayah tersebut dilakukan untuk memudahkan dalam
mengetahui wilayah yang berada di sekitar instalasi nuklir G.A Siwabessy dan
memudahkan analisa risiko radiologi. Pembagian wilayah pun sesuai dengan
pemutahiran rona lingkungan kawasan nuklir Serpong tahun 2007 yang dilakukan
oleh BPS Kab. Tangerang dan Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) BATAN.
Pembagian wilayah dalam 5 radius dan 16 sektor dilakukan pula oleh Pande (2008)
pada penelitiannya dalam pembangunan tapak PLTN di daerah Semenanjung Muria,
Indonesia (Pande, 2008). Berbeda dengan yang sebelumnya, Leung (1992) dalam
penelitiannya pada reaktor Daya Bay, Hongkong, membagi wilayah kedalam 8 radius
dan 17 sektor. Perbedaan tersebut terjadi karena perbedaan daya yang ada pada
masing-masing reaktor.
Perkiraan jumlah penduduk dalam radius 5 km dari instalasi nuklir G.A
Siwabessy, menurut BPS Kab. Tangerang tahun 2007, berjumlah 192.261 jiwa dan
pertumbuhan penduduknya sebesar 2,25% per tahun. Desa/kelurahan terpadat adalah
kelurahan Rawabuntu yang terletak disebelah timur laut dari instalasi nuklir G.A
Siwabessy dengan jumlah penduduk 18.323 jiwa. Sedangkan, untuk desa/kelurahan
terendah penduduknya adalah desa Sampora dengan jumlah penduduk 4.707 jiwa.

6.3 Radionuklida yang Terdispesi Keluar Reaktor
Radionuklida yang terdispersi keluar reaktor dari hasil skenario kecelakaan
jenis simulasi ke-1, ke-2, dan ke-3, telah menghasilkan radionuklida yang sama dan
82
signifikan untuk setiap jalur paparan tanah (groundshine), udara (cloudshine), dan
pernafasan (inhalation). Pada groundshine menghasilkan Cs-134, Cs-137, dan Ru-
106, pada cloudshine menghasilkan Cs-134, I-132, dan Te-132, sedangkan pada
inhalation menghasilkan Cs-134, Cs-137, I-131, Ru-106, dan Te-132. Maka hasil dari
ketiga simulasi itu, terdapat 6 jenis radionuklida yang terdispersi dan signifikan, yaitu
Cs-134, Cs-137, I-131, I-132, Ru-106, dan Te-132.
Masing-masing radionuklida tersebut memiliki waktu paruh (t) yang berbeda-
beda, waktu paruh (t) untuk Cs-134, Cs-137, I-131, I-132, Ru-106, dan Te-132
secara berturut-turut adalah 2,062 tahun, 30,0 tahun, 8,04 hari, 2,30 jam, 368,2 hari,
dan 78,2 jam. Cs-137 merupakan radionuklida dengan waktu paruh terpanjang yaitu
30 tahun, disusul oleh Cs-134 dengan 2,062 tahun. Sedangkan I-132 merupakan
radionuklida dengan waktu paruh terpendek diantara radionuklida lainnya, yaitu 2,30
jam. (Porter, 1989)
Berdasarkan waktu paruhnya maka Cs-137 merupakan radionuklida perlu
diwaspadai karena memiliki waktu paruh terpanjang. Karena semakin pendek waktu
paruh suatu radionuklida maka akan semakin cepat radionuklida tersebut menjadi
suatu atom yang stabil. Jika suatu atom telah stabil maka tidak memancarkan radisi
lagi, sehingga sifat radiasi dari atom tersebut telah hilang. Hal tersebut sesuai seperti
apa yang dikatakan oleh Wisnu (2007) dalam Proteksi Radiasi dan Aplikasinya,
bahwa sebuah inti atom yang stabil tidak memancarkan partikel subatomik (partikel
radiasi).
Menurut Yarianto (2006) dalam kejadian kecelakaan nuklir, radionuklida I
(yodium) yang berada pada udara akan masuk pada jalur pernafasan. Hal itu
83
merupakan hal yang harus diperhatikan karena dapat langsung terserap masuk ke
dalam tubuh dan mempengaruhi kelenjar gondok. Oleh karena itu, untuk mengurangi
dampak tersebut maka langsung diberikan tablet yodium stabil kepada masyarakat
yang diperkirakan terkena dampak.
Jenis radionuklida signifikan yang terdispersi pada penelitian ini hampir sama
dengan jenis radionuklida yang terdispersi pada kecelakaan PLTN Chernobyl 1986.
Pada kecelakaan itu radionuklida signifikan yang terdispersi melalui groundshine
yaitu Ru-106, Cs-134, dan Cs-137, melalui cloudshine yaitu I-131, Te-132, Cs-134,
dan Cs-136, sedangkan yang melalui inhalation yaitu Ru-106, I-131, Te-132, Cs-134,
dan Cs-137. Pada kecelakaan tersebut, jalur paparan inhalation merupakan jalur yang
memiliki jumlah radionuklida terbanyak diatara jalur paparan yang lainnya. (Rini,
2008)
Dispersi radionuklida yang ke lingkungan melalui hal itu bergantung dari
keadaan cuaca (kecepatan angin, curah hujan, dan stabilitas udara) dan besarnya suku
sumber (Yarianto, 2006). Hal serupa juga dinyatakan oleh Leung (1992), dan Jensen
(1992), bahwa data tahunan rata-rata kecepatan angin, arah angin, dan stabilitas udara
akan mempengaruhi proses dispersi ke atmosfir/lingkungan.

6.4 Efek Biologis dari Radiasi
Radiasi dari radionuklida khususnya Ru, Cs, I, dan Te dapat menyebabkan
gangguan kesehatan khususnya pada manusia. Radiasi ini menyebabkan ionisasi pada
level atom, akibatnya terjadi perubahan pada molekul, sel, jaringan, organ, dan
84
akhirnya kepada seluruh tubuh. Misalkan jika lensa mata yang terionisasi atom-
atomnya akan menimbulkan katarak.
Selain itu radiasi yang berlebihanpun mempengaruhi proses pembentukan
darah, tulang dan juga kerja kelenjar endokrin seperti gondok. Seperti halnya unsur
yodium (I-131) yang masuk ke dalam kelenjar gondok, hal ini dapat menyebabkan
kerusakan pada kelenjar ini.
Jika radiasi ini berinteraksi dengan atom dari molekul DNA manusia, hal ini
akan mengakibatkan efek langsung. Sel akan kehilangan kemampuan untuk
reproduksi dan ketahanan sel pun berkurang. Hal tersebut disebabkan karena ketidak
mampuan kromosom untuk replikasi dengan baik.
Berikut ini adalah isotop-isotop yang berbahaya bagi tubuh:
a. Iodium-131 (I-131)
Tubuh dapat menyerap Iodium baik lewat alat pencernaan maupun lewat paru-
paru. Isotop ini segera diangkut ke kelenjar gondok dan berada disana berbulan-
bulan
b. Cessium-134 (Cs-134) ; Cessium-137 (Cs-137)
Isotop-isotop ini masuk ke dalam tubuh melalui rantai makanan. Mereka akan
terakumulasi dalam otot sampai berbulan-bulan lamanya.
c. Strontium-90 (Sr-90)
Watak isotop ini mirip dengan kalsium bahan pembuat tulang. Ia masuk tubuh
menggantikan kalsium untuk berada di permukaan tulang. Radiasi berlebihan
yang dipancarkannya menyebabkan kanker tulang, jika sudah menahun dapat
merusak sumsum tulang dan menimbulkan leukimia.
d. Carbon-14 (C-14)
Isotop ini memasuki tubuh lewat rantai makanan. Isotop ini mudah keluar
kembali sebagai gas karbondioksida.
(Sugata, 1992)
85
6.5 Perkiraan Cakupan Wilayah yang Terkena Dampak
Perkiraan cakupan wilayah yang terkena dampak akibat kecelakaan nuklir yang
dupostulasikan di reaktor G.A Siwabessy berbeda antara simulasi ke-1, ke-2, dan ke-
3. Perbedaan ini disebabkan karena jumlah suku sumber dan sistem filter yang
terdapat pada setiap simulasi. Semakin besar suku sumber maka semakin besar pula
kemungkinan radionuklida yang terdispersi dan semakin besar efisiensi sistem filter
maka akan semakin sedikit jumlah radionuklida yang terdispersi.
Hal tersebut diatas sesuai dengan Willers (2006), bahwa sistem filter dapat
mengurangi pelepasan zat radioaktif selama kondisi kecelakaan yang dipostulasikan.
Jumlah suku sumber pun akan mempengaruhi besarnya konsentrasi radionuklida
yang terdispersi ke lingkungan.
Berdasarkan penelitian ini terdapat tiga jenis cakupan wilayah (desa/kelurahan)
yang terkena dampak akibat kecelakaan nuklir yang dipostulasikan di reaktor G.A
Siwabessy, hal itu berdasarkan atas 3 simulasi yang dilakukan. Penentuan cakupan
wilayah ini berdasarkan pada penyebaran konsentrasi radionuklida pada setiap radius
dan sektor.
Pada skenario kecelakaan jenis simulasi 1, terdapat 3 desa/kelurahan yang
terkena dampak. Berbeda dengan jenis simulasi 2, cakupan wilayah yang terkena
dampak semakin meningkat jika dibandingkan dengan jenis simulasi 1. Pada simulasi
ini memberikan dampak yang lebih luas dari pada simulasi 1. Sedikitnya diperkirakan
terdapat 6 desa/kelurahan. Sedangkan pada jenis simulasi 3, jumlah cakupan wilayah
melebihi dari kedua simulasi sebelumnya, jumlah wilayah yang diperkirakan terkena
dampak sedikitnya ada 16 desa/kelurahan.
86
Oleh karena itu, dari ketiga simulasi, jenis simulasi 3 merupakan simulasi yang
memiliki dampak terparah daripada simulasi 2 atau simulasi 1. Sedangkan, simulasi 2
memiliki dampak yang sedikit lebih luas daripada simulasi 1. Perbedaan tersebut
terjadi karena perbedaan perlakukan yang diberikan pada masing-masing simulasi.
Perbedaan perlakukan yang mendasar pada penelitian ini yaitu jumlah suku
sumber dan sistem filter. Pada simulasi 1 dan 2 jumlah suku sumbernya sama, yang
membedakan hanya perlakukan sistem filter. Pada simulasi 1 sistem filter berfungsi
normal sedangkan simulasi 2 sistem filter tidak berfungsi normal (dianggap tanpa
filter). Sedangkan suku sumber pada simulasi 3 jumlahnya lebih besar dari pada
simulasi 1 dan 2 dan sistem filter pada simulasi 3 berfungsi dengan normal.
Maka secara umum perbedaan ini di pengaruhi oleh jumlah suku sumber dan
sistem filter. Hal tersebut sesuai dengan Willers (2006) dan Yarianto (2006) yang
menyatakan bahwa perbedaan suku sumber dan sistem filter akan mempengaruhi
jumlah konsentrasi radionuklida yang terdispersi ke lingkungan.

6.6 Konsentrasi Radionuklida Pada Tanah (Groundshine)
Dalam penelitian ini terdapat tiga jenis radionuklida signifikan yang terdapat
pada jalur paparan tanah, bedasarkan simulasi 1, 2, dan 3, yaitu Cs-134, Cs-137, dan
Ru-106 yang tersebar merata pada sektor 8, 9, dan 10. Radionuklida tersebut
terkonsentrasi pada jalur paparan tanah yang diakibatkan dari proses deposisi
radionuklida dalam udara. Besarnya nilai konsentrasi ini dipengaruhi oleh sifat fisis
radionuklida, diffusion, proses deposisi, dan kondisi cuaca sekitar reaktor G.A
Siwabessy.
87
Hal itu seperti yang dinyatakan Leung (1992), Jensen (1992), Crowford (2001)
yang menyatakan proses dispersi dan deposisi sedikitnya dipengaruhi oleh fisis
radionuklida, diffusion, proses deposisi, dan kondisi cuaca data tahunan rata-rata
kecepatan angin, arah angin, dan stabilitas udara mempengaruhi dalam proses
dispersi ke atmosfir/lingkungan.
Nilai konsentrasi radionuklida maksimum dalam jalur paparan tanah untuk
skenario kecelakaan simulasi 2 lebih besar daripada simulasi 3, sedangkan nilai
konsentrasi pada simulasi 3 lebih besar dari pada simulasi 1. Hal tersebut diakibatkan
karena perbedaan jumlah suku sumber pada setiap simulasi dan perlakuannya.
Menurut hasil penelitian dari CDC (centers for desease control) tahun 2001 dalam
Savannah River Site Health Effects Subcommittee pengaruh perbedaan ini
dipengaruhi oleh besarnya suku sumber radionuklida dari instalasi nuklir dan keadaan
meteorologi.

6.7 Konsentrasi Radionuklida Pada Udara (Cloudshine )
Dispersi konsentrasi radionuklida pada udara (cloudshine) terjadi sebelum
proses deposisi radionuklida pada tanah (groundshine). Proses dispersi pada udara
berawal dari lepasnya radionuklida pada cerobong (stack) reaktor G.A Siwabessy.
Pada skenario kecelakaan jenis simulasi ke-1 dan ke-3 radionuklida yang lepas dari
cerobong reaktor merupakan hasil dari proses penyaringan (filtering) di dalam
reaktor, sedangkan pada skenario kecelakaan sumulasi ke-2, sistem filter di dalam
reaktor di anggap tidak berfungsi normal.
88
Hasil lepasan dari cerobong tersebut, kemudian terdispersi ke udara/atmosfir
yang berada di lingkungan reaktor G.A Siwabessy. Dispersi ini kemudian
menimbulkan terkonsentrasinya radionuklida dalam udara. Dispersi tersebut pada
setiap simulasi dipengaruhi oleh keadaan cuaca di sekitar instalasi nuklir G.A
Siwabessy.
Berdasarkan dari tiga skenario kecelakaan yang telah dilakukan diperoleh tiga
jenis radionuklida yang terdispersi melalui jalur paparan udara, yaitu Cs-134, I-132,
dan Te-132. Waktu paruh masing-masingnya adalah 2,062 tahun untuk Cs-134, 2,30
jam untuk I-132, 78,2 jam untuk Te-132. Ketiga radionuklida itu terdispersi ke dalam
16 sektor dan 5 radius di sektar reaktor G.A Siwabessy. Radionuklida tersebut
terdispersi melalui udara dan mengalami deposisi pada tanah. Deposisi radionuklida
dalam skenario kecelakaan jenis simulasi ke-1, ke-2, dan ke-3 tersebar merata pada
sektor 8, 9, dan 10. Sektor 9 merupakan sektor dimana terdapatnya konsentrasi
radionuklida maksimum untuk setiap simulasi.
Nilai konsentrasi udara maksimum terdapat di sektor 9. Pada skenario
kecelakaan simulasi ke-2 nilai konsentrasinya lebih besar dari pada skenario
kecelakaan simulasi ke-3, sedangkan nilai konsentrasi pada simulasi ke-3 lebih besar
dari pada skenario kecelakaan simulasi ke-1. Menurut hasil penelitian dari CDC
(centers for desease control) tahun 2001 dalam Savannah River Site Health Effects
Subcommittee pengaruh perbedaan ini dipengaruhi oleh besarnya suku sumber dari
instalasi nuklir dan pengaruh keadaan meteorologi.
Dalam penelitian ini, terdapat perbedaan suku sumber pada skenario kecelakaan
simulasi ke-1 dan ke-3, sedangkan suku sumber sama pada skenario kecelakaan
89
simulasi ke-1 dan ke-2, yang membedakannya adalah perbedaan pada sistem filter
yang ada dalam reaktor. Suku sumber pada simulasi ke-3 lebih besar dari pada
skenario kecelakaan simulasi ke-1. Besarnya nilai konsentrasi radionuklida pada
tanah akan mempengaruhi nilai dosis yang akan diterima oleh manusia melalui jalur
paparan tanah.

6.8 Konsentrasi Radionuklida Pada Pernafasan (Inhalation)
Konsentrasi radionuklida pada pernafasan (inhalation) berkaitan erat dengan
konsentrasi pada udara (cloudshine), karena dari hasil skenario kecelakaan nilai
konsentrasi Cs-134 dan Te-132 untuk setiap simulasi sama dengan nilai konsentrasi
pada udara. Proses dispersi pada pernafasan sama sama halnya seperti proses dispersi
pada udara dan tanah.
Berdasarkan dari tiga skenario kecelakaan yang telah dilakukan bahwa terdapat
lima jenis radionuklida yang terdispersi melalui jalur paparan pernafasan, yaitu Cs-
134, Cs-137, I-131, Te-132, dan Ru-106. Kelima radionuklida itu terdispersi ke
dalam 16 sektor dan 5 radius di sektar reaktor G.A Siwabessy. Nilai konsentrasi
radionuklida pada jalur pernafasan dalam simulasi ke-1, ke-2, dan ke-3 tersebar
merata pada sektor 8, 9, dan 10. Sektor 9 merupakan sektor dimana terdapatnya
konsentrasi radionuklida maksimum untuk setiap simulasi.
Nilai konsentrasi radionuklida pada jalur pernafasan lebih besar pada skenario
kecelakaan simulasi ke-2 daripada skenario kecelakaan simulasi ke-3, sedangkan
skenario kecelakaan simulasi ke-3 lebih besar dari skenario kecelakaan simulasi ke-1.
90
Sama seperti halnya pada jalur paparan sebelumnya, nilai dan penyebaran konsentrasi
ini bergantung pada keadaan meteorologi setempat dan besarnya suku sumber.
Besarnya nilai konsentrasi radionuklida pada jalur paparan pernafasan akan
mempengaruhi nilai dosis yang akan diterima oleh manusia yang melalui jalur
paparan pernafasan. Hal yang mempengaruhi besar kecilnya dosis yang diterima oleh
manusia hal itu bergantung pada laju pernafasan (inhalation rate) setiap individu dan
juga bergantung pada jenis radionuklidanya. (Crowford, dkk., 2001)

6.9 Dosis Paparan Eksterna dari Tanah (Groundshine) pada Manusia
Dosis paparan eksterna dari tanah (groundshine) dihitung dengan persamaan 1.1
dari Mller and Prhl (1993) dalam J. Crawford dkk (2001), yaitu:


Asumsi yang digunakan dalam persamaan diatas untuk G(r) nilainya bergantung jenis
radionuklida, nilai konsentrasi tersebut diperoleh dari hasil perhitungan COSYMA.
Nilai S(r) bernilai 0.375 (J. Crawford et al. (2001)). Nilai d(r) nilainya bergantung
dari jenis radionuklida yang digunakan (ICRP (1996), Eckerman and Legett (1996).
Nilai o(r,s) bernilai 0.36 (Mller and Prhl (1993) dalam J. Crawford et al. (2001)).
Nilai (r) nilainya bergantung jenis radionuklida.
1
(r,s) bernilai 0.00146 hari
-1

(Mller and Prhl (1993) dalam J. Crawford et al. (2001)).
2
(r,s) bernilai 0.0000387
hari
-1
(Mller and Prhl (1993) dalam J. Crawford et al. (2001)). [t
0
,t
1
] diasumsikan
selama 2 hari, hal ini berdasarkan penilaian peneliti.
( ) ( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
| |
}
+ +
+ =
1
0
2 1
) , ( ) , (
1 0
, 1 , , ,
t
t
t s r r t s r r
dt e s r e s r c r d r S r G t t r D

o o
91
Radiasi eksterna dari material yang terdeposisi di tanah (groundshine)
merupakan paparan radioaktif yang berasal dari material radioaktif yang terdeposisi
di tanah, material radioaktif yang terkandung dalam tanah ini akan memberikan
paparan kepada manusia sebagai groundshine. Dosis radiasi ini dihitung berdasarkan
jumlah material radioaktif yang terdeposisi (konsentrasi) dikalikan dengan suatu
faktor konversi dosis yang sudah tersedia pustakanya. Dosis radioaktif yang diterima
manusia melalui jalur paparan groundshine dapat dihitung berdasarkan rumus
matematis dari Mller and Prhl (1993) dalam J. Crawford dkk (2001).
Berdasarkan dari tiga simulasi yang telah dilakukan diperoleh tiga jenis
radionuklida yang terdispersi melalui jalur paparan tanah, yaitu Cs-134, Cs-137, dan
Ru-106. ketiga radionuklida tersebut terdispersi ke dalam 16 sektor dan 5 radius yang
berada di sektar reaktor G.A Siwabessy.
Dari ketiga simulasi, sektor-sektor yang terkena dampak distribusinya tersebar
merata pada sektor 8, 9, dan 10. Arti tersebar merata disini adalah terdapat irisan yang
sama antara simulasi ke-1, ke-2, dan ke-3. Meskipun pada simulasi ke-3 memberi
dampak yang lebih luas tapi sektor 8, 9, dan 10 tetap menjadi perhatian utama karena
pada ketiga sektor itulah dosis radionuklida akan dibandingkan dengan dosis pada
kedua simulasi lainnya dan pada ketiga sektor itu pun memiliki rata-rata yang lebih
tinggi dibandingkan dengan sektor lainnya.
Terdispersinya radionuklida kearah sektor 8, 9, dan 10 atau kearah selatan
disebabkan karena pengaruh cuaca yang ada di sekitar reaktor G.A Siwabessy. Rata-
rata arah angin selama satu tahun dilingkungan itu adalah kearah 167.23
0
atau ke arah
selatan dengan rata-rata kecepatan angin 1 m/s. Sudut tersebut tepatnya berada pada
92
sektor 8 yang mendekati ke sektor 9. Maka dalam hal ini arah mata angin dan
besarnya kecepatan angin berperan besar dalam distribusi radionuklida yang
terdispersi ke lingkungan. Seperti yang telah diketahui, dalam Yarianto 2008, faktor
meteorologi memiliki peran yang besar dalam proses dispersi atmosferis radionuklida
ke lingkungan.
Dari ketiga simulasi itu, simulasi ke-2 memiliki rata-rata dosis radionuklida
terbesar jika dibandingkan dengan dosis pada simulasi ke-1 dan simulasi ke-3,
sedangkan simulasi ke-3 memiliki dosis yang lebih besar daripada simulasi ke-1. Hal
itu disebabkan karena pada simulasi ke-2 sistem filter yang mencegah keluarnya
radionuklida dari reaktor nuklir G.A Siwabessy tidak berfungsi dengan normal,
sedangkan pada simulasi ke-1 dan ke-3 sistem filternya berfungsi dengan normal.
Jadi sistem filter pada reaktor mempengaruhi besarnya penerimaan dosis pada
manusia yang melalui jalur paparan tanah (Willers, 2006).
Pada simulasi ke-1 berdasarkan tabel 5.15 rata-rata dosis seluruh radionuklida
adalah 2.884E-13 Sv, simulasi ke-2 berdasarkan tebel 5.16 rata-rata dosis
radionuklida adalah 5.17E-11 Sv, dan pada simulasi ke-3 berdasarkan tabel 5.17 rata-
rata dosis radionuklida adalah 1.51E-12 Sv. Hasil rata-rata tersebut masih berada di
bawah nilai batas dosis yang diizinkan untuk masyarakat umum. Dosis yang
diizinkan untuk masyarakat umum Menurut Keputusan Kepala Badan Pengawas
Tenaga Nuklir Nomor: 01/Ka-BAPETEN/V-99 adalah sebesar 5 x10
-3
Sv. Hasil
tersebut diperkuat pula dengan uji-t satu sampel satu sisi untuk sisi bawah (lampiran
10). Hasil dari uji tersebut menyimpulkan menolak H
0
: 0,005, artinya bahwa
93
penerimaan dosis masih berada di bawah nilai batas dosis yang diizinkan untuk
masyarakat umum.
Penerimaan dosis radionuklida untuk usia > 2 tahun yang melalui jalur paparan
tanah dalam penelitian ini dinyatakan masih aman untuk masyarakat umum, hal ini
berlaku untuk simulasi ke-1, ke-2, dan ke-3.

6.10 Dosis Paparan Eksterna dari Udara (Cloudshine) pada Manusia
Perhitungan dosis radioaktif yang diterima manusia melalui jalur paparan
cloudshine dari Krajewski (1994) dalam J. Crawford dkk (2001):


Asumsi yang digunakan dalam persamaan di atas untuk A(r,t
0
,t
1
) nilai konsentrasinya
bergantung dari jenis radionuklida yang terdapat pada jalur paparan udara, nilai
tersebut didapatkan dari hasil perhitungan COSYMA. Nilai S(r) bernilai 0.53 (J.
Crawford et al. (2001)). Nilai d(r) nilainya bergantung jenis radionuklida (ICRP
(1996), Eckerman and Legett (1996). Nilai c diasumsikan bernilai 1, karena nilai
A(r,t
0
,t
1
) yang telah didapat sudah dalam Bqs/m
3
. Nilai [t
0
,t
1
] diasumasikan bernilai 1,
karena nilai A(r,t
0
,t
1
) yang telah didapat sudah dalam Bqs/m
3
.
Berdasarkan dari hasil yang terlah diperoleh, bahwa dari ketiga simulasi
terdapat tiga jenis radionuklida yang terdispersi melalui jalur paparan udara, yaitu Cs-
134, I-132, dan Te-132 ketiga radionuklida tersebut terdispersi ke dalam 16 sektor
dan 5 radius yang berada di sektar reaktor G.A Siwabessy.
( ) ( ) ( ) ( )( )c t t r d r S t t r A t t r D
0 1 1 0 1 0
, , , , =
94
Dari ketiga simulasi, sektor-sektor yang terkena dampak distribusinya tersebar
merata pada sektor 8, 9, dan 10. Arti tersebar merata disini adalah terdapat irisan yang
sama antara simulasi ke-1, ke-2, dan ke-3. Meskipun pada simulasi ke-2 dan ke-3
memberi dampak yang lebih luas tapi sektor 8, 9, dan 10 tetap menjadi perhatian
utama karena pada ketiga sektor itulah dosis radionuklida akan dibandingkan dengan
dosis pada kedua simulasi lainnya dan pada ketiga sektor itu pun memiliki rata-rata
yang lebih tinggi dibandingkan dengan sektor lainnya.
Terdispersinya radionuklida kearah sektor 8, 9, dan 10 atau kearah selatan
disebabkan karena pengaruh cuaca yang ada di sekitar reaktor G.A Siwabessy. Rata-
rata arah angin selama satu tahun dilingkungan itu adalah kearah 167.23
0
atau ke arah
selatan dengan rata-rata kecepatan angin 1 m/s. Sudut tersebut tepatnya berada pada
sektor 8 yang mendekati ke sektor 9. Maka dalam hal ini arah mata angin dan
besarnya kecepatan angin berperan besar dalam distribusi radionuklida yang
terdispersi ke lingkungan. Seperti yang telah diketahui, dalam Yarianto 2008, faktor
meteorologi memiliki peran yang besar dalam proses dispersi atmosferis radionuklida
ke lingkungan.
Paparan radionuklida yang melalui jalur paparan ekterna dari udara (cloudshine)
akan terjadi bila ada awan radioaktif yang melintas di atas manusia (udara). Namun
setelah kecelakaan nuklir berlalu dan tidak ada lagi material radioaktif di udara, maka
manusia tidak akan terkena lagi paparan. Jadi jalur paparan udara (cloudshine) perlu
diperhatikan pada awal terjadi kecelakaan, sebagai efek jangka pendek. (Yarianto,
2007)
95
Dari ketiga simulasi itu, simulasi ke-2 memiliki rata-rata dosis radionuklida
terbesar jika dibandingkan dengan dosis pada simulasi ke-1 dan simulasi ke-3,
sedangkan simulasi ke-3 memiliki dosis yang lebih besar daripada simulasi ke-1. Hal
itu disebabkan karena pada simulasi ke-2 sistem filter yang mencegah keluarnya
radionuklida dari reaktor nuklir G.A Siwabessy tidak berfungsi dengan normal,
sedangkan pada simulasi ke-1 dan ke-3 sistem filternya berfungsi dengan normal.
Jadi sistem filter pada reaktor mempengaruhi besarnya penerimaan dosis pada
manusia yang melalui jalur paparan udara (Willers, 2006).
Pada simulasi ke-1 beradasarkan tabel 5.18 rata-rata dosis seluruh radionuklida
adalah 2.77E-11 Sv, simulasi ke-2 berdasarkan tebel 5.19 rata-rata dosis radionuklida
adalah 2.40E-08 Sv, dan pada simulasi ke-3 berdasarkan tabel 5.20 rata-rata dosis
radionuklida adalah 8.65E-11 Sv. Hasil rata-rata tersebut masih berada di bawah nilai
batas dosis yang diizinkan untuk masyarakat umum. Dosis yang diizinkan untuk
masyarakat umum Menurut Keputusan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir
Nomor: 01/Ka-BAPETEN/V-99 adalah sebesar 5 x10
-3
Sv. Hasil tersebut diperkuat
pula dengan uji-t satu sampel satu sisi untuk sisi bawah (lampiran 10). Hasil dari uji
tersebut menyimpulkan menolak H
0
: 0,005, artinya bahwa penerimaan dosis
masih berada di bawah nilai batas dosis yang diizinkan untuk masyarakat umum.
Maka berdasarkan hal diatas, penerimaan dosis radionuklida untuk usia > 2
tahun yang melalui jalur paparan udara dalam penelitian ini dinyatakan masih aman
untuk masyarakat umum, hal ini berlaku untuk simulasi ke-1, ke-2, dan ke-3.


96
6.11 Dosis Paparan Interna dari Pernafasan (Inhalation) Pada Manusia
Perhitungan dosis radioaktif yang diterima manusia melalui jalur paparan
inhalation dari Krajewski (1994) dalam J. Crawford dkk (2001):


Asumsi yang digunakan dalam menghitung persamaan di atas untuk nilai A(r,t
0
,t
1
)
bergantung pada nilai konsentrasi radionuklida pada jalur pernafasan, nilai tersebut
didapatkan dari perhitungan dengan menggunakan COSYMA. F(r) bernilai 0.44 (J.
Crawford et al. (2001)). Nilai I(r,a) nilainya bergantung pada laju pernafasan usia
manusia (ICRP Publication 71 (1995b)). Nilai d(r,a), nilainya bergantung pada jenis
radionuklida pada jalur paparan pernafasan (ICRP (1996), Eckerman and Legett
(1996). Nilai [t
0
,t
1
] bernilai 1, dianggap 1 karena nilai A(r,t
0
,t
1
) yang sudah didapat
sudah dalam Bqs/m
3
.
Radiasi interna melalui pernafasan (inhalation) merupakan paparan radioaktif
yang masuk melalui pernafasan manusia dimana udara yang dihirup mengandung
unsur radioaktif (Yarianto, 2007). Dosis yang diterima manusia melalui jalur paparan
pernafasan dapat dihitung berdasarkan rumus matematis dari Krajewski (1994) dalam
Crawford, dkk (2001).
Berdasarkan dari tiga simulasi yang telah dilakukan diperoleh lima jenis
radionuklida yang terdispersi melalui jalur paparan pernafasan, yaitu Cs-134, Cs-137,
I-131, Ru-106 dan Te-132 kelima radionuklida tersebut terdispersi ke dalam 16 sektor
dan 5 radius yang berada di sektar reaktor G.A Siwabessy.
( ) ( ) ( ) ) )( , ( ) , ( , , , ,
0 1 1 0 1 0
t t a r d a r I r F t t r A t t r D =
97
Dari ketiga simulasi, sektor-sektor yang terkena dampak distribusinya tersebar
merata pada sektor 8, 9, dan 10. Arti tersebar merata disini adalah terdapat irisan yang
sama antara simulasi ke-1, ke-2, dan ke-3. Meskipun pada simulasi ke-2 dan ke-3
memberi dampak yang lebih luas tapi sektor 8, 9, dan 10 tetap menjadi perhatian
utama karena pada ketiga sektor itulah dosis radionuklida akan dibandingkan dengan
dosis pada kedua simulasi lainnya dan pada ketiga sektor itu pun memiliki rata-rata
yang lebih tinggi dibandingkan dengan sektor lainnya.
Terdispersinya radionuklida kearah sektor 8, 9, dan 10 atau kearah selatan
disebabkan karena pengaruh cuaca yang ada di sekitar reaktor G.A Siwabessy. Rata-
rata arah angin selama satu tahun dilingkungan itu adalah kearah 167.23
0
atau ke arah
selatan dengan rata-rata kecepatan angin 1 m/s. Sudut tersebut tepatnya berada pada
sektor 8 yang mendekati ke sektor 9. Maka dalam hal ini arah mata angin dan
besarnya kecepatan angin berperan besar dalam distribusi radionuklida yang
terdispersi ke lingkungan. Seperti yang telah diketahui, dalam Yarianto 2008, faktor
meteorologi memiliki peran yang besar dalam proses dispersi atmosferis radionuklida
ke lingkungan.
Dari ketiga simulasi itu, simulasi ke-2 memiliki rata-rata dosis radionuklida
terbesar jika dibandingkan dengan dosis pada simulasi ke-1 dan simulasi ke-3,
sedangkan simulasi ke-3 memiliki dosis yang lebih besar daripada simulasi ke-1. Hal
itu berlaku pula untuk dosis radionuklida kategori usia 12 17 tahun dan usia > 17
tahun. Besarnya dosis pada simulasi kedua itu disebabkan karena pada simulasi ke-2
sistem filter yang mencegah keluarnya radionuklida dari reaktor nuklir G.A
Siwabessy tidak berfungsi dengan normal, sedangkan pada simulasi ke-1 dan ke-3
98
sistem filternya berfungsi dengan normal. Jadi sistem filter pada reaktor
mempengaruhi besarnya penerimaan dosis pada manusia yang melalui jalur paparan
pernafasan (Willers, 2006).
Kategori dosis pernafasan yang diterima oleh masyarakat dikategorikan menjadi
dua yaitu untuk usia 12 17 tahun dan > 17 tahun. Dua kategori tersebut diambil
karena terbatasnya data yang tersedia dilapangan untuk melakukan perhitungan dosis.
Untuk kategori usia 12 17 tahun dosis rata-rata yang diterima pada simulasi ke-1
beradasarkan tabel 5.21 adalah 1.71E-08 Sv, simulasi ke-2 berdasarkan tebel 5.22
rata-rata dosis radionuklida adalah 4.73E-07 Sv, dan pada simulasi ke-3 berdasarkan
tabel 5.23 rata-rata dosis radionuklida adalah 8.70E-08 Sv.
Sedangkan untuk kategori usia > 17 tahun dosis rata-rata yang diterima pada
simulasi ke-1 beradasarkan tabel 5.24 adalah 1.28E-08 Sv, simulasi ke-2 berdasarkan
tebel 5.25 rata-rata dosis radionuklida adalah 3.65E-07 Sv, dan pada simulasi ke-3
berdasarkan tabel 5.26 rata-rata dosis radionuklida adalah 6.49E-08 Sv.
Hasil seluruh rata-rata dosis radionuklida diatas seluruhnya masih berada di
bawah nilai batas dosis yang diizinkan untuk masyarakat umum. Dosis yang
diizinkan untuk masyarakat umum Menurut Keputusan Kepala Badan Pengawas
Tenaga Nuklir Nomor: 01/Ka-BAPETEN/V-99 adalah sebesar 5 x10
-3
Sv. Hasil
tersebut diperkuat pula dengan uji-t satu sampel satu sisi untuk sisi bawah (lampiran
10). Hasil dari uji tersebut menyimpulkan menolak H
0
: 0,005, artinya bahwa
penerimaan dosis masih berada di bawah nilai batas dosis yang diizinkan untuk
masyarakat umum.
99
Penerimaan dosis radionuklida untuk kategori usia 12 17 tahun dan usia > 17
tahun yang melalui jalur paparan pernafasan dalam penelitian ini dinyatakan masih
aman untuk masyarakat umum, hal ini berlaku untuk simulasi ke-1, ke-2, dan ke-3.

6.12 Rencana Tindakan Kegawat Daruratan Nuklir
Rencana tindakan kegawat daruratan nuklir menurut Anthony, 2008, adalah
usaha atau tindakan yang dilakukan secara terpadu untuk mencegah atau
memperkecil dampak radiologi dari pemanfaatan tenaga nuklir yang ditimbulkan,
seperti:
1. Memperkecil resiko atau mengurangi konsekuensi kecelakaan pada sumber
radiasi (lokasi kecelakaan),
2. Mencegah dampak radioaktif terhadap kesehatan deterministik (kematian),
3. Mengurangi dampak kesehatan stokastik sekecil mungkin (efek samping).
Definisi lain menurut BAPETEN (2003) tindakan kegawat daruratan nuklir atau
program kesiapsiagaan nuklir adalah usaha atau tindakan yang dilakukan secara
terpadu untuk mencegah atau memperkecil dampak radiologi yang ditimbulkan dari
pemanfaatan tenaga nuklir baik pada kondisi normal ataupun darurat. Dengan tujuan
untuk mencegah efek kesehatan deterministik (kematian, luka-luka dan cedera) dan
untuk mengurangi risiko efek stokastik pada kesehatan (terutama kanker dan efek
menurun parah / severe hereditary effects).
Tindakan penanggulangan keadaan darurat nuklir dapat diklasifikasikan sebagai
berikut (BAPETEN (2003) dan IAEA, Tecdoc-955 (1997) dalam Yarianto (2007):
100
a. Precautionary Action Zone (PAZ). Daerah di sekitar PLTN dimana tindakan
penanggulangan direncanakan dan akan ditetapkan sesegera mungkin setelah
adanya pernyataan terjadinya kecelakaan. Tujuannya yaitu mengurangi risiko
dan dampak kesehatan deterministik dengan tindakan penanggulangan pada
sumber kecelakaan
b. Urgent Protective Action Planning Zone (UPZ). Daerah di sekitar PLTN yang
disiapkan dan segera akan diterapkan tindakan penanggulangan berdasarkan
hasil pemantauan lingkungan
c. Longer Term Protective Action Planning Zone (LPZ). Daerah sampai dengan
jarak yang reatif jauh dari daerah UPZ, dimana tindakan penanggulangan
dilaksanakan dalam jangka waktu panjang untuk mengurangi dosis dari
disposisi pada bahan-bahan makanan.
Pembuatan program kesiapsiagaan nuklir ini akan menghasilkan beberapa
kajian yang terintegerasi diantaranya: Potensi kecelakaan mengakibatkan lepasan
radioaktif berada di dalam fasilitas (on site) dan lepasan radioaktif ke luar fasilitas
(off site), jenis sumber radiasi, potensi bahaya radiasi, katagori daerah
penanggulangan dampak kecelakaan, pelaporan serta unsur infrastruktur, sarana
pendukung serta pelatihan dan uji coba. (Yarianto, 2007)
Berdasarkan dari hasil perhitungan dosis radionuklida yang terdispersi pada
setiap jalur paparan tanah, udara, dan pernafasan, memberikan kesimpulan bahwa
dosis yang diterima oleh masyarakat pada semua skenario kecelakaan berada dibawah
nilai batas dosis yang diizinkan. Atas dasar itu maka pengeoprasian reaktor G.A
Siwabessy BATAN pada kecelakaan yang dipostulasikan (diskenariokan) dengan 1
101
bahan bakar meleleh ataupun pada 5 bahan bakar meleleh memberikan paparan dosis
yang aman untuk masyarakat umum sebesar 5 mSv.
Dengan demikian ketika terjadi kecelakaan baik untuk satu bahan bakar meleleh
ataupun untuk lima bahan bakar meleleh dalam kasus pada penelitian ini pemerintah
daerah setempat dan tidak perlu khawatir tentang dampak negatif yang akan
ditimbulkan pada masyarakat sekitar reaktor G.A Siwabessy, karena dosis
paparannya masih berada di bawah nilai batas dosis yang diizinkan oleh BAPETEN,
5 mSv. Oleh karena itu, berdasarkan penelitian ini tidak perlu dilakukan langkah-
langkah evakuasi kegawatdaruratan nuklir untuk masyarakat sekitar.
Walaupun demikian BATAN dan pemerintah daerah setempat perlu merancang
dan mempersiapkan tanggap darurat kecelakaan nuklir sebagai langkah awal dalam
kesiap siagaan nuklir dan mencegah meluasnya dampak negatifnya. Langkah-langkah
tersebut sedikitnya meliputi tindakan pembatasan (sheltering), evakuasi penduduk,
relokasi, pengendalian konsumsi makanan hasil dari wilayah terkena dampak, dan
melakukan dekontaminasi dalam Ganatsios (2002), Anthony (2008), dan Yarianto
(2007).
Pembatasan (sheltering) pada masayarakat dilakukan dengan memberikan
informasi dan intruksi kepada masyarakat agar mereka dapat mengurangi paparan
radiasi dengan cara berdiam di rumah masing-masing dan menutup ventilasi udara
yang diduga dapat memberikan paparan radiasi (Ganatsios, 2002). Intruksi tersebut
dilakukan ketika pemerintah daerah setempat memberikan pernyataan terjadinya
kecelakaan di reaktor nuklir G.A Siwabessy. (Ganatsios (2002), Yarianto (2007))
102
Evakuasi penduduk dilakukan jika setelah dilakukan pemantauan lingkungan di
daerah sekitar reaktor G.A Siwabessy dosis ditemukan melebihi atau diduga
membahayakan masyarakat umum. Maka atas dasar itu evakuasi penduduk harus
dilakukan sesegera mungkin. Untuk menghindari dampak yang lebih buruk maka
masyarakat tersebut diberikan kapsul yodium (I) secara oral. (Ganatsios (2002),
Anthony (2008), dan Yarianto (2007))
Pengendalian konsumsi makanan dilakukan jika paparan dosis yang terdeposisi
pada tanaman atau bahan pangan telah melebihi batas dosis yang diijinkan. Jika
terjadi seperti itu maka masyarakat setempat dilarang untuk mengkonsumsi makanan
yang dihasilkan dari wilayah atau daerah yang terkontaminasi radioaktif tersebut
hingga waktu yang telah ditentukan oleh badan pengawas (BAPETEN). (Ganatsios
(2002), Yarianto (2007))
Proses dekontaminasi harus dilakukan jika telah hasil dari pemantauan
lingkungan ditemukan adanya paparan yang membahayakan atau melebihi nilai batas
dosis yang diijinkan oleh badan pengawas (BAPETEN). (Ganatsios (2002), Anthony
(2008), Yarianto (2007))


BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN


7.1 Simpulan
Berdasarkan penelitian mengenai analisis risiko radiologi di lingkungan
instalasi nuklir akibat terdispersinya radionuklida pada kondisi abnormal yang
dipostulasikan di instalasi nuklir BATAN Serpong tahun 2009, maka diperoleh
kesimpulan sebagai berikut:
1. Cakupan wilayah di sekitar Reaktor G.A Siwabessy tahun 2009 dibagi menjadi
5 radial dan 16 sektor dengan sudut setiap sektor sebesar 22,5
0
.
2. radionuklida penting dan signifikan yang terdispersi ke lingkungan akibat dari
skenario kecelakaan jenis simulasi ke-1, ke-2, dan ke-3 pada reaktor nuklir G.A
Siwabessy tahun 2009, yaitu Cs-134, Cs-137, Ru-106, I-131, I-132, dan Te-132.
3. Cakupan wilayah pada simulasi ke-3 lebih besar dari pada simulasi ke-2,
sedangkan simulasi ke-2 lebih besar dari pada simulasi ke-1. Hal ini terjadi
karena jumlah bahan bakar meleleh pada simulasi ke-3 lebih besar dari pada
simulasi ke-2, sedangkan simulasi ke-2 lebih besar dari pada simulasi ke-1.
4. Nilai konsentrasi radionuklida terbesar pada jalur paparan tanah (groundshine),
udara (cloudshine), dan (inhalation) terdapat pada simulasi ke-2, kemudian
disusul simulasi ke-3 dan simulasi ke-1. Hal ini disebabkan karena faktor sistem
filter yang ada pada setiap simulasi. Pada simulasi 1 dan 3 sistem filter
berfungsi dengan normal, sedangkan pada simulasi ke-2 sistem filter tidak
104
berfungsi normal. Sistem filter sangat mempengaruhi konsentrasi radionuklida
yang terdispersi ke lingkungan.
5. Dosis radioaktif yang diterima oleh masyarakat melalui jalur paparan udara
(cloudshine), untuk usia > 2 tahun, akibat dari skenario kecelakaan nuklir di
reaktor G.A Siwabessy jenis simulasi ke-1, ke-2, dan ke-3 menunjukkan bahwa
rata-rata penerimaan dosis tidak melebihi 0,005 Sv. Maka dosis radioaktif yang
diterima melalui jalur paparan udara tidak melebihi nilai batas dosis yang
diijinkan oleh BAPETEN, yaitu sebesar 0,005 Sv. Dalam hal ini hipotesis nol
(H
0
) ditolak.
6. Dosis radioaktif yang diterima oleh masyarakat melalui jalur paparan
pernafasan (inhalation), untuk usia 12 17 tahun dan > 17 tahun, akibat dari
skenario kecelakaan nuklir di reaktor G.A Siwabessy jenis simulasi ke-1, ke-2,
dan ke-3 menunjukkan bahwa rata-rata penerimaan dosis tidak melebihi 0,005
Sv. Maka dosis radioaktif yang diterima melalui jalur paparan pernafasan tidak
melebihi nilai batas dosis yang diijinkan oleh BAPETEN, yaitu sebesar 0,005
Sv. Dalam hal ini hipotesis nol (H
0
) ditolak.
7. Rencana tanggap darurat akibat dari skenario kecelakaan nuklir di reaktor G.A
Siwabessy tahun 2009 berbeda untuk setiap jenis sumulasi. Namun, berdasarkan
hasil penerimaan dosis yang diterima oleh masyarakat dari semua simulasi
diketahui bahwa dosis yang diterima adalah kurang dari 5 mSv, sehingga tidak
perlu dilakukan tanggap darurat atas skenario kecelakaan tersebut. Dosis yang
diterima masih dibawah nilai batas dosis yang diijikan oleh BAPETEN, yaitu 5
mSv. Walaupun masih dalam batas aman, pemerintah khususnya BATAN
105
sebaiknya secara teratur melakukan pemeriksaan secara berkala kepada
masyarakat sekitar, hal ini dilakukan untuk meminimalisir efek kumulatif dari
radioaktif yang masuk kedalam tubuh. Selain itu perlu juga dilakukan upaya
pendidikan yang berbasis masyarakat mengenai teknologi nuklir.

7.2 Saran
1. Pemerintah khususnya Batan hendaknya lebih intensif dalam menyebarluaskan
informasi mengenai keamanan penggunaan teknologi nuklir di Indonesia
sehingga masyarakat dapat mengetahui dan faham tentang teknologi nuklir yang
aman ini.
2. Software cosyma dan radcon bukan milik Indonesia maka hendaknya
pemerintah khususnya batan mulai merencanakan dan merancang sebuah
project untuk membuat software serupa sehingga user interface-nya pun dapat
digunakan dengan mudah.
3. Hendaknya pemerintah khususnya batan menyediakan pustaka yang lengkap
mengenai pengasumsian yang representatif untuk wilayah dan penduduk
Indonesia sehingga asumsi yang digunakan dapat tepat dan sesui dengan
kondisi nyata untuk wilayah Indonesia
4. Asumsi-asumsi yang digunakan dalam penelitian ini masih menggunakan
asumusi-asumsi kasar artinya masih menggunakan asumsi yang bersumber dari
luar wilayah Indonesia, maka hendaknya dilakukan penelitian lanjutan dengan
menggunakan asumsi yang lebih mendekati keadaan nyata untuk wilayah
Indonesia
106
5. Perhitungan penerimaan dosis untuk jalur paparan makanan (ingestion) tidak
dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini, sehingga diperlukan penelitian
lebih lanjut mengenai hal tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Ariyanto, Sudi. 2008. Membelah Massa Menuai Energi. Prinsip Dasar Pembangkit
Listrik Tenaga Nuklir. Online: www.batan.go.id/.../view_artikel.php.htm. 29
Augustus 2009.
Arya Wardhana, Wisnu. 2007. Teknologi Nuklir:Proteksi Radiasi dan Aplikasinya.
Penerbit Andi, Yogyakarta.
BAPETEN. 2004. Himpunan Peraturan Bidang Tenaga Nuklir. Badan Tenaga Nuklir
Nasioanal (BATAN), Jakarta.
Brown J., Haywood S.M, and Jones J.A.. 1995. PC Cosyma Ver 2.0 User Guide. National
Radiological Protection Board, EUR.
Bugin, Burhan. 2008. Metodologi Penelitian Kuantitatif: Komunikasi, Ekonomi, dan
Kebijakan Publik Serta Ilmu-ilmu Sosial Lainnya. Kencana, Jakarta
CDC (Centers for Desease Control). 2001. Phase III of the Savannah River Site (SRS)
Dose Reconstruction Project. U.S. Department of Energy (DOE).
Crawford, J., Domel R.U., Harris F.F., and Twining J.R.. 2001. Radiological
Cansequences Model, A Radiological Cansequences Model for use in the
Australian and South Asian Region, Model Evaluation for Input Scenario
Exercise. Australian nuclear science and technology organisation (ANSTO),
Australia.
Eckerman and Legett. 1996. Recommended effective dose coefficients for internal
and external exposures to selected radionuclides http://www.hc-sc.gc.ca/ewh-
semt/pubs/radiation/dose/largetable-longtableau-eng.php). 07 September 2009.
Heroe Oetami, Rini, 2008. Persyaratan dan Pengumpulan Data Untuk Analisis
Konsekuensi. Pada Pelatihan Radiological Risk Assessment. Pusat Pendidikan
dan Pelatihan BATAN, Jakarta.
Hidayati, Nur Rahmah. 2008. Proteksi Radiasi. Pusat Pendidikan dan Pelatihan -
BATAN, Jakarta.
Hidayati, Nur Rahman. 2008. Proteksi Radiasi. Pada NTC On Radiological Risk
Assesment. Pusat Pendidikan dan Pelatihan BATAN, Jakarta.
Hudaya, Chairul. 28 Desember 2007. Level-Level Kecelakaan Nuklir. Online:
http://nuklir.wordpress.com/2007/12/28/level-level-kecelakaan-nuklir/. 6 Juni
2009.
IAEA-TECDOC-955. 1997. Generic Assessment Procedures for Determining
Protective Actions During a Reactor Accident. IAEA, Austria.
ICRP Publication 71 (1995b), Table 6). Summary Of Recommended Assessment
Parameters. Online: http://www.hc-sc.gc.ca/ewh-
semt/pubs/radiation/dose/index-eng.php. 07 September 2009.
Indragini. 2007. Pathway and Assessment on BATAN-JAEA JTC on Radiological
and Nuclear Emergency Preparedness. Center for Education and Training
National Nuclear Energy Agency, Jakarta.
Jensen, Per Hedemann. 1992. Atmospheric Dispersion and Environmental
Consequences, Exposure from Radioactive Plume Pathways. Ris National
Laboratory, DK-4000 Roskilde, Denmark.
Keputusan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor : 01/Ka-BAPETEN/V-99
Tahun 1999. Ketentuan Keselamatan Kerja Terhadap Radiasi. Badan Pengawas
Tenaga Nuklir, Jakarta.
Kuntjoro, Sri, dan Nur Rahman Hidayati. 2008. Pengenalan Fasilitas Nuklir dan
Fasilitas Radiasi. Pada NTC On Radiological Risk Assessment. Pusat
Pendidikan dan Pelatihan BATAN, Jakarta.
Leung, W.M.. 1992. Assessment of Radiological Impact to the Hong Kong
Population Due to Routine Release of Radionuclides to the Atmosphere from
the Guangdong Nuclear Power Plant at Daya Bay. Royal Observatory, Hong
Kong.
Mangkuatmodjo, Soegyarto. 2004. Statistik Lanjutan. PT Rineka Cipta, Jakarta.
Murwaningrum, Artati. 2005. Prosedur Kerja Tindakan Medik Pada Kecelakaan
Radiasi P3TKN-BATAN. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknik Nuklir
BATAN, Bandung.
Porter, Lisa J.. 1989. Upgrade of a Fusion Accident Analysis Code and Its
Application to a Comparative Study of Seven Fusion Reactor Designs.
Massachusetts Institute of Technology (MIT).
Pujijanto dan Hudi Hastowo. 2002. Lepasan Bahan Radioaktif Asal RSG-GAS
Dibawah Keadaan Kecelakaan (Asumsi 5 Perangkat Elemen Bakar Meleleh)
dan Dampak Radiologinya ke Lingkungan. Pusat Pengembangan Teknologi
Reaktor Riset BATAN, Serpong.
Republik indonesia. Penjelasan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10
Tahun 1997 Tentang Ketenaganukliran. Dalam Himpunan Perundang-
Undangan Ketenaganukliran. Badan Pengawas Tenaga Nuklir, Jakarta.
Rufiadi, Rifa., Lestari, dkk. 2007. Pemutakhiran Rona Lingkungan Kawasan Pusat
Nuklir Serpong 2007. Badan Pusat Statistik Kabupaten Tangerang, Tangerang.
S., Elisabeth. 2008. Pemodelan Dosis. Radiological Risk Assesment. Pusat
Pendidikan dan Pelatihan - BATAN, Jakarta.
SBS, Yarianto. 2007. Jalur Paparan (Exposure Pathway). PPEN-BATAN, Jakarta.
SBS, Yarianto. 2008. Pengantar PC-COSYMA 2.0. Pusat Pendidikan dan Pelatihan
BATAN, Jakarta.
Simanjuntak, Anthony. 2008. Upaya Pengenalan Program Kesiapsiagaan Nuklir pada
Desa Siaga. Pusat Reaktor Serba Guna-BATAN, Serpong.
Smith, Robert and Roland B. Minton. 2002. Calculus, 2nd Edition. McGrae-Hill,
New York.
Sugiyono. 2004. Statistik Non Parametris. Untuk Penelitian. Alfabeta, Bandung.
Taspirin. 2009. Ketentuan Keselamatan Kerja Dengan Radiasi. Online:
http://www.depkes.go.id/popups/articleswindow.php?id=137&print=print. 2
Juli 2009.
Udiyani, Pande Made, dan Puradwi. 2005. Evaluasi Dosis Radiasi Pekerja dan
Masyarakat Sekitar Instalasi Nuklir Sebagai Bahan Usulan Penentuan Nilai
Alara (Studi Kasus Rsg-Gas). Bidang Pengkajian dan Analisis Keselamatan
Reaktor BATAN, Serpong.
Udiyani, Pande Made. 2006. Pengaruh Foodstuff Terhadap Dosis Radiasi Dari Alur
Paparan Makanan Akibat Lepasan Radioaktif dari Reaktor Nuklir Ke
Lingkungan. Pusat Teknologi Reaktor dan Keselamatan Nuklir BATAN,
Serpong.
Udiyani, Pande Made. 2006. Perhitungan Deterministik Terhadap Dispersi Lepasan
Radioaktif Dari Rsg-Gas Pada Kondisi Kecelakaan. Pusat Teknologi Reaktor
dan Keselamatan Nuklir BATAN, Serpong.
Udiyani, Pande Made. 2008. Analisis Keselamatan Radiologi Pada Dispersi
Radionuklida Reaktor Daya PWR-1000. Pada Presentasi Ilmiah Jenjang Peneliti
Madya. Pusat Teknologi Reaktor dan Keselamatan Nuklir BATAN, Serpong.
Udiyani, Pande Made., et al. 2004. Analisis Dosis Radiasi Yang Diterima Penduduk
Akibat Pengoperasian Reaktor RSG-GAS. Pusat Pengembangan Teknologi
Reaktor Riset BATAN, Serpong.
Wauran, Markus. 2008. Reaktor Nuklir di Indonesia. Suara Pembaruan Daily.
Willers, Andy. dan Pudjijanto. 2006. Source Term. RCA IAEA, National Training
Course on Radiological Risk Assessment, Jakarta.