P. 1
Konstruksi Baja 3 Sambungan Baut

Konstruksi Baja 3 Sambungan Baut

|Views: 19|Likes:
Dipublikasikan oleh Khairun Nazli
kayu
kayu

More info:

Categories:Types, Comics
Published by: Khairun Nazli on Jun 09, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/03/2013

pdf

text

original

3- SAMBUNGAN BAUT

Latar Belakang
• • Elemen-elemen yang menyusun struktur baja harus digabungkan satu dengan yang lain dengan suatu sistem sambungan. Sambungan berfungsi menyatukan elemen-elemen dan menyalurkan beban dari satu bagian ke bagian yang lain
Elemen yang disambung Jenis penyambung : las, baut, paku keling Pelat penyambung (dan pelat pengisi)

Sistem Sambungan
• • •

Contoh Sambungan
Sambungan balok - balok

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

1

Sambungan profil – pelat penyambung

Sambungan pelat – pelat

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

2

Sambungan balok - kolom

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

3

Paku Keling (Rivet)
• • • Dasar perhitungan untuk sambungan baut dan paku keling adalah sama, yang membedakan adalah cara pelaksanaan dan bahan yang dipakai. Sambungan keling umumnya terbuat dari mutu normal. Sambungan keling dipasang dengan pemanasan awal. Pada saat membara, material keling diselipkan ke lubang keling dan salah satu ujungnya dipukul sementara ujung lainnya ditahan. Pukulan tersebut akan membentuk kepala keling pada ujungnya dan badan keling akan mengisi penuh lubang keling Pada saat pendinginan, lubang keling akan memberikan gaya tarik awal, sehingga sambungan akan menjadi sangat fit.

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

4

Baut Mutu Normal (Baut Hitam)
• • • • Sambungan baut dapat terbuat dari baut mutu normal atau mutu tinggi. Baut ini dibuat dari baja karbon rendah yang diidentifikasi sebagai A307, dan merupakan jenis baut yang paling murah Namun baut ini belum tentu menghasilkan sambungan yang paling murah karena banyaknya jumlah baut yang dibutuhkan pada suatu sambungan Pemakaian terutama pada struktur yang ringan, batang sekunder atau pengaku, platform, gording, rusuk dinding. Mutu baut dapat dibaca dibagian kepala baut, misalnya tertulis 4.6 artinya tegangan leleh baut = 4 x 6 x 100 = 2400 kg/cm2 Baut mutu normal dipasang kencang tangan, tanpa gaya tarik awal dan merupakan tipe tumpu.

• •

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo

5

Gaya tersebut dinamakan proof load. Sambungan jenis ini baik untuk gaya bolak-balik. Atau menggunkana kunci torsi yang telah dikalibrasi sehingga menghasilkan setengah putaran setelah kencang tangan. Diamter yang palins sering digunakan pada konstruksi jembatan adalah 7/8 inci dan 1 inci Saat ini sambungan baut lebih ekonomis daripada sambungan keling. Untuk taraf gaya yang lebih tinggi. sehingga sambungan baut mutu tinggi hingga taraf gaya tertentu dapat merupakan tipe friksi. sambungan tersebut merupakan tipe tumpu.Baut Mutu Tinggi / High Tension Bolt (HTB) • • • Sambungan baut mutu tinggi mengandalkan gaya tarik awal yang terjadi karena pengencangan awal. DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 6 • • • • • . Gaya tersebut akan memberikan friksi. Baut mutu tinggi dipasang dengan mula-mula melakukan kencang tangan dan diikuti dengan setengah putaran setelah kencang tangan. Diameter yang paling sering digunakan pada konstruksi gedung adalah ¾ inci dan 7/8 inci.

35 – 10.6 – 38.1 510 825 - 725 1035 370 • • Proof stress A307 adalah 70% x fu Proof stress A490 adalah 80% x fu DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 7 . . fu (MPa) 60 825 28.4 12.7 – 25.7 – 38.4 Proof Stress (MPa) 585 Kuat Tarik min.SPESIFIKASI BAUT DAN PAKU KELING Baut A307 A325 A490 Keling Mutu Normal Tinggi Tinggi Normal db (mm) 6.1 12.

Data – Data Teknis Baut HTB Baut Mutu Tegangan geser ijin (kg/cm2) 960 1225 Tegangan tarik ijin (kg/cm2) 1600 3080 A307 A325 Normal Tinggi A490 Tinggi 1540 3780 DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 8 .

misalnya M12 artinya diameter nominal (dn) = 12 mm Untuk baut tidak diulir penuh.Pengertian Diameter Nominal (dn) dan Diameter Kern (dk) • • • • Diameter nominal adalah diameter yang tercantum pada nama perdagangan. diameter inti (dk) adalah diameter dalam dari batang tersebut Diameter yang digunakan untuk menghitung luas penampang :  Baut tidak di ulir penuh menggunakan dn  Baut diulir penuh menggunakan dk DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 9 . diameter nominal adalah diameter terluar dari batang baut Untuk baut ulir penuh.

c. d.Kerusakan Sambungan a. b. Kerusakan pada baut akibat geser Kerusakan pada pelat lewat lubang sambungan Kerusakan pada baut ataupun pelat (mana yang lebih lemah) akibat tumpu Kerusakan pada tepi pelat akibat geser DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 10 .

sambungan las lebih sesuai Pengelasan sebaiknya dikerjakan di bengkel / work shop karena pemeriksaan las di lapangan agak diragukan Pekerjaan las untuk elemen batang yang sangat tebal memerlukan perhatian ekstra. 4. baut lebih sesuai untuk digunakan dibandingkan las Untuk beban fatique.Panduan Pemilihan Alat Sambung 1. lagipula sambungan baut lebih kecil bahanya terhadap retak dan rapuh. bracing. 6. DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 11 9. sebaiknya menggunakan baut mutu tinggi dan las Pemasangan baut mutu tinggi memerlukan perhatian khusus Sambungan las memerlukan baja lebih sedikit. 2. 3. tidak memerlukan pekerja dengan kecakapan tinggi Bila struktur kelak akan dibongkar pasang. . pengikat. Lebih seusai jika menggunakan sambungan baut. Sambungan baut sesuai untuk struktur ringan dengan beban statis yang kecil. 5. dan batang sekunder (seperti gording. dsb) Pelaksanaan pekerjaan baut sangat cepat. dan penampilan sambungan baik Pada sambungan yang menerus dan rigid. 8. 7.

atau baut mutu tinggi yang dikencangkan untuk menimbulkna gaya tarik minimum yang disyaratkan. yang kuat rencananya disalurkan oleh gaya geser pada baut dan tumpuan pada bagian-bagian yang disambungkan DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 12 .Mekanisme Sambungan 1. Tipe tumpu Sambungan tipe tumpu adalah sambungan yang dibuat dengan menggunakan baut yang dikencangkan dengan tangan.

Tipe friksi Sambungan tipe friksi adalah sambungan yang dibuat dengan menggunakan baut mutu tinggi yang dikencangkan untuk menimbulkan tarikan baut minimum yang disyaratkan sedemikian rupa sehingga gayagaya geser rencana disalurkan melalui jepitan yang bekerja dalam bidang kontak dan gesekan yang ditimbulkan antara bidang-bidang kontak DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 13 .2.

Klasifikasi Sambungan 1.100% M jepit sempurna DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 14 . Sambungan Kaku (Rigid Connection) Deformasi titik kumpul harus sedemikian rupa sehingga tidak terlalu berpengaruh terhadap distribusi gaya maupun terhadap deformasi keseluruhan struktur. Sambungan dianggap memiliki kekakuan yang cukup untuk mempertahankan sudut diantara elemen-elemen yang disambung. M sambungan = 90% .

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 15 .

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 16 .

Dianggap mempunyai kapasitas yang cukup untuk memberikan tahanan yang dapat diukur terhadap perubahan sudut tersebut M sambungan = 20% .90% M jepit sempurna DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 17 . penyebaran gaya. Sambungan Semi Kaku (Semi Rigid Connection) Pada sambungan semi kaku. perhitungan kekakuan. dan deformasinya harus menggunakan analisa mekanika yang hasilnya didukung oleh percobaan eksperimental.2. Sambungan tidak memiliki kekakuan yang cukup untuk mempertahankan sudut antara elemen yang disambung.

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 18 .

3. M sambungan = 0% . Sambungan tidak boleh mengakibatkan momen lentur terhadap komponen struktur yang disambung.20% M jepit sempurna DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 19 . Sambungan Sendi (Simple Connection) Sambungan sendi harus dapat berubah bentuk agar memberikan rotasi yang diperlukan pada sambungan. Detail sambungan harus dapat memikul gaya reaksi yang bekerja pada eksentrisitas yang sesuai dengan detail sambungan.

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 20 .

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 21 .

Sejajar (dalam bidang / sebidang) Tegak lurus (lurus bidang / tak sebidang) Kombinasi sejajar – tegak lurus • DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 22 . 2.Bidang Kerja Sambungan • Perencanaan sambungan ditentukan oleh bidang kerja sambungan. Bidang kerja : 1. yaitu bidang tempat bekerjanya gaya pada sistem sambungan. 3.

Bidang Kerja Sejajar (Pembebanan Dalam Bidang) Adalah pembebanan yang gaya dan momen lentur rencananya berada dalam bidang sambungan sedemikian rupa sehingga gaya yang ditimbulkan dalam komponen sambungan hanya gaya geser DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 23 .1.

2. Bidang Kerja Tegal Lurus (Pembebanan Luar Bidang) Adalah pembebanan yang gaya dan momen lentur rencananya menghasilkan gaya yang arahnya tegak lurus bidang sambungan sedemikian rupa sehingga gaya yang ditimbulkan dalam komponen sambungan hanya gaya tarik DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 24 .

Bidang Kerja Kombinasi Adalah pembebanan yang gaya dan momen lentur rencananya menghasilkan gaya yang arahnya sejajar dan tegak lurus bidang sambungan sedemikian rupa sehingga gaya yang ditimbulkan dalam komponen sambungan adalah kombinasi gaya geser dan tarik DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 25 .3.

Tata Letak Baut 3 db ≤ S ≤ 15 tp atau 200 mm 1.5 db ≤ S1 ≤ (4 tp + 100) atau 200 mm S2 ≤ 12 tp atau 150 mm DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 26 .

Perencanaan Baut Kuat Geser Rencana Tumpu Baut Untuk 1 bidang geser baut DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 27 .

Kuat Geser Rencana Tumpu Pelat DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 28 .

Kuat Tarik Rencana DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 29 .

Kombinasi Geser danTarik Rencana Tumpu Baut DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 30 .

Kuat Geser Rencana Baut Mutu Tinggi Tipe Friksi DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 31 .

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 32 .

Kombinasi Geser danTarik Rencana Friksi Baut (Tb) DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 33 .

sehingga disamping sambungan menerima geser sentris. Akibat eksentris tersebut akan menimbulkan beban momen puntir pada sambungan.Kelompok Baut Yang Memikul Beban Sebidang. juga ditambah menerima beban geser puntir Ada 3 cara pendekatan analisis untuk sambugan baut geser puntir yang telah dikenal yaitu :  Cara elastis  Reduced Eccentricity Method  Ultimated Strength Method DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 34 . beban bekerja pada bidang sambungan. Beban Eksentris • • Pada sambungan ini. tetapi tidak melalui titik berat sambungan.

A. DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 35 . Cara Elastis • Penyelesaian cara elastis ini memberikan hasil sangat konservatif karena pengaruh gesekan antar pelat tidak diperhitungkan. momen puntir Mu = Pu x e. seolah-olah disebarkan ke masing-masing baut sedemikian rupa sehingga arah dari beban setiap baut akan membuat momen kopel terhadap titik berat susunan baut dan besar beban masing-masing baut sebanding dengan jarak baut tersebut ke titik berat susunan baut (cg). • • Untuk kasus A adalah geser sentris sehingga beban Pu diterima secara merata pada tiap baut : Ku = Pu/n Untuk kasus B.

Kui = beban pada tiap baut Ri = jarak antara baut ke titik berat (cg) susunan baut dimana arah Ki tegak lurus Ri (1) dan (2) kalau masing-masing beban baut dinyatakan dalam K1 (3) Kalau persamaan (3) dimasukkan persamaan (1) (4) Dengan demikian beban masing-masing baut dapat dinyatakan sbb : Kalau diperhatikan. maka baut yang menerima beban terberat adalah baut terjauh dari cg (Rmax) DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 36 .

Kalau beban K diuraikan dalam arah horisontal dan vertikal. maka perumusannya adalah : Sin ai = Khi = Ki sin ai = Kvi = Ki cos ai = Dimana : Cos ai = Kva = Total beban yang diterima : ≤ Ø Rn DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 37 .

B. n = 4 eefektif = 6 – (1+2x4)/4 = 3. n = 3 eefektif = 5 – (1+3)/2 = 3 in Penyelesaian selanjutnya dengan cara elastis DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 38 . dan n jumlah baut dalam satu baris : eefektif = eaktual – (1+n)/2 (inchi) 1 inchi = 2. dan n adalah jumlah baut dalam satu baris : eefektif = eaktual – (1+2n)/4 (inchi) Baut dua baris atau lebih. Baut satu baris. simetris.54 cm Contoh baut 1 baris.75 in • • • Contoh baut 2 baris. Reduced Eccentricity Method • Cara elastis dapat dikatakan over estimate terhadap besarnya momen yang bekerja pada sambungan sehingga dikembangkanlah suatu cara yang memakai efektif eksentrisitas dengan memperhitungkan pengaruh tahanan slip (gesekan) pada bidang gesek.

Bila momen bertambah. Pada beban eksentris ini cenderung terjadi baik rotasi maupun translasi pada bahan sambungan.C. DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 39 . dan pengaruhnya sama dengan perputaran sambungan terhadap suatu titik yang disebut pusat sesaat perputaran (titik O). dan kegagalan tidak terjadi sebelum semua baut slip atau leleh. baut yang lebih dekat akan menahan beban bertambah besar. Cara yang lebih realistis adalah ultimate strength method Jika pada baut yang terjauh belum mulai terjadi slip atau leleh. Ultimate Strength Method • Kedua penyelesaian diatas dengan cara sifat sambungan elastis. sambungan belum gagal.

Crafod dan Kulak mendapatkan hubungan sbb:  = total deformasi dari baut Rult = kekuatan rencana baut (Ru) Baut terjauh deformasinya diambil =0. Deformasi dari baut-baut ini dianggap bervariasi tergantung pada jarak baut dari pusat sesaat putaran. Beban geser ultimate yang dapat diterima oleh baut tidak sama dengan Ru baut. sehingga didapat keseimbangan : ∑V = 0  Pu .∑Rv = 0 (total gaya vertikal = 0) ∑M terhadap O = 0 (total momen thd titik O = 0) ∑H = 0 (total gaya horisontal = 0) DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 40 .• • • • Pusat sesaat perputaran ini berjarak e’ dari titik berat sambungan.34 in dan deformasi baut lainnya dapat dihitung sebanding dengan jarak (d) antara baut dengan titik pusat (O) Gaya yang diterima oleh masing-masing baut dinyatakan dengan R dengan arah tegak lurus garis hubung (d) Titik O dicari dengan coba-coba. tapi tergantung pada deformasi baut.

nilai Ru direduksi Untuk baut lebih dari 1 baris. nilai Ru dinaikkan DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 41 .Pendekatan Menentukan Jumlah Baut • Untuk sambungan geser sentris jumlah baut bisa langsung dicari : n = jumlah baut • Untuk sambungan geser eksentris jumlah baut harus direncanakan dulu baru dikontrol kekuatannya. Sebagai perkiraan awal jumlah baut dapat digunakan rumus pendekatan sbb : n = jumlah baut Mu = Momen terfaktor μ = jarak vertikal antar baut Ru = kekuatan rencana baut • • • Rumus tsb berlaku untuk beban Mu saja dan baut hanya 1 baris Untuk beban Mu dan Pu.

sehingga beban Pu dibagi secara merata pada tiap baut Ku = Pu/n DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 42 . maka beban menjadi geser sentris. maka akan timbul gaya lintang dan momen lentur pada bidang sambungan itu • Untuk sambungan dengan beban A.Kelompok Baut Pemikul Beban Tidak Sebidang (Eksentris) • Pada tipe sambungan ini beban bekerja tidak lagi pada bidang sambungan.

• • • Untuk sambungan dengan beban B. dimana bagian atas akan tertarik dan bagian bawah tertekan Bila alat penyambung digunakan baut mutu tinggi tipe friction. momen Mu merupakan momen yang menyebabkan sambungan melentur. tapi bila digunakan baut biasa (tipe tumpu) maka gaya tekan ini dapat diabaikan Untuk sambungan baut tipe tumpu dapat diselesaikan dengan cara elastis atau ultimate sedangkan sambungan baut tipe friction diselesaikan dengan memperhitungkan gaya tekan. DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 43 . maka akibat dari pengencang baut akan memberikan gaya tekan pada bidang sambungan.

d2 + Tu3 . d1 + Tu2 .Kelompok Baut Tipe Tumpu Cara Elastis Pendekatan • Metode ini mengasumsikan bahwa sambungan yang menerima beban lentur tersebut akan berputar dengan titik putar pada baut terbawah sehingga baut-baut akan menerima beban tarik sedemikian rupa sehingga besarnya sebanding dengan jarak baut terhadap titik putarnya Mu = Tu1 . d3 + Tu4 . d4 atau (1) (2) DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 44 .

Kalau persamaan (2) di substitusikan ke persamaan (1) maka : Maka beban tarik pada masing-masing baut : Baut menerima beban geser sebesar : Beban tarik max : DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 45 .

Kelompok Baut Tipe Tumpu Cara Elastis Luasan Transformasi • Pada metode ini momen lentur yang terjadi. n) / μ A = luasa penampang baut μ = jarak baut vertikal n = jumlah baut 1 deret DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 46 . gaya tarik ditahan oleh baut sedangkan tekan dipikul oleh pelat penyambung Tarik yang diterima luasan baut dapat ditransformasi ke luasan pelat dengan lebar be dimana : be = (A .

ya2 b . yb3 Tegangan tarik max : Pada baut yang terjauh dari garis netral (g.n) menerima tegangan : ymax = jarak terjauh dari garis netral DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 47 . ya dan yb dapat dihitung Momen inersia dari luasan transformasi : I = 1/3 be . yb2 = ½ be . yb2 = be .• Mencari letak garis netral ½ b . ya2 yb/ya = √(be/b) (1) ya + yb = h (2) Dari persamaan (1) dan (2). ya3 + 1/3 b .

• • Baut terjauh memikul beban tarik : Beban geser : DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 48 .

b = ∑T T = gaya tarik pada 1 baut fyp = tegangan leleh pelat Baut selain memikul beban tarik. juga memikul beban geser : DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 49 .Kelompok Baut Tipe Tumpu Cara Ultimate • Akibat momen terjadi tegangan tekan yang dipikul pelat dan tegangan tarik yang dipikul oleh baut Garis netral didapat dari keseimbangan gaya tekan = gaya tarik : fyp . a .

mana yang terkecil) Garis netral : • Momen rencana yang dapat dipikul oleh sambungan : • Kontrol momen terfaktor : DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 50 .• • • • Kontrol tarik : dimana : Anggap beban tarik baut = Td (diambil dari Td tarik murni dan kombinasi geser tarik.

13 m m Tb DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 51 .Kelompok Baut Tipe Friction • • Akibat momen lentur Mu = Pu x e Menimbulkan : bagian atas = geser + tarik bagian bawah = geser + tekan Garis netral pada tengah-tengah Dimana Vn = 1.

Misalnya pada potongan I sejarak x dari perletakan A • Pada potongan I akan terjadi gaya lintang sebesar DI dan momen lentur MI DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 52 .Sambungan Balok • Karena panjang profil dipasaran terbatas. maka terkadang sebuah balok harus disambung.

Pembagian beban pada sambungan : • Gaya lintang DI seluruhnya dipikul pelat badan profil • Momen lentur MI disalurkan ke pelat sayap dan pelat badan dengan pembagian sbb :  Badan menerima :  Sayap menerima : DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 53 .

• Sambungan Sayap Momen yang dipikul saya dijadikan sepasang gaya kopel sehingga sambungan pada sayap menerima beban geser sentris sebesar gaya kopel tersebut h = tinggi profil DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 54 .

• Sambungan Badan Momen pada pelat badan dan gaya lintang akan bekerja sebagai beban geser eksentris dan momen puntir pada sambungan pelat badan DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 55 .

DESAIN KONSTRUKSI BAJA MK-144020-Unnar-Dody Brahmantyo 56 .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->