Anda di halaman 1dari 2

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Asma merupakan penyakit yang membutuhkan terapi jangka panjang. Karena itu penatalaksanaan jangka panjang juga memerlukan pemahaman penderita akan seluk beluk penyakitnya sehingga akan meningkatkan adheresi terhadap penatalaksanaan asma yang tepat dan benar, serta dapat memberikan dampak positif terhadap komponen farmakoekonomik. Untuk ibu hamil yang mengidap asma, penanganan asma selama masa kehamilan dengan obat-obat asma perlu perhatian khusus. Tidak semua jenis obat asma dapat dikonsumsi oleh wanita hamil. Obat-obat jenis beta agonis adalah yang paling sering diberikan karena menurut hasil riset obat-obat beta agonis tidak meningkatkan risiko timbulnya kelainan kongenital dan kelainan lain. Albuterol atau salbutamol adalah jenis beta agonis yang paling banyak digunakan. Beta agonis aksi pendek, seperti Albuterol atau salbutamol, direkomendasikan sebagai pengobatan untuk semua pasien asma dalam terapi asma akut. Apabila beta agonis tidak memberikan perbaikan, pada terapi asma akut secara umum dan pada wanita hamil dapat disertakan pemberian bronkodilator seperti Nebulized Ipratropium. Obat-obatan terbaru yang digunakan untuk penatalaksanaan asma melibatkan obat-obat leukotriene modifier (zileuton, zafirlukast, dan montelukast). Obat-obat jenis ini efektif dalam terapi asma menetap ringan sampai sedang pada wanita hamil (ITA). Salbutamol sulfat merupakan obat golongan beta agonis yang selektif pada reseptor 2, banyak digunakan sebagai bronkodilator oral pada pasien asma akut atau pada pasien dengan obstruksi paru kronis. Dengn waktu paruh sekitar 4-6 jam maka pasien akan mengkonsumsi obat tersebut dengan frekuensi yang cukup sering. Oleh karena itu dikembangkan sediaan lepas lambat, salah satunya tablet lepas lambat, tujuan utama dari sediaan lepas lambat adalah untuk mempertahankan kadar terapeutik obat dalam darah atau jaringan selama waktu yang diperpanjang. Keunggulan bentuk sediaan ini menghasilkan kadar obat dalam darah yang merata tanpa perlu mengulangi pemberian unit dosisuntuk

upaya menurunkan frekuensi pengguna an sehingga dapat meningkatkan kenyamanan pasien.

1.2 Tujuan 1. Untuk membuat formulasi sediaan tablet lepas lambat ( sustain realease ) salbutamol

1.3 Manfaat 1. Bagi penulis dapat menambah wawasan mengenai sediaan tablet lepas lambat ( sustain realease ) dan salbutamol 2. Bagi masyarakat sebagai informasi mengenai sediaan tablet lepas lambat ( sustain realease ) dan salbutamol 3. Bagi Pemerintah untuk rekomendasi bagi instansi terkait untuk membuat sediaan tablet lepas lambat ( sustain realease ) salbutamol