Anda di halaman 1dari 8

Trauma sendi I.

trauma daerah sendi Pengertian: Seringkali terjadi trauma tulang wajah atau maksilofasial atau trauma yang terjadi di dagu Dan seringkali trauma ini menyebabkan cedera di daerah kondilus. Trauma pada kondilus dimulai dengan trauma daerah sendirobekan pada kapsul sendi, haemarthrosis, sampai terjadinya fraktur pada leher atau kepala kondilus. Kondilus merupakan bagian yang mendasar dari bentuk dan fungsi mandibula terhadap perkembangan dan pertumbuhan rahang., jadi besar perluasan oklusi tergantung integritas dan kesehatan kondilus mandibula. II. macam dan Akibat trauma sendi : pada usia anak- anak tarauma di kondilus akan mempengaruhi komplikasi dalam pertumbuhan , gangguan perkembangan rahang dan okklusi macam trauma sendi: - di daerah dagu - daerah processus coronoideus - trauma karenna tekanan terhadap lengkung zygomatik - trauma karena suatu penyakit ( karsinoma rongga mulut ) III. Komplikasi dari trauma kondilus Disfungsi temporomandibular joint Karena trauma akut pada kondilus mandibula mengakibatkan robek dan tertariknya disc attachment dalam sendi temporomandibular sehingga menyebabkan disfungsi Gangguan pertumbuhan mandibula Bentuk kompensasi pertumbuhan dari regenerasi dan remodelling fraktur prosessus kondilus yang tidak benar menyebakan pertumbuhan tidak normal dan mandibula yang tidak simetris Ankilosis TMJ Dapat disebabakan karena faktor interna dan ekterna. Faktor interna berupa kelainan tulang dan eksterna disebabkan karena adanya trauma, seperti kecelakaan atau pukulan, infeksi atau penyakit.

IV. gejala klinik sebagai petunjuk adanya trauma kondiulus : 1. Nyeri dan pembengkakan pada daerah preaurikuler 2.Terjadi penurunan pembukaan mulut dengan deviasi mandibula ke sisi yang fraktur Trismus sering terjadi karena inhibisi dari reflex sensori karena hasil dari spasme otot 3. saat pembengkakan hilang , translasi kondilus tidak teraba pada sisi yang fraktur 4. malokklusi yang smaar dengan adnaya prematur kontak pada sisi fraktur dan sedikit open bite posterior pada sisi yang non fraktur 5. Jika terdapat dosplase fraktur pada kedua sisi kondilus dapat terjadi open bite anterior disertai pememndekan ramus pada kedua sisi

V. mekanisme dan patofisiologi trauma kondilus Leher sendi merupakan bagian terlemah dari mandibula.Dan paling rawan terkena trauma. Trauma sering terjadi karena sebagai efek gaya tidak langsung dari transmisi sepanjang mandibula dan jarak yang jauh seperti pada sympisis, korpus, angulus ataupun sampai ke leher sendi Trauma intrakapsuler pada soft tissue dari TMJ sering ditemukan pada keadaan yang berhubungan dengan trauma dental. Pada beberapa kasus karena efek gaya yang diredam oleh gigi ketika mulut dalam keadaan tertutup saat terjadinya trauma bahkan trauma akut pada oklusal dapat juga menyebabkan trauma TMJ akut atau dapat terjadi fraktur karena hantaman dari permukaan artikuler dari kepala kondilus. Fraktur leher sendi kondilus dan sub kondilus sering terjadi pada saat mulut terbuka saat terjadinya trauma karena efek dari gaya diteruskan sepanjang mandibula samp[ai pada daerah yang sangat lemah yaitu daerah ekstrakapsuler.

VI. Definisi ankilosis Berasal dari bahasa yunani. Berarti immobilitas dan konsolidasi sebuah sendi yang disebabkan karena penyakit, cidera atau tindakan bedah.Dalam kedokteran gigi dapat mengenai gigi serta sendi temporomandibular. Ankilosis sendi rahang sebagai kehilangan kemampuan berartikulasi dari mandibula dengan os temporale. Penyebab hambatan ini dapat berupa penulangan atau adanya jaringan fibrous. Penggolongan ankilosis sendi rahang: a. Ankilosis intra artikular : etiologi pengkakuan sendi terletak di intraartikular b. ankilosis ekstra artikular : patologinya terletak di luar sendi VII. Mekanisme ankilosis sendi rahang Cedera pada intrakapsular ( terbanyak terjadi ) diikuti dengan pergerakan tulang yang tidak mencukupi ( terbatas ). Hal ini menyebabkan terjadinya extravasasi darah ke sendi membuat perkembangan dari jaringan ikat fibrokartilago ke sendi sehingga terjadi penulangan. VIII. Etiologi dan patogenesis ankilosis Cedera pada struktur sendi rahang berhubungan dengan otot dan jaringan lunak yang berdekatan menyebabkan perdarahan dan proses radang.Timbul efek samping berupa pembentukan jaringan fibrous dan pembentukan tulang yang menyebabkan keterbatasan gerakan.

Ankilosis adalah kaku atau imobilitas dan fiksasi sendi. Ankilosis TMJ melibatkan fusi Kondilus yang ke dasar tengkorak. Ini adalah pembatasan menyakitkan kronis TMJ. Fraktur mandibula condylar telah dokumenmented sebagai penyebab utama ankilosis TMJ. 1 Karena mandibula Kondilus adalah pusat pertumbuhan tumbuh anak, setiap gangguan di wilayah ini memicu perubahan dalam ankilosis mandible.TMJ berkembang, seperti salah satu komplikasi yang paling umum sekunder condylar patah tulang dapat membuat maloklusi, kesulitan dalam pidato cacat, wajah parah dan menjengkelkan stres psikologis. 2 Post traumatic ankilosis TMJ mungkin memiliki beberapa faktor penyebab. Di antaranya, perpindahan lempeng dapat menjadi salah satu yang paling lazim. Perpindahan dari disk menyebabkan tidak adanya penghalang yang biasanya menghambat pembentukan jembatan tulang dipicu oleh TRAU pascatanggapan matic. Atas dasar berbagai konsep diubah penempatan arthroplasties menggunakan disk itu sendiri atau bahan sintetik telah menganjurkan untuk bedah pengelolaan ankilosis TMJ. 3 Hal ini juga tampak bahwa Kondilus sangat vaskular selama 1 st tahun hidup dan menghancurkan cedera dapat mengakibatkan di ekstravasasi darah yang cukup, avaskular necrosis, osifikasi patologis dan ankilosis TMJ. Jadi pada anak-anak cedera buruk dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan rahang dan oklusi menghasilkan manusiadibular micrognathia, maloklusi kelas II, anterior terbuka menggigit dan overjet yang berlebihan. 4 Ankilosis TMJ hampir sepenuhnya terkait dengan trauma dengan 13-100%. 5 Kejatuhan merupakan yang paling yang sering menyebabkan patah tulang pada anak-anak dan condylar komplikasi yang dihasilkan sebagai ankilosis TMJ. Penyebab lain adalah RTA, kekerasan interpersonal, trauma kelahiran dll Infeksi lokal dan penyakit sistemik dapat account untuk penyebab lain dari TMJ ankilosis. 6 Guven menyimpulkan bahwa alasan untuk ankilosis sendi rahang pada anak mungkin karena pengobatan yang tidak memadai atau terlambat dari TMJ patah tulang. 7 Sawhney (1986) telah mengklasifikasikan ankilosis sendi rahang di anakanak, dan mengidentifikasi empat jenis. Tipe 1 (adhesi berserat di sekitar sendi), Tipe 2 (fusi Bony terutama pada bagian luar tepi sendi), Tipe 3 (Jembatan Bony antara mandibula dan sementara tulang) dan Type 4 (Bersama digantikan oleh tulang

2.1 Defenisi Ankilosis berasal dari bahasa Yunani yang berarti kekakuan pada sendi akibat proses dari suatu penyakit. Ankilosis dapat didefenisikan sebagai penyatuan jaringan fibrous atau tulang antara kepala kondilar dengan fosa glenoidalis yang dapat menyebabkan keterbatasan dalam membuka mulut sehingga menimbulkan masalah dalam pengunyahan, berbicara, estetis, kebersihan mulut pasien dan masalah psikologis. 5,7-12 Ankilosis juga merupakan immobilisasi atau fiksasi sendi akibat keadaan yang patologis yang dapat bersifat intrakapsular atau ekstrakapsular.14 2.2 Anatomi Sendi Temporomandibula Sendi temporomandibula merupakan suatu sendi atau perlekatan yang bilateral dan dapat bergerak yang menghubungkan antara mandibula dengan tulang tengkorak Sendi temporomandibula didukung oleh : 1). Artikulasi tulang Sendi temporomandibula terdiri dari persendian yang dibentuk oleh tulang, yang terdiri dari fosa glenoidalis dan prosesus kondilaris mandibula. Prosesus kondilaris ini berbentuk elips yang tidak rata apabila dilihat dari potongan melintang. Sedangkan permukaan artikular dari persendian dilapisi oleh jaringan fibrokartilago yang lebih banyak dibanding kartilago hialin. 2). Diskus Artikularis Diskus tersusun dari tiga bagian, yaitu pita posterior dengan ketebalan 3 mm, zona intermediat yang tipis, dan pita anterior dengan ketebalan 2 mm. 3). Kapsula Kapsula merupakan ligamen tipis yang memanjang dari bagian temporal fosa glenoidalis di bagian atas, bergabung dengan tepi meniskus, dan mencapai bawah leher prosesus kondilaris untuk mengelilingi seluruh sendi. 4). Ligamen Ligamen-ligamen yang terdapat pada sendi temporomandibula yaitu ligamen temporomandibula, ligamen sphenomandibula,ligamen stylomandibula, dan ligamen malleolar mandibula. Ligamen tersebut berfungsi sebagai pelekat tulang dengan otot dan dengan tulang yang lain. 5). Suplai pembuluh darah dan saraf Suplai saraf sensoris ke sendi temporomandibula didapat dari nervus aurikulotemporalis dan nervus masseter cabang dari nervus mandibularis. Jaringan pembuluh darah untuk sendi berasal dari arteri temporalis superfisialis yang merupakan cabang dari arteri carotis eksterna. 2.3 Etiologi Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya ankilosis sendi temporomandibula antara lain : 2,10,15 1). Trauma Trauma merupakan penyebab utama dari ankilosis sendi temporomandibula. Menurut Ellis, fraktur kondilar khususnya fraktur pada leher kondilar merupakan penyebab utama terjadinya ankilosis pada sendi temporomandibula. Tetapi pada awal tahun 1978, Laskin menguraikan beberapa faktor yang mendukung terjadinya trauma pada mandibula sehingga mengakibatkan ankilosis yaitu : a). Usia pasien Pada pasien yang masih muda, kapsula belum berkembang dengan baik sehingga memudahkan dalam terjadinya pergeseran kondilar dari fosa glenoidalis. b). Tingkat keparahan trauma

Kerusakan dari kondilus, diskus dan fosa dipengaruhi oleh derajat keparahan trauma. c). Lokasi fraktur Cedera pada intrakapsular mempunyai dampak yang lebih besar dalam terjadinya ankilosis. d). Diskus artikularis Kontak langsung antara kondilus yang patah dengan fosa glenoidalis dapat menyebabkan berkembangnya ankilosis. e). Durasi immobilisasi Laskin menyatakan bahwa meskipun percobaan untuk membuat ankilosis buatan dengan memperpanjang waktu dari fiksasi tidak berhasil, tetapi hal ini tidak menghilangkan peran dari durasi immobilisasi sebagai faktor etiologi. 2). Stills disease ( Artritis kronik juvenil) dan artritis rhematoid Kerusakan sendi secara kronik, deformitas dan terbatasnya pertumbuhan mandibula dapat disebabkan oleh penyakit oligoarticular rheumatoid juvenil. 3). Inflamasi pada sendi Artritis septik dan artritis tuberkulosa dapat menyebabkan ankilosis. 4). Riwayat bedah pada sendi temporomandibula Pada pasien yang telah mengalami pembedahan pada sendi temporomandibulanya apabila permukaan dari sendi tidak sembuh secara tepat maka permukaan tersebut akan lebih meradang dan jaringan yang fibrotik akan melekat pada diskus sehingga dapat berpotensi menjadi ankilosis. 5). Bedah ortognatik Efek dari operasi bimaksiler pada kondilar telah diketahui secara jelas dimana perubahanperubahan pada posisi kondilar dapat mempengaruhi artikulasi dan fungsi secara signifikan. 6).Penyebab lainnya Ankilosis kongenital biasanya dihubungkan dengan forcep yang digunakan pada waktu melahirkan dimana forcep tersebut menyebabkan kerusakan pada sendi temporomandibula pada neonatus. 2.4 Klasifikasi Terdapat beberapa klasifikasi yang dipergunakan untuk menjelaskan ankilosis sendi temporomandibula. Topazian (1966) mengklasifikasikan ankilosis sendi temporomandibula antara lain : 2 1) Tipe I Perlekatan fibrous pada atau di sekitar sendi yang membatasi pergerakan kondilar. 2) Tipe II. Pembentukan tulang antara kondilus dan fosa glenoidalis 3) Tipe III Penyatuan leher kondilus pada fosa secara menyeluruh. Kazanjian mengklasifikasikan ankilosis sendi temporomandibula sebagai berikut :

1) Ankilosis murni/ ankilosis intra artikular Suatu kondisi dimana terjadi perlekatan tulang atau fibrous terhadap sendi. 2) Pseudoankilosis/ ankilosis ekstra artikular Ankilosis yang terjadi akibat penyakit yang tidak berhubungan secara langsung dengan sendi. Selain itu, terdapat juga klasifikasi menurut Sawhney yang mengklasifikasikan ankilosis sendi temporomandibula antara lain : 7,11 1) Tipe I Pembentukan tulang yang minimal, tetapi perlekatan fibrous meluas sampai di sekitar sendi. 2) Tipe II Terjadi pembentukan tulang khususnya pada pinggiran permukaan sendi. 3) Tipe III Pembentukan tulang antara mandibula dengan tulang temporal. 4) Tipe IV Digantikannya sendi dengan massa tulang. 2.5 Gejala Klinis Gejala-gejala yang diakibatkan oleh ankilosis pada sendi temporomandibula dapat dilihat dari aspek fungsional,estetis, dan psikologi. Ankilosis pada mandibula dapat menyebabkan yaitu: 9 1). Keterbatasan pada pergerakan rahang 2). Berkurangnya fungsi pengunyahan 3). Keterbatasan pada pembukaan mulut 4). Terhambatnya pertumbuhan wajah 5). Pengucapan yang tidak jelas 6). Pertumbuhan mandibula berkurang sehingga menyebabkan bird face 7). Asimetri pada wajah apabila ankilosis terjadi hanya pada satu sisi 8). Susah bernafas dan menelan 9). Mendengkur dan susah bernafas saat tidur 10).Gigi yang tidak teratur akibat kurangnya ruang untuk erupsi komponen gigi yang normal. 2.6 Diagnosa ankilosis sendi temporomandibula Diagnosa dari penyakit atau gangguan fungsi sendi temporomandibula dilakukan dengan pemeriksaan riwayat pasien, pemeriksaan klinis yang hati-hati dan terkadang membutuhkan pemeriksaan tambahan yaitu artroskopi. Diagnosa dari penyakit atau gangguan fungsi sendi temporomandibula juga tergantung pada ketepatan interpretasi hasil foto rontgen.1,14 2.6.1 Riwayat penyakit Keluhan yang dirasakan oleh penderita ankilosis sendi temporomandibula yaitu :

1) Perubahan luas pergerakan pembukaan mulut/ trismus Pada penderita sendi temporomandibula dapat dilihat berkurangnya luas pergerakan yang nyata, khususnya pada jarak antar insisal. 2) Perubahan oklusi Beberapa penderita mengeluhkan perubahan pada gigitan, dimana gigi penderita tidak terkatup secara tepat. 3) Perawatan sebelumnya Informasi mengenai perawatan sebelumnya juga dapat membantu dalam menegakkan diagnosa. Dilakukan pencatatan kronologi perawatan sebelumnya khususnya perawatan bedah pada sendi temporomandibula. 2.6.2 Pemeriksaan klinis Pemeriksaan klinis pada penderita ankilosis sendi temporomandibula dapat didasarkan atas pemeriksaan terhadap : 1) Oklusi Dilakukan pemeriksaan pada gigi secara menyeluruh dengan memperhatikan faktor oklusi. Gangguan oklusi secara umum bisa langsung diperiksa. 2) Pembukaan antar insisal Evaluasi luas pergerakan mandibula yang diukur dengan penggaris dengan skala milimeter atau jangka. 3) Pergerakan lain Pengukuran pergeseran secara lateral biasanya pada titik atau garis tengah kemudian dibandingkan kesimetrisannya. 4) Deviasi Deviasi pada mandibula sewaktu membuka mulut atau protrusi dapat terlihat dengan jelas. 2.6.3 Radiografi Radiografi yang dapat digunakan untuk menegakkan diagnosa dari ankilosis sendi temporomandibula yaitu : 6,13 1. Orthopantomograph dapat digunakan untuk melihat kedua sendi temporomandibula sehingga dapat dibandingkan jika ankilosis hanya mengenai satu sisi. 2. Foto TMJ transkranial dapat digunakan untuk menentukan diagnosis perubahan yang menyangkut jaringan tulang dan adanya keterbatasan pergerakan dengan cara membandingkan

posisi prosesus kondilaris dua sisi dalam keadaan terbuka dan tertutup 3. Computed Tomography Scan (CT-scan) dapat digunakan untuk mengukur lebar anteroposterior dan relasi sendi terhadap fosa kranio media. Selain itu, 3D CT-scan juga dapat memberikan gambaran deformitas yang nyata. Pada pemeriksaan radiografi, sendi temporomandibula yang terkena ankilosis akan menunjukkan gambaran adanya kehilangan bentuk sendi yang normal dengan penyatuan prosesus kondiloideus dan fosa glenoidalis. Dimana luasnya bervariasi dan tergantung pada keparahan ankilosis tersebut.2,17 Pada tahun 1980, computed tomography scan (CT-scan) mulai diaplikasikan pada ankilosis sendi temporomandibula. Pemeriksaan ankilosis sendi temporomandibula dengan menggunakan CTscan dalam arah sagital, koronal, aksial menunjukkan terjadinya perluasan dan kepadatan massa tulang dan penebalan pada tulang temporal di daerah glenoid. Massa ankilosis mempunyai gambaran yang khas bila dilihat dari pandangan koronal, dimana gambarannya terlihat seperti bentuk jamur. CT-scan juga dapat memberikan gambaran yang jelas ankilosis yang disebabkan secara ekstra artikular.2,4 2.6.4 Pemeriksaan dengan Artroskopi Pemeriksaan ankilosis sendi temporomandibula secara diagnostik khusus dilakukan dengan menggunakan artroskopi pada sendi temporomandibula. Artroskopi adalah suatu prosedur yang melibatkan serat optik kecil yang disisipkan kepada celah diatas sendi sehingga memungkinkan dilakukannya pengamatan pada struktur sendi temporomandibula serta untuk mengatasi terbatasnya akses pada sendi temporomandibula sewaktu pembedahan. Artroskopi dapat digunakan sebagai diagnostik dan sebagai terapi. Artroskopi secara diagnostik diindikasikan saat pemeriksaan langsung pada sendi diperlukan untuk memastikan dugaan kelainan klinis yang tidak mudah dipastikan dengan prosedur diagnostik yang lain.1 Pemeriksaan ini dilakukan dengan artroskop berdiameter luar 2,4 mm dan 2,7 mm dan diameter optikal 1,7 mm dan 2,4 mm. Lensa pembesar bervariasi dari pembesaran 1 x hingga 15 x tergantung pada jarak antara obyek dan ujung artroskop. Prosedur ini dilakukan dengan bantuan anastesi local. source :http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16849/4/Chapter%20II.pdf