Anda di halaman 1dari 9

KITAB THOHAROH Shalat Tidak Diterima Tanpa Bersuci

Qutaibah bin Said menceritakan kepada kami, Abu Awanah memberitahukan kepada kami dari Simak bin Harb, Hannad menceritakan kepada kami, Waki' menceritakan kepada kami dari Israil, dari Simak, dari Mush'ab bin Sa'id, dari Ibnu Umar, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Tidak diterima shalat tanpa suci dan tidak diterima sedekah dari harta khianat (curian dari harta rampasan perang)" (Hannad berkata di dalam haditsnya, "Kecuali dengan suci"). Shahih: Ibnu Majah (272) dan Shahih Muslim Abu Isa berkata, "Hadits ini adalah hadits yang paling shahih dalam bab ini, dan yang paling hasan." Dalam bab ini terdapat hadits dari Abdul Malik, dari ayahnya. Abu Hurairah dan Anas, Abdul Malik bin Usamah namanya adalah Amir, ia disebut (dipanggil) Zaid bin Usamah bin Umair Al Hudzali.
Keutamaan Bersuci

Ishaq bin Musa Al Anshari menceritakan kepada kami, Ma'n bin Isa Al Qazzaz menceritakan kepada kami, Malik bin Anas menceritakan kepada kami,

Qutaibah menceritakan kepada kami, dari Malik, dari Suhail bin Abu Shalih, dari Abu Hurairah, dia mengatakan bahwa Rasullullah SAW bersabda, "Apabila seorang muslim atau seorang mukmin berwudhu lalu ia membasuh mukanya, maka dari wajahnya akan keluar setiap kesalahan yang dilihatnya dengan kedua matanya bersamaan dengan air atau tetesan air yang terakhir, atau seperti ini. Apabila ia membasuh kedua tangannya, maka dari kedua tangannya keluar semua kesalahan yang dibasuh dengan air -atau bersamaan dengan tetesan air yang terakhir- sehingga ia keluar dengan bersih dari dosa. " Shahih: Ta'liq Ar-Raghib (1/95) dan Shahih Muslim Abu Isa berkata, "Ini hadits hasan shahih. Hadits Malik dari Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah dan Abu Shalih (yaitu Walid bin Suhail), dia adalah Abu Shalih As-Samman, namanya adalah Dzakwan. Sedangkan Abu Hurairah diperselisihkan tentang namanya. Ada yang mengatakan Abdu Syams dan ada yang mengatakan Abdullah bin Amri. Demikianlah Muhammad bin Ismail mengatakan, dan itulah yang paling shahih. Abu Isa berkata, "Dalam bab ini ada hadits yang diriwayatkan dari Utsman bin Affan, Tsauban dan Shunabihi, Amr bin Abasah, Salman dan Abdullah bin Amr." Shunabihi meriwayatkan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq (ia tidak mendengar dari Rasullullah SAW). Namanya adalah Abdurrahman bin Usailah, dan ia dijuluki Abu Abdillah. Ia bepergian kepada Nabi SAW, kemudian memanggilnya ketika berada di jalan, dan dia telah meriwayatkan hadits dari Nabi SAW. Shunabihi bin Al A'sar Al Ahmasi (seorang sahabat Nabi SAW yang dipanggil dengan nama Ash-Shunabihi) menyebutkan hadits: Aku mendengar Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya aku bersaing dengan umat yang lain dengan (banyaknya) kalian, maka janganlah kamu berbunuh-bunuhan setelah aku"
Kunci Shalat adalah Bersuci

Qutaibah menceritakan kepada kami, dan hannad dan Mahmud bin Ghalyan mereka berkata, "Waki' bercerita kepada kami dari Sufyan, Muhammad bin Basyar menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Mahdi menceritakan

kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami dari Abdullah bin Muhammad bin Aqil, dari Muhammad bin Al Hanafiyyah, dari Ali, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Kuncinya shalat adalah bersuci, sedangkan yang menjadikan pengharamannya (untuk mengerjakan amalan atau ucapan diluar shalat) adalah takbir (Takbiratul ihram) dan yang menghalalkannya (sebagai tanda selesainya shalat, dan bolehnya melakukan apa yang dilarang saat shalat) adalah salam." Hasan Shahih: Ibnu Majah (275) Abu Isa berkata, "Hadits ini paling shahih dalam bab ini, dan paling hasan. Abdullah bin Muhammad bin Aqil adalah orang yang sangat jujur. Kejujurannya dan sisi hafalannya banyak dibicarakan oleh ahli ilmu. Abu Isa berkata, "Aku mendengar Muhammad bin Ismail berkata, 'Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Ibrahim, dan Al Humaidi berargumentasi dengan hadits Abdullah bin Muhammad bin Aqil. Muhammad berkata, 'Dia mengatakan hadits dengan baik'."Abu Isa berkata, "Didalam bab ini terdapat hadits yang diriwayatkan dari Jabir dan Abu Sa'id."

Abu Bakar menceritakan kepada kami, Muhammad bin Zanjawaih Al Baghdadi dan tidak hanya seorang mengatakan: Husain bin Muhammad menceritakan kepada kami, Sulaiman bin Qarm menceritakan kepada kami dari Abu Yahya Al Qattat, dari Mujahid, dari Jabir bin Abdullah RA, dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Kuncinya surga adalah shalat dan kuncinya shalat adalah wudhu'. " (Shahih Lighairihi)

Bacaan Masuk Kamar Kecil


Qutaibah dan Hannad menceritakan kepada kami, keduanya berkata, "Waki' menceritakan kepada kami dari Syu'bah, dari Abdul Aziz dan Shuhaib, dari Anas bin Malik, dia berkata, "Jika Nabi SAW masuk kamar kecil, maka beliau membaca, ' Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu'. " Sya'bah berkata, "Beliau berkata pada kali lain, 'Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan syetan laki-laki dan syetan perempuan'." Shahih: Ibnu Majah (297) dan Muttafaq 'alaih Abu Isa berkata, "Dalam bab ini juga terdapat hadits dari Ali, Zaid dan Arqam, Jabir, dan Ibnu Mas'ud." Abu Isa berkata, "Hadits Anas adalah hadits yang paling shahih dan paling hasan dalam bab ini." Didalam sanad hadits Zaid bin Arqam terdapat idhthirab: Hisyam Ad-Datsuwa'i, Sa'id, dan Abu Arubah dari Qatadah, lalu Sa'id berkata dari Qasim dan Auf Asy-Syaibani, dari Zaid bin Arqam. Hisyam Ad-Datsuwa'i berkata dari Qatadah, dari Zaid bin Arqam. Syu'bah dan Ma'mar meriwayatkan dari Qatadah, dari Nadhr bin Anas. Syu'bah berkata dari Zaid bin Arqam. Ma'mar berkata dari Nadhr bin Anas dan ayahnya, dari Nabi SAW. Abu Isa berkata, "Aku bertanya kepada Muhammad tentang masalah ini? Ia menjawab, 'Kemungkinan Qatadah meriwayatkan dari keduanya'."


Ahmad bin Abdah Adh-Dhabbi Al Bashri memberitahu kami, Hammad bin Zaid memberitahu kami dari Abdul Aziz bin Shuhaib, dari Anas bin Malik, ia

berkata, "Jika Nabi SAW masuk kamar kecil, maka beliau membaca, 'Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada-Mu dari kejahatan syetan lakilaki dan syetan perempuan'. " Shahih: lihat sebelumnya.
Doa Keluar Dari Kamar Kecil


Muhammad bin Isma'il menceritakan kepada kami, Malik bin Isma'il menceritakan kepada kami dari Israil bin Yunus, dari Yusuf bin Abi Burdah, dari ayahnya, dari Aisyah RA, beliau berkata, "Jika Nabi SAW keluar dari kamar kecil, maka beliau membaca, '(Kami mohon) ampunan-Mu'." Shahih: Ibnu Majah: (300) Abu Isa berkata, "Ini adalah hadits hasan gharib, yang tidak kami ketahui kecuali dari hadits Israil, dari Yusuf bin Abu Burdah. Sedangkan nama Abu Burdah adalah Amir bin Abdullah bin Qais Al Asy'ari. Kami tidak mengetahui dalam bab ini kecuali hadits Aisyah RA dari Nabi SAW.
Larangan Menghadap Kiblat Saat Buang Hajat


Sa'id bin Abdurrahman Al Makhzumi menceritakan kepada kami, Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami dari Atha' bin Yazid Al-Laits, dari Abu Ayyub Al Anshari, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Apabila kalian mendatangi tempat buang air besar atau air kecil, maka jangan menghadap kiblat dengan buang air besar atau kecil dan jangan membelakanginya. Tetapi

menghadaplah ke timur atau ke barat'. " Abu Ayyub berkata, "Kami datang (tiba) di Syam (Syiria) dan kami telah mendapati kakus-kakus telah dibangun dengan menghadap kiblat, maka kami merubahnya dan mohon ampunan kepada Allah." Shahih: Ibnu Majah (318) dan Muttafaq 'alaih Abu Isa berkata, "Didalam bab ini terdapat hadits dari Abdullah bin Al Harits bin Jaza" Az-Zubaidi dan Ma'qil bin Abil Haitsam, dan dikatakan Ma'qil bin Abu Ma'qil, Abu Umamah, Abu Hurairah, dan Sahal bin Hunaif." Abu Isa berkata, "Hadits Abu Ayyub adalah hadits yang paling hasan dan paling shahih dalam bab ini." Abu Ayyub adalah Khalid bin Zaid. Az-Zuhri adalah Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Syihab Az-Zuhri. Julukannya adalah Abu Bakr. Abu Al Walid Al Makki berkata, "Abu Abdullah, Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i berkata, 'Makna sabda Nabi SAW, "Janganlah kamu menghadap kiblat saat buang air besar atau buang air kecil, dan jangan membelakanginya. " Hanya di tanah lapang, sedangkan jika di dalam bangunan tertutup maka tempat tersebut mempunyai keringanan dalam hal ini. Demikianlah perkataan Ishaq bin Ibrahim'."Ahmad bin Hambal RA berkata, "Keringanan dari Nabi SAW adalah mengenai membelakangi kiblat dalam buang air besar atau buang air kecil. Adapun menghadap kiblat, maka janganlah kalian melakukannya. Imam Ahmad seolah-olah berpendapat bahwa tidak boleh menghadap kiblat saat buang hajat, baik di tanah terbuka maupun di tempat tertutup."
Keringanan yang Datang Mengenai Hal di Atas


Muhammad bin Basysyar dan Muhammad bin Al Mutsanna menceritakan kepada kami, keduanya berkata, "Wahab bin Jarir menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Ishaq, dari Aban bin Shalih, dari Mujahid, dari Jabir bin Abdullah, dia berkata, "Nabi SAW melarang kami menghadap kiblat saat buang air kecil. Setahun sebelum beliau wafat, aku melihat beliau menghadap ke kiblat. " Shahih: Ibnu Majah (325) Didalam bab ini terdapat hadits dari Abu Qatadah, Aisyah, dan Ammar bin Yasir. Abu Isa berkata, "Hadits Jabir dalam bab ini berstatus hasan gharib. "


Hannad menceritakan kepada kami, Abdah bin Sulaiman menceritakan kepada kami dari Ubaidullah bin Umar, dari Muhammad bin Yahya bin Habban, dari pamannya. Wasi' bin Habban dari Ibnu Umar, dia berkata, "Pada suatu hari aku naik ke rumah Hafshah, dan aku melihat Nabi SAW sedang buang hajat menghadap Syam -Syiria- dengan membelakangi Ka'bah." Shahih: Ibnu Majah (322) dan Muttafaq 'ataih Abu Isa berkata, "Hadits ini hasan shahih."
Larangan Kencing dengan Berdiri


Ali bin Hujr menceritakan kepada kami, Syarik memberitahukan kepada kami dari Miqdam bin Syuraih, dari ayahnya, dari Aisyah, dia berkata, "Barangsiapa bercerita kepadamu bahwa Nabi SAW kencing dengan berdiri, maka jangan mempercayainya! Beliau tidak pernah kencing kecuali dengan duduk (berjongkok)." Shahih: Ibnu Majah (307) Ia berkata, "Didalam bab ini terdapat hadits dari Umar, Buraidah, dan Abdurrahman bin Hasanah." Abu Isa berkata, "Hadits Aisyah adalah hadits yang paling hasan dan shahih dalam bab ini." Hadits Umar hanya diriwayatkan dari hadits Abdul Karim bin Abu Al Mukhariq, dari Nafi', dari Ibnu Umar, dia berkata, "Nabi SAW melihatku saat aku sedang kencing dengan berdiri, maka beliau bersabda, Hai Umar, janganlah kamu kencing dengan berdiri!" Lalu setelah itu aku tidak kencing dengan berdiri."Abu Isa berkata, "Hanya Abdul Karim bin Abu Al Mukhariq yang me-marfu'-kan hadits ini, padahal ia lemah menurut ahli hadits. Ayyub As-Sakhtiyani melemahkannya dan membicarakannya. Ubaidullah meriwayatkannya dari Nafi' dari Ibnu Umar, dia

berkata, "Umar RA berkata, 'Aku tidak kencing dengan berdiri sejak aku masuk Islam'." Hadits ini lebih shahih daripada hadits Abdul Karim dan hadits Buraidah, dan dalam hal kedua hadits tersebut tidak mahfuzh (akurat). Makna larangan kencing dengan berdiri bertujuan untuk mendidik, bukan untuk mengharamkan. Telah diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud, dia berkata, "Sesungguhnya kencing sambil berdiri termasuk akhlak yang tidak baik."
Keringanan dalam Hal di Atas


Hannad menceritakan kepada kami, Waki' menceritakan kepada kami dari Al A'masy, dari Abu Wail, dari Hudzaifah, dia berkata, "Nabi SAW mendatangi tempat pembuangan sampah suatu penduduk, lalu beliau kencing di atasnya dengan berdiri. Lalu aku membawa air wudhu kepada beliau. Kemudian aku pergi untuk mundur dari beliau tapi Beliau memanggilku sampai aku di dekatnya. Beliau wudhu dan mengusap kedua sepatunya (khuf)" Shahih: Ibnu Majah (305) dan Muttafaq 'alaih Abu Isa berkata, "Aku mendengar Al Jarud berkata, 'Aku mendengar Waki' menceritakan hadits ini dari Al A'masy'. Kemudian Waki' berkata, 'Ini adalah hadits yang paling shahih yang diriwayatkan dari Nabi SAW mengenai mengusap (khuf)." Aku mendengar Abu Ammar dan Husain bin Huraits berkata, "Aku mendengar Waki' lalu ia menuturkan seperti itu." Abu Isa berkata, "Demikianlah Manshur dan Ubaidah Adh-Dhabbi meriwayatkan dari Abu Wa'il, dari Hudzaifah, seperti riwayat Al A'masy." Hammad bin Abu Sulaiman Ashim bin Bahdalah meriwayatkan dari Abu Wa'il, dari Mughirah bin Syu'bah, dari Nabi SAW. Hadits Abu Wa'il dari Hudzaifah lebih shahih. Sebagian ulama telah memberi kelonggaran dalam masalah kencing dengan berdiri. Abu Isa berkata, "Ibrahim An-Nakha'i telah meriwayatkan dari Abidah bin Amr As-Salmani, sedangkan Abidah termasuk tabiin." Diriwayatkan dari Abidah, ia berkata, "Aku masuk Islam dua tahun sebelum Nabi SAW." Sedangkan Ubaidah Adh-Dhabbi adalah teman Ibrahim, yaitu Ubaidah bin Mu'attib Adh-Dhabbi, yang dipanggil Abdul Karim.
Memakai Tabir (Penutup) Ketika Buang Hajat


Qutaibah bin Sa'id menceritakan kepada kami, Abdus-Salam bin Harb Al Mula'i menceritakan kepada kami dari A'masy, dari Anas, dia berkata, "Jika Nabi SAW hendak buang hajat (besar atau kecil), maka beliau tidak mengangkat pakaiannya sehingga beliau dekat dari tanah. " Shahih: Shahih Abu Daud (11), Silsilah Ahadits Ash-Shahihah (1071). Abu Isa berkata, "Demikianlah Muhammad bin Rabi'ah meriwayatkan hadits dari Al A'masy, dari Anas." Waki' dan Abu Yahya Al Himmani meriwayatkan dari Al A'masy, dari Ibnu Umar, dia berkata, "Apabila Nabi SAW hendak buang hajat, maka beliau tidak mengangkat pakaiannya sehingga hampir menyentuh tanah." Kedua hadits tersebut mursal. Dikatakan, "Ia (A'masy) tidak mendengar dari Anas dan tidak juga dari seorang sahabat Nabi SAW. Ia telah melihat Anas bin Malik, ia berkata, "Aku melihat dia sedang shalat. Lalu ia menyebutkan darinya cerita tentang shalat." Al A'masy adalah Sulaiman bin Mihran Abu Muhammad Al Kahili, dan ia adalah hamba sahaya mereka. Al A'masy berkata, "Ayahku seorang yang kaya, lalu ia diwaris oleh Masruq."