Anda di halaman 1dari 12

1

USULAN PENELITIAN

PENGARUH SUHU TERHADAP PROSES BIOBLEACHING PELEPAH SAWIT SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN NITROSELULOSA MENGGUNAKAN ENZIM XYLANASE

OLEH ADISTY CAESARI 0907133150

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU 2012


BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Pembangunan perkebunan kelapa sawit pada masa pemerintahan Orde Baru diarahkan dalam rangka untuk menciptakan kesempatan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan sektor penghasil devisa negara . Pada waktu itu pemerintah terus mendorong pembukaan lahan baru untuk perkebunan dan sampai tahun 1980, luas lahan perkebunan mencapai 294.560 Ha dengan produksi CPO(Crude Palm Oil) sebesar 721 .172 ton . Sejak itu lahan perkebunan kelapa sawit Indonesia berkembang pesat terutama perkebunan rakyat. Pemilihan komoditas sawit untuk menjadi komoditas andalan baru dari subsector perkebunan disamping komoditas lain yang telah lama diusahakan seperti karet, lada, kelapa, kakao dan kopi adalah berdasarkan pertimbangan besarnya manfaat yang diharapkan dapat diperoleh daerah dari komoditas ini . Peluang pasar permintaan akan CPO di dunia terus meningkat dari tahun ke tahun . Data BPS (2001) menyebutkan bahwa ekspor minyak sawit Indonesia tahun 2000 sebesar 4,68 juta ton dengan nilai USD 1,32 miliar. Potensi ekspor minyak sawit ini terus meningkat dengan pertumbuhan 7,9 persen per tahun, sehingga pada tahun 2003 naik menjadi lebih dari 6,02 juta ton. Provinsi Riau tercatat sebagai wilayah yang memiliki perkebunan sawit terluas di Indonesia yaitu 1,61 juta hektar [Dinas Perkebunan Riau, 2010]. Dengan luas perkebunan sawit tersebut, maka limbah pelepah sawit yang dihasilkan sebesar 10,14 juta ton. Pelepah kelapa sawit merupakan salah satu jenis limbah padat hasil samping dari industry pengolahan kelapa sawit yang saat ini masih menimbulkan permasalahan bagi lingkungan hidup. Hal ini disebabkan karena limbah ini diproduksi dalam jumlah besar dan sukar terdegradasi/terurai secara alami di lingkungan. Menurut Prananta (2009), pelepah kelapa sawit mengandung lignin (29,4%), hemiselulosa (27,7%), selulosa (26,6%), air (8,0%), komponen ekstraktif (4,2%), abu (0,6%). Oleh karena itu, limbah ini sangat berpotensi jika dikembangkan menjadi produk-produk yang bermanfaat dan memberi nilai tambah dari aspek ekonomi serta ramah lingkungan.

3 Padil [2010] melaporkan komposisi selulosa, hemiselulosa, dan lignin pelepah sawit secara berturut-turut ; 34,89%, 27,14%, dan 19,87%. Kandungan selulosa tersebut dapat digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan nitroselulosa. Zulfieni [2011] melakukan hidrolisis pelepah sawit untuk memurnikan selulosa dengan menggunakan larutan pemasak dari ekstrak abu TKS (Tandan Kosong Sawit) dan hasil penelitiannya menunjukkan kadar selulosa yang diperoleh yaitu 86,12%. Hasil tersebut belum dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan nitroselulosa. Kadar seluosa yang harus dicapai agar dapat digunakan untuk bahan baku pembuatan nitroselulosa adalah lebih dari 92%. Untuk mencapai kemurnian tinggi maka dilakukan proses bleaching. Diharapkan dari proses bleaching, komponen selulosa yang terdapat di dalam pelepah sawit akan semakin murni dan dapat diolah menjadi nitroselulosa. Pemucatan (bleaching) merupakan suatu tahap proses pemurnian untuk menghilangkan zat-zat warna yang tidak disukai dalam suatu bahan dan meningkatkan kemurnian dari suatu bahan. Proses bleaching terdiri dari tiga yaitu bleaching secara fisika, bleaching secara kimia dan bleaching secara biologi. Bleaching yang paling banyak digunakan dalam industri yaitu bleaching secara kimia. Bleaching secara kimia sering menimbulkan masalah pencemaran lingkungan. Maka dari itu, diperlukan metode alternatif yang ramah lingkungan untuk mengatasi problem ini, salah satunya adalah dengan mengembangkan proses bleaching menggunakan enzim xylanase. Enzim xylanase diketahui memiliki kemampuan untuk memurnikan komponen selulosa yang terdapat di dalam lignoselulosa karena xylanase merupakan kelompok enzim yang memiliki kemampuan menghidrolisis hemiselulosa [Tsujibo et al., 1992]. Pemakaian enzim dalam industri tentu akan memberikan dampak lingkungan yang lebih baik, sehingga proses bleaching selulosa menggunakan enzim xylanase ini akan memberikan kemurnian selulosa yang lebih tinggi sekaligus menjawab permasalahan lingkungan yang dihadapi ketika melakukan bleaching

menggunakan zat kimia seperti selama ini. 1.2 Perumusan Masalah

4 Penumpukan pelepah sawit yang berlimpah di perkebunan sawit mendatangkan hama yang dapat merusak tanaman sawit. Beberapa alternatif yang telah ditawarkan seperti pembuatan pupuk kompos dan pakan ternak dari limbah pelepah sawit belum direalisasikan secara optimal. Proses bleaching dengan menggunakan senyawa kimia seperti klorin mendapat sorotan khususnya dari organisasi peduli lingkunngan karena limbah yang dihasilkan sangat berbahaya bagi lingkungan [Bajpai, 1999]. Oleh karena itu penelitian untuk mencari alternatif pengganti yang ramah lingkungan terus dikembangkan. Altrenatif pengganti yang mulai dikembangkan adalah dengan cara biodelignifikasi yaitu memanfaatkan peranan mikroorganisme seperti jamur Aspergillus niger yang dapat menghasilkan enzim xylanase. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh peranan enzim xylanase pada proses bleaching dalam memucatkan komponen selulosa yang terdapat pelepah yang terlebih dahulu mengalami proses hidrolisis terlebih dahulu. Enzim yang digunakan yaitu enzim xylanase. Enzim xylanase dapat mendegradasi hemiselulosa sehingga ikatan antara lignin dan selulosa dapat dipisahkan. Proses pemutihan pulp secara biologi menggunakan enzim xylanase, merupakan pendekatan baru yang menawarkan proses ramah lingkungan.

1.3

Tujuan Penelitian Mendapatkan kondisi operasi optimum komposisi logam pengemban katalis

dan waktu proses perengkahan pada nilai yield biofuel tertinggi yang dihasilkan dari perengkahan PFAD menjadi biofuel. Mengetahui komponen kimia serta gugus fungsi biofuel yang akan didapatkan dari teknologi perengkahan PFAD menjadi biofuel.

1.4

Manfaat Penelitian Tujuan yang akan dicapai dari penelitian ini adalah:

1.

Memberikan solusi terhadap penumpukan limbah padat pelepah sawit agar lebih bermanfaat.

5 2. Menentukan kondisi optimum proses bleaching pada pelepah sawit dengan menggunakan enzim xylanase. 3. Memberikan informasi bahwa enzim xylanase dapat menjadi alternatif pada proses bleaching dengan bahan baku pelepah sawit.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Pelepah Sawit Litbang Deptan [2010] memperkirakan dalam satu pohon sawit bisa dihasilkan 22 batang pelepah, dan satu hektar akan dihasilkan sekitar 6,3 ton pelepah setiap tahun nya. Pelepah sawit, merupakan salah satu sumber selulosa yang cukup tinggi dengan komposisinya seperti pada Tabel 1.
Tabel 1. Komponen Kimia Limbah Padat Sawit

HASIL UJI (%) No. PARAMETER Sabut Sawit TKS 1. 2. 3. Kadar Lignin Kadar Selulosa 29,02 27,49 Pelepah Sawit Batang Sawit 17,74 35,92 26,05 19,41 19,87 34,26 34,89 25,65 27,14

Kadar Hemiselulosa 31,13

[Padil, 2010]

Selulosa Selulosa adalah salah satu komponen utama dari lignoselulosa yang terdiri dari unit monomer D-glukosa yang terikat pada ikatan 1,4-glikosidik. Selulosa cenderung membentuk mikrofibril melalui ikatan inter dan intra molekuler sehingga memberikan struktur yang larut. Mikrofibril selulosa terdiri dari 2 tipe, yaitu kristalin dan amorf. Hemiselulosa Hemiselulosa merupakan salah satu penyusun dinding sel tumbuhan selain selulosa dan lignin, yang terdiri dari kumpulan beberapa unit gula atau disebut heteropolisakarida, dan dikelompokkan berdasarkan residu gula utama sebagai penyusunnya seperti xylan, mannan, galactan dan glucan. Hemiselulosa terikat dengan polisakarida, protein dan lignin dan lebih mudah larut dibandingkan dengan selulosa. Di dalam kayu, kandungan hemiselulosa berkisar antara 25-30%, tergantung dari jenis kayunya. Hemiselulosa memiliki keragaman dengan selulosa

7 yaitu merupakan polimer dari unit-unit gula yang terikat dengan ikatan glikosidik, akan tetapi hemiselulosa berbeda dengan selulosa dilihat dari komponen unit gula yang membentuknya, panjang rantai molekul dan percabangannnya. Unit gula yang membentuk hemiselulosa dibagi menjadi beberapa kelompok, seperti pentosa, heksosa, asam heksuronat dan deoksiheksosa. Lignin Lignin adalah bagian utama dari dinding sel tanaman yang merupakan polimer terbanyak setelah selulosa. Lignin yang merupakan polimer aromatik berasosiasi dengan polisakarida pada dinding sel sekunder tanaman dan terdapat sekitar 2040% . Komponen lignin pada sel tanaman (monomer guasil dan siringil) berpengaruh terhadap pelepasan dan hidrolisis polisakarida.

2.2

Tahapan Proses Bleaching Dalam proses pembuatan pulp komponen lignin dan zat ekstraktif harus

dihilangkan karena dapat mengurangi brightness pada pulp. Karena tidak mungkin untuk memucatkan hingga tingkat brightness yang tinggi dalam satu tahap, maka dibutuhkan rangkaian tahapan proses. Ada banyak urutan bleaching yang biasa digunakan. Urutan yang dipilih tergantung dari pulp yang akan diolah, penggunaan akhir, peralatan yang tersedia, dana yang tersedia, dan filsafat manajemen. Urutan bleaching dapat dibagi dalam dua bagian, delignifikasi dan brightening. Pada bagian urutan delignifikasi yang menjadi tujuannya adalah penghilangan lignin. Harga K atau bilangan Kappa digunakan sebagai parameter kontrol utama. Pada bagian urutan brightening, yang menjadi objektif proses adalah brightness dari pulp, dan brightness merupakan parameter kontrol utama. Perlu diketahui bahwa sebagian proses pemutihan juga berlangsung pada bagian urutan delignifikasi. Enzim xylanase dapat mendegradasi hemiselulosa sehingga ikatan antara lignin dan selulosa dapat dipisahkan, dengan demikian kandungan lignin dapat didegradasi dengan mudah oleh bahan kimia pemutih klor dengan cepat dan selulosa sebagai bahan baku industri pulp dan kertas bisa didapatkan

8 Proses pemutihan pulp secara biologi (biobleaching) menggunakan enzim xylanase, merupakan pendekatan baru yang menawarkan proses ramah lingkungan, artinya mampu meminimalkan resiko pencemaran lingkungan yang sangat besar akibat pembuangan bahan bahan kimia yang berbahaya dan beracun yang digunakan selama proses produksi dan mendapatkan hasil kertas yang lebih terang [Tjahjono, 2008]

2.3

Enzim Xylanase Enzim xylanase, pertama kali diteliti pada tahun 1987 oleh bangsa Finnish

untuk digunakan sebagai bahan bleaching pada kayu sebagai bahan baku kertas. Xylanase sesuai dengan namanya maka enzim ini bekerja sebagai katalis pada hidrolisis xylan. Xylan sendiri merupakan komponen utama dari hemi selulosa pada dinding sel tanaman yang terikat pada selulosa, lignin dan polisakarida. Enzim xylanase pada awalnya digunakan untuk menghilangkan lignin pada pulp dengan cara mendegradasikan gugusan xylan pada dinding sel selulosa terluar yang berikatan dengan lignin. Sehingga proses ini sebagai alternatif utama proses bleaching, Karena dengan menggunakan enzim tanpa perlu pengendalian pH, hal ini berbeda dengan sistem bleaching menggunakan sistem chlorin yang mengharuskan sistem berjalan pada kondisi alkalis. Xylanase juga merupakan kelompok enzim yang memiliki kemampuan menghidrolisis hemiselulosa dalam hal ini ialah xilan atau polimer dari xilosa dan xilo-oligosakarida. Xylanase dapat diklasifikasikan berdasarkan substrat yang dihidrolisis, yaitu -xilosidase, eksoxylanase, dan endoxylanase. Xylanase umumnya merupakan protein kecil dengan berat molekul antara 15.000-30.000 Dalton, aktif pada suhu 55oC dengan pH 9 [Yang et al., 1988; Yu et al., 1991]. Pada suhu 60oC dan pH normal, xylanase lebih stabil [Tsujibo et al., 1992].

BAB III METODE PENELITIAN


3.1 Variabel Penelitian Variabel tetap pada penelitian ini adalah ukuran partikel 20 - 40 mesh dan konsentrasi larutan abu TKS. Proses proses bleaching limbah batang sawit memiliki empat variabel, yaitu: a. b. c. d. Perbandingan limbah batang sawit dengan enzim xylanase (variabel 1), Waktu bleaching (variabel 2), Temperatur bleaching (variabel 3). Pengukuran pH (Variable 4) Adapun blok diagram penelitian yang akan dilaksanakan dapat dilihat pada Gambar 1. 3.2 Persiapan dan Analisa Bahan Baku Bahan baku yang digunakan adalah pelepah sawit. Pelepah sawit sebagai bahan baku dibersihkan dari lidi dan daunnya. selanjutnya pelepah dihaluskan menjadi ukuran yang lebih kecil. Bahan baku dikeringkan di bawah sinar matahari sampai kadar air sisa 10%. Sebelum proses bleaching terhadap pelepah sawit dilakukan analisa komponen kimia bahan baku. Analisis komponen kimia bahan baku bertujuan untuk mengetahui komposisi kimia yang terdapat dalam bahan baku, yang terdiri dari kadar air (SNI 08-7070-2005), kadar selulosa (SNI 0444-2009), hemiselulosa (SNI 01-1561-1989), dan kadar lignin (SNI 0492-2008) [Zulfieni, 2011].

Limbah Padat (Batang Sawit)

10

Limbah batang sawit dengan ukuran 1 2 cm dan kadar air 10%

Hidrolisis Batang Sawit Dengan Menggunakan Larutan Ekstrak Abu TKS waktu pemasakan 30 menit, rasio larutan-padatan 1:3 dan temperatur pemasakan 100 0C

Optimasi Bleacing Limbah Batang Sawit dengan Menggunakan Variable Perbandingan Konsentrasi (0.08, 0.12, dan 0.16 Enzim Xylanase), waktu (50, 90, 140, 180 menit), Suhu (50, 55, 60 dan 65), dan pH (5, 7, 9, dan 10)

Analisa Kadar Selulosa (SNI 0444-2-2009)

Gambar 1. Blok Diagram Penelitian

3.3

Penyiapan Larutan Pemasak (Ekstrak Abu Tandan Kosong Sawit) Larutan pemasak pulp yang digunakan adalah ekstrak abu tandan kosong

sawit. Abu tandan kosong sawit didapat dari hasil pembakaran tandan kosong sawit dalam incenerator pada pabrik CPO. Untuk memperoleh larutan pemasak dilakukan beberapa tahapan. Mula-mula abu TKS disaring menggunakan saringan berukuran 40 mesh. Abu yang tersaring kemudian ditambahkan air dengan perbandingan massa abu dan air 1 : 4. Larutan tersebut selanjutnya diaduk selama 15 menit sebelum didiamkan selama 48 jam hingga semua abu terendapkan. Larutan hasil ekstrak diperoleh dengan memisahkan endapan abu dari larutan, kemudian larutan tersebut disiapkan sebagai larutan pemasak [Asri, 2010]

11 3.4 Proses Bleaching Menggunakan Enzim Xylanase


Limbah sawit dengan ukuran 1-2 cm dan kadar air 10 % Ekstrak Abu Pembakaran TKS

Penyaringan 30 menit, larutan-padatan 1:3 dan temperatur pemasakan 100 0C Hasil Hidrolisis

H2O

Pencucian

Selulosa kadar < 90.61%

Enzim Xilanase

H2O Hasil Bleaching Pencucian

Selulosa kadar > 92 %

Gambar 2. Skema Kegiatan Penelitian

12 Daftar Pustaka

Asri., S, 2010, Research into Pemurnian Selulosa Alfa batang Sawit Menggunakan Ekstrak Abu TKS, Skripsi, Universitas Riau. Bajpai, P. 1999. Application of enzymes inthe Pulp and Paper Industry. Biotechnolonogy Progress.15 : 147-157 Dence, C.W., and Reeve, D.W., (1996), Pulp Bleaching Principle and Practice, Tappi Perss, Atlanta, Page:349-415. Fengel, D. dan Wegener, G., 1995, Kayu: Kimia, Ultrastruktur, Reaksi-Reaksi. Translated from the English by H. Sastrohamidjojo, Gajah Mada University Press, Yogyakarta Fuadi A.M, et.al, 2008, Pemutihan Pulp dengan Hidrogen Peroksida. Reaktor, Vol. 12 No. 2, Desember 2008, Hal. 123-128 Litbang Deptan, 2010, Pengolahan Pelepah Kelapa Sawit menjadi Pakan, http://lolitkambing.litbang.deptan.go.id/ind/images/stories/pdf/pakan_kompl it_pelepah_sawit.pdf, 22 Januari 2010 Padil, 2010, Proses Pembuatan Nitroselulosa Berbahan Baku Biomassa Sawit, Pengembangan dan Keberlanjutan Energi di Indonesia, ISBN 978-60296729-0-9, 2A03 Padil, Silvia, A., Yelmida, A., 2010, Penentuan Temperatur terhadap Kemurnian Selulosa Batang Sawit Menggunakan Ekstrak Abu TKS, Pengembangan dan Keberlanjutan Energi di Indonesia, ISBN 978-602-96729-0-9, 2A07 Septiningrum, K dan Moeis, M.R. 2008, Research into Isolasi dan Karateristik Xilanase dari Bacilus Circulans, Skripsi, Institut Teknologi Bandung. Sjostrom, E., 1995, Kimia Kayu: Dasar-dasar dan Penggunaan, edisi ke-2, Gajah Mada University Press, Yogyakarta Tarmansyah, U.S., 2007, Pemanfaatan Serat Rami Untuk Pembuatan Selulosa, Puslitbang Indhan Balitbang Dephan, Jakarta Selatan. Tjahjono, Judi. 2008, Pengaruh Xilanase pada Perlakuan Awal Pemutihan terhadap Kualitas Pulp, Berita Selulosa, Vol. 43 (2), hal. 62-68, Tsujibo, H., K. Miyomoto, T. Kuda, K. Minami, T. Sakamoto, T. Hasegawa, and Y. Ianamori. 1992. Purification, properties, and partial amino acid sequences of thermostable xylanase from Streptomyces termoviolaceus OPC-520. Apll. Environ. Microbiol. 58:371-375. Yang, V.W., Z. Zhuang, G. Elegir, and T.W. Jeffries. 1995. Alkaline-active xylanase produced by an alkaliphilic Bacillus sp. (VI-4) isolated from kraft pulp. J. Industrial Microbiol. 15:434-441 Yu, J., Y. Park, D. Yum, J. Kim, I. Kong, and D. Bai. 1991. Nucleotide sequence and analysis of a xylanasege (xynS) from alkali-tolerant Bacillus sp. YA-14 and comparison with other xylanase. Apll. Environ. Microbiol. 3:139-145. Zulfieni, W.Y., 2011. Research into Hidrolisis Pelepah Sawit Untuk Memurnikan Selulosa- Menggunakan Larutan Pemasak dari Ekstrak Abu TKS, Skripsi, Universitas Riau.