Anda di halaman 1dari 2

Infeksi Jamur pada Kulit

Indonesia adalah negara yang beriklim tropis. Dengan iklim dan keadaan yang seperti ini, tidak mengherankan bila sebagian besar masyarakat Indonesia pernah mengalami infeksi jamur pada kulit. Banyaknya penyakit jamur di daerah tropis antara lain disebabkan oleh faktor keringat. Selain itu juga karena kebersihan pribadi yang kurang. INFEKSI jamur pada kulit sering dianggap sepele. Kebanyakan orang awam enggan mengobati penyakitnya ini, padahal bila dibiarkan, akan sanat mengganggu penampilan dan fungsi hidup orang sehari-hari. Infeksi jamur (mikosis) superfisial menyerang jaringan yang mengandung zat tanduk atau keratin, yaitu kulit, rambut, dan kuku. Sebagian besar infeksi jamur pada manusia disebabkan tiga genus jamur yakni microsporum, trichophyton, dan eipidermophyton. Ketiga jenis jamur ini bersifat mencerna keratin. Penularan infeksi jamur dapat ditularkan dari manusia ke manusia (antropofilik), dari binatang ke manusia (zoofilik), atau dari tanah ke manusia (geifilik). Infeksi jamur yang dicurigai dapat dipastikan dengan pemeriksaan mikroskopis dari kerokan kulit dalam larutan kalium horiksida. Dari hasil pemeriksaan mikroskop, ditemukan hifa majemuk dari kerokan kulit penderita infeksi jamur. Selanjutnya, dapat dilakukan biakan jamur untuk dapat mengetahui jamur penyebab infeksi. Infeksi jamur dapat digolongkan berdasarkan lokasi, antara lain sbb.; 1. Infeksi jamur pada kepala (tinea kapitis). Infeksi jenis ini biasanya disebabkan oleh tricophyton tonsurans atau microsporum canis. Tricophyton tonsurans ditularkan melalui kontrak antara anak dengan anak dan mengakibatkan tempat-tempat botak berbentuk oval, rambut terputus dengan panjang yang berbeda dan permukaan kulit kepala bersisik. Sedangkan microsporum canis biasanya ditularkan dari hewan ke anak-anak dengan gejala bercak-bercak meradang yang tidak berambut yang lama kelamaan dapat menjadi alopesia (kebotakan) permanen. 2. Infeksi jamur pada kulit wajah, badan, dan anggota gerak (tinea korporis). Infeksi ini seringkali timbul berupa bercak kemerahan dengan tepi yang meninggi dan bersisik, berbentuk bulat atau oval dengan batas yang jelas dengan bintil berisi air atau tidak berisi di bagian tepinya. Lesi ini meluas ke tepi dan tampak menyembuh di bagian tengahnya. Infeksi ini dapat diperoleh dari binatang yaitu jamur tricophyton mentagrophytes dan microsporum canis dan dari manusia yaitu jamur tricophyton rubrum. 3. Infeksi jamur pada lipatan paha, daerah perineum, dan sekitar anus (tinea kruris). Infeksi ini biasanya dialami pria dan disertai rasa gatal yang hebat, dan dapat berlangsung kronis bahkan seumur hidup. Gejala yang timbul berupa lesi berbentuk lengkung atau anular dengan kemerahan di bagian pinggirnya dan sisik yang kadang meluas sampai ke bagian paha. Buah zakar biasanya tidak terkena. Infeksi ini juga dikenal dengan istilah jockey itch. 4. Infeksi jamur pada kaki (tinea pedis). Infeksi jamur ini sering terdapat pada olahragawan atau pada orang yang sering memakai sepatu. Gambaran klinisnya bervariasi tergantung jenis jamur penyebabnya. Bila penyebabnya jamur tricophyton mentagrophytes, infeksi sering mulai pada sela jari yang kemudian meluas ke sela jari lainnya dan kuku, kulit terkelupas dan berbau busuk. Kadang terdapat bintil-bintil yang berisi air. Bila penyebabnya adalah jamur tricophyton rubrum, gejala yang tampak berupa sisiksisik kering yang tersebar di telapak kaki. 5. Infeksi jamur pada kuku (tinea unguium) akan menyebabkan kuku terlihat sangat buruk sehingga mengganggu penampilan penderitanya. Infeksi jamur pada kuku paling sulit dan memerlukan waktu penyembuhan yang lama. Infeksi diawali pada bagian tepi kuku, kemudian infeksi dapat meluas sampai

ke dasar kuku sehingga kuku menjadi terangkat oleh karena terjadi pemisahan lempeng kuku dengan jaringan di bawahnya, rapuh, dan berubah warna menjadi kecoklatan. Pengobatan Pengobatan yang sering dilakukan untuk tinea pedis, tinea kroporis dan tinea kruris adalah pemberian obat antijamur topikal seperti krim, larutan, salep yang mengandung mikonazol, klotrimazol, haloprogin, dan ketokonazol. Penderita juga diharuskan menjaga kebersihan kaki, menggunakan pakaian dalam yang tidak terlalu ketat dan terbuat dari bahan yang menyerap keringat, serta memakai sepatu yang tidak terlalu sempit. Untuk infeksi yang lebih resisten, infeksi jamur pada kulit kepala, infeksi jamur pada kuku dapat juga diobati dengan obat antijamur oral yang efektif yaitu griseofulvin. Pengobatan infeksi jamur dengan griseofulvin untuk daerah kepala membutuhkan waktu sampai 6 minggu, tinea korporis membutuhkan waktu 2-4 minggu, daerah kaki 4-8 minggu, dan yang paling lama yaitu daerah kuku antara 6 sampai 12 bulan. * dr. dian kencana dewi

Anda mungkin juga menyukai