Anda di halaman 1dari 25

TINJAUAN PUSTAKA INFEKSI AKUT SALURAN NAFAS ATAS

Disusun Oleh :

H. Luthfi Fauzi, S. Ked

Pembimbing:

dr. Sondang

KEPANITERAAN KLINIK KEDOKTERAN KOMUNITAS FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA 2012 KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb. Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT atas terselesaikannya laporan tinjauan pustaka dengan judul infeksi akut saluran nafas atas ini. Laporan ini disusun dalam rangka meningkatkan pengetahuan sekaligus memenuhi tugas kepaniteraan klinik stase IKAKOM I puskesmas kecamatan pancoran. Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang kepada : 1. dr. sondang sebagai pembimbing. 2. Orang tua yang selalu mendoakan keberhasilan penulis. 3. Teman-teman sejawat atas dukungan dan kerjasamanya. Semoga dengan adanya laporan ini dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dan berguna bagi penulis maupun teman sejawat lainnya. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis sangat membutuhkan saran dan kritik untuk pembuatan laporan yang lebih baik di waktu yang akan datang. Terima kasih. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Jakarta, Februari 2012

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang ISPA merupakan penyakit tersering di Indonesia terutama pada balita karena sistem pertahanan tubuh balita masih rendah. Kejadian penyakit batuk pilek pada balita di Indonesia diperkirakan 3 sampai 6 kali per tahun, yang berarti seorang balita rata-rata mendapat serangan batuk pilek sebanyak 3 sampai 6 kali setahun. Kemudian bisa di presentasikan sekitar 40 persen hinggan 60 persen dari kunjungan di Puskesmas adalah penyakit ISPA. Ini adalah kematian yang terbesar pada umumnya karena pneumonia dan bayi kurang dari 2 bulan. Penyakit-penyakit saluran pernapasan pada masa bayi dan anak-anak dapat pula memberi kecacatan sampai pada masa dewasa. Tujuan Tujuan umum dari penulisan ini adalah untuk dapat lebih mendalami atas kasus kasus tentang ISPAA. Tujuan khususnya adalah sebagai pemenuhan tugas tinjauan pustaka IKAKOM 1 puskesmas pancoran.

BAB II

PEMBAHASAN SINUSITIS Anatomi sinus paranasal Secara embriologik sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa rongga hidung dan perkembangannya dimulai pada fetus usia 3-4 bulan, kecuali sinus sfenoid dan sinus frontal. Sinus maksila dan sinus etmoid telah ada sejak anak lahir, sedangkan sinus frontal berkembang dari sinus etmoid anterior pada anak yang berusia kurang lebih 8 tahun. Pneumatisasi sinus sfenoid dimulai usia 8-10 tahun dan berasal dari bagian postero-superior rongga hidung. Sinus-sinus ini umumnya mencapai besar maksimal pada usia antara 15-18 tahun. Sinus parasanal adalah rongga udara yang terdapat pada tulang tengkorak disekitar daerah hidung. Empat tempat sinus paranasal : 1. Sinus frontal 2. Sinus maxillary 3. Sinus ethmoid 4. Sinus sphenoid Sinus maksilaris Sinus maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar. Saat lahir sinus maksila bervolume 6-8 ml, sinus kemudian berkembang dengan cepat dan akhirnya mencapa ukuran maksimal yaitu 15ml saat dewasa. Sinus maksilaris berbentuk segitiga dan juga dapat terbagibagi oleh adanya septum-septum. Dinding anterior sinus adalah permukaan facial os maksila yang disebut fosa kanina, dinding posteriornya ialah permukaan infra temporal maksila, dinding medialnya ialah dinding lateral hidung serta dinding inferiornya ialah prosessus alveolaris dan palatum. Ostium sinus maksilaris berada di sebelah postero-superior dinding medial sinus dan bermuara ke hiatus semilunaris melalui infundibulum. Dari segi klinik yang perlu diperhatikan dari anatomi sinus maksilaris adalah : 1. Dasar sinus maksila sangat berdekatan dengan akar-akar gigi rahang atas ( premolar 1, premolar 2, molar 1, molar 2, kadang-kadang juga caninus dan molar 3 ), bahkan akar gigi tersebut dapat menonjol ke dalam sinus, sehingga infeksi gigi mudah naik ke atas menyebabkan sinusitis. 2. Letak sinus maksila berdekatan dengan orbita sehingga dapat menimbulkan komplikasi ke orbita.

3. Ostium sinus maksila terletak lebih tinggi dari dasar sinus, karenanya drenase sangat tergantung pada gerak silia, disamping itu harus melalui infundibulum yang sempit. Infundibulum adalah bagian dari sinus etmoid anterior dan pembengkakan akibat radang atau alergi pada daerah ini dapat menghalangi drenase sinus maksila dan selanjutnya menyebabkan sinusitis maksilaris. Sinus frontalis Sinus frontal yang terletak di os.frontal mulai terbentuk sejak bulan ke empat fetus, berasal dari sel-sel resesus frontal atau dari sel-sel infundibulum etmoid. Sesudah lahir, sinus frontal mulai berkebang pada usia 8-10 tahun dan akan mencapai ukuran maksimal sebelum usia 20 tahun. Ukuran sinus frontal adalah 2,8cm tingginya, lebarnya 2,4cm dan dalamnya 2 cm. Sinus frontal biasanya bersekat-sekat dan tepi sinus berlekuk-lekuk. Tidak adanya gambaran septum-septum atau lekuk-lekuk dinding sinus pada foto Rontgen menunjukkan adanya infeksi sinus. Sinus frontal dipisahkan oleh tulang yang relatif tipis dari orbita dan fosa serebri anterior, sehingga infeksi dari sinus frontal mudah menjalar ke daerah ini. Sinus frontal berdrainase melalui ostiumnya yang terletak di resesus frontal. Resesus frontal adalah bagian dari sinus etmoidalis anterior. Sinus Ethmoidalis Pada orang dewasa bentuk sinus etmoidalis seperti piramid dengan dasarnya dibagian posterior. Ukurannya dari anterior ke posterior 4-5cm, tinggi 2,4cm dan lebarnya 0,5cm dibagian anterior dan 1,5cm di bagian posterior. Berdasarkan letaknya sinus etmoid dibagi menjadi sinus etmoid anterior yang bemuara di meatus medius dan sinus etmoid posterior yang bermuara di meatus superior. Sel-sel sinus etomiod anterior biasanya kecil-kecil dan banyak, letaknya dibawah perlekatan konka media, sedangkan sel-sel sinus etmoid posterior biasanya lebih besar dan lebih sedikit jumlahnya dan terletak di postero-superior dari perlekatan konka media. Bagian anterior ada bagian yang sempit yang disebut resesus frontal. Bagian ini berhubungan dengan sinus frontal. Sinus ini paling bervariasi dibanding dengan sinus sinus lainnya. Terletak di dalam massa bagian lateral os etmoid, sinus etmoid bentuknya berongga rongga terdiri dari sel sel yang menyerupai sarang tawon. Ukuran anterior-posterior sekitar 4-5 cm, tinggi 2,4 cm lebar di bagian anterior 0,5 cm, di bagian posterior 1,5 cm. Atap sinus etmoid disebut fovea etmoidalis yang berbatasan dengan lamina kribrosa. Dinding

lateral adalah lamina papirasea yang membatasi sinus etmoid dengan rongga orbita. Bagian belakang sinus etmoid posterior berbatasan dengan sinus sphenoid. Sinus Sphenoidalis Sinus sfenoid terletak dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior. Sinus sfenoid di bagi menjadi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. Ukurannya adalah 2 cm tingginya, dalamnya 2,3cm dan lebarnya 1,7 cm. Volumenya bervariasi dari 5 sampai 7,5ml. Saat sinus berkembang, pembuluh darah dan nervus di bagian lateral os sfenoid akan menjadi sangat berdekatan dengan rongga sinus dan tampak sebagai indentasi pada dinding sinus sfenoid. Batas-batasnya adalah, sebelah superior terdapat fosa serebri media dan kelenjar hipofisa, sebelah inferiornya atap nasofaring, sebelah lateral berbatasan dengan sinus kavernosus dan a. Karotis interna dan disebelah posteriornya berbatasan dengan fosa serebri posterior di daerah pons.

Nasal cavity, coronal section 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Frontal sinus Eye Ethmoid sinus Maxillary sinus Superior concha Middle concha Inferior concha

8. Nasal septum

Medical Gross Anatomy Atlas Images

Skull, transverse section 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Nose Eye Anterior ethmoid sinus Middle ethmoid sinus Posterior ethmoid sinus Sphenoid sinus Optic nerve

8. Frontal lobe
Medical Gross Anatomy Atlas Images

Fungsi Sinus Paranasal Fungsi dari sinus paranasal sampai saat ini belum terdapat kesepakatan yang sama, dan penelitian untuk mengungkapkan apa sesungguhnya fungsi dari sinus sinus ini masih terus dilakukan. Beberapa teori yang diungkapkan untuk fungsi dari sinus paranasal ini adalah : 1. Sebagai pengatur kondisi udara 2. Sebagai penahan suhu. 3. Membantu keseimbangan kepala 4. Membantu resonansi suara 5. Peredam perubahan tekanan udara 6. Membantu produksi mukus untuk membersihkan rongga hidung. 7. Mengurangi berat dari tengkorak.

Pemeriksaan pada Sinus Paranasal Untuk mengetahui adanya kelainan pada sinus paranasal dilakuakn pemeriksaan yang meliputi pemeriksaan inspeksi, palpasi, rinoskopi anterior, rinoskopi posterior, trasiluminasi, radiologik, sinoskopi. Pada pemeriksaan inspeksi dari luar diperhatikan ada tidaknya pembengkakan pada muka, pipi, kelopak mata. Pemeriksaan palpasi, jika terjadi pada nyeri tekan pada daerahdaerah sinus, maka terjadi gangguan pada sinus yang bersangkutan. Pemeriksaan transluminasi, yaitu dengan menggunakan alat sumber cahaya. Akan tetapi jenis pemeriksaan ini hanya dapat dipakai pada pemeriksaan sinus maksila dan sinus frontal. Jenis pemeriksaan ini dilakukan jika sarana untuk pemeriksaan radiologik tidak tersedia. Bila pada pemeriksaan transiluminasi tampak gelap didaerah infraorbita,mungkin berarti antrum terisi oleh pus atau mukosa antrum menebal atau neoplasma di dalam antrum. Pemeriksaan radiologik dilakukan jika dicurigai adanya kelainan sinus paranasal. Posisi yang rutin digunakan adalah posisi Waters, P-A dan lateral. Posisi Waters terutama untuk melihat adanya kelainan di sinus maksila, frontal dan etmoid. Posisi posterior-anterior untuk menilai sinus frontal, sedangkan posisi lateral untuk menilai sinus frontal, sfenoid dan etmoid. Metode mutakhir yang lebih akurat untuk melihat kelainan sinus paranasal adalah pemeriksaan CT scan. Pemeriksaan sinoskopi adalah pemeriksaan dengan menggunakan endoskop yang dimasukkan ke dalam sinus maksila melalui lubang yang dibuat di meatus inferior atau di fosa kanina. Dalam pemeriksaan tersebut dilihat apakah ada sekret, polip, jaringan granulasi, massa tumor atau kista, keadaan mukosa dan apakah ostiumnya terbuka. Definisi sinusitis Sinusitis adalah radang mukosa sinus paranasal. Penamaan dari sinusitis ini adalah sesuai dengan nama anatominya. Jika yang terkena beberapa sinus disebut multisinusitis dan jika yang terkena seluruhnya disebut pansinusitis. Yang paling sering ditemukan adalah sinusitis maksila (antrum Highmore) . Hal ini dikarenakan : 1) Sinus maksilaris merupakan sinus paranasal yang terbesar.2) sinus maksilaris mempunyai letak ostium yang lebih tinggi dari dasar, sehingga aliran sekret dari sinus maksila hanya tergantung dari gerakan silia.3) Dasar sinus maksila adalah dasar akar gigi (prosesus alveolaris), sehingga infeksi gigi dapat menyebabkan infeksi sinus maksilaris. Dan 4) Ostium sinus maksila terletak di meatus medius disekitar hiatus semilunaris yang sempit, sehingga mudah tersumbat.

Patofisiologi Jika terjadi edema di kompleks ostiomeatal, mukosa yang yang letaknya berhadapan akan saling bertemu. Hal ini menyebabkan silia tidak dapat bergerak dan lendir tidak dapat dialirkan. Maka terjadi gangguan drenase dan ventilasi di dalam sinus sehingga silia menjadi kurang aktif dan lendir yang diproduksi mukosa sinus menjadi lebih kental dan merupakan media yang baik untuk tumbuhnya bakteri patogen. Dan jika proses ini terjadi terus menerus, maka akan terjadi hipoksia dan retensi lendir yang akan mengakibatkan timbulnya infeksi oleh bakteri anaerob, yang selanjutnya terjadi perubahan jaringan menjadi hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan kista. Klasifikasi Secara klinis sinusitis dapat dikategorikan sebagai sinusitis akut bila gejalanya berlangsung dari beberapa hari sampai 4 minggu, sinusitis subakut dari 4 minggu sampai 3 bulan dan sinusitis kronik bila berlangsung lebih dari 3 bulan.

SINUSITIS AKUT Penyakit ini dimulai dengan penyumbatan daerah kompleks ostiomeatal oleh infeksi, obstruksi mekanis atau alergi. Selain itu juga dapat merupakan penyebaran dari infeksi gigi. Etiologi Beberapa keadaan yang dapat menyebakan terjadinya sinusitis akut ialah : 1. Rinitis akut 2. Infeksi faring 3. Infeksi gigi rahang atas 4. Berenang dan menyelam 5. Trauma 6. Barotrauma Gejala sinusitis akut Gejala subjektif : 1. Gejala sistemik ( demam dan rasa lesu) 2. Gejala lokal (ingus kental yang berbau dan mengalir ke nasofaring) a. Hidung tersumbat b. Rasa nyeri di daerah sinus yang terkena, serta kadang-kadang dirasakan juga ditempat lain ( referred pain). c. Sinusitis maksila ( nyeri di bawah kelopak mata, menyebar ke alveolus nyeri gigi, nyeri alih dirasakan di dahi dan depan telinga) d. Sinusitis etmoid ( nyeri pada pangkal hidung dan kantus medius, kadang dirasakan pada bola mata, nyeri alih pada pelipis). e. Sinusitis frontal ( nyeri terlokalisasi di dahi atau diseluruh kepala) f. Sinusitis sfenoid ( nyeri di verteks, oksipital di belakang bola mata dan di daerah mastoid). Gejala objektif : Terjadi pembengkakan di daerah muka. Pembengkakkan pada sinusitis maksila terlihat dipipi dan kelopak mata bawah, pada sinusitis frontal di dahi dan kelopak mata atas, pada sinusitis etmoid jarang timbul pembengkakan kecuali bila ada komplikasi.

Pada rinoskopi anterior tampak mukosa hiperemis dan udem. Pada sinusitis maksila, sinusitis frontal dan sinusitis etmoid anterior tampak muko pus atau nanah di meatus medius, sedangkan pada sinusitis etmoid posterior dan sinusitis sfenoid nanah tampak keluar dari meatus superior. Pada rinoskopi posterior tampak mukopus di nasofaring (post nasal drips). Pemeriksaan Penunjang 1. Transiluminasi : sinus yang sakit tampak gelap 2. Radiologik posisi Waters, PA dan lateral : perselubungan atau penebalan mukosa atau air fluid level pada sinus yang sakit. Pemeriksaan mikrobiologik Pengambilan sekret di meatus medius dan superior mungkin ditemukan bakteri patogen seperti Pneumococcus, streptococcus dan H. Influenzae. Bisa juga ditemukan jamur. Terapi Diberikan antibiotik selama 10-14 hari golongan penisilin. Diberikan dekongestan hidung dan boleh diberikan analgetik untuk anti nyeri. SINUSITIS SUBAKUT Gejalanya sama dengan sinusitis akut tapi tanda-tanda radang akut (demam, sakit kepala hebat, nyeri tekan sudah reda. Pada rinoskopi anterior tampak sekret purulen di meatus medius atau superior. Pada rinoskopi posterior tampak sekret purulen di nasofaring. Pada pemeriksaan transiluminasi tampak sinus yang sakit gelap. Terapinya diberikan antibiotik spektrum luas atau yang sesuai dengan tes resistensi kuman, selama 10-14 hari. Obat dekongestan, obat tetes hidung hanya diberikan terbatas 510haririnitis medikamentosa. Selain itu diberikan analgetik, antihistamindan mukolitik. Tindakan berupa diatermi dengan sinar gelombang pendek (ultra short wave diathermy), sebanyak 5-6 kali pada daerah yang sakit untuk memperbaiki vaskularisasi sinus. Pada sinusitis maksiladapat dilakukan pungsi irigasi. Pada sinusitis etmoid, frontal atau sfenoid yang letak muaranya dibawah dilakukan tindakan pencucian sinus cara Proetz (Proetz Displacement Therapy). Pungsi dan Irigasi Sinus Maksila

Dilakukan untuk mengeluarkan sekret yang terkumpul di dalam rongga sinus maksila. Caranya dengan memakai trokar yang ditusukan di meatus inferior, diarahkan ke sudut luar mata atau tepi atas daun telinga. Selanjutnya dilakukan irigasi sinus dengan larutan garan fisiologis. Pungsi dan irigasi dapat juga dilakukan melalui fosa kanina. Pencucian Proetz (Proetz Displacement Therapy). Prinsipnya membuat tekanan negatif dalam rongga hidung dan sinus paranasal untuk dapat menghisap sekret keluar. Diteteskan vasokonstriktor (HCL efedrin 0,5-1,5%) untuk membuka ostium yang kemudian masuk kedalam sinus. Sementara pasien harus mengatakan kak-kak-kak supaya palatum mole terangkat, sehingga ruang antara nasofaring dan orofairng tertutup.

SINUSITIS KRONIK POLUSI BAHAN KIMIA

SILIA RUSAK OBSTRUKSI MEKANIK GANGGUAN DRAINASE INFEKSI KRONIK PERUBAHAN MUKOSA ALERGI DAN DEFISIENSI IMUNOLOGIK

PENGOBATAN YANG TIDAK SEMPURNA

Gejala subjektif : 1. Post nasal drips 2. Gatal dan rasa tidak nyaman di tenggorokan 3. Pendengaran terganggu tersumbatnya tuba auditiva

4. Nyeri kepala 5. Gejala matapenjalaran infeksi melalui duktus nasolakrimalis. 6. Batuk dan kadang-kadang komplikasi paru berupa bronkitis atau bronkiektsis atau asma bronkial 7. Gastroenteritis pada anak. Gejala objektif : 1. Pada rinoskopi anterior sekret kental purulen 2. Rinoskopi anterior sekret purulen di nasofaring turun ke tenggorok. Pemeriksaan mikrobiologik Biasanya merupakan infeksi bermacam-macam kuman seperti Streptococcus aureus , H. Influenza, dan S.viridans. Diagnosis : Dibuat berdasarkan : 1. Anamnesis yang cermat 2. Rinoskopi anterior 3. Rinoskopi posterior 4. Transiluminasi 5. Pemeriksaan radiologik 6. Naso endoskopi 7. CT scan. Terapi Terapinya diberikan antibiotik sekurang-kurangnya 2 minggu. Dapat dibantu dengan diatermi gelombang pendek selama 10 hari pada daerah yang sakit. Pungsi dan irigasi sinus untuk pembersihan sekret. Untuk sinusitis kronis, jika terapi dan tindakan tindakan tersebut di atas sudah dilakukan tetapi tidak ada perubahan, maka dipikirkan untuk tindakan yang radikal, seperti : 1. Operasi Caldwell-Luc untuk sinus maksila. 2. Operasi etmoidektomi intranasal atau etmoidektomi ekstranasal untuk sinus etmoid. 3. Operasi Killian untuk sinus frontal.

Dewasa ini telah dikembangkan teknik operasi sinus yang tidak radikal, yang sifatnya tidak radikal disebut bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF). Prinsipnya membersihkan daerah osteomeatal.

Komplikasi yang mungkin dapat terjadi : 1. Manifestasi ke mata : nyeri/edem, selulitis atau abses orbita 2. Osteomielitis maksila atau frontal 3. Manifestasi ke intrakranial : meningitis, abses subdura, abses otak, trombosis sinus kavernosus 4. Terbentuknya fistel, piokel atau mukokel 5. Kelainan paru : bronkitis, bronkiektasis, bisa sebagai pencetus asma bronkial.

TONSILITIS Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin Waldeyer. Cincin Waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa yang terdapat di dalam rongga mulut yaitu : tonsil faringeal (adenoid), tonsil palatina (tonsil faucial), tonsil lingual (tonsil pangkal lidah), tonsil tuba Eustachius (lateral band dinding faring / Gerlachs tonsil). Penyebaran infeksi melalui udara (air borne droplets), tangan dan ciuman. Dapat terjadi pada semua umur, terutama pada anak. I. Tonsilitis Akut 1. Tonsilitis Viral Gejala tonsilitis viral lebih menyerupai Common cold yang disertai rasa nyeri tenggorok. Penyebab yang paling sering adalah virus Epstein-Barr. Haemofilus influenza merupakan penyebab tonsilitis akut supuratif. Jika terjadi infeksi virus coxschakie, maka pada pemeriksaan rongga mulut akan tampak luka-luka kecil pada palatum dan tonsil yang sangat nyeri dirasakan pasien. Terapi Istirahat, minum cukup, analgetika, dan antivirus diberikan jika gejala berat. 2. Tonsilitis Bakterial Radang akut tonsil dapat disebabkan kuman grup A Streptokokus hemolitikus yang dikenal dengan strept throat, pneumokokus, Streptokokus viridan dan Streptokokus piogenes. Infiltrasi bakteri pada lapisan epitel jaringan tonsil akan menimbulkan reaksi radang berupa keluarnya leukosit polimorfonuklear sehingga terbentuk detritus. Detritus ini merupakan

kumpulan leukosit, bakteri yang mati dan epitel yang terlepas. Secara klinis detritus ini mngisi kriptus tonsil dan tampak sebagai bercak kuning. Bentuk tonsilitis akut dengan detritus yang jelas disebut tonsilitis folikularis. Bila bercak-bercak detritus ini menjadi satu, membentuk alur-alur maka akan terjadi tonsilitis lakunaris. Bercak detritus ini juga dapat melebar sehingga terbentuk semacam membran semu (pseudomembran) yang menutupi tonsil. Gejala dan tanda Masa inkubasi 2-4 hari. Gejala dan tanda yang sering ditemukan adalah nyeri tenggoraokan dan nyeri waktu menelan, demam dengan suhu tubuh yang tinggi, rasa lesu, rasa nyeri di sendi-sendi, tidak nafsu makan dan rasa nyeri di telinga (otalgia). Rasa nyeri di telinga ini karena nyeri alih (referred pain) melalui saraf n. glosofaringeus (n.IX). Pada pemeriksaan tampak tonsil membengkak, hiperemis dan terdapat detritus berbentuk folikel, lakuna atau tertutup oleh membran semu. Kelenjar sub-mandibula membengkak dan nyeri tekan. Terapi Antibiotika spektrum lebar penisilin, eritromisin. Antipiretik dan obat kumur yang mengandung desinfektan. Komplikasi Pada anak sering menimbulkan komplikasi otitis media akut, sinusitis, abses peritonsil (Quincy throat), abses parafaring, bronkitis, glomerulonefritis akut, miokarditis, artritis serta septikemia akibat infeksi v.Jugularis Interna (sindrom Lemierre). Akibat hipertrofi tosnil akan menyebabkan pasien bernapas melalui mulut, tidur mendengkur (ngorok), gangguan tidur karena terjadinya sleep apnea yang dikenal sebagai Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS). II. Tonsilitis Membranosa Penyakit yang termasuk dalam golongan tonsilitis membranosa ialah (a) Tonsilitis difteri, (b) Tonsilitis septik (septik sore throat), (c) Angina Plaut

Vincent, (d) Penyakit kelainan darah seperti leukimia akut, anemia pernisiosa, neutropeniamaligna serta infeksi mono-nukleosis, (e) proses spesifik lues dan tuberkulosis, (f) infeksi jamur moniliasis, aktinomikosis dan blastomikosis, (g) infeksi virus morbili, pertusis dan skarlatina. Tonsilitis difteri Frekuensi penyakit ini sudah menurun berkat keberhasilan imunisasu pada bayi dan anak. Penyebab tonsilitis difteri ialah kuman Corynebacterium diphteriae, kuman yang termasuk Gram positif dan hidung di saluran napas bagian atas yaitu hidung, faring, dan laring. Tidak semua orang yang terinfeksi oleh kuman ini akan menjadi sakit. Keadaan ini tergantung pada titer anti toksin dalam darah seseorang. Titer anti toksin sebesar 0.03 satuan per cc darah dapat dianggap cukup memberikan dasar imunitas. Hal inilah yang dipakai pada tes Schick. Tonsilitis difteri sering ditemukan pada anak berusia kurang dari 10 tahun dan frekuensi tertinggi pada usia 2-5 tahun walaupun pada orang dewasa masih mungkin menderita penyakit ini. Gejala dan tanda Gambaran klinik dibagai dalam 3 golongan yaitu gejala umum, gejala lokal dan gejala akibat eksotoksin. (a) Gejala umum seperti juga gejala infeksi lainnya yaitu kenaikan suhu tubuh biasanya subfebris, nyeri kepala, tidak nafsu makan, badan lemah, nadi lambat serta keluhan nyeri menelan. (b) Gejala lokal yang tampak berupa tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor yang makin lama makin meluas dan bersatu membentuk membran semu. Membran ini dapat meluas ke palatum mole, uvula, nasofaring, laring, trakea dan bronkus, dan menyumbat saluran napas. Membran semu ini melekat erat pada dasarnya, sehingga bila diangkat akan mudah berdarah. Pada perkembangannya penyakit ini bila infeksinya berjalan terus, kelenjar limfa leher akan membengkak sedemikian besarnya sehingga leher menyerupai leher sapi (bull neck) atau disebut juga Burgemieesters hals.

(c) Gejala akibat eksotoksin yang dikeluarkan oleh kuman difteri ini akan menimbulkan kerusakan jaringan tubuh yaitu pada jantung dapat terjadi miokarditis sampai decompensatio cordis, mengenai saraf kranial menyebabkan kelumpuhan otot palatum dan otot-otot pernapasan dan pada ginjal menimbulkan albuminuria.

Diagnosis Diagnosis tonsilitis difteri ditegakkan berdasarkan gambaran klinik dan pemeriksaan preparat langsung kuman yang diambil dari permukaan bawah membran semu dan didapatkan kuman Corynebacterium diphteriae. Terapi Anti Difteri Serum (ADS) diberikan segera tanpa menunggu hasil kultur, dengan dosis 20.000-100.000 unit tergantung dari umur dan beratnya penyakit. Antibiotika Penisilin atau Eritromisin 25-50 mg per kg berat badan dibagi dalam 3 dosis selama 14 hari. Kortikosteroid 1.2 mg per kg berat badan per hari. Antipiretik untuk simtomatis. Karena penyakit ini menular, pasien harus diisolasi. Perawatan harus istirahat di tempat tidur selama 2-3 minggu. Komplikasi Laringitis difteri dapat berlangsung cepat, membran semu menjalar ke laring dan menyebabkan gejala sumbatan. Makin muda usia pasien makin cepat timbul komplikasi ini. Miokarditis dapat mengakibatkan payah jantung. Kelumpuhan otot palatum mole, otot mata untuk akomodasi, otot faring serta otot laring sehingga menimbulkan kesulitan menelan, suara parau dan kelumpuhan otot-otot pernapasan. Albuminuria sebagai akibat komplikasi ke ginjal.

III.

Tonsilitis Kronis Faktor predisposisi timbulnya tonsilitis kronik ialah rangsangan yang menahun dari rokok, beberapa jenis makanan, higiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik dan pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat. Kuman penyebabnya sama dengan tonsilitis akut tetapi kadang-kadang kuman berubah menjadi kuman golongan Gram negatif. Patologi Karena proses radang berulang yang timbul maka selain epitel mukosa juga jaringan limfoid terkikis, sehingga pada proses proses penyembuhan jaringan limfoid diganti oleh jaringan parut yang akan mengalami pengerutan sehingga kripti melebar. Secara klinik kripti ini tampak diisi oleh detritus. Proses berjalan terus sehingga menembus kapsul tonsil dan akhirnya menimbulkan perlengketan dengan jaringan di sekitar fosa tonsilaris. Pada anak proses ini disertai dengan pembesaran kelenjar limfa sub-mandibula. Gejala dan tanda Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar dengan permukaan yang tidak rata, kriptus melebar dan beberapa kripti terisi oleh detritus. Rasa ada yang mengganjal di tenggorok, dirasakan kering di tenggorok dan napas berbau. Terapi Terapi lokal ditujukan pada higiene mulut dengan berkumur atau obat isap. Komplikasi

Radang kronik tonsil dapat menimbulkan komplikasi ke daerah sekitarnya berupa rinitis kronis, sinusitis atau otitis media secara perkontinuitatum. Komplikasi jauh terjadi secara hematogen atau limfogen dan dapat timbul endokarditis, artrtis, miositis, nefritis, uveitis, iridosiklitis, dermatitis, pruritus, urtikaria dan furunkulosis.

INDIKASI TONSILEKTOMI The American Academy of Otolaryngology Head and Neck Surgery Clinical Indicators Compendium tahun 1995 menetapkan : 1. Serangan tonsilitis > 3 kali per tahun walaupun telah mendapatkan terapi yang adekuat. 2. Tonsil hipertrofi yang menimbulkan maloklusi gigi dan menyebabkan gangguan pertumbuhan orofasial. 3. Sumbatan jalan napas yang berupa hipertrofi tonsil dengan sumbatan jalan napas, leep apnea, gangguan menelan, gangguan berbicara, dan cor pulomale. 4. Rinitis dan sinusitis yang kronis, peritonsilitis, abses peritonsil yang tidak berhasil hilang dengan pengobatan. 5. Napas bau yang tidak berhasil dengan pengobatan. 6. Tonsilitis berulang yang disebabkan oleh bakteri grup A streptokokus hemolitikus. 7. Hipertrofi tonsil yang dicurigai adanya keganasan. 8. Otitis media efusa/ otitis media supuratif.

FARINGITIS Faringitis merupakan peradangan dinding faring yang dapat disebabkan oleh virus (40-60%), bakteri (5-40%), alergi, trauma, toksin, dan lain-lain. Virus dan bakteri melakukan invasi ke faring dan menimbulkan reaksi inflamasi lokal. Infeksi bakteri grup A Streptokokus hemolitikus dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang hebat, karena bakteri ini melepaskan toksin ekstraseluler yang dapat menimbulkan demam reumatik, kerusakan katup jantung, glomerulonefritis akut karena fungsi glomerulus terganggu akibat terbentuknya kompleks antigen-antibodi. Bakteri ini banyak menyerang anak usia sekolah, orang dewasa dan jarang pada anak umur kurang dari 3 tahun. Penularan infeksi melalui sekret hidung dan ludah (droplet). Faringitis diklasifikasi secara umum menjadi faringitis akut dan faringitis kronis. I. Faringitis Akut A. Faringitis Viral Faringitis virus dapat disebabkan oleh berbagai macam virus selain faring juga dapat melibatkan tonsil. Faringitis dapat merupakan bagian dari infeksi saluran napas atas atau lokasi spesifik di faring. Sebagian besar disebabkan oleh virus dan merupakan bagian dari common cold atau sindom influenza. 1. Patofisiologi Patofisiologi faringitis akut oleh virus tergantung kepada jenis virus yang menginfeksi. a. Rhinovirus, Merupakan penyebab faringitis (20%) dan common cold (30-50%). Virus ini masuk masuk ke dalam tubuh melalui epitel bersilia di sepanjang hidung, menyebabkan udem dan hiperemis pada membran mukosa hidung.

Hal ini menyebabkan peningkatan aktivitas sekretorik kelenjar mukosa; udema membran mukosa kavum nasi, tuba eustachius, dan faring, dan penyempitan saluran napas, menyebabkan gejala obstruksi. Brakinin dan lysyl-bradikinan menyebar dalam saluran napas dan mediator ini mestimulasi ujung saraf nyeri. Virusnya sendiri tidak menginvasi mukosa faringeal. Sehingga yang tampak ialah gejala rinitis dan beberapa hari kemudian akan menimbulkan faringitis. b. Adenovirus, Paling sering disebabkan oleh adenovirus tipe 1-3 dan 5. Biasanya gejala yang timbul yakni demam, nyeri tenggorokan, dan konjungtivitis. Tidak seperti rhinovirus, adenovirus menginvasi secara langsung mukosa faringeal, terbukti dengan adanya efek sitopatik virus. c. Virus Epstein-Barr. Merupakan agen penyebab infeksi mononukleosis. Pada orang dewasa muda, virusEpstein-Barr menyebar melalui kelenjar saliva, dan jarang pada transfusi darah. Gejala yang timbul antara lain edema dan hiperemis tonsil dan mukosa faring, serta eksudat inflamasi dan hiperplasia limfoid nasofaring. Faringitis atau tonsilitis terdeteksi pada 82 % pasien dengan infeksi mononukleosis. d. Virus Herpes-Simpleks (tipe 1 dan 2), Virus ini menyebabkan ginggivitis, stomatitis, dan faringits. Faringitis herpetik akut merupakan manifestasi klinis umum pada episode awal infeksi HSV-1. Setelah virus masuk lapisan mukosa, kemudian bereplikasi dan menginfeksi ujung saraf sensorik dan motorik. e. Virus Influenza, Lebih banyak virus Influenza A daripada B. Faringitis berat cenderung diakibatkan oleh virus influenza tipe A. Virus ini menginvasi epitel saluran pernapasan, menyebabkan nekrosis, yang dapat menyebabkan infeksi sekunder. Penyebarannya melalui droplet. f. Virus Parainfluenza (tipe 1-4), Manifestasi klinis ditunjukkan sebagai sindrom common cold. g. Coronavirus, Manifestasi klinis ditunjukkan sebagai sindrom common cold. h. Human Immunodeficiency Virus,

Faringitis timbul pada pasien yang terinfeksi virus HIV, sebagai bagian dari sindrom retroviral akut. 2. Gejala dan tanda Demam disertai rinorea, mual nyeri tenggorok, sulit menelan. Pada pemeriksaan tampak faring dan tonsil hiperemis. Virus influenza, coxsachievirus dan cytomegalovirus dapat menimbulkan lesi vesikular di orofaring dan lesi kulit berupa maculopapular rash.. Faringitis yang disebabkan oleh HIV-1 menimbulkan keluhan nyeri tenggorok, nyeri menelan, mual, dan demam Pada pemeriksaan tampak faring hiperemis, terdapat eksudat, limfadenopati akut di leher dan pasien tampak lemah. 3. Terapi a. Istirahat dan minum yang cukup. b. Kumur dengan air hangat. c. Analgetika jika perlu dan tablet isap. d. Anti virus diberikan pada infeki herpes simpleks, Isoprinosine dosis 60100 mg/kgBB dibagi dalam 4-6 kali/hari pada orang dewasa dan anak < 5 tahun diberikan 50 mg/KgBB dibagi 4-6 kali/hari. B. Faringitis Bakterial Infeksi Grup A Streptokokus Hemolitikus merupakan penyebab faringitis akut pada orang dewasa (15%) dan pada anak (30%). 1. Patofisiologi Grup A Streptokokus Hemolitikus memiliki protein M yang berperan dalam invasi bakteri. Eksotoksin yang dikeluarkannya dapat bereaksi dengan sel T pertahanan tubuh dan dapat menyebabkan demam rematik. Adanya adhesin memungkinkan bakteri ini berkolnisasi dan berkompetisi dengan flora normal tubuh. Masa inkubasi untuk Grup A Streptokokus Hemolitikus berakhir pada 12 jam hingga 4 hari. Insidensi usia pada 5 hingga 15 tahun 2. Gejala dan tanda Nyeri kepala yang hebat, muntah, kadang-kadang disertai demam tinggi, jarang disertai batuk. Pada pemeriksaan fisik tampak tonsil hipertrofi, faring dan tonsil hiperemis dan terdapat eksudat di permukaannya. Beberapa hari kemudian timbul bercak

petechie pada palatum dan faring. Kelenjar limfa leher anterior membesar, kenyal, dan nyeri pada penekanan. 3. Terapi a. Diberikan terutama bila diduga penyebab faringitis akut ialah grup A Treptokokus hemolitikus. Penisilin G Benzatin 50.000 mg/KgBB, IM dosis tunggal, atau amoksisilin 50 mg/KgBB dosis dibagi 3x/hari selama 10 hari dan pada dewasa 3x500 mg/hari selama 6-10 hari atau eritromosin 4x500 mg/hari. b. Kortikosteroid. Deksametason 8-16 mg, IM 1 kali. Pada anak 0.08-0.3 mg/KgBB, IM, 1 kali. c. Analgetika d. Kumur dengan air hangat atau antiseptik. 4. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi antara lain demam rematik, penyakit jantung rematik, dan akut glomerulonefritis,

DAFTAR PUSTAKA
1. Kantak, AD. Respiratory Disorders in Neonate, Infants ,and Young Children . In: The Merck Manual of Diagnosis and Therapy. Merck Research Laboratories : New Jersey. 2006. p.814. 2. Levison, ME. Bacteria and Antibacterial Drugs. In: The Merck Manual of Diagnosis and Therapy. Merck Research Laboratories : New Jersey. 2006. p.1447. 3. Rusmarjono., Soepardi, AE. Faringitis, Tonsilitis, dan Hipertrofi Adenoid. Dalam: Buku Ajar Telinga HidungTenggorok Kepala & Leher, edisi keenam. Balai Penerbit FKUI : Jakarta. 2007. hal. 217-219. 4. Shah,M., Centor, RM., Jennings, M. Severe Acute Pharyngitis Caused by Group C Streptococcus. In : J Gen Intern Med; 2007 February; 22(2): 272274.

Anatomy.uams.edu/anatomyhtml, Medical Gross Anatomy, copyright 1997. Piccirillo, Jay F. 2004. Acute Bacterial Sinusitis. www.nejm.org. Soepardi, Efiaty Arsyad dan Nurbaiti Iskandar (ed.). 2003. Buku Ajar Telinga Tenggorok Kepala Leher. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Soepardi, Efiaty Arsad, dkk (Ed.) 2003. Penatalaksanaan Penyakit dan Kelainan Telinga Hidung Tenggorok Edisi ketiga. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. www.sinusinfocenter.com www.dochazenfield.com i