Anda di halaman 1dari 32

Pengaruh Pemberian Alkohol Terhadap Saraf Motorik Mencit (Mus musculus)

BAB I PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG Belakangan ini terjadi banyak penyalahgunaan obat atau senyawa kimia adiktif yang marak terjadi di masyarakat. Zat adiktif jika digunakan secara berlebihan dalam jangka waktu yang panjang dapat mempengaruhi kondisi kesehatan tubuh pengkonsumsinya. Alkohol termasuk dalam kelompok NAPZA (narkotika, alkohol,

psikotropika, dan zat adiktif lainnya). Diprediksi ada sekitar 1,5 % penduduk Indonesia menyalahgunakan zat adiktif ini. Pengungkapan kasus penyalahgunaan zat adiktif meningkat dengan rata-rata 28.9% kasus per tahun. (Ihwan,dkk. 2007) Alkohol yang dikonsumsi oleh sesorang akan mengakibatkan kecanduan serta terganggungnya kerja sistem saraf pusat pada dirinya. Alkohol yang masuk ke dalam tubuh akan menjadi stimulator yang menekan kerja otak. Otak menjadi pusat koordinasi dari sistem saraf selain sum-sum tulang belakang. Otak memiliki berjuta-juta neuron, neuron ini mrupakan struktur terkecil dari sistem saraf yang mempunyai fungsi tidak dapat digantikan oleh sel-sel yang lain. Gejala kecanduan alkohol ini dapat mengurangi kemampuan seseorang berkonsentrasi, menurunnya daya ingat, dan menurunnya kemampuan mendiskriminasi. Kecanduan alcohol ini menjadi sebuah efek drug addiction yang mempengaruhi kerja neurotransmitter pada kerja sel saraf. Karena etika dan sulitnya penelitian dalam mempelajari kondisi alkoholisme pada manusia, maka digunakan hewan sebagai model penelitian yaitu Mus
1 Pengaruh Pemberian Alkohol Terhadap Saraf Motorik Mencit (Mus musculus)

musculus(Mencit) dalam menerangkan dasar pengaruh alkohol terhadap kerja saraf motorik.

B.

RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang tersebut dapat dirumuskan suatu masalah yaitu

Apakah pemberian alkohol berpengaruh terhadap gerak motorik mencit?.

C.

TUJUAN Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh

pemberian alkohol terhadap gerak motorik mencit

D.

MANFAAT 1. Memberikan informasi mengenai pengaruh pemberian alkohol terhadap gerak motorik mencit.
2. Dapat sumber rujuakan bagi peneliti lain mengenai pengaruh pemberian alkohol terhadap gerak motrik mencit. 3. Dapat melengkapi sumber pustaka penelitian mengenai pengaruh alkohol terhadap gerak motrik mencit.

Pengaruh Pemberian Alkohol Terhadap Saraf Motorik Mencit (Mus musculus)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

A. Tinjauan Pustaka 1.1 Klasifikasi Mencit

Mencit (Mus musculus), (Ariadi, 2010) Kingdom Filum Subfilum Class Subclass Ordo Subordo
3

: Animalia : Chordata : Vertebrata : Mamalia : Theria : Rodentia : Myomorpha

Pengaruh Pemberian Alkohol Terhadap Saraf Motorik Mencit (Mus musculus)

Famili Sub family Genus Species

: Muridae : Murinae : Mus : Mus musculus

Mencit (Mus musculus) adalah hewan yang masih satu kerabat dengan mencit liar atau mencit rumah (Ariadi, 2011). Mencit (Mus musculus) sering digunakan dalam penelitian biomedis. Berbeda dengan hewan lainnya, mencit tidak memiliki kelenjar keringat. Mencit (Mus musculus) mudah ditangani, bersifat penakut, fotofobik cenderung berkumpul dengan sesamanya, mempunyai kecenderungan untuk bersembunyi dan lebih aktif pada malam hari (nokturnal). Jantung terdiri dari empat ruang dengan dinding atrium yang tipis dan dinding ventrikel yang lebih tebal. Peningkatan temperatur tubuh tidak mempengaruhi tekanan darah, sedangkan frekuensi jantung, cardiac output berkaitan dengan ukuran tubuhnya. Alat reproduksi mencit jantan terdiri dari sepasang testis, uretra dan penis. Sedangkan mencit betina terdiri dari sepasang ovarium, oviduct, uterus, cervix dan vagina. Mencit betina mempunyai lima pasang kelenjar mammae dengan tiga diantaranya terletak di daerah cervicothorac dan dua lainya di daerah inguinoabdomenalis (Kusumawati 2004). Data Biologis Mencit (Ariadi, 2011) Lama hidup Lama produksi ekonomis Lama bunting Kawin sesudah beranak Umur disapih Umur dewasa Umur dikawinkan Siklus kelamin Siklus estrus Lama estrus Perkawinan
4

: 1 2 tahun, bisa sampai 3 tahun : 9 bulan : 19 21 hari : 1 24 jam : 21 hari : 35 hari : 8 minggu (jantan dan betina) : poliestrus : 4 5 hari : 12 14 jam : pada waktu estrus

Pengaruh Pemberian Alkohol Terhadap Saraf Motorik Mencit (Mus musculus)

Ovulasi Fertilisasi Berat dewasa Berat lahir Jumlah anak Puting susu Perkawinan kelompok Kromosom Aktivitas

: dekat akhir periode estrus, spontan : 2 jam sesudah kawin : 20 40 gr jantan; 18 35 gr betina : 0,5 1,0 gr : rata rata 6, bisa 15 : 10 puting, 3 psg di dada, 2 psg di perut : 4 betina dengan 1 jantan : 2n = 40 : nokturnal (malam)

1.2

Kandungan Minuman Berakohol Kandungan alkohol pada berbagai minuman keras berbeda-beda. Bir

mengandung 3-5%, anggur 10-14%, sherry,port mustakel berkadar 20%, sedangkan wisky, gin, rum, vodka, dan brendy berkadar alcohol 40-45% (Christianto, 2008) Nama kimia alkohol yang terdapat dalam minuman berakohol adalah etil akohol atau etanol (Christianto, 2008). Minuman berkohol juga mengandung senyawa lain, seperti asam organik. Asam organik yang terdapat dalam minuman berakohol adalah asam assetat, asam valerat, asam propionat. Selain asam organic, juga terdapat fenol, aldehid, asam keto. Untuk menghasilkan citarasa serta aroma yang sedap seringkali ditambahkan papermint. (Darby, 1979) Menurut Hawari (1991) menyebutkan bahwa minuman berakohol dibagi menjadi tiga golongan, yaitu: a. Golongan A (jenis bir, guinnes,dll) yang berkadar akohol 1 persen sampai 5 persen. b. Golongan B (jenis congyang, anggur merah, anggur putih, Newport, dll) yang berkadar alkohol 5 persen sampai 20 persen.

Pengaruh Pemberian Alkohol Terhadap Saraf Motorik Mencit (Mus musculus)

c. Golongan C (jenis mansion, vodka, red labelm countreu, oplosan, dll) yang berkadar alkohol 20 persen sampai 50 persen. Minuman berakohol tidak hanya menyebabkan mabuk, akan tetapi pada tingkat tertentu dapat menyebabkan kematian. Pada tingkat kandungan 0,05 0,15 % etanol dalam darah peminum akan mengalami kehilangan koordinasi, pada tingkat 0,15 -0,20 % etanol menyebabkan keracunan, pada tingkat 0,30 0,40 % peminum hilang kesadaran dan pada tingkat yang lebih tinggi lagi yaitu 0.50% dapat menyebabkan kematian. (Brian,et all. 1983)

1.3

Metabolisme Alkohol Alkohol yang masuk ke dalam tubuh akan mengalami serangkaian proses

biokimia. Menurut Zakhari (2006), metabolism alkohol melibatkan 3 jalur, yaitu:

a.

Jalur Sitosol Jalur ini adalah proses oksidasi dengan melibatkan enzim Alkohol Dehidrogenase (ADH). Proses oksidadi dengan ADH ini terutama terjadi di dalam hepar. Metabolismenya akan menghasilkan asetaldehid. Asetaldehid merupakan produk yang sangat reaktif dan sangat beracun sehingga menyebabkan kerusakan beberapa jaringan atau sel.

b.

Jalur Peroksisom Sistem ini berlangsung dalam peroksisom dengan menggunakan katalase. Pada jalur ini diperlukan H2O2. Sistem ini diperlukan ketika kadar alkohol dalam tubuh meningkat.

c.

Jalur Mikrosom

Pengaruh Pemberian Alkohol Terhadap Saraf Motorik Mencit (Mus musculus)

Jalur ini juga sering disebut dengan sistem SOME (Sistem Oksidasi Etanol Mikrosom). Sistem ini melibatkan enzim sitokrom P450 yang berada dalam mikrosom.

1.4

Sistem Saraf Pusat Sistem saraf merupakan salah satu sistem dalam tubuh yang dapat

berfungsi sebagai media untuk berkomunikasi antar sel maupun organ dan dapat berfungsi sebagai pengendali berbagai sistem organ lain. Sistem saraf secara garis besar dapat dibagi menjadi sistemk saraf pusat dan sistem saraf tepi. (Heryati dan Faizah, 2008) Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan medulla spinalis yang mempunyai beragam pusat dengan fungsi yang berbeda-beda. Dalam sistem saraf pusat ini terjadi berbagai proses analisis informasi yang masuk serta proses analisis informasi yang masuk serta proses sintesis dan mengintegrasikan. (Heryati dan Faizah, 2008)

1.5

Gerak Motorik Bergerak merupakan ciri kehidupan. Gerakan tubuh, dalam hal ini gerak

yang dihasilkan oleh kontraksi otot, memungkinkan manusia melakaukan berbagai hal yang menunjang kehidupannya. Respon somatik merupakan bentuk pengaturan sikap dan keseimbangan serta gerakan tubuhnya pada umumnya, ,meliputi peningkatan atau penurunan tonus serta kontraksi atau relaksasi otot rangka yang merupakan kegiatan dasar suatu otot dan besar peranannya dalam mempertahankan sikap tubuh, sangat dipengaruhi oleh peran sistem aktivasi retikuler medulla oblongata. (Nani, 2004) Pusat saraf yang mengendalikan gerakan terdiri dari tiga tingkatan yaitu medulla spinalis, batang otak, dan area motorik korteks serebri. Di tingkat medulla spinalis, hasil penginderaan berbagai reseptor, berintegrasi untuk
7 Pengaruh Pemberian Alkohol Terhadap Saraf Motorik Mencit (Mus musculus)

menghailkan gerakan paling sederhana sebagai respon suatu reflek spinal. Batang otak dipengaruhi oleh masukan dari sereblum, berperan terutama dalam mengendalikan sikap melalui integrasi reflex postural dan koordinasi gerakan mata sampai tangan. Pengendalian gerakan tertinggi dilaksanakan oleh korteks motorik yang mendapat dari sereblum, ganglia basalis dan berbagai pusat di sekitar thalamus dalam merencanakan, memulai, dan melaksanakan gerakan. (Nani, 2004)

1.6

Mekanisme Penghantaran Impuls Gerak Motorik Proses terjadinya gerakan diawali denagn adanya rangsangan yang

diterima oleh reseptor. Di sel reseptor ini akan terjadi proses tranduksi yaitu terjadi perubahan berbagai bentuk energi rangsangan menjadi energi listrik. Potensial listrik yang timbul di reseptor disebut potensial reseptor yang dapat berupa depolarisasi atau hiperpolarisasi. Depolarisasi pada reseptor dapat memicu terbentknya potensial aksi di neuron eferen yang terkait dengan reseptornya. Potensial aksi di neuron eferen yang akan dihantarkan sebagai impuls dengan frekuensi serta jenis kode yang dilaluinya. Neuron eferen ini akan bersinaps dengan interneuron atau neuron motrik di saraf pusat. (Sarwito, 2003) Proses pengendalian di saraf pusat terjadi dengan lebih majemuk karena hubungan antara neuron melalui sinaps yang sangat komplek. Di saraf pusat dapat terjadi eksitasi maupun inhibisi secara berurutan maupun serempak, bergantung kepada rangkaian hubungan neuron serta jenis neurotransmitter yang dilepaskan serta durasi saat pengelepasannya. (Sarwito, 2003)

B.

Hipotesis Berdasarkan tinjauan pustaka di atas maka hipotesis dalam penelitian ini

adalah ada pengaruh pemberian alkohol (vodka) terhadap gerak motorik mencit (Mus musculus).
8 Pengaruh Pemberian Alkohol Terhadap Saraf Motorik Mencit (Mus musculus)

BAB III METODE PENELITIAN

Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Kelompok penelitian di bagi menjadi dua, kelompok pertama merupakan kelompok kontrol dengan menggunakan 1 mencit. Kelompok kedua adalah kelompok perlakuan dengan menggunakan 8 mencit, dibagi lagi menjadi 4 kelompok

Sampel Penelitian Hewan coba adalah mencit yang diperoleh dari Laboratorium Biologi FMIPA Universitas Negeri Semarang

Pengaruh Pemberian Alkohol Terhadap Saraf Motorik Mencit (Mus musculus)

Waktu dan lokasi Penelitian Penelitian dan pengumpulan data dilakukan selama satu hari. Perlakuan yang diberikan kepada mencit adalah pemberian alkohol dengan kadar yang berbedabeda mulai dari 0%, 10%, 20%, dan 40%. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biologi FMIPA Universitas Negeri Semarang.

Variabel penelitian Variabel bebas Variabel terikat : alkohol : gerak motorik mencit

Alat dan Bahan Penelitian Alat 1. Sonde 2. Beker glass 3. Gelas ukur 4. Pipet 5. Sarung Tangan 6. Alat Penghitung Waktu 8. Kamera 9. Alat tulis

(Stopwatch) 7. Rotarode

10

Pengaruh Pemberian Alkohol Terhadap Saraf Motorik Mencit (Mus musculus)

Bahan 1. Mencit 2. Alkohol dengan kadar mulai dari 0%, 10%, 20%, dan 40%. 3. Akuades Rumus pengenceran Alkohol M1 x V1 = M2 x V2 Keterangan : M1 = molaritas 1 M2 = molaritas 2 V1 = volume 1 V2 = volume 2 Pada manusia, volume alkohol memabukkan adalah 200 ml. Sedangkan konversi dari manusia ke mencit adalah 0.0026. Berdasarkan data tersebut, maka volume alkohol memabukkan pada mencit adalah 200 ml x 0.0026 = 0.52 ml. Volume penyondean alkohol ke mencit berdasarkan berat badan mencit, persamaanya adalah sebagai berikut: Mencit dengan Berat Badan 20 gram = 0.5 ml volume alkohol yang disonde

Cara kerja 1. Menyiapkan semua alat dan bahan yang akan digunakan untuk melakukan penelitian. 2. Menyiapkan alkohol dengan kadar yang berbeda-beda dengan cara diencerkan menggunakan akuades.

3. Menyiapkan alkohol yang akan diminumkan pada mencit pada sonde yang sudah dipersiapkan sebelumnya. 4. Melakukan handling mencit sesuai dengan prosedur handling yang benar. 5. Memberikan alkohol yang berbeda-beda kadarnya (0%, 10%, 20%, dan 40%) dengan sonde dengan memasukkan sonde tersebut dalam saluran pencernaannya hingga mencapai esofagus. 6. Memasukkan mencit yang sudah diberikan alkohol secara bergantian ke dalam rotarod pengamatan mencit dilakukan setiap 5 menit sekali selama 1 jam. 7. Mengamati gerak motorik mencit dengan menghitung banyaknya gerakan memutar mencit di rotarod, dan merekamnya melalui video.

Data Pengamatan No. Kadar Alkohol BB (gram) Mencit keJumlah putaran roterod / menit 1 2 3 4 5

Tabel 1. Data Pengamatan Pengaruh Alkohol terhadap Gerak Motorik Mencit.

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Analisis Data No 1 2 3 4 Kadar Alkohol 40% 20% 10% 0% Mencit ke1 2 1 2 1 2 1 2 BB (gram) 20 19.5 13 11 19.5 10 18 15 1 (1-5) 8 8 25 10 20 26 42 57 Interval (menit) 2 (6-10) 3 (11-15) 4 (16-20) 3 0 0 2 0 0 54 37 50 45 35 23 32 50 50 32 33 15 41 48 39 51 41 54

Tabel. 2 Data Pengamatan dengan Interval waktu 5 menit

Tabel. 3 Analisis Perhitungan Uji ANAVA

No 1 2 3 4

Kadar alkohol 40% 20% 10% 0% Blok Jumlah blok

1 8 17.5 23 49.5 98

Interval 2 3 2.5 0 49.5 36 32 41.5 46 44.5 130 122 465.5

4 0 36.5 32.5 46.5 115.5

1 64 306.3 529 2450 3350

Interval kuadrat 2 3 6.25 0 2450 1296 1024 1722 2116 1980 5597 4999 18495.25

4 0 1332.25 1056.25 2162.25 4550.75

Jumlah perlakuan 10.5 139.5 129 186.5 465.5 216690.25

Perlakuan kuadrat 110.25 19460.25 16641 34782.25 70993.75 70993.75

Berdasarkan tabel diatas, didapat n = 4, k = 4, nt = 16 Keterangan : n = banyak perlakuan k = banyaknya kelompok interval nt= n x k

a.

Jk total

= x2

=18495.25 -

= 4952.11

b.

Jk perlakuan =

= 4205.3

c.

Jk blok

13543.14

= 138.922

d.

Jk galat

= Jk total (Jk blok + Jk perlakuan) = 4952.11 (138.922+4205.3) = 4952.11 - 4344.22 = 607.891

Tabel. 4 Analisis Varians dengan Uji F Sumber Variasi Perlakuan Galat Total Jk 4205.3 607.891 4952.11 Dk 4 12 15 KR = Jk/dk 1051.325 50.657 300.290 F

Berdasarkan tabel F daftar I (Sudjana, 1996), maka: Untuk F (4,12) = 3.26 dengan aras 0,05 Untuk F (4,12) = 5.41 dengan aras 0,01 F hitung > F tabel, maka H 0 ditolak dan Ha diterima. Jadi ada pengaruh antara alcohol (vodka) terhadap gerakmotorik mencit.

Grafik1. Pengaruh Pemberian Vodka pada Gerak Motorik Mencit

60 50 40 30 20 10 0 Interval 1 Interval 2 Interval 3 Interval 4 Kontrol Vodka 10% Vodka 20% Vodka 40%

B.

Pembahasan

Berdasarkan analisis data hasil pengamatan, diketahui bahwa Hipotesis Alternatif (Ha) yaitu Ada pengaruh antara jumlah putaran dalam mouse roller mencit dengan kadar akhohol yang diberikan dapat diterima. Jumlah putaran mouse roller yang dilakukan tersebut berbeda-beda tergantung dari selang waktu dan kadar alcohol yang diberikan kepada mencit. Penelitian ini menggunakan mencit sebagai hewan percobaan, yaitu sejumlah 8 ekor mencit. Mencit-mencit ini dipilih berdasarkan jenis kelamin yang sama, yaitu jantan dengan berat badan mencit yang digunakan untuk kadar vodka 40% di gunakan mencit dengan berat badan 20 gr dan 19.5 grm, untuk kadar vodka 20% digunakan mencit dengan berat badan 13 gr dan 11 gr, untuk kadar vodka 10% digunakan mencit dengan berat badan 19,5 gr dan 10 gr, untuk kadar vidka 0% digunakan mencit dengan berat badan 18 gr dan 15 gr. Mencit tersebut di kelompokan dalam 4 kelompok yaitu konsentrasi 40%,20%,10%, digunakan sebagai perlakuan dan 0% digunakan sebagai kontrol. Jumlah vodka yang diberikan pada tiap-tiap mencit dengan kadar baik 10%, 20% dan 40% disesuaikan dengan berat badan mencit yang digunakan. Untuk jumlah vodka yang diberikan pada tiap-tiap mencit dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel. 5 Volume Penyondean Vodka / BB No 1 2 3 4 5 Berat mencit (gr)
20 19.5 13 11 19.5

Jumlah vodka (mL) 0.5 0.4875 0.325 0.275 0.4875

6 Kadar alkohol 20%

10

0.25 Interval 2 3 54 37 45 35

No 2

Mencit ke1 2

BB(gr) 13 11

1 25 10

4 50 23

Pada kelompok kontrol yang masing-masing masing menggunakan berat badan 18 gr dan 15 gr tidak diberi vodka. Tapi semua mencit baik yang diberi vodka maupun tidak tetap dihitung gerakannya dalam rotarod setiap satu menit sekali. Percobaan yang dilakukan dimulai dari mencit yang diberi kadar vodka 40%. Hal ini supaya data yang didapat dari percobaan tersebut dapat digunakan sebagai acuan berapa lama perhitungan dilakukan untuk mencit dengan pemberian kadar dibawah 40%. Dari ketiga kelompok mencit yang telah diberi perlakuan, diperoleh data sebagai berikut :

Keaktifan gerak mencit pada kelompok ini, dapat dikatakan semakin menurun. Mencit bergerak memutari rotarod pada interval 1 dan 2 yaitu pada menit 1 sampai 10. Sementara pada interval selanjutnya mencit sudah tidak bergerak/diam ditempat tetapi jantungnya masih berdenyut.

No 1

Kadar alkohol 40%

Mencit ke 1 2

BB 20 19.5

Interval 1 8 8 2 3 2 3 0 0 4 0 0

Keaktifan gerak mencit pada kelompok yang ke dua ini, dapat dikatakan fluktuatif atau tidak tetap. Selain itu pada kelompok ini gerakanya lebih banyak

No 4

Kadar Mencit BB(gr) alkohol ke1 18 0% 2 15

Interval 1 42 57 2 41 51 3 48 41 4 39 54

karena kadar yang diberikan lebih kecil dibandingkan kadar yang diberikan pada kelompok 1. Fluktuatif gerak mencit tersebut dapat diketahui dari, mencit 1dengan berat 13 gr bergerak sebanyak 25 putaran pada interval 1, interval 2 sebanyak 54 putaran, interval 3 sebanyak 37 putaran dan interval ke-4 sebanyak 50 putaran. Sedangkan untuk mencit ke-2 dengan berat 11 gr, pada interval 1 bergerak sebanyak 10 putaran, interval 2 sebanyak 45 putaran, interval 3 sebanyak 35 putaran dan pada interval ke-4 sebanyak 23 putaran.

Keaktifan gerak mencit pada kelompok yang ke-3 ini, dapat dikatakan fluktuatif atau tidak tetap. Fluktuatif gerak mencit tersebut dapat diketahui dari, mencit 1dengan berat 19.5 gr bergerak sebanyak 20 putaran pada interval 1, Interval Mencit BB(gr) ke1 2 3 4 1 19.5 20 32 50 50 3 10% 2 10 26 32 33 15 interval 2 sebanyak 32 putaran, interval 3 dan interval 4 sebanyak 50 putaran. No Kadar alkohol Sedangkan untuk mencit ke-2 dengan berat 10 gr, pada interval 1 bergerak sebanyak 26 putaran, interval 2 sebanyak 32 putaran, interval 3 sebanyak 33 putaran dan pada interval ke-4 sebanyak 15 putaran.

Keaktifan gerak mencit pada kelompok yang ke-4 ini, dapat dikatakan fluktuatif atau tidak tetap. Fluktuatif gerak mencit tersebut dapat diketahui dari, mencit 1dengan berat 18 gr bergerak sebanyak 42 putaran pada interval 1, interval 2 sebanyak 41 putaran, interval 3 sebanyak 48 putaran dan interval 4 sebanyak 39

putaran. Sedangkan untuk mencit ke-2 dengan berat 15 gr, pada interval 1 bergerak sebanyak 57 putaran, interval 2 sebanyak 51 putaran, interval 3 sebanyak 41 putaran dan pada interval ke-4 sebanyak 54 putaran. Menurut tinjauan pustaka (Fernando, 1997), Alkohol mempengaruhi fungsi otak karena akan menghambat banyak system neurotransmitter, terhambat atau terganggunya neurotransmitter akan mengganggu keseimbangan antara inhibitor dan exitator. Neurotransmitter utama di otak yang menghambat neurotransmitter exitator untuk bekerja karena pengaruh alkohol adalah asam aspartat dan asam glutamat. Kedua neurotransmitter bereaksi dengan reseptor NMDA, karena keduanya merespon proses sintesis kimia N-metil-D-aspartat. Pemberian alkohol disini adalah alkohol merek vodka, dimana teknik pemberian vodka melalui teknik sonde menggunakan jarum sonde. Teknik sonde ini dipilih karena alkohol akan lebih mudah diabsorpsi melalui saluran pencernaan. Karena pada umumnya, ketika manusia mengkonsumsi obat dimasukkan melalui mulut untuk dibawa melalui saluran pencernaan. Alkohol ini dapat dimetabolisme dalam tubuh melalui tiga cara: Jalur Sitosol, Jalur Peroksisom, dan Jalur Mikrosom (Zukhari, 2006) a. Jalur Sitosol Jalur ini adalah proses oksidasi dengan melibatkan enzim Alkohol Dehidrogenase (ADH). Proses oksidadi dengan ADH ini terutama terjadi di dalam hepar. Metabolismenya akan menghasilkan asetaldehid. Asetaldehid merupakan produk yang sangat reaktif dan sangat beracun sehingga menyebabkan kerusakan beberapa jaringan atau sel. b. Jalur Peroksisom Sistem ini berlangsung dalam peroksisom dengan menggunakan katalase. Pada jalur ini diperlukan H2O2. Sistem ini diperlukan ketika kadar alkohol dalam tubuh meningkat. c. Jalur Mikrosom

Jalur ini juga sering disebut dengan sistem SOME (Sistem Oksidasi Etanol Mikrosom). Sistem ini melibatkan enzim sitokrom P450 yang berada dalam mikrosom. Konsumsi alkohol jangka pendek dapat menekan fungsi otak dengan mengubah keseimbangan antara eksitatori dan inhibitori neurotransmitor. Alkohol ini bertindak seperti depresan dengan meningkatkan neurotransmitor inhibitor. Depresan efek alkohol pada neuron menyebabkan penurunan perhatian, perubahan dalam memori, perubahan gerak motorik. Pengkonsumsian alkohol ini dapat memberi efek terhadap reseptor inhibitor glisin. Glisin ini merupakan neutransmittor utama inhibitor otak. (Fernando, 1997) Dalam penelitian yang dilakukan, menurut tinjauan pustaka di atas, alkohol yang diberikan dengan penyondean ke sistem pencernaan mencit ini akan meningkatkan neutansmittor inhibitorik glisin. Reseptor glisin yang merupakan neutransmittor inhibitor ini akan meningkatkan terjadinya transport ion dalam mekanisme inhibitorik perjalanan impuls. Neutransmittor glisin, akan terstimulasi masuknya ion Ca2+ ke membran pasca sinaps, sehingga neutransmittor ini keluar. Karena glisin ini merupakan neutransmittor inhibitor maka reseptor nya di merman pra sinaps akan lebih permeable terhadap ion K + sehingga tidak akan terjadi beda potensial untuk proses perjalanan impuls. Selain penjalaran neutransmittor, ada juga proses penghantaran impuls oleh pengaturan saraf oleh Hipotalamus. Hasil pencernaan dari alkohol ini akan memberi impuls kepada sistem saraf. Impuls tersebut akan ditangkap oleh reseptor viseral di saluran pencernaan. Kemudian informasi impuls tersebut akan diteruskan ke saraf eferen, lalu kemudian di lanjutkan ke sistem saraf pusat yaiu hipotalamus. Impuls tersebut diolah di hipotalamus, kemudian diterjemahkan daan dihantarkan ke organ efektor melalui saraf eferen. Efektor dalam hal ini adalah otot skeletal atau otot rangka dimana terdapat saraf-saraf somatic yang telah terstimulasi oleh informasi dari saraf eferen. Respon nyata yang terlihat dalam penelitian ini yaitu mulai melemahnya gerak motorik mencit ketika ada pemberian perlakuan alkohol dengan konsentrasi yang berbeda-beda.. Berdasarkan data yang

didapatkan setalah penelitian dilakukan gerak mencit dengan pemberian alkohol konsentrasi lebih tinggi akan lebih berkurang keaktifanya.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Setelah melakukan penelitian mengenai efek alkohol dengan berbeda konsentrasi mempengaruhi gerak motorik mencit ini, dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Pemberian Alkohol dengan konsentrasi berbeda berpengaruh terhadap gerak motorik mencit (Mus musculus). 2. Pemberian Alkohol dengan konsentrasi tinggi akan mengakibatkan efek penurunan koordinasi gerak motorik mencit dengan sangat cepat. 3. Mencit yang menjadi kontrol (tidak ada pemberian alkohol) memiliki keaktifan yang tinggi pada gerak motoriknya. 4. Alkohol yang diberikan akan member stimulus untuk keluarnya neutansmittor inhibitorik dimana akan terhambatnya penjalaran impuls. B. Saran Saran untuk peneliti 1. Dalam melakukan penelitian sebaiknya peneliti mengetahui bagaimana efek yang ditimbulkan dari alkohol terhadap gerak motorik. 2. Dalam melakukan penelitian, peneliti sebaiknya menguasai teknik handling dan teknik oral melalui sonde ke saluran pencernaan dengan baik. 3. Dalam melakukan penelitian sebaiknya peneliti mengetahui perkiraan waktu yang diperlukan untuk alkohol dapat bereaksi.

Saran untuk pembaca 1. Menghindari pengkonsumsian alkohol karena dapat mempengaruhi kerja sistem saraf untuk gerak motorik tubuh.

2. Dalam mengkonsumsi alkohol hendaknya jangan berlebih dan tidak menggunakan alkohol dengan konsentrasi yang tinggi karena dapat berefek cepat terhadap sistem koordinasi tubuh dan dapat mengakibatkan kematian.

TINJAUAN PUSTAKA Christianto Adhy. 2008. Pengaruh Minuman Berakohol terhadap Jumlah Lapisan Sel Spermatogenikdan Berat Vesikula Seminalis Mencit. Program Studi Biologi FMIPA. Universitas Widya Manggala Madiun

Darby, W.J. 1979. The Nutrient Contribution of Fermented Beverage .New York:Costinenu and William J. Darby Academic Press Donelly, Brian, et all. Evaluation of The Methadone-Alcohol Interaction I. Alteration of Plasma Concentration Kinetics. Journal of Analytical Toxicology Vol. 7 September/Oktober (Hal. 246-248) Euis Heryanti dan Nur Faizah. 2004. Diktat Kuliah : Psikologi FAAL. Bandung: Fakulta Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Hawari, D. 1991. Penyalahgunaan Narkotikadan Zat Adiktif. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ian Kay. 2002. Fisiologi Hewan. Semarang: Jurusan Biologi FMIPA UNNES Ihwan Narwanto, dkk. 2007. Pengaruh Etanol secara Kronik terhadap Jumlah Sel Piramidial di Ca1 Hippocampus Tikus (Rattus norvegicus)Remaja . Jurnal Anatomi Indonesia Vol. 02 No. 1 Agustus (hal. 29-33) Ihwan Narwanto, dkk. 2008. Pemberian Etanol Jangka Panjang Menurunkan Memori Kerja Spasial pada Tikus . Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol XXIV No. 2 Agustus Nani Cahyani Sudarsono. 2004. Motorik Simpatik. Departemen Ilmu Faal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta Sarwito Amin. 2003. Sistem Saraf sebagai Pengendali Tubuh. Departemen Ilmu Faal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta Velenzuela C. Fernando. 1997. Alcohol and Neutransmitter Interaction. Jurnal Alcohol Health and Research World Vol. 21 No. 2 (Halaman 144-148) Wiwi Isnaeni. 2006. Fisiologi Hewan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius Zukhari, Samir. 2006. Overview: How is Alcohol Metabolized by The Body?. National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism (NIAAA) 5635 Fisher Land: MSC 9304 Bethesida

Lampiran 1 Jurnal Kegiatan Mahasiswa Dalam Melaksanakan Penelitian Penelitian dan Menyusun Laporan Proyek Fisiologi Hewan

Kelompok 6 1. Irma Khomsah 2. Puji Agustina 3. Siti Marpuah 4. Rezeki Suci M (4401411045) (4401411050) (4401411064) (4401411069)

No . 1.

Kegiatan Mencari berbagai jurnal yang berkaitan dengan judul proposal penelitian (penelusuran pustaka) Proses pembuatan proposal penelitian Konsultasi proposal dengan bu Wulan Cristijanti Permintaan ACC proposal penelitian kepada bu Wulan Cristijanti 5 Konsultasi Laboran

Tanggal 20 Maret 2013 22 Maret 2013 24 Maret 2013 29 Maret 2013 30 Maret 2013 06 April 2013 18 April 2013 02 Mei 2013

Nama Mahasiswa yang Hadir Irma Khomsah Puji Agustina Siti Marpuah Rezeki Suci M Irma Khomsah Puji Agustina Siti Marpuah Rezeki Suci M Irma Khomsah Puji Agustina Siti Marpuah Rezeki Suci M Irma Khomsah Puji Agustina Siti Marpuah Rezeki Suci M Irma Khomsah Puji Agustina Siti Marpuah Rezeki Suci M Irma Khomsah Puji Agustina Siti Marpuah Rezeki Suci M Irma Khomsah Puji Agustina Siti Marpuah Rezeki Suci M Irma Khomsah Puji Agustina Siti Marpuah Rezeki Suci M Irma Khomsah Puji Agustina Siti Marpuah Rezeki Suci M Irma Khomsah Puji Agustina Siti Marpuah Rezeki Suci M Semarang, 07 Juni 2013

2.

3.

4.

15 Mei 2013

18 Mei 2013

6.

Proses latihan menyonde alkohol pada mencit

22 Mei 2013

7.

Proses persiapan alat 24 Mei 2013 dan bahan 25 ei 2013 Pelaksanaan penelitian 26 ei 2013

8.

9.

Penyusunan laporan

10.

3 Juni 2013 4 Juni 2013 5 Juni 2013 6 Juni 2013 Pengumpulan laporan 7 Juni 2013 penelitian

Mengetahui,

Dosen Pengampu I

Dosen Pengampu II

Drs. Adytya marianti, M. Si.

Dra. Wulan Christijanti

Lampiran 2

Dokumentasi Pelaksanaan Proyek Penelitian Pengaruh Alkohol terhadap Gerak Motorik Mencit (Mus musculus)

Foto. 1 Alkohol Vodka

Foto. 2 Peralatan Penelitian Foto. 3 Peralatan Penelitian Foto. 4 Mencit

Foto. 5 Teknik Handling

Foto. 6 Teknik Sonde

Foto. 7 Pengukuran Waktu Foto. 8 Gerakan Memutar Rotarod

Foto. 9 Pencatatan Data Pengamatan

Foto.10 Mencit Non Aktif