Anda di halaman 1dari 28

Tugas Kimia Organik

ALAT-ALAT ANALISIS
Disusun oleh :
Nama : Dewi Yuli Anggraeni (1104103010005) Dewi Oetary (1104103010011)

Riska Aulia (1104103010003) Siti Sarah (1104103010018)

Sufi Humaira (1104103010010)

JURUSAN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS SYIAH KUALA BANDA ACEH 2011/2012

Scanning Electron Microscope (SEM)


Mikroskop elektron adalah sebuah mikroskop yang dapat melakukan pembesaran objek sampai 2 juta kali. Mikroskop ini menggunakan elektrostatik dan elektromagnetik untuk mengontrol pencahayaan dan tampilan gambar serta memiliki kemampuan pembesaran objek serta resolusi yang jauh lebih bagus daripada mikroskop cahaya. Mikroskop elektron menggunakan jauh lebih banyak energi dan radiasi elektromagnetik yang lebih pendek dibandingkan mikroskop cahaya (Anonymous, 2012). Scanning Electron Microscope (SEM) adalah sebuah mikroskop elektron yang didesain untuk mengamati permukaan objek solid secara langsung. SEM memiliki perbesaran 10 3.000.000 kali, depth of field 4 0.4 mm dan resolusi sebesar 1 10 nm. Kombinasi dari perbesaran yang tinggi, depth of field yang besar, resolusi yang baik, kemampuan untuk mengetahui komposisi dan informasi kristalografi membuat SEM banyak digunakan untuk keperluan penelitian dan industri (Prasetyo, 2011). Anonymous (2012) menambahkan, SEM memfokuskan sinar elektron (electron beam) di permukaan obyek dan mengambil gambarnya dengan mendeteksi elektron yang muncul dari permukaan obyek.

Alasan Menggunakan Elektron Elektron memiliki resolusi yang lebih tinggi daripada cahaya. Cahaya hanya mampu mencapai 200nm, sedangkan elektron dapat mencapai resolusi hingga 0,1 0,2 nm. Berikut ini merupakan perbandingan hasil gambar mikroskop cahaya dengan SEM (Material Cerdas, 2009).

Gambar 1. Perbandingan Hasil Mikroskop Cahaya dengan SEM Dengan menggunakan elektron akan didapatkan beberapa jenis

pantulannya yang berguna untuk keperluan karakterisasi. Jika elektron mengenai

suatu benda maka akan timbul dua jenis pantulan yaitu pantulan elastis dan pantulan non elastis seperti pada gambar dibawah ini (Material Cerdas, 2009).

Gambar 2. Pantulan elastis dan pantulan non elastis

PRINSIP KERJA SEM

Prinsip kerja dari SEM adalah sebagai berikut: 1. Electron gun menghasilkan electron beam dari filamen. Pada

umumnya electron gun yang digunakan adalah tungsten hairpin gun dengan filamen berupa lilitan tungsten yang berfungsi sebagai katoda. Tegangan yang diberikan kepada lilitan mengakibatkan terjadinya pemanasan. Anoda kemudian akan membentuk gaya yang dapat menarik elektron melaju menuju ke anoda. 2. Lensa magnetik memfokuskan elektron menuju suatu titik pada permukaan sampel. 3. Sinar elektron yang terfokus memindai (scan) keseluruhan sampel dengan diarahkan oleh koil pemindai. 4. Ketika elektron mengenai sampel, maka akan terjadi hamburan elektron, baik Secondary Electron (SE)atau Back Scattered Electron (BSE) dari

permukaan sampel dan akan dideteksi oleh detektor dan dimunculkan dalam bentuk gambar pada monitor CRT. Secara lengkap skema SEM dijelaskan oleh gambar dibawah ini:

Gambar 3. Mekanisme Kerja SEM

Ada beberapa sinyal yang penting yang dihasilkan oleh SEM. Dari pantulan inelastis didapatkan sinyal elektron sekunder dan karakteristik sinar X. Sedangkan dari pantulan elastis didapatkan sinyal backscattered elektron. Sinyal -sinyal tersebut dijelaskan pada gambar berikut ini.

Gambar 4. Sinyal-sinyal dalam SEM

Cara terbentuknya gambar pada SEM berbeda dengan apa yang terjadi pada mikroskop cahaya dan TEM. Pada SEM, gambar dibuat berdasarkan deteksi elektron sekunder atau backscaterred elektron yang muncul dari permukaan sampel ketika permukaan sampel tersebut dipindai dengan elektron. Elektron-elektron yang

terdeteksi

selanjutnya

diperkuat

sinyalnya,

kemudian

besar

amplitudonya

ditampilkan dalam gradasi gelap-terang pada monitor CRT (cathode ray tube). Di layar CRT inilah gambar struktur obyek yang sudah diperbesar dapat dilihat. Pada proses operasinya, SEM tidak memerlukan sampel yang ditipiskan, sehingga bisa digunakan untuk melihat obyek dari sudut pandang 3 dimensi (Anonymous, 2012).

KOMPONEN UTAMA SEM SEM memiliki beberapa peralatan utama, antara lain: 1. Penembak elektron (electron gun) a) Termal Pada jenis ini, energi luar yang masuk ke bahan dalam bentuk energi panas. Energi panas ini diubah menjadi energi kinetik. Semakin besar panas yang diterima bahan maka akan semakin besar pula kenaikan energi kinetik yang terjadi pada electron. Pada situasi inilah akan terdapat elektron yang pada ahirnya terlepas keluarmelalui permukaan bahan. Bahan yang digunakan sebagai sumber elektron disebut sebagai emiter atau lebih sering disebut katoda. Sedangkan bahan yangmenerima elektron disebut sebagai anoda. Dalam konteks tabung hampa (vacuum tube) anoda lebih sering disebut sebagai plate. Dalam proses emisi termal dikenal dua macam jenis katoda yaitu : a. Katoda panas langsung (Direct Heated Cathode, disingkat DHC) b. Katoda panas tak langsung (Indirect Heated Cathode, disingkat IHC) Pada katoda jenis ini katoda selain sebagai sumber elektron juga dialiri oleh arus heater (pemanas).Material yang digunakan untuk membuat katoda diantaranya adalah :

1. Tungsten Filamen Material ini adalah material yang pertama kali digunakan orang untuk membuatkatode. Tungsten memiliki dua kelebihan untuk digunakan sebagai katoda yaitumemiliki ketahanan mekanik dan juga titik lebur yang tinggi (sekitar 3400 oC), sehingga tungsten banyak digunakan untuk aplikasi khas yaitu tabung XRay yang bekerja pada tegangan sekitar 5000 V dan suhu tinggi. Akan tetapiuntuk aplikasi

yang umum terutama untuk aplikasi Tabung Audio dimana tegangankerja dan temperature tidak terlalu tinggi maka tungsten bukan material yang ideal,hal ini disebabkan karena tungsten memilik fungsi kerja yang tinggi (4,52 eV) danjuga temperature kerja optimal yang cukup tinggi (sekitar 2200 oC).

2. Field emission Pada emisi jenis ini yang menjadi penyebab lepasnya elektron dari bahan ialahadanya gaya tarik medan listrik luar yang diberikan pada bahan. Pada katoda yangdigunakan pada proses emisi ini dikenakan medan listrik yang cukup besarsehingga tarikan yang terjadi dari medan listrik pada elektron

menyebabkanelektron memiliki energi yang cukup untuk lompat keluar dari permukaan katoda.Emisi medan listrik adalah salah satu emisi utama yang terjadi pada vacuum tubeselain emisi thermionic. Jenis katoda yang digunakan diantaranya adalah : - Cold Field Emission - Schottky Field Emission Gun

2. Lensa Magnetik Lensa magnetik yang digunakan yaitu dua buah condenser lens. Condenser lens kedua (atau biasa disebut dengan lensa objektif) memfokuskan electron dengan diameter yang sangat kecil, yaitu sekitar 10-20 nm.

3. Detektor SEM memiliki beberapa detektor yang berfungsi untuk menangkap hamburan elektron dan memberikan informasi yang berbeda-beda. Detektor-detektor tersebut antara lain: a. Backscatter detector, yang berfungsi untuk menangkap informasi mengenai nomor atom dan topografi. b. Secondary detector, yang berfungsi untuk menangkap informasi mengenai topografi (Prasetyo, 2011).

4. Sample Holder Untuk meletakkan sampel yang akan dianalisis dengan SEM.

5. Monitor CRT (Cathode Ray Tube) Di layar CRT inilah gambar struktur obyek yang sudah diperbesar dapat dilihat. a) Topografi, yaitu ciri-ciri permukaan dan teksturnya (kekerasan, sifat memantulkan cahaya, dan sebagainya). b) Morfologi, yaitu bentuk dan ukuran dari partikel penyusun objek (kekuatan, cacat pada Integrated Circuit (IC) dan chip, dan sebagainya). c) Komposisi, yaitu data kuantitatif unsur dan senyawa yang terkandung di dalam objek (titik lebur, kereaktifan, kekerasan, dan sebagainya). d) Informasi kristalografi, yaitu informasi mengenai bagaimana susunan dari butirbutir di dalam objek yang diamati (konduktifitas, sifat elektrik, kekuatan, dan sebagainya). (Prasetyo, 2011).

Jenis sampel yang dapat dianalisa: sampel biologi atau material padat. Aplikasi (analisa sampel): 1. Sampel Padat: logam, bubuk kimia, kristal, polymers, plastik, keramik, fosil, butiran, karbon, campuran partikel logam, sampel Arkeologi. 2. Sampel Biologi: sel darah, produk bakteri, fungal, ganggang, benalu dan cacing. Jaringan binatang, manusia dan tumbuhan. 3. Sampel Padatan Biologi: contoh profesi dokter gigi, tulang, fosil dan sampel arkeologi (Sudarman dkk., 2011).

KELEBIHAN - KELEMAHAN SEM

Adapun kelebihan teknik SEM yaitu terdapat sistem vakum pada electronoptical column dansample chamber yang bertujuan antara lain: Menghilangkan efek pergerakan elektron yang tidak beraturan karena adanya molekul gas pada lingkungan tersebut, yang dapat mengakibatkan penurunan intensitas dan stabilitas. Meminimalisasi gas yang dapat bereaksi dengan sampel atau mengendap pada sampel, baik gas yang berasal dari sampel atau pun mikroskop. Karena

apabila hal tersebut terjadi, maka akan menurunkan kontras dan membuat gelap detail pada gambar (Prasetyo, 2011).

Sedangkan kelemahan dari teknik SEM antara lain:


Memerlukan kondisi vakum Hanya menganalisa permukaan Resolusi lebih rendah dari TEM Sampel harus bahan yang konduktif, jika tidak konduktor maka perlu dilapis logam seperti emas (Material Cerdas, 2009).

Spektrofotometri Infra Merah

Spektrofotometri Infra Red atau Infra Merah merupakan suatu metode yang mengamati interaksi molekul dengan radiasi elektromagnetik yang berada pada daerah panjang gelombang 0,75 1.000 m atau pada Bilangan Gelombang 13.000 10 cm-1. Radiasi elektromagnetik dikemukakan pertama kali oleh James Clark Maxwell, yang menyatakan bahwa cahaya secara fisis merupakan gelombang elektromagnetik, artinya mempunyai vektor listrik dan vektor magnetik yang keduanya saling tegak lurus dengan arah rambatan. Gambaran berkas radiasi elektromagnetik diperlihatkan pada Gambar 1 berikut :

Saat ini telah dikenal berbagai macam gelombang elektromagnetik dengan rentang panjang gelombang tertentu. Spektrum elektromagnetik merupakan kumpulan spektrum dari berbagai panjang gelombang. Berdasarkan pembagian daerah panjang gelombang pada Tabel 1 dan Gambar 2, sinar infra merah dibagi atas tiga daerah, yaitu: a. Daerah Infra Merah dekat. b. Daerah Infra Merah pertengahan. c. Daerah infra merah jauh..

Dari pembagian daerah spektrum elektromagnetik tersebut diatas, daerah panjang gelombang yang digunakan pada alat spektrofotometer infra merah adalah pada daerah infra merah pertengahan, yaitu pada panjang gelombang 2,5 50 m atau pada bilangan gelombang 4.000 200 cm-1. Satuan yang sering digunakan dalam spektrofotometri infra merah adalah Bilangan Gelombang ( ) atau disebut juga sebagai Kaiser. Interaksi Sinar Infra Merah Dengan Molekul

Dasar Spektroskopi Infra Merah dikemukakan oleh Hooke dan didasarkan atas senyawa yang terdiri atas dua atom atau diatom yang digambarkan dengan dua buah bola yang saling terikat oleh pegas seperti tampak pada gambar disamping ini. Jika pegas direntangkan atau ditekan pada jarak keseimbangan tersebut maka energi potensial dari sistim tersebut akan naik. Setiap senyawa pada keadaan tertentu telah mempunyai tiga macam gerak, yaitu : 1. Gerak Translasi, yaitu perpindahan dari satu titik ke titik lain. 2. Gerak Rotasi, yaitu berputar pada porosnya, dan 3. Gerak Vibrasi, yaitu bergetar pada tempatnya.

Bila ikatan bergetar, maka energi vibrasi secara terus menerus dan secara periodik berubah dari energi kinetik ke energi potensial dan sebaiknya. Jumlah energi total adalah sebanding dengan frekwensi vibrasi dan tetapan gaya ( k ) dari pegas dan massa ( m1 dan m2 ) dari dua atom yang terikat. Energi yang dimiliki oleh sinar infra merah hanya cukup kuat untuk mengadakan perubahan vibrasi. Panjang gelombang atau bilangan gelombang dan kecepatan cahaya dihubungkan dengan frekwensi melalui bersamaan berikut :

Energi yang timbul juga berbanding lurus dengan frekwesi dan digambarkan dengan persamaan Max Plank :

sehingga :

dimana : E = Energi, Joule h = Tetapan Plank ; 6,6262 x 10-34 J.s c = Kecepatan cahaya ; 3,0 x 1010 cm/detik

n = indeks bias (dalam keadaan vakum harga n = 1) = panjang gelombang ; cm = frekwensi ; Hertz Dalam spektroskopi infra merah panjang gelombang dan bilangan gelombang adalah nilai yang digunakan untuk menunjukkan posisi dalam spektrum serapan. Panjang gelombang biasanya diukur dalam mikron atau mikro meter ( m ). Sedangkan bilangan gelombang ( ) adalah frekwensi dibagi dengan kecepatan cahaya, yaitu kebalikan dari panjang gelombang dalam satuan cm -1. Persamaan dari hubungan kedua hal tersebut diatas adalah :

Posisi pita serapan dapat diprediksi berdasarkan teori mekanikal tentang osilator harmoni, yaitu diturunkan dari hukum Hooke tentang pegas sederhana yang bergetar, yaitu :

dimana :

Keterangan : c = kecepatan cahaya : 3,0 x 1010 cm/detik k = tetapan gaya atau kuat ikat, dyne/cm

= massa tereduksi m = massa atom, gram Setiap molekul memiliki harga energi yang tertentu. Bila suatu senyawa menyerap energi dari sinar infra merah, maka tingkatan energi di dalam molekul itu akan tereksitasi ke tingkatan energi yang lebih tinggi. Sesuai dengan tingkatan energi yang diserap, maka yang akan terjadi pada molekul itu adalah perubahan energi vibrasi yang diikuti dengan perubahan energi rotasi. Perubahan Energi Vibrasi Atom-atom di dalam molekul tidak dalam keadaan diam, tetapi biasanya terjadi peristiwa vibrasi. Hal ini bergantung pada atom-atom dan kekuatan ikatan yang menghubungkannya. Vibrasi molekul sangat khas untuk suatu molekul tertentu dan biasanya disebut vibrasi finger print. Vibrasi molekul dapat digolongkan atas dua golongan besar, yaitu : 1. Vibrasi Regangan (Streching) 2. Vibrasi Bengkokan (Bending) Vibrasi Regangan (Streching) Dalam vibrasi ini atom bergerak terus sepanjang ikatan yang menghubungkannya sehingga akan terjadi perubahan jarak antara keduanya, walaupun sudut ikatan tidak berubah. Vibrasi regangan ada dua macam, yaitu: 1. Regangan Simetri, unit struktur bergerak bersamaan dan searah dalam satu bidang datar. 2. Regangan Asimetri, unit struktur bergerak bersamaan dan tidak searah tetapi masih dalam satu bidang datar.

Vibrasi Bengkokan (Bending) Jika sistim tiga atom merupakan bagian dari sebuah molekul yang lebih besar, maka dapat menimbulkan vibrasi bengkokan atau vibrasi deformasi yang mempengaruhi osilasi atom atau molekul secara keseluruhan. Vibrasi bengkokan ini terbagi menjadi empat jenis, yaitu : 1. Vibrasi Goyangan (Rocking), unit struktur bergerak mengayun asimetri tetapi masih dalam bidang datar. 2. Vibrasi Guntingan (Scissoring), unit struktur bergerak mengayun simetri dan masih dalam bidang datar. 3. Vibrasi Kibasan (Wagging), unit struktur bergerak mengibas keluar dari bidang datar. 4. Vibrasi Pelintiran (Twisting), unit struktur berputar mengelilingi ikatan yang menghubungkan dengan molekul induk dan berada di dalam bidang datar.

Daerah Spektrum Infra Merah Para ahli kimia telah memetakan ribuan spektrum infra merah dan menentukan panjang gelombang absorbsi masing-masing gugus fungsi. Vibrasi suatu gugus fungsi spesifik pada bilangan gelombang tertentu. Dari Tabel 2 diketahui bahwa vibrasi bengkokan CH dari metilena dalam cincin siklo pentana berada pada daerah bilangan gelombang 1455 cm -1. Artinya jika suatu senyawa spektrum senyawa X menunjukkan pita absorbsi pada bilangan gelombang tersebut tersebut maka dapat disimpulkan bahwa senyawa X tersebut mengandung gugus siklo pentana.

Daerah Identifikasi Vibrasi yang digunakan untuk identifikasi adalah vibrasi bengkokan, khususnya goyangan (rocking), yaitu yang berada di daerah bilangan gelombang 2000 400 cm-1. Karena di daerah antara 4000 2000 cm-1 merupakan daerah yang khusus yang berguna untuk identifkasi gugus fungsional. Daerah ini menunjukkan absorbsi yang disebabkan oleh vibrasi regangan. Sedangkan daerah antara 2000 400 cm-1 seringkali sangat rumit, karena vibrasi regangan maupun bengkokan mengakibatkan absorbsi pada daerah tersebut.

Dalam daerah 2000 400 cm-1 tiap senyawa organik mempunyai absorbsi yang unik, sehingga daerah tersebut sering juga disebut sebagai daerah sidik jari (fingerprint region). Meskipun pada daerah 4000 2000 cm-1 menunjukkan absorbsi yang sama, pada daerah 2000 400 cm-1 juga harus menunjukkan pola yang sama sehingga dapat disimpulkan bahwa dua senyawa adalah sama. Cara Kerja Alat Spektrofotometer FTIR Sistim optik Spektrofotometer FTIR seperti pada gambar dibawah ini dilengkapi dengan cermin yang bergerak tegak lurus dan cermin yang diam. Dengan demikian radiasi infra merah akan menimbulkan perbedaan jarak yang ditempuh menuju cermin yang bergerak ( M ) dan jarak cermin yang diam ( F ). Perbedaan jarak tempuh radiasi tersebut adalah 2 yang selanjutnya disebut sebagai retardasi ( ). Hubungan antara intensitas radiasi IR yang diterima detektor terhadap retardasi disebut sebagai interferogram. Sedangkan sistim optik dari Spektrofotometer IR yang didasarkan atas bekerjanya interferometer disebut sebagai sistim optik Fourier Transform Infra Red.

Sistim optik interferometer Michelson pada Spektrofotometer FTIR. Pada sistim optik FTIR digunakan radiasi LASER (Light Amplification by Stimulated Emmission of Radiation) yang berfungsi sebagai radiasi yang diinterferensikan

dengan radiasi infra merah agar sinyal radiasi infra merah yang diterima oleh detektor secara utuh dan lebih baik. Detektor yang digunakan dalam Spektrofotometer FTIR adalah TGS (Tetra Glycerine Sulphate) atau MCT (Mercury Cadmium Telluride). Detektor MCT lebih banyak digunakan karena memiliki beberapa kelebihan dibandingkan detektor TGS, yaitu memberikan respon yang lebih baik pada frekwensi modulasi tinggi, lebih sensitif, lebih cepat, tidak dipengaruhi oleh temperatur, sangat selektif terhadap energi vibrasi yang diterima dari radiasi infra merah.

Keunggulan Spektrofotometer FTIR Secara keseluruhan, analisis menggunakan Spektrofotometer FTIR memiliki dua kelebihan utama dibandingkan metoda konvensional lainnya, yaitu : 1. Dapat digunakan pada semua frekwensi dari sumber cahaya secara simultan sehingga analisis dapat dilakukan lebih cepat daripada menggunakan cara sekuensial atau scanning. 2. Sensitifitas dari metoda Spektrofotometri FTIR lebih besar daripada cara dispersi, sebab radiasi yang masuk ke sistim detektor lebih banyak karena tanpa harus melalui celah (slitless).

UV-Vis Spectroscopy
Proses karakterisasi material sangat diperlukan dalam menginvestigasi suatu material, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Berbagai prinsip dalam proses investigasi ini menjadi dasar dalam menjalankan fungsi dari alat spektroskopi, salah satunya UV-Vis Spectroscopy. Manusia bisa membedakan senyawa kimia yang banyak macamnya dengan mudah melalui warna senyawa yang khas. Masing-masing memiliki warna yang berbeda, klorofil berwarna hijau dan darah berwarna merah. Dalam hal ini, mata manusia bisa dianggap bertindak sebagai spektrometri yang menganalisa warna yang direfleksikan oleh permukaan benda. Prinsip ini yang digunakan pada UV-Vis (UV-Visible) Spectroscopy. A. Prinsip Kerja

Gambar 2. Spektrum warna berdasarkan panjang gelombang

Ketika elektron pada molekul berpindah orbital dari tingkat energi yang lebih rendah ke tingkat energi lebih tinggi dan sebaliknya, akan ada energi yang diserap dan dipancarkan. Besarnya energi ini berada dalam range cahaya tampak (400-700 nm) dan UV (200-400 nm). Oleh karena itu, sampel UV-Vis Spectroscopy akan menyerap atau memancarkan spektrum elektromagnetik ketika terjadi eksitasi elektron saat sampel dilewati cahaya tampak atau UV. B. Metode/ Cara Kerja

Adapun sumber energi cahaya yang dapat digunakan yaitu : Tungsten, menghasilkan energi dengan intensitas yang cukup rendah ( = 350-2500nm) Deuterium Arc Lamp, menghasilkan energi yang cukup besar ( = 190-240 nm) Atau dapat juga digunakan Xenon ( = 190-800 nm)

Proses kerja yang dijalankan oleh uv-vis spectroscopy yaitu : 1. Energi cahaya dipancarkan dari sumber dan difokuskan melalui lensa 2. Melewati shutter, fungsinya adalah mengatur intensitas cahaya yang akan melewati sampel 3. Saat cahaya melalui sampel, akan ada intensitas cahaya yang diteruskan menuju lensa untuk difokuskan 4. Slit (celah) berfungsi untuk membatasi jalur masuknya cahaya 5. Hasil intensitas yang berhasil melewati slit selanjutnya menuju grating untuk kemudian diuraikan menuju diode array menjadi berkas cahaya monokromatik dan dilanjutkan ke tahap berikut :

a. Melalui mirror 2, masing-masing berkas cahaya monokromatik akan dibagi menjadi dua dengan besar intensitas sama oleh half-mirror. b. Berkas cahaya yang satu (garis ungu) dilewatkan ke sample cuvette yang berisi sampel. c. Berkas cahaya reference beam (garis biru) dilewatkan ke reference cuvette yang hanya berisi sampel referensi (blanko). d. Intensitas dari cahaya yang keluar dari kedua holder kemudian diukur oleh detektor dan dibandingkan hasilnya.

C. Selisih

Hasil antara intensitas cahaya awal, Io, yang dilewatkan ke

reference cuvette dengan intensitas cahaya yang dilewatkan ke sampel, I, adalah besar intensitas cahaya yang diserap oleh sampel. Hasilnya bisa dinyatakan sebagai besar cahaya yang diserap (absorbance) A, atau besar cahaya yang

ditransmisikan T. Jika sampel tidak menyerap cahaya dengan panjang gelombang tertentu maka Io = I, A = 0, dan T = 1.

Gambar 5. Transmisi cahaya pada sampel Hasil dari UV-Vis Spectroscopy biasanya ditampilkan dalam bentuk grafik. Dengan sumbu X, menunjukan panjang gelombang dan sumbu Y menunjukkan jumlah cahaya yang terserap. Dari grafik ini, bisa kita lakukan analisa secara kualitatif untuk menentukan senyawa apa saja yang ada dalam larutan sampel.

Karena setiap senyawa kimia punya respon berbeda terhadap penyerapan spektrum panjang gelombang tertentu saat terjadi eksitasi.

Dengan

memanfaatkan

persamaan

Tauc

di

bawah

ini

maka

dapat

diperoleh pendekatan nilai untuk energiabsorbansi. Persamaan Tauc:

dimana ao adalah koefisien absorbsi linear; hn adalah energi foton dari cahaya; A adalah parameter lebar sisi absorbsi; dan Eg adalah energi celah pita optis, masing-masing. (Gambar 6.b) Nilai dari energi yang diserap oleh sampel merupakan karakteristik dari jenis material tertentu. Hal inilah yang mendasari penerapan analisa kimia kualitatif dari spektroskopi UV-Vis. Sebagai contoh, meterial ZnO akan memiliki energi absorbansi sekitar 3,07 eV.

D.

Aplikasi Berdasarkan fungsinya sebagai media untuk analisa kualitatif, penggunaan

UV-Vis Spectroscopy dapat ditemukan untuk menginvestigasi: Kandungan darah Konsentrasi DNA/RNA Identifikasi sisa pestisida Pengecekan kandungan makanan Energi celah pita material Analisa kandungan material (kualitatif)

UV-Vis Spectroscopy sebenarnya merupakan teknik spectroscopy yang pertama ditemukan dan masih banyak digunakan secara luas hingga saat ini. Kehadirannya masih dibutuhkan hingga saat ini karena alat ini cukup mudah digunakan, hasilnya dapat diketahui dengan cepat, akurat, penggunaannya luas, dan tidak terlalu mahal.

Differential Scanning Calorimetry (DSC)


Differential Scanning Calorimetry (DSC) merupakan suatu teknik analisis termal dimana perbedaan pada aliran panas atau daya panas pada sampel dan standar (referensi) dipantau terhadap waktu atau temperatur, sedangkan pada sampel dengan atmosfer telah diprogram. DSC ada tiga jenis, yaitu: 1. Heat flux DSC 2. Power compensation DSC (heat flow) 3. Hyper DSC (heat flow)

Gambar 1. Skema sederhana DSC B. Prinsip Kerja

Prinsip kerjanya sangat sederhana dimana satu pan diisi dengan sampel uji, sedangkan pan yang lain diisi dengan material referensi. Kedua pan berada diatas heater. Kemudian dengan memberikan perintah melalui komputer, heater akan dinyalakan dan sekaligus menentukan specific heat yang diinginkan. Melalui pemograman komputer, kecepatan panas akan dikendalikan yang tentu saja panas yang ada dideteksi dengan sensor temperatur yang kemudian sinyalnya diterima oleh komputer dan komputer akan memberi perintah pada heater untuk mempertahankan specific heat-nya. Pada dasarnya heat flux DSC dan power

compensation DSC memiliki persamaan prinsip. Perbedaanya hanya pada sistem pengukuran diferensial energi, dimana pada power compensation DSC menggunakan heater kedua (secondary heater) untuk mengkompensasi perbedaan temperatur antara sampel dan referensi. Sedangkan pada heat flux DSC teknik, flux panas akan melalui sampel dan referensi dipantau pada output.

\ Gambar 2. Skema prinsip kerja heat flux DSC

Gambar 3. Skema prinsip kerja power compensation DSC

Dari gambar keduanya dapat dilihat bahwa dalam heat flux DSC yang dilakukan hanyalah pengendalian pada satu heater dan direkam sehingga masih dimungkinkan terjadi perbedaan temperatur antara sampel dan referensi. Sedangkan pada power compensation DSC dilakukan pengendalian pada heater referensi untuk mengatasi perbedaan temperatur yang terjadi sehingga keduanya memiliki perbedaan hasil seperti yang tercantum pada Tabel 1 berikut:

Tabel 1. Perbedaan antara heat flow dan heat flux DSC

1. Heat flux DSC Sampel dan referensinya dihubungkan dengan jalur aliran panas dengan tahanan yang rendah. Sampel dan referensi berada pada furnae yang sama atau satu. Perubahan entalpi atau kapasitas panas pada sampel menyebabkan perbedaan temperatur relatif terhadap referensi. Perbedaan temperatur ini direkam dan dihubungkan dengan perubahan entalpi pada sampel menggunakan hasil uji kalibrasi.[5] Ini merupakan modifikasi dari DTA dengan perbedaan hanya pada sampel dan referensi yang memiliki jalur aliran panas yang bagus. Kelebihan energi yang terjadi antara sampel dan referensi dihantarkan menggunakan penghubung dari metal sehingga hanya terjadi sedikit perbedaan temperatur antara keduanya. Perbedaan temperatur sampel dan referensi proporsional terhadap aliran panas antara keduanya.

Gambar 4. Heat flux DSC Karena termokopel tidak menempel langsung pada spesimen maka akan terdapat perbedaan antara panas pada spesimen dengan yang terukur sehingga T tidak sama dengan Ts Tr dimana Ts adalah temperatur sampel dan Tr adalah temperatur referensi. Cara mengatasinya dengan mempertahankan pada temperatur T' (temperatur transisi) dan direkam dengan kurva DSC tehadap kesetimbangan. Cara ini membutuhkan alat yang lebih rumit atau dengan cara referensi yang

dibiarkan kosong pada percobaan pertama dan mengisinya dengan referensi pada percobaan kedua sehingga selisih antara yang pertama dengan kedua adalah Tr. Pada dasarnya heat flux DSC ada tiga jenis, yaitu:

A. The Disk type measuring system

Gambar 5. Skema heat flux DSC dengan Disk type measuring system

Karakteristik utamanya adalah aliran panas dari furnace melewati disk yang memilki konduktivitas termal medium[6]. Crucible material adalah Al, Al2O3, grafit, Y2O3, Pt/Rh dengan Al2O3 didalamnya atau emas dan lain-lain. Kecepatan pendinginan 10 K/menit. Konstanta waktu 3 detik dan 10 detik.

B. The Cylinder type measuring system

Gambar 6. Skema heat flux DSC dengan Cylinder measuring system Menggunakan dua aluminium silinder yang diletakkan paralel dan simetris pada furnace. Crucible yang digunakan adalah dari stainless steel. Tipe silinder ini memiliki volume yang lebih besar sehingga mempunyai konstanta waktu yang lebih lama yaitu 4 menit. Pengukuran yang dilakukan pada range temperatur yang lebar yaitu -196 s.d 1500C. Maksimum kecepatan panas 1 K/menit.

C. The Turret type measuring system

Gambar 7. Skema heat flux DSC dengan Turret measuring system

Sampel menggunakan silinder kecil yang berlubang. Sangat ideal digunakan untuk mengetahui kemurnian logam.[6] Sejauh ini Turrent measureing system yang paling baik dan bersaing dengan kompensasi DSC dan mikro DSC karena panas berpindah melalui dinding tipis silinder sehingga jalur konduktivitas sangat pendek tercapai. Tipe crucible disebut sebagai T zero sensor memiliki peralatan yang hampir sama dengan DSC klasik. Kecepatan panas 200 K/menit. Waktu konstan hampir sama dengan nol.

2. Power compensation DSC

Gambar 8. Skema power compensation DSC Sampel dan referensi diletakkan pada tempat yang berbeda dengan furnace yang terpisah. Keuntungannya bahannya lebih ringan sehingga kecepatan responnya lebih cepat dan kecepatan panas 500C/menit. Ketika reaksi muncul, energi diakumulasi atau dihilangkan untuk mengompensasi perubahan energi pada kedua furnace. Waktu konstan 1,5 detik. Crucible terbuat dari aluminum.

Gambar 9. Diagram blok dari alat power compensation DCS

Bagian kiri merupakan blok diagram rangkaian differential temperature control, sedangkan bagian kanan merupakan blok diagram rangkaian pengendali temperatur rata-rata. Di rangkaian pengendali temperatur rata-rata pada sampel dan referensi diukur, di rata-rata dan output panasnya dari rata-rata heater secara otomatis diadjust sehingga rata-rata temperatur sampel dan referensi naik secara linier. Sedangkan pengendali temperatur differential berguna sebagai rangkaian kendali yang memantau perbedaan temperatur antara sampel dan referensi dan secara otomatis akan meng-adjust power baik tabung referensi maupun sampel untuk mempertahankan agar temperatur yang sama. Hasil termogram akan menunjukkan sumbu-X sebagai temperatur sampel dan perbedaan power supply, sedangkan sumbu-Y adalah perbedaan dua heater.

Gambar 10. Gambaran ideal tiga proses yang dapat diamati pada DSC

Ketika H positif (reaksi endotermik), alat pemanas sampel berenergi dan sinyal positif akan teramati sedangkan ketika H negatif alat pemanas referensi berenergi dan sinyal negatif teramati. Daerah puncak DSC sebanding dengan

jumlah sampel. Reaksi panasnya hampir sama dengan DTA, dapat dilihat sebagai berikut : Peak area (A) = HmK dimana m = massa sampel dan k = faktor kalibrasi.

Akan tetapi pada power compensation DSC dapat secara langsung diketahui H tanpa membandingkan dengan kalibrasi yaitu dengan membandingkan H sampel dengan H referensi secara langsung.

DSC juga sensitif terhadap kapasitas panas dimana program Komputer akan mengendalikan aliran panas pada sampel sebanding dengan kapasitas panasnya. Kapasitas panas dapat dideteksi dengan perubahan garis dasar dengan perhitungan sebagai berikut :

3. Hyper disk DSC

Merupakan tipe power kompensasi DSC terbaru dengan resolusi yang tinggi. Memiliki sensitifitas yang tinggi dan memiliki kecepatan panas 500 K/menit.