Anda di halaman 1dari 34

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sekitar akhir abad XIX, ketika mulai dipergunakan bahan pangan murni dalam percobaan-percobaan binatang, disangka bahwa susunan makanan sudah cukup kalau terdiri atas karbohidrat, lemak, protein, dan mineral. Ternyata bahwa dengan susunan makanan demikian, binatang percobaan tidak menunjukkan kesehatan dan pertumbuhan badan yang memuaskan. Di dalam susunan makanan diatas, masih diperlukan zat gizi lain yang pada saat itu masih belum diketahui wujudnya. Dalam penelitian penyakit beri-beri di antara para tahanan dan hukuman di Indonesia pada permulaan abad XX, Eijkman dan rekan-rekannya menemukan adanya zat yang diperlukan ini, yang kemudian diberi nama Vitamine oleh Vladimir Funk, karena disangka suatu ikatan organik amine, oleh adanya unsur N dan telah dikenalnya asam amino pada saat itu. Zat vitamin ini diperlukan untuk kehidupan , sehingga diberi nama vitamine. Kemudian ternyata bahwa zat esensial ini bukan suatu amine dan tidak selamanya mengandung undur nitrogen. Karena itu nama vitamine banyak yang menentangnya, sehingga diubah menjadi Vitamin, dengan dibuang huruf e-nya. Mengganti sama sekali dengan nama lain agak sulit, karena nama itu telah memasyarakat di kalangan para ilmuwan. Definisi vitamin ini mula-mula dianggap mudah, dan diformulasikan sebagai suatu zat gizi yang diperlukan tubuh dalam jumlah-jumlah kecil dan harus didatangkan dari luar, karena tidak dapat disintesis dalam tubuh. Dalam definisi ini tersirat: 1) diperlukan tubuh dalam jumlah-jumlah kecil, 2) harus datang dari luar tubuh, karena tidak dapat disintesis di dalam tubuh sendiri. Dengan semakin mendalamnya pengetahuan tentang vitamin, terdapat hal-hal yang tidak sepenuhnya sesuai dengan definisi seperti tersebut diatas. Pernyataan jumlah sedikit, ternyata sangat relatif, karena ada vitamin yang diperlukan hanya dalam jumlah mikrogram dan ada pula yang dalam jumlah milligram. Juga tentang tidak dapat disintesis di dalam tubuh, ternyata tidak selalu benar. Ada beberapa vitamin yang dapat dibuat didalam tubuh, dari zat pendahulu yang disebut prekursor atau provitamin. Kesanggupan berbagai spesies binatang untuk mensintesis vitamin juga berbeda-beda.

B. Tujuan
1

1. Memahami definisi vitamin 2. Memahami fungsi vitamin 3. Mengenal berbagai macam vitamin berdasarkan pengklasifikasiannya 4. Memahami dampak kekurangan dan kelebihan vitamin

BAB II KAJIAN PUSTAKA


2

A. Definisi Vitamin
Vitamin adalah zat-zat organik kompleks yang dibutuhkan dalam jumlah sangat kecil dan pada umumnya tidak dapat dibentuk oleh tubuh. Oleh karena itu, harus didatangkan dari makanan. Vitamin termasuk kelompok zat pengatur pertumbuhan dan pemeliharaan kehidupan. Tiap vitamin mempunyai tugas spesifik di dalam tubuh. Karena vitamin adalah zat organik maka vitamin dapat rusak karena penyimpanan dan pengolahan.

B. Sejarah
Menurut Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (2007), istilah vitamin pertama kali digunakan Cashimir Funk (Polandia) tahun 1912. Penemuan zat dalam dedak beras dapat menyembuhkan beri-beri. Zat tersebut dibutuhkan oleh tubuh untuk hidup vitadan mengandung unsur N (amine), sehingga diberi istilah vitamin. Pemberian nama vitamin dilakukan menurut abjad, yaitu A,B,C,D,E dan K. Vitamin merupakan zat organic yang umumnya tidak dapat dibentuk dalam tubuh. Vitamin berperan sebagai katalisator organik, mengatur proses metabolism dan fungsi normal tubuh. Di tubuh vitamin mempunyai peran utama sebagai zat pengatur dan pembangun bersama zat gizi lain melalui pembentukan enzim, anti bodi, dan hormon. Masing-masing vitamin mempunyai peranan khusus yang tidak dapat digantikan oleh vitamin atau zat gizi lain. Oleh karena itu, meskipun dibutuhkan dalam jumlah sedikit dalam satuan milligram atau mikrogram, jumlah kecil itu sangat penting. Sampai saat ini terdapat kurang lebih 13 macam vitamin yang dibutuhkan tubuh agar hidup sehat. Secara umum berdasar sifat kelarutannya vitamin dikelompokkanmenjadi dua. Pertama,vitamin larut lemak atau minyak, yaitu vitamin A (retinol), vitamin D (kalsiferol), vitamin E (tokoferol), dan vitamin K (anti dikumrol atau menadion). Kedua, vitamin yang larut dalam air, yaitu vitamin C, vitamin B1 (thiamin), vitamin B2 (riboflavin), vitamin B6 (pridoksin), vitamin B12 (sianokobalamin), niasin, asam folat, asam pantotenat, dan vitamin H (biotin).

C. Nomenclatur
Vitamin diberi nama menurut abjad (A,B,C,D,E, dan K). Vitamin B ternyata terdiri dari beberapa unsur vitamin. Penelitian-penelitian kemudian membedakan vitamin dalam dua kelompok: 1) vitamin larut dalam lemak (vitamin A,D,E,K) dan 2) vitamin larut dalam air (vitamin B kompleks dan C).

D. Fungsi vitamin
Vitamin berperan dalam beberapa tahapan reaksi metabolisme energi, pertumbuhan, dan pemeliharaan tubuh, pada umumnya sebagai koenzim terdapat dalam bentuk apoenzim, yaitu vitamin yang terikat dengan protein. Hingga sekarang fungsi biokimia beberapa jenis vitamin belum diketahui dengan pasti.

E. Vitamin dalam Makanan


Kontribusi suatu jenis makanan terhadap kandungan vitamin makanan sehari-hari bergantung pada jumlah vitamin yang semula terdapat dalam makanan tersebut, jumlah yang rusak pada saat panen atau penyembelihan, penyimpanan, pemrosesan dan pemasakan. Pada saat panen dan peyimpanan sejumlah vitamin akan hilang, bergantung pada suhu, penyingkapan terhadap udara dan matahari, serta lama penyimpanan. Semakin tinggi suhu, semakin lama tersingkap terhadap terhadap udara dan matahari., semkain lama disimpan akan semakin banyak vitamin yang hilang. Pada tahap pemrosesan dan pemasakan banyak vitamin hilang bila menggunakan suhu tinggi, air perebus dibuang, permukaan makanan bersentuhan dengan udara dan menggunakan alkali. Vitamin yang terpengaruh dalam hal ini adalah yang rusak oleh panas, oksidasi atau yang larut dalam air. Kehilangan vitamin dalam pemasakan dapat dicegah dengan cara: 1) menggunakan suhu tidak terlalu tinggi; 2) waktu memasak tidak terlalu lama; 3) menggunakan air pemasak sesedikit mungkin; 4) memotong dengan pisau tajam menjadi potongan tidak terlalu halus; 5) panci pemasak ditutup; 6) tidak menggunakan alkali dalam pemasakan;7) sisa air perebus digunakan untuk masakan lain. Vitamin larut lemak tidak banyak hilang pada proses pemasakan. Kehilangan terjadi karena proses oksidasi dan proses ketengikan. Dalam hal sayuran sebaiknya sebagian dimakan dalam bentuk segar dan mentah.

F. Provitamin dan Antivitamin


Menurut Sediaoetama (1985), pada umumnya vitamin tidak dapat disintesis didalam tubuh, sehingga harus disediakan dari luar, biasanya dengan makanan. Ternyata hal ini tidak mutlak benar. Ada beberapa vitamin yang dapat dibuat di dalam tubuh, dengan mengubahnya dari ikatan organik lain. Ikatan organik yang tidak bersifat, tetapi dapat diubah menjadi vitamin setelah dikonsumsi, disebut provitamin atau prekursor vitamin. Tidak semua vitamin mempunyai prekursor, sehingga tetap tidak dapat disintesa di dalam tubuh. Sampai sekarang yang telah diketahui ada provitaminnya ialah vitamin A, dengan prekursor karotin, vitamin D dengan prekursor 7-dehydro cholesterol, serta niacin dengan prekursor triptophane. Tikus dapat membuat vitamin C dari prekursor glukosa, tetapi marmot, primata dan manusia tidak dapat mengubah glukosa menjadi vitamin C.
4

Sebaliknya ada pula ikatan-ikatan kimia organik yang berpengaruh menentang atau meniadakan kerja suatu vitamin. Zat demikian disebut antivitamin. Sebagian besar vitamin telah diketahui mempunyai antivitamin. Mekanisme kerja suatu antivitamin dapat bermacam-macam: 1) ada yang merebut sisi aktif di dalam enzim disebut hambatan kompetitif, 2) ada yang merusak vitamin ketika masih dalam saluran gastrointestinal, dan 3) ada pula yang bereaksi mengikat vitamin tersebut di dalam rongga usus, sehingga mengendap dan tidak dapat diserap kedalam mukosa dinding usus. Daftar vitamin dan antivitaminnya dapat dilihat pada lampiran (tabel 1).

G. Vitamin Larut Lemak


Setiap vitamin larut lemak A,D,E,K mempunyai peranan tertentu didalam tubuh. Sebagian besar vitamin larut lemak diabsorpsi bersama lipida lain. Absorpsi membutuhkan cairan empedu dan pankreas. Vitamin larut lemak diangkut ke hati melalui sistem limfe sebagai bagian dari lipoprotein, disimpan diberbagai jaringan tubuh dan biasanya tidak dikeluarkan melalui urin. 1. Vitamin A Vitamin A adalah vitamin larut lemak yang pertama ditemukan. Secara luas vitamin A merupakan nama generik yang menyatakan semua retinoid dan prekursor/provitamin A karotenoid yang mempunyai aktivitas biologik sebagai retinol. Diperkirakan pada satu waktu sebanyak tiga juta anak-anak buta karena kekurangan vitamin A pada tingkat lebih ringan. Perbedaan angka kematian antara anak yang kekurangan dan tidak kakurangan vitamin A kurang lebih sebesar 30%. Disamping itu kekurangan vitamin A meningkatkan resiko anak terhadap penyakit infeksi seperti penyakit saluran pernapasan dan diare, meningkatkan angka kematian karena campak, serta menyebabkan keterlambatan pertumbuhan. Untuk mengetahui Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan untuk vitamin A dapat dilihat pada lampiran (tabel 2). Vitamin A berperan dalam berbagai fungsi tubuh, diantaranya: a. Penglihatan Kebutuhan vitamin A untuk penglihatan dapat dirasakan, bila kita dari cahaya terang diluar kemudian memasuki ruangan yang remang-remang cahayanya. Mata membutuhkan waktu untuk dapat melihat. Begitupula bila pada malam hari bertemu dengan mobil yang memasang lampu yang menyilaukan. Kecepatan mata beradaptasi setelah terkena cahaya terang berhubungan langsung dengan vitamin A yang tersedia didalam darah untuk membentuk rodopsin. Tanda pertama kekurangan vitamin A adalah rabun senja. Suplementasi vitamin A dapat memperbaiki penglhatan yang kurang bila itu disebabkan oleh kekurangan vitamin A. b. Diferensiasi sel
5

Dieferensiasi sel terjadi bila sel-sel tubuh mengalami perubahan dalam sifat atau fungsi semulanya. Perubahan fungsi dan sifat sel ini adalah salah satu karakteristik dari kekurangan vitamin A yang dapat terjadi pada tiap tahap perkembangan tubuh, seperti pada tahap pembentukan sperma dan sel telur, pembuahan, pembentukan struktur dan organ tubuh, pertumbuhan dan perkembangan janin, masa bayi, anakanak, dewasa dan masa tua. Diduga vitamin A, dalam bentuk asam retinoat memegang peranan aktif dalam kegiatan inti sel, dengan demikian dalam pengaturan faktor penentu keturunan yang berpengaruh terhadap sintesis protein. Pada diferensiasi sel terjadi perubahan dalam bentuk dan fungsi sel yang dapat dikaitkan dengan perubahan perwujudan gen-gen tertentu. Sel-sel yang paling nyata mengalami diferensiasi adalah sel-sel epitel khusus, terutama sel-sel goblet, yaitu sel kelenjar yang mensisntesis dan mengeluarkan mukus. Kekurangan vitamin A menghalangi fungsi sel-sel kelenjar yang mengeluarkan mukus dan digantikan oleh sel-sel epitel bersisik atau kering. Kulit menjadi kering dan kasar dan luka sukar sembuh. c. Fungsi kekelabalan Dalam kaitan vitamin A dan fungsi kekebalan ditemukan bahwa: 1) ada hubungan kuat antara status vitamin A dan resiko terhadap penyakit infeksi pernapasan. 2) hubungan antara kekurangan vitamin A dan diare belum begitu jelas. 3) kekurangan vitamin A pada campak cenderung menimbulakan komplikasi yang dapat berakibat kematian. d. Pertumbuhan dan perkembangan Vitamin A dibutuhkan untuk perkembangan tulang dan sel epitel yang membentuk email dalam pertumbuhan gigi. Pada kekurangan vitamin A pertumbuhan tulang terhambat dan bentuk tulang tidak normal. e. Reproduksi Vitamin A dalam bentuk retinol dan terinal berperan dalam reproduksi pada tikus. Pembentukan sperma pada hewan jantan serta pembentukan sel telur dan perkembangan janin dalam kandungan membutuhkan vitamin A dalam bentuk retinol. Hewan betina dengan status vitamin rendah mampu hamil akan tetapi mengalami keguguran atau kesukaran dalam melahirkan. Kebutuhan vitamin A selama hamil meningkat untuk kebutuhan janin dan persiapan induk untuk menyusui. f. Kekurangan Defisiensi vitamin A menyebabkan berkurangnya nafsu makan hal ini mungkin karena perubahan pada jonjot rasa pada lida. Vitamin A juga berperan dalam pembentukan sel darah merah kemungkinan melalui interaksi dengan zat besi. Kekurangan vitamin A juga menyebabkan penurunan daya tahan tubuh, kulit kasar,
6

kering dan berjerawat, batu karang (ginjal), rabun malam (senja), penyakit mata, termasuk xerophthalamia, dimana ia boleh menyebabkan buta, (Anonim1, 2011).

g. Kelebihan Gejala pada orang dewasa antara lain sakit kepala, pusing, rasa enek, rambot rontok, kulit mengering, sakit pada tulang. Pada wanita menstruasi berhenti. Pada bayi terjadi pembersaran kepala. h. Sumber Sumber vitamin A adalah hati, kuning telur, susu dan mentega. Sumber karoten adalah sayuran berwarna hijau tua dan buah-buahan yang berwarna kuning jingga seperti daun singkong, daun kacang, kangkung, bayam,dll.

2.

Vitamin D Vitamin D dapat dibentuk tubuh dengan bantuan sinar matahari, bila tubuh mendapat cukup sinar matahari konsumsi vitamin D melalui makanan tidak dibutuhkan karena dapat disintesis di dalam tubuh, vitamin D dapat dikatakan bukan vitamin tapi suatu prohormon. Bila tubuh tidak mendapat cukup sinar matahari, vitaminD perlu dipenuhi melalui makanan. Untuk mengetahui angka kecukupan vitamin D yang dianjurkan dapat dilihat pada lampiran (tabel 3). a. Akibat kekurangan Kekurangan vitamin D menyebabkan kelainan pada tulang yang dinamakan riketsia pada anak-anak dan osteomalasia pada orang dewasa. Kekurangan pada orang dewasa juga dapat menyebabkan osteoporosis. Riketsia terjadi bila pergeseran tulang pada anak-anak terhambat sehingga menjadi lembek. Kaki membengkok, ujung-ujung tulang panjang membesar, tulang rusuk membengkok, pembesaran kepala karena penutupan pontanel terlambat, gigi terlambat keluar, bentuk gigi tidak teratur dan muda rusak.

b. Akibat kelebihan Konsumsi vitamin D dalam jumlah berlebihan mencapai lima kali AKG, yaitu lebih dari 25 mikrogram (1000 SI) sehari, akan menyebabkan keracunan. Gejalanya adalah kelebihan absorpsi vitamin D yang pada akhirnya menyebabkan klasifikasi berlebihan pada tulang dan jaringan tubuh, seperti ginjal, paru-paru, dan organ tubuh lain. Tandatanda khas adalah akibat hiperkalsemia seperti lemah, sakit kepala, kurang nafsu makan, diare, muntah-muntah, gangguan mental dan pengeluaran urin berlebihan.
8

Bayi yang diberi vitamin D berlebihan, menunjukkan gangguan saluran cerna, rapuh tulang, gangguan pertumbuhan dan kelambatan perkembangan mental. c. Sumber Kolekalsiferol, yaitu kuning telur, hati, krim, mentega, dan minyak hati ikan.

3.

Vitamin E Pada tahun 1922, ditemukan suatu zat larut lemak yang dapat mencegah keguguran dan sterilitas. Semula zat ini dinamakan faktor antisterilitas dan kemudian vitamin E. Vitamin E kemudian pada tahun 1936 dapat diidolasi dari minyak kecambah gandum dan dinamakan tokoferol, berasal dari bahasa Yunani dari kata tokos yang berarti kelainan dan pherein berarti yang menyebabkan. Kekurangan vitamin E pada hewan dapat menimbulkan berbagai sindroma, tetapi angka kecukupan untuk manusia belum dapat dikatakan sudah pasti. a. Fungsi Fungsi vitamin E adalah sebagai anti oksidan yang larut dalam lemak dan mudah memberikan hidrogen dari gugus hidroxil (OH) pada struktur cincin ke radikal bebas. Vitamin E berada di dalam lapisan fosfolipida membran sel dan memegang peranan biologik utama dalam melindungi asam lemak tidak jenuh ganda dan komponen membran sel lain dari oksidasi radikal bebas. b. Akibat kekurangan Pada manusia dapat menyebabkan hemolisis eritrosit, yang dapat diperbaiki dengan pemberian tambahan vitamin E. Akibat lain adalah sindroma neurologik sehingga terjadi fungsi tidak normal pada sumsum tulang belakang dan retina. Tanda-tandanya
9

adalah kehilangan koordinasi dan refleks otot, serta gangguan penglihatan dan berbicara. c. Akibat kelebihan Menggunakan vitamin E secara berlebihan dapat menimbulkan keracunan. Namun akibatnya tidak terlalu merugikan seperti halnya dengan kelebihan vitamin A. d. Sumber Vitamin E banyak terdapat dalam bahan makanan. Sumber utama vitamin E adalah minyak tumbuh-tumbuhan, terutama minyak kecambah gandum dan biji-bijian. Minyak kelapa dan zaitun hanya sedikit mengandung vitamin E. Sayuran dan buahbuahan juga merupakan sumber vitamin E yang baik. Daging, unggas, ikan, dan kacang-kacangan mengandung vitamin E dalam jumlah terbatas. Vitamin E mudah rusak pada pemanasan jadi sebagai sumber vitamin E diutamakan bahan makanan dalam bentuk segar.

10

11

12

13

14

15

4.

Vitamin K Pada tahun 1935, dan dari denmark menemukan penyakit perdarahan parah pada ayam. Percobaan yang diberi makanan cukup dalam zat gizi yang telah diketahui. Perbaikan terjadi setelah diberi makanan alfalfa atau tepung ikan yang telah busuk. Faktor aktif yang dapat menyembuhkan itu dinamakan vitamin koagulation. Dengan bantuan Carrer, seorang ahli kimia dari Swiss, pada tahun 1939 ia berhasil mengisolasi vitamin larut lemak yang dinamakan vitamin K (dari koagulation). Untuk mengetahui angka kecukupan vitamin K yang dianjurkan dapat dilihat pada lampiran (tabel 4). a. Fungsi Berfungsi dalam pembekuan darah, walaupun mekanismenya belum diketahui dengan pasti. Baru sejak tahun 1970-an para ahli mengetahui secara lebih jelas peranan vitamin K didalam tubuh, ternyata tidak hanya dalam pembekuan darah saja. b. Kekurangan Kekurangan vitamin K menyebabkan darah tidak dapat menggumpal, sehingga bila ada luka atau pada operasi terjadi perdarahan. Kekurangan vitamin K karena makanan jarang terjadi sebab vitamin K terdapat secara luas dalam makanan. Kekurangan vitamin K terjadi bila ada gangguan absorpsi lemak. Kekurangan vitamin K bisa juga terjadi bila seseorang mendapat antibiotika sedangkan tubuhnya kurang mendapatkan vitamin K dari makanan. c. Kelebihan Kelebihan vitamin K hanya bisa terjadi bila vitamin K diberikan dalam bentuk berlebihan berupa vitamin K sintetik menadion. Geajala kelebihan vitamin K adalah hemolisis sel darah merah, sakit kuning dan kerusakan pada otak. d. Sumber
16

Hati, sayuran, daun berwarna hijau, kacang buncis, kacang polong, kol, dan brokoli. Semakin hijau daun-daunan semakin tinggi kandungan vitamin K nya. Bahan makanan lain yang mengandung vitamin K adalah susu, daging, telur, serealia, buahbuahan dan sayuran. Sumber vitamin K lain adalah florabakteri dalam usus halus (jejunum dan ileum).

H. Vitamin Larut Air


Sebagian besar vitamin larut air merupakan komponen sistem enzim yang banyak terlibat dalam membantu metabolisme energi. Vitamin larut air biasanya tidak disimpan didalam tubuh dan dikeluarkan melalui urin dalam jumlah kecil. Oleh sebab itu vitamin larut air perlu dikonsumsi tiap hari untuk mencegah kekurangan yang dapat mengganggu fungsi tubuh normal. Vitamin larut air dikelompokkan menjadi vitamin C dan vitamin B-kompleks. 1. Vitamin C (Asam Askorbat) a. Sifat-sifat Dapat disintesia dari glukosa tubuh pada beberapa spesies, mudah larut dalam air, mudah rusak bila dipanaskan dalam larutan basa, (Lestiani 2011). b. Fungsi Asam askorbat bahan yang kuat kemampuan reduksinya dan bertindak sebagai anti oksidan dalam reaksi-reaksi hidroksilasi. Beberapa turunan vitamin C (seperti asam eritrobik dan askorbit palmitat) digunakan sebagai antioksidan didalam industri pangan untuk mencegah proses menjadi tengik, perubahan warna pada buah-buahan. Vitamin C larut dalam air, vitamin antioksidan. Hal ini penting dalam membentuk kolagen, suatu protein yang memberikan struktur pada tulang, tulang rawan, otot, dan pembuluh darah. Vitamin C juga membantu dalam penyerapan zat besi, dan membantu menjaga kapiler, tulang, dan gigi (Anonim2, 2011). Untuk mengetahui angka kecukupan vitamin C yang dianjurkan Fungsi vitamin C dalam tubuh adalah sebagai koenzim atau kofaktor dapat dilihat pada lampiran (tabel 5). c. Kekurangan
17

Tanda-tanda awal kekurangan vitamin C antara lain, lelah, lemah, napas pendek, kejang otot, tulang otot dan persendian sakit serta kurang nafsu makan, kulit menjadi kering, kasar dan gatal, warna merah kebiruan dibawah kulit, perdarahan gusi, kedudukan gigi menjadi longgar, mulut dan mata kering dan rambut rontok. Disamping itu luka sukar sembuh, terjadi anemia, kadang-kadang jumlah sel darah putih menurun, serta depresi dan timbul gangguan saraf.

d. Kelebihan Kelebihan vitamin C berasal dari makanan tidak menimbulkan gejala. Tetapi konsumsi vitamin C berupa suplemen secara berlebihan setiap hari dapat menimbulkan hiperoksaluria dan resiko lebih tinggi terhadap batu ginjal. Dengan konsumsi 5-10 gram vitamin C baru sedikit asam askorbat dikelurkan melalui urin. Risiko baru oksalat dengan suplemen vitamin C dosis tinggi dengan demikian rendah, tetapi hal ini dapat menjdai berarti pada seseorang yang mempunyai kecenderungan untuk pembentukan batu ginjal.

e. Sumber Vitamin C pada umumnya hanya terdapat di dalam pangan nabati, yaitu sayur dan buah terutama yang asam, seperti jeruk, nenas, rambutan, papaya, gandaria dan tomat, vitamin juga terdapat di dalam sayuran daun-daunan dan jenis kol.

18

2. Vitamin B Kompleks a. Tiamin (B1) 1) Sifat Kimia dan Fisika Berupa kristal putih dan larut air, senyawa mengandung C,H,O,S dan N, mudah dioksidasi, rusak oleh pemanasan/basa, stabil pada suasana asam dan kering, tak ditemukan dalam jaringan dalam jumlah yang banyak, (Lestiani, 2011). 2) Fungsi Dalam bentuk pirofosfat (TPP) atau disfosfat (TDP), vitamin berfungsi sebagai koenzim berbagai reaksi metabolism energy. Tiamin dibutuhkan untuk dekarboksilasi oksidatif piruvat menjadi asetil KoA dan memungkinkan masuknya substrat yang dapat dioksidasi kedalam siklus krebs untuk pembentukan energy. Asetil KoA yang dihasilkan enzimini disamping itu merupakan prekusor penting lipida asetil kolin, yang berarti adanya peranan TPP dalam fungsi normal sistem saraf. Didalam siklus krebs, TPP merupakan kofaktor pada dekarboksilasi oksidatif alfa-ketoglutarat menjdi suksinil-KoA. TPP juga dibutuhkan untuk dikarboksilasi alf keto seperti asam alfa-ketoglutarat dan 2-keto-karboksilat yang diperoleh dari asam-asam amino metionin, teronin, leusin, isoleusin, dan valin. Tiamin juga merupakan koenzim reaksi transketolase yang berfungsi dalam pentose-fosfat shunt, jalur alternative oksidasimglukosa. Walaupun tiamin dibutuhkan dalam metabolism lemak, protein dan asam nukleat, peran utamanya adalah merangsang metabolism karbohidrat. Untuk mengetahui angka kecukupan tiamin yang dianjurkan dapat dilihat pada lampiran (tabel 6).

3) Kekurangan Kekurangan tiamin dapat terjadi karena kurangnya konsumsi (biasanya disertai kurang konsumsi energy), gangguan absorbs, ketidakmampuan tubuh menggunakan tiamin, ataupun karena meninggkatnya kebutuhan misalnya karena kebutuhan energy yang meningkat. Kekurangn tiamin terlihat pada masyarakat miskin yang menderita gangguan gizi, pada penykit kronis dan anoreksia (kurang nafsu makan), kecanduan alkohol kronis, dan gangguan absorbs. Gejala klinik kekurangan tiamin terutama menyangkut sistem saraf dan jantung yang dalam keadaan berat dinmakan beri-beri basah dan beri-beri kering. Beri-beri basah ditandai dengan sesak nafas dan edema setelah mengalami rasa lelah yang berkepanjangan. Tanda-tanda ini menunjukkan kegagalan jantung. Beri-beri kering ditandai dengan kelemahn otot
19

luar biasa dan degenerasi saraf perifer yang dapat berlanjut dengan kelumpuhan kaki. Tanpa TPP, piruvat dapat memasuki siklus krebs dan kekurangan energy otot jantung akan menyebabkan kegagalan ginjal. Beri-beri dapat disembuhkan dengan pemberian tiamin bila kerusakan belum terlalu parah. Gejala awal adalah nafsu makan berkurang, gangguan pencernaan, sukar kebelakang, lelah, rasa semutan, berdebar-debar dan reflex berkurang. di Indonesia tidak ada masalah kekurangan tiamin yang nyata.

4) Sumber Sumber utama tiamin didalam makanan adalah serealia tumbuk setengah giling atau yang difortifikasi dengan tiamin dan hasilnya. Di Indonesia serelia yang dimakan sebagai makanan pokokn adalah beras. Sumber tiamin lain adalah kacang-kacangan, termasuk sayur, semua daging organ, daging tanpa lemak dan kuning telur. Unggas dan ikan juga merupakan sumber tiamin yang baik. Tiamin di dalam serelia utuh terdapat di dalam sekam (lapisan aleuron) dan benihnya. Roti dibuat dari gandum utuh kaya akan tiamin.

20

b. Vitamin B2 (Riboflavin) 1) Sifat-sifat Kristal kuning kehijauan berbentuk runcing, larut air, tahan panas, tak tahan sinar matahari, stabil dalam lingkungan asam, tak mudah dioksidasi, (Lestiani, 2011). 2) Fungsi Riboflavin mengikat asam fosfat dan menjadi bagian dari dua jenis koenzim FMN dan FAD. Kedua koenzim ini berperan dalam reaksi oksidasi reduksi dalam sel sebagai pembawa hydrogen dalam sistem transport elektron dalam motokondria. Keduanya juga merupakan koenzim dehidrogenase yang mengkatalisis langkah pertama dalam oksidasi berbagai tahap metabolism glukosa dan asam lemak. FMN digunakan untuk mengubah piridoksin (vitamin B6) menjdai koenzim fungsionalnya, sedangkan FAD berperan dalam perubahan triptofan menjadi niasin. Enzim yang mengkatalisis fosforilasi ribovlafin menjadi bentuk koenzim adalah flavokinase. Oleh karena koenzim ini diperlukan untuk sintesis DNA, ribovlafin mempunyai pengaruh tidak langsung terhadap pertumbuhan. Enzi mini diatur oleh hormone tiroksin. Orang dewasa yang menderita kekurangan tiroksin menunjukkan kekurangan ribovlafin. Untuk mengetahui angka kecukupan riboflavin yang dianjurkan dapat dilihat pada lampiran (tabel 7). 3) Kelebihan Belum diketahui tanda-tanda kelebihan ribovlafin. 4) Kekurangan Kekurangn ribovlafin bisa terjadisecara bersamaan dengan kekurangan vitamin larut air lain. Tanda-tanda kekurangan bisa terjadi sebagai akibat kekurangan zat gizi lain, atau setelah beberapa waktu kurang makan protein hewani dan sayuran berwarna hijau. Tanda kekurangan baru akan terlihat setelah beberapa bulan kekurangan konsumsi ribovlafin. Tanda-tanda awal nkekurangan ribovlafin antara lain mata pans dan gatal, tidak tertahan cahaya, kehilangan ketajaman mata, bibir, mulut serta lidah sakit dan panas. Gejala-gejala iniberkembang menjadi cheilosis (bibr meraadang), stomatitis angular (susdut mulut pecah), glossitis (lidah licin dan berwarna keunguan) dan pembesaran kapiler darah disekeliling kornea mata. disamping itu dapat pula dapat mengakibatkan bayi lahir sumbing dan gangguan pertumbuhan. 5) Sumber Ribovlafin terdapat luas di dalam makanan hewani dan nabati, yaitu di dalam susu, keju, hati, daging dan sayuran berwarna hijau. Penggunaan serelia tumbuk atau hasil-hasil serelia yang diperkaya akan meningkatkan konsumsi ribovlafin.

21

22

23

24

25

26

c. Vitamin B6 ( Piridoksin, Piridoksal, Piridoksamin) 1) Sifat-sifat Tahan panas > 200o C, rusak pada lingkungan basa dan terpaan sinar UV, (Lestiani, 2011). 2) Fungsi Vitamin B6 berperan dalam bentuk fosforilasi PLP dan PMP sebagai koenzim terutama dalam transaminasi, dekarboksilasi, dan reaksi lain yang berkaitan dengan metabolisme protein. Dekarboksilasi yang bergantung pada PLP menghasilkan bebagai bentuk amin seperti epinerfrin, norepinefrin dan serotonin. PLP juga berperan dalam pembentukan asam alfa-aminolevulinat, yaitu precursor hem dalam hemoglobin. Di samping itu, PLP diperlukan untuk perubahan triptofan menjadi niasin. Sebagi koenzim untuk fosforilase, PLP membantu pelepasan glikogen dari hati dan otot sebagai glukosa-1-fosfat. PLP juga terlibat dalam perubahan asam linoleat menjadi asam arakidonat yang mempunyai fungsi biologic penting,. Pembentukan sfingolipida yang diperlukan dalam pembentukan lapisan myelin yang menyarungi sel-sel saraf juga memerlukan PLP. PLP mengtur sintesis pengantar saraf asam gama-amino butirat (Gamma-Amino-Butiric Acid?GABA). Piridoksin
27

berada dalam otak dalam konsentrasi tinggi walaupun pada taraf plasma rendah. Kelainan otak seperti demensia mungkin disebabkan oleh kurangnya pengambilan vitamin0vitamin tertentu terutama vitamin B6 oleh otak. Untuk mengetahui angka kecukupan piridoksin yang dianjurkan dapat dilihat pada lampiran (tabel 8). 3) Kelebihan Konsumsi vitamin B6 dalam jumlah berlebihan selama berbulan-bulan akan menyebabkan kerusakan saraf yang tidak dapat diperbaiki, dimulai dengan semutan pada kaki, kemudian mati rasa pada tangan dan akhirnya tidak mampu bekerja. Gejala kelebihan vitamin B6 ini sudah dapat dilihat pada konsumsi sebanyak 25 miligram sehari. Hal ini perlu diperhatikan bila menggunakan suplemen vitamin B6 dalam jumlah berlebihan. 4) Kekurangan Kekurangn vitamin B6 jarang terjadi dan bila terjadi, secara bersamaan dengan kekurangan beberapa jenis vitamin B-kompleks lain. Kekurangan bisa terjadi karena obat-obatan tertentu, kecanduan alkohol, kelainan kolingenital, penyakit kronik tertentu dan gangguan absorbsi. Kekurangan vitamin B6 dapat menyertai kecanduan alkohol karena alkohol dan penyakit hati yang disebabkan alkohol dapat menggangu metabolism vitamin B6. Vitamin B6 menimbulkan gejala-gejala yang berkaitan dengan gangguan metabolisme protein seperti lemah, mudah tersinggungdan sukar tidur. kekurangan lebih lanjut menyebabkan gangguan pertumbuhan, gangguan fungsi motorik dan kejang-kejang, anemia, penurunan pembentukan antibody, peradangan lidah, serta luka pada bibir, sudut-sudut mulut dan kulit. Kekurangan vitamin B6 berat dapat menimbulkan kerusakan pada sistem sarfa pusat. Obatobatan tertentu menggangu metabolisme vitamin B6. Isoniazida 9Asam Iso Nikotenat Hidroksida?INH) Yang dipakai untuk pengobatan penykit paru-paru merupaan antagonis vitamin B6 karena membentuk kompleks dengan PLP yang tidak aktif. Pasien akan menderita neuritis peripheral dan gejala kekurangan vitamin B6 lain. Penisillamin, yang digunakan dalam arthritis rheumatoid juga merupakan antagonis vitamin B6. Ibu-ibu yang memakan obat-obat kontraseptif mengalami gangguan metabolism triftofan yang dapat menyebabkan kekurangan vitamin B6. 5) Sumber Vitamin B6 paling banyak terdapat di dalam khamir, kecambah gandum, hati, ginjal, serelia tumbuk, kacang-kacangan, kentang dan pisang. Susu telur, sayur dan buah mengandung sedikit vitamin B6. Vitamin B6 di dalam hewani lebih muda diabsorbsi daripada yang terdapat di dalam bahan makanan nabati.

28

d. Vitamin B12 (Kobalamin) 1) Sifat-sifat Merupakan senyawa kompleks, kristal warna merah tua, kelarutan B12 dalam air denganopH 4-7 pada suhu kamar, diproduksi oleh hasil fermentasi oleh bakteri dan streptomycetes, (Lestiani, 2011). 2) Fungsi Vitamin B12 diperlukan untuk mengubah folat menjadi bentuk aktif, dan dalam fungsi normal metabolism semua sel, terutama sel-sel saluran cerna, sum-sum tulang, dan jaringan saraf. Vitamin B12 merupakan kofaktor dua jenis enzim pada manusia yaitu metionin sintetase dan metilmalonil-KoA mutase. Reaksi metionin sintetase melibatkan asam folat. Gugus metil 5-metil tetrahidrofolat (5-metil-H4 folat) dipindahkan ke kobalamin untuk membentuk metilkobalamin yang kemudian memberikan gugus metil ke homosistein. Produk akhir adalah metionin, kobalamin H4 folat, yang dibutuhkan dalam pembentukan poliglutamil folat dan 5,10-metil-H4 folat, yang merupakan kofaktor timidilat sintetase dan akhirnya untuk sintesis DNA. Terjadinya anemia megaloblastik pada kekurangan vitamin B12 dan folat terletak pada peranan vitamin B12 dalam reaksi yang dipengaruhi oleh metionin sintetase ini. Reaksi metilmalonil-KoA mutase terjadi dalam mitokondria ssel dan mengguanakn deoksiadenosilkobalamin sebagai kofaktor. Reaksi ini mengubah metilmalonil-KoA menjadi suksinil-KoA. Reaksi-reaksi ini diperlukan untuk degradasi asam propinoat dan asam lemak rantai ganjil terutama dalam sistem saraf. Diduga gangguan saraf pada kekurangan vitamin B12 disebabkan oleh gangguan aktivitas enzim ini. Untuk mengetahui angka kecukupan vitamin B12 yang dianjurkan dapat dilihat pada lampiran (tabel 9). 3) Kelebihan Tidak diketahui adanya gangguan karena kelebihan vitamin B12. Dosis hingga 1000 ug tidak menampakkan bahaya, tetapi tidak menunjukkan kegunaan. Penganut

29

vegetarisme dianjurkan memakan suplemen multivitamin yang mengandung vitamin B12. 4) Kekurangan Kekurangan vitamin B12 jarang sekali terjadi karena kekurangan dalam makanan, akan tetapi sebagian besar sebagai akibat penyakit saluran cerna atau pada gangguan absorbs dan transportasi. Karena vitamin B12 dibutuhkan untuk mengubah folat menjadi bentuk aktifnya, salah satu gejala kekurangan vitamin B12 adalah anemia karena kekurangan folat. Anemia pernisiosa terjadi pada atrofi/lisutnya lambung yang menyebabkan berkurangnya sekresi faktor intrinsic. Separuh dari kejadian ini bersifat keturunan dan selebihnya karena proses menua (usia sesudah 40 tahun) dengan meninggkatnya proses atrofi jaringan tubuh. Kekurangan vitamin B12 menimbulkan dua jenis sindroma. Gangguan sintesis DNA menyebabkan gangguan perkembangbiakkan sel-sel, terutama sel-sel yang cepat membelah. Sel-sel membesar (megaloblastosis), terutama precursor sel-sel mdarah merah dalam sumsum tulang,lastik, glositisi, serta gangguan saluran cerna berupa gangguan absorbs dan rasa lemah. Sindroma kedua berupa gangguan saraf yang menunjukkan degenerasi notak, saraf mata, saraf tulang belakang dan saraf perifer. Tandatandanya adalah mati rasa, semutan, kaki terasa panas, kaku dan rasa lemah pada kaki. Kekurangan vitamin B12lebih banyak terjadi pada orang tua karena makan yang tidak diatur. 5) Sumber Sumber vitamin B12 alami diperoleh sebagai hasil sintesis bakteri, fungi atau ganggang. Sumber utama vitamin B12 adalah makanan protein hewani yang memperolehnya dari hasil sintesis bakteri di dalam usus, seperti hati, ginjal, disusul oleh susu, telur, ikan, keju dan daging. Vitamin B12 dalam sayuran ada bila terjadi pembusukksan atau pada sintesis bakteri. Vitamin B12 yang terjadi melalui sintesis bakteri pada manusia tidak diabsorbsi karena sintesis terjadi di dalam kolon. Bentuk vitamin B12 dalam makanan terutama sebagai 5-deoksiadenosil dan hidroksikobalamin, sedikit sebagai metilkobalamin dan sedikit sekali sebagai sianokobalamin.

30

e. Niacin (Asam nicotinat/B3) 1) Sifat-sifat Berupa bubuk warna putih yang larut air, serta tahan panas dan asam, (Lestiani, 2011). 2) Fungsi Bentuk aktif vitamin ini ialah Niacinamide, yang merupakan komponen dari koenzim. Koenzim tersebut berperan didalam proses mentransfer atom hidrogen di dalam reaksi-reaksi yang menghasilkan energi. Reaksi kimia ini berhubungan dengan integritas jaringan, terutama bagi kulit, saluran pencernaan dan susunan saraf. Meskipun niasin terdapat merata di dalam berbagai jenis sel jaringan di dalam tubuh, tidaklah terdapat timbunan niacin yang cukup berarti. Niacin dan prekursornya larut dalam air, sehingga mudah diserap ke dalam mukosa dinding usus dan dialirkan lebih lanjut kehati melalui vena porta. Untuk mengetahui angka kecukupan niasin yang dianjurkan dapat dilihat pada lampiran (tabel 10). 3) Kekurangan Defisiensi niacin memberi gejala-gelaja dengan gambaran klinik penyakit yang disebut pellagra, yang berarti kulit kasar. Gejala-gejala disimpulkan dalam formula 3-D, yaitu Dermatitis, Diarhoea dan Dementia, sering juga ditambah 4-D yaitu Death. 4) Sumber Bahan pangan yang merupakan sumber niacin yang baik ialah daging, kacangkacangan, dan biji-bijian, (Sediaoetama, 1985).

31

f. Biotin 1) Sifat-sifat Larut dalam air, tahan panas, tak tahan asam atau basa, (Lestiani 2011). 2) Fungsi Merupakan komponen suatu ko-enzim yang terikat langsung pada asam amino terminal L-Lysine dari apoenzim. Enzim ini berperan dalam fiksasi CO2. 3) Kekurangan Defisiensi biotin dapat menyebakan rambut rontok, dermatitis, mata memperlihatkan blepharitis.

4) Sumber Bahan makanan nabati pada umumnya mengandung lebih banyak biotin dibanding dengan bahan makanan hewani. Hati mengandung biotin kadar tinggi, sedangkan kadarnya di dalam daging rendah saja. Dedak beras dan kacang kedelai merupakan bahan makanan nabati yang cukup kaya akan biotin, (Sediaoetama, 1985).

32

I. Status Gizi Vitamin


Menurut Sediaoetama (1985), masing-masing vitamin dibutuhkan badan dalam jumlah tertentu. Terlalu banyak maupun terlalu sedikit vitamin yang tersedia bagi badan memberikan tingkat kesehatan yang kurang. Bila terlalu banyak vitamin dikonsumsi, akan terjadi gejala-gejala yang merugikan dan kondisi demikian disebut hypervitaminosis. Sebaliknya bila konsumsi vitamin tidak memenuhi kebutuhan akan terjadi pula gejala-gejala yang merugikan. Bila kadar vitamin dalam darah sudah menurun tetapi belum memberikan gejala-gejala klinik yang jelas, disebut kondisi hypovitaminosis, sedangkan bila telah tampak gejala-gejala klinik, disebut avitaminosis. Hypervitaminosis terutama terjadi dengan vitamin-vitamin yang larut lemak. Telah dilaporkan ada kasus hypervitaminosis misalnya untuk vitamin A dan vitamin D. Vitamin yang larut air, sampai sekarang belum pernah dilaporkan memberikan kondisi hypervitaminosis. Vitamin-vitamin yang larut air akan segera diekskresikan dalam urine bila dikonsumsi dalam kwantum berlebihan, sehingga tidak besar kemungkinannya untuk menimbulkan gejala-gejala hyprvitaminosis. Kondisi defisiensi vitamin lebih banyak terdapat, baik pada vitamin yang larut lemak maupun yang larut air. Kondisi defisiensi ringan memberikan hypovitaminosis, sedangkan kondisi defisisensi berat memberikan avitaminosis. Dalam praktek, tidak semua vitamin memberikan kondisi defisiensi, karena selalu tersedia didalam susunan hidangan dalam jumlah mencukupi dan dibutuhkannya dalam jumlah sangat sedikit.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

33

1. Vitamin adalah zat-zat organik kompleks yang dibutuhkan dalam jumlah sangat kecil dan pada umumnya tidak dapat dibentuk oleh tubuh. Oleh karena itu, harus didatangkan dari makanan. 2. Vitamin berperan dalam beberapa tahapan reaksi metabolisme energi, pertumbuhan, dan pemeliharaan tubuh, pada umumnya sebagai koenzim terdapat dalam bentuk apoenzim, yaitu vitamin yang terikat dengan protein. 3. Berdasarkan sifat/kemampuan terlarutnya, maka vitamin dikelompokkan menjadi 2 yakni vitamin larut lemak (Vitamin A,D,E,dan K) dan vitamin larut air (vitamin C dan B kompleks). 4. Dampak kekurangan vitamin diantaranya muncul penyakit riketsia, osteomalasia, sindrome neurologik, gangguan pencernaan dan absorpsi, dll. Sementara dampak kelebihan vitamin diantaranya muncul keracunan, rambut rontok, hidrosefalus, kulit mengering, dll.

B. Saran
Kami berharap makalah ini dapat menjadi salah satu referensi guna menambah wawasan rekan pembaca. Sekiranya rekan pembaca yang budiman tidak merasa puas dengan apa yang telah kami sajikan dalam makalah ini. Sehingga tercipta rasa keingintahuan yang lebih dalam mengenai vitamin dan manfaatnya dalam kesehatan.

34