Anda di halaman 1dari 7

TINJAUAN PUSTAKA

Aspek Hukum Hubungan Antara Dokter Dengan Pasien


Endang Kusuma Astuti Fakultas Hukum UNDARIS Ungaran Peserta Program Doktor Ilmu Hukum UNDIP Semarang

Pendahuluan
Akhir-akhir ini hubungan dokter dengan pasien menjadi sorotan masyarakat. Sebenarnya sorotan masyarakat terhadap profesi dokter merupakan satu pertanda bahwa saat ini sebagian masyarakat belum puas terhadap pelayanan dan pengabdian profesi dokter di masyarakat. Pada umumnya ketidakpuasan para pasien dan keluarga pasien terhadap pelayanan dokter karena harapannya yang tidak dapat dipenuhi oleh para dokter, atau dengan kata lain terdapat kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang didapatkan oleh pasien. Mula-mula profesi dokter dianggap sebagai suatu profesi yang sangat disanjung-sanjung karena kemampuannya untuk mengetahui hal-hal yang tidak tampak dari luar. Bahkan seorang dokter dianggap sebagai rohaniawan yang dapat menyembuhkan pasien dengan doa-doa. Dewasa ini dokter lebih dipandang sebagai ilmuwan yang pengetahuannya sangat diperlukan untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Kedudukan dan peran dokter tetap dihormati, tetapi tidak lagi disertai unsur pemujaan. Dari dokter dituntut suatu kecakapan ilmiah tanpa melupakan segi seni dan artistiknya. Pada dasarnya perubahan hubungan antara dokter dan pasien sejalan pula dengan perkembangan ilmu dan teknologi, baik di bidang hukum maupun kedokteran sendiri, dan juga disebabkan oleh bertumbuhnya kesadaran hukum masyarakat khususnya Indonesia, sebagai salah satu hasil pembangunan.

Pola Hubungan Antara Dokter Dengan Pasien


Hubungan antara dokter dengan pasien telah terjadi DEXA MEDIA, No. 3, Vol. 17, Juli - September 2004

sejak dahulu (jaman Yunani kuno), dokter sebagai seorang yang memberikan pengobatan terhadap orang yang membutuhkannya. Hubungan ini merupakan hubungan yang sangat pribadi karena didasarkan atas kepercayaan dari pasien terhadap dokter. Hubungan yang sangat pribadi itu oleh Wilson1 digambarkaan seperti halnya hubungan antara pendeta dengan jemaah yang sedang mengutarakan perasaannya. Pengakuan pribadi itu sangat penting bagi eksplorasi diri, membutuhkan kondisi yang terlindung dalam ruang konsultasi. Hubungan antara dokter dengan pasien ini berawal dari pola hubungan vertikal yang bertolak dari prinsip father knows best yang melahirkan hubungan yang bersifat paternalistik2 . Dalam hubungan ini kedudukan dokter dengan pasien tidak sederajat3 yaitu kedudukan dokter lebih tinggi daripada pasien karena dokter dianggap mengetahui tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan penyakit dan penyembuhannya. Sedangkan pasien tidak tahu apa-apa tentang hal itu sehingga pasien menyerahkan nasibnya sepenuhnya di tangan dokter. Hubungan hukum timbul bila pasien menghubungi dokter karena ia merasa ada sesuatu yang dirasakannya membahayakan kesehatannya. Keadaan psikobiologisnya memberikan peringatan bahwa ia merasa sakit, dan dalam hal ini dokterlah yang dianggapnya mampu menolongnya, dan memberikan bantuan pertolongan (hulpverlenen). Jadi, kedudukan dokter dianggap lebih tinggi oleh pasien, dan peranannya lebih penting daripada pasien. Sebaliknya, dokter berdasarkan prinsip father knows best dalam hubungan paternaltistik ini akan mengupayakan untuk bertindak sebagai bapak yang baik, yang secara cermat dan hati-hati sesuai dengan pengetahuan dan ketrampilannya yang diperolehnya melalui pendidikan yang sulit dan panjang serta 131

Endang KA: Aspek hukum, hubungan antara dokter dengan pasien

pengalaman yang bertahun-tahun untuk kesembuhan pasien. Dalam mengupayakan kesembuhan pasien ini, dokter dibekali oleh lafal sumpah yang diucapkannya pada awal ia memasuki jabatan sebagai pengobat yang berlandaskan pada norma etik yang mengikatnya berdasarkan pada kepercayaan pasien yang datang padanya itu karena dialah yang dapat menyembuhkan penyakitnya. Hubungan ini melahirkan aspek hukum inspanningsverbintenis4 yang merupakan hubungan hukum antara 2 (dua) subjek hukum (pasien dan dokter) yang melahirkan hak dan kewajiban bagi para pihak yang bersangkutan. Hubungan hukum ini tidak menjanjikan sesuatu (kesembuhan atau kematian), karena objek dari hubungan hukum itu berupa upaya maksimal yang dilakukan secara hati-hati dan penuh ketegangan oleh dokter berdasarkan ilmu pengetahuan dan pengalamannya (menangani penyakit) untuk menyembuhkan pasien. Sikap hatihati dan penuh ketegangan dalam mengupayakan kesembuhan pasien itulah yang dalam kepustakaan disebut sebagai met zorg en inspanning, dan oleh karenanya maka merupakan inspanningsverbintenis, dan bukan sebagaimana halnya suatu risikoverbintenis yang menjanjikan suatu hasil yang pasti. Szasz dan Hollender5 mengemukakan beberapa jenis hubungan antara pasien dan dokter yang masingmasing didasarkan atas suatu prototip hubungan orang tua dan anak, hubungan orang tua dan remaja, hubungan antar orang dewasa. Jenis hubungan tersebut antara lain: 1. Pola Hubungan Aktif Pasif Secara historis hubungan ini sudah dikenal dan merupakan pola klasik sejak profesi kedokteran mulai mengenal kode etik, yaitu sejak zaman Hipocrates 25 abad yang lalu. Secara sosial hubungan ini bukanlah merupakan hubungan yang sempurna, karena hubungan ini berdasar atas kegiatan seorang (dokter) terhadap orang lain (pasien) sedemikian rupa, sehingga pasien itu tidak dapat melakukan fungsi dan peran secara aktif. Dalam keadaan tertentu memang pasien tidak dapat berbuat sesuatu, hanya berlaku sebagai resipien atau penerima belaka, seperti pada waktu pasien diberi anestesi atau narkose atau ketika pasien dalam keadaan tidak sadar/koma, dan pada waktu pasien diberi pertolongan darurat karena mengalami kecelakaan. Semua tindakan kedokteran yang tidak membutuhkan sumbangan peran dari pihak pasien 132

merupakan hubungan aktifpasif. Contoh kasus tersebut sama sekali tidak dibutuhkan sumbangan peran pasien yang dapat mempengaruhi operasi. Sama halnya pada waktu pasien tertimpa kecelakaan, menderita pendarahan berat dan menjadi tidak sadar, sehingga pasien sama sekali tidak mampu berperan dalam hubungan dengan dokter. Pola dasar hubungan aktif-pasif menempatkan dokter pada pihak yang sepenuhnya berkuasa. Menurut Jones 6 dan Marmor hubungan ini memberikan kepada dokter suatu perasaan superior dan menjadikan dokter menguasai seluruh keadaan. Dalam penelitiannya masing-masing ditemukan bahwa para dokter tidak lagi mengidentifikasi pasien sebagai manusia, namun hanya sebagai benda biomedis, yang tidak memiliki kesadaran dan kehendak. Banyak ahli sosiologi lain sependapat bahwa pola dasar hubungan ini paling sesuai dengan keinginan dokter, karena dalam hubungan ini dokter dapat sepenuhnya melaksanakan pengetahuan dan kebijaksanaannya tanpa dihalangi oleh peran serta pasien. Alasannya, karena pasien dalam keadaan tidak sadar (koma), atau mengalami gangguan mental dan keadaannya mengancam hidupnya. Banyak orang beranggapan bahwa peran dokter dalam hubungan aktif-pasif ini sepenuhnya terdorong oleh keinginan menolong orang yang menderita. Namun pada dasarnya hubungan ini merupakan suatu keadaan yang sangat cocok bagi dokter untuk melaksanakan keahlian dan kemampuannya tanpa intervensi pasien. Secara berlebihan Jones menamakan seorang dokter sebagai The God Complex,7 sedangkan Marmor lebih realistis, menyebut masalah ini merupakan risiko sampingan pekerjaan seorang dokter, occupational hazard. Betapa tidak, dengan hanya mengandalkan pengetahuannya sendiri dan tanggung jawab tunggal terhadap pasien, dokter harus menanggung risiko bila tindakannya tidak membawa hasil yang diharapkan. Dalam hubungan ini dokter dapat sepenuhnya menerapkan keahlian berdasarkan pengetahuannya tanpa dihalangi oleh peran pasien, sebab pasien dalam keadaan koma atau tidak sadar. Hal ini semata-mata dilakukan terdorong oleh keinginan untuk menolong orang yang sedang menderita. Bahkan oleh John (seorang ahli sosiologi) dikatakan bahwa dokter adalah the god complex. Namun DEXA MEDIA, No. 3, Vol. 17, Juli - September 2004

Endang KA: Aspek hukum, hubungan antara dokter dengan pasien

dilihat dari segi tanggung jawabnya, dokter dapat dikatakan bertanggung jawab tunggal terhadap segala risiko yang mungkin terjadi sebagai akibat dari tindakannya. 2. Pola Hubungan Membimbing dan Bekerjasama Pola dasar ini ditemukan pada sebagian besar hubungan pasien dengan dokter, yakni bila keadaan penyakit pasien tidak terlalu berat. Walaupun pasien sakit, tetapi ia tetap sadar dan memiliki perasaan dan kemauan sendiri. Karena pasien tersebut menderita penyakit dan disertai kecemasan dan berbagai perasaan tidak enak, ia mencari pertolongan pengobatan dan bersedia bekerjasama dengan orang yang mengobatinya. Demikian pula seorang dokter mempunyai pengetahuan kedokteran yang melebihi pengetahuan pasien, tetapi ia tidak semata-mata menjalankan kekuasaan, namun mengharapkan dapat bekerjasama dengan pasien yang diwujudkan dengan menuruti nasehat dokter, melaksanakan diet, melakukan sesuatu atau berpantang melakukan sesuatu. Hubungan tersebut serupa dengan hubungan orang tua dan remaja. Orang tua memberi nasehat dan membimbing, sedangkan anak yang sudah remaja itu akan bekerjasama dan mengikuti nasehat dan bimbingan orang tuanya. Hubungan membimbing dan bekerjasama ini sama pula dengan hubungan pimpinan perusahaan dengan pegawai. Yang satu memberikan bimbingan, yang lain bekerjasama sebagai suatu respon aktif. Yang membedakan kedua pihak dalam hubungan ini ialah adanya kekuasaan yang dimiliki pihak yang satu (pengetahuan kedokteran, kepemimpinan) dan kemampuan atau kemauan yang dimiliki pihak lain untuk menuruti (nasehat, bimbingan). Pihak yang lebih mempunyai kekuasaan akan menjalankan peran sebagai pimpinan, penasehat, pembimbing, sedangkan pihak yang kurang memiliki kekuasaan berperan sebagai pelaksana atas dorongan kehendak dan kemauannya sendiri. Dalam hubungan membimbing dan kerjasama, dokter berperan memberikan nasehat dan bimbingan kepada pasien dan peran pasien dalam bentuk kerjasama tersebut adalah melaksanakan apa yang diharapkan oleh dokter. Jadi di sini dokter tidak menganggap pasien sebagai benda biomedis belaka, tetapi bahwa pasien itu mempunyai potensi yang dapat diajak untuk bekerjasama dalam upaya DEXA MEDIA, No. 3, Vol. 17, Juli - September 2004

penyembuhan penyakitnya. Pola hubungan membimbing-bekerja sama ini juga ditemukan pada hubungan antara guru dengan muridnya. Guru menginginkan muridnya mencapai kepintaran yang sama dengannya. Oleh karena itu mengajar baginya merupakan suatu peran membimbing. Dalam hal ini guru bekerjasama dengan muridnya, yang juga berkeinginan sepintar gurunya, sama seperti pasien berkeinginan sesehat dokternya. Pada dasarnya pola hubungan membimbingbekerja sama dan pola hubungan saling berperan serta, dalam hubungan dokter dengan pasien baru memasuki ilmu kedokteran setelah berbagai ilmu sosial dan perilaku ikut mempengaruhi ilmu kedokteran, terutama kedokteran masyarakat dan penyuluhan kesehatan, yang semakin mendorong pasien keluar dari peran sebagai objek dan mulai lebih berperan sebagai subjek. 3. Pola Hubungan Saling Berperan Serta Secara filosofis pola ini berdasarkan pada pendapat bahwa semua manusia memiliki hak dan martabat yang sama. Hubungan ini lebih berdasarkan pada struktur sosial yang demokratis. Secara psikologis pola hubungan berperan serta saling tergantung berlandaskan proses identifikasi atau pengenalan yang amat kompleks. Kedua pihak ini harus terbuka satu sama lain dan memandang pihak lawan sebagai diri sendiri, agar bersama-sama dapat mempertahankan hubungan yang serasi dan sederajat. Dalam hubungan ini kedua belah pihak memiliki kekuasaan yang hampir sama dan saling membutuhkan, setidak-tidaknya saling tergantung. Kegiatan bersama itu harus menimbulkan kepuasan bersama. Bila ketiga hal ini terdapat dalam suatu hubungan, berarti hubungan tersebut merupakan hubungan yang berpola saling berperan serta. Pola hubungan ini dapat terjadi antara dokter dengan pasien yang ingin memelihara kesehatannya, yakni pada waktu pemeriksaan medis ( medical chek up ) misalnya, atau dengan pasien berpenyakit menahun (kronis) seperti penyakit gula, penyakit jantung koroner, penyakit artritis dan sebagainya. Dalam hubungan semacam ini, pasien dapat menceritakan pengalamannya sendiri berkaitan dengan penyakitnya, dan dapat membantu dokter secara aktif dalam menetapkan situasi sebenarnya dan memberikan nasehat dan 133

Endang KA: Aspek hukum, hubungan antara dokter dengan pasien

pengobatan yang tepat. Di samping itu hampir seluruh rencana pengobatan terletak di tangan pasien sendiri misalnya: minum obat atau tidak, menjalankan diet atau tidak, berpantang sesuatu atau tidak, memeriksa kembali pada waktu yang ia tentukan sendiri, mengulangi pembelian resep atau tidak dan sebagainya. Pasien secara sadar dan secara aktif berperan dalam pengobatan terhadap dirinya. Secara psikologis pola saling berperan serta ini sudah berkembang sangat tinggi, karena menyangkut pengaturan suatu mekanisme sosial yang melibatkan dua manusia yang bekerja sama dengan menjalankan dua peran yang berbeda. Hubungan ini juga dilakukan oleh pasien yang mempunyai latar belakang pendidikan dan sosial yang cukup tinggi. Hubungan semacam ini tidak dapat diterapkan pada pasien golongan bawah, pasien anak atau pasien dengan gangguan mental. Pola hubungan untuk saling berperan serta dan bekerjasama baru memasuki ilmu kedokteran setelah berbagai ilmu sosial dan perilaku ikut mempengaruhi ilmu kedokteran, terutama pada ilmu kedokteran masyarakat. Dari ketiga pola ini yang terpenting adalah terciptanya rasa puas di antara kedua pihak, baik dari dokter maupun pasiennya. Dokter merasa puas dalam menjalankan perannya dalam penyembuhan penyakit penderita dan pasien merasa puas atas nasehat dan tindakan dari dokter yang merawatnya.

atau karena ia sendiri sedang tidak memerlukan uang. Hanya saja tindakan dokter seperti itu benar-benar melanggar sumpahnya serta tidak sesuai dengan Kode Etik Kedokteran. Yang paling bijak tentunya kalau bukan hanya hukum saja yang dijadikan acuan, tetapi juga sumpah dokter dan etika kedokteran. Oleh sebab itu tidaklah berlebihan jika setiap dokter mau melaksanakan sumpahnya. Sebagai bagian dari profesi juga sudah selayaknya dokter melakukan pekerjaannya sesuai etika kedokteran yang telah diperkuat dengan Peraturan Pemerintah. Jika semua nilai tersebut dijadikan pegangan oleh setiap dokter maka selanjutnya tidak ada seorangpun calon pasien ditolak, baik dalam keadaan emergensi atau tidak, pejabat atau gembel, kaya atau miskin. Jika hubungan kontraktual telah disepakati bersama maka tidak ada satu pihakpun yang boleh memutuskan hubungan secara sepihak di tengah jalan tanpa persetujuan pihak lainnya. Melalui kepercayaan bahwa penyakitnya akan sembuh di tangan dokter, maka pasien dapat diajak bekerjasama untuk menanggulangi penyakitnya.

Perikatan Antara Dokter dengan Pasien


Hubungan hukum antara dokter dengan pasien yang dilaksanakan dengan rasa kepercayaan dari pasien terhadap dokter disebut dengan istilah transaksi terapeutik.9 Dalam transaksi terapeutik ini yang menjadi obyek adalah upaya penyembuhan, hal ini sering disalah tafsirkan oleh masyarakat awam bahwa kesembuhan pasien yang menjadi obyek transaksi terapeutik. Objek transaksi terapeutik adalah upaya dokter bukan kesembuhan pasien, karena jika kesembuhan pasien dijadikan objek maka akan lebih menyudutkan dokter. Perikatan yang timbul dari transaksi terapeutik disebut inspanningsverbintenis, yaitu suatu perikatan yang berdasarkan atas kewajiban berusaha. Di sini dokter harus berusaha dengan segala daya upaya, berdasarkan pengetahuannya untuk menyembuhkan pasien. Hubungan hukum ini tidak menjanjikan sesuatu (kesembuhan atau kematian) yang pasti, karena obyek dari hubungan hukum itu berupa upaya maksimal yang dilakukan secara cermat dan hati-hati oleh dokter berdasarkan ilmu pengetahuan dan pengalamannya (dalam menangani penyakit) untuk menyembuhkan pasien. Sikap cermat dan hati-hati dalam mengupayakan kesembuhan pasien inilah yang dalam kepustakaan disebut sebagai met zorg en inspanning, karena itu DEXA MEDIA, No. 3, Vol. 17, Juli - September 2004

Saat Terjadinya Hubungan Antara Dokter dengan Pasien


Hubungan hukum kontraktual yang terjadi antara pasien dan dokter tidak dimulai dari saat pasien memasuki tempat praktek dokter sebagaimana yang diduga banyak orang, 8 tetapi justru sejak dokter menyatakan kesediaannya yang dinyatakan secara lisan (oral statemen) atau yang tersirat (implied statement) dengan menunjukkan sikap atau tindakan yang menyimpulkan kesediaan; seperti misalnya menerima pendaftaran, memberikan nomor urut, menyediakan serta mencatat rekam medisnya dan sebagainya. Dengan kata lain hubungan terapeutik juga memerlukan kesediaan dokter. Hal ini sesuai dengan asas konsensual dan berkontrak. Dokter boleh menolak calon pasien yang tak sanggup membayar jasa medis sesuai keinginannya 134

Endang KA: Aspek hukum, hubungan antara dokter dengan pasien

inspanningsverbintenis, dan bukan sebagaimana halnya dalam suatu risikoverbintenis yang menjanjikan suatu hasil yang pasti10 . Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa transaksi terapeutik merupakan hubungan antara dokter dengan pasien untuk saling mengikatkan diri dengan itikad baik dan saling mempercayai. Hal ini dapat dihubungkan dengan Pasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yaitu suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Hubungan kontraktual telah disepakati bersama maka tidak ada satupun pihak yang boleh memutuskan hubungan secara sepihak di tengah jalan tanpa persetujuan pihak lainnya. Etika pasien perlu dikembangkan agar kedudukannya menjadi seimbang dan dokter tidak selalu berada pada posisi yang lemah menghadapi berbagai kritikan masyarakat, yang kadang-kadang kritikan tersebut hanya didsarkan pada persepsi yang salah tentang pelaksanaan etika kedokteran serta keinginan masyarakat yang kadangkadang amat berlebihan. Kalau hanya menderita pilek atau flu, barang kali saja tak perlu membangunkan dokter ditengah malam mengingat keluhan tersebut dapat diatasi terlebih dahulu dengan obat-obatan bebas atau kalau terpaksa pintu rumah sakit sengaja dibuka sepanjang malam. Dokter juga manusia biasa yang bisa merasa lelah sesudah seharian bekerja, sehingga perlu memulihkan kondisi fisik dan mentalnya. Bila pasien tidak lagi mempercayai dokter yang sedang merawatnya maka sejak saat itu sebenarnya hubungan terapeutik tidak ada gunanya untuk diteruskan sebab kondisi seperti itu dapat menjadikan pasien tidak lagi kooperatif. Atas dasar pertimbangan itulah maka sudah sepatutnya pemutusan kontrak secara sepihak oleh pasien dapat dibenarkan. Dokter tak perlu merasa kecewa mengingat masalah kepercayaan merupakan masalah yang tak dapat dipaksa-paksakan. Kalau dokter ngotot hal itu justru dapat menjadi bumerang. Meskipun tak terpakai lagi dokter tetap mempunyai kewajiban moral untuk mengingatkan pasien akan pentingnya meneruskan pengobatan ke dokter atau rumah sakit lain serta memberikan catatan medis yang penting-penting bagi pasien. Catatan ini penting bagi dokter pengganti untuk menghindari pemeriksaan ulang yang memerlukan waktu dan biaya mahal serta menghindari pengulangan pemberian obat-obatan DEXA MEDIA, No. 3, Vol. 17, Juli - September 2004

yang tidak efektif atau yang dapat menimbulkan reaksi anafilaksi.

Syarat Sahnya Hubungan Hukum Antara Dokter Dengan Pasien


Syarat sahnya hubungan hukum antara dokter dengan pasien adalah berdasarkan Pasal 1320 Kitab UndangUndang Hukum Perdata yang menyatakan bahwa untuk syarat sahnya perjanjian diperlukan 4 (empat) syarat sebagai berikut11 : 1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya Secara yuridis, yang dimaksud adanya kesepakatan adalah tidak adanya kekhilafan, atau paksaan, atau penipuan (Pasal 1321 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata). Sepakat ini dilihat dari rumusan aslinya berbunyi persetujuan (toestemming) dari mereka yang mengikatkan dirinya. Berarti di dalam suatu perjanjian minimal harus ada dua subyek hukum yang dapat menyatakan kehendaknya untuk mengikatkan diri. Sepakat itu terjadi, jika pernyataan kehendak kedua subyek hukum itu saling sepakat, dalam arti kehendak dari pihak yang satu mengisi kehendak yang lainnya secara bertimbal balik. Dengan demikian, agar kehendak itu saling bertemu, maka harus dinyatakan. Adapun cara menyatakan persesuaian kehendak itu, dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik secara tegas maupun diam-diam. Oleh karena itu yang dimaksud dengan sepakat sebenarnya adalah persesuaian pernyataan kehendak. Dengan demikian didasarkan asas konsensualisme, maka untuk terjadinya perjanjian disyaratkan adanya persesuaian pernyataan kehendak dari kedua belah pihak. Saat terjadinya perjanjian bila dikaitkan dengan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata merupakan saat terjadinya kesepakatan antara dokter dengan pasien yaitu pada saat pasien menyatakan keluhannya dan ditanggapi oleh dokter. Di sini antara pasien dengan dokter saling mengikatkan diri pada suatu perjanjian terapeutik yang obyeknya adalah upaya penyembuhan. Bila kesembuhan adalah tujuan utama maka akan mempersulit dokter karena tingkat keparahan penyakit maupun daya tahan tubuh terhadap obat setiap pasien adalah tidak sama. Obat yang sama tidak pasti dapat hasil yang sama pada masing-masing penderita.

135

Endang KA: Aspek hukum, hubungan antara dokter dengan pasien

2. Kecakapan untuk membuat perikatan Secara yuridis, yang dimaksud dengan kecakapan untuk membuat perikatan adalah kewenangan seseorang untuk mengikatkan diri, karena tidak dilarang oleh Undang-undang. Hal ini didasarkan Pasal 1329 dan 1330 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Menurut Pasal 1329 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata bahwa setiap orang adalah cakap untuk membuat perikatan, jika oleh undang-undang tidak dinyatakan tidak cakap. Kemudian, di dalam Pasal 1330 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, disebutkan orang-orang yang dinyatakan tidak cakap yaitu orang yang belum dewasa, mereka yang ditaruh dibawah pengampuan, orang perempuan, dalam hal yang ditetapkan oleh undang-undang dan pada umumnya semua orang kepada siapa undang-undang telah melarang dibuat perjanjian tertentu. Didasarkan kedua pasal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa, kecakapan bertindak merupakan kewenangan yang umum untuk mengikatkan diri, sedangkan kewenangan bertindak merupakan kewenangan yang khusus. Berarti, ketidakwenangan hanya menghalangi seseorang untuk melakukan tindakan hukum tertentu, dan orang yang dinyatakan tidak wenang adalah orang yang secara umum cakap untuk bertindak. Dengan perkataan lain, orang yang tidak cakap untuk bertindak adalah orang yang tidak mempunyai wewenang hukum, karena orang yang wenang hukum adalah orang yang pada umumnya cakap untuk bertindak tetapi pada peristiwa tertentu tidak dapat melaksanakan tindakan hukum dan tidak wenang menutup perjanjian tertentu secara sah. Di dalam transaksi terapeutik, pihak penerima pelayanan medis, terdiri dari orang dewasa yang cakap untuk bertindak, orang dewasa yang tidak cakap untuk bertindak, yang memerlukan persetujuan dari pengampunya, anak yang berada di bawah umum yang memerlukan persetujuan dari orang tuanya atau walinya. Pasal 8 ayat (2) Permenkes Nomor 585/ Men.Kes/Per/IX/1989, yang menyatakan bahwa pasien dewasa sebagaimana dimaksud ayat (1) adalah telah berumur 21 tahun atau telah menikah. 3. Suatu hal tertentu Di dalam Pasal 1333 Kitab Undang-Undang Hukum 136

Perdata disebutkan bahwa suatu perjanjian harus mempunyai sebagai pokok suatu barang yang paling sedikit ditentukan jenisnya ayat (1). Tidaklah menjadi halangan bahwa jumlah barang tidak tentu, asal saja jumlah itu kemudian dapat ditentukan atau dihitung ayat (2). Dari ketentuan tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan suatu hal tertentu adalah obyek dari perjanjian. Kata barang dari obyek perjanjian tersebut di atas merupakan terjemahan kata zaak. Akan tetapi, kata zaak itu dapat berarti urusan. Dengan demikian, yang dimaksud dengan obyeknya harus dapat ditentukan adalah urusan tersebut urusan tersebut harus dapat ditentukan atau dijelaskan. Di dalam Pasal 1337 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata disebutkan bahwa suatu sebab adalah terlarang, apabila dilarang oleh undangundang, atau apabila berlawanan dengan kesusilaan baik atau ketertiban umum. Dihubungkan dengan objek dalam transaksi terapeutik, maka urusan yang dimaksudkan adalah sesuatu yang perlu ditangani, yaitu berupa upaya penyembuhan. Upaya penyembuhan tersebut harus dapat dijelaskan karena dalam pelaksanaannya diperlukan kerjasama yang didasarkan sikap saling percaya antara dokter dengan pasien. oleh karena upaya penyembuhan yang akan dilakukan itu harus dapat ditentukan, maka diperlukan adanya standar pelayanan medis. Ketentuan mengenai obyek perjanjian ini erat kaitannya dengan masalah pelaksanaan upaya medis sesuai dengan standar pelayanan medis yang meliputi standar pelayanan penyakit dan standar pelayanan penunjang dan masalah informasi yang diberikan harus tidak melebihi dari yang dibutuhkan oleh pasien. Syarat ketiga di atas adalah suatu hal tertentu ini yang dapat dihubungkan dengan objek perjanjian/transaksi terapeutik ialah upaya penyembuhan. Oleh karenanya objeknya adalah upaya penyembuhan, maka hasil yang diperoleh dari pencapaian upaya tersebut tidak dapat atau tidak boleh dijamin oleh dokter. Lagi pula pelaksanaan upaya penyembuhan itu tidak hanya bergantung kepada kesungguhan dan keahlian dokter dalam melaksanakan tugas profesionalnya, tetapi banyak faktor lain yang ikut berperan, DEXA MEDIA, No. 3, Vol. 17, Juli - September 2004

Endang KA: Aspek hukum, hubungan antara dokter dengan pasien

misalnya daya tahan pasien terhadap obat tertentu, tingkat keparahan penyakit dan juga peran pasien dalam melaksanakan perintah dokter demi kepentingan pasien itu sendiri. 4. Suatu sebab yang halal Hal ini oleh undang-undang tidak dijelaskan secara tegas, tetapi dapat ditafsirkan secara contrario menurut ketentuan Pasal 1335 dan pasal 1337 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Di dalam Pasal 1335 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata disebutkan bahwa suatu perjanjian tanpa sebab, atau yang telah dibuat karena suatu sebab yang palsu atau terlarang, tidak mempunyai kekuatan. Dari ketentuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa dapat terjadi tiga macam perjanjian, yaitu perjanjian dengan suatu sebab yang halal, perjanjian tanpa sebab, dan perjanjian dengan suatu sebab yang palsu atau terlarang. Di dalam Pasal 1337 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata disebutkan bahwa suatu sebab adalah terlarang, apabila dilarang oleh undangundang atau apabila berlawanan dengan kesusilaan baik atau ketertiban umum. Dengan demikian, yang dimaksud dengan sebab yang halal adalah sebab yang tidak dilarang oleh undang-undang, kesusilaan atau ketertiban umum. Di dalam Pasal 3 ayat (1) Peraturan Menteri Kesehatan No. 585/Men.Kes/PER/IX/1989. Ditentukan bahwa suatu tindakan medis tertentu yang mengandung risiko tinggi harus dengan persetujuan tertulis yang ditanda tangani oleh yang berhak memberikan persetujuan. Apabila di dalam persetujuan tersebut dicantumkan klausula bahwa pasien bersedia memikul segala risiko dan tidak akan menuntut apapun di kemudian hari, maka perjanjiannya mengandung sebab yang bertentangan dengan kepatutan, kesusilaan dan undangundang. Alasannya, yaitu dokter sebagai profesional di bidang pelayanan medis berkewajiban mengupayakan setiap tindakan medis dengan risiko yang sekecil mungkin bagi pasien, dengan berpedoman pada asas itikad baik,

asas tidak merugikan, dan asas keseimbangan. Jika suatu tindakan medis mengandung risiko tinggi, sehingga diharuskan adanya suatu informed consent secara tertulis dari pasien, maka tujuannya bukan untuk membebaskan dokter dari tanggung jawab risiko, ataupun dari tuntutan penggantian kerugian dari pasiennya. Akan tetapi tujuannya adalah untuk mendorong pasien agar berusaha bekerjasama sebaik-baiknya, mengingat tingginya risiko yang harus dihadapi yang dapat merugikan atau membahayakan diri pasien.

Kesimpulan
1. Hubungan hukum antara dokter dengan pasien dimulai sejak dokter menyatakan kesediaannya untuk mengobati pasien. 2. Perikatan antara dokter dengan pasien adalah bersifat inspanningsverbintenis yaitu perikatan yang didasarkan atas kewajiban berusaha seorang dokter untuk menyembuhkan pasien secara cermat dan hatihati yang disebut sebagai met zorg en inspanning. 3. Syarat sahnya hubungan hukum antara dokter dengan pasien adalah berdasarkan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yaitu sepakat mereka yang mengikatkan dirinya, cakap dalam membuat perjanjian, suatu hal tertentu dan sebab yang halal (tidak bertentangan dengan undangundang, ketertiban umum dan kesusilaan).

Daftar Pustaka
1. Komalawati, Veronika. Peranan informed concent dalam transaksi terapeutik . Citra Aditya Bakti:Bandung, 1999 2. Koeswadji, Hermien Hadiati. Hukum kedokteran 9studi tentang hubungan hukum dalam mana dokter sebagai salah satu pihak . Citra Aditya Bakti:Bandung, 1998 3. Lumenta, Benyamin. Pasien. Citra, peran dan perilaku. Kanisius:Yogyakarta, 1987 4. Jones. Essays in applied psycho analysis . Hogarth Press:london, 1951 5. Dahlan, Sofwan. Hukum kesehatan. Rambu-rambu bagi profesi dokter. BP UNDIP:Semarang, 2000 6. Purwohadiwardojo, Al. Etika medis. Kanisius:Yogyakarta, 1989

DEXA MEDIA, No. 3, Vol. 17, Juli - September 2004

137