Anda di halaman 1dari 24

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.1

Pendahuluan

Pada pembahasan bab ini akan menguraikan mengenai metode

penelitian yang akan digunakan sebagai bagian dari desain penelitian.

Metode penelitian bertujuan menentukan dan menjelaskan metode yang

tepat untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini disesuaikan

dengan topik penelitian, yakni mengenai pengendalian change order

terhadap kinerja waktu pada konstruksi proyek, sehingga tujuan penelitian

dapat dicapai. Metode penelitian menentukan bagaimana suatu proses

penelitian dilakukan dari pengumpulan data, pengolahan data menjadi

informasi untuk dianalisa dan akhirnya menghasilkan temuan-temuan yang

dapat ditarik kesimpulan. Kerangka pembahasan bab ini dapat dilihat pada

gambar dibawah ini.

Rumusan Masalah Studi Literatur Hipotesa Penelitian Desain Penelitian Metode Penelitian Alur Proses Metode
Rumusan Masalah
Studi Literatur
Hipotesa Penelitian
Desain Penelitian
Metode Penelitian
Alur Proses
Metode Pengumpualan Data
Perumusan Variabel Penelitian
Data
Uji Validitas dan
Reliabilitas
Analisa Data
Temuan dan Bahasan Hasil Analisa Data
Kesimpulan

Gambar 3.1 Kerangka Metode Penelitian

59

Universitas Indonesia

Pengendalian change

,

Wahyuni Nurhadiyati, FT UI, 2010.

60

Kesimpulan ini merupakan hasil pengujian suatu hipotesa penelitian dan jawaban dari pertanyaan penelitian yang diuraikan dalam tujuan penelitian sebelumnya.

Alur pemilihan dan penentuan metode penelitian berdasarkan latar belakang permasalahan, rumusan masalah, kajian teori dan hipotesa yang akan diujikan dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar kerangka pemikiran penelitian dibawah ini.

Latar Belakang Permasalahan Pada tahap konstruksi proyek tidak dapat dihindari adanya change order, terutama untuk
Latar Belakang Permasalahan
Pada tahap konstruksi proyek tidak dapat dihindari adanya change order, terutama untuk proyek besar dan
kompleks, yakni proyek bangunan bertingkat tinggi. Perubahan konstruksi dapat berasal dari berbagai sumber,
baik dari pihak pemilik proyek/perencana maupun pihak pelaksana proyek. Change order pada konstruksi
proyek menjadi salah satu penyebab dari penundaan (delay) waktu akibat time overruns. Untuk itu diperlukan
usaha untuk meminimalkan dampak change order terhadap kinerja waktu proyek, dengan menentukan
pengendalian dan pengelolaan change order yang paling efektif dan tepat sasaran.
Studi Literatur
Rumusan Masalah
(Pertanyaan Penelitian)
Gambaran umum change order.
Deskripsi change order.
RQ :
Pengendalian dan pengelolaan change order,
4.
Faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab
yang terdiri dari :
terjadinya change order pada konstruksi proyek
- Deskripsi Change Order Management.
bangunan bertingkat tinggi ?
- Change Order pada Konstruksi Proyek.
5.
Sejauh mana dampak change order selama tahap
- Efektivitas Change Order Management.
konstruksi bangunan bertingkat tinggi berlangsung
- Tahapan Proses Change Order.
?
6.
Pengendalian dan pengelolaan dari change order
apa yang paling efektif dan tepat sasaran untuk
Metode Penelitian
meminimalkan perubahan pekerjaan yang
Metode Kuantitatif Survei
berdampak pada kinerja waktu pada proyek
bangunan bertingkat tinggi ?
Hipotesa Penelitian
Dengan menentukan pengendalian dan pengelolaan change order
pada konstruksi, dapat meminimalkan keterlambatan waktu
penyelesaian proyek bangunan bertingkat tinggi.
waktu penyelesaian proyek bangunan bertingkat tinggi. Manfaat Penelitian Bagi keseluruhan pihak yang terkait

Manfaat Penelitian

Bagi keseluruhan pihak yang terkait pada perubahan konstruksi proyek (diantaranya pihak pemilik, perencana dan

pelaksana proyek): dapat memberikan informasi dan masukan mengenai change order, yakni dalam menentukan

pengendalian dan pengelolaan change order yang efektif dan tepat sasaran pada proyek-proyek selanjutnya, terutama

proyek bangunan bertingkat tinggi.

Gambar 3.2 Kerangka Pemikiran

Pengendalian change

,

Universitas Indonesia

Wahyuni Nurhadiyati, FT UI, 2010.

3.2 Rumusan Masalah

61

Permasalahan dirumuskan dari latar belakang permasahan yang ada pada topik penelitian ini, sebagai pertanyaan penelitian (research question), yakni:

1. Faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab terjadinya change order pada konstruksi proyek bangunan bertingkat tinggi ?

2. Sejauh mana dampak change order selama tahap konstruksi bangunan bertingkat tinggi berlangsung ?

3. Pengendalian dan pengelolaan change order apa yang paling efektif dan tepat sasaran untuk meminimalkan perubahan pekerjaan yang berdampak pada kinerja waktu proyek bangunan bertingkat tinggi ?

3.3 Pemilihan Desain Penelitian

Desain penelitian sebagai pedoman dalam melakukan penelitian, yang dipilih dan disesuaikan untuk menjawab pertanyaan penelitian diatas. Pada penelitian ini akan menerapkan pendekatan hipotesa secara deduktif, yakni permasalahan yang dirumuskan dari penemuan fakta-fakta, dipecahkan dengan cara berpikir deduktif melalui pengajuan hipotesis sebagai kesimpulan sementara yang diperoleh dari evaluasi teori/studi literatur yang ada. Selain itu penelitian ini juga mencari hubungan antara fakta-fakta yang disesuaikan dengan studi literatur, untuk pengujian/konfirmasi. Berdasarkan uraian diatas maka desain penelitian yang akan digunakan adalah penelitian dengan pendekatan kuantitatif.

Penelitian dengan pendekatan kuantitatif membutuhkan sampel yang besar, mengenal adanya variabel yang memiliki hubungan kausal dan berorientasi pada hasil penelitian berupa verifikasi hipotesa (Furqon, 2008). Hipotesa untuk penelitian ini terdiri dari :

Pengendalian change

,

Universitas Indonesia

Wahyuni Nurhadiyati, FT UI, 2010.

62

H 1 :

Terdapat hubungan antara pengendalian dan pengelolaan change order

H 0 :

dengan kinerja waktu konstruksi proyek. Tidak terdapat hubungan antara pengendalian dan pengelolaan change order dengan kinerja waktu konstruksi proyek.

3.4 Pemilihan Metode Penelitian

Pemilihan metode penelitian dilakukan dengan melihat kriteria dari bentuk pertanyaan penelitian, kontrol terhadap peristiwa yang diteliti dan tingkat fokus terhadap peristiwa yang sedang berjalan/baru diselesaikan. Bentuk pertanyaan untuk penelitian ini adalah pengendalian dan pengelolaan change order apa yang paling efektif dan tepat sasaran untuk meminimalkan perubahan pekerjaan yang berdampak pada kinerja waktu proyek bangunan bertingkat tinggi. Change order pada konstruksi bangunan bertingkat tinggi sebagai peristiwa yang sedang berjalan/baru diselesaikan. Berdasarkan metode atau strategi penelitian dari Yin (2002) yang dapat dilihat pada tabel dibawah ini, maka penelitian ini mengunakan metode penelitian survei.

Tabel 3.1

Strategi Penelitian Untuk Masing-masing Situasi

 

Bentuk Pertanyaan

Kontol terhadap peristiwa yang diteliti

Tingkat fokus terhadap peristiwa yang sedang berjalan/baru diselesaikan

Strategi

Penelitian

Eksperimen

Bagaimana, mengapa

Ya

Ya

Survei

Siapa, apa, dimana, berapa banyak

Tidak

Ya

Analisis

Siapa, apa, dimana, berapa banyak

Tidak

Tidak

Historis

Bagaimana, mengapa

Tidak

Tidak

Studi Kasus

Bagaimana, mengapa

Tidak

Ya

Sumber: Yin, 2002

Metode penelitian survei ini dilakukan dengan pendekatan survei ke beberapa objek penelitian sebagai peristiwa yang sedang berjalan/baru diselesaikan, kemudian dikaji dan dianalisis hasil survei baik dari masukan para pakar maupun beberapa koresponden, yang terkait dengan topik penelitian.

Pengendalian change

,

Universitas Indonesia

Wahyuni Nurhadiyati, FT UI, 2010.

63

3.5 Alur Proses Metode Penelitian Survei

Penelitian dengan metode survei ini dilaksanakan dengan mengikuti alur penelitian yang dapat dilihat pada gambar 3.3 dibawah ini.

penelitian yang dapat dilihat pada gambar 3.3 dibawah ini. MULAI Mengumpulkan Data Revisi Kuesione r Analisa

MULAI

MULAI
MULAI

Mengumpulkan Data

Revisi Kuesioner

Analisa Statistik dengan Korelasi & Regresi dgn SPSS

Sekunder (Studi

Sekunder (Studi

Literature)

Kuesioner Responden

 
Sekunder (Studi Literature) Kuesioner Res p onden   Perumusan   Variabel Penelitian Temuan d an Bahasan
Sekunder (Studi Literature) Kuesioner Res p onden   Perumusan   Variabel Penelitian Temuan d an Bahasan

Perumusan

Perumusan
 

Variabel Penelitian

Temuan dan Bahasan

Hasil Kuesioner

Hasil Kuesioner

Hasil Kuesioner

Draft Kuesioner

(Data Primer)

 
Kesim pulan & Saran

Kesimpulan & Saran

r (Data Primer)   Kesim pulan & Saran Klarifikasi-Verifikasi Uji Validitas dan Reliabilitas
r (Data Primer)   Kesim pulan & Saran Klarifikasi-Verifikasi Uji Validitas dan Reliabilitas

Klarifikasi-Verifikasi

Uji Validitas dan Reliabilitas

SELESAI
SELESAI

Validasi Pakar

Gambar 3.3. Alur Penelitian Metode Survei

3.5.1 Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini terdapat 2 (dua) jenis data yang akan digunakan berdasarkan cara memperolehnya, yakni:

1. Data Primer, adalah data yang diperoleh dari pengumpulan hasil survei kuesioner yang didistribusikan kepada responden.

2. Data Sekunder, adalah data yang didapat dari hasil studi literatur, seperti buku, referensi, jurnal dan penelitian lain yang terkait dengan topik penelitian ini.

Untuk proses pengumpulan data primer yang akan digunakan sebagai input utama bagi penelitian ini, dilakukan secara:

1. Input Internal, yakni input berasal dari internal perusahaan kontraktor yang melaksanakan konstruksi proyek bangunan bertingkat tinggi dan pelaksana dari pengendalian change order ini.

Pengendalian change

,

Universitas Indonesia

Wahyuni Nurhadiyati, FT UI, 2010.

64

2. Input Eksternal, yakni input berasal dari luar perusahaan kontraktor, tetapi terlibat dalam konstruksi proyek dan bertindak sebagai personil eksternal. Personil eksternal tersebut antara lain: pihak pemilik proyek, konsultan manajemen konstruksi, konsultan perencana dan pengawas, subkontraktor.

Data sekunder dari penelitian ini, akan difungsikan sebagai data untuk:

Menyusun landasan teori dari penelitian ini. Merumuskan variabel-variabel penelitian yang akan digunakan.

Metode penelitian ini mengambil sampel yang merupakan sebagian dari populasi yang karakteristiknya dapat mewakili keseluruhan populasi (Sunyoto, 2009), yakni pihak-pihak yang terlibat dalam konstruksi proyek bangunan bertingkat tinggi. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan simple random sampling, dimana suatu metode pengambilan sampel secara acak dan telah memenuhi kriteria penelitian, sehingga mempunyai kesempatan sama menjadi sampel. Kriteria-kriteria tersebut akan dijelaskan secara rinci kemudian pada bagian penyusunan instrumen penelitian dari variabel penelitian.

Metode pengumpulan data primer pada penelitian dengan menggunakan metode penyebaran kuesioner. Kuesioner sebagai hasil dari penyusunan instrumen penelitian dari variabel-variabel penelitian yang dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, dan telah melalui proses revisi dan koreksi dari pendapat para pakar, kemudian didistribusikan kepada para koresponden. Berdasarkan pertanyaan penelitian, usaha mencapai tujuan penelitian, maka data yang diperoleh dari kuesioner berupa data kebijakan dan prosedur apa saja dalam change order management yang telah dilaksanakan oleh koresponden untuk meminimalkan perubahan beserta dampak terhadap kinerja waktu konstruksi proyek bangunan bertingkat tinggi.

Pengendalian change

,

Universitas Indonesia

Wahyuni Nurhadiyati, FT UI, 2010.

65

Keuntungan menggunakan teknik kuesioner adalah tidak selalu memerlukan hadirnya peneliti, dapat didistribusikan secara serentak, koresponden dapat menjawab sesuai waktu yang ada dan pertanyaan kuesioner yang berkaitan dengan variabel penelitian dapat dibuat anonim. Teknik kuesioner yang akan digunakan adalah kuesioner tertutup, dimana jawaban dalam kuesioner ini sudah disediakan oleh peneliti, sehingga koresponden tinggal memilih dari jawaban yang telah tersedia.

3.5.2 Perumusan Variabel Penelitian

Pertanyaan-pertanyaan kuesioner diperoleh dari penyusunan instrumen penelitian yang bersumber dari perumusan variabel penelitian. Variabel- variabel penelitian diidentifikasi dan diuraikan menjadi sub variabel/ indikator, yang kemudian diuraikan lagi menjadi sub-indikator, untuk kemudian ditransformasikan menjadi butir pertanyaan kuesioner. Perumusan variabel penelitian bertujuan untuk menguraikan dan mencari hubungan antar variabel penelitian, yang terkait atau saling mempengaruhi. Hubungan antar variabel penelitian ini sebagai hubungan kausal, dimana terdapat variabel yang mempengaruhi dan variabel yang dipengaruhi. Untuk topik penelitian pengendalian change order terhadap kinerja waktu pada konstruksi proyek bangunan bertingkat tinggi, dapat dirumuskan menjadi 2 (dua) variabel yang saling mempengaruhi, yakni:

Variabel terikat (dependent) sebagai variabel yang dipengaruhi, yakni:

Kinerja waktu pada konstruksi proyek bangunan bertingkat tinggi.

Variabel bebas (independent) sebagai variabel yang mempengaruhi,

yakni

meliputi :

:

pengendalian

change

order

pada

konstruksi

proyek,

yang

Kebijakan dan prosedur change order management.

Efektivitas change order management.

Tahapan proses change order.

Pengendalian change

,

Universitas Indonesia

Wahyuni Nurhadiyati, FT UI, 2010.

66

Variabel-variabel bebas (X) yang merupakan pengendalian dan pengelolaan change order untuk meminimalkan perubahan beserta dampak change order, terhadap kinerja waktu proyek sebagai variabel terikat (Y) dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

variabel terikat (Y) dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Pengendalian change , Universitas Indonesia Wahyuni

Pengendalian change

,

Universitas Indonesia

Wahyuni Nurhadiyati, FT UI, 2010.

67

67 Pengendalian change , Universitas Indonesia Wahyuni Nurhadiyati, FT UI, 2010.

Pengendalian change

,

Universitas Indonesia

Wahyuni Nurhadiyati, FT UI, 2010.

68

68 3.5.3 Instrumen Penelitian Pengendalian change , Universitas Indonesia Wahyuni Nurhadiyati, FT UI, 2010.

3.5.3 Instrumen Penelitian

Pengendalian change

,

Universitas Indonesia

Wahyuni Nurhadiyati, FT UI, 2010.

69

Instrumen penelitian sebagai alat bantu peneliti untuk mendekati sasaran penelitian dan membantu peneliti dalam mendapatkan data (Musthofa, n.d.). Tahapan penyusunan instrumen penelitian untuk kuesioner dari variabel-variabel penelitian diatas adalah sebagai berikut:

a. Pertanyaan-pertanyaan dari hasil transformasi sub indikator variabel penelitian tersebut disusun dalam bentuk format tabulasi tertentu, yang selanjutnya dimintakan klarifikasi, verifikasi, dan validasi kepada para pakar yang terkait, dengan kriteria sebagai berikut:

Jumlah minimal pakar lima orang. Bila berasal dari kalangan akademisi yang terkait, dengan pendidikan minimal S2 dalam bidang manajemen proyek/konstruksi atau berasal dari kalangan praktisi konstruksi proyek bangunan bertingkat tinggi, dengan pengalaman minimal 10 tahun. Bila berasal dari pihak kontraktor, dengan pengalaman minimal 10 tahun, yang merupakan direktur utama, direktur operasional atau manajer proyek pada konstruksi proyek bangunan bertingkat tinggi.

Adapun contoh format kuesioner/instrumen penelitian untuk didiskusikan dengan para pakar, yang dapat dilihat pada tabel 3.3 dibawah ini.

Tabel 3.3 Kuesioner Tahap 1 (Pakar)

tabel 3.3 dibawah ini. Tabel 3.3 Kuesioner Tahap 1 (Pakar) Pengendalian change , Universitas Indonesia Wahyuni

Pengendalian change

,

Universitas Indonesia

Wahyuni Nurhadiyati, FT UI, 2010.

70

b. Berdasarkan masukan dan pendapat dari para pakar tersebut diatas diakomodasikan ke dalam perbaikan/koreksi menjadi kuesioner revisi.

c. Hasil revisi tersebut selanjutnya didistribusikan kepada koresponden sebagai instrumen penelitian untuk pengumpulan data primer. Kriteria untuk koresponden ini adalah sebagai berikut:

Praktisi di perusahaan kontraktor yang berpengalaman minimal 5 tahun di konstruksi proyek bangunan bertingkat tinggi. Dapat merupakan pihak di luar kontraktor yang terkait dengan proses pelaksanaan konstruksi proyek bangunan bertingkat tinggi tersebut, misalnya pemilik proyek, manajer konstruksi atau konsultan perencana dan pengawas.

Adapun contoh format kuesioner/instrumen penelitian untuk koresponden dapat dilihat pada tabel 3.4 dibawah ini.

Tabel 3.4 Kuesioner Tahap 2 (Koresponden)

dibawah ini. Tabel 3.4 Kuesioner Tahap 2 ( Koresponden ) Untuk pengukuran kuesioner ini ak an

Untuk pengukuran kuesioner ini akan digunakan desain pengukuran dengan skala Likert dan desain skala dengan skala interval, untuk pengukuran frekuensi terjadinya dan tingkat pengaruh terhadap usaha pengendalian change order terkait kinerja waktu proyek, dimana kategori, peringkat dan jarak skala sudah terlihat. Skala pengukuran yang digunakan untuk frekuensi dilaksanakan kebijakan dan prosedur change order management dalam usaha pengendalian change order terhadap kinerja waktu konstruksi proyek, adalah sebagai berikut:

Pengendalian change

,

Universitas Indonesia

Wahyuni Nurhadiyati, FT UI, 2010.

71

1 = Tidak pernah dilaksanakan pada perubahan konstruksi yang terjadi.

2 = Sangat jarang, change order dilaksanakan < 10% dari keseluruhan perubahan konstruksi yang terjadi.

3 = Jarang, change order dilaksanakan 10%-50% dari keseluruhan perubahan konstruksi yang terjadi.

4 = Agak sering, change order dilaksanakan 50%-75% dari keseluruhan perubahan konstruksi yang terjadi.

5 = Sering, change order dilaksanakan 75%-100% dari keseluruhan perubahan konstruksi yang terjadi.

6 = Selalu dilaksanakan pada setiap perubahan konstruksi yang terjadi.

Sedangkan untuk skala pengukuran yang digunakan untuk tingkat pengaruh/dampak dari kebijakan dan prosedur change order management dalam usaha pengendalian change order terhadap kinerja waktu konstruksi proyek adalah sebagai berikut:

1 = Tidak ada pengaruh pada kinerja waktu konstruksi proyek.

2 = Rendah, berpengaruh hanya pada kinerja waktu pekerjaan konstruksi yang mengalami perubahan.

3 = Agak sedang, berpengaruh pada kinerja waktu pekerjaan konstruksi yang mengalami perubahan, dan mempengaruhi kinerja waktu pekerjaan lainnya (pekerjaan sesudahnya yang bukan pekerjaan kritis).

4 = Sedang, berpengaruh pada kinerja waktu pekerjaan konstruksi yang mengalami perubahan, dan mempengaruhi kinerja waktu pekerjaan lainnya termasuk pekerjaan kritis konstruksi.

5 = Tinggi, berpengaruh pada kinerja waktu pekerjaan konstruksi yang kritis sehingga mempengaruhi kinerja waktu konstruksi keseluruhan.

6 = Sangat tinggi pengaruh, sehingga mempengaruhi kinerja waktu proyek keseluruhan.

Untuk pengukuran skala kinerja waktu konstruksi pada proyek bangunan bertingkat tinggi, diukur berdasarkan prosentase keterlambatan jadwal atau prosentase waktu aktual terhadap waktu rencana proyek.

Pengendalian change

,

Universitas Indonesia

Wahyuni Nurhadiyati, FT UI, 2010.

72

Frekuensi dan dampak dari variabel-variabel pengendalian change order

tersebut berpengaruh terhadap prosentase kinerja waktu proyek sebagai

variabel terikat. Dimana semakin tinggi frekuensi dilaksanakan dan semakin

tinggi pengaruh dampak dalam usaha pengendalian change order, maka

semakin rendah nilai prosentase kinerja waktu proyek, yakni meminimalkan

keterlambatan atau tepat waktu pada perencanaan termin penyelesaian

konstruksi proyek.

Untuk pengukuran skala prosentase kinerja waktu proyek sebagai

variabel terikat, menggunakan desain skala interval, dimana kategori,

peringkat dan jarak skala sudah terlihat. Untuk menentukan jarak skala

untuk kinerja waktu berdasarkan pada uraian Naoum (1994), yakni dalam

industri konstruksi proyek yang berkembang di Inggris akan mengalami time

overrun jika penjadwalan kerja proyek aktual mengalami keterlambatan dari

rencana sebesar 5% untuk proyek bernilai < 5,000,000 (sekitar Rp.

50.000.000.000). Selanjutnya dapat diasumsikan untuk menentukan jarak

untuk skala interval ini menggunakan jarak skala 5 (lima) persen untuk tiap

kategorinya (Zacky, 2001), yakni :

1 = Penundaan konstruksi proyek (delay) : kinerja waktu : k 120%

2 = Sangat Terlambat

3 = Terlambat

4 = Agak Terlambat

5 = Tepat

6 = Cepat

dimana : k = kinerja waktu

: kinerja waktu : 115% k < 120%

: kinerja waktu : 110% k < 115%

: kinerja waktu : 105% k < 110%

: kinerja waktu : 100% k < 105%

: kinerja waktu : 95% k < 100%

Untuk kinerja waktu digunakan rumus sebagai berikut :

Kinerja waktu = waktu aktual waktu rencana

x 100%

(3.1)

Pengendalian change

,

Universitas Indonesia

Wahyuni Nurhadiyati, FT UI, 2010.

dimana : waktu aktual

adalah waktu yang terjadi (real time)

73

waktu rencana adalah waktu proyek berdasarkan dokumen kontrak ditambah dengan addentum.

Semakin kecil waktu aktual dari pelaksanaan suatu proyek dibandingkan dengan waktu rencana, maka semakin baik kinerja waktu dari proyek tersebut.

3.5.4 Uji Reliabilitas dan Validitas

Dalam pengumpulan data dengan penyebaran kuesioner kepada para koresponden dihadapkan pada permasalah akan tingkat kepercayaan yang diberikan pada data, untuk itu perlu melakukan uji tingkat reliabilitas dan validitas pada data kuesioner tersebut terlebih dahulu (Sudarmanto, 2005).

Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas digunakan untuk menggambarkan kemantapan dan keajegan alat ukur, dimana alat ukur tersebut memiliki reliabilitas yang tinggi dan dapat dipercaya jika alat ukur stabil memberikan hasil penelitian apabila digunakan berkali-kali (Sudamanto, 2005). Pertanyaan dalam kuesioner menjadi alat ukur yang dikatakan reliabel apabila jawaban dari koresponden konsisten (Sunyoto, 2009).

Uji reliabilitas dalam penelitian ini akan menggunakan koefisien reliabilitas internal dari alpha. Dengan uji reliabilitas terlebih dahulu, kita dapat mengetahui bagaimana tiap pertanyaan dalam kuesioner saling berhubungan, mendapatkan nilai Alpha Cronbach dan mengidentifikasi tiap pertanyaan yang bermasalahan dan harus direvisi/dihilangkan. Uji reliabilitas yang digunakan adalah dengan menghitung koefisien alpha dengan pengukuran penyebaran sekali saja (one shot). Pertanyaan kuesioner dikatakan memiliki reliabilitas jika nilai koefisien Alpha Cronbach diatas 0,60 (menggunakan SPSS) (Sunyoto, 2009).

Pengendalian change

,

Universitas Indonesia

Wahyuni Nurhadiyati, FT UI, 2010.

74

Karakteristik Alpha Cronbach, (Uyanto, 2009) antara lain :

Nilai Alpha Cronbach negatif berarti tidak konsisten atau akibat pencampuran dimensi pengukuran yang berbeda. Dari nilai Alpha Cronbach selanjutnya dilakukan pengukuran korelasi (Corrected Item-Total Correlation).

Nilai Alpha Cronbach berkisar antara 0 dan 1.

Hasil yang diperoleh dari uji reliabilitas dengan bantuan program SPSS, dapat dilihat dari perbandingan nilai Cronbach’s Alpha terhadap nilai Cronbach’s Alpha if Item Deleted dari masing-masing variabel, yakni nilai Cronbach’s Alpha if Item Deleted nilai Cronbach’s Alpha, maka data reliabel.

Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengukur sah/valid atau tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dapat dikatakan valid jika mampu mengukur objek yang diukur. Pengujian ini untuk menentukan signifikan atau tidak signifikan dengan membandingkan nilai r hitung (dilihat dari nilai Corrected item-Total Correlation) dengan nilai r tabel. Dimana nilai Corrected Item-Total Correlation r tabel, maka data telah valid.

3.5.5 Analisa Data

Untuk mengetahui pengendalian change order apa yang paling efektif dan tepat sasaran terhadap kinerja waktu proyek, dari data kuesioner responden yang sudah dikumpulkan dan telah diuji reliabilitas dan validitas, maka dilakukan analisa data dengan statistik parametrik, yakni analisa statistik korelasi dan regresi dengan bantuan program SPSS. Persyaratan untuk analisa data statistik parametrik (Sudarmanto, 2005), terdiri dari :

Pengendalian change

,

Universitas Indonesia

Wahyuni Nurhadiyati, FT UI, 2010.

75

Variabel penelitian harus diukur paling rendah dalam bentuk skala interval. Memiliki model distribusi normal, dapat dilakukan dengan melakukan uji normalitas.

Penggunaan sampel besar (n > 30 sampel).

a. Uji Normalitas Data

Salah satu uji persyaratan yang harus dipenuhi dalam penggunaan analisa parametrik, yaitu dengan uji normalitas data populasi. Tujuan dari dilakukannya uji ini untuk mengetahui apakah suatu variabel berdistribusi normal atau tidak. Data yang mempunyai distribusi normal berarti mempunyai sebaran yang normal pula. Untuk menguji normalitas distribusi populasi diajukan hipotesis sebagai berikut (Sudarmanto,

2005).

Ho : Data berasal dari populasi berdistribusi normal. H 1 : Data berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal.

Hasil yang akan diperoleh dari uji normalitas data dengan melihat nilai sig.(α) dari masing-masing variabel. Kriteria yang digunakan untuk Ho diterima adalah nilai sig. (α) lebih besar dari taraf signifikansi yang telah ditentukan, jika sebaliknya maka Ho ditolak. Jika data berdistribusi normal, maka dapat dilakukan analisa statistik parametrik (korelasi product moment/pearson dan regresi).

b. Analisa Korelasi

Menurut Neuman (1994) hipotesis penelitian adalah suatu kesimpulan sementara yang harus diuji dan berkaitan dengan 2 (dua) variabel, yakni variabel bebas (X) dan varibel terikat (Y). Untuk mengukur tingkat asosiasi dan hubungan antara dua variabel tersebut dapat digunakan analisis statistik dengan korelasi. Persyaratan data untuk analisa korelasi Pearson, antara lain :

Pengendalian change

,

Universitas Indonesia

Wahyuni Nurhadiyati, FT UI, 2010.

76

Data berskala interval atau ratio. Data berdistribusi normal. Terdiri dari 2 (dua) variabel, yakni variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y).

Pengukuran korelasi yang melibatkan lebih dari satu variabel bebas (X) dan satu variabel terikat (Y) disebut korelasi secara berganda (Sunyoto, 2009). Pengukuran korelasi tidak didasarkan pada definisi yang tegas antara kedua variabel tersebut, dan dapat bertukar tempat serta bersifat acak (Furqon, 2008). Analisa korelasi juga tidak menyatakan hubungan sebab-akibat dari variabel-variabel terebut (Heriyanto, 2002).

Hasil analisa korelasi dilihat dari nilai koefisien korelasi (r) yang signifikan antara kedua variabel. Nilai koefisien korelasi adalah besaran yang dapat menunjukkan kekuatan hubungan antara dua variabel. Nilai r dapat bernilai positif atau negatif yang menunjukkan arah hubungan bukan kekuatan hubungan. Range koefisien korelasi -1r1. Nilai r mendekati +1 atau -1 menunjukkan korelasi yang sangat kuat, sedangkan nilai r yang mendekati 0 menunjukkan tidak ada korelasi antara kedua variabel tersebut (Furqon, 2008). Nilai koefisien korelasi dapat dikelompokkan sebagai berikut.

Tabel 3.5 Interpretasi terhadap Koefisien Korelasi

Interval Koefisien

Tingkat Hubungan

0.00

– 0.199

Sangat Rendah

0.20

– 0.399

Rendah

0.40

– 0.599

Sedang

0.60

– 0.799

Kuat

0.80

– 1.000

Sangat Kuat

Sumber : Sugiyono, 2007

Pengendalian change

,

Universitas Indonesia

Wahyuni Nurhadiyati, FT UI, 2010.

c. Analisa Regresi Linier Berganda

77

Analisa regresi linier merupakan suatu model analisa statisitik yang mempelajari tentang pola hubungan (model) antara dua variabel atau lebih variabel, sehingga salah satu variabel dapat diramalkan dari variabel lainnya (Pujiati, 1997). Analisa korelasi dan regresi keduanya memiliki hubungan sangat erat, dimana setiap analisa regresi selalu memiliki nilai korelasinya, tetapi analisa korelasi belum tentu dilanjutkan dengan analisa regresi.

Analisa regresi linier memprediksi hasil atas variabel-variabel tertentu dengan menggunakan variabel lain. Analisa ini melibatkan dua jenis variabel, yaitu variabel dependent (terikat) dan variabel independent (bebas). Analisa regresi yang melibatkan variabel bebas lebih dari satu, maka regresi yang dilakukan adalah regresi linier berganda (Multiple Linier Regression Analysis) (Sudarmanto, 2005).

Linier dalam analisa regresi ini menunjukkan setiap estimasi atas nilai diharapkan mengalami peningkatan atau penurunan mengikuti garis lurus (Sunyoto, 2009), yakni apakah naik dan turunnya variabel terikat dapat dilakukan melalui menaiknya/menurunnya variabel bebas, atau sebaliknya.

Fungsi dari analisa regresi memiliki beberapa tugas pokok, yang terdiri dari (Sudarmanto, 2005) :

Menguji ada tidaknya korelasi antara variabel bebas dan variabel terikat. Menetapkan apakah koefisien korelasi tersebut signifikan.

Menguji signifikansi persamaan garis regresi yang telah ditetapkan.

Persamaan estimasi regresi linier berganda sebagai berikut :

Y i = β 0 + β 1 X 1i + β 2 X 2i
Y i = β 0 + β 1 X 1i + β 2 X 2i + β 3 X 3i +
+ β k X ki + ε i

(3.2)

Pengendalian change

,

Universitas Indonesia

Wahyuni Nurhadiyati, FT UI, 2010.

78

Analisa regresi linier berganda digunakan untuk melihat pengaruh

X k terhadap variabel

dependen/terikat (Y) atau juga untuk memprediksi nilai suatu variabel

sejumlah variabel independen/bebas X 1, X 2,

dependen/terikat berdasarkan nilai variabel independen/bebas X 1, X 2,

X k.

Analisa dengan regresi linier berganda memerlukan uji persyaratan yang sangat ketat (Sudarmanto, 2005), antara lain :

Melakukan uji linearitas garis regresi. Tidak terdapat saling hubungan antara variabel bebas satu dengan lainnya (uji multikolinearitas). Tidak terdapat autokorelasi antar data pengamat. Tidak terjadi adanya heteroskedastisitas.

Hal-hal yang pokok dalam analisa regresi dengan bantuan program SPSS (Sudarmanto, 2005), antara lain :

Koefisien Korelasi

Berdasarkan analisa yang dilakukan, diperoleh harga koefisien

n) ) yang harus dibuktikan signifikansinya. Nilai

ganda (R y (1,2,

koefisien korelasi dapat ditemukan pada output tabel Model Summary, yakni R hitung. Nilai koefisien korelasi lebih besar dari

0, maka hubungan yang bersifat pengaruh antara variabel-variabel bebas terhadap variabel terikat.

,

Koefisien Determinasi Tingkat ketetapan suatu garis regresi dapat diketahui dari besar kecilnya koefisien determinasi atau koefisien R 2 (R Square). Nilai R 2 sebagai koefisien R 2 hitung yang dapat ditemukan pada output tabel Model Summary. Semakin besar nilai R 2 maka semakin kuat kemampuan model regresi yang diperoleh. Selain itu terdapat Adjusted R Square, yang berfungsi untuk melihat pengaruh penambahan suatu variabel ke dalam suatu persamaan regresi.

Pengendalian change

,

Universitas Indonesia

Wahyuni Nurhadiyati, FT UI, 2010.

79

Persamaan Garis Regresi Dalam analisa regresi juga terdapat sub bagian yang menunjukkan nilai koefisien beta untuk masing-masing variabel bebas yang akan digunakan untuk membuat persamaan garis regresi yang dihasilkan dari analisa. Nilai koefisien beta dapat ditemukan pada output tabel Coefficients.

Koefisien Regresi Koefisien regresi menunjukkan pada besarnya perubahan pada variabel terikat (Y) yang diakibatkan oleh adanya perubahan pada variabel bebas (X) yang masuk dalam model. Masing-masing variabel bebas memiliki nilai koefisien regresi, sebagaimana yang dinyatakan dalam persamaan garis regresinya.

Selain itu output lain yang diperoleh dari analisa ini, antara lain nilai condition index 16 pada hasil collinearity diagnostics dan tidak adanya sample yang bersifat outlier. Nilai condition index digunakan untuk mendeteksi masalah kolinearitas (Sudarmanto, 2005).

d. Uji Model Analisa Regresi Linier Berganda

Adapun model regresi yang telah didapatkan tersebut dapat diuji dengan instrumen pengujian (Sudarmanto, 2005), antara lain :

Uji Model Coefficient of Determination Test (R 2 -test)

Untuk mengetahui apakah nilai-nilai koefisien tersebut mempunyai pengaruh yang berarti atau tidak, yakni berapa besarnya konstribusi variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y), sehingga dapat diambil langkah efektif dengan menambahkan atau mengurangi variabel bebas dalam persamaan regresi linier. Uji ini juga untuk melihat tepat tidaknya penggunaan persamaan regresi. Sebaiknya digunakan Adjusted R Square, dibandingkan dengan R Square, karena nilai ini sudah merupakan nilai R Square yang disesuaikan

Pengendalian change

,

Universitas Indonesia

Wahyuni Nurhadiyati, FT UI, 2010.

80

sehingga dapat melihat pengaruh penambahan suatu variabel ke dalam suatu persamaan regresi.

Uji Serentak/Bersama (F-test)

Tujuan uji ini untuk mengetahui apakah ada pengaruh variabel bebas (X) secara signifikan terhadap varibel terikat (Y) atau ada tidaknya korelasi antara variabel X dan variabel Y. Statistik uji yang dipakai untuk melakukan uji serentak/bersama ini adalah statistik uji F atau Analysis of Variance (ANOVA). Berikut hipotesa yang diajukan :

Ho : Tidak terdapat pengaruh variabel-variabel X secara signifikan dan positif terhadap variabel Y. H 1 : Terdapat pengaruh variabel-variabel X secara signifikan dan positif terhadap variabel Y.

Dalam uji ini menggunakan nilai koefisien F garis regresi yang dapat ditemukan pada output tabel ANOVA. Nilai koefisien F (F hitung) ini dibandingkan dengan nilai F tabel. Jika F hitung F tabel, maka H 1 diterima dan Ho ditolak. Selain itu taraf signifikansi F dibandingkan dengan tingkat alpha yang telah ditetapkan. Jika signifikansi F < tingkat alpha tersebut, maka H 1 diterima dan Ho ditolak.

Uji Parsial (t-test)

Harga koefisien regresi masing-masing variabel bebas tersebut harus diuji satu per satu (parsial), sehingga dapat diketahui variabel bebas yang memiliki pengaruh yang signifikan. Uji statisitik ini menggunakan statistik uji t. Berikut hipotesa yang diajukan :

Ho : Tidak terdapat pengaruh variabel-variabel X secara signifikan terhadap variabel Y. H 1 : Terdapat pengaruh variabel-variabel X secara signifikan terhadap variabel Y.

Pengendalian change

,

Universitas Indonesia

Wahyuni Nurhadiyati, FT UI, 2010.

81

Pada output tabel coefficient terdapat nilai koefisien t (t hitung) untuk masing-masing variabel bebas, yang kemudian dibandingkan dengan nilai t tabel. Jika nilai t hitung > t tabel, maka H 1 diterima dan Ho ditolak, sehingga dapat disimpulkan secara signifikan ada pengaruh variabel X terhadap variabel Y. Selain itu menggunakan nilai signifikan t yang dibandingkan dengan tingkat alpha yang telah ditetapkan. Jika signifikansi t < tingkat alpha tersebut, maka H 1 diterima dan Ho ditolak.

Uji Autokorelasi (Durbin-Watson)

Tujuan uji ini untuk mendeteksi adanya autokorelasi diantara data variabel-variabel. Uji statisitik ini menggunakan statistik uji Durbin- Watson. Berikut hipotesa yang diajukan :

Ho : Tidak terjadi adanya autokorelasi diantara data variabel. H 1 : Terjadi adanya autokorelasi diantara data variabel.

Jika nilai koefisien Durbin-Watson dapat ditemukan pada output tabel Model Summary. Jika nilai koefisien Durbin-Watson mendekati angka 2 (dua) maka tidak terjadi autokorelasi, yakni Ho diterima dan H 1 ditolak, sehingga dapat disimpulkan model regresi layak dipakai.

Uji Multikolinearitas

Tujuan uji ini untuk membuktikan atau menguji ada tidaknya hubungan linier antar variabel bebas satu dengan variabel bebas lainnya. Berikut hipotesa yang diajukan :

Ho : Tidak terdapat hubungan antar variabel bebas. H 1 : Terdapat hubungan antar variabel bebas.

Hasil uji multikolinearitas dapat dilihat pada output tabel coefficient untuk nilai VIF dari masing-masing variabel dan nilai condition index. Jika nilai VIF tidak lebih besar dari 10 dan condition index

Pengendalian change

,

Universitas Indonesia

Wahyuni Nurhadiyati, FT UI, 2010.

82

kurang dari 16 maka tidak terdapat hubungan antar variabel bebas. Ini berarti Ho diterima dan H 1 ditolak, sehingga dapat disimpulkan model regresi layak dipakai.

e. Analisa Faktor

Analisa faktor adalah prosedur untuk mengidentifikasi item atau variabel berdasarkan kemiripannya. Kemiripan tersebut ditunjukkan dengan nilai korelasi yang tinggi. Variabel-variabel penelitian yang memiliki korelasi yang tinggi akan membentuk satu kerumunan faktor. Analisa faktor bukan mengkaitkan antara variabel bebas dengan variabel terikat, tapi membuat reduksi, abstraksi atau meringkas dari banyak variabel menjadi sedikit variabel. Analisa faktor menekankan pada communality, yaitu jumlah varian yang disumbangkan oleh suatu variabel pada variabel lainnya.

3.5.6 Temuan dan Bahasan Hasil Analisa Data

Pada tahap studi literatur atau tinjauan pustaka sebagai landasan teori dalam melaksanakan penelitian ini, dilakukan proses pencarian informasi atau referensi mengenai hal-hal yang mendukung penelitian. Penelitian ini membahas mengenai hasil analisa data, dimana telah ditentukan pengendalian change order yang paling signifikan (efektif dan tepat sasaran) terhadap kinerja waktu konstruksi proyek, khususnya proyek bangunan bertingkat tinggi.

Pengendalian change

,

Universitas Indonesia

Wahyuni Nurhadiyati, FT UI, 2010.