Anda di halaman 1dari 16

1

Pengukuran Kesejahteraan Karyawan/Buruh Dalam Himpitan Kepentingan Pemerintah

Pendahuluan Pemberitaan mengenai buruh tidak pernah mengalami penyurutan dalam menghiasi media masa sekarang ini. Belum terselesainya permasalahan yang satu, telah muncul lagi permasalahan yang lain sampai tidak ketemu ujung dari titik temu penyelesaian masalah tersebut. Sebagai contoh pada bulan Desember 2011, ratusan warga di Mesuji, Sumatera Selatan, melakukan penyerangan terhadap perusahaan kelapa sawit yang merupakan ekspresi dari ketidakpuasan warga terhadap operasionalisasi perusahaan tersebut yang hanya menguntungkan segelintir orang disana. Di Bima, NTB, ratusan warga

memblokade Pelabuhan Sape sebagai bentuk protes terhadap konsesi pertambangan yang diberikan Bupati terhadap perusahaan tambang tertentu. Pada bulan awal tahun ini, tepatnya pada 12 Januari 2012, Jakarta diguncang oleh demonstrasi besar gerakan rakyat yang menuntut adanya pemulihan hakhak rakyat Indonesia. Ribuan massa dari sektor gerakan rakyat seperti kalangan tani, buruh, mahasiswa, bahkan perangkat aparatur pedesaan melakukan demonstrasi di depan istana dan juga di depan gedung DPR. Dalam waktu rentang waktu yang tidak terlalu jauh, puluhan bahkan ratusan ribu massa buruh di Tangerang dan Bekasi melakukan pemblokiran jalan tol sebagai bentuk tuntutan mereka kepada Bupati setempat untuk segera menaikkan nominal angka Upah Minimum Kabupaten (UMK) yang dirasa tidak lagi mencukupi untuk memenuhi kebutuhan buruh. Berbagai permasalahan yang melingkupi karyawan/buruh tersebuut mulai dari kesejahteraan dengan tolak ukur utama jumlah upah buruh, sistem kontrak atau yang dikenal dengan adanya sistem outsourching, PHK, dan masih banyak permasalahan lain yang kemudian memunculkan marginalisasi karyawan/buruh. Kondisi ini juga semakin diperparah dengan ketidakberpihakan pemerintah kepada karyawan/buruh. Pemerintah yang diharapkan menjadi dewan penolong, justru telah banyak menyampaikan retorika atau bahasa simbolis yang sering digunakan oleh pemerintah untuk mendapatkan suara rakyat hanya dijadikan komoditas politik dan adanya kebingungan oleh pemilik usaha atau pemodal oleh aturan yang diterapkan oleh pemerintah sendiri.

Ironsinya, pada salah satu sisi buruh selalu dimarginalkan, akan tetapi pada sisi lain buruhlah yang memiliki kontribusi untuk menopang perekonomian negara ini. Padahal, karyawan/buruh memiliki peranan yang besar bagi sebuah negara, selain sebagai penggerak ekonomi, karyawan/buruh juga sebagai pelaku utama dari adanya pembangunan peradaban. Oleh karena jumlahnya yang begitu besar, maka karyawan/buruh yang ada di negara ini telah menjadi salah satu kekuatan utama dalam menentukan wajah masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Karyawan/buruh lah yang selama ini menggerakkan sektor ekonomi bawah yang notabene memiliki kontribusi yang luar biasa dalam perekonomian Indonesia dan menjadi penyeimbang bahkan menjadi penyelamat neraca pertumbuhan ekonomi negara sehingga menampakkan sebuah hasil yang membanggakan bagi kepentingan perekonomian negara Indonesia. Hal ini bisa dibuktikan dari adanya laporan BPS yang menunjukan bahwa laju pertumbuhan menurut penggunaan ekonomi Indonesia pada Triwulan III tahun 2011 yang mencapai 6,5% yang secara signifikan dikontribusikan oleh adanya surplus perdagangan (dalam artian nilai ekspor indonesia melebihi nilai impor, red). Kontribusi surplus perdagangan terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai angka 3,3% Disini dapat disimpulkan bahwa perdagangan internasional menjadi dasar bagi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tabel 1. Laju Pertumbuhan PDB Menurut Penggunaan (persen)

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2012

Sebuah

kontribusi

buruh

yang

sedemikian

besar

ternyata

tidak

mendapatkan sebuah apresiasi yang begitu menggembirakan dari pemerintah. Dari tahun ke tahun selalu muncul adanya permasalahan buruh terutama yang berkaitan dengan kesejahteraan. Kondisi ini kemudian diperparah dengan adanya peraturan yang dikeluarkan pemerintah, dimana pemerintah tidak berpihak pada kepentingan karyawan/buruh. Surat keputusan bersama (SKB) 4

menteri tentang pemeliharaan momentum pertumbuhan ekonomi nasional dalam mengantisipasi perkembangan perekonomian global, yang baru-baru ini dikeluarkan akibat adanya resesi global menambah runyam dan memperparah keadaan permasalahan tentang buruh. Hal ini tidak bisa dipungkiri, diantara banyak permasalahan seputar buruh utamanya mengenai kesejahteraan karyawan/buruh merupakan masalah yang sensitif dan selalu dibicarakan karena menyangkut kelangsungan hidup seseorang. Pergantian tahun permasalahan klasik yang muncul adalah keinginan buruh atau karyawan untuk menaikkan upah mereka. Hal ini dikarenakan upah yang mereka terima tidak sebanding untuk mencukupi pemenuhan kebutuhan riil mereka. Semisal diibaratkan kenaikan harga kebutuhan pokok yang terus meningkat, sedangkan upah buruh justru tidak mengalami peningkatan yang tajam atau mengalami penurunan. Dengan penjelasan ini kita dapat melihat bagaimana politik upah murah dimungkinkan dalam rezim kapitalisme-neoliberal sekarang. Tidak mengejutkan jika kemudian dimungkinkan biaya pekerja Indonesia dapat ditekan serendah mungkin untuk mendapatkan keuntungan maksimum untuk industri. Seperti yang disajikan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia dalam pamflet promosi investasinya yang berjudul Invest in Remarkable Indonesia, upah pekerja Indonesia adalah yang terendah antara lain. Upah per jam di Indonesia adalah sekitar USD 0,6, dibandingkan dengan negara lain seperti India (USD 1,03), Filipina (USD 1,04), Thailand (USD 1,63), China (USD 2,11), dan Malaysia (USD 2,88). Dasarnya, persoalan buruh itu sama seperti persoalan-persoalan lainnya yaitu tentang kesejahteraan. Artinya, tidak hanya si buruh yang mempersoalkan masalah tersebut. Tetapi, seluruh komponen masyarakat termasuk usahawan, mereka yang berprofesi sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil), dan lain sebagainya, juga bicara tentang kesejahteraan. Kalaulah seperti ini persoalannya maka apakah mungkin konflik itu dapat terjadi? Tidak hanya konflik, bahkan lebih jauh lagi, suasana saling mengancam diantara yang bersiteru pun, terjadi.Buruh mengancam akan mogok kerja dengan harapan agar perusahaan mengalami kerugian dan akhirnya koleps, pengusaha juga mengancam akan menutup perusahaannya karena selain tidak mau "pusing", juga menebar "kekhawatiran" kepada pemerintah yang sedang menjabat (meningkatnya angka pengangguran). Begitu pula pemerintah, ikut latah menebar ancaman yaitu berupa

penurunan investasi/investor yang akhirnya akan memperlambat dan bahkan gagal meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta menghadapkan wajah buruh dengan peraturan/kebijakan yang ada. Jika diamati, maka dapat kita lihat bahwa sumber konflik perburuhan itu lebih terletak pada persoalan: 1) kepentingan, 2) persepsi, dan 3) ego masing-masing pihak yang bertikai (buruh, pengusaha, dan pemerintah). Manakala ke-3 sumber konflik ini diajukan, maka akan secara gampang kita mencari solusinya yaitu duduk bareng dan berdialog, walaupun cara-cara demikian ini telah lama dilakukan dengan tanpa sebuah hasil yang memadai untuk kesejahteraan si buruh tadi. Mengapa? Sebab, masing-masing pihak membawa kepentingan masing-masing dengan tanpa melihat kepentingan pihak lain di saat mereka melakukan dialog terhadap peningkatan kesejahteraan buruh. Buruh tidak melihat kepentingan pengusaha dan pemerintah, pengusaha tidak melihat kepentingan buruh dan pemerintah, begitu pula pemerintah, yang kurang melihat kepentingan buruh dan pengusaha. Jadi, bisa kita bayangkan apa hasilnya jika masing-masing peserta dialog, bertahan dengan kepentingannya masing-masing. Di sisi lain, selain persoalan kepentingan, persoalan persepsi juga ikut menjadi sumber konflik. Kata "sejahtera", pada dasarnya tidak memiliki standar baku yang dapat diberlakukan kapan saja, dimana saja, dan oleh siapa saja. Artinya, relatifitas adalah nilai penting yang harus dipahami bersama oleh pihak yang bertikai. Alangkah naifnya jika pengusaha dan pemerintah menganggap kalau buruh telah sejahtera hidupnya dengan mengacu pada diri mereka di saat mereka harus merangkak untuk berusaha (pandangan pengusaha) dan di saat mereka harus berjuang untuk bisa masuk bekerja di lingkungan pemerintah. Dan sangat tidak pantas pula jika si buruh melihat ukuran kesejahteraan si pengusaha dan pemerintah berdasar pada diri mereka sendiri. Padahal, apa yang dilihat si buruh, belum tentu kenyataannya adalah sama. Ke-2 unsur tersebut di atas (kepentingan dan persepsi), akan menjadi sponsor atau penggerak masing-masing pihak untuk mengedepankan egonya masing-masing. Dapat kita bayangkan, apalah jadinya jika masing-masing pihak duduk bersama, berdialog dengan membawa ego masing-masing? Pastilah, hasil dialog itu, jauh dari yang diharapkan. Akhirnya, pihak yang tidak memiliki "bergainning" atau kekuatan baik yang bersumber pada "Uang" maupun

"kekuasaan" adalah pihak yang selalu mengalah. Inilah kondisi yang secara konsisten terus menerus terjadi di sekitar masalah perburuhan kita. Masalah lain yang muncul dari politik upah murah adalah terjadinya stagnasi tingkat upah riil jika dibandingkan dengan tingkat upah nominal. Upah nominal yang diterima pekerja bisa saja selalu naik, tapi nilai riil dari upah tersebut tidak naik karena harga-harga barang. Data IHK dan Rata-rata Upah per Bulan Buruh Industri di Bawah Mandor (Supervisor) Indonesia dari tahun 2007 sampai dengan 2011 menunjukan bahwa tingkat upah riil dibandingkan dengan tingkat upah nominal adalah stagnan bahkan cenderung turun. Hal ini bisa ditunjukkan dari data laporan BPS tentang upah Buruh sebagai berikut: Tabel 2. IHK dan Rata-rata Upah per Bulan Buruh Hotel di Bawah Mandor (Supervisor) Indonesia, 2007 - 2011 (IHK 2007=100)

Bulan 2007 Maret Juni September Desember Maret Juni September Desember Maret Juni September Desember Maret Juni *) September **)

Tahun

Indeks Upah Harga Nomina Konsum l (000) en


100.0 105.3 970.5 1 107.7 1 131.9 1 159.1 1 168.0 1 091.9 1 095.7 1 109.6 1 112.2 1 148.2 1 167.1 1 193.8 1 197.9 1 381.0 1 383.5 1 389.5

Upah Riil
970.5 1 051.6 1 028.3 1 023.5 1 025.8 955.5 960.3 952.8 950.3 971.5 973.7 968.9 956.8 1 095.6 1 093.7 1 078.1

Indeks Upah Nominal


100.0 114.1 116.6 119.4 120.4 112.5 112.9 114.3 114.6 118.3 120.3 123.0 123.4 142.3 142.6 143.2

Indeks Upah Riil


100.0 108.4 106.0 105.5 105.7 98.5 98.9 98.2 97.9 100.1 100.3 99.8 98.6 112.9 112.7 111.1

2008

110.1 113.3 113.9 114.3 114.1 116.5 117.0 118.2 119.9 123.2 125.2 126.1

2009

2010

2011

126.5 128.9

Keterangan: *) Angka Sementara **) Angka Sangat sementara Sumber: Badan Pusat Statistika, 2012

Dari data diatas disebutkan bahwa upah nominal per bulan buruh sektor hotel di bawah mandor (supervisor) menurut Survei Upah Buruh (SUB) BPS, naik dari Rp1.148.600 di bulan Juni 2009 menjadi Rp1.160.100 di bulan September 2009. Secara nominal, ada kenaikan Rp11.500 atau 1% dari upah yang lama. Namun, saat itu, harga barang konsumsi menurut Indeks Harga Konsumen (IHK) BPS, naik juga sebesar 2,4%. Artinya, barang-barang yang tadinya bisa dibeli dengan Rp1.148.600, tidak bisa dibeli lagi oleh buruh. Pasalnya, sekalipun upah nominal buruh naik menjadi Rp1.160.100, tetapi harga-harga barang yang tadinya bisa dibeli dengan upah Juni 2009 juga naik menjadi Rp1.176.166,4. Hal tersebut juga bisa dilihat bahwa upah riil buruh mengalami penurunan dari Rp1.019.000 di tahun 2007 menjadi Rp969.100 di bulan Desember 2008. Upah riil itu kemudian cenderung stagnan dan baru berhasil mencapai angka yang mirip dengan tahun 2007 pada bulan Juni 2010, yaitu sebesar Rp1.019.700. Ia kemudian naik lagi di bulan September 2010 menjadi Rp1.125.200, tapi kemudian turun terus sampai menjadi Rp 966.900 di bulan September 2011. Cukup kentara perbedaannya dengan upah nominal yang cenderung naik, meski juga mengalami penurunan sejak Maret 2011. Secara umum, para buruh terjebak dalam pola hidup subsisten dan berujung pada kemiskinan akut sebagai konsekuensi dari rendahnya upah yang diterima. Hal ini terlihat dari terms of trade (nilai tukar) buruh yang terus menerus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Terms of trade yang menurun ditunjukkan dengan adanya perbandingan upah dan harga barang yang semakin mengecil (Sunu, 2002). Merujuk pada laporan organisasi buruh dunia (ILO), pada tahun 2001 hampir satu milyar orang atau sekitar sepertiga dari populasi angkatan kerja adalah buruh/pekerja dengan upah rendah yang tidak dapat mendukung diri mereka dan keluarga mereka. Kemudian posisi buruh yang serba sulit juga disebabkan oleh hubungan antara buruh dengan pengusaha. Dimana-mana, antara buruh dan pengusaha selalu memiliki perbedaan kepentingan yang sangat mendasar. Di pihak buruh, motif utama ia bekerja kepada pengusaha adalah untuk mendapatkan upah, sebagai pertukaran atas tenaga kerja yang telah dikeluarkan untuk berproduksi. Upah yang diharapkan tidak sekedar hanya memulihkan tenaganya agar dapat bekerja kembali keesokan harinya (sekedar hidup), namun juga untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya secara layak sesuai dengan

standar manusiawi. Di pihak pengusaha, laba dan terus mendapatkan laba sebanyak-banyaknya adalah tujuan yang utama. Dua kepentingan yang bertolak belakang tersebut akan menghasilkan keadaan yang tidak seimbang antara buruh dan pengusaha. Buruh tidak bisa menuntut apa-apa karena hidup mereka berada di tangan pengusaha. Solusi yang mungkin bisa membantu buruh adalah munculnya peran pihak ketiga yang mampu menjembatani sekaligus memiliki kekuatan (legalitas) untuk menekan pengusaha yang dalam posisi ini dipegang oleh pemerintah. Kenyataanya, pemerintah pun kemudian tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan cenderung di pimpin pengusaha sehingga buruh harus memperjuangkan nasibnya sendirian. Pada tulisan ini lebih memfokuskan mengenai kesejahteraan buruh, masalah yang menyertainya hingga solusi yang mungkin bisa dipakai. Pengertian Buruh Perlu adanya penjabaran yang sebenarnya mengenai dari pengertian buruh itu sendiri. Menurut UU No. 22 tahun 1957 (tentang perselisihan perburuhan) mendefinisikan buruh adalah mereka yang bekerja pada majikan dan menerima upah. Menurut ILO, buruh adalah seseorang yang bekerja pada orang lain/badan hukum dan mendapatkan upah sebagai imbalan atas jerih payahnya menyelesaikan pekerjaan yang dibebankan padanya, dengan kata lain semua orang yang tidak memiliki alat produksi dan bekerja pada pemilik alat produksi maka bisa dikatakan sebagai buruh. Konsepsi ini juga sejalan dengan pemikiran Karl Marx tentang borjuis dan protelar, dimana borjuis adalah pemilik alat produksi. Tidak ada kelas menengah karena sebenarnya kelas menengah adalah pecahan dari kelas protelar. Dari berbagai sumber definisi buruh bukan hanya pekerja kasar pabrik, tetapi juga semua orang yang bekerja di bawah perintah kekuasaan orang lain dan menerima upah. Jadi pegawai negeri sipil maupun eksekutif pun sebenarnya adalah buruh. Akan tetapi, definisi ini sengaja dikaburkan pada zaman orde baru sebagai upaya pengkotak kotakan dan pemecah belahan, sehingga definisi terpecah menjadi buruh, pekerja, pegawai, kaum profesional. Tujuannya supaya kekuatan buruh tidak bersatu sehingga tidak bisa mempengaruhi kekuasaan politik penguasa saat itu. Di Indonesia sendiri, pada tataran praksis ketika kita berbicara tentang buruh, maka yang dimaksud adalah pekerja berkerah biru (blue collar) yang selalu diidentikkan dengan kemiskinan, kumuh, untuk makan

harus menggali lubang dan tutup lubang. Buruh inilah yang kemudian dilihat dari tingkat kesejahteraannya berada pada level bawah masyarakat.

Hubungan Buruh-Pengusaha-Negara (Tripartit) 1. Marginalisasi Buruh Pengusaha/pemilik modal selalu melihat buruh sebagai budak yang mereka pekerjakan dengan upah seadanya sesuai kemampuan pengusaha, sehingga tidak jarang upah buruh yang sudah minim di potong sana sini bahkan ditunda pembayarannya karena alasan ketidakmampuan pemilik modal. Buruh dipandang sebagai faktor produksi yang sama dengan faktor produksi lain, misalnya bahan baku, yang apabila tidak dibutuhkan diganti, dibuang seenaknya tanpa ada kompensasi dan memiliki keuntungan di mata pemilik modal. Penggolongan buruh sebagai faktor produksi merupakan proses mengesampingkan atau dalam istilah meminggirkan buruh dan menjadi alasan perusahaan ketika dituntut untuk melakukan efisiensi dan berbagai pengurangan beban produksi, maka buruh akan menjadi salah satu faktor produksi yang fleksibel yang mana bisa disesuaikan dengan pasar. Hal ini berarti ketika terjadi krisis, maka buruh bisa diganti dengan seenaknya, diberhentikan sesuai dengan kebutuhan pengusaha. Buruh telah ditempatkan sebagai komoditas, buruh adalah sumber tenaga kerja, karena itu bisa diperdagangkan sewaktu-waktu. Dalam pandangan Karl Marx, buruh itu terasing (teralienasi) dalam 4 hal, yaitu: ` 1. Buruh teralienasi dari aktivitas kerjanya. Idealnya orang bekerja bukan hanya untuk memenuhi keinginannya, melainkan juga untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. Kenyataanya, buruh tidak memiliki kesempatan untuk mengekspresikan potensinya. Buruh hanya menunaikan tugas, kewajiban, dan perintah pemilik modal. 2. Buruh teraliensi dari produk yang dihasilkan. Buruh tidak memiliki sumbangsih terhadap produk yang dihasilkan, kesemuanya merupakan perintah dan keinginan dari pemilik modal. Untuk mendapatkan produk yang mereka buat, tidak ada eksklusifitas bagi para buruh, mereka tetap harus membeli produk yang mereka buat dengan harga pasar. 3. Buruh teraliensi dari buruh lain. Buruh dituntut untuk berkompetisi dengan buruh lain untuk meningkatkan kinerja dan produktivitas mereka demi

mengejar kesejahteraan yang lebih besar. Dengan kata lain, antar sesama buruh kemudian saling bersaing satu sama lain yang mana dalam konteks solidaritas kemudian inilah yang menghambat terbentuknya solidaritas kolektif sesama buruh. Konsekuensinya, serikat atau persatuan buruh tidak mendapat dukungan penuh dari semua buruh dan pemilik modal diuntungkan dengan kondisi ini. 4. Buruh teraliensi dari potensi diri yang dimiliki. Kondisi yang seperti ini akan menciptakan kebosanan dan akhirnya akan menurunkan produktivitas. Rendahnya produktivitas inilah yang menjadi senjata pemilik modal untuk memberikan tingkat kesejahteraan buruh yang sangat rendah. Keterpinggiran buruh pun tidak hanya dilihat dari 4 hal diatas, tetapi juga masih ada beberapa bentuk marginalisasi buruh, diantaranya: a. Sistem Kontrak dan Outsourcing Pergeseran kepentingan dan perubahan peraturan telah memarginalisasikan buruh dari semua segi. Semenjak UU Ketenagakerjaan No. 13/2003 efektif berlaku, secara massif terjadi gerakan pergantian status kerja dari pekerja tetap menjadi pekerja kontrak, melalui sistem outsourcing tenaga kerja. Tren ini terutama terjadi pada industri besar padat karya yang memproduksi garment, sepatu, elektronik, dan makanan. UU tersebut menjadi dasar hukum bagi perusahaan untuk mengganti status pekerja tanpa mengikuti prosedur yang ada. Beberapa kasus memunculkan pemutusan hubungan kerja tanpa diberi hak-hak yang seharusnya mereka terima. Sistem kontrak juga memunculkan praktek eksploitasi terhadap tenaga kerja yang dilakukan oleh perusahaan pengerah tenaga kerja. Buruh harus menyalurkan beberapa persen dari gaji mereka yang minim untuk disalurkan pada perusahaan yang membawa mereka. Hal ini terpaksa mereka lakukan demi untuk mempertahankan pekerjaan mereka. b. Bargaining position yang lemah Dengan diberlakukannya UUK 13/2003 tentang sistem kontrak menghabiskan posisi buruh yang lemah. Kondisi ini membuat posisi buruh dihadapkan perusahaan menjadi sangat lemah, mereka bisa dengan mudah diganti oleh orang lain. Posisi tawar yang lemah juga memaksa mereka menerima gaji yang diberikan oleh perusahaan walaupun dibawah standar hidup layak. Serikat-serikat buruh tidak berjalan karena pekerja diliputi ketakutan, antara berjuang untuk peningkatan kesejahteraan dengan resiko PHK atau

10

menerima dengan apa adanya untuk mempertahankan pekerjaan mereka. Peran negara yang seharusnya melindungi justru tidak bisa melakukan apa-apa. Kebijakan yang mereka keluarkan selalu berpijak pada perusahaan (corporate centris). c. Upah minimum - jam kerja maksimum Kebijakan sistem kontrak dan posisi tawar yang lemah berakibat pada upah minimalis yang mereka terima tanpa tunjangan sama sekali. Walaupun upah yang mereka terima sangat minim, tetapi pekerjaan yang harus mereka lakukan persis sama dengan karyawan tetap. Perusahaan akan memaksimalkan dan memeras keringat buruh untuk bekerja semaksimum mungkin. Dalam pandangan Karl Marx, perusahaan akan menerima value added atau nilai tambah dari kebijakan ini. Umumnya pekerja di upah dengan ukuran per jam, tetapi di Indonesia untuk delapan jam mereka membayar upah dengan upah karyawan satu jam. Hal ini berarti perusahaan mendapatkan nilai tambah dengan sistem ini. Pada satu sisi perusahaan untung, disisi lain buruh dirugikan dengan upah minimum dan jam kerja panjang. d. Upah dan kebutuhan riil yang tidak sebanding Problem buruh selama ini selalu berpokok pada masalah fundamental, yaitu upah. Selama ini upah buruh tidak sebanding dengan pengeluaran yang harus buruh keluarkan untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka. Regulasi pemerintah tentang pendapatan upah minimum pun hanya mencakup 80% dari kebutuhan riil yang ada. Dengan adanya alasan klise ekonomi, pemerintah dan perusahaan memaksa buruh untuk menerima kebijakan upah minimum tersebut. Upah yang diterima mungkin cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan anak dan istri. Permasalahan-permasalahan yang ada diseputar buruh/karyawan menunjukkan keterpinggiran mereka. Tidak ada jalan lain yang mereka lakukan selama ini. Kondisi perekonomian yang buruk, dengan jumlah pengangguran yang besar, lapangan kerja yang kecil dan ketidakmampuan mereka mengenyam pendidikan tinggi membuat buruh menerima apa adanya. Keinginan untuk menerima upah yang layak kadang terpinggirkan, ketika didepan mereka terbentuk pemutusan hubungan kerja yang sewaktu-waktu terjadi. Negara yang diharapkan mampu melindungi dan menyuarakan hak-hak mereka asyik berlindung dibalik angka-angka. Untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan masalah pengangguran yang menerpa, pemerintah menjadi gelap

11

mata. Demi menarik hati investor agar mau menanamkan modalnya, pemerintah telah menciptakan sebuah kondisi yang memungkinkan menciptakan lapangan pekerjaan yang besar dengan mengesampingkan perlindungan dan kesejahteraan tenaga kerja. 2. Labour Market Flexibility Filosofi dasarnya adalah menyerahkan hubungan buruh majikan pada mekanisme pasar, dengan sesedikit mungkin campur tangan pemerintah. Hal ini muncul dengan didasari perspektiif pengusaha dalam menghadapi permasalahan tenaga kerja yang tidak kunjung selesai, upah yang semakin mahal dengan produktivitas rendah, padahal menurut pengusaha merekalah yang memiliki posisi tawar yang lebih tinggi. Berlarut-larutnya situasi ketenagakerjaan yang merugikan ini membuat pemilik modal sudah bersiap-siap mereposisi strategi industrinya dengan meninggalkan pilihan padat karya (labour intensive) menjadi padat modal (capital intensive) (Binawan dan Prasetyantoko, 2004). Dengan kata lain mereka lebih memilih menjadi pemasar dengan mengimpor produk tempat lain, ketimbang harus memproduksi sendiri dengan beban tenaga kerja yang menurut mereka terus membebani. Melihat kondisi seperti tersebut mau tidak mau pemerintah harus turun tangan. Hal ini dikarenakan pemerintah tidak ingin perusahaan yang menyerap banyak tenaga kerja merelokasi industrinya ke negara lain yang akan menimbulkan efek domino mulai dari pengangguran, kemiskinan sampai meningkatnya angka kriminalitas dan menurunnya kesehatan masyarakat. Kebijakan pemerintah tentang penerapan fleksibilitas pasar tenaga kerja (LMF) merupakan respon yang semakin memantapkan asumsi bahwa akibat krisis, negeri kita semakin fanatik pada sistem pasar bebas. LMF dianggap sebagai salah satu solusi untuk meningkatkan daya tahan korporasi dalam menghadapi krisis. Mekanisme upah dan kesejahteraan buruh pun kemudian oleh negara diserahkan pada korporasi, sehingga merekalah yang menentukan seberapa besar kesejahteraan buruh. Bila sektor korporasi bisa bertahan hidup, maka permintaan terhadap pasar tenaga kerja akan stabil atau ditingkatkan, sehingga perlu diupayakan sektor korporasi semakin kuat menghadapi gelombang krisis. Dengan kata lain, LMF mendorong daya saing korporasi melalui penyingkiran berbagai hambatan bagi operasi modal, salah satunya yaitu adanya reduksi atau pencabutan berbagai peraturan yang melindungi buruh. Peraturan perburuhan

12

yang sangat liberal dan memudahkan prosedur untuk rekrut dan memecat karyawan dikembangkan. Meningkatkan Kesejahteraan Buruh Dalam menjalin hubungan kerja yang baik, mengenai masalah upah pihak buruh hendaknya memikirkan pola keadaan dalam perusahaannya, dalam keadaan perusahaan itu belum berkembang adanya upah yang layak yang diberikan perusahaan itu yang sesuai dengan upah untuk pekerjaan sejenis di perusahaan-perusahaan lainnya, hendaknya disyukuri dengan jalan memberikan imbalan-imbalannya berupa kegiatan kerja yang efektif dan efisien dan turut melakukan penghematan. Kenyataannya, pihak pemerintah juga sering menganjurkan kepada pengusaha-pengusaha yang ada di Tanah Air agar kepada para buruhnya diberikan upah yang wajar dan memberikan gambarangambaran tentang upah minimum Pada umumnya, dengan berpadunya peranan pengusaha dan peranan organisasai buruh, keduanya dapat melakukan musyawarah dan mufakatnya sehingga telah berhasil mempertemukan pertimbangan-pertimbangannya hingga terwujudnya upah yang wajar. Ada satu faktor yang membuat kesejahteraan buruh menjadi semakin menurun, yaitu pungutan liar. Direktur Institute for Development of Economics & Finance (INDEF) Enny Sri Hartati mengatakan pungutan liar (pungli) yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu telah menyebabkan ekonomi biaya tinggi, sehingga para pengusaha sulit untuk memberikan upah yang layak bagi kesejahteraan para buruh. Padahal bagi organisasi buruh, upah mencerminkan berhasil tidaknya saran dan tujuan serta merupakan salah satu faktor penting untuk mempertahankan adanya organsasi tersebut. Seharusnya pengusaha membeberkan biaya-biaya yang dia keluarkan untuk pungli-pungli itu, sayangnya pengusaha tidak mau secara terbuka menyebutkan itu. Pihak pengusaha atau badan/perusahaan yang mempekerjakan para buruhnya, dalam hal ini bagi pihak pengusaha atau badan usaha/perusahaan upah itu merupakan unsur pokok dalam perhitungan ongkos produksi dan merupakan komponen harga pokok yang sangat menentukan kehidupan perusahaan. Padahal, upah yang ada dapat mensejahterakan para buruh beserta keluarganya, sehingga berdampak pada peningkatan keterampilan dan kecakapan buruh agar kehidupan buruh dapat lebih meningkat. Oleh karena itu, upah sangat penting melibatkan peran pemerintah karena kewajibannya dalam

13

mengatur tata kehidupan dalam segala bidang, yang dalam hal ini pihak pemerintah mengeluarkan ketentuan-ketentuan hukum, perundang-undangan dan segala peraturan pelaksanaannya, sehingga pihak yang satu tidak akan dirugikan oleh pihak yang lain. Terlepas dari hal tersebut, makna yang penting yang harus diperhatikan baik oleh pengusaha maupun oleh para buruhnya adalah bukan keuntungan sebesar-besarnya yang harus dijadikan tujuan utama dalam berusaha, melainkan yang menjadi sasaran utama dalam berusaha maksa kini ialah memperoleh keuntungan yang wajar dengan sedapat mungkin menghindari kerugian Keuntungan-keuntungan yang wajar itu dapat membiayai kebutuhan-kebutuhan manajemen termasuk biaya-biaya operasiona, seperti upah, perawatan mesin dan lain-lain. Dengan menggunakan prinsip bahwa dengan pemberian upah yang bertambah, maka akan meningkatkan produktifitas pabrik tersebut. Kemudian harga menjadi turun, sehingga permintaan pasar pun meningkat dan mengakibatkan profit pabrik pun menjadi bertambah. Namun, kenaikan upah yang tidak disertai dengan peningkatan dalam produksi dapat berakibat pada kenaikan harga produk yang dihasilkan dalam perusahaan, yang mungkin pula ada kaitannya dengan peningkatan arga-harga produk lain, sehingga nilai upah yang dinaikkan itu tidak ada artinya baik dipandang dari segi ekonomi, maupun bagi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan beserta keluarganya. Jadi peningkatan upah haruslah disertai adanya peningkatan produk, dan hal ini hendaknya diresapkan oleh para buruh, tanpa adanya kesadaran untuk meningkatkan produktifitas atau usaha untuk meiningkatkan produk, selain perusahaan itu akan menjadi lemah karena penghasilan yang kurang selalu tersedot dengan adanya pembengkakan upah, modal untuk operasi makin lama akan makin berkurang dan pada akhirnya perusahaan akan menderita secara terus menerus, perusahaan yang bersangkutan akan menjadi tidak tahan dana perusahaan terpaksa harus ditutup. Dalam keadaan demikian, pihak buruh pula yang pada akhirnya akan menderita, ke mana pula mereka akan mencari kerja, padahal pengangguran sudah sangat tidak diharapkan oleh mereka. Selain solusi di atas, alternatif lainnya adalah meningkatkan pendidikan anak-anak buruh. Masalah pendidikan ini merupakan hal yang selalu membebani buruh dan menjadi logis jika buruh menuntut kenaikan upah. Artinya, manakala buruh telah melihat anak-anak mereka bersekolah, walaupun kondisi ekonomi si buruh adalah lemah, mereka cenderung tidak menuntut kenaikan upah. Selain

14

perusahaan berkontribusi dalam menghidupkan kecerdasan bangsa, perusahaan juga mendapatkan manfaat dalam hal penyediaan tenaga kerja yang berkualitas lewat pendidikan yang dibangun perusahaan. Untuk mendirikan lembaga pendidikan itu, banyak mekanisme yang dapat dipilih. Salah satunya adalah melalui koordinasi dengan pemerintah atau beberapa perusahaan dapat bergabung sebagai pihak pendiri sekolah. Perusahaan itu dapat sebagai pendiri yayasan pendidikan maupun sebagai donatur tetap. Dalam kondisi seperti ini, pemerintah dapat berperan sebagai koordinator, pengelola maupun pengawas manajemen sekolah. Sekolah itu diperuntukkan khususnya bagi putra/i buruh dari perusahaan yang mendirikan sekolah tadi. Artinya, anak-anak buruh tersebut dapat bersekolah secara gratis atau membayar seminimal mungkin sedangkan anak-anak lain, membayar secara utuh. Semua mekanisme operasional sekolah dapat diwujudkan melalui bantuan manajemen sekolah yang disiapkan oleh pemerintah. Selain itu, pemerintah juga dapat memberi jaminan bahwa semua biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan, diakui sebagai biaya pengurang pajak. Inilah bentukbentuk alternatif solusi yang memungkinkan untuk dikaji kelayakan. Kesimpulan Kesejahteraan buruh harus diperjuangkan, jika memang ada hal yang harus didorong lebih jauh dari radikalisasi perlawanan rakyat pekerja sekarang, menurut hemat penulis, adalah dengan menjadikan perlawanan ini menjadi perlawanan politis yang sistematis. Kepentingan kelas kapitalis di Indonesia hanya akan mampu untuk direalisasikan ketika negara dikuasasi oleh kelas kapitalis itu sendiri. dalam hal ini, perlawanan rakyat pekerja harus mulai mensasarkan tujuan strategisnya ke politik negara. kekuasaan politik yang dikuasai oleh rakyat pekerja lebih memungkinkan untuk memaksakan serta merealisasikan tuntutan ekonomi politik yang berdasar pada redistribusi ekonomi. Suatu hal yang sangat krusial untuk mencegah terjadinya krisis di Indonesia. Yang penting untuk dicatat dari karakter perlawanan rakyat sekarang adalah relasi ekonomi politik sekarang memungkinkan untuk terjadinya pertemuan serta penyatuan kekuatan rakyat pekerja dari berbagai sector ekonomi yang ada. Dari buruh, petani, penganggur, miskin kota, dan seluruh

15

rakyat pekerja yang dieksploitasi dalam system ekonomi yang ada. Hal ini tentu saja adalah suatu tantangan sekaligus peluang yang sangt baik untuk mengembalikan politik kelas di Indonesia, bentuk politik yang sempat ada dalam pengalaman kesejarahan kita sebagai bangsa namun dihancurkan secara bengis oleh kekuatan kapitalis nasional di masa lampau. Yang diperlukan sekarang untuk ditanyakan sekaligus dijawab adalah bagaimana bentuk pengorganisiran politik yang harus didorong dengan basis material yang tersedia seperti sekarang ini. keberhasilan dari menjawab pertanyaan krusial ini akan sangat menentukan bentuk politik kelas seperti apa yang akan muncul. Dalam hal ini, penulis tidak memiliki preskripsi atau resep generic tertentu. Untuk itu, pertanyaan ini hanya dapat dijawab dengan praktik serta aktifitas perlawanan bersama dalam rakyat pekerja itu sendiri. Daftar Pustaka

Data Strategis Badan Pusat Statistik 2012. Dapat diunduh dari laman http://www.bps.go.id/aboutus.php?65tahun=1 Laporan Neraca Pembayaran Indonesia 2012m.bi.go.id/NR/rdonlyres/B81E97C8/Laporan_NPI_tw311.pdf tahun

Laporan Pendapatan Domestik Bruto Indonesia 2011 sampai tanggal 7 Januari 2012 www.bps.go.id/getfile.php?news=888 Mohamad Zaki Husein, Upah Nominal vs Upah Riil Industri, dikutip dari laman http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2012/02/05/upah-nominal-vs-upahriil-buruh-industri/ Link Berita dari Internet Wapres Boediono: Teori Trickle Down Effect Tidak Lagi Relevan, dikutip dari laman http://www.bisnis.com/articles/wapres-boediono-teori-trickledown-effect-tak-lagi-relevan yang diunduh tanggal 30 desember 2012 pukul 20.45 Http://www.analisadaily.com/news/read/2012/10/15/81116/buruh_mencari _solusi_kesejahteraan/#.UOSn88XECqo yang diunduh tanggal 30 Desember 2012 pukul 21.00

16