Anda di halaman 1dari 32

Praktek Kerja Lapang III

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) merupakan bagian dari kurikulum Politeknik LPP Yogyakarta. PKL yang dilaksanakan selama dua bulan tersebut wajib diikuti oleh setiap mahasiswa semester V sebagai bahan ujian dalam evaluasi penerapan teori selama PKL. Di samping itu, pelaksanaan PKL juga untuk membandingkan antara teori yang didapat di bangku kuliah dengan praktek sesungguhnya di lapangan. Berdasarkan petunjuk teknis pelaksanaan (PKL) yang dikeluarkan oleh Politeknik LPP Yogyakarta bagi mahasiswa program studi akuntansi, dibuatlah laporan yang berjudul Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan. Dalam hal ini diharapkan mahasiswa mampu mengetahui dan memahami proses penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) dari salah satu perusahaan perkebunan. Adapun yang dimaksud dengan RKAP adalah suatu rencana kerja yang digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan pekerjaan dalam satu tahun yang diperinci dalam rencana fisik dan rencana pembiayaan. 1.2 Tujuan umum Setelah menyelesaikan praktek kerja lapangan III ini di harapakan mahasiswa mampu Memahami secara lengkap teknik dan cara penyusunan Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP). Tujuan Khusus Setelah menyelesaikan praktek kerja lapangan ini diharapakan mahasiswa akan mampu 1. Meguraikan rangkaian kegiatan operasional bidang administrasi sejak penyusunan anggaran sampaidangan realisasinya.

Politeknik LPP

Praktek Kerja Lapang III

2. Mengetahui akibat tidak terpenuhinya sistematika penyusunan anggaran sesuai prosedur yang berlaku. 3. Memahami Accounting Treatment dari pos-pos neraca, pos R/L, analisis sumber dana (kas) sehingga mampu mengetahui dan menunjukan tahapan-tahapan kegiatan operasional yang tepat dan sesuai ketentuan. 4. Memahami cara pertanggungjawaban , memberikan argumentasi atau menelusuri kembali angka-angka dalam anggaran. 5. Mengetahui cara menjaga dan memelihara agar anggaran tetap dipergunakan sebagai pedoman kerja dalam mencapai tujuan perusahaan. 6. Menyelesaikan anggaran tepat waktu yaitu mengerti jadwal, tahapan-tahapan dan ruang lingkup penyusunan anggaran kebun. 1.3 Metode Penulisan Penulisan laporan PKL ini menggunakan metode deskriptif, yaitu suatu metode yang menggambarkan, menjelaskan, dan menganalisa data yang diperoleh pada lokasi PKL dan kemudian membuat kesimpulan. Untuk melengkapi data yang diperlukan, maka penulis menggunakan data. Teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut: 1. Penelitian Kepustakaan (Library Research) Tujuan penelitian kepustakaan ini adalah mengumpulkan data referensi untuk melakukan pembuatan laporan PKL ini dengan data yang diperoleh dari: a. Data Primer Yaitu data yang didapat langsung dari objek kerja praktek. Data tersebut didapat dengan cara memantau langsung terhadap kegiatankegiatan perusahaan yang berhubungan dengan praktek kerja lapangan. b. Data Sekunder Yaitu data-data yang diperoleh dari buku-buku relevan dengan masalah yang diteliti dan dapat digunakan sebagai dasar penunjang dalam

Politeknik LPP

Praktek Kerja Lapang III

menganalisa masalah-masalah yang berkaitan dengan praktek kerja lapangan. 2. Penelitian Lapangan (Field Research) Penulisan laporan PKL ini adalah peninjauan secara langsung pada objek penulisan untuk mendapatkan data di lapangan secara nyata. Selanjutnya penulis melaksanakan pengumpulan data sesuai dengan judul praktek kerja lapangan. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu: a. Wawancara (Interview) Penulisan ini dilakukan dengan cara mengadakan wawancara langsung dengan bagian yang terkait sesuai dengan judul yang penulis teliti. b. Pengamatan (Observasi) Penulisan yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan langsung terhadap prosedur rencana kerja dan anggaran perusahaan. 1.4 Sistematika Penulisan Kerangka dan sistematika penyusunan laporan tersusun sebagai berikut: Bab satu, pendahuluan yang berisikan tentang latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan, sistematika penulisan, serta lokasi dan waktu praktek kerja lapangan (PKL). Bab kedua yaitu ikhtisar pustaka yang berisikan tentang pengertian RKAP, fungsi RKAP, dan tahapan dalam pembuatan perencanaan. Bab tiga berisi gambaran umum perusahaan yaitu mengenai sejarah PTPN IX (Persero) Kebun Batujamus/Kerjoarum, visi misi, letak geografis dan budaya PTPN IX (Persero) Kebun Batujamus/Kerjoarum. Bab empat, pedoman pelaksanaan RKAP yang berisikan tentang jadwal penyusunan RKAP, prosedur penyusunan RKAP, dan pedoman penyusunan RKAP. Bab lima yaitu penyusunan RKAP perusahaan yang berisikan tentang penyusunan RKAP kebun yang memuat areal konsesi, rencana produksi, rencana biaya produksi, rencana pemeliharaan tanaman menghasilkan,

Politeknik LPP

Praktek Kerja Lapang III

rencana kebutuhan barang bahan, rencana biaya umum, dan biaya karyawan serta alokasinya dan rencana investasi. Bab enam berisikan pembahasan mengenai RKAP. Bab tujuh merupakan penutup yang berisikan kesimpulan dan saran. 1.5 Lokasi dan Waktu Praktek Kerja Lapangan Untuk memperoleh data dan informasi yang berkenaan dengan masalah yang diteliti, maka penulis mengambil lokasi di PT Perkebunan Nusantara IX (Persero) Kebun Batujamus/Kerjoarum yang berlokasi di Bangunsari, Kuto, Kerjo, Karanganyar. Waktu praktek kerja lapangan ini dilakukan terhitung mulai tanggal 10 Desember 2012 sampai dengan 18 januari 2013.

Politeknik LPP

Praktek Kerja Lapang III

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

2.1 Sejarah PT Perkebunan Nusantara IX (Persero) Kebun Batu Jamus 2.1 Periode Penjajahan/Pemerintahan Belanda ( Sebelum tahun 1945 ) a. Perusahaan Perkebunan Milik Negara yang didirikan pada tahun 1912 dengan nama sLand Caoutchouc Bedrijfs (LBC) dan pada tahun 1938 karena Perusahaan Perkebunana tersebut mengusahakan tanamantanaman Perkebunan lain disamping karet, maka Perusahaan Perkebunan berubah Bedrijven (GLB). b. Perusahaan Perkebunan Milik Negara Asing/Swasta. c. Perusahaan Perkebunan Milik Kasunanan dan Mangkunegaran. 3.1 Periode Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia (Tahun 1945-1960) a. Dengan terbitnya Peraturan Pemerintah RI No. 9 Tahun 1947, didirikan Perusahaan Perkebunan Republik Indonesia (PPRI) yang berkedudukan di Jakarta an Solo. Perusahaan Perkebunan yang berkedudukan di Solo menguasai perkebunan-perkebunan milik Eks. Kasunanan dan Mangkunegaran, b. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 1960, Perusahaan Perkebunan RI Eks. Milik Kasunanan dan Mangkunegaran dibubarkan dan digabungkan dengan Pusat Perkebunan Negara (PPN) Baru. Peraturan pemerintah ini dilaksanakan dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 10189/SK/M Tanggal 15 Nopember 1960. 4.1 Periode Tahun 1960-1969 a. Beradasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 141 Tahun 1961, dibentuk Perusahaan Perkebunan Negara, yang merupakan peleburan Pusat Perkebunan Negara (Lama) dan Pusat Perkebunan Negara (Baru) b. Dengan terbitnya Peraturan Pemerintah RI No. 162 dan 163 tahun 1961, dibentuk Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) Kesatuan Jawa Tengah III dan IV yang berkedudukan di Semarang, dan untuk Kebun nama menjadi Gouvernement Landbouw

Politeknik LPP

Praktek Kerja Lapang III

Kerjogadungan, Batu Jamus dan Tarikngarum masuk dalam PPN Jawa Tengah III. c. Beradasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 25 dan 27 Tahun 1963, telah didirikan PPN Karet dan PPN Aneka Tanaman, dan di Jawa Tengah PPN Karet XIII dan XIV serta Aneka Tanaman XI d. Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 13 Tahun 1968, BPU PPN dibubarkan, selanjutnya berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 14 tahun 1968 didirikan Perusahaan Negara Perkebunan Aneka Tanaman Negara disebut PNP XVIII yang terdiri dari BPU Karet + Aneka Tanaman, PPN Karet XIII, PPN Karet XIV dan PPN Aneka Tanaman XI. 5.1 Periode Tahun 1969-1995 a. Berdasarkan Undang-undang RI No. 9 Tahun 1969 tentang bentukbentuk Usaha Negara yang dipergunakan sebagai dasar Perubahan Dasar Hukum Perusahaan Negara menjadi 3 Bentuk Badan Usaha masing-masing Perkebunan Jawatan (PERJAN), Perusahaan Umum (PERUM) dan Perusahaan Perseroan (PERSERO) b. Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 23 Tahun 1972. PNP XVIII dirubah bentuk menjadi Perusahaan Perseroan yaitu PT. Perkebunan XVIII (Persero), yang didirikan berdasarkan Akte Notaris GHS. Loemban Tobing, SH, di Jakarta No. 98 tahun 1973, Tanggal 31 Juli 1973 dan telah disahkan oleh Meneteri Kehakiman RI dengan Surat Keputusan No. Y.A.5/80/23, Tanggal 23 April 1974 serta dimuat dalam Lembaran Berita Negara RI No. 8 Th. 1975. 6.1 Periode Tahun 1995 Sekarang a. Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 14 tahun 1996, yanggal 14 Februari 1996, bahwa PTP XVIII (Persero) dan PTP XV XVI (Persero) telah dilebur menjadi PT. Perkebunan Nusantar IX (Persero) dengan tempat kedudukan di Surakarta. b. Akte Pendirian PTP Nusantara IX ( Persero ) dibuat oleh Notaris Harun Kamil, SH No. 42, Tanggal 11 Maret 1996, dan telah disahkan oleh Menteri Kehakiman RI.

Politeknik LPP

Praktek Kerja Lapang III

c. Dengan Surat Keputusan No. C.2-8337.HT.01.01 Tahun 1996, Tanggal 8 Agustus 1996. d. Berdasarkan Surat Menteri Negara Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN No. S-01/M.DU4-PBUMN/00 Tanggal 17 Januari 2000, tentang Struktur Organisasi PTPN IX (Persero), telah disetujui Penyesuain Struktur Organisasi di PTPN IX (Persero) yaitu pembentukan 2 devisi yakini: Divisi Tanaman Tahunan berkantor di Jl. Mugas Dalam (Atas) Semarang Divisi Tanaman Semusim berkantor di Jl. Ronggowarsito 164 Surakarta. e. Akta pernyataan keputusan rapat PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero) berkedudukan di Semarang dibuat oleh Notaris Ny. Tuti Wardhany, SH Nomor: 56 Tanggal 15 Agustus 2008.

2.2 Visi dan Misi PT Perkebunan Nusantara IX (Persero) Kebun Batujamus/Kerjoarum a. Visi Perusahaan Menjadi perusahaan agrobisnis yang berdaya saing tinggi dan tumbuh berkembang bersama mitra. b. Misi Perusahaan 1. Memproduksi dan memasarkan produk karet, teh, kopi, gula, dan tetes ke pasar domestik dan internasional secara profesional untuk menghasilkan pertumbuhan laba (profit growth) dan mendukung kelestarian lingkungan. 2. Mengembangkan cakupan bisnis melalui diverifikasi usaha, yaitu produk hilir, wisata agro, dan usaha lainnya, untuk mendukung kinerja perusahaan. 3. Mengembangkan sinergi dengan mitra usaha strategis dan masyarakat lingkungan usaha untuk mewujudkan kesejahteraan bersama.

Politeknik LPP

Praktek Kerja Lapang III

2.3 Arah Pengembangan Perusahaan Tujuan PT. Perkebunan Nusantara guna IX (Persero) nilai adalah kepada

menumbuhkembangkan

perusahaan

memberikan

Shareholder dan stakeholder dengan menghasilkan laba yang semakin meningkat (Growing Profit). Perusahaan yang keseluruhan telah memperoleh laba yang lebih besar. Untuk mencapainya bagian-bangian yang masih mengalami kerugian harus diminimalkan, dan pada masa yang akan datang diharapkan tidak ada lagi bagian atau komoditas yang merugi. 3. Letak Geografis PTP Nusanatara IX (Persero) Kebun Batu Jamus/Kerjoarum terletak antara 70 LS-80 LS dan antara 1110 BT-1120 BT. Secara administrartif masuk dalam 3 wilayah yaitu: Kabupaten Sragen, Karanganyar dan Sukoharjo, dengan luas areal 6.943,11 ha termasuk areal lain-lain.

Politeknik LPP

Praktek Kerja Lapang III

4. Struktur Organisasi Kebun Batu Jamus/Kerjoarum


Administratur Batu Jamus/Kerjoarum

Sinder Kepala Batu Jamus Sinder Kantor

Sinder Kepala Kerjoarum

Sinder Afd. Jamus

Sinder Afd. Mojogedang

Sinder Afd. polokarto

Sinder Afd. Kr.gadunga

Sinder Afd. Bat Kerjo

Sinder Afd. Gandugede Ass. Sinder kantor

Sinder Afd. Kedungsumber

Sinder Afd. Kedawung

Sinder Afd. Kepoh

Sinder Afd. Balong

Mandor Besar

Mandor Besar

Mandor Besar

Mandor Besar

Mandor Besar

Mandor Besar

Mandor Besar

Mandor Besar

Mandor Besar

Mandor Besar

Pakam Bat/Krj

pelaksana pelaksana Pembt. pelaksana Lepas teratur pelaksana Pembt. pelaksana Lepas teratur pelaksana Pembt. pelaksana Lepas teratur pelaksana Pembt. pelaksana Lepas teratur pelaksana Pembt. pelaksana Lepas teratur Pembt. pelaksana Lepas teratur

pelaksan a Pembt. pelaksana Lepas teratur

pelaksan a Pembt. pelaksana Lepas teratur

pelaksan a Pembt. pelaksana Lepas teratur

pelaksana Pembt. pelaksana Lepas teratur

pelaksana Pembt. pelaksana Lepas teratur

pelaksana Pembt. pelaksana Lepas teratur

Praktek Kerja Lapang III

BAB III IKHTISAR PUSTAKA

3.1 Pengertian Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) Setiap perusahaan didirikan dengan maksud untuk mencapai tujuan tertentu, dengan memanfaatkan sumber-sumber ekonomi secara optimal. Tujuan perusahaan yang berorientasi laba adalah untuk memperoleh dan mempertahankan kelangsungan kehidupan perusahaan. Oleh karena itu, manajemen perusahaan harus melaksanakan seluruh kegiatan perusahaan dengan sebaik-baiknya. Pada saat ini, banyak perusahaan yang menggunakan anggaran sebagai sistem perencanaan dan dikatakan anggaran merupakan alat bagi manajemen dalam menjalankan fungsinya. Istilah lain dari anggaran adalah profit plan, karena anggaran menunjukkan kegiatan-kegiatan yang direncanakan oleh perusahaan di masa mendatang dengan tujuan untuk memperoleh laba. Anggaran mutlak diperlukan sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan perusahaan. Banyak sekali pengertian mengenai anggaran yang dikemukakan oleh para ahli yang pada dasarnya mempunyai kesamaan, yaitu merupakan suatu rencana yang dinyatakan dalam bentuk satuan uang dan unit mengenai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh suatu perusahaan untuk periode waktu tertentu di masa yang akan datang, umumnya periode yang digunakan dalam penyusunan anggaran adalah satu tahun. Menurut Sofyan Syafri Harahap (2001:15), pengertian anggaran atau budget adalah konsep yang membantu manajemen, ia larut dalam fungsi manajemen, membantu dan mempermudah manajemen dalam mencapai tujuannya. Menurut Any Agus Kana (2003), anggaran perusahaan merupakan rencana tentang kegiatan perusahaan, di mana rencana tersebut mencakup

10

Praktek Kerja Lapang III

berbagai

kegiatan

operasional

yang

saling

berkaitan

dan

saling

mempengaruhi satu sama lain. Menurut Drs Marwan dan Gunawan, anggaran adalah rencana tentang kegiatan perusahaan rencana ini mencakup berbagai kegiatan operasional yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Anggaran perusahaan adalah pendekatan formal dan sistematis dari pelaksanaan tanggungjawab manajemen didalam perencanaan, koordinasi dan pengawasan (Gunawan Adisaputro, 2000). Anggaran merupakan komponen utama dari perencanaan adalah perencanaan keuangan untuk masa depan, anggaran memuat tujuan dan tindakan dalam mencapai tujuan- tujuan (Hansen dan Mowen, 1998). Perencanaan bisnis juga merupakan pedoman untuk mempertajam rencana-rencana yang ditahapkan, karena didalam perencanaan bisnis kita dapat mengetahui posisi perusahan kita saat ini, arah tujuan perusahaan, dan cara mencapai sasaran yang ingin kita capai (Freddy Rangkuti, 2001). Menurut Arif Djamaludin (1997:11), anggaran adalah jenis rencana yang menggambarkan rangkaian tindakan yang dinyatakan dalam bentuk angkaangka dari segi uang untuk suatu jangka waktu tertentu. Sedangkan menurut M. Munandar (2000:1) mendefinisikan bahwa anggaran business budget atau budget (anggaran) adalah suatu rencana yang disusun secara sistematis, yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan, yang dinyatakan dalam unit (kesatuan) moneter dan berlaku untuk jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang. Dari pengertian di atas maka dapat dikatakan bahwa: 1. Anggaran berhubungan erat dengan fungsi-fungsi manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, dan pengendalian. 2. Anggaran merupakan rencana yang akan dilaksanakan oleh suatu organisasi untuk masa yang akan datang dalam jangka waktu tertentu. 3. Anggaran bersifat sistematis dan harus disusun secara berurutan dan logis.

11

Praktek Kerja Lapang III

3.2 Fungsi Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) Menurut buku pedoman peyusunan RKAP tahun 2012, RKAP pada dasarnya merupakan penjabaran secara rinci mengenai sasaran dan kegiatan yang ingin dicapai perusahaan dalam kurun waktu satu tahun mendatang yang dinyatakan dalam unit phisik maupun keuangan (rupiah). Menurut Abdul Halim (2000), RKAP mempunyai sasaran pokok. Hal ini ditinjau dari segi fungsi RKAP sebagai alat untuk perencanaan dan alat kontrol/pengendalian, yaitu memperjelas rencana strategi, membantu koordinasi kegiatan beberapa bagian, dan melimpahkan tanggung jawab kepada manajer untuk memberikan otorisasi jumlah yang diijinkan untuk dikeluarkan dan menginformasikan kinerja yang diharapkan. Menurut M. Munandar (2000:10) manfaat/fungsi RKAP adalah sebagai pedoman kerja, sebagai alat pengkoordinasian kerja, dan sebagai alat pengawasan kerja Sedangkan, menurut Apandi Nasehatun (1999), RKAP mempunyai fungsi sebagai penunjang kebijakan-kebijakan (policies) perusahaan dalam menentukan arah/tujuan/sasaran yang diinginkan, pengendali kegiatan dan pengeluaran, dan sebagai pencegah terjadinya pemborosan penyimpangan. 3.3 Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) Pada dasarnya yang berwenang dan bertanggung jawab atas penyusunan anggaran serta pelaksanaan kegiatan budgeting lainnya ada ditangan pimpinan tertinggi perusahaan. Hal ini disebabkan karena pimpinan tertinggi perusahaanlah yang paling berwenang dan paling bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan secara keseluruhan. Namun demikian tugas

menyiapkan dan menyusun anggaran serta kegiatan lainnya tidak harus ditangani sendiri oleh pimpinan tertinggi perusahaan, melainkan dapat didelegasikan kepada bagian lain dalam perusahaan. Syafri Harahap (2001:83-84) mengemukakan tiga cara pembuatan anggaran ditinjau dari siapa yang membuatnya, yaitu:

12

Praktek Kerja Lapang III

1.

Otoriter atau Top Down Dalam metode otoriter, anggaran disusun dan diterapkan sendiri oleh pimpinan anggaran. Inilah yang harus dilaksanakan bawahan tanpa keterlibatan bawahan dalam penyusunannya. Metode ini ada baiknya jika karyawan tidak mampu menyusun anggaran atau dianggap terlalu lama dan tidak tepat jika diserahkan kepada bawahan. Hal ini bisa terjadi dalam perusahaan yang karyawannya tidak memiliki keahlian cukup untuk menyusun suatu anggaran.

2.

Demokrasi atau Bottom Up Dalam metode demokrasi anggaran disusun berdasarkan hasil keputusan karyawan. Anggaran disusun mulai dari bawahan sampai ke atasan. Bawahan diserahkan sepenuhnya menyusun anggaran yang akan dipakai sebagai pedoman untuk masa yang akan datang. Metode ini dapat digunakan jika karyawan sudah memiliki kemampuan dalam menyusun anggaran dan tidak dikhawatirkan akan menimbulkan proses yang lama dan berlarut.

3.

Campuran atau Top Down dan Bottom Up Metode ini adalah campuran dari kedua metode di atas. Di sini perusahaan menyusun anggaran dengan memulainya dari atas dan kemudian untuk selanjutnya dilengkapi dan dilanjutkan oleh karyawan bawahan. Jadi ada pedoman dari atas atau pimpinan dan dijabarkan oleh bawahan sesuai dengan pengarahan atasan.

13

Praktek Kerja Lapang III

BAB IV PEDOMAN PENYUSUNAN RKAP 4.1 Jadwal Penyusunan RKAP 1) Pertengahan tahun sudah mulai membuat angka dasar RKAP meliputi : a. Areal Konsesi b. Produksi Per Ha Himpunan kebun c. Produksi Himpunan Kebun d. Usul Penghapusan Tanaman Menghasilkan e. Biaya Produksi, Biaya Investasi, Biaya Umum dan Biaya Investasi non tanaman. 2) Dikirim ke kantor direksi sekitar bulan JuliAgustus. Di bahas Tim Penyusunan RKAP Kandir sehingga menghasilkan pedoman RKAP yang dikirim ke kebun-kebun. 3) Setelah pedoman turun, kebun membuat RKAP tahunan. RKAP tahun 2012 dari kebun-kebun dalam bentuk tahunan paling lambat diterima dari kantor direksi tanggal 10 Agustus 2012 sebanyak tujuh eksemplar dengan perincian sebagai berikut : 1. Biro SPI 2. Bagian Tanaman 3. Bagian Tekhnik dan Pengolahan 4. Bagian Pembiayaan 5. Bagian Pemasaran dan Pengadaan 6. Bagian Personalia dan Umum 7. Bagian Bagian Perencanaan dan Pengembang = 1 Expl. = 1 Expl. = 1 Expl. = 1 Expl. = 1 Expl. = 1 Expl. = 1 Expl.

4) RKAP yang dikirim ke Kantor Direksi selanjutnya dibahas kembali dengan Kantor Direksi dengan memperhitungkan kinerja perusahaan dan

13

Praktek Kerja Lapang III

diajukan ke Dewan Komisaris untuk mendsapatkan persetujuan, selanjutnya dibuat Break Down RKAP. 4.2 Pedoman Penyusunan RKAP Berdasarkan surat keputusan Direksi PTPN IX (Persero)

No.PTPN.IX/SE/113/2012 Tanggal 18 juli 2012 tentang break down RKAP mengenai pedoman penyusunan RKAP tahun 2012 divisi tanaman tahunan. Yang di dalamnya sudah ada pengarahan RKAP 2013 mengenai budidaya seperti karet, kayu, teh, kopi dan areal mengenai pembibitan, penanaman, pemeliharaan, panen. Terdapat juga rencana pengolahan, bagian Personalia dan umum. 4.3 Petunjuk penyusunan RKAP RKAP merupakan penjabaran mengenai sasaran dan kegiatan yang ingin dicapai perusahaan dalam waktu satu tahun mendatang yang dinyatakan dalam unit fisik maupun rupiah. RKAP mempunyai fungsi sebagai berikut : 1. Pedoman kerja bagi seluruh unit atau bidang yang ada di perusahaan 2. Alat pengawasan manajemen Oleh karena itu penyusunan RKAP harus cermat dan serealistis mungkin dengan berpedoman pada Cost Effectiveness agar perusahaan tetap Goingconcern bahkan dapat berkembang menjadi profit oriented. 4.4 Proses penyusunan RKAP Adapun proses penyusunan RKAP di PTP Nusantara IX (Persero) Kebun Batujamus/Kerjoarum adalah: 1. Meneliti himpunan Areal Konsesi (TM, TBM, pembibitan, lahan cadangan, dst) dirinci per Komiditi dan Afdeling 2. 3. Merencanakan produksi dan investasi Kantor Direksi menyusun pedoman mengenai rencana produksi, biaya produksi, biaya investasi tanaman, biaya umum dan biaya investasi non tanaman.

14

Praktek Kerja Lapang III

4.

Dengan berpedoman Pedoman Penyususnan Anggaran kebun-kebun menyusun rencana produksi, biaya produksi, biaya investasi tanaman, biaya umum dan biaya investasi non tanaman. Kebun fisik meliputi: areal konsensi, produksi per kualitas, dll.

5. 6. 7. 8.

Dibuat RKAP tahunan. Dibahas di kantor direksi. Dibuat RKAP breakdown. RKAP dapat dijalankan

15

Praktek Kerja Lapang III

BAB V PENYUSUNAN RKAP PERUSAHAAN

5.1 Areal Konsesi Areal konsensia adalah areal yang dioperasionalkan perusahaan. Sebelum RKAP dibuat harus ada areal konsensinya terlebih dahulu yang meliputi: areal TM, TBM, TTI, TTAD, Cadangan TU dan areal lainya. 5.2 Rencana areal konsensi Menyusun areal konsesi merupakan langkah awal penyusunan RKAP. Bagian yang penting dalam menyusun areal konsesi yaitu bagian afdeling. Dari susunan areal konsesi per afdeling, kemudian dihimpun menjadi himpunan areal konsesi kebun. himpunan areal konsesi kebun dan luas areal konsesi kebun Batujamus/Kerjoarum tahun 2012 : 1. Areal Tanaman yang dioperasikan a. Tanaman Menghasilkan (TM) yaitu seluas 2,822,53 Ha b. Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) yaitu seluas 575,92 Ha c. Tanaman Pohon Berkayu Areal Monokultur : Tanaman Dalam Pemeliharaan (TDP) yaitu seluas 28,85 Ha 2. Areal Lain-lain yaitu seluas 186.25 Ha 3. Cadangan TU 362,57 4. Total areal konsesi yaitu seluas 3976,12 Ha 5.3 Rencana Produksi Setelah disusun areal konsensi menentukan produksi per afdeling. Himpunan areal konsesi dan rencana produksi mempunyai hubungan yang sangat erat, karena penyusunan rencana produksi mengacu pada luas areal konsensi yang ada. Dalam rencana produksi ada himpunan rencana produksi kebun budidaya karet, (RKAP-3) di dalamnya terdapat luas areal produksi per afdeling. Produksinya terdiri dari produksi kering dan produksi basah (Latek kebun, Lump) terdapat juga produksinya per /Ha. Setiap afdeling dicatat secara rinci rencana produksinya. Rencana produksinya dibagi per bulan, selain itu dicatat juga rencana produksi karet per kwalitasnya.
16

Praktek Kerja Lapang III

Penyusunan rencana produksi dimulai dengan mempelajari himpunan areal konsesi. Areal TM dan TBM diperinci per tahun tanam tiap-tiap budidaya dan afdeling. Rincian-rincian dari setiap afdeling yang disimpulkan dalam formulir Himpunan Areal Konsesi diperoleh dari areal Konsesi Afdeling. (Pedoman RAB, 1989)

5.4 Rencana Biaya Produksi (RKAP 7) Rencana biaya produksi merupakan hal yang penting dalam menghitung dan mengetahui harga pokok dan juga merupakan himpunan biaya dari anggaran belanja biaya tanaman, berdasarkan rencana produksi tanaman dan rencana produksi pabrik, anggaran belanja gaji, upah, biaya sosial karyawan (Pedoman RAB, 1989). Adapun komponen- komponen biaya produksi antara lain sebagai berikut : 1. Biaya karyawan pimpinan dan tata usaha 2. Biaya tanaman 3. Biaya angkut 4. Biaya panen dan pengumpulan 5. Biaya pengolahan atau pabrikasi Isi dari rencana biaya produksi (RKAP-7) perhitungan luas areal, rencana biaya produksi seperti contohnya karet adalah produksi basah dan produksi kering dijabarkan seperti dalam produksi basah yaitu rencana produksi Lateks, Lump dan produksi kering lalu dijumlah. Dalam biaya produksi berisi gaji dan tunjangan karyawan pimpinan, pemeliharaan tanaman menghasilkan (TM), panen dan pengumpulan, angkutan ke pabrik serta biaya pengolahan, biaya produksi per/kg, biaya produksi per/Ha. Harga pokok per kg diperoleh dari jumlah biaya produksi dibagi jumlah produksi sedangkan untuk biaya produksi per/Ha diperoleh dari jumlah biaya produksi dibagi luas areal Tanaman Menghasilkan.

17

Praktek Kerja Lapang III

5.5 Rencana Pemeliharaan Tanaman Menghasilkan (RKAP 8) Rencana kerja anggaran perusahaan Tanaman menghasilkan (TM) adalah biaya yang direncanakan untuk membiayai seluruh kegiatan pemeliharaan Tanaman Menghasilkan (TM). 1. RKAP 8 Rencana Anggaran Biaya Tanaman Menghasilkan Di dalam RKAP 8 ini terdapat : 1) Gaji dan tunjangan karyawan pimpinan ( Rekening 600 ) 2) Pemeliharaan Tanaman Menghasilkan ( Rekening 601) yang terdiri dari : a) Gaji dan tunjangan mandor b) Pemeliharaan jalan, saluran air, teras c) Penanaman atau penyisipan d) Penyiangan e) Pemberantasan hama penyakit f) Pemupukan g) Biaya beban langsung h) Lain-lain Uraian hal tersebut dirinci dalam RKAP 24 3) Panen dan angkutan ( Rekening 602 ) a. Panen dan pengumpulan b. Angkutan ke pabrik c. Biaya umum

5.6 Rencana Biaya Pengolahan per Budidaya (RKAP 10) Mencakup pengolahan kwalitas RSS, Crepe, dan Brown Crepe terdiri: a. Gaji staf teknis b. Pemakaian tenaga kerja dan bahan pendukung c. Pemeliharaan bangunan dan mesin pabrik d. Biaya pengepakan

5.7 Rencana Biaya Investasi Tanaman (RKAP 11) Memuat:

18

Praktek Kerja Lapang III

a. Rencana TTAD b. Rencana TTI c. Rencana Pemeliharaan TBM d. Pemeliharaan Pembibitan dan Entrys Dirinci dalam RKAP 39,41,43

5.8 Rencana Investasi non Tanaman (RKAP 12) Memuat: Rencana pembangunan sarana/ prasarana

5.9 Rencana Anggaran Kas (RKAP 13) Berisi tentang rincian Rencana Pengeluaran kas untuk kegiatan operasional perusahaan yang terdiri dari uang kerja rutin dan non rutin yang dibuat dalam setiap bulan.

5.10 Rencana Biaya Gaji, tunjangan dan Biaya Sosial Pegawai Staf (RKAP 14,15,16) Rencana gaji atau tunjangan biaya sosial karyawan pimpinan dan staf.

5.11 Rencana Belanja Premi dan Lembur (RKAP 17) Memuat rencana Pengeluaran pembiayaan premi dan lembur.

5.12 Rencana Gaji, Tunjangan, biaya sosial (RKAP 18) Memuat biaya gaji dan tunjangan karyawan pelaksana untuk golongan IB sampai dengan IID. 5.13 Biaya Gaji Tunjangan dan Biaya Sosial Pembantu Pelaksana (RKAP 19) Biaya gaji dan tunjangan karyawan pembantu pelaksana untuk golongan IA. (RKAP 19-1) Biaya gaji karyawan Harian Lepas Teratur (RKAP 19-2) Biaya gaji dan karyawan Harian Lepas Lainya (RKAP 19-3)

19

Praktek Kerja Lapang III

5.14 RKAP Gaji, Tunjangan, Biaya Sosial dan Premi (RKAP 20) Memuat TTAD, TTI, TBM, Kendaraan, Poliklinik, Rumah Dinas, Mesin, dll. 5.15 RKAP Phisik HKO dan Karyawan Pelaksana, Pembantu Pelaksana, HLT (Harian Lepas Teratur) dan HLL (Harian Lepas Lainnya) (RKAP 21) RKAP 21 ini berisi jumlah HKO TTI, TBM karet, EAP JEEP, ENTRYS, poliklinik, instalasi listrik, instalasi pompa air, TU kantor, pemeliharaan bangunan perusahaan, pemeliharaan bengkel,

keamanan, TM karet, panen karet, pengolahan LP, pengolahan SKIM, pengolahan BRCR, pengolahan SHEET, pemeliharaan pabrik LP, pemeliharaan instasi mesin LP, pengepakan BRCR, dan lain-lain lalu ditotal hko per unit nya untuk mengetahui jumlah HKO seluruhnya. 5.16 Rencana Pemakaian barang bahan (RKAP 22) Di dalam RKAP 22 ini terdapat Rencana Anggaran pupuk, bahan kimia, bahan bakar atau pelumas, alat pertanian, bahan pembungkus, bahan catu, barang-barang keperluan instalasi air, barang-barang keperluan pembangkit listrik / air dan lain-lain. Pengadaan barang atau bahan ini untuk Pemeliharaan Tanaman menghasilkan, investasi tanaman, pemeliharaan eksploitasi alat angkut dan lain-lain dalam operasionalnya memerlukan barang atau bahan. 5.17 Biaya Pemeliharaan Tanaman Menghasilkan (RKAP 24) Dalam RKAP 24 ini isinya sama dengan RKAP 8 tetapi dalam RKAP ini dibuat lebih rinci seperti halnya pada pemeliharaan jalan, saluran air, pemeliharaan teras, menyiangi, pembasmian hama, pemupukan dan lain-lain serta ada penambahan rincian tentang bahan alat.

5.18Biaya Panen ( RKAP 28) RKAP 28 ini berisi mengenai rencana biaya-biaya yang dikeluarkan untuk panen dan pengangkutan ke pabrik dari alat sampai tenaganya.

20

Praktek Kerja Lapang III

5.19Biaya Umum (RKAP 33) RKAP 33 berisi rencana anggaran belanja biaya umum yang merupakan semua pengeluaran yang harus dibayar sebagai biaya, yang terdiri dari biaya-biaya yang tidak langsung mempengaruhi produksi sehingga biaya umum merupakan uraian dari rekening netral. Dalam RKAP 33 terdiri dari : a. Gaji, tunjangan sosial karyawan pimpinan (Rekening 400 ) b. Gaji, tunjangan sosial karyawan pelaksana (Rekening 401) c. Honorarium (Rekening 402) d. Biaya pemeliharaan bangunan rumah dinas ( 410) e. Pemeliharaan gedung perusahaan ( 411) f. Pemeliharaan perlengkapan invetaris kecil (Rekening 414) g. Iuran dan sumbangan (Rekening 420) h. Pajak (Rekening 421) i. Asuransi (Rekening 422) j. Biaya peneragan (424) k. Biaya lain-lain (Rekening 426)

5.20 Himpunan HKO Pengolahan (RKAP 34) RKAP 34 berisi semua anggaran phisik dan biaya pengolahan yang memuat: Pengolahan Sheet, Pengolahan Crepe, Pengolahan BR.CR, Pemeliharaan Bangunan Pabrik, Pemeliharaan Mesin, Pengepakan atu Letter. 5.21 Himpunan Barang Bahan Pengolahan (RKAP35) Himpunan Alokasi Kebutuhan Barang atau Bahan Pengolahan memuat: Pengolahan RSS, Pengolahan Crepe, pengolahan Br.Cr, Pemeliharaan Bangunan Pabrik Sheet, Pemeliharaan bangunan Pabrik Crepe, Pemeliharaan Bangunan Pabrik Br.Cr, dll.

5.22 Biaya Pemeliharaan TBM (RKAP 41)

21

Praktek Kerja Lapang III

Biaya Pemeliharaan TBM meliputi: pemeloharaan jalan, buat sal air, berantas lalang, menyiang golma, memupuk, menunas, dll. Serta bahan meliputi, urea, pupuk kandang, herbisida, dll. 5.23 EAP Angkutan (RKAP 50) EAP Angkutan memuat: biaya pengangkutan penumpang, biaya perjalanan. 5.24 Biaya Poliklinik (RKAP 52) Biaya Klinik memuat: Honorarium Dokter, Gaji/Upah dan Biaya Sosial, Obat-obatan dan Obat Bius, Biaya Angkutan dll. 5.25 Biaya Pembangkit Listrik (RKAP 53) Biaya Pembangkit Tenaga Listrik memuat: Gaji/ Upah dan Biaya Sosial, Bahan Bakar, Oli, Pemeloharaan Mesin dan Perlengkapan, dll 5.26 Biaya Instalasi Air (RKAP 54) Rencana Biaya Instalasi Air memuat: Gaji/ Uapah dan Biaya Sosial, Bahan Bakar, Minyak Pelumas, Pemeliharaan Mesin dan

Perlengkapan, Pemeliharaan Instalasi Air, dll

22

Praktek Kerja Lapang III

BAB VI PEMBAHASAN

Dalam penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) diperlukan adanya suatu kerjasama dengan bagian-bagian yang terkait dalam suatu kebun. Kerjasama tersebut dibutuhkan untuk mendapatkan suatu informasi yang akan digunakan dan dasar dalam menyusun RKAP. Anggaran merupakan suatu alat pengendalian yang berguna, tetapi harus memperhatikan dua pertimbangan, hal ini dikemukakan oleh Hansenet all (2004) dan Mowen: Anggaran adalah alat pengendalian yang berguna. Tetapi, agar dapat digunakan dalam evaluasi kinerja, dua pertimbangan utama harus diperhatikan. Pertama adalah menetapkan bagaimana jumlah yang dianggarkan seharusnya

dibandingkan dengan hasil aktual. Pertimbangan kedua melibatkan dampak anggaran atas perilaku manusia. Penyusunan Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) di PTPN IX (Persero) kebun Batujamus/Kerjoarum sudah berdasarkan pada standar yang sudah ada, dan mengacu pada ketentuan yang telah ditetapkan oleh kantor Direksi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) adalah: 1. Perencanaan Perencanaan merupakan rangkaian proses pengambilan keputusan dari berbagai kebijaksanaan dalam usaha mencapai tujuan, jadi RKAP disusun sebagai perencanaan sehingga dapat digunakan sebagai pedoman kerja. 2. Koordinasi Koordinasi merupakan suatu koordinasi kesatuan antara satu bagian

dengan bagian yang lain, koordinasi hanya dalam konsep penyediaan data yang ada atau yang dibutuhkan, sedangkan dalam pelaksanaan penyusunannya dilakukan oleh kantor induk. Bagian yang terlibat didalamnya ialah bagian tanaman, bagian tehnik dan bagian keuangan. 3. Pengawasan

23

Praktek Kerja Lapang III

Pengawasan merupakan pemeriksaan atas data akuntansi sebagai siasat untuk membandingkan antara realisasi dengan anggaran yang telah direncanakan. Berfungsi untuk mencapai tujuan perusahaan agar efektif dan efisien. Pengawasan harus dilakukan sebaik mungkin, baik yang terkait di kantor direksi maupun di kebun sehingga penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dapat diminimalisir. Agar RKAP berfungsi secara efektif, maka dalam penyusunannya harus dilakukan dengan cermat dan serealistis mungkin, artinya dengan biaya tertentu, target harus dapat dicapai. Efisiensi biaya harus terus dilakukan, diimbangi dengan peningkatan jumlah produksi. Dengan begini, harga pokok diharapkan dapat dibawah anggaran.

6.1

Areal Konsesi Luas areal konsensi Kebun Batu jamus tahun 2012 terdiri dari: Areal Tanaman yang dioperasikan d. Tanaman Menghasilkan ( TM ) yaitu seluas 2,822,53 Ha e. Tanaman Belum Menghasilkan ( TBM ) yaitu seluas 575,92 Ha f. Tanaman Pohon Berkayu Areal Monokultur : Tanaman Dalam Pemeliharaan ( TDP ) yaitu seluas 28,85 Ha 5. Areal Lain-lain yaitu seluas 215,10 Ha 6. Total areal konsesi yaitu seluas 6,943,11 Ha

6.2 Biaya Produksi Salah satu cara untuk menyajikan informasi biaya yaitu dengan menggunakan pengelompokan biaya. Dengan adanya pengelompokan biaya, manajemen akan lebih mudah dalam mengadakan pengawasan dan pengendalian biaya. Selain itu pengelompokan dapat dijadikan dasar untuk mengadakan perbandingan antara biaya sesungguhnya dengan biaya yang telah dianggarkan, serta mempermudah pengalokasian biaya pada setiap pos atau bagian yang bersangkutan. Untuk dapat mengetahui posisi biaya produksi pada PT Perkebunan Nusantara IX (Persero) Kebun Batujamus/Kerjoarum maka terlebih dahulu harus mengetahui bagaimana pengelompokan biaya-biaya yang terjadi pada

24

Praktek Kerja Lapang III

perusahaan. Dalam pengelompokan biaya produksi tersebut, PT Perkebunan Nusantara IX (Persero) Kebun Batujamus/Kerjoarum menggunakan kodekode rekening. Dengan adanya sistem kode rekening tersebut, akan lebih memungkinkan pemasukan dan pembebanan berbagai macam biaya dapat dilakukan secara tepat ke dalam rekening pembukuan. Berikut ini diuraikan mengenai penggolongan biaya produksi beserta kode rekening yang terdapat pada PT Perkebunan Nusantara IX (Persero) Kebun Batu jamus, yaitu: Tabel 2 : Penggolongan biaya produksi beserta kode rekening

No. Rekening 600.00..00 601.00..00/99 602.00..00/09 602.00..10/19 400. . ./460. . . 603.00/607.00

Nama Rekening Gaji, Tunjangan, dan Sosial Karyawan Pimpinan Pemeliharaan Tanaman Menghasilkan Panen dan Pengumpulan Pengangkutan ke Pabrik Biaya Umum Biaya Pengolahan

Tujuan dari pengklasifikasian biaya adalah untuk mempermudah suatu perusahaan dalam melakukan pengendalian pada masing-masing bagian agar mencapai tingkat efisiensi dan efektifitas dalam pengelolaan sumer-sumber perusahaan yang tentunya diarahkan untuk mencapai tujuan perusahaan yang maksimal. 6.3 Harga Pokok Kebun Dalam menentukan harga pokok antara harga pokok kebun dengan harga pokok kantor direksi harus disesuaikan terlebih dahulu, karena berdasarkan tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa biasanya harga pokok kebun lebih tinggi dari harga pokok kantor direksi. Untuk menyesuaikan harga pokok sesuai dengan yang dikehendaki kantor direksi, maka penyusunan RKAP langsung disusun oleh kantor induk, yaitu dengan meningkatkan jumlah produksi dan mengurangi sektor-sektor biaya maupun pekerjaan yang tidak begitu penting.

25

Praktek Kerja Lapang III

Untuk menghitung harga pokok kebun adalah sebagai berikut :

Budidaya Karet: Luas Areal : TM Karet 2,822,53 Ha Produksi Kering - LATEKS PEKAT = 4,169,500 Kg - LUMP = 790,000 Kg 4,959,500 Kg Biaya Tanaman : Rp 45.219.570,00 Biaya Produksi : Rp 54.692.491,00 Maka: Harga Pokok produksi/kg = =
Jumlah Biaya Produksi Jumlah Produksi

Rp 54.692.491,00 4,959,500 kg

= Rp 11,028. /kg Biaya Tanaman/Ha =


Jumlah Biaya Tanaman Jumlah Luas Areal

= Rp 45.219.570,00 2,822,53 Ha = Biaya Produksi/Ha = Rp 16,021 Ha


Jumlah Biaya Produksi Jumlah Luas Areal

Rp 54.692.491,00 2,822,53 Ha

= Rp 19,377/Ha

26

Praktek Kerja Lapang III

6.4 Laporan Laba Rugi Laporan laba atau rugi merupakan gambaran hasil usaha yang dicapai pada periode tertentu yang merangkum kegiatan-kegiatan operasional perusahaan. Laporan laba atau rugi ini berisi seluruh pendapatan dan biayabiaya selama periode tertentu, biasanya satu tahun fiskal. Laporan laba rugi ini digunakan sebagai: 1. 2. 3. Tolak ukur keberhasilan perusahaan Penaksiran keberhasilan perusahaan di masa yang akan datang Penilaian tingkat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba Di bawah ini akan dijelaskan perhitungan rencana laba dan rugi kebun batu jamus khusus untuk budidaya karet (dalam ribuan rupiah) tahun 2011 1. Pendapatan (Budidaya Karet) Pendapatan 2. Harga Pokok Penjualan Biaya Produksi Rp 54,692,491 Rp 150,929,984

Penyusutan Aktiva Tetap Rp 9,055,800 Rp (63,748,291) Laba Kotor GPM (%) 3. Biaya Usaha Biaya Penjualan (3,50% x Rp 150,929,984) = Rp 5,282,549 Biaya Administrasi (6,50% x Rp 150,929,984) = Rp 14,2400,881 (Rp 19,523,430) Laba Usaha Kotor Rp 67,658,268 Rp 87,181,693 % 57,76

27

Praktek Kerja Lapang III

4.

Pendapatan (biaya) lain-lain Pendapatan lain-lain Biaya lain-lain -

Laba Bersih Usaha Pendapatan Luar Biasa/Penjualan Aset Laba/Rugi Sebelum Pajak Pajak Teoritis Laba Rugi Setelah Pajak

Rp 67,658,263 Rp -

Rp 67,658,263 Rp -

Rp 67,658,263

Dari hasil perhitungan di atas, perusahaan mencapai laba (sebelum pajak) sebesar Rp 67,658,263. Hal ini dapat diperoleh dengan cara melakukan penekanan terhadap biaya-biaya dan peningkatan terhadap pendapatan. 6.5 Perbandingan Anggaran 2011 Dengan 2012 TABEL 3 : Perbandingan Anggaran Tahun 2011 dan Tahun 2012 (Dalam Ribuan Rupiah) Keterangan Anggaran Tahun 2011 Produksi inti (kg) Luas Areal (Ha) Biaya Tanaman : Gaji,Tunj&Biaya Sosial Staf Biaya Pemeliharaan TM Biaya Panen & Pengumpulan Biaya Pengangkutan ke Pabrik Biaya umum Jumlah Biaya Tanaman Biaya Pengolahan Jumlah Biaya Produksi 4.441.500 2.639,75 Anggaran Tahun 2012 4.959.500 2.822,53 518.000 182,78 Selisih % (Naik/ turun) 11,66% 6,92% 21,69% 1,58% 13,24% 12,97% 9,66% 4,89% 7,20%

1.208.888

1.471.094

262.206 168.234 3.653.938 234.022 3.981.932 409.657 3.572.275

10.628.822 10.460.588 27.595.793 31.249.731 1.804.135 2.038.157

41.237.638 45.219.570 8.380.676 7.971.019 49.618.314 53.190.589

28

Praktek Kerja Lapang III

Berdasarkan hasil perbandingan tabel 1 (analisis komparatif) diatas, anggaran biaya tahun 2012 jika dibandingkan dengan anggaran biaya tahun 2011 mengalami peningkatan sebesar 7,20% atau sebesar biaya Rp 3.572.275,00 yaitu dari Rp 49.618.314,00 menjadi Rp 53.190.589,00 . Hal ini disebabkan oleh adanya peningkatan dan penurunan. Pada peningkatan disebabkan adanya biaya gaji, Tunjangan & biaya Sosial Staf, biaya panen & pengumpulan, sedangkan yang menyebabkan penurunan Biaya Pemeliharaan Tanamana Menghasilkan, dan Biaya Pengolahan. Dari hasil rencana produksi pada tabel tersebut dapat diketahui harga pokok per kg untuk hasil tahun 2011 dapat diketahui harga pokok per kg sebesar Rp 11,740 per kg. Untuk menghitung harga pokok per kg menggunakan rumus sebagai berikut : Harga Pokok per Kg =

29

Praktek Kerja Lapang III

BAB VII PENUTUP

7.1 Kesimpulan 1. Anggaran produksi tahun 2011 jika dibandingkan dengan tahun 2012 mengalami peningkatan sebesar Rp. 11,66% atau sebesar biaya Rp 518.000.000,00. Disebabkan karena sesuai ketentuan dari kantor Direksi bahwa target produksi tiap unit kebun mengalami peningkatan setiap tahunnya. 2. Anggaran Biaya tahun 2011 jika dibandingkan dengan anggaran biaya tahun 2012 mengalami peningkatan sebesar 7,20% dari RKAP 2011 atau sebesar biaya Rp. 3.572.275,00. Hal ini disebabkan karena target produksi yang meningkat sehingga menyebabkan adanya peningkatan pada biaya pemeliharaan Tanaman, biaya panen dan pengumpulan serta biaya Pengolahan.

30

Praktek Kerja Lapang III

DAFTAR PUSTAKA

Adisaputro, Gunawan dan. Asri, Marwan. 2000. Angaran Perusahaan (Business Budgeting), Prinsip, Mekanisme dan Teknik Penyusunannya. Yogyakarta: BPFE. Djamaludin, Arif. 1997. Sistem Pembuatan Program dan Anggaran. Jakarta: Chalia Indonesia. Foster, Douglas. 1980. Manajemen Perusahaan. Jakarta: Erlangga. Halim, Abdul. 2000. Dasar-Dasar Akuntansi Biaya. Yogyakarta: BPFE. Hansen, Don R dan Mowen, Maryane H. 2004. Management AccountingAkuntansi Manajemen. Jakarta: Salemba Empat. Harahap, Sofyan Syafri. 2001. Budgetting Peranggaran Perencanaan Lengkap. Jakarta: PT Raja Grafindo. Kana, Any Agus. 2003. Anggaran Perusahaan. Yogyakarta: Penerbit AK Group. Krismiadji. 2002. Dasar- dasar Akuntansi Manajemen. Yogakarta: AMP YKPN. Munandar. 2000. Budgetting. Yogyakarta: BPFE. Nasehatun, Apandi. 1999. Budget & Control, Sistem Perencanaan dan Pengendalian Terpadu, Konsep dan Penerapannya. Jakarta: Grasindo. Rangkuti, Freddy. 2001. Business Plan, Teknik Membuat Perencanaan Bisnis dan Analisis Kasus. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Buku Petunjuk Praktek Kerja Lapangan III Program Studi Akuntansi.Yogyakarta 2011. Buku Profil PT Perkebunan Nusantara IX Kebun Batujamus/Kerjoarum, Karanganyar. 2011. RKAP PT Perkebunan Nusantara IX (Persero) Divisi tanaman tahunan Kebun Batu jamus/Kerjoarum.

31