Anda di halaman 1dari 4

Keynote speaker Menteri Hukum dan HAM R.

I pada kegiatan Rakornas Kelitbangan Pemdagri Tahun 2013


Yang saya hormati, Menteri Dalam Negeri Menteri Negara Riset dan Teknologi Gubernur Jambi Para Pejabat Eselon I & II di lingkungan Kementerian Dalam Negeri Para Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian/Lembaga Para Peserta Rapat koordinasi nasional Penelitian dan Pengembangan Pemerintahan Kemeterian Dalam Negeri Dan hadirin sekalian Assalamualaikum wr.wb. Setelah perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, prospek penetapan otonomi daerah memiliki pijakan dasar hukum yang kuat dalam rangka membentuk perundang-undangan. Hal penting sebagaimana ditetapkan dalam pasal 18 (1) UUD 1945 yang menyatakan Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas Kabupaten dan kota, yang tiaptiap provinsi, kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan Undang-Undang. Pemerintah Daerah dalam menyelenggarakan otonomi daerah tersebut memiliki kewenangan untuk menetapkan Peraturan Daerah dan PeraturanPeraturan lain guna melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan. Kebijakan desentralisasi sesuai Undang-Undang 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 tahun 2008 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004, menuntut adanya sinergi kewenangan pusat dan
1

daerah. Pembangunan nasional yang didorong pertumbuhan ekonomi tidak terlepas dari pemanfaatan hasil-hasil riset dengan menerapkan praktikpraktik terbaik dan prinsip Pemerintahan yang baik dengan dukungan peraturan yang baik pula. Regulasi merupakan instrumen yang sangat penting dalam menjamin kepastian hukum bagi masyarakat dan melindungi hak asasi manusia setiap warga negara. Untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara hukum, negara berkewajiban melaksanakan pembangunan hukum nasional yang dilakukan secara terencana, terpadu, dan berkelanjutan dalam sistem hukum nasional yang menjamin perlindungan hak dan kewajiban segenap rakyat Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kenyataan ini tidak dapat dihindari dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang menjujung tinggi hukum sebagai panglima. Hadirin yang berbahagia, Berbagai jenis peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh lembaga yang memiliki kewenangan untuk membentuknya, yaitu Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bersama-sama dengan Presiden untuk pembentukan pada tingkat Undang-Undang, Pemerintah untuk membentuk peraturan pemerintah dan peraturan daerah oleh DPRD bersama-sama Gubenur, Bupati/Walikota, tentunya bukan hanya sekedar merumuskan kata-kata hampa tanpa maksud dan tujuan melainkan untuk menjadikannya sebagai norma yang mengikat dan harus dipatuhi oleh setiap warga negara. Oleh karena peraturan perundang-undangan (sering disebut sebagai regulasi) yang memiliki peran demikian penting dalam penyelenggaraan pemerintahan di pusat maupun di daerah karena itu proses pembentukannya pun perlu dilakukan dengan teliti, cermat dan kehati-hatian, juga tidak kalah pentingnya dalam pembentukan peraturan perundang-undangan perlu mengakomodir partisipasi masyarakat agar peraturan perundang-undangan yang berlaku sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Sehingga diharapkan Peraturan perundang-undangan tersebut berjalan dengan baik dan efektif.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa dalam rangka pembentukan peraturan perundang-undangan maka sebagai kitab sucinya adalah Undang-Undang Nomor 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan maupun peraturan pelaksana/turunan lainnya. Salah satu poin penting dalam pembentukan peraturan perundang-undangan adalah pentingnya Naskah Akademis (NA) sebagai landasan terhadap mengapa peraturan perundang-undangan tersebut diadakan, diubah maupun disempurnakan. Pembahasan Naskah Akademis di tingkat pusat pada umumnya (selama ini) dilakukan oleh Kementerian Hukum dan HAM dalam hal ini oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN), sedangkan di daerah dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah dengan bekerjasama dengan kalangan akademisi. Naskah akademis disusun berdasarkan penelitian yang mendalam agar peraturan perundang-undangan yang dilahirkan sesuai dengan nilai filosofis, sosiologis maupun yuridis. Atas hal tersebut diatas maka peran penelitian oleh peneliti disamping perancang peraturan perundang-undangan dalam pembentukan peraturan perundang-undangan menjadi sangat penting dan strategis. Para hadirin yang terhormat, Karena itu penelitian yang dilakukan oleh Badan/lembaga yang melaksanakan fungsi penelitian dan pengembangan (pada hal ini oleh kementerian, lembaga non kementerian maupun lembaga penelitian dan pengembangan daerah/Balitbangda juga oleh pihak Perguruan Tinggi) dapat memberikan kontribusinya secara aktif, baik kepada legislatif maupun eksekutif. Memperhatikan hal demikian maka menjadi penting untuk memperhatikan kualitas dan kapabilitas sumber daya manusianya maupun peningkatan sarana dan prasarana juga tersedianya peran tugas dan fungsi penelitian dan pengembangan pada unit utama maupun unit setingkat Kantor Wilayah di daerah sehingga kedepan diharapkan peran penelitian dan pengembangan lebih berperan aktif dalam pembentukan peraturan perundang-undangan juga dalam rangka menangkap isu-isu aktual yang dihadapi pemerintah dewasa ini. Sekali lagi disinilah perlunya penelitian dan pengembangan terhadap setiap keinginan pembentuk peraturan perundang-undangan dalam merancang dan merumuskan peraturan peraturan perundang-undangan (regulasi). adanya kajian yang mendalam dan proposional terhadap suatu rancangan
3

kebijakan /regulasi maka diharapkan dapat menghindari atau setidaktidaknya meminimalisir keberatan-keberatan yang disampaikan oleh berbagai pihak baik terhadap regulasi yang dibuat oleh pemerintah pusat maupun daerah, atau setidak-tidaknya dengan dilakukan penelitian secara akurat maka dapat menghindari evaluasi yang berujung pada pembatalan oleh Kementerian Dalam Negeri (khususnya terhadap Peraturan Daerah) maupun adanya judicial review ke lembaga yudisial (baik ke Mahkamah Konstitusi maupun ke Mahkamah Agung). Sebagai contoh, saat ini terdapat ribuan Peraturan Daerah yang telah dibatalkan oleh Kementerian Dalam Negeri, bahkan bukan tidak mungkin dari waktu ke waktu akan bertambah seiring dengan semakin banyaknya peraturan daerah yang sedang dilakukan evaluasi, juga tidak sedikit Peraturan daerah yang saat ini sedang dilakukan uji materi ( Judicial Review) ke Mahkamah Agung. Dengan demikian, untuk ke depan di dalam pembuatan suatu peraturan perundang-undangan, baik undang-undang maupun peraturan daerah, sangat membutuhkan dukungan dari hasil penelitian dan pengembangan ( researchbased policy) serta diperlukan adanya koordinasi antara lembaga eksekutif dan legislatif selaku pihak yang memiliki kewenangan dalam pembentukan peraturan perundang-undangan dengan Badan penelitian yang ada baik di Pusat maupun di Daerah dan dari kalangan akademisi.

Wassalaamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Jakarta, Maret 2013 Menteri Hukum dan HAM RI

Dr. Amir Syamsudin, SH, MH