Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dengan berbagai macam perkembangan teknologi terutama di bidang Teknik Sipil yang maju dengan pesat seiring dengan perkembangan tuntutan kebutuhan hidup seseorang sesuai dengan status sosialnya, maka transportasi merupakan suatu aktivitas yang harus dan selalu dilakukan dengan baik. Hal ini harus diimbangi oleh prasarana (jalan) yang memadai. Oleh karena itu dalam merencanakan suatu jalan harus memenuhi kriteria awet, kuat, aman, nyaman, dan murah. Diungkapkan Wahyu H.M, ST, (2009). Dengan kebutuhan dan status sosial yang terus meningkat, maka harus diimbangi dengan peningkatan jaringan transportasi. Jaringan jalan merupakan aspek penting dalam kaitannnya jaringan transportasi tersebut. Maka jaringan jalan haruslah memadai baik dalam segi kualitas, kuantitas maupun aksesibilitas. Sedangkan Permasalahan klasik perkerasan Jalan Nasional seakan tak kunjung terselesaikan. Pelayanan jalan selalu dianggap kurang memuaskan, padahal fungsi jalan sangat vital bagi perekonomian suatu negara. Banyak upaya telah dilakukan, namun belum ada yang memberikan hasil yang baik. Permasalahan perkerasan di Indonesia sangat kompleks. Tidak jarang kerusakan perkerasan kita temui di jalan-jalan arteri yang menjadi urat nadi perekonomian nasional. Permasalahanpermasalahan seperti rutting, retak-retak, bleeding, dan drainase seakan menjadi masalah yang tidak kunjung teratasi. Untuk mengatasi permasalah jalan di
1

Indonesia tersebut maka dilakukan metode alternatif daur ulang ( recycling). Dengan metode ini dapat lebih menghemat biaya, karena metode ini dilakukan dengan cara mendaur ulang bahan bahan atau material yang sudah ada. 1.2 Rumusan Masalah Makalah ini akan membahas tentang 1.2.1 Apa metode recycling dapat mengatasi permasalahan kerusakan konstruksi jalan yang ada di Indonesia? 1.2.2 Bagaiman pelaksanaan teknologi recycling dengan metode foam bitumen dilakukan? 1.2.3 Apa penggunaan teknologi recycling lebih ekonomis dan ramah lingkungan?

1.3 Tujuan Penelitian Makalah ini bertujuan untuk 1.3.1 mengetahui metode recycling dapat mengatasi permasalahan konstruksi jalan yang ada di Indonesia 1.3.2 mengetahui pelaksanaan teknologi recycling yang dilakukan dengan metode foam bitumen. 1.3.3 Mengetahui penggunaan teknologi recycling lebih ekonomis dan ramah lingkungan.

BAB II PEMBAHASAN 1. Metode Recycling Dapat Mengatasi Permasalahan Kerusakan Konstruksi Jalan Yang Ada di Indonesia Prinsip dari proses ini adalah memanfaatkan material jalan yang ada yang (dianggap) sudah tidak memiliki nilai struktur untuk diolah dan ditambah bahan aditif sehingga dapat dipergunakan kembali dengan nilai struktural yang lebih tinggi. Tahapan Proses terdiri dari Material jalan lama dikupas dengan ketebalan tertentu (didasarkan pada kebutuhan nilai struktur yang diperlukan) Bahan garukan diolah kembali dengan menambah aditif diantaranya semen (komposisi ditentukan setelah ada pengujian). Bahan tersebut dihampar lagi dan dipadatkan serta difungsikan sebagai lapisan di bawah lapis permukaan Jenis Daur Ulang Daur Ulang dibagi menjadi 2 jenis yaitu 1. Daur ulang campuran dingin (cold mix recycling): CTRB (Cement Treated Recycling Base) CTRSB (Cement Treated Recycling Sub Base)

Cold mix recycling ini bisa dengan menambah semen dan pengikat aspal emulsi atau pengikat foam bitumen biasa disebut CMRFB ( Cold Mix Recycling by Foam Bitumen) Base. 2. Daur ulang campuran panas (Hot Mix Recycling): Daur ulang bahan garukan yang dipanaskan kembali di AMP Bahan Garukan: RAP (Reclamed Asphalt Pavement) yaitu hasil garukan (milling) yang mengandung bahan pengikat. RAM (Reclaimed Aggregate Material) yaitu agregat hasil garukan tanpa bahan pengikat. Diperkirakan tahun ini terjadi peningkatan arus mudik sebesar 10%, untuk itu tentunya terhadap jaringan jalan dan jembatan telah dilakukan penangananpenanganan yang pada prinsipnya dilakukan pada lokasi-lokasi di mana tahun lalu terjadi kemacetan yang volume kendaraannya melebihi kapasitas jalan yang ada. Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Menteri (Wamen) Pekerjaan Umum (PU) Hermanto Dardak dalam acara buka bersama sekaligus konferensi pers mengenai kesiapan infrastruktur PU terkait dengan jalur mudik 2011, Jumat (26/8) di Jakarta. Metode Recycling perkerasan jalan ini merupakan konsep rehabilitasi struktur jalan, dengan mengoptimalkan kembali material lama menjadi material perkerasan baru yang jauh lebih kuat. Struktur perkerasan jalan, sejak dipergunakan sebagai jalur lalu lintas akan mulai mengalami proses kerusakan, baik secara perlahan maupun progresif. Kerusakan yang sering terjadi antara lain, fatigue, rutting, permanent deformation, serta kerusakan perkerasan permukaan

(surface defects), seperti retak (cracking), perubahan bentuk (distortion), cacat permukaan (disintegration), pengausan (skid hazards) dan lainnya. Jika konstruksi jalan terdeteksi mengalami kerusakan tersebut, maka perlu segera dilakukan penanganan atau preservasi, agar kerusakan-kerusakan tersebut tidak semakin parah dan dapat meningkatkan kualitas pelayanan bagi pengguna jalan, khususnya dari segi keamanan maupun kenyamanan. Diakui, kondisi jalan di jalur Pantura sudah mengalami proses penurunan daya dukung terutama pada lapis pondasi bawah atau subgrade. Hal ini biasanya disebabkan oleh pencemaran material halus pada lapis pondasi atas atau intermixing. Karena, jalur pantura Jawa umumnya berada di pesisir utara yang memiliki tanah lunak atau soft soil. Untuk memelihara dalam rangka peningkatan mutu jalan, mulai tahun anggaran 2008, Bina Marga mulai mengaplikasi teknologi daur ulang campuran dingin guna memanfaatkan material eksisting menjadi lapis pondasi baru yang kekuatannya bisa dipertanggungjawabkan. Ujar Ir. Yuliansyah. Untuk menerapkan metode Recycling, perlu dilakukan penyelidikan lapangan boring, coring atau test pit. Hal ini dilakukan untuk mengetahui ketebalan jalan aspal (melintang dan membujur) untuk mengetahui kondisi material dan untuk memeriksa daya dukung bawah permukaan. "Dengan mengetahui kondisi lapisan jalan aspal tersebut maka bisa dilakukan langkahlangkah berikutnya untuk penerapan metode Recycling", ungkap Ir. Yuliansyah. Diakui, kerusakan jalan pada umumnya, terjadi pada lapis subgrade yang akan memicu kerusakan pada lapis atasnya lagi. "Bagaimanapun bagusnya lapis atas jalan yang dibuat, kalau lapis subgrade bermasalah maka akan memunculkan masalah pada struktur jalan secara keseluruhan. Ujarnya Ir, Yuliansyah. Selama ini, penanganan yang dilakukan untuk perbaikan atau rehabilitasi kerusakan jalan tersebut, dilakukan dengan metode yang telah diterapkan sejak dulu, seperti patching plus overlay dengan leveling (AC/BC) + AC/WC, atau dengan cold milling plus overlay dengan ATB + AC/BC + AC/WC, rising grade (dengan seleksi material atau agregat klas B/A) + ATB + AC/BC +AC/WC. Selain itu juga

digunakan metode rigid pavement diatas perkerasan jalan, atau digunakan metode rekonstruksi lainnya. Namun hasilnya dirasakan kurang efektif dan membutuhkan biaya yang sangat besar. Dalam rangka mencari solusi penanganan kerusakan jalan yang efektif, ekonomis dan ramah limgkungan, pihak pihak terkait terus mencari metode yang cocok, dengan menerapkan berbagai teknologi yang efektif untuk mengantisipasi kerusakan jalan tersebut. Dari berbagai macam kerusakan yang ada di Indonesia baik secara perlahan maupun progresif dan dari berbagai macam uji coba yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan kerusakan jalan yang terjadi di Indonesia yaitu merekonstruksi lapis pondasi base dan subbase, dengan teknologi recycling, baik dengan metode campuran beraspal dingin dengan foam bitumen (CMRFB Base), daur ualng dengan penambahan semen atau cement Treated soil base (CTSB), Cement Treated Base (CTB) dan lainnya. Metode tersebut digunakan untuk meremajakan lapis pondasi, sehingga material lebih kedap dan memiliki kelenturan serta kekuatan yang lebih baik. Dengan penerapan teknologi recycling ini, dinilai cukup tepat digunakan untuk penanganan kerusakan jalan di Indonesia. Karena, Selain memiliki beberapa kelebihan, struktur jalan yang ada juga memilki karakteristik kerusakan yang cocok untuk dilakukan perbaikan dengan teknologi ini. Karena itulah, setelah melalui serangkaian uji coba dan evaluasi, sejak tahun 2008 teknologi recycling, khususnya CTRB dan CMRFB base mulai diterapkan dibeberapa ruas jalur pantura di jawa. Dirjen Bina MargaHermanto Dardak (2009) menyatakan bahwa teknologi recycling merupakan salah satu pelaksanaan dari kebijaksanaan green constructio Ditjen Bina Marga Departement Pekerjaan Umum. Untuk itu

pengembangan teknologi recycling perkerasan jalan sebagai faktor sustainability secara lingkungan,investasi, komitmen bisnis jasa konstruksi, akan didorong dikembangkan dimasa mendatang. Namun belum semua pihak mengenal dan memahami manfaat dari penerapan metode Recycling (daur ulang) untuk perbaikan lapis pondasi perkerasan jalan. Padahal metode ini bukan hal baru. Seperti sebagaimana yang dikemukakan Ir. Yuliansyah salah satu PPK di proyek perbaikan lapis perkerasan jalan Pantura, pada dasarnya metode Recycling, merupakan metode alternatif perbaikan kerusakan jalan akibat terjadinya keretakan di bawah permukaan dengan cara meremajakan pondasi yang telah ada (existing) menjadi lapis pondasi (base) baru yang lebih homogen dan kuat. Penerapan metode daur ulang untuk jalur Pantura, sangat cocok digunakan mengingat persediaan material jalan di kawasan Pantura sudah menipis dan sulit diperoleh. Di sisi lain, aspek kelestarian lingkungan menjadi isu yang sedang menjadi perhatian khusus dari pemerintah. Perlu diketahui, penambahan material baru untuk keperluan metode Recycling hanya 10 persen saja, sehingga tergolong sangat minim. Karena material lama masih bisa dimanfaatkan 80% sampai 90%. Dari sisi kebutuhan tenaga kerja, masih perlu tenaga cukup banyakdi lapangan. "Jadi penerapan teknologi daur ulang dengan alat utama Recycler tidak serta merta mengurangi tenaga kerja karena masih butuh tenaga pendukung dalam rangka operasional alat tersebut" ungkapnya. Sementara itu, Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah IVIr. Purnomo (2009) menyatakan penerapan recycling cukup tepat digunakan untuk penanganan kerusakan jalan, khususnya dijalur pantura. ... adapun keuntungan dari teknologi ini, antara lain mampu memanfaatkan seoptimal material perkerasan lama sehingga tidak dibutuhkan material yang baru dalam jumlah yang banyak, ramah lingkungan, mengurangi kerusakan yang diakibatkan oleh transportasi material buangan maupun material baru, menghindari ganguan lalu lintas akibat buangan dan material baru, kecepatan konstruksi yang lebih tinggi, trafficability & traffic management dan lebih kompetitif dalam hal biaya.

2. Pelaksanaan Teknologi Recycling Yang di Lakukan dengan Metode Foam Bitumen. Daur ulang campuran dingin dengan foam bitumen ( CMRFB ) Bahan Lapis aspal lama melalui penggarukan (cold milling) yang disebut RAP, dicampur dengan menggunakan Foam Bitumen (2% sampai 3%) dan Semen (1% sampai 2%) Penggunaan Bahan Garukan RAP berkisar antara 70% sampai 100 % Bahan Agregat Baru (bila diperlukan) harus memenuhi persyaratan agregat. Foam Bitumen (Busa Aspal) terjadi ketika sejumlah air dingin didespersikan pada aspal panas dengan suatu tekanan udara yang menimbulkan bertambahnya luas permukaan dan menurunnya viskositas aspal secara signifikan. Formula Campuran Rancangan (Design Mix Formula): Ukuran nominal maksimum partikel. Sumber sumber agregat baru (bila digunakan) Presentase setiap fraksi agregat baru (bila digunakan) yang akan digunakan. Presentase filler. Jenis aspal, expansion ratio dan half life. Gradasi gabungan RAP dan agregat baru (bila digunakan). Kadar air pembentuk foam. Kadar air campuran.

Kadar foam bitumen dalam campuran. Dari hasil percobaan di laboratorium dengan Alat WLB10 dengan variasi Composisi Foamed Bitumen, dan setelah di tes. Di dapatkan misalnya: FB = 2,5%, RAP = 90%, CA = 10%, PC = 1 %. Inilah yang merupakan Job Mix Formula yang dipakai sebagai pedoman pelaksanaan dengan alat Intelligent control (On Board Computer) yang ada didalam alat Recyling, in place. Peralatan CTRB : Alat Milling, Recycler, Cement distributor, Grader, Truk pengangkut, Tangki air, dan Pemadat : Sheepfoot Roller, vibro karet dan besi, PTR. CMRFB: Recycler, Cement distributor (bisa manual), Grader, Truk pengangkut, Tangki air, Tangki aspal, dan Pemadat : PTR, vibro karet & besi, ( Berat statis pemadat getar 20 ton karena tebal padat 20 cm ). Pelaksanaan: Ketebalan CMRFB = 20 cm dilaksanakan dengan perbandingan material 90% RAP + 10% CA + 1% Cement + 2,5 % Foam Bitumen. Pada setiap panjang 5 meter, dan lebar 3 meter, ditebarkan PC 1 sak. Pemadatan hamparan Pemadatan awal dengan roda karet 1 passing. Pemadatan ke dua dengan vibro 20 t, getar keras 4 passing.

Perataan hamparan dengan grader. Pembasahan hasil perataan untuk mengembalikan pada kadar air OMC.

10

Pemadatan ke tiga dengan vibro 20 t, getar kecil 1 passing. Pemadatan terakhir dengan alat pemadat roda karet 1 passing. Pada struktur perkerasan yang telah mengalami kegagalan, umumnya

perbaikan dilakukan adalah dengan memperbaiki bagian-bagian yang rusak dan meningkatkan daya dukung struktur perkerasan tersebut dengan jalan memberikan lapis tambah baru (overlay) atau membongkar lapisan beraspal lama yang diikuti dengan perbaikan dan penambahan lapis pondasi serta memberikan lapis beraspal baru sebagai lapis penutupnya. Semua pekerjaan tersebut memerlukan material baru dan menyebabkan perubahan elevasi muka jalan. Perbaikan dan peningkatan daya dukung struktur perkerasan jalan dengan pemanfaatan kembali (daur ulang) material yang telah digunakan pada struktur jalan existing mungkin merupakan suatu solusi yang dapat dilakukan. Banyak jenis bahan yang dapat digunakan untuk memperbaiki ataupun untuk meningkatkan mutu bahan yang akan didaur ulang, salah satu di antaranya adalah foam bitumen. Foam bitumen adalah campuran antara udara, air dan bitumen yang dicampur dengan komposisi tertentu. Foam bitumen dihasilkan dengan cara menginjeksikan air ke aspal panas di dalam Foaming Chamber. Foam bitumen dapat digunakan sebagai bahan penstabilisasi hampir untuk semua jenis material termasuk material hasil daur ulang perkerasan jalan. Penggunaan foam bitumen harus diikuti dengan penambahan filler aktif (semen/kapur) pada material yang akan didaur ulang. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembuatan dan keberhasilan daur ulang dengan menggunakan foam bitumen ini. Tulisan ini mencoba memberikan gambaran mengenai sifat foam bitumen, faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan foam bitumen, jenis bahan yang dapat didaur ulang

11

dan kinerja laboratorium serta lapangan campuran yang distabilisasi dengan foam bitumen. Daur ulang perkerasan jalan dengan Metode Foamed Bitumen yaitu Metode daur ulang perkerasan jalan yang memanfaatkan material lapisan beraspal lama dengan karakteristik gradasi material tertentu untuk kemudian diremajakan dengan menambahkan proporsi aspal tertentu,dimana pencampuran dilakukan dengan metode pencampuran aspal dingin dan teknik pembusaan bitumen. Pembusaan bitumen dilakukan dengan mecari nilai optimal dari multiplikasi volume aspal yang dibusakan berbanding dengan waktu yang dibutuhkan busa aspal untuk luluh dari volume maksimum hingga ke volume setengah maksimum. Simulasi pembusaan ini dapat dilakukan di laboratorium dengan alat yang didesain khusus untuk keperluan tersebut. Binder Foamed Bitumen dengan kadar yang optimal dicampur dengan material lapisan beraspal hasil dari galian lapisan beraspal dengan Cold Milling Machine - Re claimed Asphalt Pavement (RAP). Pelaksanaan teknologi recycling dengan metode foam bitumen (CMRFB Base), umumnya dilakukan dengan metode in place (pendaurulangan dan penghamparan dilakukan langsung dilapangan). Konsep teknologi recycling dengan metode CMRFB Base, merupakan metode daur ulang lapis aspal lama melalui penggarukan (cold milling) dicampur dengan menggunakan foam bitumen

12

(2-3%) dan semen (1-2%). Metode ini digunakan sebagai pengikat bahan, material dapat disimpan, dapat digunakan sebagai overlay, dapat segera dibuka untuk lalu lintas. Busa (foamed) aspal terjadi, ketika dispersi air dan udara dengan tekanan tertentu bertemu dengan aspal panas yang menimbulkan bertambah luasnya permukaan dan menurunnya viskositas aspal. Busa akan menempel pada butiran butiran tersebut dapat menyatu menjadi satu kesatuan yang kompak mengelilingi butiran besar. Willys (2009) menyatakan pada tentang artikel yang tampak pada kutipan berikut ini Teknologi ini dapat diharapkan bisa dijadikan pilihan yang tepat untuk mengatasi langkanya sumber material alam dan kebutuhan untuk mendapatkan lapis pondasi yang memilki nilai struktur yang tinggi. Selain itu, teknologi ini juga dirasakan tepat digunakan oleh kontraktor sebagai pelaksana pekerjaan konstruksi jalan, seiring dengan berjalannya perfomance Base Contract (PBC) oleh pemerintah dalam waktu dekat. Karena teknologi ini selain bisa digunakan untuk solusi yang tepat dalam penanganan kerusakan jalan, hasilnya juga lebih baik dan bisa dipertanggungjawabkan.

3. Penggunaan Lingkungan.

Teknologi

Recycling

Lebih

Ekonomis

dan

Ramah

Mengingat pembangunan infrastruktur jalan membutuhkan biaya yang tidak ringan, pihak Dinas Bina Marga Jawa Tengah yang bertanggung jawab untuk membangun serta memperbaiki jalan-jalan rusak di Jawa Tengah itu mesti pintar-pintar mencari terobosan baru, utamanya yang mengarah pada efisiensi anggaran. ujar Kepala Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Tengah, Danang Atmojo

13

(dalam percakapan dengan Suara Karya di kantornya) "jalan-jalan yang ada di Jawa Tengah sangat panjang. Kalau kita tidak cerdas mengatur anggaran serta menerapkan strategi baru dalam memperbaiki jalan rusak, dana yang ada tidak mencukupi. Salah satu program andalan yang diakui cukup jitu dalam menyiasati keterbatasan anggaran pemerintah untuk sektor perbaikan jalan itu. Menurut Danang bahwa dengan menggelar apa yang disebut program recycling.Program recycling yang di Jawa Tengah sendiri sudah mulai diterapkan sejak tahun 2006 adalah semacam program daur ulang aspal jalan. Jika pada tahun-tahun sebelumnya, perbaikan jalan rusak selalu ditempuh dengan mengaduk/mengelupas aspal lama kemudian dibuang, untuk selanjutnya mengganti dengan aspal baru yang sangat menguras anggaran, maka melalui program recycling ini, aspal lama tidak lagi dikelupas dan dibuang, namun didaur ulang di tempat untuk selanjutnya digunakan kembali sebagai bahan perbaikan jalan. Hasilnya terbukti sangat luar biasa. Selain kualitas jalan tetap terjaga baik, anggaran pun bisa dihemat sebesar 30 %. ujar Danang. Sisi-sisi menarik lain dari Recycling jalan adalah program ini masuk dalam kategori "program hijau" yang tidak merusak lingkungan. Kalau dulu dengan mengeduk atau mengelupas aspal jalan kemudian membuangnya, cukup mengganggu lingkungan. Namun sekarang lewat proses daur ulang, tinggal menambah aspal dan semen, maka jalan pun tersaji mulus dan lingkungan juga tidak tercemar. Di Jateng saat ini terbentang kurang lebih 1.290 kilometer jalan negara dan 2.529 kilometer jalan provinsi. Menurut Danang melalui program recycling ini, waktu pengerjaannya jauh lebih cepat, kualitas tidak diragukan, dan cukup irit anggaran. Kalau proses perbaikan jalannya lebih cepat, kita pasti bisa meminimalisasi terjadinya kemacetan panjang. Dengan segala kelebihannya yang dapat disimak akhir-akhir ini, metode daur ulang (Recycling) pantas dinilai sebagai salah satu metoda

14

perbaikan jalan yang cocok, karena disamping murah dan ramah lingkungan, juga mampu memberikan hasil yang memuaskan. Metode cold recycling pertamakali diuji coba pelaksanaannya di Pantura, di ruas Sewo, yang teruji setelah dilanda banjir ternyata jalan tersebut masih utuh, sedang tidak jauh di lain lokasi mengalami rusak berat. Kejadian ini mendorong penggunaan teknologi racycling meluas pada ruas-ruas paket yang lain. Teknologi Recycling sekarang mulai banyak digunakan karena lebih ekonomis dan lebih efektif. Tapi harus diperhatikan beberapa tahap. Seperti yang dikatakan Sudarso (2009) yang menyatakan bahwa untuk menghasilkan pekerjaan Recycling berkualitas, harus ditinjau dari empat unsur utama, yaitu pertimbangan awal dalam memilih Recycling sebagai metoda rekonstruksi jalan, kesiapan dan kesesuaian alat Recycler yang digunakan, standar kualitas yang ingin dicapai, serta SDM pelaksana dan pengawas. Lebih lanjut di jelaskan sudarno (2009) bahwa sebelum menentukan pilihan menggunakan metode recycling, investigasi kondisi exsiting jalan perlu dilakukan dengan cermat, untuk mengetahui, antara lain ketebalan dan jenis lapis perkerasan exsiting, tingkat kerusakan struktur, ketinggian muka air tanah dan public utility yang terpasang dibawah permukaan jalan. Dengan memahami kondisi exsiting dan tipikal penyebab kerusakan jalan dengan tepat, sangat membantu menentukan pilihan metode perbaikan jalan dengan benar. Karena tidak semua kerusakan jalan dapat diatasi dengan Recycling.

15

BAB III PENUTUP 1. Kesimpulan Dengan menggunakan penerapan teknologi Recycling, dinilai tepat digunakan untuk penanganan kerusakan jalan di Indonesia terutama pada jalan pantura.. Karena, Selain memiliki beberapa kelebihan, struktur jalan yang ada juga memilki karakteristik kerusakan yang cocok untuk dilakukan perbaikan dengan teknologi ini. Foam Bitumen adalah campuran antara udara, air dan bitumen yang dicampur dengan komposisi tertentu. Foam Bitumen dihasilkan dengan cara menginjeksikan air ke aspal panas di dalam Foaming Chamber. Penggunaan Foam Bitumen harus diikuti dengan penambahan filler aktif (semen/kapur) pada material yang akan didaur ulang. Pencampuran dilakukan dengan metode pencampuran aspal dingin dan teknik pembusaan bitumen. Simulasi pembusaan ini dapat dilakukan di Laboratorium dengan alat

yang didesain khusus untuk keperluan tersebut. Pelaksanaan teknologi Recycling dengan metode Foam Bitumen (CMRFB Base), umumnya dilakukan dengan metode in place (pendaurulangan dan penghamparan dilakukan langsung dilapangan). Busa (Foamed) aspal terjadi, ketika dispersi air dan udara dengan tekanan tertentu bertemu dengan aspal panas yang menimbulkan bertambah

16

17

luasnya permukaan dan menurunnya viskositas aspal. Busa akan menempel pada butiranbutiran tersebut dapat menyatu menjadi satu kesatuan yang kompak mengelilingi butiran besar. Teknologi recycling sekarang mulai banyak digunakan karena lebih ekonomis dan lebih efektif. Tapi harus diperhatikan beberapa tahap dalam pengerjaannya.

2. Saran Untuk wilayah atau daerah yang konstruksi jalannya mudah rusak, sebaiknya menggunakan metode recycling untuk mengatasi masalah yang terjadi di Indonesia. Terutama didaerah pantura, karena dengan metode Recycling bisa mengatasi masalah tersebut. Dengan menggunakan metode Recycling ini juga akan lebih ekonomis, lebih efektif dan ramah lingkungan. Karena mendaur ulang material yang sudah ada. Tapi sebelum menggunakan metode ini sebaiknya dilihat kondisi kerusakannya.

DAFTAR RUJUKAN

Bataviase. 2011. Program Recycling Hemat 30 Persen Anggaran, (online), (http://bataviase.co.id/detailberita-10560607.html), diakses Selasa, 1 November 2011.

Riyanto, S.. 2009. Penggunaan foam bitumen untuk daur ulang perkerasan jalan, (online), (http://jurnal.pdii.lipi.go.id/index.php/Search.html? act=tampil&id=5658).

Sacharosa. 2009. Kuliah Tamu, (online), (http://sacharosarizki.blogspot.com/2009/04/kuliah-tamu.html), diakses kamis 30 april 2009.

Techno Konstruksi. September 2009. Teknologi Recycling Untuk Rehabilitasi Struktur Jalan, hlm. 14.

Yulianto. 2011. Receycling (Bimbingan CMRFB), (online), (http://kmpr4.wordpress.com/jalan-raya/), diakses april 2011.

18