Anda di halaman 1dari 5

TUGAS FILSAFAT REVIEW MATERI SELF (AKU/DIRI)

EKA PUTRA ARIJADI 12320070

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU SOSIAL BUDAYA PROGRAM STUDI PSIKOLOGI TAHUN 2012-2013

SELF (AKU/DIRI) Seseorang mungkin mendapat kesulitan dalam mengenali dirinya, Siapakah Aku ini? Siapakah Anda? Apakah kehidupan masuk akal? Apa arti dari eksitensi? Kita mencoba menjawabnya, kadang-kadang karena ingin tahu, tetapi kadang-kadang untuk sebab-sebab yang praktis. Walaupun kita tidak dapat memberi definisi aku (self) secara sempurna, namun kalimat itu merupakan konsep yang penting. Ada filosof yang mengatakan bahwa aku itu tidak ada artinya, namun beberapa filosof lain tetap mengatakan bahwa aku merupakan faktor yang penting dalam kehidupan manusia. Aku (self) adalah sesuatu yang melakukan persepsi, memikir, merasa, menghendaki, mimpi dan menentukan. Isu-isu besar filsafat, psikologi, agama, dan kehidupan sehari-hari ada pada sekitar pertanyaan tentang keberadaan dan sifat (watak) aku. Dari satu sudut pandang bisa dikatakan bahwa kita adalah objek antara objek-objek lain yang terletak pada titik dalam ruang dan waktu tertentu dengan adanya eksistensi. Dari sudut pandang lain, manusia tampaknya berada di atas semua obyek pengalaman dan data kesadaran tertentu dan bahkan di atas ruang dan waktu. Sejak zaman Yunani awal telah ada kecenderungan filsuf memikirkan aku dan pikiran sebagai sinonim dan "menyamakan aku sebagai subjek pikiran, dan aku sebagai objek baik dengan tubuh atau kesatuan badan-pikiran."Pikiran dapat diidentifikasi dengan" bentuk "atau prinsip organisasi. A. Aku sebagai pusat identitas pribadi Istilah aku (self) atau individualitas (selfhood) menunjukkan subjek atau sesuatu yang tetap ada sepanjang pengalaman yang berubah-ubah dari kehidupan seseorang. Aku (self) adalah sesuatu yang melakukan persepsi, konsepsi, memikir, merasa, menghendaki, mimpi dan menentukan. Jika aku itu merupakan substansi atau benda (banyak filosof modern menolak pandangan ini) maka akal itu adalah substansi yang teristimewa sekali. Suatu substansi tidak harus bersifat material. Jika kita mengatakan bahwa aku itu bukan substansi, kita dapat menggambarkannya sebagai pusat dari identitas pribadi.

B.

Aku sebagai integrator pengalaman-pengalaman Psikolog, Rollo May berkata: Aku adalah fungsi yang mengorganisir yang ada dalam seseorang. Aku ada sebelum kita memperoleh sains dan bukan objek sains tersebut. J B. Pratt mengatakan bahwa kita harus menerima " realitas aku" atau menuju bentuk naturalisme ekstrim dan membunuh pikiran. Karl Heim, menunjukkan bahwa kita dapat melihat realitas hanya dari sudut pandang pusat aku.

Semua pengalaman yang menunjukkan adanya aku (self) atau subjek yang bebas dan tidak tenggelam dalam proses atau kejadian-kejadian yang melingkupinya. Oleh karena kekuatannya untuk mengintegrasikan sesuatu atau mengadakan perpaduan, maka aku mengatasi (transcedends) proses di mana ia terlibat. Manusia mempunyai pengalaman tentang dunia sebagai suatu dunia yang penuh dengan objek yang terbuka untuk pengamatan.

C.

Aku sebagai hal yang khusus Di samping sifat permanence dan transcendence, aku mempunyai sifat khusus (private), yakni sifat yang tidak melekat kepada badan. Kita mempunyai pengetahuan yang langsung tentang aku kita yang bersifat pribadi yang tidak dapat dilukisksan secara sempurna dengan istilah-istilah yang objektif. Sehubungan dengan dunia objektif saya berbicara tentang tubuh saya, lingkungan saya, pengalaman saya. Aku tidak bertukar "di sini" atau "di sana" di mana saya menemukan aku dengan orang lain. Aku dapat memberikan sebuah mataku atau ginjalku atau sebagaian dari darahku kepada orang lain, aku tak dapat mengganti isi kesadaran orang lain dengan kesadaranku. Kita dapat mengetahui secara sempurna apa yang dipikirkan oleh orang lain. Aku tak dapat memasuki alam orang lain, walaupun dengan perantaraan bentuk komunikasi yang bermacam-macam kita dengan merasa simpati, mengerti atau menunjukkan perasaan mendalam.

D.

Aku yang Unik Sampai sekarang definisi aku sukar untuk dilukiskan. Istilah seperti kehidupan (life), aku (self) dan Tuhan (God) sukar untuk dijelaksan: usaha untuk menjelaskan arti istilah-istilah tersebut nampaknya akan mengubah watak (nature)-nya dan

membatasi implikasinya. Walaupun kita tidak dapat memberi definisi aku (self) secara sempurna, namun kalimat itu merupakan konsep yang penting. Beberapa filosof lain mengatakan bahwa aku merupakan faktor yang penting dalam kehidupan. Kita tidak dapat menghilangkan kesadaran (awareness), kesadaran pribadi (self-consciousness), dan jiwa (mind) dari interpretasi kita tentang urusanurusan manusia tanpa mengingkari hal besar yang sentral (pokok) dalam pengalaman manusia. menghilangkan aku adalah untuk menghilangkan pengetahuan dan untuk menolak ilmu pengetahuan itu.

Istilah self (aku) atau selfhood menunjukkan subjek, yakni sesuatu yang tetap ada selama pengalaman-pengalaman yang berganti-ganti dari kehidupan seseorang. Aku adalah pusat dari identitas pribadi. Melalui kegiatan untuk mengintegrasikan atau memadukan, Aku itu mengatasi (transcedends) proses di mana ia terlibat. Manusia itu sadar akan kesadarannya. Aku adalah hal khusus (private) dan pribadi (person). Tak ada seorang secara langsung mengalami kesadaran orang lain. David Hume mengingkari adanya Aku. Ia menekankan bahwa aku itu hanya kumpulan dari bermacam-macam persepsi. Yang ada hanya aliran dari ide-ide yang berturut-turut. Tak ada aku yang permanen dalam diri seseorang. Manusia akan mendapatkan arti baru tentang arah dan makna dari kesadarannya tentang keistimewaan manusia. Interpretasi manusia yang komprehensif, tetapi menganggap sepi kesadaran akunya adalah tidak cukup dan tidak sempurna.

Referensi

Titus H., Harold. 1959. Living Issues in Philosophy. New York: American Book Company.

http://fisikasihuhn.blogspot.com/2013/02/siapakah-aku-suatutijnjauan-filsafat.html