Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM PARASITOLOGI Pemeriksaan Feses

Disusun oleh : Nama : Novy Nur Kusumawardhani NIM : G1B011041

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT PURWOKERTO 2012

BAB I PEMBAHASAN

A. Latar Belakang Parasitologi adalah ilmu yang mempelajari jasad- jasad yang hidup untuk sementara atau tetap di dalam atau pada permukaan jasad lain dengan maksud untuk mengambil makanan sebagian atau seluruhnya dari jasad itu. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing masih tinggi prevelansinya terutama pada penduduk di daerah tropik seperti di Indonesia, dan merupakan masalah yang cukup besar bagi bidang kesehatan masyarakat. Hal ini dikarenakan Indonesia berada dalam kondisi geografis dengan temperatur dan kelembaban yang sesuai, sehingga kehidupan cacing ditunjang oleh proses daur hidup dan cara penularannya. Identifikasi parasit yang tepat memerlukan pengalaman dalam membedakan sifat sebagai spesies, parasit, kista, telur, larva, dan juga memerlukan pengetahuan tentang berbagai bentuk pseudoparasit dan artefak yang mungkin dikira suatu parasit. Identifikasi parasit juga bergantung pada persiapan bahan yang baik untuk pemeriksaan baik dalam keadaan hidup maupun sediaan yang telah di pulas. Bahan yang akan di periksa tergantung dari jenis parasitnya, untuk cacing atau protozoa usus maka bahan yang akan di periksa adalah tinja atau feses, sedangkan parasit darah dan jaringan dengan cara biopsi, kerokan kulit maupun imunologis (Kadarsan, 1983). Pemeriksaan feses di maksudkan untuk mengetahui ada tidaknya telur cacing ataupun larva yang infektif. Pemeriksaan feses ini juga di maksudkan untuk mendiagnosa tingkat infeksi cacing parasit usus pada orang yang di periksa fesesnya

(Gandahusada.dkk, 2000). Prinsip dasar untuk diagnosis infeksi parasit adalah riwayat yang cermat dari pasien. Teknik diagnostik merupakan salah satu aspek yang penting untuk mengetahui adanya infeksi penyakit cacing, yang dapat ditegakkan dengan cara melacak dan mengenal stadium parasit yang ditemukan. Sebagian besar infeksi dengan parasit berlangsung tanpa gejala atau menimbulkan gejala ringan. Oleh sebab itu pemeriksaan laboratorium sangat dibutuhkan karena diagnosis yang hanya berdasarkan pada gejala klinik kurang dapat dipastikan.

B. Tujuan Tujuan dari praktikum ini adalah mendiagnosa adanya infeksi cacing parasit pada anak-anak yang diperiksa fesesnya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pemeriksaan feses ( tinja ) adalah salah satu pemeriksaan laboratorium yang telah lama dikenal untuk membantu klinisi menegakkan diagnosis suatu penyakit. Meskipun saat ini telah berkembang berbagai pemeriksaan laboratorium yang modern, dalam beberapa kasus pemeriksaan feses masih diperlukan dan tidak dapat digantikan oleh pemeriksaan lain. Pengetahuan mengenai berbagai macam penyakit yang memerlukan pemeriksaan feses, cara pengumpulan sampel yang benar serta pemeriksan dan interpretasi yang benar akan menentukan ketepatan diagnosis yang dilakukan oleh klinisi. Penularan penyakit parasit disebabkan oleh tiga faktor yaitu sumber infeksi, cara penularan dan adanya hospes yang ditulari. Efek gabungan dari faktor ini menentukan penyebaran dan menetapnya parasit pada waktu dan tempat tertentu. Penyakit yang disebabkan oleh parasit dapat bersifat menahun disertai dengan sedikit atau tanpa gejala. (Noble, 1961). Pemeriksaan telur-telur cacing dari tinja terdiri dari dua macam cara pemeriksaan, yaitu : 1. Pemeriksaan Kualitatif a. Metode Natif Metode ini dipergunakan untuk pemeriksaan secara cepat dan baik untuk infeksi berat, tetapi untuk infeksi yang ringan sulit ditemukan telur-telurnya. Cara pemeriksaan ini menggunakan larutan NaCl fisiologis (0,9%) atau eosin 2%. Penggunaa eosin 2% dimaksudkan untuk lebih jelas membedakan telur-telur cacing dengan kotoran disekitarnya. Dasar teori metode ini adalah eosin memberikan latar belakang merah terhadap telur yang berwarna kekuning-kuningan dan untuk lebih jelas memisahkan feces dengan kotoran yang ada. b. Metode Apung Metode ini digunakan larutan NaCl jenuh atau larutan gula atau larutan gula jenuh yang didasarkan atas BJ (Berat Jenis) telur sehingga telur akan mengapung dan mudah diamati. Metode ini digunakan untuk pemeriksaan feses yang mengandung sedikit telur. Cara kerjanya didasarkan atas berat jenis larutan yang digunakan, sehingga telur-telur terapung dipermukaan dan juga untuk memisahkan partikel-partikel yang besar yang terdapat dalam tinja. Pemeriksaan ini hanya berhasil untuk telur-telur

Nematoda, Schistostoma, Dibothriosephalus, telur yang berpori-pori dari famili Taenidae, telur-telur Achantocephala ataupun telur Ascaris yang infertil. c. Metode selotip Metode ini dilakukan untuk pemeriksaan telur Enterobius vermicularis. Pemeriksaan dilakukan pada anak yang berumur 1 10 tahun dan pada waktu pagi hari sebelum anak kontak dengan air. Cara melakukan pemeriksaan dengan menggunakan plester plastik yang tipis dan bening. d. Metode Konsentrasi Metode ini praktis dan sederhana untuk pemeriksaan telur pada tinja. Dalam metode ini menggunakan alat sentrifugasi dan kemudian diambil endapan (sedimen) untuk diamati dengan mikroskop. e. Metode Sediaan tebal Metode ini lebih banyak telur cacing dapat diperiksa sebab digunakan lebih banyak tinja. Metode ini dianjurkan juga untuk pemeriksaan tinja secara masal karena lebih sederhana dan murah. Morfologi cacing cukup jelas untuk membuat diagnosa. f. Metode Sedimentasi Formol Ether Metode ini merupakan metode yang cukup baik bagi tinja yang diambil beberapa hari yang lalu, misalnya kiriman dari daerah yang jauh dari laboratorium.

2. Pemeriksaan Kuantitatif a. Metode Kato Katz Metode ini menggunakan rumus : Jumlah telut tiap gram tinja = 1000 x N 30 b. Metode Stoll Metode ini menggunakan larutan NaOH 0,1 N sebagai pelarut tinja. Metode ini sangat baik untuk infeksi berat dan sedang. Metode ini menggunakan rumus : Jumlah telur dalam 1 gram tinja = jumlah telur yang terlihat (mikroskopik) x 100

BAB III METODOLOGI

A. Alat dan Bahan 1. Beker glass 2. Tabung reaksi 3. Penyaring teh 4. Lidi 5. Object glass 6. Cover glass 7. Mikroskop 8. Sampel tinja 9. Larutan NaCl jenuh ( 33%)

B. Cara kerja 1. 10 gram tinja diambil menggunakan lidi dan dicampur dengan 200 ml NaCl jenuh (33%), kemudian di aduk sehingga larut. 2. Bila larutan terdapat serat-serat selulosa di saring menggunakan penyaring teh. 3. Kemudian larutan dituangkan ke dalam tabung reaksi sampai penuh, yaitu rata dengan permukaan tabung, didiamkan selama 5-10 menit. 4. Cover glass diletakkan atau ditutup diatas permukaan tabung reaksi dan segera angkat. Selanjutnya di letakkan di atas object glass dengan cairan berada di antara cover glass dan object glass. 5. Kemudian diamati dengan mikroskop

BAB IV PEMBAHASAN

Pada praktikum ini meneliti adanya parasit atau telur parasit pada sempel feses anak-anak. Prasit yang diteliti adalah parasit yang dapat mengganggu tumbuh kembang anak yang terdiri dari kelompok spesies cacing usus yang ditularkan melalui tanah (Soil Transmitted Helminths). Kelompok Soil Transmitted Helminths terdiri atas Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan cacing tambang (Necator Americanus dan Ancylostoma duodenale). Ascaris lumbricoides adalah spesies cacing usus terbesar yangmenginfeksi manusia dan menyebabkan penyakit askariasis. Telur yang terdapat dalam feses bisa dalam bentuk fertil dan infertil. Trichuris trichiura merupakan cacing yang meyerupai cambuk, 3/5 anterior tubuh halus seperti benang dan terdapat kepala di bagian ujungnya sedangkan 2/5 bagian posterior tebal dan berisi usus dan perangkat alat kelamin. Cacing tambang (hookworm) terdiri dari Ancylostoma duodenale yang dapat menyebabkan ankilostomiasis dan Necator americanus yang dapat menyebabkan nekatoriasis. Diagnosis infestasi cacing tambang dilakukan dengan menemukan telur cacing tambang dalam pemeriksaan tinja segar. Praktikum pemeriksaan feses ini menggunakan metode apung. Metode ini menggunakan larutan NaCl jenuh dan terutama dipakai untuk pemeriksaan feses yang mengandung sedikit telur. Metode ini didasarkan atas berat jenis telur parasit lebih ringan daripada berat jenis larutan, sehingga telur-telur terapung dipermukaan. Pada praktikum pemeriksaan ini ternyata tidak ditemukan adanya parasit, hal ini dapat disebabkan oleh : 1. Kondisi anak yang dalam keadaan sehat dan selalu menjaga kebersihan badan. 2. Kesalahan praktikan yg mungkin terjadi pada saatpengambilan sampel feses dan pembuatan preparat. 3. Kesalahan pengamatan sampel menggunakan mikroskop.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Pemeriksaan parasit menggunakan metode apung dengan menggunakan larutan NaCl jenuh. Dari hasil pemeriksaan feses yang dilakukan pada anak tersebut tidak didapatkan adanya telur parasit.

B. Saran 1. Meningkatkan pengetahuan tentang penyakit parasit agar masyarakat dapat terhindar dari zoonosis 2. Membuang faeces pada tempatnya, untuk mencegah terjadinya infeksi cacing parasit usus. 3. Menghindari makanan, air, tanah yang terkontaminasi oleh tinja yang mengandung telur atau larva parasit 4. Menjaga kebersihan diri dan tempat tinggal agat terhindar dari infeksi parasit.

DAFTAR PUSTAKA

Gandahusada,S.W .Pribadi dan D.I. Heryy.2000. Parasitologi Kedokteran. Fakultas kedokteran UI, Jakarta. Kadarsan,S. Binatang Parasit. Lembaga Biologi Nasional-LIPI, Bogor. Noble, R.N. 1961. An Illustrated Laboratory Manual of parasitology. Burgess publishing, Minnesota.