Anda di halaman 1dari 16

CEREBRO VASCULAR ACCIDENT (CVA) (STROKE BLEEDING)

PENGERTIAN CVA ( Stroke ) adalah penyakit serebral vaskuler YG menunjukkan adanya beberapa kelainan otak baik secara fungsional maupun struktural yang disebabkan oleh keadaan patologis dari pembuluh darah serebral atau dari seluruh sistem pembuluh darah otak ( Doengoes E Marilyn, 1999 ).

CVA dibagi 2 yaitu: - CVA Bleeding; suatu manifestasi neurologis yang timbul karena adanya suatu perdarahan intra serebral maupun pada subaraknoid dimana perdarahan ditimbulkan oleh karena pecahnya pembuluh darah arteri, hipertensi dan pecahnya aneurisme pembuluh darah/ malpormasi arteri vena. - CVA Infark;

suatu manifestasi neurologis yang timbul tanpa adanya perdarahan di otak.

ETI0L0GI
Infark serebri; emboli, aterotrombotik Perdarahan intra serebral; hipertensi, malpormasi arteri vena, angiopati amiloid Perdarahan subaraknoid

Faktor resiko:
a. Yang dapat diubah: usia, jenis kelamin, ras, riwayat keluarga, riwayat T1A atau stroke, PJK, Fibrilasi atrium. b. Faktor yang dapat diubah: hipertensi, diabetes melitus, merokok, penyalahgunaan alkohol dan obat, kontrasepsi oral, hematokrit meningkat, Hiperuresemia dan dislipidemia.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
CT Scan kepala; merupakan pemeriksaan baku emas untuk membedakan infark dengan perdarahan. MRI; menunjukkan daerah yang mengalami infark atau hemoragik. Angiografi serebri; membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik.

EEG;

mengidentifikasi masalah yang didasarkan pada gelombang otak. GCS ( Glasgow Coma Scale ); menunjukkan kasadaran pasien yaitu koma atau tidak koma dengan cara menilai respon pasien terhadap rangsangan yang diberikan .

Pemeriksaannya yaitu:
a. Respon membuka mata (Eye)

4 3 2 1

= spontan = dengan perintah = dengan rangsangan nyeri = tidak ada respon

b. Respon Verbal
5= orientasi baik dan sesuai 4= disorientasi tempat dan waktu 3= bicara kacau 2= mengerang 1 = tidak ada suara

c. Respon Motorik
6 = mengikuti perintah 5 = melokalisir nyeri 4 = menghindari nyeri 3 = fleksi abnormal 2 = ekstensi abnormal 1 = tidak ada gerakan

PENGKAJIAN
Data Subyektif: pasien mengeluh atau dikeluhkan lemas/lumpuh pada separuh wajah dan anggota badan, tidak bisa bicara/cadel, sakit kepala, pusing, mual, muntah, tidak nafsu makan dan sulit menelan. Data Obyektif: hemiparese/hemiplegi, afasia, kesadaran menurun/koma, GCS menurun, gelisah, hipetensi ( sistole > 140mm Hg, diastole > 90mm Hg ), tidak bisa melakukan perawatan diri, sekresi/dahak sulit dikeluarkan.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penurunan aliran darah sekunder terhadap infark serebri, hemoragik atau edema serebral. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese/hemiplegi sekunder terhadap infark atau hemoragik. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan kerusakan sirkulasi serebral, kerusakan neuromuskuler, kehilangan kontrol otot fasial.

Sindrom kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler, penurunan kekuatan otot.

Kerusakan menelan berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler


Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan trauma neurologis, stres psikologis. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan imobilitas, sekresi statis. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi, keterbatasan kognitif.

PERENCANAAN
TGL NO

DIAGNOSA KEPERAWATAN

TUJUAN Setelah diberikan askep selama 3x24 jam diharapkan perfusi jaringan serebral adekuat dengan kriteria hasil: kesadaran CM, TD sistole 100140mmHg, diastole 60- 90 mmHg, Nadi 60-90 x/mnt,

RENCANA INTERVENSI a. Obsevasi tingkat kesadaran dan GCS b. Observasi tanda-tanda vital tiap 2 jam c. Pantau status neurologi sesering mungkin d. Pertahankan posisi tirah

1.

Perubahan jaringan berhubungan

perfusi serebral dengan

penurunan aliran darah sekunder terhadap infark serebri, hemoragik atau edema serebral ditandai dengan: DS:DO:Kesadaran menurun, gelisah, TD mmHg, N x/mnt, GCS

baring dengan posisi kepala up 30 derajat e. Kolaborasi pemberian oksigen indikasi. sesuai

GCS 15

f.. Delegatif pemberian


obat-obat therafi dokter. sesuai

E...V...M...

2.

Kerusakan

mobilitas

Setelah diberikan askep

a. Kaji

kemampuan

fisik

berhubungan

selama

3x24

jam

secara

dengan

diharapkan

pasien

fungsional/luasnya

hemiparese/hemiplegi

mampu

mobilisasi

kerusakan awal.

sekunder terhadap infark

secara bertahap dengan

b. Ubali posisi pasien

atau hemoragik ditandai

kriteria hasil: pasien

minimal tiap 2 jam.

dengan:

mampu bergerak secara

c. Mulai lakukan latihan

DS: pasien mengeluh

aktif maupun pasif,

rentang gerak secara

lemas/lumpuh

pada

kekuatan

otot

aktif dan pasif pada

Kerusakan komunikasi verbal berhubungan kerusakan sirkulasi serebral, kerusakan neuromuskuler, kehilangan kontrol otot fasial ditandai dengan: DS:DO: kerusakan artikulasi, tidak mampu untuk bicara, tidak memahami kata.

Setelah diberikan askep selama 3x24 jam diharapkan pasien diharapkan pasien mampu mempertahankan komunikasi secara lancar denan kriteria hasil: pasien mampu bicara, artikulasi jelas, mampu memahami kata.

a. Mintalah pasien untuk mengkuti perintah sederhana, ulangi dengan kata/kalimat sederhana. b. Minta pasien untuk menulis nama/kalimat pendek. c. Berikan metode komunikasi alternatif, seperti manukis ( agrafia). d. Bicara dan anjurkan pengunjung / keluarga mempertahankan usaha untuk berkomunikasi dengan pasien. e. Kolaborasi dengan ahli therafi bicara.

Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi, keterbatasan kognitif ditandai dengan ini : DS: pasien mengatakan tidak tahu tentang peyakit, pengobatan dan perawatannya. DO: pasien bertanya tentang penyakit, pengobatan dan perawatanya.

Setelah diberikan HE selama 30 menit diharapkan pasien menunjukkan pemahaman penyakit, pengobatan dan tentang

a. Beri penjelasan tentang penyakit, pengobatan dan perawatan pasien stroke. b. Diskusikan kondisi patologis yang khusus dan kekuatan pada individu. c. Tinjau ulang atau pertegas kembali tentang pengobatan yang diberikan, identifikasi cara meneruskan pengobatan setelah pulang.

perawatannya.