Anda di halaman 1dari 15

1

I. A. Pendahuluan 1. Latar Belakang

STRUKTUR BIJI

Biji merupakan bakal buah (ovulum) yang dihasilkan oleh tumbuhan berbunga dan dikenal sebagai alat perkembangbiakan pada tumbuhan. Walaupun banyak hal yang terdapat pada biji, tetapi baik mengenai jumlah, bentuk maupun strukturnya, mempunyai satu fungsi dan tujuan yang sama yaitu menjamin kelangsungan hidup suatu tanaman. Ilmu botani mengklasifikasikan tumbuhan berbiji menjadi 2 kelas yaitu angiospermae dan gymnospermae. Angiospermae sebagai kelas yang lebih tinggi terdiri dari monokotiledon dan dikotiledon. Setiap biji matang (mature seed) selalu terdiri dari 2 bagian yaitu embrio dan kulit biji (seed coat atau testa). Struktur biji pada padi terdiri dari lemma, palea, glumme, endosperm, embrio dan embrionic axis. Struktur biji pada jagung terdiri dari seed coat/fruit coat, endosperm, scutellum, aleuron layer, coleoptil, plumule, seminal root, radicle, coleorhiza, embrionic axis dan embrio. Sedangkan pada kedelai terdiri dari seed coat, cotyledon, hilum, plumule, radicle, embrionic axis dan embrio. Pengetahuan tentang struktur biji akan memberikan pemahaman yang baik tentang perbedaan ketiga struktur biji tersebut. Struktur biji berhubungan erat dengan cadangan makanan karena akumulasi cadangan makanan berhubungan erat dengan struktur biji atau tempat dimana cadangan tersebut akan disimpan. Derajat dan macam variasi komponen dalam perkembangannya sama atau tidak semua tergantung dengan beberapa struktur dasar yang berbeda untuk masingmasing tipe biji. 2. Tujuan Praktikum Tujuan dari praktikum ini yaitu supaya mahasiswa mengetahui struktur biji dari tanaman pangan yang tergolong pada monokotil dan dikotil.

B. Tinjauan Pustaka Biji merupakan suatu struktur kompleks, yang terdiri dari embrio atau lembaga, kulit biji dan persediaan makanan cadangan. Dalam biji banyak tumbuhan, makanan disimpan di dalam lembaga biji itu sendiri, pada tumbuhan lain, makanan disimpan dalam jaringan di sekililingnya. Cerita lengkap mengenai biji harus menerangkan perubahan-perubahan yang terjadi dalam stamen dan pistil, proses penyerbukan, perkembangan embrio, pembentukan kulit biji dan perkembangan penyediaan cadangan makanan yang digunakan oleh tumbuhan muda ketika biji berkecambah (Rubenstin 2002). Struktur biji yaitu terdiri dari embrio yang dibungkus oleh kulit biji yang disebut testa. Dalam biji tersimpan cadangan makanan atau endosperm, yang digunakan oleh tanaman untuk tumbuh dan berkembang, dan biji terbentuk dari ovula dewasa yang telah dibuahi. Bagian-bagian dari biji, yaitu; akar pertama yang disebut radikula, satu atau dua lembar daun embrio yang disebut kotiledon, daun pertama yang disebut plumula yang akan bercabang membentuk ranting, batang yang terletak di bagian bawah kotiledon disebut hipokotil, batang yang terletak di bagian atas kotiledon disebut epikotil (Suyanti 2010). Kulit biji berbeda-beda strukturnya sehubungan dengan sifat khas biji, seperti jumlah dan tebal integument, pola jaringan pembuluh, serta parubahan dalam integument sewaktu biji menjadi masak. Seiring dengan perkembangan biji, sel parenkim dibawahnya yang terdiri atas bagian luar dan bagian dalam, serta epidermis dalam yang mengandung pigmen. Seiring dengan

perkembangan biji, sel parenkim bagian luar bertambah jumlahnya serta terbentuk penebalan pada dinding tangensial dalam dan di dasar dinding radial dari sel epidermis luar. Sel epidermis luar akan tampak memanjang kearah radial dan penebalan dinding dalam arah panjang sel terlihat pada semua sudut sel saat biji sudah masak. Pada biji masak yang tinggal hanyalah remukan dinding yang membentuk selaput homogeny. Epidermis dalam yang berisi

pigmen tetap bertahan dan membentuk tepi dalam dari testa. Beberapa Angiospermae memiliki struktur tambahan yang banyak mengandung air. Pada Gymnospermae adanya kulit biji yang berdaging sudah umum dijumpai. Selain berfungsi melindungi, beberapa macan kulit biji tampaknya mengendalikan parkecambahan. Hal itu mungkin didasari oleh sifat impermeabel kulit biji terhadap air, oksigen, atau terhadap keduanya. Efek ini mungkin disebabkan lapisan kutikula dan penyebarannya (Siregar 2005). Derajat dari macam-macam variasi komponen dalam

perkembangannya sama atau tidak semua tergantung atau berhubungan dengan beberapa struktur dasar yang berbeda untuk masing-masing tipe biji. Sebagai tambahan dalam banyak spesies jaringan ekstra ovular, khususnya dinding ovary (pedicarp), menjadi bergabung erat dengan biji selama pembentukannya. Kita juga mencatat bahwa variasi dalam pembentukan struktur dalam biji yang dihasilkan oleh satu tanaman misalnya biji polymorphism. Variasi dalam ukuran, ada atau tidaknya endosperm, warna dari testa dan jumlah chlorophil dapat dijumpai pada beberapa spesies, dan faktor-faktor yang menyebabkan variasi ini belum diketahui dengan baik (Wartoyo et al. 2007). Pada biji tumbuhan angyospermae, bijinya memiliki dua lapisan yaitu kulit luar (testa), dan kulit dalam (tegmen). kulit luar tipis tetapi keras sedangkan kulit dalam seperti selaput dan sering disebut kulit ari. Tumbuhan gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka) bijinya memiliki tiga lapisan yaitu lapisan luar, lapisan tengah, dan lapisan dalam. Lapisan luar tebal berdaging. lapisan tengah lapisan kuat, keras, dan berkayu. sedangkan lapisan dalam tipis seperti selaput (Hariadi 2006). Pada umumnya kulit biji (testa) berasal dari integumen ovule yang mengalami modifikasi selama proses pembentukan biji berlangsung. Kulit biji berfungsi untuk melindungi biji dari kekeringan, kerusakan mekanis atau serangan cendawan, bakteri dan serangga. Kulit biji terdiri dari tiga lapisan, yaitu: (a) Outer integumen, merupakan lapisan terluar benih. (b) Aril merupakan lapisan yang berada ditengah tengah antara outer integumen dan

inner integumen. (c) Inner integumen, yaitu lapisan terdalam dari kulit benih (Suharto 2004). C. Metodologi Praktikum 1. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum acara I tentang Struktur Biji ini dilaksanakan pada hari Selasa, 7 Mei 2013 pukul 10.30-11.30 WIB di Laboratorium Ekologi dan Manajemen Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2. Alat dan Bahan Praktikum a. Alat 1) Silet 2) Kaca Pembesar b. Bahan 1) Benihjagung (Zea mays) 2) Benih kedelai(Glycine max) 3) Benih Padi (Oryza sativa) 4) Benih Kacang Tanah (Arachis hypogaea) 3. Cara Kerja a. Menggambar struktur luar biji tersebut. b. Memotong benih secara vertikal atau membujur dan secara horisontal atau melintang untuk semua benih. c. Menggambar benih yang dipotong tersebut dan melengkapi dengan bagian-bagiannya.

D. Hasil Pengamatan dan Pembahasan 1. Hasil Pengamatan Biji Melintang Biji Membujur Keterangan Bagian & Fungsi 1. Embrio = Calon Nama Biji = Jagung (Zea mays) 1 Jenis Biji = Monokotil Tipe Bibit = Hipogeal individu 2. Kulit Biji (testa) = Melindungi Biji 3. Kotiledon = memberi makan embrio 1. Embrio = Calon Nama Biji = Kedelai(Glycine Max) 2 Jenis Biji = Dikotil Tipe Bibit = Epigeal Individu 2. Kulit Biji ( testa) = Melindungi Biji 3. Kotiledon = memberi makan embrio Nama Biji = 3 Padi (Oryza sativa) 1. Embrio = Calon Individu

No

Komoditas

Biji Utuh

Jenis Biji = Monokotil Tipe Bibit = Epigeal

2. Kulit Biji (testa)= Melindungi Biji 3. Kotiledon = memberi makan embrio 1. Embrio =

Nama Bibit = Kacang Tanah (Arachis 4 hypogaea) Jenis Biji = Dikotil Tipe Bibit = Epigeal

Calon Individu 2. Kulit Biji (testa)= Melindungi Biji 3. Kotiledon = memberi makan embrio

Sumber: Laporan Sementara 2. Pembahasan Biji dihasilkan oleh bunga setelah terjadi peristiwa penyerbukan dan pembuahan.Biji terbentuk dari hasil pembuahan yang terjadi di dalam bakal buah. Di dalam bakal buah terdapat bakal biji. Di dalam bakal biji terdapat embrio atau calon individu baru. Embrio mempunyai bagian yaitu akar lembaga (radikula), daun lembaga, serta batang lembaga yang terdapat di atas daun lembaga maupun di bawah daun lembaga Spermatophyta (tumbuhan berbiji) memiliki ciri-ciri antara lain: makroskopis dengan ketinggian bervariasi, bentuk tubuhnya bervariasi, cara hidup fotoautotrof, habitatnya kebanyakan di darat tapi ada juga yang mengapung di air (teratai), mempunyai pembuluh floem dan xilem,

reproduksi melalui penyerbukan (polinasi) dan pembuahan (fertilisasi). Tumbuhan biji dibedakan menjadi dua golongan yaitu tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae) dan tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae). a. Gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka) Ciri-ciri gymnospermae tidak mempunyai bunga sejati, tidak ada mahkota bunganya. Bakal biji terdapat di luar permukaan dan tidak dilindungi oleh daun buah, merupakan tumbuhan heterospora yaitu menghasilkan dua jenis spora berlainan, megaspora membentuk gamet betina, sedangkan mikrospora menghasilkan serbuk sari, struktus reproduksi terbentuk di dalam strobilus. Dalam reproduksi terjadi pembuahan tunggal. b. Angiospermae (tumbuhan berbiji tertutup) Ciri-ciri Angiospermae memiliki bakal biji atau biji yang tertutup oleh daun buah, mempunyai bunga sejati, umumnya tumbuhan berupa pohon, perdu, semak, liana dan herba. Dalam reproduksi terjadi pembuahan ganda. Angiospermae dibedakan menjadi dua yaitu monocotyledoneae (berkeping satu) dan dicotyledoneae (berkeping dua). 1) Monocotyledoneae Mempunyai biji berkeping satu, berakar serabut, batangnya dari pangkal sampai ujung hampir sama besarnya. Umumnya tidak bercabang. Akar dan batang tidak berkambium. Contohnya: Oryza sativa (padi), Zea mays (jagung), Musa paradisiaca (pisang), Cocos nucifera (kelapa). 2) Dicotyledoneae Mempunyai biji jumlah kepingnya dua, berakar tunggang, batang dari pangkal besar makin ke atas makin kecil. Batang bercabang, akar dan batang berkambium. Contohnya: Casia siamea (johar), Arachis hypogea (kacang tanah), Psidium guajava (jambu biji), Ficus elastica (karet)

Hariadi (2006) menjelaskan bahwa menurut strukturnya, biji adalah suatu ovule atau bakal biji yang masak yang mengandung suatu tanaman mini atau embrio yang biasanya terbentuk dari bersatunya selsel generatif (gamet) di dalam kandung embrio (embryo sac) serta cadangan makanan yang mengelilingi embrio. Bagian-bagian biji terdiri dari 3 bagian dasar: a. Embrio Embrio adalah suatu tanaman baru yang terjadi dari bersatunya gamet-gamet jantan dan betina pada suatu proses pembuahan. Embrio yang berkembangnya sempurna terdiri dari struktur-struktur sebagai berikut : epikotil (calon pucuk), hipokotil (calon batang), kotiledon (calon daun) dan radikula (calon akar). Tanaman di dalam kelas Angiospermae diklasifikasikan oleh banyaknya jumlah kotiledon. Tanaman monokotiledon mempunyai satu kotiledon misalnya: rerumputan dan bawang. Tanaman dikotiledon mempunyai dua kotiledon misalnya kacang-kacangan sedangakan pada kelas Gymnospermae pada umumnya mempunyai lebih dari 2 kotiledon misalnya pinus, yang mempunyai sampai sebanyak 15 kotiledon. Pada rerumputan (grasses) kotiledon yang seperti ini disebut scutellum, kuncup embrioniknya disebut plumulle yang ditutupi oleh upih pelindung yang disebut koleoptil, sedangkan pada bagian bawah terdapat akar embrionik yang disebut radicule yang ditutupi oleh upih pelindung yang disebut coleorhiza. b. Jaringan penyimpan cadangan makanan Pada biji ada beberapa struktur yang dapat berfungsi sebagai jaringan penyimpan cadangan makanan, yaitu : 1) Kotiledon, misalnya pada kacang-kacangan, semangka dan labu. 2) Endosperm, misal pada jagung, gandum, dan golongan serelia lainnya. Pada kelapa bagian dalamnya yang berwarna putih dan dapat dimakan merupakan endospermnya.

3) Perisperm,

misal

pada

famili

Chenopodiaceae

dan

Caryophyllaceae 4) Gametophytic betina yang haploid misal pada kelas

Gymnospermae yaitu pinus. Cadangan makanan yang tersimpan dalam biji umumnya terdiri dari karbohidrat, lemak, protein dan mineral. Komposisi dan persentasenya berbeda-beda tergantung pada jenis biji, misal biji bunga matahari kaya akan lemak, biji kacang-kacangan kaya akan protein, biji padi mengandung banyak karbohidrat. c. Pelindung biji Pelindung biji dapat terdiri dari kulit biji, sisa-sisa nucleus dan endosperm dan kadang-kadang bagian buah. Tetapi umumnya kulit biji (testa) berasal dari integument ovule yang mengalami modifikasi selama proses pembentukan biji berlangsung. Biasanya kulit luar biji keras dan kuat berwarna kecokelatan sedangkan bagian dalamnya tipis dan berselaput. Kulit biji berfungsi untuk melindungi biji dari kekeringan, kerusakan mekanis atau serangan cendawan, bakteri dan insekta. Pada praktikum struktur biji ini dilakukan pengamatan mengenai bentuk morfologi beberapa biji (penampang biji) untuk mengetahui struktur biji berbagai tanaman pangan, yang tergolong pada jenis biji monokotil dan dikotil. Contoh biji monokotil yang diamati yaitu bijijagung dan padi sedangkan contoh biji dikotilnya adalah biji kedelai dan kacang tanah. Pengamatan struktur biji ini dilakukan berdasarkan struktur luar biji, penampang melintang biji dan penampang membujur biji. Hal tersebut dilakukan agar diperoleh data yang lengkap mengenai struktur biji dan dapat ditunjukkan secara jelas apa saja bagian-bagian dari biji, baik biji monokotil maupun biji dikotil. Pengamatan struktur biji diawali dengan perendaman biji selama 12 jam guna meningkatkan kadar air dalam benih untuk proses perkembangan biji yang digunakan untuk proses fotosintesis atau lebih

10

dikenal proses imbibisi serta meningkatkan perkecambahan biji dan melindungi biji dari serangan hama dan penyakit yang berada di lingkungan media tanam Perbedaan biji monokotil dan dikotil adalah pada bji monokotil embrio terdiri dari kotiledon, endosperm merupakan bagian yang besar, serta cadangan makanan pada endosperm belum dicerna sebelum biji masak, sedangkan pada biji dikotil embrio terdiri atas kotiledon; plumula; epikotil; dan radikula, endosperm merupakan bagian yang terkecil dan cadangan makanan yang terdapat pada kotiledon sudah dapat dicerna dan diserap embrio sebelum biji masak. Berdasarkan hasil pengamatan terdapat perbedaan struktur melintang dan membujur biji yang masuk dalam sub kelas monokotil dan sub kelas dikotil. Biji jagung (Zea mays) memiliki struktur luar biji terlihat bagian seed coat atau kulit biji berwarna oranye kekuningan dan endosperm yang terlihat berwarna kuning tua dari luar. Penampang melintang terlihat embrio, endosperm, dan scutellum. Embrio biji jagung terdapat pada sisi ventral biji. Pada potongan longitudinal terdapat susunan yang menyerupai akar (radikula) yang keduanya dihubungkan oleh hipokotil. Embrio dalam perkembangan sempurna terdiri dari: epikotil (calon pucuk), kotiledon (calon daun pertama), hipokotil (calon batang), dan radikula (calon akar). Scutellum pada biji jagung berfungsi sebagai organ penyerap makanan dari endosperm dan mengantarkannya ke embryonic axis yang sedang tumbuh. Penampang membujur biji jagung terlihat adanya embrio, kulit biji dan endosperm. Plumula merupakan kuncup embrionik yang berfungsi sebagai calon daun. Plumula dapat menembus koleoptil untuk melanjutkan pertumbuhannya. Hipokotil merupakan calon batang yang memanjang. Hipokotil pada biji jagung menyebabkan kotiledon tetap berada di bawah permukaan tanah sehingga jagung merupakan tipe bibit yang hipogeal. Scutellum berfungsi sebagai organ penyerap

11

makanan dari endosperm dan mengantarkannya ke embryonic axis yang sedang tumbuh. Kolepriza berfungsi sebagai pelindung radikula. Endosperm terdiri dari sel-sel parenkim yang berdinding tebal sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan berupa karbohidrat, protein, dan lemak untuk memenuhi kebutuhan akan nutrisi embryonic axis. Endosperm jagung terdiri dari 2 bagian yaitu endosperm keras (horny endosperm) dan endosperm lunak (floury endosperm). Bagian keras tersusun dari sel-sel yang lebih kecil dan tersusun rapat, demikian juga susunan granula pati yang ada di dalamnya. Bagian endosperm lunak mengandung pati yang lebih banyak dan susunan pati tersebut tidak serapat pada bagian yang keras. Secara struktural biji jagung yang telah matang terdiri atas empat bagian utama, yaitu perikarp, lembaga, endosperm, dan tip kap. Perikarp merupakan lapisan pembungkus biji yang berubah cepat selama proses pembentukan biji. Pada waktu kariopsis masih muda, selselnya kecil dan tipis, tetapi sel-sel itu berkembang seiring dengan bertambahnya umur biji. Pada taraf tertentu lapisan ini membentuk membran yang dikenal sebagai kulit biji atau testa/aleuron yang secara morfologi adalah bagian endosperm. Bobot lapisan aleuron sekitar 3% dari keseluruhan biji. Biji dikotil yang digunakan untuk praktikum adalah biji kedelai dan kacang tanah.Struktur luar biji kedelai (Glycine max) maupun kacang tanah (Arachis hypogaea) tampak adanya kotiledon dan seed coat. Seed coat biji kedelai sangat tipis dan transparan. Biji kedelai berwarna putih kekuningan jika dilihat dari luar secara utuh. Penampang melintang biji kedelai yang dapat diamati bagian-bagiannya adalah embrio, radikula, dan kotiledon, sedangkan penampang membujur yang dapat diamati bagian-bagian biji kotiledon, plumula, epikotil, radikula, hipokotil, mikrofil, dan hilum. Mikrofil pada biji kedelai berfungsi sebagai tempat masuknya air dan CO2 dan O2. Hilum pada biji kedelai merupakan bekas luka dari kunikulus yang terputus

12

saat biji menjadi matang, hilum dapat terlihat dengan jelas karena berwarna berbeda dari kulit luar benih. Sedangkan untuk bagian lain pada biji kedelai mempunyai fungsi yang sama dengan fungsi pada bagian biji kacang tanah. Padi (Oryza sativa) yang masuk pada kelas monokotil struktur luar biji padi seed coat (kulit biji) yang memiliki permukaan agak berbulu. Seed coat padi dapat dikelupas untuk mengeluarkan bulir padi yang dapat dikonsumsi.Pada kulit biji (seed coat) padi tersusun atas lemma, palea dan glumme. Biji sebagian besar ditempati oleh endosperm yang mengandung zat tepung dan sebagian ditempati oleh embrio (lembaga) yang terletak dibagian sentral yakni dibagian lemma. Biji padi termasuk biji yang kariopsis, endosperm merupakan buah dari biji tersebut yang menjadi bagianyang dikonsumsi. Kariopsis pada biji padi ditunjukkan dengan dinding ovari atau pericarp yang menyatu dengan kulit biji atau testa dan membentuk dinding buah. Struktur melintang biji padi terlihat endosperm dan embrio yang berada di ujung biji. Endosperm merupakan tempat untuk menyimpan cadangan makanan bagi perkembangan biji. Embrio terlihat kecil di tepi biji dan akan berkembang menjadi epikotil, hipokotil, radikula, dan plumula. Manfaat dari mengetahui struktur biji secara keseluruhan baik dari penampakan luar, penampang melintang, dan penampang membujur biji adalah sebagai dasar dalam menentukan keputusan untuk memanfaatkan biji baik dalam kegiatan penanaman biji, pengolahan biji, penyimpanan biji, dan dalam upaya peningkatan mutu biji. Mempelajari struktur biji bermanfaat dalam menentukan tipe suatu biji, yaitu tipe monokotil maupun dikotil. Tipe monokotil dan dikotil akan memberikan pengetahuan mengenai tipe bibit yang dihasilkan yaitu tipe bibit hipogeal dan epigeal. Cara penanaman biji monokotil dan dikotil tersebut akan berbeda. Penanaman biji yang tidak tepat dalam meletakkan posisi embrio akan menghambat perkembangan embrio

13

menjadi individu baru. Memahami dan mengerti bagian-bagian dari biji akan dapat berguna dalam penerapan teknologi benih. E. Kesimpulan dan Saran 1. Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum Struktur Biji ini adalah: a. Biji terbentuk dari hasil pembuahan yang terjadi di dalam bakal buah yang didalamnya terdapat bakal biji. Di dalam bakal biji terdapat embrio atau calon individu baru b. Tumbuhan berbiji menjadi 2 kelas aitu angiospermae dan

gymnospermae. Angiospermae memiliki bakal biji atau biji yang tertutup oleh daun buah, mempunyai bunga sejati, umumnya tumbuhan berupa pohon, perdu, semak, liana dan herba. Gymnospermae tidak mempunyai bunga sejati, tidak ada mahkota bunganya c. Perendaman biji selama 12 jam guna meningkatkan kadar air dalam benih untuk proses perkembangan biji yang digunakan untuk proses fotosintesis, meningkatkan perkecambahan biji, melindungi biji dari serangan hama dan penyakit d. Struktur biji jagung yaitu embrio, cadangan makanan (endosperm), kulit biji (seed coat), pericarp, aleuron layer, scutellum, coleoptil, plumule, radikula dan koleoriza. e. Struktur biji kedelai dan kacang tanah yaitu embrio, cadangan makanan (kotiledon), kulit biji (seed coat), plumula, epikotil, hipokotil, radikula, mikrofil, dan hilum. f. Struktur biji padi yaitu embrio, cadangan makanan (kotiledon), kulit biji (seed coat), epikotil, hipokotil, radikula, dan plumula g. Perbedaan yang mendasar dalam struktur biji monokotil dan dikotil adalah berdasarkan jumlah keping biji. h. Manfaat dari pengamatan struktur biji adalah sebagai dasar dalam menentukan keputusan untuk memanfaatkan biji dalam kegiatan

14

penanaman biji, pengolahan biji, penyimpanan biji, dan dalam upaya peningkatan mutu biji. 2. Saran Dari praktikum struktur biji saran yang dapat diberikan yaitu sebaiknya lebih banyak biji yang digunakan agar hasilnya lebih bervariasi sehingga mahasiswa lebih banyak mengerti bagian bagian dari struktur biji.

15

DAFTAR PUSTAKA Hariadi 2006. Struktur Biji. Kanisius. Jogjakarta. Rubenstin, Irwin. 2002. The Plant Seed. Academy Press Inc. USA. Siregar, A. Z. 2005. Comparative Anatomy and Morphology of Embryos and Seedlings of Maize, Oats, and Wheat. Culture Journal. 40 (2): 77-83. Suharto. 2004. Struktur Biji, Sifat Fisik Biji, dan Karakteristik Benih Kayu (Maesopsis eminii Engl) Provenan Padang Jaya. Jurnal Akta Agrosia. 7 (1): 24-32. Suyanti, H. 2010. Tumbuhan Berbiji (Seed Plants). http://prestasiherfen.blogspot.com. Diakses pada tanggal 12Mei 2013. Wartoyo, Warsoko, Sri Nyoto, dan Bambang P. 2007. Fisiologi Benih. Fakultas Pertanian UNS. Surakarta.