Anda di halaman 1dari 23

Konsep Dasar Perkembangan Individu

Posted by AKHMAD SUDRAJAT on 24 Januari 2008 Posted in: Psikologi Pendidikan. Tagged: Artikel Pendidikan, Makalah Pendidikan, Pendidikan, Psikologi Perkembangan. 18 komentar

oleh : Akhmad Sudrajat 1. Apa perkembangan individu itu?

erkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis, progresif

dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya. 2. Apa yang dimaksud dengan sistematis ? Sistematis adalah bahwa perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya, baik fisik maupun psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmonis. Contoh : kemampuan berbicara seseorang akan sejalan dengan kematangan dalam perkembangan intelektual atau kognitifnya. Kemampuan berjalan seseorang akan seiring dengan kesiapan otot-otot kaki. Begitu juga ketertarikan seorang remaja terhadap jenis kelamin lain akan seiring dengan kematangan organ-organ seksualnya. 3. Apa yang dimaksud dengan progresif ? Progresif berarti perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat dan meluas, baik secara kuantitatif (fisik) mapun kualitatif (psikis). Contoh : perubahan proporsi dan ukuran fisik (dari pendek menjadi tinggi dan dari kecil menjadi besar); perubahan pengetahuan dan keterampilan dari sederhana sampai kepada yang kompleks (mulai dari mengenal huruf sampai dengan kemampuan membaca buku).

4. Apa yang dimaksud dengan berkesinambungan ? Berkesinambungan artinya bahwa perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan. Contoh : untuk dapat berdiri, seorang anak terlebih dahulu harus menguasai tahapan perkembangan sebelumnya yaitu kemampuan duduk dan merangkak. 5. Apa ciri-ciri perkembangan individu? Perkembangan individu mempunyai ciri-ciri umum sebagai berikut : 1. Terjadinya perubahan dalam aspek :

Fisik; seperti : berat dan tinggi badan. Psikis; seperti : berbicara dan berfikir. 2. Terjadinya perubahan dalam proporsi.

Fisik;

seperti

proporsi

tubuh

anak

berubah

sesuai

dengan

fase

perkembangannya.

Psikis; seperti : perubahan imajinasi dari fantasi ke realistis. 3. Lenyapnya tanda-tanda yang lama.

Fisik; seperti: rambut-rambut halus dan gigi susu, kelenjar thymus dan kelenjar pineal. Psikis; seperti : lenyapnya masa mengoceh, perilaku impulsif. 4. Diperolehnya tanda-tanda baru.

Fisik; seperti : pergantian gigi dan karakteristik sex pada usia remaja, seperti kumis dan jakun pada laki dan tumbuh payudara dan menstruasi pada wanita, tumbuh uban pada masa tua.

Psikis; seperti berkembangnya rasa ingin tahu, terutama yang berkaitan dengan sex, ilmu pengetahuan, nilai-nilai moral dan keyakinan beragama. 6. Apa prinsip-prinsip perkembangan inidividu?

Prinip- prinsip perkembangan individu, yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti. Semua aspek perkembangan saling berhubungan. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan. Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas. Setiap individu normal akan mengalami tahapan perkembangan. Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu. Bagaimana pola atau arah perkembangan inidividu? Arah atau pola perkembangan sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Cephalocaudal & proximal-distal (perkembangan manusia itu mulai dari kepala ke kaki dan dari tengah (jantung, paru dan sebagainya) ke samping (tangan). Struktur mendahului fungsi. Diferensiasi ke integrasi. Dari konkret ke abstrak. Dari egosentris ke perspektivisme. Dari outer control ke inner control. 8. Bagaimana tahapan-tahapan perkembangan individu? Dalam berbagai literatur kita dapati berbagai pendekatan dalam menentukan tahapan perkembangan individu, diantaranya adalah pendekatan didaktis. Dalam hal ini, Syamsu Yusuf (2003) mengemukakan tahapan perkembangan individu dengan menggunakan pendekatan didaktis, sebagai berikut : Masa Usia Pra Sekolah Masa Usia Pra Sekolah terbagi dua yaitu (1) Masa Vital dan (2) Masa Estetik

1.

Masa Vital; pada masa ini individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. Untuk masa belajar pada tahun pertama dalam kehidupan individu , Freud menyebutnya sebagai masa oral (mulut), karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan dan merupakan alat untuk melakukan eksplorasi dan belajar.Pada tahun kedua anak belajar berjalan sehingga anak belajar menguasai ruang, mulai dari yang paling dekat sampai dengan ruang yang jauh. Pada tahun kedua umunya terjadi pembiasaan terhadap kebersihan. Melalui latihan kebersihan, anak

belajar mengendalikan impuls-impuls atau dorongan-dorongan yang datang dari dalam dirinya.

2.

Masa Estetik; dianggap sebagai masa perkembangan rasa keindahan. Anak bereksplorasi dan belajar melalui panca inderanya. Pada masa ini panca indera masih sangat peka. Masa Usia Sekolah Dasar Masa Usia Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual, atau masa keserasian bersekolah pada umur 6-7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. Masa Usia Sekolah Dasar terbagi dua, yaitu : (a) masa kelas-kelas rendah dan (b) masa kelas tinggi. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas rendah(6/7 9/10 tahun) :

1. 2. 3. 4. 5. 6. tidak.

Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi. Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional. Adanya kecenderungan memuji diri sendiri. Membandingkan dirinya dengan anak yang lain. Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak penting. Pada masa ini (terutama usia 6 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau

Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) : 1. 2. 3. 4. anak 5. Minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret. Amat realistik, rasa ingin tahu dan ingin belajar. Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus. Sampai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya. Selepas usia ini pada umumnya menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya. Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi sekolahnya.

6.

Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. Dalam permainan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sudah ada), mereka membuat peraturan sendiri. Masa Usia Sekolah Menengah Masa usia sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja, yang terbagai ke dalam 3 bagian yaitu :

1. 2.

masa remaja awal; biasanya ditandai dengan sifat-sifat negatif, dalam jasmani dan mental, prestasi, serta sikap sosial, masa remaja madya; pada masa ini mulai tumbuh dorongan untuk hidup, kebutuhan akan adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya. Pada masa ini sebagai masa mencari sesuatu yang dipandang bernilai, pantas dijunjung dan dipuja.

3.

masa remaja akhir; setelah remaja dapat menentukan pendirian hidupnya, pada dasarnya telah tercapai masa remaja akhir dan telah terpenuhi tugas-tugas perkembangan pada masa remaja, yang akan memberikan dasar bagi memasuki masa berikutnya yaitu masa dewasa. Masa Usia Kemahasiswaan (18,00-25,00 tahun) Masa ini dapat digolongkan pada masa remaja akhir sampai masa dewasa awal atau dewasa madya, yang intinya pada masa ini merupakan pemantapan pendirian hidup.

Tahapan Perkembangan Kognitif IndividuPiaget


Posted by AKHMAD SUDRAJAT on 31 Januari 2008 Posted in: Psikologi Pendidikan. Tagged: Artikel Pendidikan, Pendidikan, Psikologi Perkembangan. 17 komentar

Piaget, seorang ahli psikologi kognitif, mengemukakan 4 (empat) tahapan perkembangan kognitif individu, yaitu: 1. Tahap Sensori-Motor (0-2)

nteligensi

sensori-motor

dipandang

sebagai

inteligensi

praktis

(practical

intelligence), yang berfaedah untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum mampu berfikir mengenai apa yang sedang ia perbuat. Inteligensi individu pada tahap ini masih bersifat primitif, namun merupakan inteligensi dasar yang amat berarti untuk menjadi fundasi tipe-tipe inteligensi tertentu yang akan dimiliki anak kelak. Sebelum usia 18 bulan, anak belum mengenal object permanence. Artinya, benda apapun yang tidak ia lihat, tidak ia sentuh, atau tidak ia dengar dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya benda itu ada. Dalam rentang 18 24 bulan barulah kemampuan object permanence anak tersebut muncul secara bertahap dan sistematis. 2. Tahap Pra Operasional (27) Pada tahap ini anak sudah memiliki penguasaan sempurna tentang object permanence. Artinya, anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yang harus ada atau biasa ada, walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sudah tak dilihat, didengar atau disentuh lagi. Jadi, pandangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dengan pandangan pada periode sensori motor, yakni tidak bergantung lagi pada pengamatannya belaka. Pada periode ditandai oleh adanya egosentris serta pada periode ini memungkinkan anak untuk mengembangkan diferred-imitation, insight learning dan kemampuan berbahasa, dengan menggunakan kata-kata yang benar serta mampu mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif. 3. Tahap konkret-operasional (7-11) Pada periode ditandai oleh adanya tambahan kemampuan yang disebut system of operation (satuan langkah berfikir) yang bermanfaat untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam pemikirannya sendiri. Pada dasarnya perkembangan kognitif anak ditinjau dari karakteristiknya sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. Namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. Pada periode ini anak baru mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang konkret. 4. Tahap formal-operasional (11-dewasa) Pada periode ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif yaitu :

Kapasitas menggunakan hipotesis; kemampuan berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang dia respons dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. Kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak; kemampuan untuk mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak secara luas dan mendalam. Dengan menggunakan hasil pengukuran tes inteligensi yang mencakup General Information and Verbal Analogies, Jones dan Conrad (Loree dalam Abin Syamsuddin M, 2001) menunjukkan bahwa laju perkembangan inteligensi berlangsung sangat pesat sampai masa remaja, setelah itu kepesatannya berangsur menurun. Puncak perkembangan pada umumnya tercapai di penghujung masa remaja akhir. Perubahanperubahan amat tipis sampai usia 50 tahun, dan setelah itu terjadi plateau (mapan) sampai dengan usia 60 tahun selanjutnya berangsur menurun. Dengan berpatokan kepada hasil tes IQ, Bloom (1964) mengungkapkan prosentase taraf perkembangan sebagai berikut :

Usia

Perkembangan

1 tahun

Sekitar 20 %

4 tahun

Sekitar 50 %

8 tahun

Sekitar 80 %

13 tahun
Materi terkait:

Sekitar 92 %

Karakteristik Perilaku dan Pribadi pada Masa Remaja


Posted by AKHMAD SUDRAJAT on 5 Maret 2008 Posted in: Psikologi Pendidikan. Tagged: Artikel Pendidikan, Pendidikan, Psikologi Perkembangan. 38 komentar

erujuk pada tulisan Abin Samsuddin (2003), di bawah ini disajikan

berbagaikarakteristik perilaku dan pribadi masa remaja , yang terbagi ke dalam bagian dua kelompok yaitu remaja awal (11-13 s.d. 14-15 tahun) dan remaja akhir (14-16 s.d. 18-20 tahun) meliputi aspek : fisik, psikomotor, bahasa, kognitif, sosial, moralitas, keagamaan, konatif, emosi afektif dan kepribadian.

Remaja Awal (11-13 Th s.d.14-15 Th)

Remaja Akhir (14-16 Th.s.d.18-20 Th)

Fisik

Laju perkembangan secara Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat. umum kembali menurun, sangat lambat.

Proporsi ukuran tinggi dan Proporsi ukuran tinggi dan berat badan sering- kali berat badan lebih seimbang kurang seimbang. mendekati kekuatan orang dewasa.

Munculnya ciri-ciri sekunder Siap berfungsinya organ (tumbul bulu pada pubic organ reproduktif seperti pada

region, otot mengembang orang dewasa. pada bagian bagian tertentu), disertai mulai aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day dreamingpada laki-laki.

Psikomotor

Gerak gerik canggung dan terkoordinasikan.

tampak Gerak gerik mulai mantap. kurang

Aktif dalam berbagai jenis Jenis dan jumlah cabang cabang permainan. permainan lebih selektif dan terbatas pada keterampilan yang menunjang kepada persiapan kerja.

Bahasa

Berkembangnya penggunaan Lebih memantapkan diri pada bahasa sandi dan mulai bahasa asing tertentu yang tertarik mempelajari bahasa dipilihnya. asing.

Menggemari literatur yang Menggemari literatur yang bernafaskan dan bernafaskan dan mengandung mengandung segi erotik, nilai-nilai filosofis, ethis,

fantastik dan estetik.

religius.

Perilaku Kognitif

Proses berfikir sudah mampu mengoperasikan kaidahkaidah logika formal (asosiasi, diferensiasi, komparasi, kausalitas) yang bersifat abstrak, meskipun relatif terbatas.

Sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal disertai kemampuan membuat generalisasi yang lebih bersifat konklusif dan komprehensif.

Kecakapan dasar intelektual Tercapainya titik puncak menjalani laju kedewasaan bahkan mungkin perkembangan yang mapan (plateau) yang suatu terpesat. saat (usia 50-60) menjadi deklinasi.

Kecakapan dasar khusus Kecenderungan bakat tertentu (bakat) mulai menujukkan mencapai titik puncak dan kecenderungankemantapannya kecenderungan yang lebih jelas.

Perilaku Sosial

Diawali dengan Bergaul dengan jumlah teman kecenderungan ambivalensi yang lebih terbatas dan selektif keinginan menyendiri dan keinginan bergaul dengan

banyak teman tetapi bersifat dan lebih lama (teman dekat). temporer.

Adanya kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semangat konformitas yang tinggi.

Kebergantungan kepada kelompok sebaya berangsur fleksibel, kecuali dengan teman dekat pilihannya yang banyak memiliki kesamaan minat.

Moralitas

Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua.

Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai nilai atau normatif yang universal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru atau kesalahan.

Dengan sikapnya dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya.

Sudah berangsur dapat menentukan dan menilai tindakannya sendiri atas norma atau sistem nilai yang dipilih dan dianutnya sesuai dengan hati nuraninya.

Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya.

Mulai dapat memelihara jarak dan batas-batas kebebasannya mana yang harus dirundingkan dengan orang tuanya.

Perilaku Keagamaan

Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan secara kritis dan skeptis.

Eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipahamkan dan dihayati menurut sistem kepercayaan atau agama yang dianutnya.

Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari dilakukan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya.

Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari mulai dilakukan atas dasar kesadaran dan pertimbangan hati nuraninya sendiri secara tulus ikhlas

Masih mencari dan mencoba Mulai menemukan menemukan pegangan hidup hidup

pegangan

Konatif, Emosi, Afektif dan Kepribadian

Lima kebutuhan dasar Sudah menunjukkan arah (fisiologis, rasa aman, kasih kecenderungan tertentu yang sayang, harga diri dan akan mewarnai pola dasar aktualisasi diri) kepribadiannya. mulai menunjukkan arah kecenderungannya

Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum terkendali seperti pernyataan marah, gembira

Reaksi-reaksi dan ekspresi emosinalnya tampak mulai terkendali dan dapat menguasai dirinya.

atau kesedihannya masih dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat

Kecenderungankecenderungan arah sikap nilai mulai tampak teoritis, ekonomis, estetis, sosial, politis, dan religius), meski masih dalam taraf eksplorasi dan mencoba-coba.

Kecenderungan titik berat ke arah sikap nilai tertentu sudah mulai jelas seperti yang akan ditunjukkan oleh kecenderungan minat dan pilihan karier atau pendidikanlanjutannya; yang juga akan memberi warna kepada tipe kepribadiannya.

Merupakan masa kritis dalam rangka meng-hadapi krisis identitasnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya, yang akan membentuk kepribadiannnya.

Kalau kondisi psikososialnya menunjang secara positif maka mulai tampak dan ditemukan identitas kepriba-diannya yang relatif definitif yang akan mewarnai hidupnya sampai masa dewasa.

Materi terkait:

Tahapan Perkembangan Moralitas-Kohlberg


Posted by AKHMAD SUDRAJAT on 5 Maret 2008 Posted in: Psikologi Pendidikan. Tagged: Artikel Pendidikan, Pendidikan, Psikologi Perkembangan. 2 komentar

etika individu mulai menyadari bahwa ia merupakan bagian dari lingkungan sosial

dimana ia berada, bersamaan itu pula individu mulai menyadari bahwa dalam lingkungan sosialnya terdapat aturan-aturan, norma-norma/nilai-nilai sebagai dasar atau patokan dalam berperilaku. Keputusan untuk melakukan sesuatu berdasarkan pertimbangan norma yang berlaku

dan nilai yang dianutnya itu disebut moralitas. Dalam hal ini, Kohlberg mengemukakan tahapan perkembangan moralitas individu, sebagaimana tampak dalam tabel berikut :

Tingkat

Tahap Tahap 1. Orientasi terhadap kepatuhan dan hukuman.

Pre Conventional Anak mengganggap baik atau buruk atas dasar akibat yang (09) ditimbulkannya. Anak hanya mengetahui bahwa aturan-aturan yang ditentukan oleh adanya kekuasaan yang tidak bisa diganggu gugat. Ia hanya menurut kalau tidak ingin kena hukuman. Tahap 2. Relativistik hedonism. Pada tahap ini, anak tidak lagi secara mutlak tergantung kepada aturan yang ada di luar dirinya, atau ditentukan oleh orang lain, tetapi mereka sadar bahwa setiap kejadian mempunyai beberapa segi. Jadi adarelativisme, artinya bergantung pada kebutuhan dan kesanggupan seseorang (hedonistik). Misalnya: mencuri ayam karena kelaparan, karena perbuatan mencurinya untuk memenuhi kebutuhannya (lapar) maka mencuri dianggap sebagai perbuatan yang bermoral, meskipun perbuatan mencuri itu sendiri diketahui sebagai perbuatan yang salah. Tahap 3. Orientasi mengenai anak yang baik. Conventional (915) Pada tahap ini anak mulai memasuki belasan tahun, dimana anak memperlihatkan orientasi perbuatan-perbuatan yang dapat dinilai baik atau tidak baik oleh orang lain. Masyarakat adalah sumber belajar yang menentukan apakah perbuatan seseorang baik atau tidak. Menjadi anak manis masih sangat penting dalam stadium ini. Tahap 4. Mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas. Pada stadium ini perbuatan baik yang diperlihatkan seseorang bukan hanya agar dapat diterima oleh lingkungan masyarakatnya, melainkan bertujuan agar dapat ikut mempertahankan aturan-aturan atau normanorma sosial. Jadi perbuatan baik merupakan kewajiban untuk ikut melaksanakan aturan yang ada, agar tidak timbul kekacauan. Tahap 5. Orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial.

Post Conventional (>15 ) Pada tahap ini ada hubungan timbal balik antara dirinya dengan lingkungan sosial dengan masyarakat. Seseorang harus memperlihatkan kewajiban, harus sesuai dengan tuntutan norma-norma sosial karena sebaliknya, lingkungan sosial atau masyarakat akan memberikan perlindungan kepadanya. Originalitas remaja juga tampak dalam hal ini. Remaja masih mau diatur secara ketat oleh hukum-hukum umum yang lebih tinggi. Meskipun di stadium ini kata hati sudah mulai berbicara, namun penilaian penilainnya masih belum timbul dari kata hati yang sudah betul-betul diintenalisasi, yang sering tampak pada sikap yang

kaku. Tahap 6. Prinsip etis universal Pada tahap ini ada norma etik di samping norma pribadi dan subyektif. Dalam hubungan dan perjanjian antara seseorang dengan masyarakatnya ada unsur-unsur subyektif yang menilai apakah suatu perbuatan itu baik atau tidak. Subyektivisme ini berarti ada perbedaan penilaian antara seseorang dengan orang lain. Dalam hal ini, unsur etika akan menentukan apa yang boleh dan baik dilakukan atau sebaliknya. Remaja mengadakan penginternalisasian moral yaitu remaja melakukan tingkah laku tingkah laku moral yang dikemudikan oleh tanggung jawab batin sendiri. Tingkat perkembangan moral pasca konvensional harus dicapai selama masa remaja.
Materi terkait:

Tahapan Perkembangan Keagamaan


Posted by AKHMAD SUDRAJAT on 24 Januari 2008 Posted in: Psikologi Pendidikan. Tagged: Artikel Pendidikan, Pendidikan, Psikologi Perkembangan. 2 komentar

engan melalui pertimbangan fungsi afektif, kognitif, dan konatifnya, pada

saat-saat tertentu, individu akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agung yang melebihi apa pun, termasuk dirinya. Penghayatan seperti itu disebut pengalaman keagamaan (religious experience) (Zakiah Darajat, 1970). Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan atas kebaradaan-Nya, namun juga mengakuiNya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. Oleh karena itu, manusia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu, baik secara individual maupun kolektif, secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari. Abin Syamsuddin (2003) menjelaskan tahapan perkembangan keagamaan, beserta ciri-cirinya sebagai berikut :

1. Perkembangan Keagamaan Masa Kanak-Kanak Awal


Sikap reseptif meskipun banyak bertanya Pandangan ke-Tuhan-an yang dipersonifikasi Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadinya) 2. Perkembangan Keagamaan Masa Kanak-Kanak Akhir

Sikap reseptif yang disertai pengertian Pandangan ke-Tuhan-an yang diterangkan secara rasional Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam, melaksanakan kegiatan ritual diterima sebagai keharusan moral. 3. Perkembangan Keagamaan Masa Remaja Awal

Sikap negatif disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat realita orang orang beragama yang hypocrit (pura-pura) Pandangan ke-Tuhan-an menjadi kacau, karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptik, sehingga banyak yang enggan melaksanakan ritual yang selama ini dilakukan dengan penuh kepatuhan 4. Perkembangan Keagamaan Masa Remaja Akhir

Sikap kembali ke arah positif, bersamaan dengan kedewasaan intelektual bahkan akan agama menjadi pegangan hidupnya Pandangan ke-Tuhan-an dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihnya. Penghayatan rohaniahnya kembali tenang setelah melalui proses identifikasi dan merindu puja, ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran manusia Materi terkait:

Tahapan Perkembangan Keagamaan


Posted by AKHMAD SUDRAJAT on 24 Januari 2008 Posted in: Psikologi Pendidikan. Tagged: Artikel Pendidikan, Pendidikan, Psikologi Perkembangan. 2 komentar

engan melalui pertimbangan fungsi afektif, kognitif, dan konatifnya, pada

saat-saat tertentu, individu akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agung yang melebihi apa pun, termasuk dirinya. Penghayatan seperti itu disebut pengalaman keagamaan (religious experience) (Zakiah Darajat, 1970). Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan atas kebaradaan-Nya, namun juga mengakuiNya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. Oleh karena itu, manusia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu, baik secara individual maupun kolektif, secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari. Abin Syamsuddin (2003) menjelaskan tahapan perkembangan keagamaan, beserta ciri-cirinya sebagai berikut : 1. Perkembangan Keagamaan Masa Kanak-Kanak Awal

Sikap reseptif meskipun banyak bertanya Pandangan ke-Tuhan-an yang dipersonifikasi Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadinya) 2. Perkembangan Keagamaan Masa Kanak-Kanak Akhir

Sikap reseptif yang disertai pengertian Pandangan ke-Tuhan-an yang diterangkan secara rasional Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam, melaksanakan kegiatan ritual diterima sebagai keharusan moral. 3. Perkembangan Keagamaan Masa Remaja Awal

Sikap negatif disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat realita orang orang beragama yang hypocrit (pura-pura)

Pandangan ke-Tuhan-an menjadi kacau, karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptik, sehingga banyak yang enggan melaksanakan ritual yang selama ini dilakukan dengan penuh kepatuhan 4. Perkembangan Keagamaan Masa Remaja Akhir

Sikap kembali ke arah positif, bersamaan dengan kedewasaan intelektual bahkan akan agama menjadi pegangan hidupnya Pandangan ke-Tuhan-an dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihnya. Penghayatan rohaniahnya kembali tenang setelah melalui proses identifikasi dan merindu puja, ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran manusia

TugasTugas Perkembangan Individu


Posted by AKHMAD SUDRAJAT on 2 Mei 2010 Posted in: Psikologi Pendidikan. Tagged: Artikel Pendidikan, Pendidikan, Psikologi Perkembangan, Teori Pendidikan. 11 komentar

S
yang

alah satu prinsip perkembangan bahwa setiap individu akan mengalami fase

perkembangan tertentu, yang merentang sepanjang hidupnya. Pada setiap fase perkembangan ditandai dengan adanya sejumlah tugas-tugas perkembangan tertentu yang seyogyanya dapat dituntaskan. Tugastugas perkembangan ini berkenaan dengan sikap, perilaku dan keterampilan seyogyanya dikuasai sesuai Syamsuddin dengan Makmun, usia 2009) atau fase perkembangannya. Havighurst (Abin memberikan

pengertian tugas-tugas perkembangan bahwa: A developmental task is a task which arises at or about a certain period in the life of the individual, succesful achievement of which leads to his happiness and to success with later task, while failure leads to unhappiness in the individual, disaproval by society, difficulty with later task..

Tugas perkembangan individu bersumber pada faktorfaktor: (1) kematangan fisik; (2) tuntutan masyarakat secara kultural; (3) tuntutan dan dorongan dan cita-cita individu itu sendiri; dan (4) norma-norma agama. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini dikemukakan rincian tugas perkembangan dari setiap fase menurut Havighurst. 1. Tugas Perkembangan Masa Bayi dan Kanak-Kanak Awal (0,06.0)

Belajar berjalan pada usia 9.0 15.0 bulan. Belajar memakan makan padat. Belajar berbicara. Belajar buang air kecil dan buang air besar. Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin. Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis. Membentuk konsep-konsep sederhana kenyataan sosial dan alam. Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua, saudara, dan orang lain. Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk dan pengembangan kata hati. 2. Tugas Perkembangan Masa Kanak-Kanak Akhir dan Anak Sekolah (6,0-12.0)

Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis. Belajar bergaul dengan teman sebaya. Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya. Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung. Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari-hari. Mengembangkan kata hati. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial. 3. Tugas Perkembangan Masa Remaja (12.0-21.0)

Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya. Mencapai peran sosial sebagai pria atau wanita. Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif.

Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. Mencapai jaminan kemandirian ekonomi. Memilih dan mempersiapkan karier. Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan bagi warga negara. Mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial. Memperoleh seperangkat nilai sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam berperilaku. 4. Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal

Memilih pasangan. Belajar hidup dengan pasangan. Memulai hidup dengan pasangan. Memelihara anak. Mengelola rumah tangga. Memulai bekerja. Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara. Menemukan suatu kelompok yang serasi. Sementara itu, Depdiknas (2003) memberikan rincian tentang tugas perkembangan masa remaja untuk usia tingkat SLTP dan SMTA, yang dijadikan sebagai rujukan Standar Kompetensi Layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah, yaitu : 1. Tugas Perkembangan Tingkat SLTP

Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mempersiapkan diri, menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat. Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita. Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sosial yang lebih luas. Mengenal kemampuan bakat, dan minat serta arah kecenderungan karier dan apresiasi seni.

Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan atau mempersiapkan karier serta berperan dalam kehidupan masyarakat.

Mengenal gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial dan ekonomi. Mengenal sistem etika dan nilai-nilai sebagai pedoman hidup sebagai pribadi, anggota masyarakat dan minat manusia. 2. Tugas Perkembangan Peserta didik SLTA

Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa Mencapai kematangan dalam hubungan teman sebaya, serta kematangan dalam perannya sebagai pria dan wanita. Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat Mengembangkan penguasaan ilmu, teknologi, dan kesenian sesuai dengan program kurikulum, persiapan karir dan melanjutkan pendidikan tinggi serta berperan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas.

Mencapai kematangan dalam pilihan karir Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial, intelektual dan ekonomi. Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang berkehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial dan intelektual serta apresiasi seni. Mencapai kematangan dalam sistem etika dan nilai.

Perkembangan Karier Individu


Posted by AKHMAD SUDRAJAT on 5 Maret 2008 Posted in: Psikologi Pendidikan. Tagged: Pendidikan, Psikologi Perkembangan. 1 komentar

erkembangan karier sangat erat kaitannya dengan pekerjaan seseorang. Keberhasilan

seseorang dalam suatu pekerjaan bukanlah sesuatu yang diperoleh secara tiba-tiba atau secara kebetulan, namun merupakan suatu proses panjang dari tahapan perkembangan karier yang

dilalui sepanjang hayatnya, mulai dari usaha memperoleh kesadaran karier, eksplorasi karier, persiapan karier hingga sampai pada penempatan kariernya. Tylor & Walsh (1979) menyebutkan bahwa kematangan karier individu diperoleh manakala ada kesesuaian antara perilaku karier dengan perilaku yang diharapkan pada umur tertentu. Adapun yang dimaksud dengan perilaku karier yaitu segenap perilaku yang ditampilkan individu dalam usaha menyiapkan masa depan untuk memperoleh kematangan kariernya. Selanjutnya, berkenaan dengan tahapan perkembangan karier, Zunker (Popon Sy. Arifin,1983) mengemukakan lima tahapan perkembangan karier individu , sebagaimana tampak dalam tabel berikut:

Tahap

Ciri-Ciri

Usia

Growth

Development of capacity, attitudes, interest, and needs associated with self concept

(birth-14 or 15)

Exploratory

Tentative phase in which choices are narrowed but not finalized

(1524)

Establishmen Trial and stabilization trhough work t experiences

(25 44)

Maintenance

A continual adjustment process to improve working position and situation

(45 64)

Decline

Preretirement consideration, work out put, and eventual retirement.

(65 )

Materi terkait: