Anda di halaman 1dari 3

Ica Evita Maulidah - 112210101043 2013 TUGAS TAMBAHAN SISTUM Pendahuluan Anyang-anyang merupakan tumbuhan dengan habitus pohon

yang tingginya 1525 m. Batangnya tegak, berkayu, bulat, memiliki percabangan simpodial, dan berwarna hijau pucat. Daun anyang-anyang merupakan daun tunggal dengan duduk daun berseling, lonjong, tepi rata, ujung runcing, pangkal meruncing, panjang 10-13 cm, lebar 2-3cm, bertangkai pendek berwarna hijau keunguan, pertulangan daun menyirip, daunnya berwarna hijau pucat. Bunga tunggal, tumbuh di ketiak daun, kelopak berbagi, panjang 510 mm, berwarna hijau pucat, benang sari silindris, panjang 1-2 cm, putih, kepala sari coklat, tangkai putik silindris, putih, mahkota berbagi, putih. Buah anyang-anyang merupakan buah kendaga. Buahnya berbentuk bulat telur, berambut keras, dan berwarna hijau. Bijinya bulat dengan diameter 0,3 cm dan berwarna cokelat. Akar tunggang dan berwarna putih kotor. http://jurnal.dikti.go.id/warintek/artikel/ttg_tanaman_obat/depkes/buku3/3011.pdf

Elaeocarpus adalah genus dari pohon cemara tropis dan subtropis dan semak-semak milik keluarga Elaeocarpaceae. Sekitar 350 spesies didistribusikan dari Madagaskar di barat melalui India, Asia Tenggara, Malaysia, Cina Selatan, dan Jepang, melalui Australia ke Selandia Baru, Fiji, dan Hawaii di timur. Pulau-pulau Borneo dan Papua Nugini memiliki konsentrasi spesies terbesar.
-

http://www.ijipls.com/uploaded/journal_files/110818040844.pdf

Taksonomi Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta Super Divisi : Spermatophyta Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Species : Magnoliophyta : Magnolopsida : Dilleniidae : Malvales : Elaeocarpaceae : Elaeocarpus : Elaeocarpus grandiflorus J.E Smith

Ica Evita Maulidah - 112210101043 2013 - http://www.plantamor.com/index.php?plant=519

Kemotaksonomi Daun, buah dan kulit batang Elaeocarpus grandiflora mengandung saponin dan flavonoida, di samping itu daun dan kulit batangnya juga mengandung polifenol dan daun serta buahnya mengandung tanin. http://jurnal.dikti.go.id/warintek/artikel/ttg_tanaman_obat/depkes/buku3/3011.pdf

Tanin, geraniin dan 3, 4, 5-trimetoksi geraniin telah diisolasi dari Elaeocarpus grandiflorus daun. http://www.ijipls.com/uploaded/journal_files/110818040844.pdf

Aktivitas antimikroba Elaeocarpus grandiflorus memiliki efek farmakologi sebagai antibakteri, Antidiuretik dan antivirus. Ekstrak air dari daun, buah dan ranting Elaeocarpus grandiflorus telah digunakan sebagai obat tradisional untuk mengobati pasien diabetes. Ekstrak ini memiliki efek hipoglikemik. Daun Elaeocarpus grandiflorus juga digunakan untuk mengobati penyakit kulit. Ekstrak kloroform:methanol (1:1 v/v) daun ini mampu menghambat pertumbuhan Staphyllococcus aureus dan Candida albicans. Dengan metoda ekstraksi dan partisi yang termonitor aktivitasnya, isolat aktif berhasil diisolasi dan ditentukan strukturnya. Isolat aktif mampu menghambat pertumbuhan S. aureus pada kadar 62,5 m g/ml dan C. albicans pada kadar 125 m g/ml. Berdasarkan data spektroskopi NMR, isolat aktif diketahui terdiri 2 senyawa utama yaitu 3,4,5- trimetoksigeraniin (senyawa 1, m/z 994) dan geraniin (senyawa 2, m/z 952). http://www.ijipls.com/uploaded/journal_files/110818040844.pdf

Isolasi senyawa antimikroba dari daun Elaeocarpus grandiflorus dilakukan dengan cara pengeringan daun yang kemudian di serbukkan. Serbuk kering daun (200 g) disari dengan cara maserasi selama 24 jam disertai pengadukan menggunakan 800 ml campuran kloroform : metanol (1:1 v/v). Ampas disari sekali lagi dengan cara yang sama kemudian filtrat digabung dan diuapkan dengan pengurangan tekanan dan dihasilkan 25 gram sari kental. Fraksinasi 10 g sari kental dengan n-heksana menghasilkan 2,754 g fraksi larut nheksana dan 7,198 g fraksi tak larut n-heksana, yang selanjutnya dilakukan uji aktivitas antimikroba dengan metode dilusi agar pada konsentrasi 1000 g /ml terhadap S. aureus dan C. albicans. Sebagai zat pembantu dispersi digunakan 0,1 ml campuran kloroform metanol (1:1 v/v) dan 0,4 ml DMSO per 19,5 ml media. Hasil uji menunjukkan bahwa fraksi tak larut n-heksana aktif terhadap S. Aureus dan C. albicans sedangkan fraksi larut n-heksana tidak menunjukkan aktivitas antimikroba. Fraksi tak larut n-heksana (5 g) dipisahkan dengan metode kromatografi kolom menggunakan fasa diam 100 g silikagel 60 dan fasa gerak berturut-turut n-heksana; n-heksana : etil asetat (1:1 v/v); etil asetat; etil asetat : metanol (1:1 v/v) masing-masing 500 ml dan terakhir metanol. Eluat digabung

Ica Evita Maulidah - 112210101043 2013 berdasarkan kesamaan bercak kromatogram lapis tipis menjadi 7 fraksi (F1 sampai dengan F7) dan dilakukan uji aktivitas antimikroba dengan metode dilusi agar dengan konsentrasi 1000 g/ml dan didapatkan fraksi aktif adalah F3 (1,069 g) dan F5 (0,347 g). Uji aktifitas antimikroba terhadap F3 dan F5 menggunakan metode bioautografik kontak dengan penotolan masing-masing 100 g per spot menunjukkan terdapat bercak aktif pada kromatogram F3 dengan harga Rf=0,5 sedangkan pada kromatogram F5 tidak terdeteksi adanya bercak aktif. Satu gram F3 (2 x @ 0,5g) selanjutnya dipisahkan dengan metode kromatografi filtrasi gel menggunakan 30 g sephadex LH-20 dengan fasa gerak metanol menjadi 7 fraksi (F3.1 sampai dengan F3.7). Berdasarkan harga Rf bercak aktif diketahui bahwa senyawa aktif terdapat pada F3.5 (0,206 gram). F3.5 dimurnikan dengan metode kromatografi filtrasi gel menggunakan 30 g sephadex LH-20 dengan fasa gerak campuran kloroform :metanol (1:1) dan diperoleh isolat aktif 0,132 gram. Penetapan konsentrasi hambat minimum (MIC) isolat aktif terhadap S. aureus dan C. albicans dengan metode dilusi agar menghasilkan MIC terhadap S. Aureus adalah 62,5 g/ml dan terhadap C. albicans adalah 125 g/ml. Isolat aktif memberikan bercak tunggal pada KLT dua arah menggunakan fasa diam silika gel dengan fasa gerak pertama campuran etil asetat : metanol : air (20:2,8:2 v/v + 1 tetes asam asetat 15%) dengan Rf = 0.5. Eluasi kedua menggunakan fasa gerak campuran etil asetat : metanol : air (10:2:1 v/v) dan menghasilkan bercak tunggal pada Rf = 0,9. Reaksi isolat aktif dengan FeCl3 menghasilkan warna biru kehijauan dan larutan isolat aktif dalam etanol menunjukkan serapan maksimum pada = 282 nm. Spektrum massa isolat aktif menggunakan metode ()FAB menunjukkan adanya 4 ion molekul atau ion fragmen dengan massa dan intensitas relatif berturut-turut : 994 (60%), 951 (25%), 934 (14%) dan 918 (5%). Spektrum infra merah (pellet KBr) menunjukkan adanya gugus-gugus : -OH (3428 cm-1 , 1213 cm-1 ), -C=O ester (1717 cm1 , 1038 cm-1 ) dan gugus aromatik (1614 cm-1 , 1444 cm-1 , 969 cm-1 dan 763 cm-1 ). Spektrum rmi 1H 500 MHz dalam aseton-d6 menunjukkan puncak-puncak serapan ( ppm dari standar TMS ) : gugus glukosa : {4,304 (dd ), 4,42 (m) total 1 H}; 4,792 (m 1 H); 4,944 (dd 1H); {5,42 (br s); 5,497 (dd), 5,522 (d), 5,568 (dd) total 3H}dan{6,554 (br s); gugus galoil : 7,205 (s 2H), gugus HHDP : {6,671 (s); 6,701 (s) total 1H}; {7,084 (s); 7,144 (s) total 1H}, gugus DHHDP : 5,170 (br s 1H ); { 6,247 (d); 6,527 (s) total 1H}; 7,262 (s 1H) dan sinyal gugus metoksi : 3,569 (s). Spektrum rmi 13C, 22,5 MHz dalam CD3OD menunjukkan 50 puncak serapan karbon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun Elaeocarpus grandiflorus J.E.Smith mengandung geraniin senyawa golongan tanin dapat terhidrolisis yang memiliki aktivitas antimikroba cukup potensial untuk digunakan sebagai bahan pengobatan atau sebagai senyawa model untuk memperoleh senyawa antimikroba yang memiliki nilai terapetik lebih tinggi. (Rahman 1997)

Daftar Pustaka