Anda di halaman 1dari 12

PENGAMATAN MIKROSKOPIS PADA JAMUR (Laporan Praktikum Penyakit Penting Tanaman)

Oleh Kelompok 3 Miandri Sabli Pratama 1014121133

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG 2013

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Tumbuhan menjadi sakit apabila tumbuhan tersebut diserang oleh patogen (parasit) atau dipengaruhi oleh agensia abiotik (fisiopath). Oleh karena itu, untuk terjadinya penyakit tumbuhan, sedikitnya harus terjadi kontak dan terjadi interaksi antara dua komponen (tumbuhan dan patogen). Jika pada saat terjadinya kontak dan untuk beberapa saat kemudian terjadi keadaan yang sangat dingin, sangat panas, sangat kering, atau beberapa keadaan ekstrim lainnya, maka patogen mungkin tidak mampu menyerang atau tumbuhan mungkin mampu menahan serangan, meskipun telah terjadi kontak antara keduanya, penyakit tidak berkembang. Nampaknya komponen ketiga juga harus terdapat untuk dapat berkembangnya penyakit. Akan tetapi, masing-masing dari ketiga komponen tersebut dapat memperlihatkan keragaman yang luar biasa, dan apabila salah satu komponen tersebut berubah, maka akan mempengaruhi tingkat serangan penyakit dalam individu tumbuhan atau dalam populasi tumbuhan. Interaksi ketiga komponen tersebut telah umum digambarkan sebagai suatu segitiga, umumnya disebut segitiga penyakit (disease triangle). Setiap sisi sebanding dengan total jumlah sifat-sifat tiap komponen yang memungkinkan terjadinya penyakit. Sebagai contoh, jika tumbuhan bersifat tahan, umumnya pada tingkat yang tidak menguntungkan atau dengan jarak tanam yang lebar maka segitiga penyakit dan jumlah penyakit akan kecil atau tidak ada, sedangkan jika tuimbuhan rentan, pada tingkat pertumbuhan yang rentan atau dengan jarak tanam rapat, maka sisi inangnya akan panjang dan jumlah potensial penyakit akan bertambah besar. Dengan cara yang sama, patogen lebih virulen, dalam jumlah berlimpah dan dalam keadaan aktif, maka sisi patogen akan bertambah panjang dan jumlah potensial penyakitnya lebih besar. Juga keadaan lebih menguntungkan

yang membantu patogen, sebagai contoh suhu, kelembaban dan angin yang dapat menurunkan tingkat ketahanan inang, maka sisi lingkungan akan menjadi lebih panjang dan jumlah potensial penyakit lebih besar. Jenis patogen yang menyerang diantaranya adalah dari golongan jamur. Jamur adalah salah satu organisme penyebab penyakit yang menyerang hampir semua bagian tumbuhan, mulai dari akar, batang, ranting, daun, bunga, hingga buahnya. Penyakit ini menyebabkan bagian tumbuhan yang terserang, misalnya buah, akan menjadi busuk. Jika menyerang bagian ranting dan permukaan daun, akan menyebabkan bercakbercak kecokelatan. Dari bercak bercak tersebut akan keluar jamur berwarna putih atau oranye yang dapat meluas ke seluruh permukaan ranting atau daun sehingga pada akhirnya kering dan rontok.

B. Tujuan Adapun tujuan dari percobaan ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui pathogen penyebab penyakit. 2. Untuk mengamati struktur tubuh patogen. 3. Untuk mengetahui penyebab penyakit pada karat daun jambu dan kopi.

II. METODOLOGI PERCOBAAN

A. Alat dan Bahan Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah mikroskop, preparat, dan alat tulis. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu sklerotia pada media agar, sklerotia pada media tanah, serta daun kopi dan jambu yang terkena karat.

B. Cara Kerja Adapun cara kerja dalam percobaan ini adalah sebagai berikut: a. Pengamatan mikroskopis sklerotia : 1. Menyiapkan mikroskop 2. Mengambil sampel sklerotia dari cawan agar 3. Diletakkan pada preparat dan ditetesi air 4. Diamati di mikroskop b. Pengamatan karat daun pada daun kopi dan jambu : 1. Menyiapkan mikroskop. 2. Mengambil daun yang terkena karat daun. 3. Diletakkan pada preparat dan ditetesi air. 4. Diamati di mikroskop. 5. Diambil gambar dengan kamera dan digambar pada kertas bentuk patogen.

III. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan 1. Pengamatan Sklerotia pada Jamur : No 1 Gambar Keterangan Terdapat miselium pada perkecambahan sklerotia. Seta tampak seperti benangbenang halus dan bentuknya percabangannya tidak lurus. 2

2. Pengamatan Jamur Karat Daun : No 1 Gambar Keterangan Karat daun pada tanaman jambu biji. Bercak berwarna merah kecoklatan, patogen berbentuk panjang dan tidak beraturan.

Karat daun pada tanaman kopi. Terdapat seta pada spora jamur, struktur berbentuk lingkaran biji jagung berwarna kuning melingkar dan berkumpul.

B. Pembahasan Beberapa penyakit yang sering ditemukan adalah penyakit rebah kecambah dan busuk pangkal batang yang disebabkan oleh Rhizoctonia solani dan Sclerotium rolfsii (Ibrahim et al., 1996); busuk arang yang disebabkan oleh Rhizoctonia bataticola (Jiskani, 2001). Ketiga jamur tersebut mempunyai inang yang banyak dan merupakan jamur tular tanah yang banyak dijumpai pada daerah tropis. Patogen-patogen ini menyebar melalui air irigasi, bahan tanaman maupun benih terinfeksi (Abawi, 1994). Jamur-jamur tersebut sulit dikendalikan karena mampu bertahan sebagai saprofit di dalam tanah ataupun pada sisa tanaman dalam bentuk sklerosia pada saat tidak ada inang (Yulianti, 1996) dan kerapatan populasi mereka di lapang tergantung ada tidaknya tanaman inang yang rentan.

Pada percobaan yang telah dilakukan, pada uji patogenitas pada tanaman jambu biji, terdapat gejala tanaman terserang sklerotia dengan ciri gejala yang muncul adalah terdapat sklerotia atau hifa yang berwarna putih seperti kapas dan berbentung benang tipis yang berkecambah dari tanah lalu naik ke tanaman, awal mula menyerang pada bagian permukaan bawah daun bagian bawah atau daun yang terdekat dengan tanah. Patogen ini memiliki sklerotia yang dapat meramabat dari tanah melalui batang dan naik ke permukaan daun. Dapat juga terjadi serangan apabila sewaktu kita menyiram tanaman pada uji patogenitas ini, percikan tanah yang terkena air menempel pada daun yang paling dekat dengan tanah sehingga terjadi infeksi oleh patogen dan sklerotia berkembang di pada permukaan bawah daun.

Namun jika diamati lebih jauh ciri khas serangan S. rolfsii adalah adanya miselia berwarna putih kapas di sekitar luka. Sedangkan R. solani adalah adanya luka nekrotik cekung kering (kanker) berwarna kecokelatan di sekitar leher akar. Pengamatan mikroskopik menunjukkan adanya hifa berbentuk panjang kecil seperti kapsul tetapi memanjang dan tidak beraturan, berwarna putih dan bersekat serta bercabang. Dapat disimpulkan bahwa dalam percobaan, patogen yang menyerang dan teridentifikasi adalah Sclerotium rolfsii.

Biologi penyebab penyakit dalam percobaan ini dapat di klasifikasikan sebagai berikut: Kingdom Divisi Kelas Ordo Famili Genus Species : Fungi : Basiodiomycota : Basiomycetes : Agaracales : Typhulaceae : Sclerotium : Sclerotium rolfsii Sacc.

Bagian tanaman yang terinfeksi biasanya pangkal batang akan bewarna coklat gelap dikelilingi oleh sclerotia yang berbentuk butiran kecil (Winarsi. 1997). Lebih lanjut Semangun (2004) mengatakan bahwa sclerotia dapat bertahan di dalam tanah sampai 7 tahun. Biasanya patogen S. rolfsii baik tumbuh pada sisasisa tanaman, jamur ini lebih menyukai inang atw makanan yang telah mati, jamur ini termasuk jamur yang polyfag diantaranya adalah tanaman kedelai. Oleh karena itu penyakit busuk batang yang disebabkan oleh patogen ini masih sulit untuk dikendalikan. Jamur mempunyai miselium yang terdiri dari benang benang, berwarnah putih tersusun seperti bulu atau kapas. Jamur ini tidak membentuk spora untuk pemencaran dan mempertahankan diri, jamur membentuk sclerotium yang semula berwarna putih, kelak menjadi coklat, dengan garis tengah 1 mm. Butiran ini mudah sekali lepas dan terangkut oleh air (Semangun 1993).

Sklerotia tumbuh, bertahan, dan menyerang tanaman di dekat tanah atau diatas permukaan tanah. Sebelum penetrasi pada jaringan tanaman, diproduksi secara massal miselium oleh patogen pada permukaan tanaman yang dapat terjadi dalam 2 sampai 10 hari. Penetrasi pada jaringan tanaman inang terjadi ketika patogen memproduksi enzim ekstraseluler yang menyebabkan lapisan luar sel menjadi rusak dan dengan cepat menghancurkan jaringan dan dinding sel, sehingga memudahkan penetrasi Sklerotium ke tanaman inang. Hal ini menyebabkan kerusakan jaringan, selanjutnya diproduksi miselium dan pembentukan sklerotia. Jaringan yang terserang berwarna coklat muda dan lunak tetapi tidak berair (Edmund, et al. 2000).

Gejala serangan adalah tanaman yang sakit layu dan menguning perlahan-lahan pada pangkal batang dan permukaan tanah didekatnya terdapat benang-benang jamur bewarna putih seperti buluh. Benang-benang ini kemudian membentuk Sclerotium, atau gumpalan benang, yang mula-mula bewarna putih, akhirnya menjadi coklat seperti biji sawit, dengan garis tengah 1-1,5 mm. Karena mempunyai lapisan dinding yang keras, sclerotium dapat dipakai untuk mempertahankan diri terhadap kekeringan, suhu tinggi, dan keadaan yang merugikan (Semangun, 1993). Penyungkupan tanaman dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan mikro yang mendukung perkembangan pathogen, contohnya menjaga kelembaban sehingga sklerotia dapat berkecambah baik. Sclerotium rolfsii. merupakan jamur tular tanah yang dapat bertahan lama dalam bentuk sclerotia di dalam tanah, pupuk kandang, dan sisa-sisa tanaman sakit. Faktor kelembaban tanah dapat mempengaruhi pertumbuhan sklerotia dan perkembangan hifa. Perkembangan S. rolfsii mempunyai dua fase pertumbuhan yang secara ekologi berbeda yakni perkembangang miselium yang berupa miselium yang berwarna putih yang dikenal dengan fase pertumbuhan, fase kedua adalah fase pertumbuhan yakni produksi sklerotia yang memungkinkan cendawan bertahan dalam keadaan yang tidak cocok. Di samping itu jamur tersebut dapat menyebar melalui air irigasi dan benih. Pada lahan yang ditanami secara terus menerus dengan tanaman inang dari Sclerotium sp. akan beresiko tinggi terserang oleh Sclerotium sp. yang dapat berakibat turunnya produksi. Dengan demikian

cara yang efektif untuk mengendalikan Sclerotium sp. adalah dengan pergiliran tanaman menggunakan tanaman yang bukan inang dari jamur tersebut. (Hartati dkk, 2008).

Pada tanaman jambu biji, terdapat karat daun. Identifikasi penyakit pada daun jambu biji adalah karat merah pada daun jambu biji. Karat merah disebabkan oleh alga hijau yang dapat menyebabkan bercak pada daun dan kadang-kadang pada buah. Penyebab penyakit ini adalah Cephaleuros spp. yang dapat menyerang berbagai bagian tanaman yaitu daun, buah, ranting, dan batang (Misra 2004). Cephaleuros menginfeksi daun jambu biji muda. Bercak pada daun dapat berupa titik kecil sampai bercak yang besar; menyatu atau terpencar. Daun diinfeksi pada bagian pada tepi, pinggir atau seringkali pada area dekat tulang daun (Misra 2004). Bercak berbentuk bulat, berwarna coklat kemerahan. Ganggang hijau ini mempunyai benang-benang yang masuk ke bagian dalam jaringan tanaman yang dilekatinya sehingga pada permukaan daun bercak akan tampak seperti beledu (Semangun 1994). Patogen ini bersifat aerofilik dan merupakan alga hijau yang berfilamen bereproduksi secara seksual dan aseksual. Infeksi oleh zoospora, gejala berkembang dibawah kondisi yang lembab dan mempenetrasi kutikula inang dan menghasilkan talus. Patogen bereproduksi dan bertahan hidup di daun atau batang dan pada sisa-sisa tanaman. Pengendalian terpadu dengan kombinasi sanitasi, mengurangi kelembaban, pengendalian gulma, fungisida, kultur teknis, dan mengurangi stres tanaman (Lim dan Manicom, 2003).

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan serta percobaan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Identifikasi jamur pada uji patogenitas adalah Sclerotium rolfsii dengan ciri mempunyai miselium yang terdiri dari benang benang, berwarnah putih tersusun seperti bulu atau kapas. 2. Ciri khas serangan S. rolfsii adalah adanya miselia berwarna putih kapas di sekitar luka. 3. Gejala serangan adalah tanaman yang sakit layu dan menguning perlahan-lahan pada pangkal batang dan permukaan tanah didekatnya terdapat benang-benang jamur bewarna putih seperti buluh. 4. Faktor kelembaban tanah dapat mempengaruhi pertumbuhan sklerotia dan perkembangan hifa. 5. Identifikasi penyakit pada daun jambu biji adalah karat merah yang disebabkan oleh jamur Cephaleuros spp. yang dapat menyerang berbagai bagian tanaman terutama daun dengan ciri bercak berbentuk bulat berwarna merah kecoklatan.

DAFTAR PUSTAKA

Abawi, G.S. 1994. Pudriciones radicales. In. Pastor-Corrales, M.A. and Schwartz, H.F. (eds.). Problemasde produccion del frijol en los tropicos. 2ed. Cali, Columbia, CIAT, p. 121 184.

Edmund, et al. 2000. Dasar-dasar Mikrobiologi. Djambatan: Malang. Hartati, dkk. 2008. Penyakit Tanaman Hortikultura. Gramedia: Jakarta. Lim T.K, Manicom B.C. 2003. Diseases of guava. Di dalam: Ploetz RC, editor. 2003. Diseases of Tropical Fruit Crops. Wallingford, UK: CABI Publishing. Misra A.K. 2004. Guava diseases: their symptoms, causes and management. Di dalam: Naqvi SAMH, editor. Diseases of Fruits and Vegetables Diagnosis and Management Volume II. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers. Hlm 81-119. Semangun H. 1994. Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Winarsi, 1997. Jamur Penyebab Penyakit Tanaman. Universitas Hasanuddin: Makassar.

LAMPIRAN